Actions

Work Header

Faded

Summary:

Setiap gulir waktu, Taeyong terus mempertanyakan tentang mengapa kisah cintanya terbelit di seseorang yang cukup mustahil untuk digapai. Itu rumit. Serumit perasaannya, serumit dirinya sendiri.

Chapter Text

Decakan dibuat oleh Taeyong dengan rasa kesal sebelum memutar matanya dengan malas, bosan dengan temannya yang terus-menerus mengoceh di belakang. Sungguh? Apakah harus ketika Taeyong lelah dengan apa yang telah dia lakukan seharian ini? Timing-nya tidak tepat, Doyoung.

"Sudah?" Taeyong berhenti dan membalikkan badannya agar menghadap sang sahabat, mengangkat alisnya dengan menantang. Dia yakin jika Doyoung hilang kesabaran, temannya itu akan mencekiknya hidup-hidup. "Jika sudah, aku akan pergi. Terima kasih untuk nasihatnya."

Sebelum Doyoung membuka mulut, Taeyong berbalik. Biarkan dia dijuluki orang terbebal sedunia, dirinya tidak terlalu peduli jika sudah lelah. Akal sehatnya sudah meloncat hilang ke mana--tidak ada yang tahu.

Kemudian sahabatnya mulai menggerutu lagi, "Astaga, Taeyong, apakah kau mau memasang telingamu sekali saja untuk kali ini? Aku tidak akan marah jika kau--"

Dan dengan itu saja, Taeyong kembali berjalan dan meraih jaket yang tergantung sebelum membanting pintu agar menutup. Memotong segala pembicaraan yang dilakukan Doyoung. Dia meraih saku celana untuk mengeluarkan ponsel dan mengganti ke mode senyap, tahu bahwa Doyoung akan terus menerornya selama semalam ke depan.

Taeyong tahu Doyoung tidak akan mengejarnya dan menyeretnya agar kembali ke asrama secara fisik, bagaimanapun dia masih memiliki hak pribadi untuk dirinya sendiri atas apa yang dia lakukan. Pun Taeyong tidak suka dipaksa secara fisik juga. Doyoung hanya terlalu khawatir, tidak ada yang lain.

Setelah cukup jauh dari asrama, Taeyong berhenti sejenak dan berpikir tentang apa yang akan dilakukan. Tentu, ia menolak istirahat dari stress-nya hari ini dan memilih untuk mencari udara segar. Karena Taeyong tidak bisa istirahat tanpa pemicu, dia tidak akan bisa berhenti dan akan mendorong melewati batasnya sendiri.

Tapi bukan udara seperti ini yang dicari Lee Taeyong sekarang.

Jadi ia pergi ke suatu bar yang berada di sana, cukup dekat jika Taeyong pergi menggunakan taksi atau kendaraan umum yang lain. Tapi mengingat bahwa ini sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Taeyong percaya bahwa dia akan kesulitan untuk mendapatkan kendaraan umum.

Entah bagaimana caranya dia bisa sampai di tempat yang penuh dengan udara panas dan bising suara bass, bau alkohol juga berbagai macam parfum atau pun keringat. Namun ini yang Taeyong cari.

Ponsel tidak dia pedulikan, mungkin Doyoung telah mengiriminya lebih dari empat puluh pesan. Memikirkan itu membuat Taeyong terkekeh pelan, dia akan meminta maaf besok.

Walaupun kemungkinan Doyoung memaafkannya sangatlah kecil.

Mengusap rambutnya yang jatuh di dahi secara singkat, ia berjalan di kerumunan orang dan menuju tempat duduk kosong di bar dan memesan. Toleransinya terhadap alkohol memang bisa dibilang lemah, namun itu yang Taeyong inginkan. Dia ingin lepas dari pikirannya untuk sementara waktu sehingga bisa istirahat dan tidur dengan tenang.

Walaupun kemungkinan terbesar dia tidak akan tidur di tempatnya sendiri. Sudah bisa diprediksi, Taeyong akan kehilangan kesadaran dan otaknya untuk menolak siapa pun yang mengajaknya tidur malam ini.

Oh, persetan. Taeyong tidak peduli. Bagaimana pun ia akan menghabiskan malam, keesokan harinya dia hanya akan mendorong dirinya lagi untuk kepentingan sekolahnya, kerjanya, tanggung jawabnya. Jadi semua akan kembali berputar seperti semula, tidak ada yang berubah.

Suara bass dari musik berdengung lumayan keras di telinga laki-laki yang sekarang akan menghabiskan satu gelas alkohol pertamanya malam itu. Tapi mungkin dia sudah terbiasa, karena namanya saja klub.

Mendesah, Taeyong mulai merasakan alkohol masuk ke dalam sistemnya. Agaknya dia akan lebih cepat mabuk seperti biasa, walaupun dalam hati berharap akan lebih tahan lama karena dia ingin menikmati sisa harinya di sini.

Di sana cukup ramai walaupun bukan akhir pekan. Melihat sekilas di lantai dansa--yang sebenarnya hanya tempat di mana orang-orang menari sesuka hati mereka, Taeyong memiringkan kepalanya sedikit, mulai berpikir dia akan pergi ke sana atau tidak.

Ketika dia ingin membalikkan badan ke bar dan menenggak seluruh alkohol di gelasnya sampai habis, dia menangkap sosok pria yang menunduk ke meja jauh di sampingnya. Penasaran atau sudah mabuk, Taeyong segera berdiri dan menghampiri pria itu. Tidak ada niat apa pun yang jelek, tapi di mata Taeyong sendiri sang pria lumayan menarik. Setiap orang yang pergi ke sini pastinya butuh hiburan, bukan? Apa pun motif atau konteksnya. Jadi tidak masalah.

Memilih duduk di samping si pria asing, Taeyong berkedip untuk sedikit menjernihkan pikirannya, setidaknya dia berusaha, sebelum mengeluarkan gumaman lembut. "Baik-baik saja, Tuan?"

Tidak akan bertanya jika tidak ada motif. Taeyong tahu karena di meja tepat di depan si pria asing, ada satu setengah botol alkohol yang kosong. Mengerti maksudnya apa. Bisa dibilang sepertinya pria itu sudah mabuk berat.

Berkedip lagi saat si pria yang dimaksud mendongak dan menatap matanya, Taeyong berpikir mungkin dia tidak akan menemukan orang setampan pria itu lagi di dunia. Karena memang, sungguh ... sangat tampan. Mungkin Taeyong akan mempertaruhkan apa yang dia punya agar sang pria bisa menidurinya di tempat---

Atau karena Taeyong juga sedang mabuk?

"It's okay, don't worry," katanya dalam Bahasa Inggris. Dan Taeyong hanya menganggukkan kepala, senyum kecil muncul di bibirnya yang merah muda. Tapi jika didengarkan secara baik-baik, suara si pria itu sedikit melantur.

"Ingin dansa di sana?" Taeyong akhirnya menawarkan setelah beberapa saat keheningan dengan menunjuk tempat yang penuh orang menari pada musik keras klub. "Sebenarnya lumayan sesak kalau ramai seperti itu, apalagi cukup panas dan nanti--"

Yang tidak diharapka Taeyong adalah sebuah tarikan di lengannya oleh si pria asing yang sangat tampan tadi. Tarikannya lumayan keras hingga Taeyong sedikit tersentak, tapi kemudian dia senyum dengan bangga saat mereka berjalan memasuki kerumunan.

"Sangat bersemangat, bukan?"

Gerakannya kasar saat si pria asing membalikkan tubuhnya agar menghadap ke dia sebelum menyentuh pinggulnya dan menariknya mendekat hingga menempel tanpa menyisakan jarak sama sekali.

Taeyong terengah-engah, telapak tangan mendarat ke dada si pria secara spontan dalam sekejap sebelum bergerak ke atas untuk mengalungkan lengannya ke leher sang pria yang lebih tinggi darinya.

Mereka bergerak sesuai irama---atau bahkan tidak peduli dengan apa pun selain orang yang berada tepat di depannya sekarang. Mungkin memang benar-benar mabuk alkohol, atau pria di depannya yang membuatnya mabuk dua kali lipat, Taeyong tidak tahu dan tidak mau tahu.

Tidak ada kata yang mereka ucapkan, hanya masing-masing yang tenggelam dalam kesadarannya sendiri yang seharusnya mengambil alih kendali. Benar, mereka sama-sama lepas kendali.

Tubuh mereka berkeringat, lama-lama udara di sana terasa makin panas, tapi di sisi lain mereka semakin bersemangat. Entah bagaimana mereka melalui ini, tapi sekarang tangan besar si pria asing itu mencengkeram rambut Taeyong dan memaksanya buat memiringkan kepalanya.

Desahan keluar dari mulut Taeyong, tangannya berebut ke kemeja si pria dan mulai melepaskan dua kancing paling atas. Mengerang terlalu keras ketika merasakan gigitan tajam di lehernya, Taeyong juga merasakan gesekan di antara pinggulnya.

Pria ini sangat panas. Taeyong tidak bisa berpikir jernih.

"Ayo---ayo ke tempatmu," gumam Taeyong dengan suara yang hampir tercekik, menahan semuanya tidaklah mudah apalagi saat rambutnya yang di dalam cengkeraman digerakkan lagi agar pria itu bisa mencium bibirnya. Dalam tapi sekejap. Taeyong kecewa.

"Johnny," suara berat dan serak si pria memenuhi inderanya. Kepala Taeyong seperti melayang. "Namaku."

Mengendalikan napas akibat semua perlakuan pria bernama Johnny tadi, dia menjawabnya, "Taeyong."

Malam akan terasa lebih panjang.

 


 

Punggung Taeyong langsung bertabrakan dengan kasur yang memiliki sprei lembut, sepertinya bed itu sendiri berukuran king size. Taeyong akan betah untuk tidur seharian di kasur yang seperti ini, bukan seperti yang ada di asramanya. Bukannya dia mengeluh.

Tapi, persetan, bukan itu lagi yang dia pedulikan sekarang. Rasa tubuhnya memanas, napasnya juga terengah-engah, tangan berusaha menarik-narik rambut Johnny yang kini mengungkungnya. Kepalanya mendongak ketika lehernya dipenuhi oleh gigitan dan hisapan memar yang lain.

Kalau otaknya masih bisa berpikir masuk akal, mungkin Taeyong sudah memikirkan bagaimana caranya menutupi bekas-bekas itu besok. Pria di atasnya sungguh agresif dan tidak lembut sama sekali, tapi Taeyong benar-benar senang.

Hancurkan dia, dia sangat menginginkan itu.

"Ah---" erangannya tertahan ketika pahanya dipaksa melebar oleh lutut yang lebih besar, merasakan bahwa vaginanya yang masih terbungkus celana menjadi basah ketika dengan sengaja disentuh oleh Johnny. "Sial, lakukan saja."

Mendengar dengungan Johnny hanya membuat Taeyong semakin basah dan terangsang. Semuanya, apa pun tentang dirinya dan apa yang dilakukannya sangat seksi dan panas. Taeyong bersumpah dia akan menghisap batang pria itu sampai tersedak dan tenggorokannya dipenuhi cum nanti.

"Hm?" Pria yang terlihat lebih tua itu bersenandung sebelum mendengus, jemari melepaskan satu per satu kancing Taeyong dan menunjukkan kulit pucatnya. "Sangat tidak sabar?"

Terengah saat putingnya bergesekan dengan bantalan ibu jari Johnny, punggung Taeyong melengkung saar yang lain mengusap dan terkadang memelintir menggunakan ibu jari dan telunjuknya.

Mungkin saja pria itu sudah menebak jika putingnya sangat sensitif. Vaginanya sudah berkedut sekarang, tangannya berebut ke rambut gelap yang lain saat merasakan lidah hangat dan basah di putingnya sebelum Johnny menghisapnya.

"Ssshh, tenang," dengkurnya lagi. Taeyong sudah tidak sabar lagi, ketika dia ingin menggulingkan pria tersebut kemudian mengambil kendali, tangan besar yang lain bergerak turun untuk meggosok klitoris di mana masih terbungkus celana. "Angkat."

Taeyong mengangkat pinggulnya, dan tangan Johnny dengan cekatan melepas celana itu. Melepas semua kain yang melapisinya sebelum melemparkan dengan sembarangan ke lantai. Kulit telanjang Taeyong sedikit menggigil saat langsung bersentuhan dengan dinginnya udara, dia seketika mengerang ketika vaginanya diusap dengan arah memutar hingga klitorisnya.

Gerakan bantalan jarinya cukup cepat, Johnny meredam erangan Taeyong dengan bibirnya sendiri, memasukkan lidahnya ke dalam mulut itu dan menciumnya dengan agresif; mengabsen seluruh gigi dan langit-langit mulut Taeyong, menggigit dan menghisap lidah serta bibirnya. Suara decapan basah bibir dan saliva mereka menggema di ruangan.

Taeyong sepertinya akan gila, dia akan menuju ke klimaksnya tanpa dijejali dan hanya dari gerakan kasar tangan Johnny. Oh, dia bersumpah tidak pernah seperti ini sebelumnya. Bahkan belum ada lima belas menit sejak mereka jatuh ke kasur, Taeyong sudah berantakan.

Mencengkeram pergelangan tangan Johnny dengan kuat, ia melemparkan kepalanya ke atas dan mengerang lagi. "Aku akan ... please, please, I'll cum---"

"Siapa yang melarang?" Johnny tidak berhenti, tentu saja. Gerakannya semakin cepat dan membiarkan Taeyong mengeluarkan cairan dengan punggung yang melengkung.

Pikiran Taeyong masih memproses kewarasan dari apa yang terjadi, mani merembes di selangkangannya dengan sedikit tidak nyaman. Hal berikutnya yang Taeyong tahu, adalah bahwa tubuhnya dibalikkan oleh yang lain dan pinggulnya terangkat. Tidak lama sebelum satu jari memasuki vaginanya, napasnya tersendat. Taeyong segera membutuhkan lebih, itu tidak cukup, dia ingin lebih.

"Lebih ..." dia mengerang, menempelkan wajahnya ke sprei saat keinginannya dituruti. Dua jari tebal dan panjang masuk perlahan, lalu dia merasakan bahwa jari-jari itu bergerak secara menggunting di dalam dirinya. Jari kaki Taeyong melengkung,

Mendengar kekehan dari Johnny, Taeyong diam-diam mengutuk dalam hati. Jari ketiga masuk; dan saat masuk, tubuh Taeyong menegang. Johnny menemukan letak di mana titik sensitifnya berada.

Dia merasakan kecupan lembut di punggung dan pundaknya saat mendengar bisikan, "Sangat cantik. Jangan menahan suaramu, biarkan aku mendengarnya."

Kemudian selanjutnya, Johnny menggerakkan tiga jarinya di dalam vagina Taeyong secara cepat dan kasar.

Sprei menjadi kusut karena tarikan oleh laki-laki yang lebih kecil. Kewarasannya terbang entah ke mana, yang dirasakannya sekarang hanya bagaimana jari-jari Johnny meregangkannya dan menidurinya dengan agresif. Inikah yang dicari Taeyong selama ini?

Di dalam ruangan hanya terdapat suara erangan Taeyong dan tabrakan kulit yang basah antara jari dan lubangnya. "Sial, aku tidak memiliki kesabaran untuk menidurimu. Kau bisa datang lagi, Sayang? Aku akan menidurimu jika kau datang lagi dari jariku."

Taeyong hanya bisa merintih, dia menggelengkan kepalanya, dia ingin klimaks saat kejantanan Johnny ada di dalamnya. Tapi Johnny tidak akan menidurinya jika dia tidak keluar dan itu membuat dirinya putus asa. Gerakan kasar jari-jari pada lubangnya sama sekali tidak membantu, yang ada semakin cepat; membuat akal sehatnya melayang lagi.

Taeyong tidak berpikir bahwa dia bisa keluar tanpa sentuhan di klitorisnya, tapi di sini dia merasakan klimaksnya datang untuk kedua kalinya malam itu. Mengetahui fakta bahwa pria di atasnya bisa menguraikan Taeyong menjadi tidak berdaya dalam waktu singkat membuatnya semakin gila.

"Please ... I'll be good for you."

Mungkin dari apa yang Taeyong katakan membuat sesuatu dari dalam diri Johnny muncul.

"Good boy," jawab sang pria itu. Mengusap bahu dan punggung hingga pantat dan paha Taeyong secara sugestif, dia menambahkan, "Then ... "

Tamparan itu terasa membakar di kulitnya, tubuh Taeyong sedikit terlonjak karena terkejut dan kesakitan. Johnny menampar vaginanya dengan keras ketika jari-jari itu menidurinya. Hal itu hanya membuat Taeyong semakin dekat ke tepi, ia merintih tidak karuan, keringat membasahi pelipisnya, penglihatannya memburam.

"Do you like it?" Johnny bertanya ketika mengusap hasil tamparan di kulitnya tanpa menghentikan gerakan tangan yang lain, mungkin vagina Taeyong memerah karenanya. Melambatkan gerakan keluar masuk di lubangnya, Johnny mendengus geli saat Taeyong menggerakkan pinggulu sendiri---membujuk agar dia melanjutkan gerakannya. "Ingin lagi?"

Taeyong mengangguk tanpa ragu, sprei mulai basah karena salivanya. Dia mengerang lagi saat mendapatkan tamparan berikutnya, bersamaan dengan gerakan cepat dan basah jari-jari Johnny; menusuk secara kasar ke titik sensitifnya. Kini Taeyong mendapatkan tamparan pada sisi pantatnya lagi secara bergantian, lagi, lagi, dan lagi hingga dia menyemburkan air mani.

Oh, Taeyong benar-benar berantakan. Bahkan Johnny belum menidurinya.

Yang dipertanyakan oleh Taeyong adalah apakah Johnny benar-benar mabuk?

Napas tersengal keluar dari pria yang lebih kecil, merintih ketika merasakan lubangnya tidak terisi apa pun karena Johnny nenarik jari-jarinya. Pantat dan vaginanya terasa panas dan membakar, tapi dengan cara yang sangat baik. Tubuhnya lemas, dan juga bisa-bisanya Taeyong keluar dua kali dalam waktu secepat itu?

"Masih bertahan?"

Dia mendengar suara berat dan mengintimidasi yang datang dari belakangnya saat Taeyong mencoba untuk mengatur napas.

Sepertinya percuma jika Taeyong menjawab dia tidak akan bisa bertahan, karena tanpa menunggu jawaban, Johnny menarik kaki Taeyong dan dengan mudah membalikkan tubuh kecil itu.

Yang dirasakan Taeyong selanjutnya adalah Johnny menciumnya lembut namun sangat dalam, sebelum yang lebih tua bergumam, "Aku akan memberimu malam yang sangat baik walaupun kau tidak akan bisa mengingatnya besok."

 


 

Hal yang diketahui oleh Taeyong saat dia membuka matanya pada hari itu adalah dinding putih polos dengan cahaya hangat dari matahari yang menyelinap melalui tirai. Itu hal yang pertama. Sedangkan hal yang kedua ialah; kepalanya seakan seperti berputar, isi perutnya serasa diaduk, dan dia tidak mengenakan sehelai benang pun.

Baik. Apa pun yang dilakukannya tadi malam, mungkin adalah hal yang bisa dia duga, dan dia telah terbiasa. Namun tidak seperti biasanya, Taeyong sendiri entah mengapa tiba-tiba gugup ketika menoleh ke samping. Bukannya ia takut siapa yang akan dihadapi setelah sadar dari mabuknya, tapi bagaimana jika dia telah tidur dengan orang yang seharusnya tidak tidur dengannya?

Seperti, saudara atau sahabatnya? Hubungan mereka tidak lebih akan hancur. Akan lebih baik jika seseorang di sampingnya adalah orang asing yang benar-benar tidak dia kenali.

Dengan pandangan sekilas, Taeyong menangkap wajah dewasa seorang pria yang masih kabut dalam tidurnya, mungkin masih ke dalam mimpinya. Jika dia memiliki waktu, nungkin juga Taeyong akan menyembah betapa tampannya si pria itu.

Tapi tidak. Isi perutnya saat ini jauh lebih penting. Jadi Taeyong menendang selimut yang melilit kakinya sehingga dia bisa turun dari ranjang, mengutuk ketika merasakan bahwa pantatnya sakit--tentu saja, yang disayangkan hanyalah bahwa Taeyong tidak bisa mengingat apa pun yang terjadi tadi malam.

Oh, mungkin kehidupan sebelumnya peran hidup Taeyong adalah menjadi pemberontak. Mengapa tidak? Kesempatan untuk bercinta dengan laki-laki yang begitu panas dalam keadaan sadar sepenuhnya telah dia hancurkan sendiri.

Alkohol keparat.

Kakinya tersandung ketika bergegas ke kamar mandi yang ada di dalam ruangan, tanpa menunda waktu lagi mengeluarkan seluruh isi perutnya dan muntah. Kepalanya terasa lebih ringan, dia menarik napas. Keluar dari kamar mandi hanya untuk mencari pakaiannya yang berserakan di lantai, memilah antara miliknya sendiri dan milik pria asing itu.

Gerakan tubuhnya tiba-tiba membeku ketika mendengar suara erangan yang berasal dari atas ranjang. Gugup menguasai dirinya. Jujur saja, tidak biasanya Taeyong seperti ini, jadi dia berusaha menutupi kegelisahannya yang datang entah dari mana dan menoleh ke arah pria yang sekarang ini sedang duduk; menatapnya dengan seringai malas, rambut keluar dari tempatnya, dan mata yang sayup.

Dewa ini turun dari mana?

"Bunuh saja aku," tanpa sadar Taeyong bergumam lirih.

Mendapatkan tanggapan berupa alis sang pria yang terangkat geli--kemungkinan besar dia mendengar rancauan Taeyong, persetan, Taeyong tidak peduli---dia menyadari bahwa ponselnya tidak ada.

Ponsel lebih penting dan pria seksi itu seketika terabaikan. Bagaimana jika sahabatnya---Doyoung mencari dan khawatir karena sudah berapa jam Taeyong tidak mengirimi pesan atau memberi kabar? Bagaimana jika boss-nya tiba-tiba memberitahukan jadwal shift mendadak dan dia harus kerja detik ini juga? Bagaimana jika dosennya menagih tugas dan harus terkumpulkan menit itu juga?

Kehidupan Taeyong akan berakhir.

"Mencari apa?" suara berat dan serak mencapai gendang telinganya. "Kau bisa menggunakan pakaianku yang ada di lemari jika itu terlalu kotor untuk kau kenakan. Ambil saja."

Taeyong tahu jika rambutnya sendiri sudah tidak terbentuk dan seperti sarang burung, tapi itu tidak menghentikannya untuk mengacak-acak rambut hitam itu. Frustasi dengan pikirannya sendiri. "Aku mencari ponselku. Apakah kau tahu? Aku harus menghubungi temanku atau setidaknya mengetahui notifikasi."

Pria asing itu mendengus, Taeyong mendengar suara gemerisik selimut dan seprai. "Kupikir kau tidak membawa ponselmu? Tidak ada sejak kemarin."

Berkedip ketika menyadari sesuatu, Taeyong mencoba menggali ingatannya semalam saat di bar, tentunya sebelum pikirannya hanyut karena alkohol. "Sial. Sepertinya aku melupakan ponselku di sana."

Berdecak penuh kecewa karena ulahnya sendiri, dia mengambil pakaian yang tergeletak di lantai. Itu adalah kemejanya, sedikit berbau alkohol, tapi tidak masalah karena Taeyong akan pergi dari sana sesegera mungkin.

"Kau bisa memakai ponselku untuk sementara waktu," gumam si pria asing yang sekarang membuka lemari dan mengenakan kaos. "Ada di nakas, gunakan saja. PIN-nya 888000."

Baik, Taeyong sempat ragu untuk menerima tawaran kebaikan yang diajukan tersebut. Dia akan menolak jika tidak khawatir akan sahabatnya, dan selain itu, menghubungi Doyoung sebelum dirinya menunjukkan batang hidungnya di asrama adalah salah satu antisipasi agar mereka tidak melanjutkan pertengkaran semalam.

Jadi Taeyong mengangguk dan mengambil ponsel di nakas, menghubungi Doyoung--diam-diam bersyukur karena dia mengingat nomor sahabatnya untuk keadaan darurat seperti ini--yang sebenarnya tidak terlalu darurat.

Tetapi berikutnya, napas Taeyong tercekat. Kontak Doyoung telah tersimpan di ponsel itu. Dia melirik sang pria asing yang kini tidak ada di ruangannya, mungkin ke ruangan lain--untuk apa Taeyong tidak peduli, karena yang dipedulikan adalah;

Hubungan apa yang dimiliki Doyoung dengan seorang pria yang telah tidur dengannya?

Bagaimana jika dia adalah teman kencan Doyoung yang sengaja disembunyikan sahabatnya, yang menjadi topik pembicaraan atau curhat padanya akhir-akhir ini? Bagaimana jika dia adalah sepupu Doyoung yang belum terungkap sampai saat ini? Dan segala macam kemungkinan.

Itu berlebihan, namun bukan Taeyong namanya jika tidak berlebihan dan dramatis.

Dia menggigit bibirnya ketika memutuskan untuk membuka kolom chatting dan memeriksa. Jantungnya berdegup kencang, sengaja menghadap ke arah pintu untuk berjaga-jaga jika si pria itu masuk dan langsung memergokinya.

Menggulir pelan dan membaca setiap kata, detik berikutnya yang dilakukan oleh Taeyong adalah membelalakkan mata. Napasnya tercekat untuk kedua kalinya. Karena Demi Tuhan dan Alam Semesta, apakah dunia memang begitu sempit?

Karena pria asing itu tidak lain tidak bukan adalah dosen pembimbing Kim Doyoung: Johnny Suh.

"Sial," Taeyong segera mengurungkan niatnya untuk menghubungi Doyoung dan segera menutup ponsel. Dia harus keluar dan dia harus pulang, dia harus bekerja dan kuliah dan melanjutkan kehidupannya yang berwarna, dia harus menjaga agar namanya tetap aman dan bersih.

Jadi dosen yang dibicarakan oleh Doyoung adalah dia. Demi Tuhan. Taeyong tidak terlalu memperhatikan setiap orang di kampusnya, terutama untuk orang yang tidak memiliki sangkut paut terhadap kelasnya. Doyoung sendiri berada satu tingkat di atasnya, juga berbeda jurusan. Itulah alasannya.

Kemungkinan besar Johnny Suh juga tidak mengenali siapa dirinya, terutama karena Taeyong tidak terlalu aktif di organisasi universitas. Dia hanya pergi untuk kelas dan pulang untuk kerja, itu rutinitasnya.

Jadi mereka bercinta tanpa mengenali satu sama lain.

Tidak ada yang dipermasalahkan, sebenarnya. Tetapi jelas itu akan menjadi skandal besar di kampus. Terutama dengan fakta yang diingat oleh Taeyong dari yang dikatakan Doyoung, bahwa Johnny Suh memiliki dua orang anak.

Apakah Taeyong akan menjadi perusak rumah tangga yang melibatkan perselingkuhan?

Oh. Hidupnya akan hancur sebelum dia mendapatkan gelar sarjana.

Mengambil tas, Taeyong segera keluar dari kamar. Langkahnya terlalu terburu-buru, ia gugup dan banyak pikiran berkecamuk di dalam kepalanya hingga tidak menyadari bahwa dia menabrak tubuh Johnny Suh.

"Sudah?" suara berat itu memberikan tanya, Taeyong hanya menunduk seakan jika dia menatap wajah pria itu, maka riwayat Taeyong akan habis. "Kau bisa tinggal di sini lebih lama, tapi aku harus segera pergi bekerja."

Ya, sama, Taeyong juga akan pergi ke tempat di mana dia bekerja. Tetapi untuk tujuan yang berbeda.

"Tidak. Tidak. Aku harus segera kembali, temanku sudah mencari," ucap Taeyong dengan senyum tersendat yang dipaksakan. "Terima kasih, kurasa?"

Terkutuklah Johnny Suh beserta ketampanan dan seksinya, Taeyong akan bertekuk lutut dan bersedia menghisap kejantanannya lagi jika dia bukan salah satu dosen di universitas di mana Taeyong mengejar gelarnya.

Kekehan pelan dikeluarkan Johnny, dan Taeyong merasakan kulitnya merinding. "Baiklah. Hati-hati. Pria secantik dirimu harus berhati-hati jika di tempat publik."

Tidak tahu harus menanggapi bagaimana, Taeyong berterima kasih lagi tanpa tujuan dan segera pergi.

Jika terlalu lama berada di sana mungkin dirinya menjadi gila.

Atau pulang hanya dengan nama.

 


 

"Aku tidak tahu harus berapa kali--"

Menghela napas, Taeyong memutar matanya. Dia berpikir bahwa dirinya akan benar-benar mati jika memberitahu Doyoung yang sebenarnya telah terjadi. Tidak terutama Johnny Suh memiliki keluarga.

Jadi Taeyong apa? Selingkuhannya? Mungkin itu adalah sebutan yang paling tepat. Apa lagi memang?

"Kau beruntung aku kembali, Doyoung."

Doyoung mengambil tasnya setelah selesai memakai sepatu, sepertinya dia terburu-buru untuk pergi ke kampus. Mengingat banyak yang harus diurus oleh sahabatnya itu meskipun sudah berada pada semester akhir. Justru itu, bukan?

Doyoung menghela napas, menoleh ke arahnya dengan tatapan yang membuat Taeyong ingin menangis di pelukannya. Dia menarik napas lembut, berjaga-jaga kalau tiba-tiba menjadi sentimental.

"Kau tahu itu. Aku beruntung karena kau kembali dalam keadaan utuh."

Dan mereka menanggapi hanya dengan diam. Keduanya mengerti tanpa kata-kata, mereka mengerti lebih dari sekedar kalimat dan tindakan yang telah dilakukan dan ditunjukkan.

Tapi dia juga tidak bisa menahan rasa penasaran. Jadi Taeyong diam-diam berdoa pada Tuhan atau apa pun yang mendukungnya agar Doyoung tidak terlalu menaruh kecurigaan pada apa yang akan ditanyakannya.

"Boleh aku ikut?"

Doyoung menaikkan alisnya, bertanya-tanya apa yang merasuki Taeyong sehingga dia memiliki inisiatif untuk keluar asrama di hari liburnya selain untuk bekerja dan--dalam kasus lain, mencari hiburan seperti semalam.

"Kau yakin? Aku akan ke organisasi terlebih dahulu, kau tahu akan ada banyak orang asing dan setelah itu aku mungkin harus menemui--"

"Ya, ya, aku akan ikut denganmu!" Taeyong tersandung dari tempat tidur di mana dia berguling-guling sebelumnya dan segera mengambil sweater juga tas selempangnya. "Aku akan mati bosan di sini, aku ingin membeli beberapa makanan manis atau es krim--ayo pergi ke toko roti yang baru buka di sebelah stasiun di sana--"

Dan Taeyong terus mengoceh ketika Doyoung mengembuskan napas pasrah sebelum mengunci pintu asrama setelah mereka berdua keluar. Dalam perjalanan pun seperti itu, dan hal tersebut adalah kebiasaan mereka.

"Kurasa aku harus mengambil pekerjaan yang ditawarkan Yuta," Taeyong bergumam pelan ketika berada di belakang Doyoung yang tengah mencari buku di rak toko. Tentu saja dia meliht pergerakan tangan Doyoung yang terhenti. Oh, sahabatnya terkejut dengan keputusannya.

"Tidak mungkin," jawabnya, menarik buku tipis bersampul hitam dan memeriksanya sesaat. "Kau tidak akan mengambil pekerjaan itu, persetan, Taeyong."

Dan itu membuat Taeyong mendengus, mengerucutkan bibirnya sedikit sebelum melirik ke samping. Tahu bahwa Doyoung tidak akan mendukungnya. "Tapi aku membutuhkan uang."

Meletakkan bukunya lagi, kini Doyoung menghadap Taeyong dengan benar. Ia sengaja melangkah maju dan membuat sahabatnya terpojok sebelum menyandarkan tangannya ke samping kepala Taeyong. "Berapa kali aku harus memberitahumu bahwa kau bisa--"

"--menggunakan uangmu dulu?" sela Taeyong. Ia menatap Doyoung dengan pandangan tajam, sama sekali tidak terpengaruh dengan terpojoknya dia. "Kau tahu sendiri aku sudah menjadi parasit selama kau memberiku tumpangan di kamar asramamu."

Berkedip sesaat, Doyoung mendekatkan wajahnya kemudian, menatap Taeyong dengan dalam sebelum bergumam rendah dan pelan, "Aku benar-benar akan menciummu kalau kau tidak diam."

Oh, Taeyong menganggap itu sebagai sebuah tantangan. Jadi ia menyeringai, menyilangkan lengannya pada dada. Tidak mungkin Doyoung melakukannya. "Aku bertaruh kau tidak akan tahan."

Dan itu adalah waktu yang singkat sehingga Taeyong tidak dapat memproses.

Sayangnya, saat Doyoung hampir menempelkan bibirnya pada bibir merah muda dan lembut milik Taeyong, ponselnya menginterupsi. Jadi mau tidak mau Doyoung menjauh dengan terpaksa dan mengambil ponsel terkutuk itu untuk menjawab panggilan.

Sementara Taeyong sedang sibuk menenangkan detak jantungnya, ia mencoba untuk berdiri tegak dari sandaran. Siapa yang menyangka jika Doyoung benar-benar akan menciumnya? Taeyong mengira itu semua hanya gurauan saja.

"Aku harus pergi sekarang, dia menungguku," Doyoung berbalik dan buru-buru mengambil buku yang akan dibeli, melupakan apa yang terjadi beberapa saat lalu.

"A-aku ikut--" Taeyong mencicit dan segera mengejar Doyoung.

Dia ingin mempertanyakan apa maksud Doyoung, tetapi dirinya lebih memilih untuk diam dalam perjalanan atau membahas hal-hal tidak penting seperti yang biasa mereka lakukan. Karena satu atau dua kalimat yang salah, akan membawa persahabatan mereka ke jurang.

Dan hal yang paling tidak dia duga sebelumnya, sesampainya di tempat di mana Doyoung maksud; Taeyong melihat seorang pria yang tadi pagi mengacaukannya.

"Sial."

Dunia benar-benar membencinya.

 


 

Baiklah. Pertama-tama, dia tidak mengharapkan ini. Berdiri di depan dua orang--tepatnya salah satu dari mereka adalah wajah yang sangat familiar hari ini--atau dia harus menyebutkan pagi ini? Dengan keadaan mulut yang setengah terbuka, terperangah layaknya orang bodoh dan kehilangan akal sehatnya, dia melirik temannya yang kini tersenyum sopan seperti yang seharusnya pada orang tersebut.

Doyoung tidak  mengerti apa pun, dan Taeyong akan berjuang demi kewarasannya agar sahabatnya itu tidak mencurigai sesuatu. Dia beruntung karena banyak yang menyebutkan jika Taeyong cukup pintar untuk membuat wajah, yah, sebenarnya hanya beberapa orang terdekat yang cukup mengenalinya.

Selain itu, sang profesor itu sendiri, Johnny Suh, yang mana semalam menghancurkannya dan yang tadi pagi menggodanya; bersikap layaknya tidak mengenali Taeyong sama sekali. Mungkin beliau sama sepertinya, bersikap seprofesional mungkin. Meskpun Taeyong sendiri yakin bahwa dalam hati profesor terebut juga terkejut.

Saat pandangan mereka bertemu, Taeyong merasakan dingin yang menjalar ke tulang punggungnya. Dia tahu betul saat Johnny Suh menatapnya, mata cokelat mlik pria itu sedikit menyipit dan menajam.

Dia menelan ludah dan memaksakan senyum, mengangguk gugup. Melirik pada meja kafe yang akan mereka singgahi, sengaja untuk membuat lubang pada meja kayu dengan tatapan matanya.

"Saya kira kau akan datang sendiri?"

Apakah itu sindiran? Itu pasti sindiran. Taeyong mengutuk dalam hati. Apakah dia harus berpura-pura tiba-tiba sibuk agar bisa melepaskan diri dari sana? Tidak. Dia tidak akan menjadi pengecut. Asalkan Johnny Suh sendiri akan tutup mulut tentang mereka, maka tidak akan menjadi masalah.

"Anda tahu, Profesor, entah kenapa teman saya sangat lengket dari tadi pagi," jawab Doyoung yang Taeyong tahu dia sedang memutar mata. "Jika Anda keberatan, ngomong-ngomong, saya bisa menyuruhnya pergi."

Taeyong membelalakkan matanya menghadap Doyoung---berani-beraninya dia merencanakan pengusiran terhadap sahabatnya yang paling peduli padanya?---oh, mungkin saja hanya Taeyong yang terlalu dramatis. Namun dipermalukan di depan profesor bukanlah hal yang bisa dibanggakan, jadi Taeyong hanya cemberut, menyilangkan lengannya. Dia sudah membuka mulut untuk mengatakan satu atau dua hal, tapi pria yang lebih tua mendahuluinya.

"Tidak, tidak perlu, biarkan dia di sini," menganggukkan kepala dan membuat senyum sopan, walaupun Taeyong merasa bahwa tatapan yang terkadang diarahkan padanya bisa saja membuat lubang di kepalanya. "Mari langsung kita mulai saja, saya akan ada keperluan dalam satu jam ke depan."

Doyoung mengangguk dan tersenyum, mengeluarkan laptop dan hasil tesisnya, serta meghabiskan beberapa puluh menit ke depan. Sedangkan Taeyong? Jelas Taeyong memilih untuk di sana, karena egonya sangat tinggi, kabur dari sana hanya akan membuat Doyoung curiga, juga di mana harga dirinya di depan dosennya itu?

"Jadi, kau ada di jurusan mana?" Profesor Johnny Suh tiba-tiba bertanya, menyilangkan kakinya dengan anggun dan itu hampir membuat Taeyong menggigit bibirnya dan mengerang. "Aku belum tahu dirimu sebelumnya di kampus."

Taeyong, yang menahan dengusan karena seluruh nasibnya mungkin bergantung di setiap napas dan kata per kata yang diucapkannya, ia menjawab, "Saya? Saya di Desain Grafis, Pak. Dan mohon maaf jika saya lancang, tapi saya juga tidak pernah mengetahui Anda sebelumnya di kamp---"

Tendangan dari bawah meja datang sebagai hadiah. Taeyong memang harus benar-benar menutup mulutnya. Ia menoleh ke samping dan mengetahui jika Doyoung memelototi dirinya, berkata bahwa Taeyong harus menjaga caranya bicara karena itu bisa jadi akan mempengaruhi penilaian si dosen itu terhadap penelitian Doyoung.

Tetapi yang ditakuti ternyata hanya membalas dengan tawa. "Ya, pertama mungkin kita memiliki gedung fakultas yang jauh, kedua mungkin saya atau kau yang jarang bersosialisasi. Apakah saya salah?"

Yah, tidak. Taeyong, walaupun dia cerewet atau ramai dengan sahabat dan teman dekatnya, dia bukan termasuk social butterfly. Menatap sang dosen dengan memicingkan mata seakan berusaha menilai dengan sudut pandangnya sendiri, membuat Johnny Suh itu mengangkat alis. Persetan, sejak kapan kampusnya yang terkutuk itu punya dosen yang panas sepertinya?

"Aku masih baru di sini, ngomong-ngomong. Jika itu yang kau tanyakan," Johnny Suh menyilangkan tangan dan menyandarkan punggung setelah menutup laptop Doyoung dan menggesernya ke si pemilik. "Doyoung, sekali lagi revisi dan aku akan melakukan ACC. Minggu depan mungkin."

Doyoung tersenyum cerah dan mengangguk dengan bersemangat hingga Taeyong menduga bahwa kepala Doyoung akan sakit dengan anggukan sekeras itu. Taeyong mengira Johnny Suh adalah tipe dosen pembimbing yang tidak terlalu banyak basa-basi, dan dirinya berharap bahwa nanti dia bisa mendapatkan dosen pembimbing yang kurang lebih seperti itu. Kalau bisa orangnya juga.

Taeyong menampar dirinya sendiri. Bisa-bisanya berpikiran seperti itu.

"Kau tidak apa?" Doyoung bertanya, senyumnya tidak hilang dan Taeyong menggeleng.

***

Lalu, hal bodoh yang kedua adalah Taeyong bertanya-tanya kenapa dia bisa berakhir di apartemen si dosen itu lagi. Semuanya terjadi begitu cepat hingga Taeyong tidak menyadari ketika Doyoung bertemu dengan Jaehyun dan terpisah dengannya, kemudian hujan datang menyambut suasana hatinya. Taeyong sendiri tidak masalah jika kehujanan, toh dia juga sudah terbiasa, tubuhnya juga pasti sudah kebal terhadap air hujan---yang ini hanya praduga saja.

Tetapi saat dia akan meluncur untuk hujan-hujanan, tiba-tiba tubuhnya tertarik ke belakang karena tarikan pada tasnya. Dia sedetik dalam melontarkan kata-kata kasar, tapi saat tahu yang melakukan adalah Johnny Suh, Taeyong mengurungkan niatnya. Dia masih mau hidup damai selama beberapa tahun ke depan.

"Ikut denganku."

Hanya itu saja, Taeyong tidak bisa menolak, mengelak, ataupun kabur. Pasrah dengan apa yang akan dihadapinya sebagai takdir, mungkin pengalaman paling konyol semasa kuliah. Taeyong masih mau memiliki masa depan yang cerah, jadi dia mau tidak mau menurut dengan apa kata Johnny Suh.

Kemudian berakhir di apartemennya lagi.

Secangkir cokelat panas berada di telapak tangan, bertanya-tanya apakah Johnny suka dengan cokelat atau sengaja membeli sebagai persediaan. Dia meniup asap yang mengepul di atasnya, menarik napas untuk menghirup aroma hangatnya.

"Nyamankan dirimu seperti yang terakhir kali," suara Johnny terdengar dari dapur yang tidak jauh dari tempatnya duduk menghadap televisi. Pun Taeyong tidak melewatkan sengatannya terhadap kata-kata yang dilontarkan. Pria cerdas selalu pandai dalam berkata-kata.

Taeyong sendiri tidak menjawab, yang pasti akan memupuk ego Johnny, mengira bahwa dia berhasil memojokkan tikus yang terjebak. Yang lebih kecil mendengus dan memilih meminum cokelat panasnya, tidak bisa berpikir apa pun saat ini, hanya pasrah dengan nasibnya.

"Aku kira aku sudah tidak memiliki urusan denganmu," Taeyong mendapati dirinya berkata saat Johnny datang meletakkan kue dan kopi panas untuk dirinya sendiri di meja, lalu memilih untuk duduk di samping Taeyong.

Bukannya Johnny tidak memiliki kebebasan di sana, karena bagaimanapun juga itu semua adalah miliknya. Taeyong menatap lurus ke depan saat Johnny mendengus seperti menahan tawa atau kekehan, dan Taeyong tidak lebih dari ingin menghapus seringai itu dari wajahnya.

"Dan kau ingin apa? Bertemu layaknya tidak saling mengenal?" Johnny bertanya, dan Taeyong benci betapa menawannya cara dia berbicara dengan nada yang rendah dengan cukup pelan. Sangat sugestif.

"Kita memang tidak saling kenal," jawab Taeyong agak ketus. "Kita bisa bersikap lebih baik atau---"

Napas Taeyong tercekat saat Johnny Suh berada di depannya tepat dengan ibu jari mengusap bibir bawahnya, Taeyong akan menjauh tapi yang ditemui belakang kepalanya hanya sandaran sofa. Dia menelan ludah.

"Atau melanjutkan seperti tidak ada apa-apa," Johnny bergumam sebelum mengklaim bibirnya, melumat bibir Taeyong seperti dia kecanduan. Lidah, bibir, dan gigi berkerja menjadi satu saat ciuman panas dilakukan, Taeyong tidak memiliki kesempatan untuk bernapas atau mendorong tubuh Johnny menjauh. Cangkir di tangannya diambil dan diletakkan ke meja oleh Johnny secara perlahan.

Taeyong membutuhkan napas, dia mendorong dada Johnny Suh agar sedikit menjauh dan memberikan dia kesempatan agar bisa menghirup oksigen. Tetapi yang lebih tua tidak mengasihinya, dia mencengkeram rahang Taeyong dan mendorong dadanya agar punggungnya lebih menempel di sandaran kursi. Taeyong membuka bibirnya saat lidah Johnny masuk ke dalam dan mengabsen langit-langit mulutnya, menelan seluruh erangan yang diciptakan Taeyong.

Dan saat mereka berpisah, napas Taeyong memburu, menatap Johnny dengan pandangan menerawang. Juga persetan, kemaluannya di bawah sekarang basah. Ibu jari Johnny mengelus rahangnya sebelum dimiringkan untuk memberinya akses pada leher Taeyong, lalu mengecupi leher putih dan jenjang miliknya.

"Tuan ... jangan meninggalkan tanda," Taeyong berusaha berbicara sebisa mungkin tanpa terengah-engah, merasakan usapan Johnny pada pahanya. Lalu hal berikutnya yang Taeyong tahu, Johnny menarik tubuh kecil Taeyong ke pangkuannya dan mencium leher juga selangkanya dengan tidak sabar.

"Kenapa? Takut pacarmu akan mengetahuinya?" Johnny menurunkan tangannya untuk mengusap paha bagian dalam Taeyong, membuatnya mendesah saat jari-jari besar bersentuhan dengan vaginanya yang masih terbungkus kain. "Kau sudah basah, Sayang. Mari kita membantu milikmu ini, ya?"

Merasakan perasaan disentuh seperti ini membuat Taeyong kehilangan akal hingga dia sama sekali lupa tentang pacarnya, yang dipikirkan otaknya hanyalah Johnny Suh dan Profesor Johnny Suh. "Kau pikir aku tidak tahu jika kau memiliki pacar yang menunggumu, Taeyong?"

Taeyong menduga bahwa Johnny tahu saat dia mengambil ponselnya, yang pasti dibanjiri dengan panggilan tidak terjawab dari kontak pacarnya setelah mereka bersama malam itu. Tidak menjadi masalah sebenarnya, mereka hanya one night stand saat itu, mereka tidak harus mencampuri hubungan masing-masing.

Yang lebih muda mengerang saat Johnny berhasil melepaskan celananya dan kini dia telanjang pada bagian bawah di pangkuan sang profesor, jari Johnny berhasil menemukan vaginanya lagi sehingga dia mulai menggosok klitorisnya. "Dan kau pikir aku tidak tahu jika kau memiliki istri dan anak?"

Pada awalnya Taeyong akan mengharapkan Johnny berhenti tiba-tiba dan mengusirnya dari sana, membiarkan Taeyong berada di ambang kegilaan, tetapi yang dia dapatkan hanya gesekan lebih cepat dan keras jari Johnny pada kuncupnya. Taeyong mengerang lebih keras, kakinya menyebar dengan otomatis, vaginanya kini sangat basah hingga membasahi celana Johnny.

Johnny tidak menjawab, dia memasukkan jari-jarinya yang tebal ke dalam lubang vagina Taeyong dan mulai menggeser keluar masuk tanpa ampun hingga menimbulkan suara basah dari kulit ke kulit di seluruh apartemen, menidurinya dengan keras. "Kau sangat kotor, Taeyong. Kita tidak lebih kotor dari milikmu."

Itu adalah ungkapan yang tidak secara langsung tentang 'jika kita sudah tahu, kenapa kita berakhir di sini, dan seperti ini?'.

"Ahhh ... Profesor---" Paha Taeyong mulai bergetar, kini tiga jari Johnny Suh yang tebal dan panjang berada di dalam vaginanya, keluar masuk dengan keras dan cepat. Johnny memutar kepala Taeyong hingga dia bisa mencium bibir yang lebih muda dengan basah dan mengklaimnya seakan itu adalah hari terakhir mereka bercinta.

"Kau akan datang ke sini jika aku memanggilmu, bagaimanapun keadaannya," Johnny bergumam di bibirnya saat Taeyong terengah-engah karena klimaksnya yang datang, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. "Aku tahu jika kau juga mau, Lee Taeyong. Dan ini akan menjadi rahasia kita, ya?"

Taeyong, yang berada di ambang kewarasan---karena persetan, pria ini sangat tau cara membuatnya berantakan dalam sekejap---mengangguk dan menyandarkan kepalanya ke dada Johnny Suh. Setelah sedikit pulih, dia mengangkat kepalanya kemudian dan mencium bibir sang profesor, yang dibalas dengan senyum miring menyerupai seringai.

Entah bagaimana ke depannya, hidup Taeyong pasti akan lebih terkutuk.

"Berapa umurmu?" Johnny memberi pertanyaan saat kaki mereka kusut bersama di dalam selimut, punggung Taeyong menempel di dadanya yang telanjang. Taeyong tidak akan berbohong, dia menemukan kenyamanan yang sungguh aneh di dalam pelukan orang itu, yang bahkan tidak dia rasakan pada Jongin---kekasihnya.

"Apakah itu penting?" memejamkan mata, Taeyong menarik tangan Johnny dan memainkan jarinya. Sebaliknya, dia melemparkan pertanyaan juga. "Kau pasti sudah berkepala empat."

Dengusan hangat menerpa tengkuk Taeyong, dan dia bisa merasakan pria itu cemberut layaknya anak kecil. Dia ingin melihat bagaimana ekspresi dan raut wajahnya, tetapi kehangatan tubuh yang lebih besar lebih memberikan kenyamanan. "Apa aku terlihat setua itu, Taeyong? Tidak, aku tiga puluh lima."

Untuk Taeyong, jarak umur mereka cukup jauh. "Yah, dan aku dua puluh tiga."

Johnny bersenandung, memeluk perut rata Taeyong dan menariknya ke dalam pelukannya lagi. "Kukira dua puluh satu."

"Aku terlambat kuliah," mengangkat bahu, ia melanjutkan ketika bersandar dengan nyaman, "ada banyak hal yang harus diselesaikan terlebih dahulu yang lebih penting dari pendidikanku."

Kecupan datang pada kulit Taeyong setelahnya, dia mencoba untuk tertidur karena tidak ada tempat yang benar-benar nyaman baginya selain di dalam pelukan profesor ini.

"Tidak ada yang terlambat," gumam Johnny. Taeyong tahu pasti bahwa ilmu dan juga pengetahuan beliau lebih banyak ribuan kali daripada dirinya, mungkin juga pemahamannya. Taeyong tidak lebih dari ingin memiliki seseorang yang mengerti seperti Johnny Suh.

Walaupun dalam hatinya berteriak itu tidak akan mungkin.

"Tidurlah."

"Kau bilang pada Doyoung kalau kau akan sibuk."

"Dan ini kesibukanku."

"Mesum."

"Untukmu."