Actions

Work Header

Orang Sinting Mana?

Summary:

It's been two weeks since Sahya summoned Cahyo for the first time. it's now or never, before the phantom left for good, for simply due to Sahya not elongating their contract with the ritual.

Notes:

Note anggep aja mereka ngomong jawa di sini mmf sy gbisa jawa. Cahyo ngomong pake jawa kromo.

Also latarnya pas Sahya masih 33 tahun (he's 38 in most of my art, 5 years bonded with Cahyo already hence his lovey dovey behaviour towards Cahyo due) pas baru pertama kali awal awal melihara Cahyo

Thank you for reading my attempt to stay sane.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text

Entah sudah berapa jam Sahya duduk di kursi ruang makan selang jam makan malam berakhir, menunda-nunda pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Dua minggu sudah berlalu semenjak ritual pemanggilan Cahyo dilakukannya. Begitu mereka berdua terikat dalam sebuah kontrak, Cahyo adalah miliknya dan akan mengikuti semua titahnya. Selama dua minggu ini juga, Cahyo telah ... membereskan beberapa masalah yang dimiliki bisnisnya. 

 

Namun kini, kesetiaan makhluk itu berada di ambang yang tipis. Malam ini atau tidak sama sekali dan ia akan kehilangan senjata terkuatnya. 

 

Sahya tidak tahu harus merasa apa, ia tahu konsekuensi yang perlu dijalaninya dengan mengikat kontrak dengan lelembut itu. Dia sudah paham, paham sekali sejak awal ia mencari tahu mengenai Cahyo. Sebuah kuasa dan kekuatan yang diperoleh dengan syarat dan ritual yang sederhana.

 

Ia sendiri tidak merasa hal itu bukanlah perkara yang besar atau pun sulit. Sahya ingat apa yang membuatnya mantap untuk memelihara makhluk tersebut adalah karena syarat yang justru mudah itu. Lakukan dan lupakan , pikirnya. 

 

Namun semenjak malam itu ... hari pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan Sang Makhluk Buas itu sendiri lewat ritual pemanggilan pertamanya, auranya lebih menyeramkan dari iblis sekalipun, dan ia benci mengakuinya, tetapi ia enggan menghadapi Cahyo sekarang karena naluriah takut. 

 

Selama nyaris dua minggu terakhir, ia telah menunda persyaratan ini selama mungkin dan langsung mengusir makhluk tersebut seusai memberinya perintah untuk membereskan perkara apa pun, Cahyo hanya ada di sekitarnya jika ia memang betul-betul butuh. Tolong, bawa jauh-jauh makhluk ini dariku , batinnya setiap kali Cahyo harus muncul di hadapannya untuk menerima titah.

 

Dan sekarang Sahya Rahagi terduduk kaku di ranjang, sang lelembut berdiri tak jauh dari hadapannya, menunggu perintah. Cahyo telah terikat dengan Sahya, hidupnya adalah milik Sahya, melakukan ritual ini untuk seterusnya untuk mempertahankan kesetiaannya seharusnya jauh lebih mudah dari pada upaya pertama kali Sahya untuk mengikatnya. Jika yang pertama disertai usaha penangkapan, kali ini Sahya cuma perlu mengangkat telunjuk dan mengucapkan sepatah perintah dan sang lelembut akan bertekuk lutut menurutinya. Perintah apa pun , termasuk untuk bersedia melakukan ritual ini.

 

Namun yang menjadi masalah sekarang justru adalah dirinya sendiri. Kedua tangan Sahya mencengkeram pinggiran kasur, bibirnya menipis. Bagaimana caranya ia bisa ... melakukan ritualnya bersama Cahyo jika ... ia tidak merasa ... yah.

 

Lagi pula, orang sinting mana yang bersedia tidur dengan makhluk gaib serupa tengkorak yang berbau seperti rumah duka setiap kali ia melintas?

 

Atau ... Ia bisa meminta sang lelembut untuk membantunya.

 

"Cahyo." Pada akhirnya kesunyian yang menyesakkan dipecahkannya.

 

"Nggih, Ndoro?" Mata Sahya mengerjap mendengar suara halus yang jarang didengarnya, ia masih tidak terbiasa dengan kenyataan bahwa makhluk dengan penampilan sekelam itu menyimpan suara selembut dan seringan bulu.

 

"Buat saya ... terangsang." Sahya menelan ludah mengucapkan perintah itu. "Lalu kita lakukan ritualnya."

 

Cahyo mengangguk kecil sebelum berlutut di depan Sahya. Darahnya berdesir ketika kedua tangan sang lelembut beranjak ke panggulnya, mulai menarik ke bawah jarik yang membalutnya dari pinggang ke kaki. Jemari kirinya yang sejuk menyentuhnya, sementara tangan kanannya yang bebas membelai ringan sisi dalam paha Sahya. 

 

Dalam jarak sedekat ini, ketika sang lelembut tak menatapnya langsung ke mata, Sahya bisa memperhatikannya dengan jauh lebih jelas. Ia sedikit tergoda untuk menyentuh rambut gelapnya yang terlihat lembut, tertata di ambang kerapian dan berantakan secara bersamaan. Sahya juga baru menyadari terdapat garis berpotongan tipis di sepanjang sulur-sulur hitam yang menghiasi pipi Cahyo di bawah temaram lilin di atas nakas. Pipinya robek? pikir Sahya. 

 

Lalu matanya mendarat pada bibir Cahyo yang terkatup. Untuk makhluk yang bertemperatur seperti mayat, bibirnya tergolong ... ranum. Sahya sekali lagi mengerjapkan mata, mengapa ia memperhatikannya jauh lebih lama? 

 

"Cahyo," panggilnya sekali lagi. "Aku ... boleh cium kamu?"

 

Tangan Cahyo tidak berhenti, ia mendongak untuk menatap Sahya—yang sekali lagi menelan ludah. Sahya mendapati aliran udara di dadanya seakan menyempit seiring tubuhnya mulai merespons semua sentuhan Cahyo sedari tadi. Ia ingin mempercepat semua ini. "Tuan bisa melakukan apa pun. Saya milikmu, Ndoro."

 

"Kemari." Sahya mengulurkan tangan untuk menyentuh rahang Cahyo, menariknya untuk bangkit dari posisinya sekarang hingga membungkuk sampai wajahnya sejajar dengan kepala Sahya. 

 

Ranum bibirnya sama sekali tidak cocok dengan sensasi aslinya, itu yang muncul di benak Sahya pertama kali tatkala bibirnya memagut mulut sang lelembut. Di luar banyak hal yang ia duga akan ia lakukan tahun ini, mencumbu makhluk gaib mungkin hal yang paling sinting yang tidak akan pernah ia pikirkan. Bibir Cahyo terasa sejuk di bawah sentuhannya, ia mengira setidaknya akan sedikit lebih hangat, ia nyaris percaya ada darah mengalir di pembuluh darah tipis yang mungkin terdapat di dalam sana. 

 

Sesuatu memelintir di dalam perutnya begitu ia mendapati Cahyo meresponsnya dalam cara terlembut yang pernah ia terima. Tanpa ia sendiri sadari, tangan Sahya bergerak menekan tengkuk peliharaannya mendekat sebelum menelusupkan lidahnya lewat sela-sela bibir Cahyo. Taring. Makhluk ini punya taring. Tidak cuma satu pasang, melainkan tiga pasang sekaligus. Dua di atas, satu di bawah. 

 

Cahyo terduduk di pangkuannya seiring pagutan ringan bibir mereka perlahan-lahan melonjak menjadi sesuatu yang jauh lebih bergolak. Decakan dan megapan napas mengisi seisi kamar yang luas dan sunyi, tubuh Sahya menghangat detik demi detik. Lenguhan lolos dari bibirnya tatkala bagian bawahnya menekan tubuh Cahyo.

 

Otaknya berkecamuk. Cahyo tidak sukses membantunya untuk melakukan ritual ini. Cahyo membuatnya kehilangan akal sehat detik ini juga. Rasa lapar yang mendidih menderanya seketika, salah satu tangannya bergerak menelusuri punggung hingga bokong.

 

Bibirnya sibuk melahap habis pasangannya, kecupannya mulai menjalar dari pipi hingga leher Cahyo sementara kedua tangannya aktif membuka satu persatu kancing beskap sang lelembut yang tunduk di bawahnya. Dengan napas yang memberat, Sahya membenamkan wajahnya di ceruk leher Cahyo. Aroma cendana yang kuat menusuk hidungnya, membuai kepalanya dalam sebuah ekstasi yang merayunya untuk mendekap makhluk buas tersebut dalam genggamannya selamanya.

 

Makhluk buas ... Sahya bertanya-tanya. Apakah bisa makhluk buas sejinak ini? Kedua manik merahnya kosong nan sendu, tangan dinginnya seakan penuh kasih, kakinya memberi ruang untuk Sahya.

 

Sahya kehilangan kesadaran akan waktu yang berlalu, tubuh Cahyo dihimpitnya. Sulur-sulur hitam yang sama dengan yang tercetak di wajah Cahyo turut muncul begitu tubuhnya terekspos. Tangan Sahya menjamah kulit di bawahnya, garis-garis serupa rusuk tersebut tercetak di sana, menjalar dari dada hingga pangkal paha. Telapak Sahya menelungkup tepat di atas simbol berbentuk bintang berkaki delapan di dada Cahyo, jemarinya menelusur ke bawah hingga berakhir di simbol yang sama yang tercetak tepat di bawah perutnya. 

 

Selama ini, yang ia tahu ia suka laki-laki, manusia. Namun ia tak akan menolak yang satu ini.

 

Dahi Sahya berkerut ketika ia tidak menemukan apa yang seharusnya di bawah sana begitu jarik yang Cahyo kenakan disingkirkan. Ia bersumpah pada malam pertama kali mereka melakukan ritual ini, Cahyo memilikinya. Mata Sahya bergerak meratapi selangkangan dan wajah sang lelembut yang polos sekaligus kosong secara bergantian, namun pada akhirnya, ia mengangkat bahu. Mungkin bangsa Cahyo mampu merubah fisiknya sesuai kebutuhan, pikirnya. 

 

Lalu akal sehatnya yang kini terasa lenyap. Napasnya tercekat, sedikit demi sedikit embusan keluar dari bibir Sahya begitu ia menenggelamkan dirinya dalam tubuh sang lelembut. Panggulnya bergerak, tubuh Cahyo melingkupinya erat. Napas demi napas yang ia tarik terasa lebih berat di setiap gerakan. 

 

Dua lenguhan berbeda saling bersahutan, deru napas yang berat, dahi Cahyo menempel erat dengan dahi tuannya, jemarinya tenggelam dalam helaian ikal gelap Sahya, bibirnya menyambut tatkala Sang Tuan kembali menuntut afeksi. 

 

Rutinitas ini tadinya adalah sebuah konsekuensi. Namun cara makhluk itu mengalungkan kedua lengannya pada leher Sahya tatkala ia mendekat malam ini, betapa suaranya tidak hanya lembut dan ringan, Sahya mulai mendapatinya terdengar ... manis. Ini bukanlah sebuah konsekuensi lagi.

 

Ia ambruk dalam dekapan Cahyo. Jantungnya mulai kembali ke tempo normalnya setelah berpacu mengikuti ritme Sahya. Wajahnya tenggelam di bahu sang lelembut, tubuhnya serupa perangko yang enggan dilepas. Sahya mendongak, bibirnya kembali mengais kasih, dan Cahyo, Cahyonya yang berharga, mengasihinya.

 

Orang sinting mana yang bersedia tidur dengan makhluk gaib serupa tengkorak yang berbau seperti rumah duka setiap kali ia melintas? Saya orang sinting itu , pikir Sahya sebelum lelap mengambil alih kesadarannya dengan lengan yang terkunci di pinggang Cahyo.