Actions

Work Header

Aurum Mare

Chapter 5: Log 5

Chapter Text

Sejenak setelah ledakan amarah Chuuya, Dazai tetap diam. Terlalu diam. Hanya suara detak jam kapal di sudut ruangan yang terdengar, berdetak perlahan, seolah ikut menanti—menanti sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar pertengkaran dua manusia keras kepala.

Tatapan Dazai tidak berubah. Tapi ada sesuatu yang bergerak di balik sorot matanya. Halus. Gelap. Seperti bayangan di dasar lautan yang bergerak pelan, menunggu saat yang tepat untuk muncul ke permukaan.

Ujung bibirnya terangkat. Lambat. Kejam. Dingin.
“Jadi...” katanya pelan, suaranya rendah nyaris seperti desisan ular. “Kau benar-benar butuh uang, ya?”

Chuuya membeku. Dadanya bergetar menahan napas. Kedua tangannya mengepal erat, buku-buku jarinya memutih. Ia hanya menatap Dazai—tidak berkedip. Tidak bernapas.

Tapi Dazai belum selesai. Belum.
Kepalanya sedikit miring. Matanya menajam. Bibirnya melengkung lebih tinggi. Lebih bengis. Lebih menusuk.

“Kalau begitu...” ia mencondongkan tubuh ke depan, jemari mengetuk meja perlahan, iramanya seperti palu godam yang menghantam dada Chuuya. “Berapa hargamu, Chuuya?”

Hening.
Dunia benar-benar berhenti.

Untuk sepersekian detik, tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Hanya detakan jantung—keras, brutal, memekakkan kepala.

Sesuatu meledak dalam diri Chuuya. Sesuatu yang tidak bisa lagi ditahan.

“Dasar...!”

Tanpa aba-aba. Tanpa berpikir. Tubuhnya menegang. Rahangnya mengeras. Dan dalam satu gerakan brutal—Chuuya berdiri dan meludahi Dazai tepat di wajahnya.

CUIH.

Ludah itu mendarat sempurna di pipi Dazai, sebagian menetes ke sudut bibirnya. Suara itu bergema di ruang interogasi yang terlalu sempit untuk menampung badai yang kini pecah.

Hening.
Terlalu hening.

Dazai tetap diam. Tidak bergerak. Tidak ada senyum. Tidak ada tawa. Tidak ada cemoohan.

Perlahan, sangat perlahan, ia mengangkat tangan yang berlindung sarung tangan putih—menyeka ludah itu dari wajahnya dengan gerakan tenang. Terlalu tenang. Bahkan... tidak manusiawi.

Tapi matanya...
Mata itu kini seperti jurang. Gelap. Dalam. Berbahaya.
Sesuatu yang liar. Sesuatu yang tidak bisa lagi ditahan.

“Kau benar-benar...” bisiknya. Suaranya rendah. Patah. Berat. “...meminta untuk dihancurkan, Nakahara Chuuya.”

Dan dalam sekejap—tanpa aba-aba—Dazai berdiri. Kursinya terlempar ke belakang. Tangan panjangnya terulur, menangkap pundak Chuuya, lalu menarik brutal ke atas meja—seperti membanting, seperti menyeret, seperti... mencuri seluruh napas dari paru-paru Chuuya.

“Dazai—!”

Protes itu terputus. Dazai membungkamnya. Dengan ciuman.

Bukan ciuman. Bukan. Itu adalah benturan dua dunia. Dua badai. Dua luka yang bertubrukan hingga pecah.

Bibirnya menekan bibir Chuuya, kasar, penuh amarah, penuh rasa benci yang terlalu mirip dengan kerinduan yang disangkal.

Salah satu tangan Dazai menangkup rahang mungil itu, menarik wajahnya lebih dekat, seolah ingin meleburkan tubuh itu ke dalam dirinya. Tangan satunya mencengkeram pergelangan tangan Chuuya di atas kepala, menahannya, membuat tubuh itu benar-benar tak berkutik di bawahnya.

Chuuya mendorong. Meninju dada Dazai. Tapi tidak cukup kuat. Tidak cukup untuk melepaskan.
Karena tubuhnya... tubuhnya bergetar. Bukan hanya karena marah. Tapi karena ada sesuatu yang lebih. Sesuatu yang tidak ingin ia akui. Sesuatu yang sejak dulu... tidak pernah padam.

Gigi Dazai menarik bibir bawah Chuuya. Gigitan itu tidak lembut. Nyaris seperti peringatan. Atau ancaman. Atau... sebuah pengakuan yang tidak bisa diucapkan.

“Brengsek...” Chuuya terengah, mendorong sekuat tenaga saat Dazai melepaskannya sesaat untuk menarik napas. “Dasar bajingan—”

Tapi Dazai hanya menatapnya, dada naik-turun, matanya membara. Suara napas mereka bercampur. Berat. Panas. Ruangan itu terlalu sempit. Terlalu penuh dengan sisa-sisa amarah, dendam, dan bara yang belum sempat padam.

“Kau pikir...” Dazai mendekat lagi, suaranya serak, berat, “...kau bisa meludahiku tanpa konsekuensi?”

“Sialan kau...! Jangan dekati aku—”

Suara gemerincing gelang kakinya pecah di antara napas yang saling bertubrukan. Denting yang seharusnya terdengar manis di atas panggung, kini terdengar seperti jeritan kecil dari tubuh yang terperangkap.

“Terlambat, Chuuya.”

Satu tangan Dazai bergerak cepat—kembali mencengkeram kedua pergelangan tangan Chuuya, menahannya di atas kepala. Tekanannya kuat. Mustahil untuk melepaskan diri. Tubuh mungil itu kini benar-benar terperangkap di bawahnya, terbuka, tidak ada ruang untuk lari, tidak ada celah untuk sekadar bernapas tanpa mencium aroma bahaya yang menetes dari setiap inci lelaki itu.

Tangan kiri Dazai yang masih bebas, bergerak perlahan... membawa jemarinya ke depan wajah.

Bukan untuk melepas sarung tangan dengan tangan.

Tapi dengan bibirnya.

Gigi Dazai menangkap ujung kain di jari telunjuk—menjepitnya tepat di ruas jari. Kemudian, perlahan... sangat perlahan... ia menariknya mundur.

Semua dilakukan perlahan. Terlalu perlahan. Terlalu sengaja. Terlalu erotis untuk disebut sekadar melepaskan sarung tangan.

Dan selama proses itu, matanya tidak pernah lepas dari wajah Chuuya—tatapan tajam, dalam, penuh bara yang bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar amarah atau rindu.

Kain putih itu meluncur dari jemari rampingnya. Terlilit, tertarik, terlepas satu demi satu dari ruas-ruas jarinya.

Begitu kain itu lepas sepenuhnya, ia menyemburkannya begitu saja ke lantai. Jemari kirinya kini telanjang... bebas... liar.

Tapi yang menarik adalah... sarung tangan kanan.

Masih terpasang sempurna. Bersih. Putih. Mengilap.

Kontras dengan jemari telanjang satunya yang kini bergerak menyusuri rahang Chuuya, menekan dagunya, mengangkat wajah mungil itu agar lebih mudah ditatap—dan lebih mudah dihancurkan.

Sarung tangan kanan itu tetap di sana. Tetap membelenggu kedua tangan Chuuya di atas kepala. Tetap menjadi simbol kekuasaan.

Simbol bahwa... bagaimanapun kacaunya situasi ini... Dazai Osamu tetaplah kapten kapal ini. Tetap pria yang berdiri di atas hierarki. Tetap lelaki yang bisa menghancurkan atau menyelamatkan hanya dengan satu perintah—atau dengan satu sentuhan.

“Hmm...” Dazai mendecak pelan, sudut bibirnya terangkat. “Jauh lebih baik.”

Suara itu... rendah. Berat. Bergetar seperti gemuruh yang mendahului badai.

Dan kemudian, ibu jarinya yang telanjang bergerak. Mengusap bibir Chuuya. Memaksa bibir itu terbuka. Menyapu bekas ciuman, bekas umpatan, bekas amarah—sekaligus bekas kerinduan yang tidak pernah bisa diucapkan.

“Dan sekarang...” ia berbisik lebih pelan, lebih berbahaya, “...kita bisa lanjut.”

Tangan kiri Dazai—yang kini bebas dari sarung tangan—meluncur turun, menyusur garis rahang, lalu turun lagi… melintas di sepanjang leher yang terekspos, menyusuri tulang selangka, dada, hingga tanpa ampun berhenti di paha ramping yang gemetar di bawahnya.

Jemarinya menekan kulit halus itu—keras, menuntut, seolah ingin menguji seberapa kuat tubuh itu bisa bertahan dari badai yang ia ciptakan sendiri. Sentuhan panas itu membuat Chuuya bergidik hebat. Tubuh mungilnya melengkung reflek, nyaris memukul napasnya sendiri, entah karena takut... atau karena sensasi itu terlalu menusuk ke dalam daging dan syarafnya.

Dazai tersenyum. Senyum yang terlalu miring. Terlalu berbahaya. Terlalu jahat.

Dan tanpa memberi ruang untuk bernapas, bibirnya kembali menyambar. Ciuman kedua—lebih liar, lebih dalam, lebih brutal. Lebih putus asa. Bukan lagi sekadar benturan bibir—ini perang. Gigi mereka bertabrakan. Lidah Dazai menyusup, menjarah tanpa ampun, memaksa Chuuya menerima segalanya, entah itu amarah, rindu, atau dosa yang sudah menggunung di antara mereka.

Napas mereka beradu, panas, berat, nyaris seperti saling menenggelamkan.

Tapi...

Di sela-sela ciuman itu, Dazai tiba-tiba berhenti. Bibirnya masih separuh menempel di garis rahang Chuuya, masih tersisa jejak gigitan, ludah, dan napas panas yang terengah-engah.

Alisnya berkerut. Matanya menyipit tajam.

Ada sesuatu.

Sesuatu yang menohok masuk ke benaknya.

Matanya melirik ke sudut atas ruangan. Dan di sana—lampu kecil. Nyala merah. Berkedip.

Detik itu... sesuatu di dalam diri Dazai berubah. Tatapannya yang semula terbakar kini menajam. Kembali ke mode kalkulatif. Dingin. Rasional. Tapi masih dibalut tensi yang belum sempat padam.

Tch... Rahangnya mengeras. Napasnya tertahan setengah di dada.

Sadar. Otaknya yang selalu licik akhirnya kembali waras seketika.
“Sial...” gumamnya rendah, nyaris seperti geraman marah pada diri sendiri.

.

 

.

 

.

 

2 Juli 2025
Scarlet Risse

 

Notes:

Kudos dan komentar sangat membantu... buat menenangkan rasa bersalah atas dosa membuka cerita baru di tengah tumpukan hutang. Jadi... jangan pelit ya.