Actions

Work Header

Kita Bercinta untuk Hancurnya Dunia

Summary:

Chanyoung selalu tanamkan pikiran jika Wonbin adalah perempuan paling sempurna yang syukurnya mampir ke dalam hidupnya, perempuan yang selalu memastikan dirinya tampil apik karena lahir dari keluarga terdidik dan selalu menghindari celah walau hanya setitik. Chanyoung ingat dirinya menjadi perempuan secara utuh saat mengalami menstruasi pertamanya setelah menyaksikan Wonbin mengganti baju di depan wajahnya secara langsung, maka Chanyoung bisa simpulkan jika Wonbin mengambil peran besar dalam keremajaannya. Sekali lagi, Wonbin adalah perempuan paling sempurna yang syukurnya mampir ke dalam hidupnya.

Notes:

(commissioned by anonymous.)

hurry up, get your lesbian sundanese meal!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Matahari rasanya enggan untuk menyembunyikan sinarnya. Begitu juga angin selaku teman yang baik ikut menandai presensinya di sana. Chanyoung masih setia menapakkan tegak kakinya di dekat pintu utama rumahnya, memakan bala-bala favoritnya yang lima menit lalu baru diangkat dari wajan sembari menyaksikan Si Teteh di seberang sana yang sibuk kibas-kibas kain basah dari dalam ember. Suapan bala-bala yang hendak masuk ke dalam mulut sempat berhenti kala Chanyoung rasakan ada panas menyambar bibir, ia berikan kesempatan bagi angin untuk menyentuh makanannya supaya santapannya tidak terlalu menyakitkan, nuhun pisan angin katanya. Rencana suapan selanjutnya berhenti lagi, Chanyoung perlu tanamkan fokusnya pada gerak-gerik Si Teteh saat angin secara kencang menyapa tubuhnya—rambut yang semula tertata rapi kini anak rambutnya jadi berpencar—belum lagi Si Teteh perlu merapikan kain jarik yang membalut pinggang hingga kakinya, nuhun deui angin. Chanyoung menggigit bibir bawahnya saat dirinya bersitatap dengan Si Teteh—Teh Wonbin—yang kini mesem-mesem sambil memasangkan jepitan pada kain yang bertengger di atas tali. 

“Anginnya kenceng ya, Teh?” tanya Chanyoung basa-basi, masih ada sisa kunyahan bala-bala yang sebelumnya disantap.

Kepala Wonbin menyembul dari balik kain yang dilebarkan. “Iya, makanya ini akunya jemurin cucian.”

“Rajin ih si Teteh mah,” puji Chanyoung yang undang tawa manis dari Wonbin—buat Chanyoung yang sadarnya cuma seperempat langsung mencaplok habis bala-bala ke dalam mulutnya lantaran salah tingkah.

Wonbin kembali mengibas kain basah yang timbulkan percikan air hingga bagian atas kebayanya sedikit basah. “Dede mampir atuh ka rumah, kangen ih.” (Dede mampir dong ke rumah, kangen ih.)

Chanyoung masih sibuk mengunyah sisa potongan bala-bala yang ada di mulutnya, memberikan jeda bagi percakapan keduanya, hingga kepalanya mengangguk-angguk—membiarkan Wonbin mencari tahu jawabannya dari balik kain yang sedang dijemur. Sebenarnya Chanyoung tidak akan pernah menolak ajakan Wonbin setiap empunya menawarkan diri untuk main ke rumah, toh keduanya sudah mengenal satu sama lain dengan baik sedari kecil—ya selain itu sih, Chanyoung selalu buat pengakuan kalau dirinya terlampau sayang dengan Si Teteh, makanya ia pikir haram buat menolak apa yang dimau Wonbin. Chanyoung selalu tanamkan pikiran jika Wonbin adalah perempuan paling sempurna yang syukurnya mampir ke dalam hidupnya, perempuan yang selalu memastikan dirinya tampil apik karena lahir dari keluarga terdidik dan selalu menghindari celah walau hanya setitik. Chanyoung ingat dirinya menjadi perempuan secara utuh saat mengalami menstruasi pertamanya setelah menyaksikan Wonbin mengganti baju di depan wajahnya secara langsung, maka Chanyoung bisa simpulkan jika Wonbin mengambil peran besar dalam keremajaannya. Sekali lagi, Wonbin adalah perempuan paling sempurna yang syukurnya mampir ke dalam hidupnya. Penuh rasa terima kasih Chanyoung sampaikan pada kedua orang tuanya yang memutuskan untuk membangun rumah yang berseberangan lima langkah dengan rumah Wonbin, sehingga keduanya bisa berteman dengan akrab—keakraban yang terbukti dari Chanyoung yang sudah menyandarkan tubuhnya pada paha dalam Wonbin sembari rambutnya diberi kepangan lucu. Wonbin memang gemar bermain dengan rambut sebahu milik Chanyoung yang menurutnya halus dan tebal. 

“Minggu depan mamangnya Teteh mau nikah,” ucap Wonbin di sela kepangan pada rambut Chanyoung, “tapi kasian keinget bibinya Teteh, belum nikah soalnya sibuk kerja di kota. Kalo kata aku mah keren sih, kerja dulu terus duit ada. Kasiannya mah diomong melulu sama Si Nini.”

“Enakan juga banyak duit,” timpal Chanyoung.

“Kadang Teteh mah kepikiran juga sih, nanti mun geus gede bakal nikah jeung saha atuh? Siapa coba laki yang mau sama Teteh?” (Kadang Teteh kepikiran juga sih, nanti kalo udah gede bakal nikah sama siapa dong? Siapa coba cowok yang mau sama Teteh.) Pertanyaan yang seharusnya tak pernah keluar dari mulut Wonbin, karena Chanyoung sendiri yakin tidak sekalipun ada orang dungu yang berpikir untuk menolak Wonbin. 

“Jangan dipikirin terus atuh, Teh, orang masih muda—‘kan Teteh mah masih delapan belas tahun. Emangnya tipe Teteh yang gimana coba?”

“Tipe Teteh tuh yang kasep, sayang sama Teteh … alus kalo ngomong, yang baik terus deh pokoknya kalo sama Teteh. Kalo Dede tipenya yang gimana?” tanya Wonbin balik.

Chanyoung diam sejenak, memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Wonbin barusan, meninggalkan sunyi yang dibiarkan mengudara. “Hmm … gimana ya, Teh? Jujur aku mah nggak kepikiran nikahnya bakal gimana, aku masih enam belas tahun, Teh. Orang aku juga nggak kepikiran pasangannya bakal laki sih.”

“Terus awewe kitu?” (Terus cewek gitu?)

Chanyoung mengangguk tanpa ragu. “Iya ah, rek nikah jeung awewe wae.” (Iya ah, mau nikah sama cewek aja.)

Wonbin tertawa kecil sembari menyisir pelan rambut Chanyoung yang masih berada di genggamannya. “Dede maunya sama eneng-eneng, ya?”

Chanyoung menidurkan setengah kepalanya pada paha Wonbin, ia mengaitkan kedua tangannya untuk memeluk betis Wonbin yang sejajar dengan tubuhnya. “Iya kalo eneng-enengnya mau juga sama Dede.”

“Semoga semua eneng-eneng yang ada di dunia mau sama Dede, ya ….” Wonbin menaruh dagunya di pucuk kepala Chanyoung, membenamkan pipinya di sana.

“Semoga ada eneng-eneng yang teu doyan lalaki,” (Semoga ada eneng-eneng yang nggak doyan cowok,) sahut Chanyoung.

“Ih kok gitu …?” Wonbin melayangkan protesnya secara halus, bibirnya dikerucutkan walaupun dirinya yakin jika Chanyoung tak bisa melihat hal tersebut.

“Eneng-eneng ‘kan Dede nyebutnya, bukan Teteh Wonbin,” jawab Chanyoung.

Bibir Wonbin masih sedikit maju. “Sedih, nanti Dede sayangnya sama eneng-eneng, terus Teteh dilupain.”

“Ya … Dede mah nggak akan bisa lupain Teteh.”

Chanyoung tidak akan bisa lupakan Wonbin. Chanyoung tak akan pernah bisa lupakan Wonbin di kala jari mungil milik Wonbin bergerak secara pelan menggerayangi tiap titik halus nan sensitif yang ada di atas tubuh polos milik Chanyoung. Dirinya tak akan pernah bisa lupakan Wonbin saat lima menit lalu bibir bawahnya dihisap dengan kuat, menaruh penuh nafsu yang bersarang lewat alat wicara. Wonbin menatap sayu dirinya—duduk di atas tubuh Chanyoung—hampir bugil menyisakan bra hitam yang satu talinya melorot hingga setengah lengan, membuat pentilnya sedikit tersorot. Napasnya agak terengah, wajahnya merah total dihampiri nafsu. 

“Dede, boleh nenennya Teteh isepin? Enak kok Dede, Teteh janji bakal enak,” ucap Wonbin yang tubuhnya sedikit mendekat pada Chanyoung.

Chanyoung sulit menelan ludahnya, tenggorokannya kering berlawanan dengan basah yang terus mengucur di selangkangannya. Ia mengatur napasnya sedemikian rupa, lalu menarik pelan tali bra yang longgar supaya Wonbin mendekat dengan tubuhnya. “Boleh, Teteh. Dede mau ….”

“Dede mau anterin kue ke rumah Teteh? Bangun dulu atuh, De. Mau-mau aja, melek juga belum.”

Chanyoung merasakan guncangan di tubuhnya, ia membuka matanya secara perlahan—mencoba berbaur pada sinar matahari yang masuk. Dirinya mengatur napas, mengumpulkan oksigen demi sadarnya yang diharap bisa kembali. Membuang ingatan tak senonoh yang akhir-akhir ini kerap datang lewat bunga tidur. 

“Amih … jangan asal masuk ke kamar Dede. Amih keluar dulu, nanti Dede nyusul,” ucap Chanyoung.

“Iya, tapi nanti anter kue ke rumah Teteh Wonbin, ya?”

Chanyoung mengangguk. Ia kembali menguburkan wajahnya pada lipatan lengan miliknya, memikirkan mimpi yang sama setiap malamnya. Mimpi yang selalu datang semenjak dirinya memasuki usia delapan belas tahun. Tangannya bergerak ke bawah, memegang permukaan selangkangannya—basah, bahkan bisa dibilang becek. Jarinya sedikit bergerak, memijat pelan tembam yang tertutup celana ketat pendek. Napasnya jadi berat. Mengingat semalam dirinya saksikan media porno dari dua perempuan yang saling lempar desahan, sedangkan dirinya sengaja taruh bantal untuk menutup suara pekikan tertahan saat jari-jarinya melakukan eksplorasi di dalam liang kewanitaan. Siapa lagi kalau bukan Wonbin yang menjadi pemantik bagi kegiatan tersebut—fisik Wonbin yang semakin lama semakin menarik seiring bertambahnya umur membuat pikiran kotor di dalam otak Chanyoung semakin menjamur.

Bermula dari dirinya yang tak sengaja saksikan Wonbin membuka bajunya lewat jendela kamar yang tidak tertutup, hingga dirinya yang berujung salurkan nikmatnya sampai kelopak mata jadi buka-tutup. Chanyoung urungkan niatnya untuk menutup tirai jendela saat Wonbin masih berdiri di sana setengah bugil, membiarkan hawa panas menjalar dari atas hingga bawah tubuhnya, mengajak desiran darah untuk cari senangnya—untung saja lampu kamarnya redup. Chanyoung menggesekkan selangkangannya di ujung meja rias, mencari nikmat lewat gerakan asal yang ia torehkan pada meja kayu tersebut. Gerakannya semakin berantakan saat puasnya tak juga terpenuhi. Ia secara terburu-buru membuka celananya, menyisakan celana dalam yang dibiarkan melorot sebatas paha. Chanyoung kembali membuat sentuhan dengan ujung meja rias, mempertemukan bagian merahnya pada dinginnya permukaan meja. Pinggulnya bergerak perlahan, merasakan sensasi geli yang belum familiar menjalar di sana. Matanya merem-melek secara kontinyu, bilah bibirnya sedikit terbuka untuk keluarkan desah kecil yang hanya bisa ditangkap oleh rungunya. Chanyoung belum merasa ia akan sampai, namun Wonbin sudah terlebih dahulu menutup tirai jendelanya. Kesenangan Chanyoung jadi tertunda, ia memutuskan untuk kembali ke atas ranjangnya, merefleksikan perbuatannya dan memutuskan untuk melelapkan dirinya. Nyatanya sulit. Chanyoung membuka ponselnya, mencari sebuah media yang sudah lama ia ketahui—sebuah media yang mengantarkan dirinya pada puncak nikmat saat jari-jari panjangnya mengoyak liang kewanitaannya untuk pertama kali. Semua ia lakukan sembari memikirkan Wonbin—dibayangkan bagaimana sang wanita biasa bersolek, dibayangkan setiap senyum dan tawa yang keluar dari mulutnya, dibayangkan semua pakaian yang sudah pernah dipakai—hingga putihnya datang menghiasi pengalaman pertama dirinya di atas kasur yang spreinya kusut.

“Itu kuenya di atas meja makan ya, De, cepetan dianter ke Teteh,” ucap Amih dari ruang tengah. 

Chanyoung menghela napasnya, memikirkan kembali akan kesanggupannya untuk bertemu dengan Wonbin setelah banyak pikiran kotor yang ia tanam. Chanyoung tak bisa lagi berbicara tentang moral ketika kata tersebut bagai sudah hilang di dalam hidupnya. Ia buka lemari pendingin, berharap udara dinginnya dapat sampai di dalam pikiran. Tangannya mengambil bungkusan plastik berisi minuman disertai dengan alat penyedot berwarna merah. Menyesap setiap cairan yang terkumpul di sana, mengingat setiap manis dari gula buatan yang agaknya menempel di rongga mulut. Chanyoung menyusuri setiap giginya dengan lidah, mengecek setiap sisi mulut—dipastikan tak ada kotoran tertinggal sebelum dirinya berhadapan dengan Wonbin.

“Teteh, ini ada kue dari Amih,” ucap Chanyoung dengan suara yang cukup keras dari pintu depan yang terbuka.

“Dede masuk! Teteh lagi cuci piring, sebentar ya,” jawab Wonbin dari dalam sana.

Chanyoung melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah yang memang sering ia kunjungi, ia mendapati tubuh ramping Wonbin berdiri tegak di dapur—sibuk dengan tumpukan piring kotor dan alat masak lainnya. Kebaya berwarna merah yang dikenakannya jadi sedikit basah, rambutnya yang sebelumnya dicepol kini jadi agak berantakan. “Teh, itu kuenya udah Dede taro di meja, ya.”

Wonbin menoleh ketika ia merasakan eksistensi Chanyoung tepat di belakang dirinya. “Iya, nuhun Dede. Itu masih pagi kok udah minum es sih, De?” (Iya, makasih Dede. Itu masih pagi kok udah minum es sih, De?)

Chanyoung menatap sebentar plastik es cekek yang berada di genggamannya. “Oh … pengen aja, Teh.” Ia kembali mendekatkan ujung sedotan dengan bibirnya, mengambil satu tegukan sebelum dirinya sibuk menggigit-gigit kecil ujung sedotan saat matanya tak lepas dari lekukan tubuh Wonbin yang tercetak jelas dari balik kebaya ketat. Dirinya kembali membayangkan tubuh Wonbin yang terengah-engah di bawah kungkungannya, atau lintas dari bayangan tubuh Wonbin yang bermandikan peluh saat kedua dadanya naik turun sibuk mengejar oksigen. Chanyoung bayangkan setiap inci kulit dari tubuh Wonbin yang punya suhu panas berbeda. Wajah Chanyoung kini merah mampus. 

“Dede, bantu Teteh benerin rambut sebentar dong,” ucap Wonbin dengan gestur menunjuk ke arah anak rambutnya yang mulai menutupi wajahnya, tangannya masih penuh akan busa dari sabun cuci piring. 

Chanyoung dengan segera mendekat kepada Wonbin, es cekek yang sebelumnya berada di genggaman kini disampirkan terlebih dahulu di dekat wastafel yang airnya masih mengucur. Karet kunciran yang tadi dipakai Wonbin kini diapitkan pada ujung bibir Chanyoung, sedangkan tangan milik Chanyoung secara telaten membenarkan tiap anak rambut yang tak beraturan—ia mengumpulkan keseluruhan rambut milik Wonbin, lalu mencepol ulang rambut legam tersebut. Ada selintas aroma segar bak buah yang menguar saat rambut Wonbin terkibas. Chanyoung sedikit mendekat pada perpotongan leher Wonbin, menghidu bau parfum kesukaan Si Teteh yang harumnya bisa menempel hingga satu hari ke depan.

“Teteh mau minta atuh esnya,” pinta Wonbin.

“Udah aku gigit-gigit sedotannya, Teh. Enggak apa-apa emang?” tanya Chanyoung memastikan.

“Enggak apa-apa kalo bekas Dede mah, suka aja Teteh,” ucap Wonbin yang tak disangka mengundang senyum sumringah dari Chanyoung.

Chanyoung memperhatikan setiap sesapan minuman yang masuk ke dalam tenggorokan Wonbin. Memperhatikan setiap lentik cantik dari jari Si Teteh yang menggenggam plastik es cekek yang permukaannya sudah lecek. “Abisin aja, Teh, kalo mau.”

“Bener, ya?”

“Bener.”

Keduanya saling menatap satu sama lain, membiarkan air dari wastafel mengucur secara percuma—jadi objek lain yang saksikan Chanyoung menatap Wonbin penuh damba. Dirinya tak masalah habiskan waktu ribuan jam untuk menunggu Wonbin menghabiskan minuman es yang tadi ia bawa dari rumah—menunggu bungkusan plastik kosong yang segera ia buang di kantung sampah. “Tadi aja Dede dibilang minum es pagi-pagi, padahal mah Teteh mau juga ‘kan aslinya?”

Wonbin cekikikan, sedangkan Chanyoung baru sadar jika keduanya secara tak langsung sudah berciuman. Sedotan yang tadinya hendak dibuang akhirnya diurungkan niat awalnya. “Buat ngiket selang, Teh,” alibinya.

“Teteh, ke ruang tamu dulu. Sudah sampai itu.”

Wonbin menoleh, tangannya yang semula berbusa segera dibilas bersih. “Kenapa hari ini, Ambu? Teteh belum siap ngomongnya … Teteh belum terlalu kenal sama Si Aa.”

Chanyoung seakan transparan, dirinya hanya diam mematung mengamati dan mencerna setiap perkataan antara Wonbin dan ibunya. Senyumnya yang semula setia hiasi wajah sekarang perlahan memudar, menyadari ada suatu hal yang dirinya tak ia ketahui tentang Wonbin—menyadari Wonbin tak sepenuhnya terbuka terhadap dirinya.

“Udah, Teh, disamperin dulu tamunya. Dede yang lanjut cuci piringnya, ya,” usul Chanyoung yang ciptakan gurat ragu di wajah Wonbin, ia berkali-kali menatap Chanyoung dan ibunya secara bergantian sebelum akhirnya merapikan kebayanya untuk bertemu dengan tamu di sana.

Masih ada beberapa tumpukan piring kotor yang perlu dibasuh, Chanyoung membasahi terlebih dahulu kedua tangannya sebelum mengusap perlahan permukaan piring secara teliti. Membangun fokusnya lewat suara kucuran air dan usapan pada setiap sisi piring. Berusaha mendengarkan percakapan di ruangan sana sembari membaur ke dalam suasana.

“Kalau dari saya memang nggak ada masalah dengan perjodohannya, semisal nanti nikah mau ada pesta juga sudah disiapkan biayanya. Cuma, gimana dari Enengnya aja … saya nggak akan maksa.” 

Chanyoung sontak menghentikan aktivitasnya, mencoba menerka kenyataan yang baru saja dirinya ketahui. Ada yang mencelos di dalam dadanya, napasnya jadi memburu.

“Dari Eneng … kalo dari Eneng, jujur masih bingung. Eneng bingung karena ini kemauan Ambu. Harusnya Eneng dikasih waktu yang lama biar Eneng bisa pikirin secara baik, karena Aa sama Eneng ‘kan baru pertama kali ketemu juga.”

Wonbin dijodohkan dengan laki-laki, itu yang bisa Chanyoung tangkap. Sedari awal Wonbin memang diharuskan untuk laki-laki. Teteh yang selalu jadi dambaan dan mimpinya akan jatuh kepada laki-laki. Chanyoung tidak akan pernah punya kesempatan untuk memiliki Wonbin, bahkan untuk merasakan ranumnya saja tidak akan bisa—ranum yang selama ini selalu terbuka untuk bertukar sua. 

“Enggak apa-apa Eneng, nggak ada yang perlu diburu. Bisa jalan pelan-pelan, biar Eneng sama Aa saling kenal dulu. Aa di sini sekitar satu bulan sebelum balik ke kota, biar bisa komunikasi banyak sama Eneng.”

Chanyoung memutuskan untuk tak lagi mendengarkan percakapan di sana. Ia lanjut membasuh setiap piring yang tadinya berbusa. Pandangannya sedikit mengabur, ada air yang ikut mengucur bersamaan dengan setiap basuhannya. Dirinya tak seharusnya merasa begini, dirinya tak seharusnya menginginkan Wonbin sedari awal. Wonbin bukanlah seseorang tanpa moral seperti dirinya—ia tak seperti dirinya yang punya mimpi bercumbu dengan wanita. 

Pandangannya yang sebelumnya terfokus pada air di wastafel kini berpindah, menoleh kepada seseorang yang baru datang. Wonbin diam tanpa ekspresi, sedangkan Chanyoung berusaha membisu. Ia lanjut merapikan tumpukan piring yang sudah selesai dibilas. “Ini udah selesai semua.” Chanyoung mengelap tangannya yang basah ke bajunya sendiri. “Aku pulang ya, Teh.”

“Dede ….”

Langkah Chanyoung yang sebelumnya mantap, kini jadi meragu. Wajahnya datar, tak ada emosi yang  bisa dibaca di sana. Ia menghela napasnya. “Aku lewat pintu belakang aja kayaknya, Teh,” putus Chanyoung setelah dirinya melihat sosok lelaki yang ia yakini adalah orang yang dijodohkan dengan Wonbin.

Sebuah putusan yang membuat dirinya jadi bersitatap dengan Wonbin. Wajah yang ia harap-harap bisa terus dilihatnya setiap malam datang, wajah yang ia harap-harap bisa terus dilihatnya sebelum terlelap, wajah yang ia harap-harap jadi komponen penting dalam hidupnya. 

“Dede, temenin Teteh dulu,” pinta Wonbin.

“Ada yang mau dikerjain di rumah, disuruh Amih,” ucap Chanyoung—nadanya datar.

Chanyoung bukanlah seseorang yang pandai berbohong, karena detik selanjutnya ada hujan yang datang membasahi bersamaan dengan tangis yang enggan dihentikan. Matanya sudah memerah, lengkap dengan hidung yang tersumbat. “Dede kalo ngiri liat Teteh mau nikah, nanti Amih cariin laki juga, ya?” Begitu kira-kira yang keluar dari mulut ibunya Chanyoung. Nyatanya tak sesimpel ingin menikah, Chanyoung menginginkan Wonbin. Chanyoung menginginkan Wonbin yang menjadi pasangannya saat menikah. Chanyoung menginginkan Wonbin layaknya tumbuhan yang menginginkan hujan. 

Tangannya terlipat demi menahan beban dari kepalanya, matanya menyusuri setiap hal yang dilihatnya lewat jendela. Menatap hujan yang terus-menerus datang bersama kawanan. Ia menatap sendu rumah di depannya—rumah yang terlihat kabur dimakan hujan—menatap dua insan yang duduk berdampingan di sana. Dua insan yang saling bertukar tawa dan percakapan, rasa-rasanya Chanyoung bisa meledak dimakan cemburu. Hatinya berat melihat Wonbin tertawa setelah lelaki yang entah namanya siapa melontarkan sebuah kalimat—Chanyoung ‘pun tak bisa mendengar percakapan di sana.

“Anying, bilang aja sama-sama mau dijodohin. Mau mikir dulu ceunah, pret!” (Anying, bilang aja sama-sama mau dijodohin. Mau mikir dulu katanya, pret!)

Chanyoung cemberut, sedihnya berubah menjadi kesal. Ia memperhatikan sedotan berwarna merah yang tadi dibawanya. Mengingat bibirnya dan Wonbin bersentuhan lewat sedotan tersebut. “Teteh, kenapa nggak naksir Dede aja sih, Teh?”

“Dede bisa bikin Teteh seneng terus, Dede baik kok kalo ke Teteh. Dede janji urusin Teteh, ngelayanin Teteh, kasih apapun yang Teteh mau,” monolog Chanyoung.

“Dede kalo urusan bikin Teteh ketawa juga jago tuh, kalo emang Teteh mau ngerasain ciuman juga Dede bisa cium Teteh yang jago.” Monolognya semakin menjadi ketika ia melihat lelaki tadi merapikan rambut Wonbin.

“Cuma Dede bukan laki, Teh ….” Chanyoung kembali menidurkan setengah wajahnya di atas lipatan lengan yang sedari tadi setia di atas meja rias. Masih menatap Wonbin dari kejauhan walaupun penglihatannya diinterupsi hujan. Tatapan Chanyoung melembut kala ia lihat Wonbin yang ikut menatap dirinya, jelas ia tak yakin Wonbin benar-benar menatapnya atau tidak, namun keduanya sekarang seakan saling menatap satu sama lain—seakan meminta hujan untuk mengantar percakapan yang tertunda. Masih banyak yang belum sempat Chanyoung sampaikan kepada Wonbin, perihal Wonbin yang selalu terlihat menawan atau perihal dirinya yang menyimpan rasa kepada Wonbin. Secepatnya atau tidak sama sekali, ia tunggu musim baru yang mengizinkan.

Musim baru dimana hujan tak akan pernah memunculkan presensinya.

“Dede, makan ya? Amih udah masak. Sedih juga harus tetep makan.” Pintu terbuka tanpa ada ketukan yang menyertai terlebih dahulu.

Chanyoung menghela napas. Musim baru dimana hanya ada dirinya dan Wonbin di sana.

Malam ini Wonbin datang ke rumah, katanya ada piring yang harus dikembalikan. “Bilang Dede nggak enak badan.” Chanyoung kembali buat alasan, setidaknya ia tak saksikan wajah yang buat ruwet pikiran. Dirinya masih belum beranjak dari kasur, mengumpulkan perkiraan langkah yang harus ia buat. Amih bilang kalau Si Teteh sudah pulang, memang baiknya begitu, walaupun sudah terhitung lima hari dirinya memutuskan untuk tak lagi melihat halus dari bentukan wajah Si Teteh.

Chanyoung keluar dari kamarnya, ia menutup rapat pintunya kembali. “Amih, Dede mau beli jajan dul—”

“Dede.”

Kepalanya sontak menoleh, raut terkejut hadir. “Teteh ….”

“Teteh belum pulang, tadi Teteh yang suruh Amih buat bohong. Maaf. Teteh tau kalo Dede lagi sehat-sehat aja.”

Chanyoung menggigit bibir bawahnya, ia menatap wajah ibunya—mencari penjelasan. “Aku mau keluar dulu. Pulang aja, Teh, udah malem.”

Ini hari pertama Chanyoung kembali melihat wajah Wonbin semenjak dirinya memutuskan untuk menjauh—masih sama, masih cantik, Wonbin yang cantik seperti biasanya. Chanyoung tak ingin hanyut di dalam netra Wonbin, ‘pun setelahnya Wonbin tak buat percakapan lain. Keduanya sama-sama keluar dari rumah dengan tujuannya yang berbeda.

“Kalau memang ada masalah sama Teteh, coba diomongin dulu atuh, De. Amih ikut sedih liatnya.”

Pagi ini cukup cerah, hujan tak lagi datang membasahi. Chanyoung kembali mengambil pakaian yang berada di dalam ember berwarna merah, diperas setiap air yang menyerap di sana. Selanjutnya pakaian tersebut dikibas sebelum digantung di atas tali yang setiap ujungnya disangkutkan di kayu—diatur sedemikian rupa supaya setiap sisinya terkena sinar matahari. Semua dilakukan secara berulang, walaupun berbeda pakaian berbeda juga emosinya. Mungkin untuk sekarang, Chanyoung tak lagi berterimakasih kepada orang tuanya atas penempatan rumah yang berseberangan dengan rumah Wonbin, karena Chanyoung sekarang bisa melihat jelas apa yang terjadi di hadapannya—ada Wonbin dengan lelaki yang sampai saat ini ia tak ketahui namanya sedang jalan berdampingan, tampaknya baru pulang dari pasar. Lelaki tersebut tak berbohong perihal dirinya yang akan menetap selama satu bulan demi bisa dekat dengan Wonbin.

Darahnya berkumpul pada titik didih. Matanya kembali bersirobok dengan milik Wonbin, mengirim rindu di sana. Chanyoung mengaku dirinya rindu dengan Wonbin—setidaknya ia membuat pengakuan kepada dirinya sendiri, namun pitam telah menang mengalahkan rindu. Chanyoung tak perlu repot buka suara dan mengaku jika dirinya merindu setengah mati dengan Wonbin, yang dilakukannya justru segera mengemasi peralatannya dan masuk ke dalam rumah. Lain dengan Wonbin yang tatapannya berubah menjadi sendu.

Dering dari telepon berhasil diabaikannya. Setidaknya ada tiga dering yang diabaikan. Chanyoung berusaha membatu, semakin hari semakin terbiasa. Kalau dering telepon bisa diabaikan, berbeda dengan ketukan di pintu kamarnya—usaha membatunya jadi kacau. Ia segera beranjak dari kasurnya untuk membuka pintu yang sebelumnya timbulkan suara. Dirinya telah menebak siapa yang mengetuk pintu karena hari ini hingga esok dirinya masih ditinggal Amih yang punya urusan di kota sana—dirinya juga tak pernah mendengar tentang Amih yang akan mengetuk pintunya terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar. 

“Dede, kenapa Dede jauhin Teteh?” Pertanyaan tersebut datang di detik pintu mulai terbuka. Alis Wonbin mengerut, namun Chanyoung tak bisa temukan amarah di sana—hanya penuh akan kesedihan. Mata Wonbin berkaca-kaca, bibirnya sedikit melengkung ke bawah. 

“Teteh buat salah apa sama Dede?” tanya Wonbin, intonasi gundahnya menelisik pikiran Chanyoung. “Jawab Teteh … kenapa Teteh dijauhin sampai segininya, De?”

Chanyoung mundur beberapa langkah. “Masuk.”

Wonbin menurut, detik selanjutnya Chanyoung menutup pintu. Sengaja biar percakapannya terkurung di sana. Chanyoung kembali duduk di atas ranjangnya, masih berhadapan dengan Wonbin—wajah keduanya tetap bisa bertemu akibat perbedaan tinggi yang cukup jauh. Chanyoung dalam posisi duduknya terlihat mempunyai tinggi yang sama dengan Wonbin yang masih dalam posisi berdiri.

“Dede sekarang udah berubah, lain Dede nu Teteh kenal … geus beda.” (Dede sekarang udah berubah, beda sama Dede yang Teteh kenal ... udah beda.) Wonbin sedikit menunduk untuk mencari pupil milik Chanyoung, memaksa sinarnya untuk masuk ke sana. “Dede geus teu pernah mau ngobrol sama Teteh, teu pernah mau bales sapaan Teteh. Dede naon sih? Aya nu salah ti Teteh yang bikin Dede ngerasa berat buat sekadar interaksi sama Teteh? Terus kenapa rambut Dede dipotong sampe pendek kitu? Dede biasanya bilang ke Teteh tiap mau ngelakuin sesuatu.” (Dede udah nggak pernah mau ngobrol sama Teteh, nggak pernah mau bales sapaan Teteh. Dede kenapa sih? Ada kesalahan dari Teteh yang bikin Dede ngerasa berat buat sekadar interaksi sama Teteh? Terus kenapa rambut Dede dipotong sampe pendek gitu? Dede biasanya bilang ke Teteh setiap mau ngelakuin sesuatu.)

“Teteh tuh kenal Dede dari kecil, ayeuna pisan Dede teh jadi kieu ka Teteh. Emang Dede kira Teteh teu sedih kalo Dede begitu? Teteh tuh—” (Teteh tuh kenal dari kecil, kenapa sekarang Dede jadi gini ke Teteh. Emang Dede kira Teteh nggak sedih kalo Dede begitu? Teteh tuh—)

Kalimat Wonbin terputus saat ia rasakan pinggangnya ditarik oleh Chanyoung—raganya semakin mendekat hingga lutut keduanya saling bersentuhan. Tengkuknya ditarik oleh jari-jari lentik milik Chanyoung, buat jarak wajah keduanya kian menipis. Bibir keduanya kini menempel—Chanyoung memagut bibir Wonbin tanpa ampun—menekan emosinya lewat bilah bibir yang munculkan celah dari setiap hisapannya. Otak Wonbin kopong setengah mampus, tak ada lagi yang dirinya bisa pikirkan kala Chanyoung menerobos bentengnya dengan objek tak bertulang. Lidah milik Chanyoung bergerak menyusuri setiap rongga mulut Wonbin, mengajak milik Wonbin untuk saling bersua. Bibir bawah Wonbin berhasil diraih—diberikan gigitan kecil sebelum Chanyoung berikan hisapan berulang. Posisinya tak lagi nyaman, Chanyoung beranjak perlahan dari kasurnya tanpa melepas pagutan—mendorong tubuh Wonbin dengan tergesa hingga tubuhnya terantuk pada meja rias. 

Dahi keduanya saling menempel. Napas Chanyoung terengah-engah, begitu juga Wonbin. “Dede marah sama Teteh.”

Wonbin terkejut, wajahnya bingung.

“Dede marah banget sama Teteh, tapi bukan salah Teteh. Ini salah Dede.” Chanyoung menarik tirai di belakang tubuh Wonbin hingga jendelanya tertutup sempurna, kemudian dirinya mengangkat tubuh Wonbin dengan mudahnya untuk duduk di atas meja rias. 

Chanyoung kembali menyambar bibir Wonbin yang sedikit membengkak dan merah. Menghisap kembali ranum yang selama ini menjadi dambaannya, menghisap rasa dari ranum yang selalu jadi harapannya. Si Teteh memang manis, bukan hanya wajah dan tuturnya saja yang manis. Setiap liur yang ia rasakan juga sama manisnya, setiap tetes saliva yang diminumnya punya manis yang buat kepala jadi pening. Dirinya semakin ingin merasakan manis Si Teteh secara utuh—ingin merasakan manis Si Teteh sepenuhnya, hingga ke bawah

Wonbin sulit mengimbangi pagutan tersebut—pagutan berantakan dari dua amatir yang entah rasanya ogah untuk saling mengakhiri. Keduanya tak pandai berciuman, toh ini kali pertama bagi mereka, berantakan ‘pun keduanya tak begitu mengerti—masih belum ada tolok ukur tentang tukar liur yang baik. Menit berlalu, saliva keduanya telah bercampur, menjuntai hingga menetes ke salah satu bagian tubuh. Chanyoung telah sepenuhnya gelap akan keinginannya merasakan Si Teteh yang sekarang terasa mudah di dalam genggamannya, moralnya habis dihisap nafsu—Wonbin jauh lebih nyata di dalam sentuhannya, tidak lagi dibatasi oleh mimpi amoril yang buat selangkangannya becek hingga spreinya lepek.

Pagutan keduanya terlepas, bibir Wonbin semakin membengkak. Sebisa mungkin dirinya berusaha kejar oksigen yang rasa-rasanya tak ada lagi di dalam ruangan. Matanya menyusuri setiap gerakan yang dibuat oleh Chanyoung—tatapannya melembut kala telunjuk Chanyoung bergerak mengelus pipinya dengan perlahan. Lama-kelamaan dirinya terpejam saat telunjuk Chanyoung berhenti di bibir bawahnya.

“Geulis pisan Tetehnya Dede,” (Cantik banget Tetehnya Dede,) ucap Chanyoung, tatapannya semakin mendamba. “Harusnya jadi Tetehnya Dede selamanya, tapi Teteh maunya nikah sama laki. Kasep ‘kan lakinya? Persis kayak yang Teteh mau.” (Harusnya jadi Tetehnya Dede selamanya, tapi Teteh maunya nikah sama laki. Ganteng ‘kan lakinya? Persis kayak yang Teteh mau.)

Chanyoung tinggalkan satu kecupan di atas bibir milik Wonbin sebelum kecupan-kecupan lain mendarat di atas dagu hingga ke leher. Halus kulit Wonbin dapat Chanyoung rasakan secara nyata lewat bibirnya, permukaan kulitnya dijilat serta diberikan hisapan yang timbulkan ruam merah. Wajah Chanyoung semakin lama semakin turun hingga wajahnya berhadapan dengan dada Wonbin—membenamkan wajahnya sembari tangannya bermain di sekitaran sana—diberikan remasan kuat seolah nafsunya minta dikeluarkan hingga tak tersisa. 

"Aahhh.

Wonbin melenguh. Pertama kalinya Chanyoung mendengar lenguhan Wonbin—suaranya merdu nyaris mersik buat libido Chanyoung semakin naik. Berpura-pura dirinya tak diburu nafsu, Chanyoung secara perlahan membuka setengah dari fabrik bagian atas yang menutupi tubuh Si Teteh, ditelanjangi sedikit demi sedikit. Bahu milik Wonbin terekspos, menyisakan kemben berwarna hitam yang saat ini masih setia membalut bongkahan dada. Santapan utama Chanyoung di depan mata, namun dirinya coba rangkai gerakan yang lebih tertata. 

Jari-jari Chanyoung bergerak mengeksplorasi dada Wonbin yang masih tertutup kain. Permukaannya sedikit digaruk, timbulkan rasa geli bagi si empu—jelas terlihat dari napas Wonbin yang memberat menerpa wajah Chanyoung. Telunjuknya diselipkan di antara kemben dan kulit, kainnya ditarik hingga pentil Si Teteh dibiarkan mengacung. Semakin mengacung lagi kala Chanyoung gesek bagian kecokelatannya dengan kuku.

“Dede … malu,” aku Wonbin saat Chanyoung tak berhenti bermain dengan pentilnya. Wajah Wonbin kian memanas karena Chanyoung terus menatapnya di saat dadanya sedang dikerjai. 

“Kalo emang ngerti malu, harusnya pakai beha.” Chanyoung menarik kuat pentil milik Wonbin, ujungnya dipilin dan ditekan, “padahal seharian ‘kan Teteh sama laki.”

Chanyoung membuka kemben yang dirasa membatasi pergerakannya. Tubuh bagian atas Wonbin sudah sepenuhnya ditelanjangi, empunya berusaha menutupi dadanya atas dasar malu, namun Chanyoung dengan mudah menarik lengan yang menutupi santapannya. Ia taruh wajahnya di antara dua bongkahan dada, menghidu aroma tubuh Wonbin sembari matanya dipejamkan. Kecupan-kecupan ringan juga ia torehkan di sana.

“Jangan malu sama Dede, emangnya Teteh nggak kenal sama Dede?” tanya Chanyoung sambil tangannya bergerak meraih payudara Wonbin—ditampar salah satunya tanpa ampun, diremas tanpa pertimbangan hingga empunya melengking.

“Dede mau ngerasain nenennya Teteh,” ujar Chanyoung, bibirnya mengecup pentil pada dada sebelah kiri, “ini masuk ke mulut Dede, ya?”

Mmhh—Dede … Teteh nggak tau,” jawab Wonbin asal, tak lagi sesuai dengan pertanyaan. 

Tanpa harus menunggu jawaban yang tepat, Chanyoung sudah lebih dulu memasukkan nenen Si Teteh ke dalam mulutnya, hanya setengah dari keseluruhan yang masuk ke dalam rongga mulut. Tetehnya terlalu besar, Si Teteh terlalu besar untuk disantap sekaligus. Chanyoung sebisa mungkin berikan servis terbaik untuk Wonbin, entah dipijat atau dihisap.

Wonbin cukup berisik, bahkan diberikan sentuhan sedikit saja pekikannya bisa penuhi satu ruangan. “Aanh! Dede … selangkangan Teteh rasanya aneh.”

“Dibuka dulu atuh kainnya, biar bisa Dede liat ada apanya di situ,” titah Chanyoung yang diaminkan oleh Wonbin. Sekarang Wonbin bergerak hati-hati untuk membuka kain yang melilit pinggangnya—menelanjangi diri sendiri hingga tersisa pakaian dalam.

“Aneh rasanya, De ….”

Chanyoung mendorong paha dalam Wonbin hingga pemiliknya jadi melebarkan selangkangannya. Telapak tangannya hinggap tepat di atas tembam yang masih terbalut kancut lepek berwarna putih. “Becek ini, Teh. Harus dibersihin, cuma Dede yang bisa bersihin.”

“Mau dibersihin aja, De,” pinta Wonbin.

Tangan Chanyoung yang masih berada di atas tembam milik Wonbin bergerak, timbulkan sensasi baru bagi Wonbin. Tembamnya diusap perlahan, diberikan garukan hingga Wonbin hampir terjatuh dari duduknya.

“De … Dede, me—anh! Memek Teteh kenapa Dede pegang …? Geli, De.” Wonbin menaruh tangannya di atas bahu Chanyoung, menaruh tumpuannya di sana.

Chanyoung menampar tembam milik Wonbin yang belum juga dibebaskan dari sarangnya. “Diem, katanya mau dibersihin sama Dede?”

Wonbin mengangguk. “De–hhh … kenapa jadi tambah basah?”

Jempol Chanyoung ditaruh di lipatan tembam milik Wonbin—ditekan kuat hingga mata Wonbin membelalak, mulutnya terbuka tanpa suara. “Udah berubah jadi enak belum, Teh?”

Wonbin tak bisa lagi menjawab pertanyaan apapun yang keluar dari mulut Chanyoung, dirinya hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya.

“Calon suami Teteh belum tentu bakal jago kayak Dede,” ucap Chanyoung di tengah dirinya yang masih bermain di sekitaran kewanitaan Wonbin, “belum tentu bisa bikin Teteh enak, belum tentu juga peduli sama enaknya Teteh.”

Jari-jari milik Chanyoung bergerak memutar di permukaan sana sebelum karet dari celana dalam Wonbin ditarik. “Diliat dulu memeknya coba, masih becek atau enggak?”

Wonbin menanggalkan fabrik terakhir yang ada di tubuhnya. “Lama-lama gatel, De, memeknya Teteh.”

Tubuh Chanyoung merendah, memposisikan wajahnya di depan lubang merekah yang Wonbin sajikan di atas meja rias. Wonbin semakin melebarkan selangkangannya dengan maksud mengizinkan Chanyoung melihat hal aneh yang ia rasakan. Tiga jari Chanyoung menyapa bagian basah berwarna merah, diberikan pijatan pelan—berbaur dengan basahnya. Ia meniup-niupkan lubang kewanitaan Wonbin hingga empunya meremang sebelum mulutnya menyapa langsung bibir kewanitaan Wonbin. 

Wonbin meremas kuat rambut pendek Chanyoung yang baru saja dipotong, menyalurkan nikmatnya di sana. Mulutnya tak henti-hentinya mengeluarkan desahan yang sedari tadi ditahan, malunya telah dihempas setelah Chanyoung menginisiasi untuk memakan area kewanitaannya. Dirinya bak terbang di atas awan saat lidah Chanyoung bergerak naik-turun memanjang di antara bibir memeknya—biji kelentitnya berulang kali dihisap hingga timbulkan bunyi decak basah. Wajah Chanyoung di bawah sana terlihat mengkilap oleh cairan milik Wonbin, terlebih di bagian sekitaran mulutnya. 

“De–anh … itil Teteh—enak, De ….” Wonbin menggerakan pinggulnya maju mundur, mengejar lidah Chanyoung yang terus menusuk lubangnya.

Nikmatnya harus tertahan saat Chanyoung putuskan untuk menjauhkan wajahnya, timbul desah kecewa dari Wonbin. “Lagi enak Tetehnya, De.”

Chanyoung menampar pelan tembam milik Wonbin, ditampar berkali-kali. “Kalo Teteh jadi nikah mah, moal bisa deui Teteh ngarasakeun dienakuen ku Dede siga kieu.” (Kalo Teteh jadi nikah mah, nggak akan bisa lagi Teteh ngerasain dienakan sama Dede kayak gini.)

Kepala Wonbin menengadah, merasakan sensasi yang lebih panas saat Chanyoung berulang kali menampar memeknya yang terus berkedut. Mulutnya tak sengaja keluarkan desahan yang buat Chanyoung semakin menggila—semakin kuat menampar tembam milik Wonbin yang dihiasi bulu pubis halus. 

“Laki sukanya mikir enaknya sendiri, Teh. Enggak akan memek Teteh dimainin dulu begini, nggak akan,” ujar Chanyoung dengan satu kali lagi tamparan di atas memek Wonbin. 

“Ngangkang atuh yang bener,” perintah Chanyoung, mendorong Wonbin untuk bersandar pada kaca di belakangnya.

Wonbin menurut, dirinya telanjur dibawa pada nikmat yang Chanyoung bilang tak akan bisa ia dapatkan dari lelaki. Selangkangannya semakin dilebarkan, menampilkan bagian memerah yang terbuka dari balik tembam miliknya. Ia menggigit bibir bawahnya saat liur Chanyoung jatuh tepat di atas biji kelentitnya. 

Desahnya datang kembali ketika Chanyoung bawa jari-jari panjangnya untuk bergerak asal di atas labianya—mengucek kuat area yang semakin lama semakin basah oleh cairan milik Wonbin. Bunyi becek yang sampai pada rungu membuat satu badan Wonbin tambah memanas. 

Chanyoung raih pinggang ramping Wonbin, diturunkannya tubuh tersebut dari atas meja rias. Tubuh Wonbin dibuat memunggungi dirinya—berhadapan dengan kaca yang ada di meja rias—satu kakinya dibiarkan naik di atas meja supaya liang kewanitaannya terbuka lebar. Chanyoung posisikan jari tengahnya di depan liang Wonbin sebelum perlahan memasuki hangat dari balutan daging memerah, sedangkan jempolnya ia arahkan untuk menggoda biji kelentit Wonbin. 

“Aanh! Enak … e–enak. Dede, enak. Memeknya enak–ah! Enak dipegang itilnya.” Wonbin hilang fokus serta akal, dirinya lihat refleksinya lewat cermin—melihat dirinya yang lemas di dalam rengkuhan Chanyoung. 

Chanyoung membenamkan wajahnya di perpotongan leher Wonbin sambil mengecup kulit halusnya. “Ini namanya ngewe, Teh. Cewek jeung cewek oge bisa ngewe, atuh.” (Ini namanya ngewe, Teh. Cewek sama cewek juga bisa ngewe.) Jari milik Chanyoung di dalam lubang Wonbin semakin bergerak cepat, mengoyak seluruh nikmat yang tersarang, “jeung rasana mah … sami wae, malah leuwih enakeun.” (rasanya mah ... sama aja, malah lebih enak.)

Wonbin sekarang setuju dengan semua pernyataan Chanyoung. Ini pertama kalinya merasakan bagian intimnya disentuh oleh orang lain, namun tak ada perasaan sesal sama sekali—justru yang muncul adalah perasaan nikmat yang asing, namun punya sensasi luar biasa. Chanyoung menandai pengalaman pertamanya dengan baik. 

Sekarang ada dua jari yang masuk ke dalam liang kewanitaan Wonbin, bergerak maju-mundur menyusuri setiap sisi kosong di dalam sana. Hingga tiba pada satu gerakan yang buat Wonbin benar-benar hilang akal, suaranya tinggi melengking. Chanyoung berulang kali menyentuh titik yang nikmatnya bukan main. Jari-jari panjang milik Chanyoung dengan mudahnya menabrak titik nikmat milik Wonbin, ia tabrak titik tersebut dengan hentakan yang teratur. Mungkin kalau Wonbin tak benar-benar direngkuh oleh Chanyoung, dirinya sudah jatuh lemas ke lantai kamar.

“Ahh! Geus kerasa … enak, kayak mau kencing. Hayang deui, De, di situ,” (Ahh! Udah kerasa ... enak, kayak mau kencing. Mau lagi, De, di situ.) racau Wonbin sembari melihat bayangannya yang kacau dari pantulan kaca.

“Apanya yang mau lagi, Teh?” tanya Chanyoung seolah menguji.

“Dicolekin itilnya, dikobelin kitu enak … yang kencengan atuh, De.” Wonbin napasnya makin terengah, ia pegang sisi meja rias karena ada sensasi lain yang tiba-tiba muncul.

Pergelangan tangan Chanyoung dicengkeram oleh Wonbin. “De–aah! Udah! Teteh kencing dulu sebentar.”

Seolah tak mendengar apa yang Wonbin ucapkan, Chanyoung justru masih terus mengoyak seisi lubang milik Wonbin—menyentuh titik nikmat yang mudah sekali ia temukan. “Jari Dede masih nggak mau jauh dari memek Teteh.”

Tubuh Wonbin menegang, ujung jari-jari kakinya melengkung dan memutih. Ada cairan bening yang muncrat dari area kewanitaan Wonbin, membasahi kaca yang sedari tadi pantulkan tubuh bugil milik Wonbin. “Ah! De—hhh … Teteh kencing, nggak bisa tahan.”

Bagai ada air yang bocor, memek Wonbin belum juga berhenti untuk memuncratkan cairannya. Kepalanya pening total, Chanyoung tidak berniat berhentikan gerakan jarinya di sekitaran sana—masih mengucek itil Wonbin yang merah dan becek—ogah memberi jeda untuk Wonbin merasakan pelepasannya sampai ada cairan putih kental yang jatuh meleber ke atas meja rias.

Tubuh Wonbin masih bergetar, dadanya kembang kempis mengatur napas. Ia pandang pantulan dirinya lewat cermin, melihat bagian intimnya yang terus berkedut, serta wajahnya yang basah bermandikan peluh dan—air mata, Wonbin tak sadar dirinya sempat menitikkan air mata sesaat cairan bening keluar dari vaginanya. 

“Dede kenapa nggak buka baju juga kayak Teteh?” tanya Wonbin—baru sadar jika Chanyoung masih berpakaian lengkap.

“Emang niatnya ngerjain Teteh dulu,” jawab Chanyoung, ia memeluk tubuh Wonbin dari belakang sembari berikan remasan-remasan pelan pada payudara Wonbin. “Teteh mau liat juga nenennya Dede?”

Wonbin mengangguk. Sekarang ia paham, perempuan dengan perempuan juga bisa cari nikmat bersama dari hubungan intim. 

Chanyoung segera membuka seluruh pakaian yang menutupi tubuhnya, sekarang ia sama bugilnya dengan Wonbin. Tubuh telanjang keduanya saling bersentuhan, Wonbin seakan rasakan sensasi baru saat hangat dari suhu tubuh keduanya saling menyatu. Selangkangannya kembali basah. Kulitnya seperti tersengat saat Chanyoung menggesekkan payudaranya pada punggung milik Wonbin—mempertemukan puting mencuatnya dengan halus kulit Wonbin. “Coba dirasain nenen Dede.”

Kini kaki Chanyoung sedikit dilebarkan, menekan tembamnya pada paha milik Wonbin. Menyebar basahnya di sana. Ia menggerakkan pinggulnya naik-turun secara perlahan di sekitaran paha Wonbin. “Coba dirasain juga memek Dede, becek ‘kan kayak memek Teteh.”

Wonbin mengangguk, ia kembali memejamkan matanya. Tangannya yang semula berada di atas meja rias kini bergerak ke belakang—berkelana untuk mencari selangkangan Chanyoung. Dirinya berhasil menangkup tembam milik Chanyoung tanpa harus melihat, menyelipkan satu jarinya untuk membelah labia yang sama basah dengan miliknya. 

Chanyoung menenggelamkan wajahnya pada perpotongan leher Wonbin, mengubur napasnya di sana. “Teteh–aahh.”

Desahan dari Chanyoung akhirnya lolos, pertama kali Wonbin mendengar desahan milik orang lain. Desahan yang membuat dirinya panas di sekujur tubuh. 

Chanyoung segera menarik pinggang Wonbin, lalu membawanya tepat ke atas ranjang yang sebelumnya habis dirapikan. Menidurkan tubuh telanjang Si Teteh yang sekarang memandangnya dengan sayu. Semua yang Chanyoung lihat terasa persis seperti di mimpinya. Ia mencengkram pipi Wonbin, mengatur pandangan keduanya supaya saling bertemu. 

“Dede nggak seneng denger Teteh dijodohin.” Chanyoung buat pengakuan, nadanya bergetar, “nggak seneng ngeliat Tetehnya Dede bakal diambil … Dede tuh cinta sama Teteh.”

Pandangan Wonbin memburam, sekarang jadi sedikit berair—ada sesuatu yang memaksa keluar dari matanya.

“Kalo emang Dede nggak bisa sama Teteh, biarin Dede ngerasain Teteh sekali aja.” Chanyoung menekan dahinya di tulang hidung Wonbin, mengaburkan isaknya. “Nanti Teteh juga bisa ngerasain Dede, biar Teteh nggak akan bisa lupa sama Dede.”

Wonbin menarik wajah Chanyoung untuk mempertemukan bibir keduanya. Pagutan yang sama—masih berantakan seperti sebelumnya, namun yang kali ini punya maksud tersendiri, untuk gantikan sesak yang dikepul di dalam dada. Ciuman keduanya semakin intens, sekitaran mulut jadi basah, juntaian liur kini menuruni dagu. Lidah keduanya saling bertemu, saling menghisap satu sama lain sebelum tangan milik Chanyoung bergerak semakin ke bawah—mengelus kemaluan milik Wonbin sampai empunya sontak melepas pagutan untuk keluarkan lenguhan. 

“Dede, Teteh mau dienakin Dede lagi,” aku Wonbin yang setelahnya dikecup di berbagai sisi tubuhnya—Chanyoung itu sulit menahan diri. 

Sekarang tubuh Wonbin berbaring di atas bantal yang jadi tumpuan—Chanyoung menyuruhnya demikian, maka Wonbin menurut. Dirinya serasa lebih kecil di dalam ruangan ini, serasa kecil kala Chanyoung selalu mendominasi dirinya.

“Lebarin pahanya,” titah Chanyoung sembari mendorong pelan paha dalam Wonbin, setelahnya ia selipkan satu kakinya di bawah salah satu kaki Wonbin hingga kemaluan keduanya saling berhadapan—hampir bersentuhan, namun Chanyoung masih menjaga jarak. 

Wajah Wonbin memanas saat dirinya sedikit mengintip ke bagian bawah sana. Entah bagaimana teknisnya, Wonbin tak begitu mengerti. Dirinya percaya pada Chanyoung yang sebelumnya tak pernah gagal hantarkan dirinya pada nikmat.

Telapak tangan Chanyoung berada di atas bagian kewanitaan milik Wonbin, dibuat gerakan memutar—memijat pelan bagian tersebut. Dipancing terlebih dahulu basahnya. Chanyoung juga melakukan hal yang sama dengan kemaluannya sendiri, dikucek kuat hingga timbul suara becek yang menggema. Dirinya tak lagi kaku saat melakukan hal ini, toh dirinya sudah terbiasa menyentuh bagian intimnya sendiri. 

“Makin becek, Teh,” ujar Chanyoung di tengah dirinya yang masih memainkan kemaluan Wonbin, “liat, lengket nih.” Chanyoung arahkan jarinya ke depan wajah Wonbin yang langsung mengalihkan pandangannya—rasanya masih malu. 

Chanyoung tertawa rendah. “Mau digesekin lagi memeknya?”

Wonbin mengangguk polos. “Mau, Teteh mau dimainin lagi memeknya pake jari Dede.”

“Enggak atuh, nggak pake jari.” Chanyoung menggerakkan pinggulnya perlahan hingga kemaluan miliknya dan Wonbin saling bertemu, diberikan gesekan pelan hingga timbul sensasi baru. “Aanh—digesekinnya pake memek juga.”

Wonbin mendesah ribut, kepalanya tak berhenti mengangguk. “Mau … Teteh mau.”

“Teteh tiduran yang nyaman, nanti biar Dede yang gerak, Dede yang gesekin.” Chanyoung kembali menggerakkan pinggulnya, membuat klitoris keduanya saling menggesek lagi—menggoda Wonbin. “Gini ‘kan digesekin yang Teteh mau?”

Pikiran Wonbin sepenuhnya kosong, ia tak lagi menjawab lontaran pertanyaan dari Chanyoung yang memang sengaja untuk menggoda. Dirinya bagai disengat listrik acap kali klitoris miliknya dan Chanyoung saling bertemu—dengan basah yang menyatu. 

Tembam keduanya beberapa kali saling menyentuh ketika Chanyoung menggerakan pinggulnya naik turun, seakan ada bibir yang berciuman di bawah sana. Bunyi basahnya nyaring diiringi desah keduanya yang saling bersahutan, belum lagi suara decit ranjang yang jadi komponen pelengkap dari pergumulan panas di dalam ruangan tersebut. 

Gerakan di bawah sana semakin dipermudah akibat basah yang dihasilkan dari gesekan-gesekan berulang. Semakin berantakan, semakin panas juga rasanya. Kini tak hanya Chanyoung yang bergerak, Wonbin yang sabarnya semakin habis dimakan nafsu juga ikut menggerakkan pinggulnya untuk menggesekkan kelamin keduanya. Wonbin meremas kuat bantal yang menjadi penopang tubuhnya, pinggulnya bergerak maju dan mundur persis seperti yang Chanyoung lakukan—dirinya adalah seorang pengamat yang baik. Ia mendongakkan kepalanya saat nikmat terus menghantam pikirannya sembari tangannya terus meremas payudaranya sendiri. Wonbin sebisa mungkin mengumpulkan nikmat yang bisa ia raih di hari itu. 

Pergumulan tersebut telah berlangsung cukup lama, beberapa kali keduanya membuat gerakan yang meleset saat nikmatnya sedang berusaha dikejar. “Angh! Teteh … pelan-pelan, jangan sampe ke paha.”

Chanyoung menahan paha Wonbin, ia semakin melebarkan selangkangan Wonbin dengan harap bibir kemaluan milik Wonbin semakin terbuka. Bagian merahnya megap-megap, berkedut dengan cairan bening kental seperti lendir yang terus keluar dari sana. Chanyoung sesegera mungkin kembali menyatukan kemaluan miliknya dengan Wonbin, merasakan itilnya yang kembali digaruk dengan kepunyaan Wonbin.

“Aahh … e–nak. Memek Dede enak,” racau Wonbin saat Chanyoung kerap menggesek miliknya dengan Wonbin. 

Tubuh Wonbin semakin mengkilap, Chanyoung tak dapat berhenti pandangi tubuh yang cantiknya bukan main. Tubuh polos tanpa kain yang kulitnya mulus tanpa noda, yang payudaranya akan ikut bergerak saat Chanyoung menggerakkan pinggulnya.

Kaki Wonbin ditarik kuat, tubuh keduanya semakin mendekat. Chanyoung menggerakkan pinggulnya lebih kencang, nikmatnya kini tercetak lebih jelas. Gerakannya yang semakin berantakan membuat kemaluan keduanya tak saling bertemu, justru saling menggesek ke paha satu sama lain.

“Dede … enak—Teteh kayak mau kencing lagi,” ucap Wonbin.

Chanyoung meremas kuat paha Wonbin. “Ditahan–angh … ditahan dulu, Teteh.”

Pinggul yang sebelumnya bergerak tidak tertata kini gerakannya telah berhenti. Chanyoung mengambil alih dengan tangannya kembali—salah satu dari kedua tangannya tak ada yang dibiarkan menganggur, yang satu mengerjai Wonbin, yang satu untuk dirinya sendiri. Jarinya bergerak tanpa hitungan, cepat dan kuat—mengucek daging merah yang membengkak dan mencuat hingga cairan bening kembali datang dari masing-masing kemaluan. Memuncratkan cairannya tanpa malu, dibiarkan beradu sampai-sampai segalanya jadi lepek. 

Kamar berubah menjadi sunyi, meninggalkan napas terengah dari dua insan yang masih mencari warasnya setelah dihantam nikmat tanpa celah. Tubuh keduanya berbaring di atas ranjang yang sama, belum berniat untuk membersihkan diri. Chanyoung mendekat dengan raga Wonbin, merengkuh Si Teteh yang sudah dengar pernyataan cintanya.

Wonbin menaruh wajahnya di leher Chanyoung, menyisipkan kecupan di sana. “Maafin Teteh, ya, De.”

Chanyoung menggeleng. “Dede yang minta maaf ke Teteh, maaf karena udah cinta sama Teteh. Harusnya nggak boleh, Teh.”

Sunyi kembali mengudara. Chanyoung menghela napasnya berulang kali. Memperhatikan tubuh polos Wonbin yang hari ini berhasil ia rasakan, memperhatikan kulit keduanya yang saling menyentuh persis seperti yang dulu dibayangkan, memperhatikan deru napas yang dipompa berantakan. Dirinya bukan orang yang pandai melupakan, ‘pun bukan orang yang pandai merelakan, namun Chanyoung perlu berhentikan hatinya—kalau bisa nadinya

Sisi kasur seketika kosong, Wonbin kini duduk di pinggir kasur membiarkan cahaya oranye dari sela tirai bertemu dengan netranya. Dirinya menghela napas panjang. “Teteh nggak pengen nikah, De. Sebenernya Teteh nggak pengen. Kalo bisa Teteh ngabisin waktu sepenuhnya sama Dede, ngabisin hari Teteh bareng Dede, ngabisin cinta Teteh buat Dede.” Wonbin beranjak dari duduknya, ia berjongkok—memunguti dalamannya serta pakaian yang tercerai berai. “Teteh juga cinta sama Dede, tapi kita harus tetep hidup, De.” 

Wonbin seakan hancurkan mimpinya sendiri, menyerah lewat suaranya. Mengenakan kembali pakaiannya yang jadi beban tambahan di tubuhnya. “Dunia nggak sesempit ruangan ini, cintanya biar kita hilangin aja, ya.”

Dunia luas dan segala tuntutannya, dunia luas dan segala aturannya. Chanyoung sadar, dirinya dan Wonbin harus tetap hidup, jangan sampai habis ditebas norma yang entah sejak kapan diciptakan. “Dede berdoa buat Teteh, semoga Teteh nggak pernah kebangun di tengah malem dan keinget hal yang Teteh lakuin sama Dede, biar semuanya ditinggal di sini aja, menetap di sini.” 

Chanyoung ikut hancurkan mimpinya sendiri, menyerah lewat suaranya.

Notes:

akhirnya comeback di 2025

Series this work belongs to: