Chapter Text

Gin merenggangkan tubuhnya selepas jogging, surai coklat terang ini memang yg paling rajin soal bangun pagi dan berolahraga. Dirinya bilang ia ingin mencoba menerapkan gaya hidup yg lebih sehat ya meskipun begitu kecanduannya terhadap nikotin tidak mudah lepas begitu saja. Ia sesekali menggoda Garin yg tengah menyiram tanaman sembari masih terkantuk-kantuk, hari ini memang jadwalnya mengurus tanaman.
“Awas Rin air nya kebanyakan, ntar mati lagi. Habis sama mami nanti lu” ucapnya memperingatkan.
Surai hijau itu gelagapan dengan cepat ia mengarahkan selang panjang itu ke arah wajahnya, berniat untuk mencuci muka agar kesadarannya kembali penuh. Gin tertawa puas melihat piyama Garin ikut basah kuyup karena ulahnya sendiri.
"Yang bener aje lu” ucap Gin disela tawanya
Garin mencebik kesal ia dengan sengaja mengarahkan selang itu ke arah Gin dan mendapat umpatan kasar dari lelaki itu. Memang benar dirinya belum mandi pagi tapi bukan berarti ia akan di siram layaknya tanaman juga kan?
"Tai banget Garin, udahlah gw mau masuk sekalian mandi. Basah kuyup nih gw” protesnya lalu meninggalkan Garin yg tertawa meledek dirinya. Sesekali tak ada salahnya bertingkah iseng kepada yg lain, mengingat selalu dirinya yg sering menjadi korban keisengan dalam keluarga.
Gin membawa langkah kakinya menuju dapur, ia butuh mineral untuk lengkapi cairan ditubuhnya setelah begitu banyak berkeringat. Netranya menangkap Aenon, Krow dan Caine yg sibuk berkutat di dapur. Alisnya terangkat mengingat ini bukanlah jadwal Caine membuat sarapan, lalu kenapa ia sudah berada di dapur sepagi ini?
"Mami? Ngapain?” Tanya Gin setelah menegak segelas air putih dalam sekali teguk.
“Mau bantuin Enon sama Krow nih bikin sarapan, mereka katanya naksir pancake buatan ku waktu itu. Jadi sekalian belajar resepnya” jelas Caine mendapat ohh-ria dari Gin.
“Lu berdua repotin Mami nih, kasihan kan dia harus ikut bangun pagi buat kalian” ucap Gin provokasi
“Maaf ya Mami” ucap Enon merasa bersalah
“Gapapa, aman aja. Aku suka kok direpotin kalian” ucap Caine membuat ketiga orang yg mendengarnya terenyuh.
“Noh Gin Mami kurang baik apa, lu jangan provokator gitu dong anjir rusak suasana aja, sono dah mending lu mandi bau keringet” ucap Krow sarkas, Gin sendiri yg mendengarnya memutar bola mata malas tak ingin melanjutkan perdebatan panjang ini.
Tak berselang lama Gin beranjak pergi menuju kamarnya untuk bersih-bersih, telinganya bergidik geli mendengar earphone-nya yg kala itu tersambung pada radio terdengar suara Rion yg baru saja bangun tidur.
"Caine? sayangku dimana?" tanyanya dalam radio, morning voice-nya membuat semua orang yg sudah terjaga pagi itu gemetar hingga tulang saking berat dan rendahnya suara dia.
"Buset pak! Minimal cuci muka dulu baru ngomong di radio" sahut Key dalam radio
"Bergetar banget cuy" ucap Krow
"Mana gw sambungin ke earphone radionya, bergetar sampe otak anying" misuh Gin mendapat tawa dari yg lain
"Rawrr dulu coba pih" pinta Aenon
"Sayang? Cantiknya aku dimana?" panggil Rion sekali lagi mengabaikan bisik-bisik setan dalam radio katanya.
"Aku di dapur Rion" jawab Caine akhirnya
"Otewee"
Surai ungu terong itu sudah menuruni tangga sembari masih setengah mengantuk mencari kesayangannya. Setelah dapat dalam pandangan mata, ia mengulurkan kedua lengannya untuk memeluk tubuh yg sedikit lebih kecil darinya itu, bersandar senyaman mungkin mengabaikan Krow dan Aenon yg sudah misuh-misuh melihat kelakuan dirinya.
“Kenapa nyariin aku?” Tanya Caine
“Aku bangun tidur gak liat kamu” jawab Rion, mendapat tawa lembut dari si cantik. Jemarinya menangkup wajah setengah mengantuk itu untuk menatap dirinya. Sebuah ciuman singkat mendarat halus di bibirnya, sang empu tersenyum senang tentunya.
“Morning kiss” ucapnya
“Mami papi yang bener aja, lebih brutal dari Selia Riji ini mah” misuh Aenon
“Makin banyak udah tontonan bucin gw anjing” misuh Krow
Rion yg mendengar itu tertawa kecil, tanpa mempedulikan kedua anaknya itu justru mengecup pipi Caine sebagai balasan. Hari ini dirinya dan Caine ada agenda pertemuan dengan keluarga sebelah untuk bisnis, sebenarnya bisa saja ia mengajak yg lain. Namun sepertinya ia ingin berduaan saja dengan Caine.
Setelah sarapan usai dan bersiap Rion kini sudah menunggu Caine dalam mobilnya, bibirnya tersenyum simpul begitu nampak Caine yg keluar rumah menggunakan sweater turtleneck dan jas hitam seperti biasa, ini adalah pakaian kerjanya.
“Udah ayo” ucap Caine setelah selesai memasang seatbelt-nya, alisnya naik sebelah mendapati Rion yg masih diam bertumpu pada setir kemudi dan menatapnya terus-menerus.
“Kenapa?” Tanyanya
“Cantik banget, punya nya siapa sih ini" genit sekali memang Rion Kenzo ini.
“Punya kamu, siapa lagi emangnya” ucap Caine membalas Rion tak kalah genit. Rion tidak kuat jujur, ia masih belum terbiasa mendapati Caine yg selalu mengobrak-abrik hati dan pikirannya. Caine hanya geleng kepala dan tertawa kecil melihat reaksi Rion yg lagi-lagi salah tingkah sendiri.
“Kamu udah pamit anak-anak?” tanyanya yg mendapat anggukan mantap dari yg lebih muda.
Mobil klasik Ford Mustang itu perlahan keluar garasi meninggalkan pekarangan rumah pemiliknya, melaju apik membelah jalanan dan berhenti tepat disebuah rumah besar di pekarangan elite di tengah kota. Dua orang berpakaian hitam itu membukakan pintu gerbang, dirinya dan Rion di sambut sangat baik dari si pemilik rumah.
Caine membiarkan Rion bicara fokus mengenai bisnis, memberikan koper hitam berisi uang puluhan juta yg mereka punya untuk di 'cuci'. Jujur saja dirinya sedikit mengantuk selama pertemuan itu, namun ia berusaha sebaik mungkin untuk fokus mendengar apa yg sedang dibicarakan. Tak terasa 5 jam berlalu dan Caine masih dalam posisi awalnya, pinggangnya sudah cukup pegal untuk terus duduk tegap penuh wibawa.
Ia melirik Rion yg masih belum ada tanda-tanda selesai bicara, matanya mengedar memperhatikan setiap detail arsitektur dalam rumah itu untuk kesekian kalinya agar dapat mengabaikan rasa kantuk dan pegalnya, sesekali tubuhnya tak berbohong dengan menggerakkan kakinya gelisah. Rion tentu menyadari itu dan memutuskan untuk menutup pembicaraannya kali ini.
“Ya sudah pak, mungkin sampai sini aja pembicaraan kita. Terimakasih untuk waktu dan sambutannya” ucap Rion mengulurkan tangannya
“Sama-sama Pak Rion, senang berbisnis dengan ada. Untuk kelanjutannya nanti saya kabari lewat email pribadi” ucapnya ramah, membawa tangannya untuk berjabat tangan pada Rion kemudian Caine.
Caine bersorai dalam dirinya, seutas senyum di wajahnya terukir ketika ia berdiri dan berjalan menuju keluar. Mobil yg tadi di bawa Rion sudah di persiapkan di depan pintu, mempermudah Rion tentunya. Tak lupa pula ia memasang seatbelt dan merogoh sakunya mencari radio untuk mengabari anak-anaknya.
"Mami~ mamiii~" panggil Echi setengah merengek
"Kenapa Echi?" tanya Caine
"Oh! MAMIII!! Mami kemana? Kok aku sama Selia cari di rumah engga ada"
"Aku pergi sama Rion, ada pertemuan" jelas Caine
"Udah aku kasih tahu kok Mih, merekanya aja yg emang rusuh cari-cari Mami terus" ucap Elya
"Mami? Masih lama kah?" tanya Krow
Caine tertawa mendengarnya "Iya ini aku otw pulang" ucapnya dalam radio yg mendapat sahutan gembira disana. Rion yg sedari tadi menyimak hanya geleng-geleng kepala saja.
“Baru 6 jam-an di tinggal pergi, udah pada nyariin segitunya” cibir Rion sembari melajukan mobilnya keluar pekarangan rumah dari kawan bisnisnya itu.
“Kamu juga gitu, padahal baru setengah jam aku tinggal ke dapur tadi pagi” ucapnya berhasil membungkam mulut Rion. Ia yg sadar itu tersenyum simpul kemudian sedikit merapatkan diri ke kursi kemudi dan menyadarkan kepalanya pada bahu Rion, jemari lentiknya mengelus paha sang empu lembut.
“Like father like son, right?”
Rion tertawa kecil mendengarnya, salah satu tangannya meraih tangan Caine membawanya dalam sebuah genggaman romantis. Rion bahkan melajukan mobilnya dalam kecepatan lambat agar bisa tetap fokus pada jalan dan pria manis di sampingnya.
“Kita ke pantai Paleto yuk, aku masih belum rela pulang nih. Pasti kamu nanti sibuk terus sama anak-anak sampe aku nya di lupain” pinta Rion
“Nanti makin banyak yg nyariin” ucap Caine
“Biarin aja”
Caine akhirnya hanya ikut saja, sembari menikmati alunan musik yg Rion putar untuk dirinya. Sesekali ikut bersenandung kecil dengan Rion yg masuk mengikuti iramanya bersama. Ditengah perjalanan mereka mampir sebentar untuk membeli beberapa makanan dan pakaian ganti disebuah toko tepi jalan.
Mustang itu berhenti tepat di bibir pantai, baiknya cuaca hari ini cerah membuat kilauan air laut begitu cantik layaknya serpihan bintang dari langit. Caine mengoleskan sunscreen di wajah, lengan dan beberapa area yg sekiranya akan terkena matahari. Ia tak ingin kulitnya terbakar, ia bahkan juga mengolesinya pada Rion.
Rion sendiri menikmati setiap hal kecil yg dilakukan oleh Caine untuknya, memperhatikan dengan senyuman saat yg lebih muda mengoleskan lip balm dengan bertuliskan SPF di bibirnya sembari bercermin. Fokus netra violet itu tak lepas sedikit pun dari Caine yg mulai melepas jas dan sweater turtleneck miliknya untuk berganti pakaian, tubuhnya nampak begitu elok. Bahunya lebar dengan pinggang yg ramping, meski abs-nya tidak terlalu terbentuk namun itu cukup terlihat seksi dimata Rion. Namun dari itu semua, matanya masih tak mau lepas dari area dada yg begitu—
“Rion mata kamu” tegur Caine berhasil menarik kembali jiwa Rion yg entah kemana, tawa kecil sebagai responnya.
“Maaf sayang, cantik banget soalnya” ucap Rion, Caine bersemu malu tapi ia berusaha acuh saat Rion ikut membuka setelan atas pakaiannya. Mengabaikan otot-otot tubuh itu yg sepertinya cukup padat untuk di remas.
Ia meraih paper bag coklat di kursi penumpang dan memakai kaos putih polos yg ada didalamnya, kemudian memberikan kaos lainnya pada Rion.
Surai merah itu keluar lebih dahulu, menikmati sepoi-an angin laut yg begitu sejuk menerpa wajahnya. Ia terkejut mendengar bunyi kamera dari arah belakangnya, mendapati Rion yg sudah mengarahkan kamera ponselnya lurus tepat ke dirinya
“Cantik banget lautnya” puji Caine
“Iya, cantik” sahut Rion tersenyum simpul, ia mengarahkan kembali kamera ponselnya saat Caine justru berpose menggemaskan minta untuk di foto. Senyuman manis dengan dua jari yg membentuk huruf V di samping wajahnya.
Beberapa kali mereka mengambil selfie berdua dan mengirimnya ke salah satu anaknya, setidaknya untuk memberi kabar kemana mereka pergi. Mereka bahkan sengaja mengecilkan volume radio yg mulai ramai mencibir keduanya.
"Katanya otw pulang tapi malah ngedate ke pantai anying" misuh Gin
"Oh noo papi gate keeping Mami!!" kali ini suara Garin
"Mami pulangg~" rengek Echi dan Selia bersamaan.
Begitu lah yg samar-samar terdengar, Rion lagi-lagi tak mau peduli ia ingin menghabiskan waktunya bersama Caine saja seharian.
Berlari, bermain air, mencari kerang hingga membangun istana pasir kecil layaknya sepasang kekasih muda sudah mereka lakukan. Kini Caine menyamankan dirinya bersandar pada dada Rion yg duduk di belakangnya, posisinya sekarang duduk diantara kaki Rion membiarkan dirinya di rengkuh nyaman oleh yg lebih tua. Tatapan keduanya lurus menatap matahari yg sebentar lagi akan tertelan oleh laut.
Caine sendiri sibuk memotret sedangkan Rion tak henti-hentinya menciumi semua area tubuh Caine yg bisa di jangkau oleh bibirnya. Awalnya ia memang cuek membiarkan yg lebih tua melakukan sesukanya, namun kini ia berakhir gelisah saat lehernya terus-menerus dihisap kuat berniat meninggalkan ruam kebiruan disana.
“Nghh iyon~” lenguh Caine yg berhasil menghentikan aksi hisap-menghisap itu. Samar dapat Caine dengar Rion mengumpat kecil dan menarik wajahnya kesamping guna dilumatnya bibir itu sedikit kasar. Lehernya di tahan cukup kuat, bibirnya bahkan digigit-gigit gemas.
Pupil keemasan itu melebar merasakan benda lunak tak bertulang milik Rion yg perlahan melesat masuk membelai lembut rongga dalam mulutnya. Giginya di buai bahkan sampai langit-langit mulut, lenguhan itu semakin nyaring terdengar saat lidahnya diulur pinta mengikuti tempo.
Surai merah itu pasrah saja saat tubuhnya perlahan dibalik untuk menghadap Rion, kedua tangan penuh tato itu memeluk pinggang ramping Caine erat, merapatkan tubuh keduanya guna memperdalam tautan mereka. Caine meremas pundak Rion saat lidah dan liurnya dihisap kuat, kakinya lemas sekali sekarang Rion terlalu ahli untuk ini.
Persetan orang lain akan lihat, Caine hanya ingin ciuman itu semakin dalam, semakin membuat dirinya lemas. Ia bahkan dengan sengaja semakin memperkeras lenguhannya, sudah hampir terdengar seperti desahan ditelinga, ia lakukan itu bertujuan agar Rion semakin lihai membelit lidahnya.
Tangannya meremas nakal pipi bokong itu gemas membuat sang empu memekik kaget. Sial entah dari mana Caine ini belajar menggoda dirinya atau memang dirinya saja yg mudah tergoda oleh Caine.
Bunyi mengecap basah begitu indah disahuti suara burung camar dan deru ombak, tautan itu diputus sepihak berniat membiarkan si cantik yg sudah menumpu seluruh berat tubuhnya dengan nafas tersengal-sengal bisa menghirup udara dengan rakus.
“Baru aku cium gitu aja udah lemes, gimana kalau aku apa-apain” ucapnya dengan nada sedikit meremehkan.
Caine memberi pukulan kecil tanpa tenaga sebagai respon, jujur ini pertama kali dalam hidupnya berciuman seintens itu. Selama ini ia hanya merasa bunga-bunga dan kupu-kupu berterbangan di perutnya serta rasa cinta yg mengalir tiap sentuhan yg mereka lakukan. Namun baru kali ini tubuhnya lemas dan panas, ada rasa nikmat yg sulit untuk ia artikan.
“Ayo pulang, langitnya udah gelap. Padahal tadi niatnya mau liat sunset”
“Yang cium duluan siapa?” tanya Caine sedikit jengkel. Meski masih sedikit lemas ia perlahan mengangkat dirinya. Rion yg lagi-lagi sadar itu terkekeh kecil dan berjongkok menawarkan punggungnya. Caine tersenyum kecil dan memeluk punggung itu erat, membiarkan dirinya digendong untuk masuk ke dalam mobil.
