Actions

Work Header

Digenjreng Gitaris (sampai lemes)

Summary:

Seungmin nggak pernah ragu tiap kali Junhan tampil membawakan aksi solo gitarnya tersebut, dirinya seperti tersihir. Enggak hanya terpukau, dia ngerasa....

Basah.

Work Text:

Kalau bicara tentang ambil kesempatan maka Seungmin ahlinya. Ia putuskan untuk menyendiri di dalam asrama saat anggota yang lain memutuskan untuk pergi makan keluar—katanya rindu akan masakan yang cocok dengan lidah—setelah menghabiskan waktu beberapa bulan untuk aktivitas tour di barat sana. Sebelumnya ia diyakinkan beberapa kali dengan pertanyaan, “Emang serius nggak lapar?” dan jawabannya selalu sama, Seungmin menggeleng, lalu berkata, “Nggak lah, jaga badan.”

Atau sebenarnya Seungmin punya menu lain yang ingin dirasakan. Dia lapar kok, cuma laparnya beda. 

Seungmin pasang earphone, lalu kabelnya disesuaikan supaya nggak menganggu aktivitas rahasianya. Ia menyamankan tubuhnya di atas sofa ruang tengah asrama, mengambil satu bantal untuk ditaruh di belakang punggungnya sebagai penyangga—setidaknya tubuhnya nggak akan meringsek jatuh di lengan sofa.

Jempolnya sibuk menggulir layar ponselnya, mencari sesuatu yang sebelumnya sudah ditandai. Sampai terputar satu video berdurasi beberapa detik yang buat dirinya mengangguk-angguk—ini yang dicarinya.

Enggak, bukan video gay porno yang biasa diunggah dengan resolusi minim.

Video yang ini punya resolusi yang lebih bagus, bukan juga video porno, melainkan sebuah fancam—dia sangat berterimakasih kepada fans yang mengunggah video keren saat si lead guitarist memainkan bagian solo gitarnya. Ah, pacarnya memang selalu keren. Jarinya lihai bergerak di sekitar senar, mengejar tiap nada yang manjakan telinga, membawa pertunjukannya ke level paling tinggi. Seungmin nggak pernah ragu tiap kali Junhan tampil membawakan aksi solo gitarnya tersebut, dirinya seperti tersihir. Enggak hanya terpukau, dia ngerasa....

Basah.

Selangkangannya jadi basah saat bayangkan jari yang bergerak di senar tersebut kini berpindah di selangkangannya—membawa dirinya ke surga saat jari-jari kurus tersebut menangkup tembamnya. Seungmin sudah gila. Otaknya terus memikirkan serentetan hal jorok saat video tersebut diputar ulang, terus diulang, dan diulang kembali—sampai dirinya tersentak saat ada suara menginterupsi.

“Mim, aku bawain makanan buat kamu.”

Seungmin lepas earphone yang sebelumnya terpasang di telinga, lalu ia lempar ponselnya ke sembarang arah—syukur nggak jatuh ke lantai. Kepalanya menoleh ke arah kekasihnya yang sudah berdiri tepat di belakangnya. “Kenapa udah pulang?”

“Loh ... emang nggak seneng kalau ada aku?” tanya Junhan. 

Seungmin menggeleng, “Bukan gitu, aku cuma kaget aja.” Kakinya kini bergerak gelisah, segera ia tutup selangkangannya supaya dirinya nggak tertangkap ‘basah’.

“Aku tadi kayak denger sesuatu,” ucap Junhan sambil menaruh kantung berisi makanan.

“Apa?” tanya Seungmin—intonasinya meninggi seolah panik.

Junhan terkekeh, ia mendekat ke tempat Seungmin duduk. Tangannya merengkuh bahu Seungmin—dipeluk dari belakang. “Kamu ngapain tadi nontonin fancam aku? Kangen atau ....” Kalimatnya digantung, namun tangannya bergerak menurun menuju selangkangan Seungmin, “... atau sange?”

Ego Seungmin tinggi, dia nggak bisa dengan mentah mengaku kalau dirinya memang cukup terpancing dengan apa yang ditontonnya. “Enggak, apa sih ... aku nggak nonton apa-apa.”

Earphone kamu nggak dicolok, sayang. Aku dari tadi udah di sini. Telinga aku masih bisa denger,” jelas Junhan.

Mampus, kalau begini Seungmin nggak bisa mengelak lagi. Kebodohannya membawa dirinya ke jurang malu. Pandangannya dia bawa ke ponselnya yang tergeletak—nggak ada tanda-tanda kabel yang terpasang. Ya bagaimana lagi, Seungmin terlalu antusias sampai cerobohnya sulit dihindari. 

Tangan Junhan menepuk selangkangan Seungmin, merasakan basahnya yang sudah mengintip keluar dari celana yang dikenakan. “Kalau udah basah begini mau gimana?”

Suara napas Seungmin terdengar berat dibanding sebelumnya. “Bantuin ... aku mau dibikin basah lagi,” cicitnya. 

Kepala Junhan semakin menempel pada bahu Seungmin, bibirnya mengecup rahang tajam tersebut. Jempolnya menekan tembam Seungmin yang masih dibalut oleh celana lengkap. “Emang tadi pas nonton, apa yang Mim pikirin?”

Seungmin berusaha menahan lenguhannya kala jari Junhan bergerak nakal di selangkangannya. “Aku mikirin jari Juju ngerojokin memek aku ... sampai aku pipis,” jelas Seungmin dengan nada yang pelan di akhir. 

Persetan dengan malu, Seungmin bakal blak-blakan dengan apa yang dimau. Wajar kalau dirinya mau dihancurkan dengan jari panjang kekasihnya yang selama ini lebih sering menjamah senar ketimbang menjamah dirinya. Jari yang selama ini terlatih dan lincah untuk membawa tumpukan nada, justru sekarang akan bawa dirinya sampai pada nikmat.

Karet celana yang tadinya masih melekat indah di pinggangnya kini sudah terlepas sempurna, entah dilempar kemana oleh si leo. Angin dalam ruangan ikut campur di kegiatan mereka, menerpa kulit telanjang Seungmin yang buat dirinya jadi merinding. Belum lagi telapak tangan Junhan berulang kali menepuk tembamnya yang masih bersembunyi di balik celana dalam. Diberikan pijatan sebelum jari tengahnya bergerak naik-turun, menggoda labianya dengan kuku. 

Aahh ... Dilepas aja, Ju, biar gampang,” ucap Seungmin.

Junhan menurut, ia menarik celana dalam Seungmin ke bawah sampai terlepas. Kasih lihat vagina Seungmin yang bersih tanpa bulu—sudah basah sesuai dengan apa yang dibilang. Satu jari Junhan bergerak menyebar basahnya, diratakan sampai terdengar bunyi becek. 

Tubuh Seungmin menjengit saat jari-jari Junhan bergerak dengan ritme yang cukup kencang buat ngucekin memeknya. Pahanya hampir ditutup kalau saja satu tangan Junhan nggak mencoba untuk menahan. Seungmin harus tahan mengangkang saat memeknya sedang dikerjai. 

Jari kurus Junhan diarahkan untuk bergerak naik turun membelah labia Seungmin, dua jarinya membuka lebar tembam tersebut. Merasakan basah dan lengket yang mulai menyebar di satu jarinya.

“Basah banget,” ucap Junhan yang entah tujuannya apa karena Seungmin 'pun sudah tahu jika kemaluannya sudah basah sedari tadi.

Junhan sedikit mengintip bagian bawah Seungmin, nampak mengkilap dan basah. Jarinya masih ingin bermain di sekitaran labia yang buat sensasinya jadi sedikit geli dan cukup buat Seungmin ingin meracau. 

“Ah! Ju ... jangan digituin.” Paha Seungmin bergerak gelisah dan sedikit bergetar saat rasakan jari Junhan mencubit daging yang mencuat. 

Junhan terkekeh. “Iya, sorry, Mim. Enak nggak tapinya?”

Seungmin mengangguk. “Enak, mau dimasukin.”

Satu kecupan mendarat di pipi Seungmin sebelum Junhan secara asal menggerakkan telapak tangannya di depan tembam Seungmin yang semakin becek akan lubrikasi alami yang keluar dari sana. Lenguhannya keluar menggema di dalam asrama yang untungnya hanya ada mereka berdua. 

Junhan semakin menurunkan jarinya sampai tepat berada di depan lubang kawin Seungmin. Kukunya sengaja digesek di cincin lubang tersebut, kemudian dibawa masuk menerobos liang hangat milik Seungmin yang rasanya seperti menjepit kuat jari Junhan.

Seungmin terhentak saat penetrasi berlangsung, namun selanjutnya dia seperti dibawa terbang amat tinggi saat jari tersebut bergerak perlahan. Mengeksplor hangat yang tercipta di sana buat dirinya lupa akan nama sendiri. 

Jari Junhan dibuat menekuk, dinding memek Seungmin terasa seperti digaruk. Gerakannya semakin lama semakin cepat diikuti dengan jempol Junhan yang kini ikut andil untuk mengucek bagian atas memek Seungmin. Tolong beri tahu Junhan jika rasanya luar biasa.

“Sempit banget, Mim,” ucap Junhan dengan jarinya yang masih bergerak di dalam memek Seungmin, “lama-lama jari aku kayak dijepit,” lanjutnya. 

Kalau yang tadi jari tengah, kini jari manis juga ikut masuk ke dalam sana. Mengocok lubang Seungmin, dibuat semakin becek supaya Junhan mudah dalam menggerakkan jarinya. Bunyi-bunyi cabul jadi mendominasi.

“Ju ... berenti—ah! Mau keluar.” Seungmin mencengkram pergelangan tangan Junhan yang sayangnya mudah untuk ditepis.

“Sebentar, aku bikin kamu enak dulu.” Junhan semakin gencar mengocok lubang tersebut.

Otot-otot perut dan pinggul Seungmin mengencang, kemudian desahan kuat keluar dari rongga mulutnya. Dirinya bucat untuk yang pertama kali, tetapi Junhan nggak memberi jeda untuk merasakan pelepasannya.

Dua jari Junhan di dalam sana masih bergerak, memompa keluar cairan bucat Seungmin. Tempo gerakannya masih sama, cepat dan memaksa. “Dihitung, sayang. Tadi udah berapa kali kamu bucat?”

Deru napas terputus-putus yang datang dari Seungmin rasanya semakin menyeruak masuk ke telinga. “A–ahh ... s-satu.”

Kecupan di leher Junhan hadiahkan untuk si kasih. “Pinter, sayang.”

Dua jarinya bergerak kembali mengoyak lubang kemerahan tersebut, dibawa semakin masuk ke dalam. Junhan sampai tahan napasnya karena hangat yang menjalar di dua jarinya. Wajah Seungmin hasilkan semburat merah saat ia dengar bunyi basah bak air yang sedang dipompa keluar—padahal itu semua ulah jari kekasihnya yang asik mengocok lubang kemaluannya. 

Badan Seungmin bergetar kembali, dirinya akan sampai sentuh nikmatnya untuk yang kedua kali. “Ah! Sebentar—”

Cairan bucatnya muncrat keluar, membasahi sekitaran lubangnya dan labianya. Lenguhan manjanya semakin keras. 

“Berapa sayang?”

Seungmin berusaha atur napasnya karena dirinya masih belum diberi jeda untuk merasakan orgasmenya. “Dua ... aanh—sebentar, Ju.”

Seolah tuli, Junhan masih terus mengerjai lubang Seungmin. Gerakannya semakin cepat karena lubang tersebut semakin licin dan basah, sehingga memudahkan setiap kocokannya.

Jari-jari kaki Seungmin menekuk sampai aliran darahnya berhenti. Mulutnya keluar rengekan, “Ju ... mau keluar lagi—ah! Enak banget kepala aku pusing—AH ....”

Seungmin bucat lagi, undang tawa dari Junhan. 

“Berapa?”

Kepala Seungmin pening, stimulasi di bawah sana terlalu berlebihan. Seungmin rasa Junhan juga nggak berniat untuk berhentikan gerakan jarinya. “Aahh ... dua ....”

“Tiga, sayang.” Junhan mengoreksi sembari memberi afeksi di sekitaran leher Seungmin. Diberikan kecupan kecil yang buat tubuhnya semakin merinding. “Enak banget ya sampai udah susah mikir?”

Seungmin hanya bisa mengangguk soalnya mau direspon bagaimanapun, Junhan bakal terus mengoyak lubangnya.

Satu jari kembali masuk ke dalam liangnya, kini totalnya ada tiga yang bersarang di sana. Digerakkan tanpa ampun seakan Junhan sedang pegang gitarnya. Lubang Seungmin dikoyak habis sampai akhirnya ia bucat kembali.

“Ah! Empat ... Ju—bener 'kan empat?” tanya Seungmin memastikan.

“Iya, sayang. Sekarang udah empat, Mim pinter deh,” jawab Junhan dengan jarinya yang masih bergerak cepat di memek Seungmin. “Aku stop aja lah ya, toh kamunya udah keenakan gini.”

Seungmin menggeleng ribut, “Enggak.” Tangan Junhan yang berada di depan tembamnya ditahan, “mau dibikin makin goblok sama kamu, Ju—aahh … sampe aku nggak bisa jalan juga nggak apa-apa.”

Tiga jari yang ada di sana dikerahkan kembali untuk semakin masuk—mencari titik yang buat Seungmin meneriakkan namanya. Jarinya diputar di dalam sana sebelum dibawa untuk menusuk-nusuk titik nikmat Seungmin. Jempolnya juga sibuk digerakkan di bagian atas memek Seungmin. Segala warasnya sudah direnggut paksa oleh nikmat. Tubuhnya seakan dibelenggu untuk merasakan nikmat yang semakin sulit untuk dijelaskan.

Seungmin sudah mengawang, kini dirinya adalah gitar milik Junhan—yang juga bisa keluarkan suara walaupun hanya bunyi ah, ah, ah berulang. Bagian bawah perutnya kembali mengencang sampai cairan berwarna putih keluar kembali.

“Aahh—lima! Jari kamu jago banget ngerojokin memek aku,” lirih Seungmin.

Akhirnya Seungmin bisa nikmati pelepasannya, jari Junhan yang semula terus bergerak kini berhenti. “Pinter banget bisa bucat sampe lima kali, sayang.”

Dada Seungmin kembang kempis nggak beraturan, ia pejamkan matanya dan mengernyitkan keningnya saat jari Junhan yang sebelumnya mengisi penuh lubangnya kini sudah dicabut. Semua cairannya mengalir keluar.

“Yuk, aku bersihin dulu kamunya. Takut yang lain keburu balik,” ucap Junhan menginterupsi suara napas Seungmin.

Seungmin mendesah kecewa. “Bisa nggak aku lanjut dibikin tolol sama kamu? Mereka pulangnya masih lama kok pasti.”

Junhan terkekeh. “Lanjut di kamar mandi aja deh, tapi suaranya dijaga.”

Nyatanya berbanding terbalik, suara Seungmin kembali menggema di dalam bilik

kamar mandi saat titik nikmatnya kembali dijamah oleh Junhan. Gila, menu makan malam Seungmin hari ini bikin dia puas dan kenyang banget.

Series this work belongs to: