Work Text:
Hallen keluar dari kamarnya. Hari ini cuacanya terasa cukup panas, jadi Hallen saat ini hanya memakai tank top press body berwarna baby pink dengan pita kecil menghiasi tepat di belahan dadanya yang kebetulan tak tertutup, atau sebenarnya sengaja tak ditutup karena Hallen menarik bagian depan tanktopnya ke bawah. Dirinya juga memakai celana pendek, mungkin terlalu pendek, karena celana itu bahkan tak bisa menutupi sepertiga paha Hallen.
Ia berjalan, mendekati Mysella di ruangan tengah, terlihat sangat fokus menonton film yang sedang berjalan di tv.
Hallen bergabung, duduk di sofa tepat di sebelah kanan Mysella. Dirinya memperhatikan baju yang saat ini di kenakan kekasihnya, Sella hanya memakai bra sport hitam dan hot pants. Bagus, akan lebih mudah untuk dirinya menyapa payudara kekasihnya nanti.
Sella pasti baru saja selesai melakukan work out, jadi sangat wajar jika pakaiannya seperti itu.
Hari ini cuacanya panas, Hallen merasa panas. Hari ini Hallen sengaja tak pakai bra, Hallen merasa panas. Hari ini kak Sella hanya memakai bra, Hallen yang melihatnya juga merasa panas. Hallen ingin bermain.
-
Sepertinya sudah satu jam lamanya Mysella duduk dengan apik di depan televisi. Benda berlayar persegi panjang itu masih saja menayangkan film berseries yang Hallen sendiri tak tau judulnya. Jujur, semakin lama Hallen menunggu, dirinya mulai merasa kesal. Padahal dirinya sedari tadi duduk tepat di sebelahnya, tapi rasanya seperti di biarkan begitu saja, dirinya seakan transparan. Mysella terlalu fokus pada tontonannya sampai kehadiran Hallen di sampingnya pun tak dihiraukan.
Hallen pada akhirnya semakin jenuh, lalu berdiri dari duduknya. Ia memutuskan untuk mengambil cemilan, ingin mendinginkan dirinya. Hallen ingat mereka masih memiliki es krim yang di simpan dengan apik dalam kulkas, seharusnya masih tersisa setengah dari porsi aslinya. Kakinya bergerak, berjalan menjauh dari Sella menuju dapur.
Tak lupa dirinya juga mengambil sendok sebagai alat untuk dirinya menikmati es krim vanilla yang saat ini sudah berada di tangan kirinya. Sudah jadi kebiasaan Hallen untuk memakan es krim langsung dari kemasannya, jadi Hallen tak akan mengambil wadah lain untuk mengonsumsi es krimnya.
Hanya mengambil es skrim dan sendok, tentu hanya membutuhkan waktu yang sebentar. Hallen akhirnya kembali ke sofa, kali ini duduk sedikit lebih dekat dengan kekasihnya.
“Kakak mau gak?” Hallen menyodorkan es krim, menawarkan. Sella menengok, hanya melihat sekilas apa yang di tawarkan si cantik lalu mengembalikan pandangannya ke depan, ke filmnya. Selain karena ia tau makan es krim di malam hari itu tidak bagus, dirinya juga sedang diet, dan hari ini bukanlah cheat-day nya.
Kata Sella, akhir-akhir ini dirinya merasa kalau berat badannya sedikit lebih naik dari biasanya, pipinya juga terasa lebih berisi, tubuhnya sedikit melebar. Padahal Hallen sudah bilang kalau tak ada yang berbeda dari tubuhnya, toh Sella tetap terlihat cantik di matanya.
“Engga, kamu makan sendiri aja.” Mysella menolak dengan halus, tangan kanannya bergerak di belakang leher Hallen, merangkulnya. Tangannya juga mengapai pucuk kepala Hallen, mengelusnya perlahan. Hallen bersorak dalam hati. Ya, setidaknya kali ini dirinya di anggap ada.
Entah hanya perasaan Sella saja, atau Hallen seperti sedang menggoda dirinya? Setiap suapan, Hallen akan membiarkan sendoknya berdiam di mulutnya sambil sesekali dimainkan, dijilat, dihisap lalu kembali dikeluarkan untuk mengambil es krimnya dari dalam cup.
Tidak, seharusnya itu hal normal kan? Sella pun yakin dirinya pasti pernah memainkan sendoknya seperti itu saat memakan es , apalagi saat dirinya sedang tidak fokus. Tapi saat dirinya melihat Hallen yang melakukannya, kenapa rasanya berbeda? Sella berani bersumpah, dia sudah melewatkan setidaknya 15 menit adegan dari film di depan. Fokusnya terpecah untuk memperhatikan Hallen yang berada dirangkulannya, yang sedang menyenderkan kepalanya ke dada Sella.
Hari ini Hallen cantik, sangat cantik. Tubuhnya wangi juga terasa lebih lembut, sepertinya Leehan baru saja luluran. Rambut pirangnya juga tak sekering biasanya, sepertinya Hallen juga baru saja menggunakan hair mask. Hallen hari ini cantik, dan sayangnya Sella baru memperhatikannya.
“Eh!” Satu suapan gagal mendarat di mulut Hallen. Es krim itu jatuh, tepat di atas dadanya yang tak tertutup baju. Baru dirinya akan bangun, ingin mengambil tissu yang berada tak jauh di sana, tangannya tiba-tiba ditarik, dipaksa untuk duduk kembali, lebih tepatnya duduk dipangkuan Sella.
Dingin dari es krim yang tumpah tiba-tiba hilang, di gantikan rasa hangat. Es krim yang berada di dadanya, di bersihkan oleh Sella, dengan bibirnya, dengan lidahnya.
Hallen tentu terkejut. Tangan kanan Sella melingkar di perut kecil Hallen, memeluknya agar tak kemana-mana. Sedangkan tangan kanan Sella menggenggam bagian depan baju Hallen, tepatnya di pita kecil yang berada di tengah baju Hallen, menariknya semakin ke bawah. Sella hanya ingin mengejar lelehan es krim yang semakin lama semakin turun masuk ke dalam belahan besar milik Hallen dengan lidahnya.
Tangan kiri Sella perlahan masuk meraba tubuh Hallen. Pun baju Hallen perlahan naik seiring naiknya juga tangan Sella. Bibirnya juga perlahan bergerak menuju pusat dari salah satu Hallen, mengisapnya kuat dari luar baju seakan akan es krim barusan jatuh dan menembus dari sela serat baju adalah susu yang keluar dari payudara Hallen. Tojolan kecil itu juga tak luput di gigitan-gigitan kecil dari Sella.
Basah yang semulanya hanya berada di pucuk payudara Hallen, lama kelamaan makin menyebar. Baju Hallen yang tadinya berwarna pink pucat menutup tubuhnya dengan baik mulai berubah menjadi transparan. Perlahan menunjukkan puting Hallen yang berwarna pink kecoklatan itu.
Nafas Hallen mulai terasa panas, terasa berat. Perutnya tergelitik, punggungnya juga terkadang menegang setiap gigitan datang menyapa.
Sella semakin lama mulai risih dengan kain yang menutupi badan bagian atas Hallen membuat dirinya memutuskan untuk membukanya.
Padahal hari ini cuacanya panas, tapi tangan Sella tetap terasa dingin saat menyentuh tubuh telanjang Hallen secara langsung. Tangan Sella bergerak secara perlahan, mengabsen semua bagian yang ada di tubuh Hallen.
Tak lama kemudian Sella bangun, mengambil sesendok es krim dari cup yang sedari tadi masih Hallen pegang.
“AAH! KAK?! kotor ihh, nanti lengket kena sofaa,” tubuh Hallen sedikit menjengkit. Es krim yang barusan Sella ambil sengaja ia tumpahkan di atas puting kanan Hallen. Tubuhnya yang awalnya panas, bertemu es krim yang sangat dingin membuat puting Hallen rasanya seperti membeku.
Tak membiarkannya meleh, Sella langsung mendekatkan wajahnya, menghisap puting Hallen bak bayi yang kehausan. Sedangkan tangan Hallen menjambak rambut bagian belakang milik Sella, matanya berputar ke atas. Perpaduan rasa dingin dari es dan hangat dari lidah Sella membuatnya gila. Suara-suara aneh dari mulutnya tak lagi bisa tertahankan, keluar tanpa diminta.
“Tete kamu kok bisa makin gemoy gini sih sayang? Aku kasih toping gini rasanya jadi kaya makan ice mochi.” Mulutnya masih tak mau meninggalkan puting milik Hallen, mambuat pengucapannya sedikit tidak terdengar dengan baik.
Sella akan melakukannya lagi. Es krim yang barusan berada di dada leehan telah hilang, beberapa masuk ke dalam mulutnya, beberapa juga meleleh jatuh membuat garis memanjang di perut Hallen. Sella kembali mengambil sesendok es krim, menumpahkannya lagi, kali ini lebih banyak. Ia menumpahkannya di antara belahan payudara Hallen, dan Sella menenggelamkan kepalanya di antara payudara Hallen. Kedua tangannya terangkat, meraih lalu meremas dua bongkahan besar itu, sengaja membuatnya semakin menjepit wajahnya. Lidahnya menjilat segala macam hal yang ada di sana. sesekali menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri hanya untuk memberikan gigitan kecil pada payudara Hallen.
“Haa, kakaaak.” Tekanan dari tubuh Sella membuat tubuh Hallen semakin lama semakin turun, sampai akhirnya Hallen merebahkan tubuh sepenuhnya.
Tangan kanan Sella sudah tak lagi memainkan payudara Hallen. Tangan itu perlahan turun kembali meraba tubuh Hallen akan menuju ke bagian bawah tubuh Hallen.
Celana pendek yang Hallen kenakan memang berbahan tipis, jadi basah dari cairan yang tak sadar dikeluarkan kemaluannya sudah pasti tembus. Sella tertawa kecil merasakan lembab yang menyapa tangannya. “Baru di mainin tetenya doang udah se basah ini?”
“Hnggg, gatel kakaa, memek aku udah gatel dari tadii.”
“Buka sendiri celananya.” Sella berkata, lalu bangun dari duduknya dan meraih es krim yang berada di tangan Hallen. memakannya sembari memperhatikan Hallen yang sedang melorotkan celananya. Persetaj dengan cheat day-nya, hari ini dia akan menghabiskan semua sisa es krim yang mereka miliki.
Kini Hallen sudah tak lagi memakai sehelai bendang pun di tubuhnya, benar benar telanjang. Hallen kembali merebahkan tubuhnya, membuka kakinya dengan lebar, memamerkan vaginanya yang memerah dan basahnya pada Sella. Tangannya bahkan turun untuk membuka lipatan vaginanya, sengaja menggoda Sella yang sedari tadi masih tidak bergerak, hanya diam menonton Hallen yang semakin tidak bisa diam.
Seperti hidangan yang di biarkan lama, tubuh Hallen yang semulanya panas perlahan mulai merasakan dingin. Angin-angin yang ada juga mulai menyapa, menggelitik kemaluannya yang basah. “Kakaaa, jangan di liatin aja Allennyaa. Aku mulai kedinginan tauu.”
Kesal kekasihnya itu masih tak kunjung bergerak, akhirnya dirinya perlahan memasukkan jarinya sendiri yang langsung di tepis oleh Sella. Hallen yang tangannya di tepis merengek semakin kencang, bahkan hampir menangis.
“Tangannya ngapain? kan di suruh tunggu, kenapa gak sabaran banget sih?”
“Hangg.. kakaa, memek aku gat-KAK! NGAPAIN?!” tubuh Hallen bergerak asal, berusaha menghindari rasa dingin yang datang di bagian bawah tubuhnya. Sella menahan pinggul Hallen, menahannya agar tak banyak bergerak.
Sella baru saja menumpahkan es krim di atas vagina Hallen. Melihatnya meleleh seperti sedang melihat cinnamon roll hangat yang di atasnya terdapat icing meleleh. Lelehan itu perlahan semakin turun menuju belahan pantatnya. Sungguh menghiasi bagian tercantik tubuh leehan dengan sempurna.
Sebelum lelehan itu turun mengenai sofa, Sella segera mendekat, menenggelamkan kepalanya di antara kedua paha Hallen. Bibirnya meraih buah bibir lain di sana. Lidahnya terjulur, menjilat es krim sebelum semakin meleleh dan mengotori hal lain.
Nikmat, rasanya sangat manis. Sella terkejut, ia tak menyangka rasa es krim favorit Hallen ini akan terasa lebih nikmat jika bercampur dengan cairan alami yang keluar dari vagina milik Hallen itu. Rasanya tak bisa di deskripsikan. Ah, kalau boleh, Sella akan dengan senang hati membuat sebuah jurnal berjudul ‘Mengejutkan! beginilah berbagai macam rasa vagina saat bercinta yang perlu kamu ketahui!,’ yang di dalamnya akan di beri foto mereka berdua sedang berciuman, agar satu dunia tau kalau Hallen, kekasihnya itu tidak tertarik dengan penis-penis bau milik pria menggelikan di luar sana.
Isapan dari mulut Sella semakin kuat. Sella benar benar menghisap klitoris Hallen dengan sangat kuat bahkan sesekali mengigitnya. Setiap es krim itu habis, Sella akan menambahkannya lagi, lagi, dan lagi. Inilah yang benar-benar di namakan ganja.
“Anghhk kaaa, kaka ahh kakaaa.” Kepala Hallen terlempar semakin kebelakang, otaknya seakan berhenti bekerja. Hallen tak bisa mencari kata kata lain untuk di ucapkan. Benar kata mereka, Hallen adalah alien, karena di saat seperti ini bahasa bahasa asing yang tak di mengerti akan keluar dengan sendirinya dari mulut Hallen. Satu satunya bahasa yang bisa di mengerti hanya kaka, enak, dan terus.
Tubuhnya bergerak tak berarah. pinganggnya mengangkat, bergerak ke kanan dan kekiri. Tangan kirinya meremas kedua buah payudaranya sendiri, sesekali mencubit putingnya. Sementara tangan kanannya menjambak rambut hitam milik Sella, memaksa agar wajahnya semakin mendekat, agar lidahnya semakin masuk, agar hidungnya semakin menggesek kemaluannya. Pahanya juga merapat, menjepit Sella di sana.
“Aahh kakaa, aku mu pipiiss, kakaa hngg.” Paha Hallen perlahan mulai bergetar. Stimulasi yang di berikan Sella terasa terlalu banyak.
“Pipis aja, pipisin muka kaka sayang.”
Pada akhirnya Hallen mengeluarkan semuanya, membasahi wajah dan juga bra yang di gunakan Sella. Dadanya kembang kempis, berusaha mengatur nafas. Air matanya keluar tanpa diminta. Tangannya juga tak sengaja semakin menjambak rambut Sella.
“Begitu aja udah se becek ini, sayang?” Genggaman Hallen di rambut Sella perlahan melemah. Membiarkan Sella membebaskan kepalanya dari jepitan paha Hallen.
Sella bangun dari duduknya, membuka seluruh bajunya. Membiarkan angin perlahan menyentuh tubuh telanjangnya.
Matanya melirik es krim yang setengahnya telah mencair.
“Kaka mau ngapain lagi..?” matanya melirik kebawah, melihat Sella yang sudah kembali duduk di tampatnya semula. Jujur saja, Hallen masih terlampau lemas untuk sekedar melontarkan protes. Tapi dingin di bagian bawah tubuhnya kembali datang.
Sella kembali menambahkan es krim. Tangannya membuka kaki Hallen, memperlebar akses untuk dirinya, juga semakin memperlihatkan putih yang meleleh di sana. Kaki kanan Hallen sedikit di tarik, di posisikan agar berada di atas paha kiri Sella. Dan kaki kanan Sella di naikkan, menindih paha kiri Hallen. Tangannya meraih pinggang Hallen, memaksanya untuk bangun. Posisinya dibuat sedekat mungkin agar kaki mereka menyilang dan vagina keduanya bisa bertemu.
Tubuh Sella yang merasakan sensasi baru refleks bergetar kecil. Dingin dari es krim yang terhimpit secara langsung mengenai klirotis keduanya, yang anehnya membuat mereka terangsang lebih cepat.
Tak peduli kemana lelehan itu akan pergi. Entah turun dan mengotori sofa, atau mungkin saja masuk kedalam tubuh. Sella menggoyangkan pinggangnya, menggesekkan bagian sensitif keduanya. Tangannya memeluk pinggang Hallen agar milik keduanya semakin menempel.
Gesekan itu semakin lama semakin cepat. Bahkan Hallen mulai perlahan mengikuti, pinggangnya bergerak berlawanan.
Sofa sempit itu tak menjadi penghalang untuk keduanya mengejar kepuasan.
Jika di umpamakan dengan sebuah dua batu yang di gesekkan, sudah pasti percikan api sebentar lagi akan memunculkan diri.
“Ahnnn, anjiingg Hallen. Fuck! Es krim kamu bikin jadi enak banget, sayang.”
“D-deketin llagiihh, cepetin lagi kakaa.”
“Aanghhk enak, enaak, kaka, pipisshh, pipishh, aahh kaa.” Paha keduanya semakin bergetar, menandakan keduanya sama-sama mendekati klimaksnya. Tanggan Hallen naik, meraih pipi Sella untuk menyatukan kedua bibirnya. Lumatan itu sangat berantakan karena gerakan yang semakin tak beratur.
“AAHNN”
Basah, becek, mungkin bisa dibilang banjir. Keduanya mengeluarkan cairan yang sangat banyak. Tak bisa lagi membedakan apakah itu cairan kencing, ataukah itu cairan hasil bercinta.
Tubuh keduanya juga lengket. Keringat yang bercampur dengan es krim terasa sangat lengket di tubuh.
Rasa panas dan dingin yang bercampur di sana, rasa baru yang pasti akan Sella coba lagi. Mungkin selanjutnya rasa strawberry? Tak masalah dengan gula yang masuk, toh pada akhirnya dia akan kembali berolahraga dan mengeluarkan keringat.
