Chapter Text
Sambil menutup pintu di belakangnya, ekor mata Sahya mengawasi sosok yang masih setia duduk di salah satu sisi ranjangnya semenjak disuruh setengah jam yang lalu. Memang kegelapan adalah habitat yang paling cocok untuknya , pikir Sahya. Lampu minyak yang redup menyinari sebagian diri Cahyo, matanya tampak lebih terang di temaramnya ruang.
Selama seminggu terakhir, Sahya tidak lagi cepat-cepat mengusir keberadaan Cahyo setiap kali ia membutuhkan makhluk itu. Semenjak malam dan pagi itu, entah mengapa aura mencekam Cahyo tidak lagi mencekik jiwanya sebagaimana dua minggu sebelumnya membuatnya merasa seperti itu.
Beberapa abdinya melapor tak nyaman dengan keberadaan sang lelembut yang berkeliaran bebas di rumah. Lewu, anjing peliharaan kesayangannya enggan masuk ke rumah dan jauh lebih agresif dari biasanya selama tiga minggu terakhir, tak henti-hentinya menggonggongi rumah sendiri. Ia bisa mencium desas-desus yang sebentar lagi sepertinya akan beredar di lingkungan sekitar rumahnya. Namun memangnya Sahya Rahagi peduli? Keluar rumah saja tidak gemar, untuk apa dia acuh?
Cahyo turut mendongak ketika Sahya mengulurkan tangan untuk menyentuh pipinya, sorot pandangannya yang sendu menatap kosong Sahya, seakan menunggu sesuatu. Bahkan, Lewu, yang bisa digolongkan sebagai anjing terlatih, tidak sepatuh ini. Cara Cahyo meletakkan sisi kepalanya sepenuhnya pada telapak Sahya yang menangkup sebelah pipinya justru mengingatkannya pada kucing, cuma keangkuhan kucing mana mungkin selembut ini.
Ia bergeser sedikit ketika Sahya beranjak naik ke ranjang untuk duduk di sampingnya. Cahyo merangkak menghampiri, setengah berdiri dengan kedua lutut mengapit paha Sahya ketika tuannya memberi kode untuk mendekat. Ia tidak bereaksi apa-apa tatkala tangan Sahya menyentuh sisi panggulnya, perlahan beranjak ke bokongnya, memberinya remasan kecil.
"Duduk," sahut Sahya, seakan tahu maksud sebetulnya dari kata-katanya, Cahyo duduk jauh lebih dekat dari seharusnya, tepat di atas gundukan yang terasa kaku dan keras di balik jarik tuannya.
Ia menunduk, bibirnya menjamah Sahya, membuka untuk memberi jalan masuk untuk lidah sang tuan yang merindu. Cengkeraman pada bokongnya mengerat, sebelah tangan menarik paksa stagennya hingga lepas sebelum mengoyak ikatan yang mengamankan jarik yang membalutnya dari pinggang hingga betis. Tangan Sahya menelusup, menekan erat punggungnya dari dalam.
Cahyo penurut, tapi bukan makhluk tolol. Dan merupakan takdirnya untuk memastikan yang terbaik untuk tuannya. Dan ia juga tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari ketidak nyamanan Sahya di hari-hari pertama ikatan mereka. Di jeda pergelutan bibir mereka, ia berbisik, "Tuan tidak perlu melakukan ini."
"Memang tidak perlu." Sahya langsung menarik kembali kerah peliharaannya untuk menunduk. "Tapi aku mau," lanjutnya. Tidak memberi kesempatan Cahyo untuk balas menyahut, bibirnya kembali mengajak pasangannya untuk berseteru.
Sahya menyumpah serapah dalam hati ketika matanya terpejam erat sementara Cahyo mengambil alih mengecupi lehernya. Si keparat ini , pikirnya. Sebetulnya mereka tidak perlu melakukan ini sampai minggu depan, ia masih menyimpan sebagian dari cahaya Cahyo. Itu yang membuat Cahyo setia kepada tuannya, siapa pun yang memiliki sebagian kecil kekuatannya akan ia anggap berhak berotorisasi atas dirinya, kekuatan yang ia serap setiap kali mereka terjalin bersama secara fisik. Dan kekuatan itu tidak akan hilang cepat, setidaknya ritual itu hanya diperlukan sewaktu-waktu saja.
Namun Sahya mendamba... Sahya Rahagi sangat mendamba, jiwanya mengais-ngais, menjerit menginginkannya lagi, dan lagi, dan lagi. Satu minggu. Ia hanya tahan satu minggu. Sahya bukan tukang pengisap kretek seperti pria-pria pada umumnya di sekitarnya, namun beberapa hari terakhir ia mulai berandai-andai apakah begini rasanya menjadi mereka yang bergantung pada sebatang campuran tembakau cengkih itu?
Kedua tangannya beralih menangkup pipi bergurat makhluk di pangkuannya, dengan napas tersendat, ia menitah, "Gesek."
Jariknya perlahan mulai terasa menyesakkan, lengket, gerah seiring Cahyo bergerak maju-mundur pendek-pendek di atasnya. Tangannya mulai membuka satu per satu kancing yang menghalangi tubuh Cahyo, punggung sang lelembut menekuk ke depan ketika ia menekannya, membenamkan wajahnya di dada makhluk itu sebelum kecupannya menjalar dari pangkal leher hingga dada.
Aroma serupa dupa menusuk hidungnya, Sahya merasa sempoyongan setiap aroma tersebut hinggap di otaknya, membuat setiap indranya berdesir. Matanya menatap lekat-lekat sosok di hadapannya, agaknya ia mulai sinting untuk berpikir bahwa wajah itu terlalu rupawan untuk dilewati begitu saja. Rupawan , dengusnya. Rupawan penuh tanda tanya, makhluk satu ini bahkan tidak berhidung, dan Sahya mendapati dirinya tertarik padanya?
Deretan pikiran demi pikiran yang berkecamuk di kepalanya sontak menghilang disusul dengan lenguhan yang lolos dari bibirnya ketika ia merasakan taring yang menancap kecil, tidak sampai menembus kulitnya, bersamaan dengan semakin tertekannya tonjolan di bawahnya.
Menit selanjutnya Cahyo telah rebah di bawahnya, kaki mereka tersangkut satu sama lain, Sahya mengambil alih apa yang dilakukan Cahyo sedari tadi sementara panggul sang lelembut menggeliat kecil.
"Tuan—" Inti diri mereka masih bersinggungan satu sama lain, wajah Sahya terbenam di lekuk leher Cahyo.
"Ndoro, Gusti Sahya—" kecupan Sahya menjalar hingga ke pipi sebelum berakhir di bibir lagi. Namun pada akhirnya Cahyo berhasil mengatakannya. "Ndoro bisa langsung saja, saya ndak perlu ini. Majikan-majikan lama saya lebih sering—"
"Dan aku bukan majikan lama kamu, ya toh?" potong Sahya, pinggulnya semakin menempel dengan pinggul Cahyo, sekali lagi bersinggungan.
"Bukan, Ndoro."
"Bukan?"
"Bukan."
Tanpa disadarinya, senyuman tipis tersungging di wajah Sahya. "Nah. Tuh, pinter." Ia berhenti sejenak, setengah tidak sadar. "Cantik...ku."
Bibir masih saling memadu kasih, remasan tangan Cahyo pada helaian ikal tuannya sedikit menguat sesaat tatkala Sahya Rahagi menelusupkan dirinya. Kemudian ia tidak bergerak, sama sekali. Ranjang tak sedikit pun berdecit, wajah masih saling melahap satu sama lain. Namun Sahya Rahagi masih bergeming.
Dalam rengkuhan Cahyo, mereka berpandangan. Kendati air muka sang lelembut netral, Sahya mendapati keanehan yang melingkupinya, ketidak pahaman akan apa yang sebetulnya sang tuan inginkan. Mereka saling berhadap-hadapan sedari tadi, Sahya yang mencumbunya tanpa henti sedari tadi, dekapannya, semua hal baru; asing yang dicurahkan tuannya kepadanya, Cahyo tidak akrab dengan pola ini. Tidak ada yang melakukan ini. Sekalipun ada yang menginginkan tubuhnya, tak sedikit pun afeksi pernah menyentuhnya. Untuk pertama kalinya, sang geni ayu tidak tahu apa yang majikannya inginkan.
Sahya memiringkan kepala, menyugar ke belakang ikal yang mulai berjatuhan di dahinya sebelum menyapu bibir bawah peliharaan barunya dengan ibu jari. "Aku mau lama-lamaan. Bisa?"
"... Bisa, Ndoro."
"Bagus," bisik Sahya. "Ndak akan aku lepas kamu."
