Work Text:
Langit telah berubah menjadi gelap, menelan sisa-sisa semburat merah senja. Di bawah naungan kegelapan itu, Nakula melangkah dengan amat sangat hati-hati. Berbekal sebuah senter kecil berbahan plastik murah, Nakula mengendap-endap menyusuri jalan setapak. Sorot cahayanya yang temaram dan sesekali berkedip tidak stabil itu menyapu permukaan tanah di depannya.
Malam ini, Nakula keluar rumah hanya dengan kaos oblong hitam, celana pendek tipis di atas lutut, dan sehelai sarung bermotif kotak-kotak yang ia kalungkan di kakinya untuk menghalau angin malam yang menusuk tulang.
Setiap kali angin malam berembus menggoyang dedaunan kering hingga menimbulkan suara gemeresik, langkah Nakula mendadak terhenti. Jantungnya berdegup kencang di rongga dadanya, seolah siap melompat keluar kapan saja. Ia menahan napas, menoleh ke belakang berkali-kali, memastikan tak ada yang memperhatikan gerak-geriknya. Setelah memastikan keadaan benar-benar aman, barulah pemuda itu kembali melangkah.
Sebenarnya, Nakula adalah tipikal warga teladan yang sangat baik hati. Di dusunnya, ia dikenal sebagai pemuda yang ramah, sopan, dan sama sekali tidak pernah macam-macam. Jangankan berurusan dengan hukum, menginjak semut dengan tidak sengaja pun ia merasa bersalah. Mencuri? Istilah itu bahkan tidak pernah masuk ke dalam kamus hidupnya yang lurus.
Namun, moralitas yang lurus tidak bisa dipakai untuk membayar kontrakan. Kondisi ekonomi yang kacau-balau akhir-akhir ini berhasil mencekik leher rakyat kecil seperti dirinya. Sebagai pedagang siomay keliling yang dagangannya digemari ibu-ibu, Nakula nyaris frustrasi menghadapi harga ikan tenggiri yang melonjak drastis hingga tiga kali lipat.
Cuan yang Nakula bawa pulang setiap malam makin menipis, bahkan sering kali tekor karena habis tergerus modal bahan baku yang harganya sudah tidak masuk akal sehat. Kalau terus-menerus jujur menggunakan tenggiri asli di tengah kebobrokan negara ini, usaha siomay Nakula dipastikan akan gulung tikar minggu depan.
Hingga akhirnya, sebuah bisikan sesat datang dari Yudistira—anak Pak RT yang terkenal memiliki seribu satu akal bulus dan solusi-solusi di luar nalar manusia. Sore itu, saat Nakula sedang merenung lesu di atas motor gerobaknya, Yudistira menepuk bahunya sembari berbisik.
“Ganti pakai ikan sapu-sapu aja, Mas. Daripada ngarepin bantuan modal dari pemerintah yang cuma turun pas mau pemilu doang, kan? Lu pergi aja ke empang Pak Yanto ntar pas tengah malem. Di sana ikannya bejibun. Lagian Pak Yanto mana bakal sadar kalau hama empangnya berkurang beberapa ekor. Anggap aja lu lagi bantu dia bersih-bersih empang gratisan.”
Entah karena otaknya sedang buntu atau karena keputusasaan, setiap bait kalimat yang keluar dari mulut Yudistira sore itu mendadak terdengar bagai wahyu yang sangat masuk akal di telinga Nakula. Alhasil, di sinilah ia sekarang. Berdiri gemetaran dengan lutut yang saling berbenturan di empang milik Pak Yanto—seorang pria paruh baya berkumis tebal yang terkenal galak, pelit, dan tidak segan-segan menggebuk kepala maling menggunakan balok kayu jati hingga pingsan.
Bau air payau yang khas, anyir, dan bercampur aroma lumpur busuk menusuk tajam indra penciuman Nakula. Permukaan empang di depannya tampak seperti genangan tinta hitam, hanya memantulkan bayangan pohon-pohon bambu besar yang meliuk ditiup angin malam. Suara jangkrik dan kodok bersahut-sahutan, menciptakan suasana mencekam yang membuat bulu kuduk di tengkuk Nakula meremang.
Nakula menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa sangat kering. Sebelum benar-benar turun ke empang, ia melepas sarungnya. Kain kotak-kotaknya dilipat dengan rapi, lalu ia letakkan di atas sebuah batu besar di pinggir empang.
Setelah menyembunyikan sarungnya, Nakula buru-buru mematikan lampu senternya. Ia agak lega lokasi empang ini terletak setengah kilometer dari tepi dusun. Setidaknya kalau ia tidak sengaja membuat suara cipratan air yang berisik, suaranya akan terendam oleh riuh suara serangga malam.
Sambil memeluk erat sebuah ember plastik hitam kecil dan sebuah jaring pendek di dadanya, Nakula menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Dengan gerakan lambat, ia mulai menurunkan kakinya ke dalam air empang.
“Dingin banget, buset … kalau bukan demi siomay besok pagi, gak akan aku ke sini …,” bisik Nakula dengan suaranya yang gemetar.
Begitu telapak kakinya menyentuh dasar empang, sensasi lumpur yang dingin dan lembek langsung menelan mata kakinya dengan cepat. Perasaan geli dan menjijikkan mulai menjalar, tetapi Nakula tidak punya pilihan untuk mundur sekarang. Ia terus memaksakan dirinya untuk melangkah maju, membiarkan tubuhnya semakin tenggelam ke dalam air empang yang keruh.
Air dingin perlahan-lahan naik merendam betisnya, menyusuri lutut, hingga naik merendam paha dan perlahan mencapai batas pinggangnya. Celana pendek yang ia kenakan kini sudah basah sepenuhnya. Nakula menggigit bibir bawahnya, menahan sensasi dingin yang menusuk tulang. Dengan tangan yang gemetar akibat perpaduan rasa dingin dan ketakutan, ia mulai menurunkan jaring pendeknya ke bawah permukaan air.
Blub … blub … blub ….
Nakula membeku di tempatnya berdiri. Jaring yang baru akan ia celupkan ke dalam air tertahan di udara, mencengkeram gagang kayunya erat-erat hingga jemarinya memutih. Matanya melebar, menatap lurus ke arah permukaan air di sekeliling pinggangnya. Riak air yang semula tenang kini berubah. Ada sesuatu yang bergerak dari bawah sana, menciptakan gelembung-gelembung udara kecil yang pecah tepat di depan perutnya.
Suasana malam yang sunyi mendadak terasa makin menekan. Nakula bisa merasakan ada pergerakan masif di bawah sana. Sesuatu yang berukuran cukup besar dan berat sedang berenang memutari sepasang kakinya yang tertanam di dalam lumpur. Tekanan air yang bergeser akibat gerakan makhluk itu berulang kali menepuk paha bagian dalamnya menghantar sensasi aneh yang membuat bulu kuduk Nakula berdiri.
“Anjir, apaan tuh? Gede banget ….”
Tenggorokannya mendadak terasa tercekat. Pikirannya langsung melayang pada cerita-cerita seram seputar ular air raksasa atau lele jumbo penunggu empang angker yang suka memakan mangsa hidup-hidup.
Ketakutan mulai mengambil alih akal sehatnya. Nakula memutuskan bahwa misinya malam ini gagal total. Persetan dengan dagangannya esok hari. Ia lebih baik rugi modal daripada harus kehilangan nyawa di empang Pak Yanto. Namun, tepat ketika Nakula berniat mengangkat kaki untuk mundur ke tepian, makhluk di dalam air itu bergerak lebih cepat dari dugaannya.
Srett—
Sebuah objek yang terasa licin, berlendir khas hewan air, tetapi memiliki tekstur punggung bersisik keras yang samar mendadak menubruk pergelangan kakinya. Objek itu meluncur lincah, menyelinap masuk ke balik lipatan celana pendeknya yang longgar.
Nakula tersentak, pekikan lolos dari bibirnya yang gemetar, “H-heh?! Pergi! Ssshhh … hush!”
Bukannya menjauh, makhluk itu justru bergerak makin berani. Ia melesat naik menyusuri celah di antara kedua paha bagian dalam Nakula. Kulit putih paha Nakula yang mulus langsung bergesekan dengan permukaan tubuh makhluk itu, menghantarkan sensasi geli.
Nakula mengibas-ngibaskan kakinya di dalam air, mencoba menendang atau mengusir apa pun yang berada di dalam celananya. Namun, lumpur empang menahan pergerakan kakinya dengan kuat, mengunci tubuhnya di posisi semula.
Pada akhirnya, malapetaka yang sesungguhnya pun tiba ketika makhluk itu berhasil menemukan jalan melewati celana dalam basah Nakula, menembus langsung untuk mengunci dan mengisap habis belahan vaginanya.
“AAHH?!”
Nakula memekik kencang, tangannya refleks melepaskan jaringnya hingga tenggelam ke dasar empang. Kedua tangannya kini mencengkeram pinggiran ember plastik hitam yang mengapung di dekatnya, meremasnya kuat-kuat hingga ember itu meleyot.
Moncong makhluk itu menempel dengan sangat presisi di atas gundukan vagina Nakula. Daya hisap yang dihasilkan oleh mulut melingkar itu sangat kuat. Ia mulai mengunci belahan daging kenyal yang tersembunyi di selangkangan Nakula.
“Ngghh … a-apaan ini … mnhh … l-lepaasss!”
Nakula menggelengkan kepalanya frustrasi, napasnya mendadak memburu berantakan. Sensasinya benar-benar gila. Struktur mulut sang ikan yang dilapisi barisan gigi super halus kini mulai bergerak perlahan di atas permukaan klitoris Nakula. Sedotan itu menguras hawa dingin dari air empang, menggantinya dengan denyutan panas yang membakar selangkangannya.
Monster di balik celananya seolah memperlakukan vagina Nakula seperti ladang nektar yang harus dikuras habis. Katup otot mulutnya melebar, menelan seluruh gundukan itu ke dalam rongga mulutnya. Mulut ikan itu menyedot dalam-dalam, memaksa dinding-dinding liang Nakula mengeluarkan cairan lubrikasinya.
“Ahhh! Ssshh … b-berhentih … emhh! Gak mau … ah!”
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Nakula. Cairannya menyembur keluar dari liangnya, beradu dengan air empang yang keruh di balik celana pendeknya. Rembesan cairan hangat itu justru membuat makhluk di bawah sana semakin bertenaga. Daya hisapnya menjadi lebih kuat, menolak melepaskan mangsanya.
“Ah! Ah! Ssshh … mnhh … j-jangan kenceng-kenceng … ahhh!”
Kedua paha Nakula gemetar. Gelombang orgasme yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya meledak tepat ketika mulut mangkuk itu mengunci klitorisnya dalam satu hisapan kuat. Tubuhnya melengkung ke belakang dengan dada membusur. Cairannya menyembur dalam jumlah banyak, langsung ditelan habis oleh katup hisap sang ikan tanpa ada yang terbuang ke air empang.
Nakula mengumpulkan sisa-sisa tenaga di lengannya yang gemetar. Sambil terisak dengan rintihan yang erotis, ia merogohkan tangan kanannya ke dalam celananya, mencengkeram tubuh makhluk licin yang menempel erat di selangkangannya lalu menariknya paksa.
Byurr
Nakula langsung melemparkan makhluk besar itu ke permukaan air di depannya. Di sana, mengapung seekor ikan sapu-sapu berukuran besar—hampir sebesar paha orang dewasa. Sepasang mata kecilnya yang berkilat menatap lurus ke arah mata Nakula.
Detik berikutnya, permukaan air empang di depan Nakula bergolak. Kemudian muncul pendaran cahaya keemasan yang berkilau terang membungkus tubuh ikan itu. Nakula menutup matanya sejenak dengan kedua tangannya, lalu menurunkan tangannya ketika cahaya itu telah menghilang.
Perlahan, air empang meluncur turun dari sepasang bahu kokoh yang lebar. Sosok yang kini berdiri di hadapan Nakula bukanlah seekor ikan sapu-sapu besar, melainkan perwujudan seorang pria dewasa dengan proporsi tubuh yang melampaui ukuran orang dewasa pada umumnya. Kulitnya yang eksotis kecokelatan tampak berkilau di bawah temaram cahaya bulan, menyembunyikan guratan sisik halus gelap yang samar di sepanjang lengan, dada, hingga ke otot perutnya yang keras.
Nakula terpaku, napasnya yang masih terengah-engah mendadak tercekat di tenggorokan. Senter plastik murahnya sudah tenggelam entah ke mana, menyisakan sinar rembulan yang menjadi satu-satunya penerang di antara mereka. Di hadapannya, makhluk berwujud pria tampan dengan aura predator berdiri tanpa sehelai benang pun. Rambutnya hitam dengan garis keemasan yang basah kuyup menempel acak-acakan di dahi dan pelipisnya.
“S-siluman ….”
Nakula terbata-bata, suaranya mencicit ketakutan. Otaknya berteriak menyuruh tubuh gemetarnya untuk mundur secepat mungkin ke tepi empang. Namun, lumpur di bawahnya seolah bersekongkol dengan sang siluman, mengunci pergelangan kakinya hingga ia kesulitan bergerak.
Melihat mangsanya mencoba melarikan diri, Sadewa—sang siluman ikan sapu-sapu—melangkah maju memangkas jarak mereka. Setiap langkah kakinya membelah air empang disertai dengan suara kecipak air. Ia langsung mengurung tubuh Nakula yang basah kuyup di bawah bayangan tubuh besarnya.
Tanpa peringatan apa pun, tangan kekar Sadewa melesat ke bawah permukaan air. Jemarinya yang kuat langsung mencengkeram karet pinggang celana pendek milik Nakula.
Sreeettt … krakk!
Dengan satu tarikan tangannya, Sadewa merobek paksa celana pendek beserta celana dalam yang membungkus bagian bawah tubuh Nakula. Kain itu koyak seketika, membebaskan paha mulus dan liang sanggama Nakula yang kini sepenuhnya terekspos tanpa perlindungan apa pun. Nakula memekik kaget, menatap nanar celananya yang kini mengapung menjauh di permukaan air.
Sadewa kembali mengeluarkan geraman yang terdengar sarat kepuasan. Ketika Nakula masih dalam kondisi syoknya, tangan besar Sadewa bergerak menelusup ke balik tengkuk Nakula. Jemari siluman itu mencengkeram rambut basah di belakang kepala Nakula dengan genggaman yang erat, memaksa kepala pemuda itu terdongak untuk menatap matanya yang berkilat lapar.
Pada saat yang sama, Sadewa menggunakan lututnya untuk menyelinap di antara kedua paha Nakula, memaksa kedua kaki si cantik terbuka lebar. Akibat gerakan itu, vagina Nakula yang sensitif bergesekan langsung dengan permukaan paha Sadewa yang dilapisi sisik-sisik halus.
“Nggghhh … j-jangan … ssshh …”
Nakula merintih pasrah. Kedua tangannya refleks mencengkeram erat otot bisep Sadewa yang sekeras baja untuk menahan keseimbangan tubuhnya agar tidak tenggelam.
Sadewa tidak memedulikan rintihan tersebut. Ia menelusupkan tangan kanannya ke sela paha Nakula yang terbuka lebar. Ibu jarinya yang agak kasar dipakainya untuk menggosok klitoris Nakula.
Sensasi gesekan dari jemari kasar sang siluman di atas liang sanggamanya yang baru saja mengalami orgasme membuat tubuh Nakula menggelinjang. Sadewa merundukkan wajahnya, menempelkan hidungnya ke ceruk leher Nakula. Ia menghirup aroma tubuh pemuda itu dalam-dalam sebelum bibirnya mulai mengisap kuat kulit lehernya, meninggalkan tanda kemerahan yang pekat di sana.
Melihat mangsanya sudah sepenuhnya lemas, gemetar, dan pasrah di dalam cengkeramannya, Sadewa mengangkat tubuh Nakula sedikit lebih tinggi di atas permukaan air. Siluman itu memosisikan ujung kejantanannya yang besar tepat di depan mulut liang sanggama Nakula yang berkedut. Dengan satu sentakan pinggul, Sadewa menghujamkan miliknya masuk ke dalam.
“Aaahhhh! S-sakittt! Ngghh—l-lepasin!”
Nakula menjerit histeris, suaranya melengking membelah sunyinya malam. Air matanya merembes deras membasahi pipinya yang merah padam. Kedua tangannya yang semula mencengkeram bisep Sadewa kini beralih memukul-mukul panik dada bidang sang siluman. Nakula memberontak, tubuhnya menggeliat ke kanan dan kiri, mencoba melepaskan diri dari gempuran benda yang rasanya seperti hendak membelah tubuhnya menjadi dua.
Bau anyir samar menyapa penghidunya. Lubangnya yang perawan dipaksa meregang melampaui batas normal demi menampung diameter milik sang siluman. Sensasinya begitu penuh dan menghantarkan rasa perih.
Namun, Sadewa sama sekali tak memedulikan rintihan dan pukulan si cantik. Siluman itu justru menggeram puas. Ia mengunci pinggang kecil Nakula dengan kedua tangan besarnya, lalu langsung mulai menggerakkan pinggangnya.
Setiap kali Sadewa menarik penisnya keluar menyisakan ujungnya lalu menumbuk kembali dalam-dalam ke liang Nakula, air empang di sekitar mereka bergolak menciptakan bunyi kecipak.
“A-ah! Ampuun … hiks, stop … b-besar banget … gak muattt! Ssshh … ahh!”
Nakula menangis, kepalanya menggeleng frustasi ke kanan dan kiri. Namun, penolakan Nakula tak bertahan lama. Penis besar Sadewa berulang kali menghantam titik sensitifnya membuat kewarasannya mengikis secara perlahan.
“Nngghh?! A-aaah!” jeritan Nakula mulai berganti menjadi lenguhan, “Ah! Kok … mnhh … ssshh enakkk ….”
Jeritan Nakula mulai berganti menjadi lenguhan ketika Sadewa kembali menumbuk pusat kenikmatannya. Matanya menjadi sayu dan berair karena gelombang kenikmatan yang datang menjajah akal sehatnya.
Sadewa yang merasakan perubahan jepitan pada liang Nakula langsung menaikkan ritme hujamannya menjadi lebih cepat. Siksaan rasa sakit yang dirasakan Nakula beberapa detik lalu kini menguap, digantikan oleh hawa panas yang membakar tubuhnya. Setiap kali batang milik Sadewa bergesekan dengan lubangnya yang sensitif, seluruh tubuh Nakula gemetar dihantam rasa nikmat.
Napas Nakula memburu berantakan, sepenuhnya kalah telak oleh respons tubuhnya. Kedua tangannya perlahan merayap naik, mengalung erat di leher sang siluman. Kedua kakinya refleks terangkat, melingkar kuat di sekeliling pinggang besar Sadewa, sepenuhnya memasrahkan tubuhnya untuk digendong sepenuhnya oleh makhluk yang sedang menjamahnya.
“Ssshh … ah! L-lagi, lagih mnhh … di situ terus … ahhh!”
Nakula mulai mengeluarkan desahan erotis. Kepalanya ia sandarkan di bahu Sadewa sembari mendesah tanpa henti tepat di telinga sang siluman. Tangannya meremas rambut basah di belakang Sadewa.
“G-gilah ah! Ah! Kok bisa se-enak ini … ssshh terush … jangan dilepash … mnhh, ah!”
Mendengar mangsanya sudah sepenuhnya tunduk dan malah memohon untuk dihancurkan, Sadewa mengeluarkan geraman puas. Gempuran di dalam air empang itu berubah menjadi semakin brutal. Sadewa meremas pantat kenyal Nakula yang terekspos di permukaan air, mengangkat tubuh si cantik turun naik dengan ritme yang cepat.
“Aaahhh! U-udah nngghh … mau keluar lagiih … ssshh ah! Ah! K-kenceng bangettt! Ngghh!”
Pemuda itu menjerit keenakan, dadanya membusur tinggi dengan mata yang mendelik pasrah menatap langit malam. Liangnya berkedut-kedut, semakin menjepit ketat batang milik Sadewa.
Nakula kembali mencapai orgasmenya di dalam pelukan Sadewa, melepaskan cairan dalam jumlah banyak yang terperangkap di dalam penyatuan mereka. Bersamaan dengan pekikan Nakula, Sadewa memberikan satu hujaman dalam hingga pangkalnya membentur keras panggul Nakula.
Sang siluman mengerang keras saat penisnya menyemburkan cairan kental di rahim Nakula. Semburan sperma siluman itu memenuhi rongga rahim Nakula tanpa menyisakan ruang kosong, membuat perut pemuda itu sedikit membuncit.
Napas si cantik tersengal-sengal, matanya sayu berair dengan pupil yang melebar. Otaknya seakan berhenti bekerja. Saraf-saraf di sekujur tubuhnya lumpuh oleh orgasme beruntun. Namun, alih-alih terkulai pingsan, nafsu dalam diri Nakula justru meningkat. Rasa nikmat tabu itu telah merenggut habis seluruh sisa akal sehatnya, menggantinya dengan rasa haus akan sentuhan.
Dengan gerakan lambat, Nakula menegakkan kepalanya yang semula bersandar di bahu Sadewa. Ia mengerjapkan matanya yang basah, menatap lurus ke arah paras pria di hadapannya dari jarak yang sedemikian dekat.
Di bawah temaram sinar rembulan, wajah dingin tanpa ekspresi milik Sadewa terlihat begitu rupawan di mata Nakula. Gurat wajahnya yang tegas, rahangnya yang kokoh, hingga sepasang mata keemasan justru terlihat sangat memikat.
Nakula menelan ludah. Ia sudah kepalang nafsu. Kewarasannya sebagai warga teladan dusun sudah hanyut entah ke mana. Tanpa memedulikan status makhluk di depannya, Nakula memajukan wajahnya yang merah padam. Lidahnya yang kecil dan hangat menjulur keluar, mulai menyapu permukaan kulit ceruk leher Sadewa.
Nakula menjilat dari pangkal leher, menyusuri guratan otot selangka Sadewa, lalu naik perlahan menuju rahangnya. Sadewa sempat terkejut mendapat serangan balik yang tak terduga dari mangsanya. Namun, siluman itu tidak menjauh. Ia membiarkan lidah Nakula mengabsen setiap jengkal kulitnya.
Nakula terus merambat naik. Target berikutnya adalah telinga Sadewa. Dengan napasnya yang panas dan memburu, Nakula menyesap cuping telinga sang siluman, lalu menjilat pinggirannya dengan gerakan memutar. Mendapatkan stimulasi seintens itu, sebuah geraman lolos dari bibirnya.
Efeknya sangat cepat. Di bawah permukaan air, kejantanan Sadewa kembali berdenyut. Dalam hitungan detik, batang besar itu kembali menegang sempurna, menyumpal penuh di dalam liang Nakula yang masih menjepitnya.
“Nngghh … k-kontolnyah tegang lagi … mnhh ….”
Nakula melenguh erotis saat merasakan benda besar di dalamnya kembali membengkak. Bukannya takut, ia justru semakin bersemangat. Ia memindahkan jilatannya ke pipi Sadewa. Kemudian dengan nakal membawa lidahnya bermain di sepanjang sudut pinggiran bibir milik sang siluman.
Nakula menggesekkan lidahnya sendiri di sana, menuntut sebuah pagutan. Tindakan agresif si cantik berhasil menyulut kembali insting predator Sadewa. Sebelum Nakula sempat menarik lidahnya, tangan kekar Sadewa melesat mencengkeram tengkuk Nakula dalam satu gerakan cepat. Siluman itu merundukkan wajahnya, lalu membungkam mulut Nakula dengan sebuah ciuman kasar yang menuntut.
Sadewa melumat habis bibir atas dan bawah Nakula dengan rakus. Bersamaan dengan ciuman itu, pinggul Sadewa di kembali bergerak. Siluman itu menghentakkan pinggulnya dalam satu dorongan yang brutal. Nakula melotot, ia melenguh tertahan di sela ciuman mereka. Tubuh kecilnya kembali terangkat naik turun di dalam dekapan Sadewa.
Ciuman yang melumat habis mulut Nakula akhirnya terlepas, menyisakan jalinan benang saliva yang mulur panjang sebelum terputus. Nakula meraup oksigen dengan rakus melalui mulutnya yang terbuka lebar. Dadanya naik turun, sementara kepalanya mendongak dengan sepasang mata yang kosong ke atas. Ia sepenuhnya kehilangan fokus.
Sang siluman terus bergerak maju mundur menghujam liang si cantik tanpa ampun. Setiap kali panggul mereka bertumbukan keras, suara cipratan air empang beradu dengan bunyi plap-plap dari bagian tubuh mereka yang beradu hebat, bersahut-sahutan dengan jeritan erotis Nakula yang semakin berisik membelah keheningan malam.
Nakula sudah sepenuhnya kehilangan urat malu. Otaknya sudah konslet total akibat hujaman kenikmatan dari sang siluman. Kewarasannya tersapu bersih oleh rasa panas yang membakar selangkangannya.
“Aahh! Mnhh kenceng banget … ssshh ah! Ah!” Nakula meracau berisik seiring dengan tubuhnya yang terombang-ambing di dalam air, “Ah! Mnhh enakkk … te-terushh jang-anh berhentiihh! Ahhh ….”
“Nngghhh gilaaa … sshh—ahg! M-mau keluarh … aku mau keluar … kelu—aarhhhg!”
Nakula kembali mencapai orgasmenya. Cairannya menyembur deras melalui sela-sela penyatuan mereka, lalu berbaur dengan air empang. Tubuh Nakula gemetaran, punggungnya melengkung tinggi di dalam gendongan Sadewa dengan napas yang terputus-putus.
Namun, Sadewa sama sekali tidak memberikan waktu bagi Nakula untuk beristirahat. Makhluk itu justru semakin bernafsu mendengarkan lenguhan si cantik. Ia menggeram, mencengkeram pantat Nakula semakin erat, lalu menaikkan ritme genjotannya menjadi dua kali lebih cepat.
“Ah! Ah! S-sebentarr! Mnhh ampuunh … k-keluaarh … ah! Mau keluar lagiih!”
Baru semenit berselang dari orgasme ketiga, sensasi geli kembali merayap naik dan berkumpul di perut bawah Nakula. Hantaman konstan yang tak kenal lelah pada titik yang sama membuat liang Nakula menjadi sangat sensitif dan kembali berdenyut meminta pelepasan.
“Nngghh … u-udahh ahh! Mnhh keluarh lagiii … aaahhh!”
Untuk kedua kalinya secara beruntun, Nakula kembali orgasme hingga tenaganya terkuras habis. Matanya menatap kosong langit malam, mulutnya ternganga dengan air liur yang menetes tipis di sudut bibirnya. Ia sepenuhnya lunglai dan bergelayut di leher Sadewa.
Melihat mangsanya sudah lemas setelah orgasme dua kali berturut-turut hingga dinding liangnya menjepit sangat ketat, Sadewa mengeluarkan geraman panjang yang keras dan berat. Bersamaan dengan itu, ia melesakkan seluruh panjangnya [hingga terkubur sepenuhnya dan membentur mulut rahim Nakula.
Cairan sperma yang melimpah membanjiri rahim Nakula, membuat perutnya semakin membuncit. Nakula melenguh pasrah menerima cairan dari sang siluman, tangan dan kakinya semakin erat melingkar di tubuh makhluk itu.
Napas keduanya memburu berat di tengah keheningan malam, saling mendekap erat di tengah riak air yang perlahan mulai tenang kembali. Namun, hasrat di dalam diri sang siluman masih jauh dari kata usai. Sadewa sama sekali tidak menarik penisnya keluar dari liang Nakula. Batang itu masih tertanam dalam dan justru kembali mengeras.
Nakula melenguh, “Nnghh? Kontolnya kenapa keras lagih ….”
Sembari mempertahankan penyatuan mereka, Sadewa mulai menggerakkan kakinya. Ia menggendong tubuh kecil Nakula yang lemas, membawanya bergerak perlahan menuju ke pinggiran empang yang lebih dangkal.
Sadewa menurunkan tubuh Nakula, membaringkannya secara telentang di atas hamparan rumput liar dan lumbur basah di tepi empang. Tubuhnya sendiri tetap berdiri berendam di dalam air dangkal sebatas paha, ia merunduk mengunci pergerakan si cantik.
Sadewa merapatkan tubuh mereka, memaksa kedua kaki Nakula terangkat dan melingkar erat di sekeliling pinggangnya. Kedua tangan Nakula meremat dedaunan rumput liar di samping tubuhnya sekuat tenaga seiring dengan pinggul Sadewa yang kembali bergerak.
“Nngghh … udahann, tolonghh …,” Nakula merengek parau mencoba memohon, “gak kuath … lepasin dulu, ahh … peruht akhu penuuhh banget … ah! Capekh bangett … udahan yaaah!”
Namun, Sadewa sama sekali tidak memedulikan permohonan mangsanya. Sebelum Nakula semakin merengek, Sadewa merundukkan wajahnya. Ia langsung membungkam mulut berisik Nakula, melumat bibir si cantik hingga membuat empunya kehabisan napas dan kepalanya terasa pening.
Begitu pagutan mereka terlepas secara paksa, Nakula terengah sembari menjerit kencang. Akal sehatnya yang sempat kembali kini runtuh berantakan lagi, dihantam kenikmatan yang diberikan sang siluman.
“Aaahhhh!! Mentok bangettt! Kontolnya mentokh—ahhngg!”
“P-penuh banget … ini penuh banget, mnhh! Ahhhng … ah! Enakkk … dalem banget—ah! Ahhh …!”
“Eungghh enaahkk … aghh teruush, tusukh terussh … ahh!”
Nakula mulai meracau, menumpahkan semua rasa nikmat yang diberikan oleh Sadewa dengan desahan yang semakin lantang. Kedua tangannya meremat rumput semakin kencang di tengah gempuran brutal.
Setiap kali panggul mereka bertumbukan keras, suara gesekan basah beradu nyaring dengan bunyi cipratan air. Gerakan keluar masuk batang Sadewa mengocok genangan sperma yang tertampung di dalam perut Nakula.
Hanya dalam beberapa hantaman brutal yang tak kenal ampun, dinding liang Nakula meremas kuat batang Sadewa yang membesar. Pertanda pelepasan keduanya telah tiba.
“Aku keluar … ah! Keluar, aku keluaarh … aaahhh!!”
Nakula refleks menarik kedua tangannya dari rumput, melingkarkannya erat-erat di leher Sadewa, memeluk tubuh makhluk itu sekuat tenaga. Liang sanggamanya menjepit sangat ketat, mengunci batang Sadewa yang menyemburkan sperma di dalam rahimnya.
“Nngghh?! Ah! Ahh … banyak banget … mnhh!” tubuhnya bergetar merasakan rahimnya diisi penuh oleh cairan panas, “K-kok lama banget keluarnyaah … p-perut aku … perut aku mau meledak, ah! P-penuh … mnhhg gak muatth ahh!”
Di bawah siraman cahaya bulan, perut Nakula perlahan-lahan mulai terangkat naik, membuncit besar akibat terisi sperma kental milik sang siluman. Nakula terus menggumamkan kata-kata rancu dengan manja sampai tenaganya benar-benar habis.
Akhirnya, pelukan erat Nakula mulai longgar. Setelah beberapa saat membiarkan benihnya selesai membanjiri rahim Nakula, Sadewa menarik perlahan kejantanannya keluar dari lubang si cantik.
Nakula refleks merengek manja, “Nhh … k-kok dicabut …? Mnhh gak enaak, jangan dicabut dulu … lubangku jadi kosong … aku gak sukaah ….”
Nakula meratapi rasa hampa yang seketika muncul akibat sesuatu absen memenuhi lubangnya. Ia tidak menyukai sensasi dingin yang menerobos liangnya. Namun, tubuhnya sudah benar-benar tidak bisa digerakkan lagi, membuatnya hanya bisa berbaring telentang tanpa bisa melakukan apa-apa untuk menahan sang siluman.
Sadewa menegakkan tubuhnya. Dengan napas yang sedikit memburu, sepasang netra keemasannya menunduk, memperhatikan pemandangan berantakan di bawahnya. Ia menatap puas ke arah tubuh setengah telanjang Nakula yang dipenuhi keringat, air empang, serta gundukan perut yang membuncit besar berisi benihnya.
Ia mengeluarkan geraman penuh kepuasan. Tak ada setetes pun cairan sperma yang keluar merembes dari lubang Nakula yang menganga lebar. Semuanya terkunci rapat di dalam rahim manusianya.
Siluman itu kemudian melangkah mundur ke bagian air empang yang lebih dalam. Dalam satu pendaran cahaya yang menyilaukan, wujud manusianya lenyap seketika.
Byurr!
Sesosok ikan sapu-sapu besar melesat cepat membelah air, meninggalkan riak gelombang kecil sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya ke dalam kegelapan dasar empang.
“M-Mas … jangan pergi … j-jangan tinggalin aku sendiri … Mas ….”
Nakula masih sempat meracau dengan suara kecilnya. Netra biru sayunya menatap nanar ke arah genangan air tempat Sadewa menghilang.
Suasana kembali sunyi senyap, hanya menyisakan suara angin malam dan suara jangkrik yang bersahut-sahutan. Nakula memejamkan matanya, membiarkan napasnya yang memburu berantakan perlahan-lahan mulai stabil kembali.
Butuh waktu sekitar belasan menit hingga sisa-sisa berahinya menguap, membiarkan akal sehatnya perlahan-lahan kembali berfungsi untuk berpikir jernih.
“Aduh sialan …,” Nakula meringis pelan.
Dengan sisa tenaga yang dikumpulkan setengah mati, ia mencoba memaksakan tubuhnya untuk bangun. Prosesnya terasa agak susah dan berat karena gundukan perut buncitnya mengganjal ruang geraknya, memaksanya bergerak lambat sambil memegangi perutnya.
Nakula merangkak tertatih-tatih menuju batu besar di balik semak-semak. Dengan tangan gemetar, ia meraih sehelai sarung kotak-kotak miliknya yang masih kering. Tanpa memedulikan tubuhnya yang kotor dan lengket, ia buru-buru membalutkan kain sarung itu ke sekeliling tubuhnya, membungkus gundukan perutnya agar tersembunyi dari pandangan.
“Ini … kok bisa gak keluar-keluar, sih? Harusnya kan merembes keluar … kok ini malah ketahan? Perut aku sampai segede ini ….”
Sebelum benar-benar melangkah keluar dari area empang, Nakula menghentikan langkahnya sejenak. Ia membalikkan badannya, menatap ke arah permukaan air empang yang kini sudah kembali tenang. Nakula cemberut dengan wajah dongkol, meluapkan rasa kesalnya karena ditinggal begitu saja setelah digempur habis-habisan.
“Dasar siluman bodoh!” gerutunya kesal.
Sepanjang perjalanan pulang menyusuri jalan setapak yang gelap gulita menuju rumahnya, sang penjual siomay tak berhenti menggerutu meratapi nasib apesnya malam ini. Sarung kotak-kotaknya berkibar pelan ditiup angin malam, mengiringi langkah tertatihnya yang pulang dengan tangan hampa.
Oh, tidak. Ia membawa pulang benih sang siluman di rahimnya.
Di bawah terik matahari sore yang menyengat, motor gerobak siomay milik Nakula kembali mangkal di lapangan desa. Dalam sekejap, tempatnya dikerubungi oleh gerombolan ibu-ibu langganannya. Suasana mendadak riuh oleh rentetan pertanyaan yang bersahut-sahutan dari pembelinya.
“Aduh, Nakula! Kemana aja sih kamu semingguan ini gak kelihatan jualan? Ibu-ibu sama anak desa pada nyariin, tau! Kirain jualan di tempat lain!” seru Bu RT sambil mengibas-ngibaskan daster batiknya.
Nakula hanya bisa mengumbar senyum manis yang sedikit dipaksakan untuk menutupi rasa gugupnya. Tangannya yang cekatan tetap sibuk memotong siomay, tahu, dan kol di atas talenan kayu.
“Maaf, ya, Ibu-ibu … kemarin saya agak kurang sehat, badan mendadak demam dan lemas banget jadi terpaksa libur dulu seminggu di rumah,” dustanya dengan sangat lancar.
Tentu saja ia berbong. Demam dan tubuh lemas yang Nakula alami kemarin adalah efek dari semburan sperma siluman yang mengendap di dalam perutnya.
“Oalah, pantesan mukanya masih agak pucat. Ya sudah, untung sekarang udah jualan lagi. Nih, ibu minta dua porsi, ya. Bumbunya dibanyakin kayak biasa!” timpal ibu-ibu lain.
Begitu beberapa pesana diserahkan dan ibu-ibu tersebut mulai mencicipi siomay buatan Nakula di tempat, keheningan sesaat menyelinap di antara mereka. Detik berikutnya, mata mereka serentak membelalak lebar, menatap Nakula dengan pandangan takjub.
“Buset! Ini siomaynya kok rasanya makin enak, sih?! Jauh lebih gurih, teksturnya kenyal, terus aromanya beda dari biasanya. Kamu ganti bahan, ya?” puji Bu RT.
“Ah, masa, sih, Bu? Syukur kalau ibu-ibu pada suka sama rasa barunya. Kemarin memang ada resep yang saya ubah sedikit.”
Nakula kembali terkekeh pelan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tentu saja ia senang resep barunya dipuji seperti itu.
Menjelang sore hari, dagangan Nakula sudah tandas tanpa sisa. Semua wadah kukusannya kosong. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang dan membuat adonan untuk dagangan besok.
Di tengah perjalanan pulang, ia tak sengaja berpapasan dengan Yudistira yang tengah berjalan ke arah rumah. Nakula langsung memperlambat laju motornya dan menyapa pemuda itu dengan wajah yang berseri-seri.
“Yudis! Makasih banyak, ya, buat saran kamu yang waktu itu!” seru Nakula dengan nada riang yang sangat ketara.
“Hah? Iya, sama-sama, Mas. Tapi … kok Mas kelihatan senang banget hari ini? Ada angin apa? Biasanya muka Mas kusut gitu.”
Yudistira menatap Nakula dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan raut wajah yang heran. Nakula hanya tertawa-tawa menanggapi kebingungan tetangganya itu.
“Ya … ada deh pokoknya, rahasia. Oh iya, aku duluan ya, Yudis! Harus buru-buru pulang ke rumah mau bikin adonan siomay buat dagang besok!”
Nakula berpamitan tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Ia langsung memutar tuas gas motornya, meninggalkan Yudistira yang masih berdiri melongo sendirian di tepi jalan.
Sesampainya di rumah, Nakula langsung duduk di depan meja kayu kecilnya. Dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya, ia mulai menghitung lembaran uang hasil jualan hari itu. Keuntungan yang ia dapatkan berkali-kali lipat lebih banyak daripada saat ia masih menggunakan ikan teggiri asli yang harganya mencekik leher.
Setelah merapikan uangnya, Nakula melangkah ke dapur untuk menyiapkan bahan-bahan siomay. Pandangannya jatuh pada beberapa ember plastik besar yang tergeletak di sudut ruangan. Di dalam ember tersebut, tampak ratusan ekor ikan berenang berdesakan di dalam air. Stok tangkapan gratisan yang cukup untuk beberapa hari ke depan.
Hampir dua minggu kemudian, persediaan ikan di dalam embernya habis tak tersisa. Malam itu, Nakula pulang agak kemalaman dari biasanya. Tubuhnya lelah, tetapi ia harus segera bersiap.
Sesampainya di kamar, ia langsung menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa. Ia menata sebuah lampu senter baru, sehelai kain sarung bersih, dan tidak lupa memasukkan satu setel baju ganti ke dalam tas kecil miliknya.
Tepat saat jam dinding menunjukkan waktu tengah malam, suasana dusun sudah sunyi. Nakula mengendap-endap keluar dari rumah, menyusuri jalan setapak yang gelap menuju empang milik Pak Yanto.
Sesampainya di tepi empang, Nakula melangkah menuju sebuah batu besar. Dengan gerakan perlahan, ia melepaskan seluruh pakaiannya satu per satu hingga tubuhnya telanjang. Ia meletakkan pakaian dan tasnya di atas batu.
Dalam kondisi telanjang bulat di pinggir empang, Nakula berdiri sambil menundukkan tubuhnya ke arah permukaan air. Kemudian ia memanggil sosok sang penguasa empang dengan nada suara yang sengaja dibuat merayu.
“Mas sayang … keluar dong … aku dateng lagi nihh ….”
Blub … blub … byurrr!
Cahaya menyilaukan kembali membelah kegelapan empang. Dari balik air yang bergolak, muncul sesosok pria dewasa bertubuh kekar dengan paras rupawan. Sadewa kembali dalam wujud manusianya, menatap lurus ke arah tubuh polos Nakula dengan sepasang netra keemasannya yang berkilat lapar.
Melihat kehadiran sang siluman, Nakula menyunggingkan senyuman centil yang menggoda. Tanpa ragu sedikit pun, ia menurunkan kakinya ke dalam air empang, lalu segera berjalan mendekati sosok itu. Begitu tubuh kecilnya sampai tepat di hadapan Sadewa, sepasang tangan kekar sang siluman langsung mencengkeram erat pinggang ramping Nakula untuk mengunci posisinya.
Nakula tetap mempertahankan senyumannya, mendongak untuk menatap langsung ke dalam mata keemasan Sadewa. Kedua tangan kecilnya mulai bergerak nakal, meraba-raba dada bidang dan otot kekar sang siluman. Akhirnya, ia berjinjit sedikit untuk memberikan satu kecupan pada rahang Sadewa.
Nakula mengalungkan tangannya ke leher sang siluman, lalu merapatkan selangkangannya yang sudah mulai berdenyut basah pada tubuh Sadewa. Kemudian, ia berbisik dengan nada merengek manja.
“Mas sayang … ngewe lagi, yuk? Hamilin aku malam ini …,” bisiknya lembut tepat di depan wajah Sadewa, “kamu tau, nggak? Kata pelanggan siomay aku … anak-anak kita rasanya enak banget, tau ….”
