Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 5 of Igu dan Kak Nu
Stats:
Published:
2026-07-12
Words:
2,844
Chapters:
1/1
Comments:
5
Kudos:
94
Bookmarks:
2
Hits:
1,676

fire on fire (would normally kill us)

Summary:

but this much desire, together we're winners

Notes:

from a socmed au!! PLEASE READ THE TAGS.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Siapa?!”

“K-kak? Ini gue…”

Wonwoo turunin sepatunya–Doc Mart?–sedetik setelah dia lihat muka Mingyu. 

Jujur, Mingyu tau kalau ini bakal jadi kali pertama momen mereka berduaan lagi semenjak kejadian di nikahan Mas Siwan itu. Dia tau temen-temennya bakal ngaret kayak biasanya, jadi dia udah siapin diri bakal berduaan sama mantannya untuk beberapa waktu. 

Tapi, dia juga nggak nyangka bakal disapa dengan Wonwoo yang pasang ancang-ancang siaga dan hampir nabok Mingyu pakai satu sepatu bootsnya. 

“Lo- gimana- kok lo bisa masuk?” tanya Wonwoo, matanya terbelalak sambil dia lempar asal sepatunya itu ke bawah. Mingyu ketawa kecil, goyang-goyangin potongan plastik berupa kartu di tangannya.

“Access card. I never gave it back to you.” jawabnya enteng, nahan diri sebisa mungkin untuk nggak nyubit pipi Wonwoo yang memerah. “Lo kira gue maling, ‘kah?”

Wonwoo ngangkat kedua bahunya, terus dia balik badan untuk jalan ke arah ruang tengah, ninggalin Mingyu sendirian di foyer rumahnya tanpa ngomong apa-apa. Dia nyengir.

“Terus kalau ada maling, lo mau bela diri pake sepatu boots, gitu? Biar malingnya takut kalau tau lo anak skena dan minta ampun ke abang jago?”

“First of all–” Wonwoo balik badan tiba-tiba, hampir nabrak Mingyu yang udah ngintilin dia dari belakang. Mingyu ngangkat kedua tangannya untuk nandain kalau itu bukan salah dia. “First of all, gue bukan anak skena. Don’t ever say that again. Second, I didn’t know you still have your key!”

Mingyu kangen banget sama cowok di depan dia ini. Butuh seluruh sel di tubuh dia untuk nahan diri dan nggak cium pipinya itu. Wonwoo kelihatan lebih tirus, tapi seenggaknya lebih sehat dari pertama mereka ketemu lagi. Rambutnya rapi, semakin panjang, kacamatanya bertengger di hidungnya yang pengen banget Mingyu kecup.

“Why are you staring at me like that?”

“Can’t your dear ex stare at you for no reason?”

“No, and fuck you.”

Mingyu ketawa, karena sama sekali nggak ada nada tajem di suaranya Wonwoo itu. Wonwoo pun ikut senyum, terus dia duduk di sofa dan kelihatan nungguin Mingyu untuk duduk juga. 

“Macet kali, ya? Kok yang lain belum dateng?” tanya Wonwoo, matanya lekat ke TV di depannya. 

Sebenernya Mingyu nggak terlalu peduli kalau temen-temennya itu telat atau nggak dateng sama sekali. Dibolehin untuk ngobrol deket dan cuma berduaan sama mantannya aja udah buat dia seneng banget.

Karena Mingyu terlalu sibuk mandangin Wonwoo dari samping tanpa jawab apapun, Wonwoo tanya lagi. “Macet nggak tadi?”

“Iya. Aku kangen.”

Wonwoo ngedengus kecil, muter bola matanya tapi akhirnya nengok dan berhadapan sama Mingyu. “You are so–you don’t even try to stay lowkey, huh?”

Mingyu geleng-geleng. “Aku nggak mau lowkey.”

Ada tatapan dari mata Wonwoo yang nggak pernah Mingyu lihat sebelumnya. Nggak sedih, nggak sayu, tapi dalam dan hal itu buat Mingyu deg-degan. Dia inget kejadian di mobil, di mana dia dengan begonya ngelepasin Wonwoo gitu aja pas Wonwoo putusin hubungan mereka. Dia inget tatapannya yang sedih dan capek setiap dia lihat Mingyu.

“Aku juga kangen,” bisik Wonwoo. Tangannya ngedeket untuk nangkup pipi Mingyu yang dingin, dan seketika Mingyu langsung mejamin matanya dan ngehela nafas. Lega. 

“Don’t open your eyes. I’m still kind of scared.”

“Okay,” jawab Mingyu, nggak berani ngebiarin suaranya lebih besar dari suara Wonwoo tadi. 

“I’m letting you in again,” 

Mingyu bisa denger suara nafas Wonwoo yang kedengeran tercekat. Berat, dan panik. Dia tau betapa takutnya Wonwoo di detik ini, walaupun dadanya sendiri juga sesek. Tapi tetep aja, Mingyu berusaha tenangin Wonwoo dengan cara nyari pinggulnya, diusap-usap pelan. 

Walaupun nggak bisa lihat apapun, Mingyu bisa ngerasain pergerakan badan Wonwoo dengan sangat jelas–dia bisa bayangin Wonwoo yang mulai naik ke pangkuannya dan ngalungin kedua lengannya di sekitar leher Mingyu. Mingyu telen ludah. Tenggorokannya kerasa kasar dan telinganya berdengung pelan.

“Am I allowed to open my eyes now, Kak?”

“No,” jawabnya tegas. Mingyu tau Wonwoo lagi natap dia, di pangkuannya, dengan kaos putih besar dan celana pendeknya itu. Mingyu mau gila rasanya. Ada dua belas alasan kenapa dia mau nangis di saat ini juga.

“But you’re allowed to speak, and to listen to me. Okay?”

“Okay,” bisiknya.

“I’m letting you in again, even if it terrifies me and I don’t know what’s going to happen again. I know we’re going to be better this time, though, because I know we’re going to try.”

Nafas Mingyu sendiri tercekat pas dia rasain bibir lembut Wonwoo nempel ke pelipisnya. Kedua lengannya dia lingkarin ke pinggul Wonwoo, sambil masih nutup matanya sesuai perintah. 

“I want you to ask me out,” lanjut Wonwoo sambil ngelepas kacamata Mingyu yang nggak ada lensanya itu. Wonwoo taruh di atas meja. “Nicely. Properly.”

“K-kak,” Suara Mingyu nggak bisa lebih keras dari itu. Dadanya berdegup kenceng banget sampai dia tahu kalau Wonwoo bisa denger itu. “I want to make us work again. I promise that I’ll be better. I–I still love you, always have, always will. Would you be mine? Again?”

“Yeah,” bisik Wonwoo, sedetik sebelum dia ambil dagu Mingyu dan dia cium bibirnya. “You’re mine.”

Ciuman Wonwoo masih sama. Semua gerakan kerasa udah dipikirin secara matang–nggak terkesan buru-buru apalagi berantakan, karena lidahnya sigap nyapu setiap air liur yang dikeluarin dari lidah Mingyu. Mingyu miringin kepalanya ke arah yang berlawanan, berusaha nyium Wonwoo lebih dalam lagi, ngejulurin lidahnya dan buka mulutnya supaya Wonwoo bisa lebih leluasa nyium dia.

Wonwoo turunin tangannya, kali ini ngelingkarin jemari lentiknya itu di leher Mingyu. Tanpa tekanan, tapi hal itu tetep buat celana Mingyu kerasa lebih ketat. Apalagi pas pinggul Wonwoo mulai gerak, ngegesekin pantatnya ke selangkangan Mingyu yang udah keras.

Pas Mingyu mau masukin tangannya ke dalem kaos Wonwoo, Wonwoo berhenti. Dia duduk tegak, masih di pangkuan Mingyu, terus dia tepuk dadanya pelan.

“Hey. Open your eyes. I’m sorry.”

Rasanya, jantung Mingyu mencelos ke bawah perutnya begitu denger kata-kata itu. Dia buka matanya seketika, nyari mata Wonwoo di atas.

“Kenapa? Kak? Do you regret this? Please, no, I promised I’ll be good. I know what my faults are and I’ll try to–”

“Nggak, Mingyu-” Wonwoo kecup bibirnya lembut. “Calm down. Aku nggak nyesel. Aku minta maaf, soalnya aku lupa kalau aku… aku belum prep. It’s been a while, too.”

Mingyu nganga, ngedip-ngedip karena seketika otaknya nggak berfungsi dengan baik.

“Oh…”

“Yeah…” kata Wonwoo, ketawa manis sambil jilat bibirnya. Dia elus rambut Mingyu yang padahal udah pakai gel rambut itu, terus dia senyum lagi. “You can suck my tits while I jerk you off?”

Walaupun itu tawaran yang buat dia dan selangkangannya sangat tertarik, tapi Mingyu geleng-geleng. Kali ini wajah Wonwoo yang kelihatan sedih seketika. Mingyu buru-buru berusaha lurusin, megang kedua pergelangan Wonwoo.

“Nggak gitu, maksudnya… aku udah prep.”

“Hah?”

Mingyu ngusap tengkuknya, malu. “Aku udah prep. Just in case, I thought. And I was right. The just-in-case happens. So don’t scold me, or–”

“Fuck. You’re just so good, aren’t you, Igu baby?” kata Wonwoo, motong kata-katanya sambil ketawa kecil. Ujung bibirnya ditarik ke satu sisi, nyeringai sambil benerin kacamatanya. Mingyu bisa rasain ereksinya yang perlahan mulai ngeras dan nyentuh kontolnya sendiri dari balik kain. 

Karena kepalang sange dan nggak tau harus respon gimana, Mingyu megap-megap bego aja.

“You prepped yourself because you knew I’d fold for you and we’d get back together today? Yeah? Is that it?”

“I…”

“Fucked yourself in the shower while you thought of me, huh?” 

“Kak, please…”

Wonwoo usap pipinya kasar sebelum dia masukin jempolnya ke mulut Mingyu yang langsung ngemut dengan patuh, seakan-akan itu makanan terenak yang pernah Mingyu masukin ke mulutnya.

“Do you know how much I’ve missed you, Puppy?”

Mingyu geleng-geleng, matanya sayu sambil dongak ke atas untuk natap wajah Wonwoo. 

“Want me to show you?”

“Y-yeah, phleashe…” jawab Mingyu, berusaha kedengeran jelas dengan satu jempol di mulutnya. 

Mingyu ngerintih pelan pas Wonwoo tarik lagi jarinya itu, apalagi pas Wonwoo beranjak untuk bangun dari pangkuannya. Wonwoo cuma senyum sambil narik tangannya, ngajak Mingyu masuk ke kamar tidurnya sambil tergopoh-gopoh.

Kamar ini, suasana ini, wangi ini–semua hal yang Mingyu nggak temuin untuk beberapa bulan ke belakang. Dia kangen. Dia nggak bisa mikir lagi. Dia cuma mau Kak Nu dan Kak Nu seorang.

Bahkan, Mingyu nggak inget gimana atasan dan bawahannya udah dilepas. Kayaknya sama Wonwoo, karena dia ngerasa kedua tangannya itu lemes dan linu. Dengan tanpa sehelai kain pun di badannya, Mingyu tiduran di kasur Wonwoo.

Wonwoo yang langsung ngegerayangin badannya dari atas itu mulai dari pergelangan kaki Mingyu. Dia kecup lembut, pindah ke betis, ke paha bagian dalem tanpa nyentuh kontolnya, ke perutnya, ke perutnya dan seluruh bagian itu, ke dada, leher, dan akhirnya sampai ke batang hidung Mingyu. Wonwoo belum lepas celananya, tapi kaosnya udah entah di mana. Mingyu ngerasa mulutnya penuh dengan air liur pas dia liat tete Wonwoo di depan matanya.

“Suck,” perintah Wonwoo, dan Mingyu turutin. 

Dengan lahap, dia masukin seluruh area payudara Wonwoo ke mulutnya. Lidahnya nyapu pentil tegang itu, ngeluberin seluruh areola Wonwoo dengan ludahnya sambil dia kenyot kasar. Wonwoo ngerintih di atasnya, ngilu, tapi Mingyu udah nggak bisa nahan diri lagi. Sesekali badan Wonwoo turun, nempelin ereksinya ke ereksi Mingyu, dan Mingyu cuma bisa genjot dari luar kain celana Wonwoo, berharap kalau dia bisa keluar dari situ.

Wonwoo arahin Mingyu untuk ke tetenya yang satu lagi. “You’re so good, Puppy. Kenyot yang pinter, ya.”

Entah dari mana, sebotol pelumas udah ada di tangan Wonwoo. Mungkin Wonwoo ambil dari laci samping kasurnya, atau mungkin emang udah ada di kasur sebelumnya. Tapi Mingyu nggak peduli, karena jemarinya yang udah becek berlumuran lube itu diteken masuk ke dalem lubang Mingyu. 

Kaget, Mingyu terkesiap dan ngelepas tete Wonwoo dari mulutnya. Rasanya dingin, karena mungkin pacarnya (!) itu langsung masukin tanpa diangetin di jarinya dulu sebelumnya.

“Maaf,” bisik Wonwoo, ngecup rambut Mingyu. “I got too excited seeing you all pretty like this, Mingyu.”

“Aku mau dipenuhin…” pinta Mingyu, ngerengek sambil genggam pinggul Wonwoo kenceng. “Please, lagi…”

“You’re still so tight, Pup,” kata Wonwoo, ngeruk dua jari di dalem Mingyu sambil keluar masuk. “We need to stretch you out again.”

Kontol Mingyu gerak, ujungnya ngeluarin cairan precum. Pas Wonwoo usap batangnya, dia kira Wonwoo bakal ngocokin dia sampe keluar. Taunya, Wonwoo malah duduk tegap di samping kakinya sambil senyum.

“Kayaknya harus kita longgarin pakai kontol, deh, Min. Tapi bukan kontol Kakak.”

Jujur, kepala Mingyu udah pusing duluan denger Wonwoo ngomong kontol dengan telanjang dada. Apalagi karena kedua tetenya itu keliatan mengkilap dengan ludah dan ada bercak merah hasil Mingyu di sekitarnya. Mingyu cuma bisa ngedip tanpa nanya.

Pas Wonwoo suruh Mingyu untuk balik badan dan tengkurep, Mingyu juga nggak banyak protes. Dia percaya sama Wonwoo. Pantatnya nungging, kakinya dilipet, kontolnya kegesek di antara perut dan bedcover kasur Wonwoo. Beberapa bantal jadi tumpuan kepalanya untuk senderan, dengan pipi kanannya ditempel ke bantal.

“Fuck yourself for me, Puppy.”

“With wha–”

Sebelum Mingyu selesai nanya, Wonwoo tarik batang kontolnya dari belakang secara perlahan, nekuk, nekuk, bahkan tanpa Mingyu tau juga kalau kontolnya itu fleksibel walaupun dalam keadaan semi-tegang.

Di sini lah Mingyu baru sadar, kalau Wonwoo pengen dia ngentotin kontolnya sendiri.

Mingyu telen ludah. Dia nggak tau kalau bakal sampai atau nggak, tapi dia mau buat pacarnya itu seneng kalau dia turutin pintanya. 

Rasanya aneh, kepala kontolnya sendiri itu gesek-gesek ke lubangnya yang udah becek sama lube, tapi dengan posisi ini Mingyu nggak bisa masukin seluruhnya walaupun dia tau ukuran dia di atas rata-rata. Dia gesekin lagi, kepalanya keluar-masuk, ngebuat suara-suara kecipak basah yang buat Wonwoo ngegeram pelan. 

“So big, so pretty..” bisiknya sambil nyengkram pantat Mingyu keras. “Such a good girl for me.”

“Nghh…” Mingyu mejamin matanya, ngerasa enak tapi nggak cukup. Dia mau dimentokin.

Akhirnya, Mingyu bangun dari posisinya untuk duduk–dudukin kontolnya sendiri. Dia nggak nyangka kalau dengan posisi ini, setengah dari batangnya itu langsung kesodok masuk. Dia ngelenguh kenceng, dongakin lehernya sambil berusaha genjot ereksinya.

“Kaak... Kak Nu–ahhh…”

“Fuck, Mingyu, you’re so beautiful–so beautiful. There we go. All stretched up for me, yeah? Enak? Ngentotin kontol kamu yang gede itu, enak?”

“Enaak…”

“Lagi, sayang, Kakak bolehin keluar.”

Mingyu geleng-geleng, “Maunya keluar s-sama Kakak…”

Walaupun nggak bisa liat, Mingyu bisa denger suara tawa Wonwoo yang tercekat. Boolnya megap-megap, nerima kontolnya sendiri dengan baik, walaupun nggak sampai mentok.

Akhirnya, akhirnya, setelah apa yang Mingyu pikir itu udah berjam-jam, Wonwoo ngeberhentiin genjotan dia dengan cara naruh tangannya di atas bahu Mingyu. Mingyu berhenti, terus ngeluarin kontolnya sebelum dia tiduran terlentang lagi.

Nggak tahu dapat kekuatan dari mana, atau mungkin karena Mingyu yang nggak ada sedikit pun tenaga di dirinya, Wonwoo narik kedua kaki Mingyu dengan gampangnya dan dia tekuk di atas, ngelebarin pantat Mingyu sampai dia bisa ngerasain udara dingin yang ngebuat sisa-sisa lube itu mulai lengket.

Satu jari Wonwoo digunain untuk ngorek pelumas itu keluar dari lubang Mingyu. Mingyu ngelenguh keenakan, badannya nggak bisa diem, jemarinya nyengkram sprei sampai kusut. Wonwoo ludahin lubang Mingyu yang udah megap-megap itu, terus dia nunduk untuk ngenyot pinggiran lubang Mingyu yang berkerut. Dia jilat sekelilingnya, terus dia masukin lidahnya yang ditegangin sambil ngatup mulutnya lagi. 

Wonwoo nggak peduliin erangan-erangan Mingyu yang bilang ngilu dan geli. Malah semakin Mingyu ngerengek, semakin keras dia kenyot lubangnya itu. Lidahnya keluar-masuk, ngeruk bagian dalem boolnya sampai dagunya belepotan sama sisa-sisa pelumas dan ludahnya sendiri. Wonwoo sempat berhenti sejenak untuk ngebenerin kacamatanya pakai satu tangan, terus dia lanjut lagi nyapuin lidahnya sambil ngenyot lubang Mingyu.

“Kak, udah, udah, mau keluar…”

Wonwoo cuma ngegumam pelan, tau kalau suaranya itu bakal ngasih getaran ke lubangnya yang udah sensitif. 

“Kak, please, aku boleh nggak–”

“Mm, go ahead, Puppy,” jawab Wonwoo tanpa ngelepas mulutnya itu. Sedetik kemudian, Mingyu keluar sampai gemeteran, walaupun tanpa disentuh sama sekali. Pejunya muncrat berantakan ke perut dan tetenya, matanya sayu dan merem-melek keenakan.

Tanpa ngasih waktu ke pacarnya yang masih sensitif karena baru keluar, Wonwoo ambil botol pelumas itu dan kali ini, dia tuang setengah dari isinya tepat ke lubang Mingyu. Sisanya dia peperin ke kontolnya sendiri. Mingyu sendiri nggak sadar kalau Wonwoo udah lepas celananya dan kontolnya itu udah tegang. Mungkin Wonwoo ngocok sendiri sambil mandangin Mingyu yang habis ngentotin dirinya sendiri tadi.

Walaupun masih ngilu, Mingyu dan Wonwoo ngedesah di waktu yang bersamaan pas Wonwoo akhirnya mentokkin ereksinya itu ke dalem lubang Mingyu.

Rasanya Mingyu bisa keluar lagi saat ini juga, tapi dia tahan-tahan, nggak mau keluar gitu aja tanpa Wonwoo lagi. Wonwoo pegang–bukan, cengkram paha bagian dalem Mingyu dengan posisi masih kelipat di atas sambil dia hentakkin pinggulnya, ngentotin bool pacarnya itu sampai badan Mingyu keguncang-guncang di atas kasur.

Mingyu cuma bisa ngences, ngebiarin badannya digunain, dipake asal-asalan sama Wonwoo. Dia ketatin boolnya itu dan seketika Wonwoo ngelenguh kenceng, paling kenceng yang pernah Mingyu denger, terus dia percepat genjotannya itu seakan-akan lagi ngejar orgasme.

“Mingyu?” tanya Wonwoo di sela nafasnya yang berat.

“Yeah…”

“Open your mouth for me, please.”

Pas Mingyu buka mulutnya, Wonwoo ngebiarin ludahnya ngejuntai dari mulutnya sendiri ke mulut Mingyu. Anget, becek, berantakan, tapi Mingyu semakin pusing dibuatnya. Wonwoo dekatin kepalanya untuk cium bibirnya lagi, kali ini beda dari biasanya. Kali ini kasar, berantakan, dan tergesa-gesa. Sama kayak hentakkan kontolnya di bool Mingyu.

“Kaak…”

“I know baby, sebentar lagi, pinter.”

“Igu mau keluar, Kak…”

“Kakak juga- sebentar-”

Jemari Wonwoo kayak baru inget sama kontol Mingyu yang daritadi dia anggurin. Tapi, cuma dengan beberapa gesekan telapaknya, ditambah dengan kontol Wonwoo yang numbuk titik sensitifnya berkali-kali, Mingyu bucat. Dia keluar, keluar, keluar, sampai rasanya dia hilang kesadaran. Pahanya kedutan, badannya lemes, tapi Wonwoo masih genjot dia sambil ngenyot lehernya yang Mingyu yakin pasti bakal ngebekas dengan jelas.

Dia nggak masalah nahan ngilu setelah orgasme karena Wonwoo masih ngentotin dia, mentokkin boolnya sambil sesekali grepe-grepe badan Mingyu di bawahnya itu. 

“I love you, Puppy, I love you so much,” erangnya pelan. Mingyu ngerintih. “Say you love me too.”

“I love you, Kakak…” Mingyu cuma bisa ngelenguh pelan, kesadarannya datang dan pergi. 

“Good,” bisik Wonwoo, dan seketika itu Mingyu bisa ngerasain cairan hangat yang menuhin lubangnya itu. Rasanya aneh ke perut, geli, sampai rasanya kontolnya yang udah lemes itu kedutan lagi, mulai tegang. “Good boy. Good. I love you.”

 

***

 

“Hi, you.”

Mingyu buka matanya pelan. Alih-alih di kasur tadi, Mingyu (dan Wonwoo) udah pindah ke bath tub yang diisi air anget. Badan Mingyu sedikit pegel, apalagi boolnya yang kebas, tapi air anget itu sangat ngebantu buat dia rileks.

“Aku ketiduran, ya…?”

“Mmm,” jawab Wonwoo, bergumam. Dia senderin punggung Mingyu ke dadanya. Bath tub Wonwoo emang nggak kecil, tapi nggak sebesar itu juga untuk nge-akomodasi dua badan besar mereka berdua. Kaki Wonwoo dan Mingyu sama-sama ketekuk supaya muat.

“Kita pacaran lagi, ya?” tanya Mingyu, noleh ke belakang untuk natap Wonwoo yang lagi senyum lembut ke aranya.

“Iya. Kita pacaran lagi.” Wonwoo keluarin tangan Mingyu dari rendaman air untuk dikecup, terus dia elus paha Mingyu pelan. “Yang pinter ya. Aku juga bakal lebih pinter sekarang.”

Mingyu ngangguk. Ngantuk, capek, tapi dadanya penuh sama rasa sayang dan bahagia.

“Makasih, Kak…”

“Makasih juga, Sayang.”

Mingyu ngehela nafas panjang, mejamin matanya sekali lagi sambil nikmatin suasana rendaman ini sambil didekap Wonwoo.

“Hey, Min.”

“Hmm?”

“Should I thank Jihoon, or should I choke him to death for not showing up tonight?”

Mingyu ketawa, terus dia nengok ke belakang lagi untuk noel hidung Wonwoo lembut. 

“Whatever it is, I’ll support you. From behind, because I’m still scared of him.”

Wonwoo senyum lebar, terus dia kecup hidung Mingyu sambil sesekali digigit pelan. 

 

Pacaran lagi.

Notes:

IGUNU BALIKAN!!!!!!! SEBARKAN SEBARKAN

Series this work belongs to: