Actions

Work Header

Aurum Mare

Summary:

Di atas Aurum Mare, masa lalu tidak pernah benar-benar tenggelam.
Dendam. Pengkhianatan. Hasrat.
Semuanya kembali mengapung... dalam satu malam yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter 1: Log 1

Chapter Text

Dentuman ritmis alat musik Timur Tengah bercampur dengan ketukan elektronik modern mengisi seluruh ruangan aula utama kapal pesiar “Aurum Mare”. Lampu-lampu sorot berwarna merah tua, keemasan, dan biru safir bergantian menari di atas panggung yang dilapisi permadani tebal dan tirai sutra.

Aroma parfum mewah, alkohol mahal, dan asap tembakau menyatu dalam udara yang nyaris terlalu berat untuk dihirup.

Di tengah panggung itu, tiga sosok berdiri dalam formasi setengah lingkaran. Kain sutra tipis melilit pinggang dan dada mereka, manik-manik emas dan perak berkilauan mengikuti setiap gerakan tubuh yang sedikit melenggok, seolah mengundang.

Yosano — dengan gestur tajam dan elegan.
Kouyou — anggun, klasik, memesona.
Dan Chuuya — bukan hanya sekadar anggun. Tapi sesuatu yang lebih.

Satu grup. Satu simfoni keindahan, racun, dan misteri.

Saat musik benar-benar mengalun, ketiganya mulai bergerak. Irama mengisi seluruh panggung, dan dalam sekejap, perhatian seluruh ruangan mengerucut hanya pada satu sosok.

Chuuya.

Kain sutra biru tua menghiasi tubuhnya, diikat rendah di pinggul dengan selendang berisi lonceng-lonceng kecil yang bergetar setiap kali ia menggoyangkan tubuhnya. Lehernya dilingkari kalung emas tipis, dan perutnya—terbuka sempurna di balik bustier bermotif oriental—mengencang dengan setiap lengkungan punggungnya.

Meskipun garis rahangnya tegas, dan lekuk tubuhnya tidak seramping dua rekan wanitanya, gerakan Chuuya memiliki sesuatu yang lebih. Ada fluiditas, kelenturan, dan harmoni antara kekuatan dan kelembutan yang terlalu sulit untuk diabaikan.

Tapi ada satu hal yang bahkan anatomi pun tampaknya menyerah di hadapannya: garis pinggang itu.

Tipis. Melengkung dengan kejam. Nyaris tidak masuk akal untuk tubuh seorang pria, tapi nyata. Sangat nyata. Terlalu nyata. Terlihat begitu sempurna saat sutra biru di pinggulnya melambai, mempertegas batas antara dada bidang dan paha kokoh. Seolah alam semesta sempat ragu dalam proses penciptaannya—ingin membuatnya patuh pada garis maskulin, tapi kemudian tergoda untuk menyelipkan sepotong dosa ke dalam lekuk itu.

Dan setiap kali pinggul itu berputar, melingkar, mengayun, lekuk itu bukan hanya sekadar bagian tubuh. Ia menjadi senjata. Sebuah garis maut yang membuat siapa pun di ruangan ini lupa caranya bernapas.

Seolah ruang di sekitarnya ikut melentur. Seolah waktu sendiri berhenti untuk memberi jalan pada gerakan itu. Dan dunia... ya, dunia menatap. Menatap, lalu tenggelam. Karena bagaimana mungkin mereka tidak?

Tangannya bergerak dari pinggul, naik perlahan ke atas dada, lalu ke atas kepala—melengkungkan tubuh hingga punggungnya melengkung membentuk busur. Pinggulnya mulai bergerak, memutar dalam gelombang yang sempurna. Lambat. Menggoda. Konsisten.

Paha rampingnya melangkah ke depan, lutut sedikit ditekuk, pinggul melenting ke kiri, lalu ke kanan, lalu berputar. Kakinya menghentak lantai kayu panggung, lalu tubuhnya berputar dengan kain selendang yang melayang, sebelum berhenti tajam dalam pose yang nyaris... mematikan.

Setiap langkah kakinya adalah bisikan. Setiap gerakan pinggulnya adalah tantangan.

Sepasang mata biru laut itu menyapu ruangan, tajam seperti pisau yang ditempa dari ombak dan garam. Biru yang dalam, dingin, tapi juga berbahaya—seperti palung yang bisa menenggelamkan siapa saja yang cukup bodoh untuk menatap terlalu lama.

Dia tahu. Penari di atas panggung selalu menjadi sasaran tatapan bodoh yang penuh nafsu—tatapan yang mengira bisa membeli segalanya dengan uang, termasuk ilusi keindahan.

Tapi tidak kali ini.

Karena saat pusaran biru itu menyisir kursi VIP tengah, ia membentur satu sosok yang duduk seperti raja di singgasana. Tegas. Angkuh. Menjengkelkan seperti biasa.

Dazai Osamu.

Sialan.

Untuk sepersekian detik, langkahnya nyaris terpeleset. Jantungnya seperti ditinju dari dalam. Nafasnya tercekat.

Itu dia. Itu benar-benar dia.

Foto yang pernah dilihatnya—foto yang diberikan Arthur Rimbaud sebelum pelayaran ini—tidak pernah memberi keadilan pada kenyataan.

Foto tidak menunjukkan bagaimana seragam putih bersih bertabur epaulet emas itu membungkus tubuh tinggi Dazai dengan sempurna. Tidak menunjukkan bagaimana topi kapten itu bertengger rapi di atas rambut cokelatnya yang sedikit berantakan—miring dengan kesan santai, tapi tetap menegaskan siapa pemilik kekuasaan di ruangan ini.

Sementara tangan panjangnya yang terbungkus sarung tangan putih bertumpu santai di sandaran kursi, dengan satu kaki dilipat malas di atas paha yang satunya lagi.

Foto tidak pernah memberitahu betapa auranya sekarang nyaris seperti Dewa Laut itu sendiri. Penuh wibawa, licik, dan... tak terjangkau.

Dan senyum itu—sialan—tetap sama. Lesung pipi yang muncul sepintas, seolah dia tengah menertawakan seluruh dunia. Termasuk, mungkin, dirinya sendiri.

Mata mereka bertemu.

Dazai tidak bergerak. Hanya memiringkan kepala sedikit, seperti kucing besar yang menatap mangsa... atau mainan.

Dan di saat itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun...
Chuuya merasa seperti dirinya yang dulu—berdiri di samping Dazai, di atas tumpukan uang kotor dan darah, sebelum semuanya hancur berantakan.

Perutnya menegang. Entah karena adrenalin atau kemarahan atau sesuatu yang lebih buruk.

Fokus.

Dia kembali melenggok, lebih dalam, lebih menggoda. Selendang sutra di pinggulnya berputar, berbunyi nyaring. Tubuhnya berputar cepat, lalu berhenti tiba-tiba dengan satu kaki mengangkat, pinggul mendorong ke samping, dan lengan terangkat tinggi, menyibak rambut merah tembaga yang kini nyaris menutupi mata.

Gerakan itu—tajam, sensual, dan penuh tantangan—seolah ditujukan langsung pada pria itu.

“Kau lihat aku, Dazai? Bagus. Kau lihat... maka kau ingat.”

Setiap tarikan napasnya kini terasa berat. Keringat mulai membasahi garis punggungnya, turun di antara bilah bahu, menetes hingga ke pinggang. Tapi ia terus menari.

Tarian ini bukan lagi untuk para tamu.
Bukan untuk uang.
Bukan untuk pertunjukan.

Ini adalah perang.

Perang mata. Perang ingatan. Perang luka lama yang belum sempat sembuh.

Senyum licik itu tetap tidak pudar dari wajah Dazai. Sepasang mata cokelat itu—hangat dalam kilasannya, tapi dingin dalam kedalamannya.

Bukan cokelat biasa. Warnanya seperti pasir basah di dasar samudra, tenang dan kelam. Seperti lumpur pekat yang diam, tapi siap menelan apa pun yang terpeleset masuk. Seperti pusaran di perairan gelap, tempat cahaya karam tanpa jejak.

Tatapan itu tidak berkedip. Tidak bergeming. Menyelam pelan, lalu menelanjangi Chuuya tanpa menyentuhnya sama sekali. Membongkar lapisan demi lapisan, seolah mengupas kulitnya sampai hanya tersisa jiwa mentah yang gemetar di hadapan pria itu.

Dan celakanya, itu jauh lebih berbahaya daripada disentuh secara nyata.

.

.

.

 

End Note:

Terinspirasi dari kartu Mayoi Dazai Osamu [Ocean Voyage]—yes, silakan cek di internet atau pinterest. Silakan nikmati visual Kapten Dazai berseragam yang sukses merusak moral penulis sampai bikin cerita ini tercipta. ✍️✨

Dan ya... confession time, I have a fatal weakness for men in uniforms. Bukan yang cokelat, bukan yang loreng. Yang kayak begini. Yang 2D. Yang bikin iman bocor permanen. 🫠

Btw, cerita ini lahir dengan sangat tidak bertanggung jawab... di tengah tumpukan hutang cerita on-going. Jadi, ayo tebus dosaku—kasih kudos, komentar, atau lempar pelampung sebelum aku kelelep lebih dalam. 🚢🛟

 

30 Juni 2025

Scarlet Risse