Actions

Work Header

Little Secret ; Sequel

Chapter 3: Menikah

Notes:

i use local vulgar words and moans a LOT

Chapter Text

Dada Caine membusung semakin tinggi saat tiga jari Rion dalam tubuhnya terus menekan prostatnya berkali-kali, ia melenguh nyaring bagai irama yg indah memasuki indra pendengaran lelaki yg lebih tua. Ia terus memaju mundurkannya dengan tempo yg perlahan meningkat dan sesekali kuku-kuku miliknya seperti menggaruk prostatnya hingga dirinya menggeliang hebat.

“Nghh ahhh!” desahnya nyaring ketika sampai pelepasannya. Caine sendiri tak percaya dirinya keluar hanya karena prostatnya yg terus digoda. Nafasnya memburu tidak teratur dengan bibir bengkak terbuka, pandangannya kabur menatap pria diatasnya.

“Enak sayang?” Tanya Rion, terdengar samar nafas beratnya disana. Ia menarik wajah itu untuk lebih dekat dan membawa bibir masing-masing untuk bertaut. Berusaha membungkam mulut yg terlalu banyak bicara karena sialnya ucapan yg selalu keluar dari sana berhasil meningkat hasrat seksualnya.

Ciuman dari Caine itu berantakan, Rion membiarkan bibirnya di lumat dan digigit acak oleh yg tercinta. Ia menyelusupkan lidahnya masuk, sedangkan dibawah sana jemari masih saja menggoda pintu anal yg sudah basah karena cairannya sendiri. Lagi-lagi Caine melenguhan, kaki jenjangnya memeluk tubuh besar itu cukup erat berusaha semakin merapatkan keduanya.

“Mhnngh?!” lenguhnya di sela ciuman, bokong serta pinggulnya diangkat keatas untuk diberi alas bantal tebal di bawahnya oleh Rion. Pangutannya terlepas, netra keduanya bertemu dan Caine rasakan ujung tumpul milik Rion yg perlahan masuki analnya. Bibir bawahnya bahkan tanpa sadar dirinya gigit saat rasa sakit mulai terasa disana.

“Jangan gigit bibir kamu sayang, kamu gigit bahu aku aja ya” ucap Rion mendaratkan kecupan singkat di kening milik Caine, ia mengangguk mengerti dan menenggelamkan wajahnya di bahu yg lebih tua, memeluk tubuh diatasnya kuat saat kepala tumpul itu terus mendorong masuk. Rion dapat rasakan saat kuku milik Caine menancap di punggungnya, bahunya pun ikut digigit kuat namun yg menjadi pusat perhatiannya sekarang adalah sensasi menjepit di area selatannya. Begitu rapat membuat dirinya kesulitan masuk lebih dalam.

“Shhh rileks sayang” bisik Rion lembut saat menyadari raut kesakitan di wajah kesayangannya, mengelus pipinya dan menghadiahkan beberapa kecupan manis. Saat dirasa Caine mulai sedikit tenang ia mendorongnya kembali dalam sekali hentak.

Caine memekik, rasa ngilu luar biasa di bagian tubuh bawahnya buat dirinya tanpa sadar menangis, rasanya aneh dan penuh. Tubuhnya yg gemetar tak henti-henti mendapat kecupan sayang dari Rion, lelaki itu berusaha menenangkan dan mengurangi rasa sakit milik Caine.

"Sayang i'm here, its okay" ucapnya menenangkan, air mata miliknya diseka lembut. Sudut matanya menangkap perut bagian bawah milik Caine yg sedikit menonjol karena dirinya, ia mengelusnya sayang. Rasa senang dalam hatinya terasa terus menerus meningkat buat kejantanannya kembali berkedut didalam sana.

“Gerakin” ucap Caine parau, suaranya nyaris hilang karena terlalu banyak memekik sedari tadi. Rion menurut dan memaju mundurkan pinggulnya dalam tempo teratur. Dirinya menggeram merasakan miliknya yg masih saja digengam erat oleh rektum milik Caine.

Caine menatap sayu pria diatasnya yg bergerak penuh peluh, wajahnya memerah hingga telinga dan jangan lupa geraman rendahnya semakin menarik libidonya lebih jauh, dirinya kembali memekik saat ujung kepala tumpul itu pergi jauh lebih dalam.

“Ahn Rionh wait... terlalu dalam ngh” lenguh Caine mendapat tawa kecil dari si pelaku. Tiba-tiba ide jahil muncul di kepalanya, ia ingat betul betapa frustasinya Caine saat jarinya menyentuh titik manisnya berkali-kali tadi di awal.

“Seingatku disini…” guman Rion pada dirinya sendiri, ia menarik pinggul dan menghentaknya sedikit ke atas menekan tepat di titik prostat milik Caine. Seakan dibawah terbang kelangit, pupil netra itu mengecil dan setengah ke atas, mulutnya terbuka menjerit mendesahkan namanya dengan lantang. Rion tersenyum miring mendengarnya, sudah ia pastikan anak-anaknya akan mendengar itu.

“Enak sayang? Enak dimentokkin sama kontol aku?” Tanya Rion kotor, Caine sendiri yg di tanya seperti itu kembali meremang dan menatap Rion sayu. Ia menjilat pipi sang empu saat ada bulir keringat disana dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Rion menjawab pertanyaan lelaki itu dengan anggukan antusias.

“Suka, enak nghh mau dimentokkin lagi iyonhh" bisiknya pada Rion, dapat ia rasakan milik Rion semakin keras di bawah sana. Bagaimana tidak, Caine benar-benar tahu cara menggodanya. Ia bahkan dengan sengaja memanggil namanya dengan nada manja dan desahan seperti itu.

“Fuck” umpat Rion dan semakin mempercepat temponya, nafasnya mulai tak teratur saling menyahut dengan desahan Caine yg sedikit terputus-putus karena tubuhnya terus tersentak-sentak. Surai ungu terong itu benar-benar mengabulkan permintaan Caine dan menekan miliknya jauh lebih dalam.

Pikirannya melayang, mendesahkan nama pria diatasnya dengan lancang tanpa malu. Seakan lupa dengan dirinya ia semakin membuka lebar kakinya, membiarkan yg lebih tua leluasa menekan titik manisnya berkali-kali. Dirinya melenguh geli saat Rion menjilat lehernya, mencium dan berakhir menghisapnya kuat menimbulkan ruam merah kebiruan disana berusaha memenuhi seluruh leher jenjang itu dengan tanda miliknya.

Tangannya pun tak bisa diam, memelintir dan menarik main-main puting yg sudah mencuat minta di perhatikan. Ciuman di lehernya turun ke area dada kemudian menggeliat gelisah saat areolanya di jilat dan berakhir di hisap kuat.

Caine meringis ngilu merasakan milik Rion yg semakin membesar dibawah sana, rektumnya semakin gatal saat urat-urat itu mulai menonjol dan berkedut tanda ia mendekati pelampiasannya. Ia kembali mencengkram punggung Rion erat. Sekali, dua kali, tiga kali hentak Rion menekan miliknya lebih dalam dan Caine mencapai pelepasannya kembali, kakinya bergetar dengan cairan yg keluar membasahi perutnya. Ia nyaris menutup matanya kelelahan sampai lehernya digigit kuat dan Rion ikut mencapai pelepasannya didalam sana.

“Nghh….” lenguhnya lemas, cairan itu masih saja terus keluar banyak bahkan hingga merembes keluar. Jika ia perempuan sudah dipastikan dirinya akan hamil, namun sayang sekali bukan. Rion mengeluarkan miliknya, bersiul puas melihat hasil mahakaryanya sendiri di bawah sana.

Pikiran Caine benar-benar kosong sekarang, terbukti saat Rion memanggilnya berkali-kali namun tak dapat respon sedikitpun. Bibirnya tersenyum simpul saat sadar kesayangannya ini masih dalam euphorianya sendiri. Ia membawa dua belah bibir itu dalam sebuah ciuman lembut penenang, merengkuhnya dan membiarkan sang empu menenggelamkan wajah lelah itu pada dada bidangnya.

“Aku sayang kamu” cicitnya serak nyaris tenggelam tak terdengar. Rion tersenyum simpul, menghujani pucuk kepala merah itu dengan ribuan kecupan. Ia kemudian menarik selimut untuk menutup tubuh polos keduanya.

 


 

Tepat pukul setengah tujuh pagi ada Key di dapur yg tengah membuat sarapan untuk keluarganya, ia bertanya-tanya kemana perginya Caine, tak biasanya ia bangun kesiangan karena ini adalah jadwal dirinya dan Caine membuat sarapan pagi.

Key berpikir mungkin saja Caine kelelahan atau tidak enak badan, sebenarnya ia tak merasa keberatan sama sekali untuk memasak sendirian. Lagipula pagi ini ia hanya membuat roti panggang dengan isian telur mayo. Suara langkah kaki menuruni tangga terdengar, Key melirik untuk melihat siapa itu. Ia sempat berharap itu adalah Caine, namun ternyata Rion yg datang menghampiri dirinya.

Ia memakai celana pendek diatas lutut dan kaos putih polos, wajahnya berseri tersenyum lebar menghampiri Key. Ia mengusak rambut biru putrinya itu gemas.

“Bapak kenapa?!” Tanya Key heran, ia tak biasa diperlakukan seperti ini oleh Rion. Martabatnya sebagai anak pertama seperti di pertanyakan sekarang.

“Caine lagi gak enak badan, biar gw aja yg bantu lu bikin sarapan” jawabnya singkat dan mencuci tangannya di wastafel, melanjutkan pekerjaan Key yg tadi tengah mengupas kulit telur.

Key menatapnya menelisik, memperhatikan pergerakkan Rion yg seperti sedang dalam mood bagus pagi ini. Matanya menyipit menyadari sesuatu yg aneh, ia mendekatkan dirinya dan menyingkap sedikit kerah baju Rion. Dagunya seakan jatuh kelantai saat melihat ruam biru, bekas gigit dan cakaran yg ada disana.

“Pak? Abis… itu… sama Mami?” Tanya Key takut-takut, Rion tersenyum simpul mendengarnya dan menjawab dengan anggukan tipis.

“Damn, pantesan aja Mami kesiangan”

Setelahnya Key tak berani bertanya lebih lanjut, dengan cekatan ia memanggang beberapa lembar roti dan menyajikkannya di tengah meja makan. Telur yg di kupas Rion juga sudah hancurkan dan dicampurkan dengan mayonaise dan beberapa bumbu. Beberapa buah alpukat, tomat dan selada juga sudah Rion susun rapih. 

Satu persatu anak-anaknya turun untuk sarapan, beberapa dari mereka masih mengantuk dan ada pula yg sudah mandi dan rapih. Tak lama mereka mulai sibuk dengan hidangan masing-masing, ada yg menanyakkan Caine tentunya dan Rion dengan senang hati menjawab semua pertanyaan itu dengan nada santai.

Riji menelan sarapannya berat sekali, melihat wajah Rion jelas sekali Caine benar-benar mengikuti sarannya kemarin. Ia benar-benar was-was jika Echi, Krow, Selia dan Aenon yg ada di sana kala itu mengungkit perihal sarannya pada Caine kemarin.

“Papi gimana HAP-nya udah terpenuhi belom sama Mami?” Tanya Selia, Riji terbatuk mendengarnya begitu pula Rion dan Key.

“Gila banget Selia” protes Key, sedangkan Rion yg di tanya menaiki salah satu alisnya.

“Kenapa tanya begitu?” Tanyanya masih dengan nada tenang, berbanding jauh dengan Riji yg isi kepalanya sudah riuh ricuh.

“Jadi tuh Pih, kemarin Mami cerita katanya Papi lagi ngambek sama dia. Terus dia minta saran tuh ke aku, Selia, Riji, Krow sama Enon” ucap Echi

“Chi jangan bawa-bawa gw please” ucap Aenon berusaha mengelak untuk cari aman.

“Kita kan gak tahu ya Pih mau ngasih saran apa, terus si Riji bilang gini ‘Kasih jatah aja Mih, dijamin bakal manjur’ begitu” jelas Krow berusaha menumpahkan semua kesalahan itu pada Riji. Semua yg mendengarnya menatap Riji tidak percaya.

“Anjing ya lu Krow” umpat Riji

“Ohh jadi itu alasan Caine tiba-tiba jadi kucing birahi ke gw, jadi gitu ya Ji?” Tanya Rion mendapat gelengan cepat dari Riji.

“Gak maksud Beh sumpah! Aing kira teh si Mami sama kamu teh udah — begitu?! Tapi berhasil kan Beh? Lu udah dapet jatah, harusnya udah gak ngambek dong Beh” Bela Riji untuk dirinya sendiri.

Rion memijit pangkal hidungnya, menghela nafas lelah walau nyatanya ia tak bisa menutupi rona semu di pipinya karena sekarang semua anak-anaknya sudah mengetahui aktivitas malam panasnya bersama Caine.

“Pantesan aja gw kayak denger suara-suara gitu anying tadi malem, gw lupa kamar gw sebelahan sama si bapak shimeh!” misuh Gin

“Riji kehadapan gw sekarang” titah Rion

“Mati gw” umpat Riji kembali, meski begitu ia tetap menurut dan berlutut di hadapan Rion. Sudah siap jikalau kepala keluarga itu akan menghadiahkan banyak pukulan di wajah tampannya.

“Mana tangan lu” titah Rion kembali. Sedikit bingung Riji menadangkan tangannya terbuka, ia diberi sebuah cincin berwarna hitam dengan inisial C di dalamnya.

“Sebagai hukuman lu cariin gw cincin yg bagus, cari yg sekiranya cocok dan bakal disukain sama Caine. Ini contoh ukurannya, gw mau lu bawa cincin itu sore ini karena gw mau lamar Caine nanti malem” ucap Rion masih dengan nada datarnya. Beberapa dari mereka yg mendengarnya menatap Rion tak percaya 

“Asli ini? Papi mau nikah sama Mami?!” Tanya Mia nyaris menangis haru yg di jawab anggukan kecil dari sang empu.

“Siap laksanakan Beh! Ayo Yang bantu aku cari cincin” ucap Riji dan mengajak Selia pergi saat itu juga.

Kondisi ruang makan mulai ricuh mendengar kabar baik tersebut, Rion yg sebagai penyebabnya hanya tertawa kecil dan kemudian meminta mereka semua untuk lebih tenang.

“Jaga mulut kalian ya, jangan sampai Caine tahu rencana gw” ucap Rion yg di angguk setuju oleh yg lain.

“Orang dimana-mana nikah dulu gak sih baru kawin, ini kawin dulu baru nikah” celetuk Istmo

“Diem lu tua, nyinyir aje. Suka-suka gw lah, setidaknya gw gak jadi bujang tua kayak lu ya” jawab Rion yg tentu menyakiti hati Istmo yg mendengarnya.

 


 

Caine meringis merasakan rasa nyeri luar biasa di bagian bawahnya, melirik jam nakas menunjukkan waktu nyaris sore hari. Meski sedikit tertatih ia berusaha untuk bangun dari tempat tidur namun sialnya ia justru jatuh terduduk karena kakinya seakan tak sanggup menompang berat tubuhnya sendiri. Ia kembali mendesis, bersemu malu saat sadar cairan milik Rion semalam kembali merembes keluar melalui paha dalamnya. Rion baru saja memasuki kamar kala itu langsung menghampiri tubuh terduduk itu khawatir.

“Astaga sayang, kenapa gak panggil aku aja lewat radio?” tanyanya

Caine yg mendengar itu menggeleng kecil. Ia mengalungkan tangan pada leher Rion saat tubuhnya perlahan mulai di angkat dan membawanya untuk membersihkan diri.

Mendudukan tubuh telanjang itu tepat di dalam bathtub, menyalakan air suhu hangat dan mulai memandikannya. Walau sempat protes namun Caine hanya bisa pasrah saja saat kepalanya sudah di pijat halus sembari di beri shampoo.

“Abis mandi nanti diolesin salep ya biar lecetnya cepet sembuh” ucap Rion yg hanya di balas anggukan kecil.

“Cairan aku nanti keluarin aja sayang, biar kamu gak sakit perut. Maaf ya aku malah keluar di dalem” ucap Rion kembali

“Oh emang bikin sakit perut?” Tanya Caine

“Katanya sih gitu, tapi aku juga gak tahu. Nanti kita tanya Pak Sui ya” jawab Rion

“Yahh padahal enak keluar didalem” celetuk Caine mendapat sentilan main-main di jidatnya dari Rion.

“Heh kamu ya mulutnya, jangan sampe aku tidurin lagi di ranjang” omel Rion mendapat tawa puas dari yg lebih muda. Siapa sangka kalimat seperti itu akan keluar dari mulut seorang Caine Chana.

“Oh iya, nanti malem anak-anak mau bikin acara barbeque di belakang” ucap Rion mendapat cebikan kesal dari lawan bicaranya.

“Padahal aku mau ikut bantuin” ucapnya cemberut, Rion tertawa kecil mendengarnya dan mengusak kepala merah itu gemas.

“Masih bisa kok, mereka gak akan mulai tanpa kamu” ucapnya, ia kemudian melanjutkan kegiatannya memandikan Caine, setelah sabun dan bilas ia juga ikut membantu pria itu membersihkan analnya dari bekas sisa kemarin. Tentu Caine malu dan menolak itu mentah-mentah, namun Rion lagi-lagi membuat surai merah itu pasrah dengan beralasan tanggung jawab katanya.

Tak lupa mengolesin salep seperti janjinya tadi, ia bahkan memakaikannya baju, menyisir rambutnya dan bantu mengolesin skin dan body care miliknya. Rion benar-benar memperlakukan Caine layaknya bayi besar, ia memeluk tubuh itu gemas bukan main, surai merah itu terlihat seperti buntalan kapas yg wangi dan Rion sangat bangga dengan hasil kerja kerasnya itu.

Caine memilih memakai sweater rajut turtleneck untuk menutupi ruam keunguan di sana, ia menegur pria itu untuk berhenti memeluknya. Jujur saja cuaca hari ini cukup panas dan pelukan Rion semakin membuatnya engap. Ia bangkit dan berusaha berjalan senormal mungkin tak mau anak-anaknya itu sadar dan menggoda dirinya, menuruni tangga perlahan namun pasti dengan Rion yg senantiasa mengikuti langkahnya di belakang.

“Apa besok aku beli lift ya” celetuk Rion mendapat cubitan main-main dari Caine, menggeleng kepalanya tak habis pikir dengan celetukannya barusan. Ia meninggalkan Rion dan menghampiri anak-anaknya yg sudah memanggil-manggil dirinya.

Ia berbaur disana sedikit senda gurau sembari menunggu sampai bahan makanan mereka tiba dari pasar. Semua nampak hadir lengkap disana, ada para relasi seperti Marchie, Marcel, Sui dan Lona. Memang hal langka mereka semua menyempatkan waktu dari pekerjaan dan hadir untuk waktu keluarga bersama.

Caine tentu sangat senang dengan itu, semua orang nampak antusias sore ini menunggu senja datang. Sebagian ramai sibuk di area dapur menyiapkan bahan makanan dan minuman, hanya 2 atau 3 orang saja yg mengurusi pemanggangan untuk mulai dipanaskan.

“Caine, bisa ikut sebentar” ucap Rion memintanya memisahkan diri. Keduanya pergi keluar di dekat area barbeque, sedikit memberi jarak agar suara bising tak bisa mengintrupsi ucapan penting yg ingin Rion sampaikan.

“Ada apa Rion?” Tanya Caine menyadari diri Rion yg nampak gugup sekarang.

“Ada yg mau aku bicarain ke kamu, kamu pasti ingat waktu aku kabur dari rumah terakhir kali karena cemburu sama Makomi?” Tanya Rion mendapat anggukkan kecil disana.

“Karena hal itu juga aku sadar tentang perasaan aku ke kamu, jujur sebelumnya aku udah berusaha ngehindarin kamu sebelum aku tahu soal kamu dan Makomi. Kamu tahu alasannya apa?” Tanya Rion mendapat gelengan kecil sekarang, wajah itu menatapnya bingung.

“Itu karena kamu bilang ada seseorang yg mau kamu nikahin — ”

“Itukan kamu” potong Caine, berhasil mengukir senyuman salah tingkah yg lebih tua.

“Minimal aba-aba dulu astaga aku ‘kan belum siap di serang begitu sama kamu, dengerin aku dulu yaa” ucap Rion, surai merah itu terkekeh geli dan mengangguk mengerti.

“Soal pernikahan itu, kamu pasti tahu soal aku yg gak gak mau terikat sama siapapun. Dipikiranku itu isinya cuman keluarga dan bisnis, itu aja” ucap Rion.

Caine yg mendengar itu merasakan perasaan buruk, senyumannya yg tadi luntur hilang entah kemana. Ia menatap pria itu sendu.

“Aku tahu, aku juga gak berharap kamu nikahin aku” ucapnya Caine.

Rion yg mendengar itu mengernyitkan keningnya bingung, ia sedikit kesal mendengar kalimat itu keluar dari bibir Caine secara langsung.

“Kenapa kamu pikir begitu?” Tanya Rion.

“Karena aku tahu kamu, kita kenal lama Rion. Aku tahu kamu gak akan pernah nikahin siapapun. Seperti yg kamu bilang barusan kalau kamu gak mau terikat sama siapapun” jawabnya, ia memalingkan wajahnya menghindari tatapan tajam Rion, samar dapat ia dengar dengus kecil darinya.

“Kamu yakin kamu tahu aku? 14 tahun lamanya kamu pikir itu cukup buat kenal aku sedalam itu?” Tanya Rion tak mendapatkan jawaban apapun.

“Kamu tahu sebesar apa aku sayang sama kamu, seberapa besar aku butuh kamu di hidup aku dan sepenting apa kamu buat aku Caine. Kamu beneran berfikir 14 tahun itu beneran cukup buat kita?” Tanya Rion kembali

“Maksud kamu apa Rion, jangan buat aku berharap kayak gini” jawab Caine akhirnya menatap balik mata violet yg tak henti-henti meminta atensinya. Netra keemasan itu menatapnya sendu, entah harapan atau mungkin khayalan yg akan ia terima nanti.

“Aku gak pernah sekalipun kasih harapan palsu ke kamu sejak awal, kamu tahu itu. Aku butuh kamu Caine, butuh kamu untuk tempat aku pulang, butuh kamu terus temani dan berdiri disamping aku. Aku mau kita habisin sisa hidup kita sama-sama, jadi kamu mau ya resmi jadi pendamping hidup aku? Jadi Maminya anak-anak, jadi dunianya aku dan selalu begitu” ucap Rion, ia berlutut di hadapan surai merah itu mempertontonkan sebuah kotak merah dengan cincin indah di dalamnya.

Caine tak bergeming, mulutnya nyaris tak bisa berkata apa-apa. Nafasnya tercekat berusaha menahan tangis haru yg entah bagaimana berhasil lolos dari netranya, diusapnya lembut oleh Rion. Ia masih diam menunggu Caine menjawab ucapannya.

Caine memeluk tubuh itu erat, menenggelamkan wajah di ceruk sang empu. Ia mengangguk antusias tanpa suara, matanya seakan meleleh saat Rion memeluk pinggangnya tak kalah erat. Mencium wajah cantik kesayangannya itu sesekali, menyalurkan rasa syukur dan terima kasih karena sudah menerima dirinya sejauh ini. Kemudian ia meraih jemari manisnya dan memasangkan cincin indah itu sana.

Pelukan mereka terlepas saat sadar anak-anaknya yg ikut menangis haru, ternyata mereka mengintip dari jauh dan ikut menguping pembicaraan. Keduanya tertawa dan menghampiri mereka, membawa diri masing-masing ke area barbeque seperti rencana awal mereka.

“Jadi kapan Pih nikahannya?” Tanya salah satu dari mereka

“Aman aja, ntar dikabarin. Biar Pak Sui yg atur semuanya, dia kan pinter tuh bikin acara-acara” jawab Rion mendapat tawa puas dari mereka

“Sialan lu Rion, tapi gapapa sih. Bakal gw bikinin acara pernikahan terkeren, terkece, tersakral se-Tokyo” ucap Sui mendapat acungan jempol dari Rion

“Joss banget Sui” ucapnya.

“Tadi si Papi kurang romantis tuh” protes Selia

“Yah maaf deh, gak puitis gw orangnya. Lagian si Caine juga ngerti kok” ucap Rion sekenanya.

“Harusnya Papi bilang gini ‘Konsonan langit yang akan menjadi sebuah takdir cinta kita, menjadikan hamparan bahwa saksi ini, detik ini, secara sinaran ultrafeng yang mulai dinaungi oleh greenday akan menjadi cranberries cinta kita menjadi nyata. Aku sudah mempersembahkan terjun dari helikopter untuk kamu sayang’.” Ucap Selia mendapat gelak tawa puas dari yg lain

“Capek banget gw anying”

 

Notes:

awoo remii its heree :3
terimakasih sudah membaca sejauh ini ya hehe, atapuu <33

Series this work belongs to: