Work Text:
Nakula lahir dan tumbuh di tengah keluarga miskin. Sejak kecil, ibunya mengusahakan segala cara agar putra semata wayangnya dapat menuntaskan dua belas tahun pendidikan formal. Namun, setelah lulus SMA, hidup tak pernah benar-benar berpihak kepadanya.
Dahulu, ibunya dikenal sebagai gadis desa yang jelita. Paras cantik itu menurun hampir seluruhnya kepada Nakula. Saat merantau ke ibu kota, sang ibu bertemu dengan ayahnya. Lelaki itu melamarnya dengan mas kawin puluhan juta. Pada akhirnya, ibunya menerima pinangan tersebut walau usianya masih muda—tanpa tahu uang itu berasal dari utang berbunga tinggi dari para rentenir.
Topeng sang ayah mulai runtuh ketika ibunya memergoki perselingkuhan ayahnya yang telah lama disembunyikan. Kala itu Nakula baru berusia lima belas tahun. Setelah kebohongan pertama terbongkar, berbagai persoalan lain bermunculan satu demi satu hingga kehidupan mereka perlahan hancur.
Puncaknya terjadi ketika sang ibu meminta bercerai. Permintaan itu justru berujung pada kematian ibunya. Diliputi kepanikan, ayahnya melarikan diri dan meninggalkan Nakula yang belum lama itu lulus SMA. Beruntung, penyelidikan polisi membuktikan bahwa saat pembunuhan terjadi, Nakula sedang mengikuti proses wawancara kerja sehingga ia terbebas dari segala tuduhan.
Sejak hari itu hidupnya berubah drastis. Sang ayah masih menjadi buronan, sementara utang ratusan juta dilimpahkan kepadanya. Masa muda yang seharusnya dipenuhi mimpi habis untuk bekerja dari pagi hingga malam demi melunasi cicilan, tetapi para penagih utang tetap tak segan menghajarnya setiap kali pembayaran terlambat.
Saat benar-benar berada di ujung tanduk, satu-satunya orang yang berani ia datangi hanyalah Arjuna. Sahabatnya sejak dalam kandungan itu tengah menerima kunjungan kekasihnya ketika Nakula datang dengan wajah babak belur dan pakaian berlumuran darah kering.
Arjuna tentu ingin membantu. Namun, melunasi utang sebesar itu jelas mustahil bagi mahasiswa semester akhir yang masih hidup dari pekerjaan sambilan. Tak banyak yang dapat ia lakukan selain mengobati luka-luka Nakula dan menemaninya melewati malam itu.
“Pelihara tuyul aja, Kul,” celetuk Yudistira, kekasih Arjuna, yang seketika dihadiahi sebuah jitakan di kepala.
Mendengar saran nyeleneh itu, Nakula hanya tertawa. Mana mungkin ia memercayai hal semacam itu? Namun, ketika malam semakin larut dan ia kembali merebahkan diri di atas kasur kapuk tipis di kamar kontrakannya, ucapan Yudistira justru terus mengusik pikirannya.
Untuk pertama kalinya, ia mempertimbangkan sesuatu yang selama ini hanya dianggap takhayul.
Ia ingin memelihara seekor tuyul.
Berbekal tekad yang lebih besar daripada akal sehatnya, Nakula mulai mencari tahu cara memperoleh makhluk tersebut. Berbagai petunjuk mengarah ke sebuah rumah tua di kampung halaman ibunya. Konon, seorang mbah dukun yang tinggal di sana mampu membantu siapa pun mendapatkan seekor tuyul.
Namun, ketika ia menapakkan kakinya di sana, rumah itu rupanya telah lama kosong. Mbah dukun itu telah lama meninggal. Namun, tiada yang tahu sebab kematiannya karena beliau meninggal secara mendadak beberapa hari setelah menerima tamu terakhir.
Nakula mengembuskan napas kecewa dan bersiap meninggalkan rumah itu. Namun, sebelum sempat melangkah keluar, pandangannya tertumbuk pada sebuah botol kaca yang tergeletak di atas meja makan berdebu.
Sejujurnya ia ragu, tetapi ia kalah dari rasa penasaran yang mendorongnya untuk mendekat. Ia mengangkat botol itu perlahan, lalu mengintip ke dalam.
Seketika, tubuhnya terjengkang mundur.
Dari balik kaca, sepasang mata kecil berwarna kuning menatapnya tajam.
Di dalam botol itu terdapat seekor tuyul.
Sejujurnya, Nakula masih diliputi keraguan. Namun, ia tetap memberanikan diri untuk kembali mendekati makhluk kecil itu. Ia tak tahu bagaimana cara memelihara seekor tuyul, tetapi ia ingin mencoba bernegosiasi dengannya. Bagaimanapun, ia harus membayar utang yang ditinggalkan ayahnya.
“Hei, aku butuh bantuanmu ... bisakah kau membantuku?”
Makhluk kecil itu bergeming. Meski begitu, raut wajahnya seolah menunggu Nakula melanjutkan perkataannya. Otak pemuda itu bekerja keras menyusun kalimat demi kalimat, berharap dapat menarik perhatian makhluk di hadapannya.
“Namaku Nakula dan aku hanyalah orang miskin …,” ucapnya seraya menarik napas panjang, “tapi aku membutuhkan banyak uang untuk melunasi utang yang ditinggalkan ayahku. Maukah kau membantuku?”
“Aku memang tak memiliki apa-apa ... tapi setelah utang-utang itu lunas, aku akan memberikan apa pun yang kau minta ....”
Sebuah ide bodoh tiba-tiba terlintas di benaknya, teringat pada informasi yang sempat ia baca semalam. Ia terdiam cukup lama, menimbang-nimbang apakah ide itu pantas diucapkan. Pasalnya, jika informasi tersebut benar, keputusan itu bisa saja membuatnya kehilangan nyawa di usia muda.
“Mungkin ... eum, aku hanya tahu dari berita yang kudengar ... ka-katanya, t-tuyul suka menyusu pada tuan wanitanya ...,” Nakula memejamkan matanya erat-erat sebelum menatap makhluk itu dengan ragu, “a-aku memang laki-laki. T-tapi kalau kamu mau sepakat … aku bisa memberikan apa yang biasa dilakukan seorang wanita untuk memuaskanmu. Tubuhku bisa memenuhi kebutuhan itu ….”
Napas Nakula memburu. Dadanya naik turun seiring jantungnya yang berdetak semakin cepat. Netra birunya kembali menatap makhluk kecil di dalam botol kaca itu. Si tuyul tampak mempertimbangkan tawaran tersebut beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepala pelan.
Melihat anggukan itu, Nakula memekik kegirangan. Akhirnya ... akhirnya ia memiliki harapan untuk terbebas dari tumpukan utang yang ditinggalkan ayah brengseknya.
Dengan hati-hati, tangan lentiknya meraih botol kaca itu, “Haruskah aku mengeluarkanmu sekarang?”
Makhluk kecil itu menggeleng. Jemarinya yang mungil kemudian menunjuk ke arah cahaya matahari yang masuk melalui jendela rumah tua itu.
Nakula mengernyit, “Karena sekarang masih siang?”
Si tuyul kembali mengangguk.
“Oh … oke ….”
Meski tak sepenuhnya mengerti alasannya, Nakula memilih untuk menurutinya. Ia menyelipkan botol kaca itu ke dalam ranselnya dengan hati-hati agar tidak pecah selama perjalanan. Setelah memastikan tak ada barang lain yang tertinggal, ia meninggalkan rumah tua tersebut dan bergegas kembali ke ibu kota.
Hari demi hari silih berganti. Empat bulan telah berlalu semenjak Nakula menemukan seekor tuyul di rumah tua milik seorang dukun. Kini, utang ratusan juta yang semula terasa mustahil untuk dilunasi hanya tersisa seperlima bagian. Untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, ia tak lagi dihantui kecemasan memikirkan uang makan untuk hari esok.
Namun, ada harga yang harus ia bayar.
Semakin banyak utang yang berhasil dilunasi, tubuhnya justru semakin melemah. Wajahnya kian pucat, lingkar hitam di bawah matanya semakin jelas, dan bobot tubuhnya perlahan menyusut. Mula-mula Nakula mengira itu hanyalah akibat terlalu banyak bekerja. Akan tetapi, hari demi hari berlalu dan kondisinya tak kunjung membaik.
Perubahan itu tentu tak luput dari perhatian Arjuna.
“Kul … akhir-akhir ini lu sakit?”
Nakula yang tengah menyeruput kopi hanya menggeleng singkat, “Cuma capek, Jun ….”
“Lu yakin? Muka lu pucat banget.”
“Aku nggak apa, Juna ….”
Arjuna mengembuskan napas pelan. Ia mengenal Nakula jauh lebih lama daripada siapa pun. Sejak kecil, sahabatnya itu selalu menyembunyikan masalah di balik senyuman tipisnya. Semakin sering berkata ‘aku baik-baik saja’, biasanya justru semakin buruk keadaan yang sebenarnya.
“Kalau emang lagi ada masalah cerita aja, Kul.”
Nakula hanya tersenyum tipis, “Nanti.”
Sore itu, Nakula pulang lebih lambat dari biasanya. Langkahnya terasa berat, seolah setiap pijakan menguras sisa tenaga yang masih ia miliki. Sesampainya di depan kontrakan, ia berhenti sejenak. Satu tangannya bertumpu pada kusen pintu, sementara napasnya memburu.
“Hah ….”
Ia memejamkan mata beberapa detik, berusaha meredakan pusing yang kembali menyerang. Setelah merasa sedikit lebih tenang, barulah ia membuka pintu dan masuk ke dalam. Seperti biasa, botol kaca itu masih terletak di atas meja.
Nakula hanya meliriknya sekilas sebelum merebahkan diri di atas kasur tipis. Seluruh tubuhnya terasa nyeri, bahkan mengangkat lengan saja terasa begitu berat.
Lalu, malam pun tiba.
Begitu cahaya matahari benar-benar menghilang, makhluk kecil itu keluar dari dalam botolnya dan menghampiri Nakula. Makhluk itu memandanginya tanpa berkedip, menunggu sang tuan memberikan bayaran seperti biasa sebelum ia melancarkan aksi nanti.
Nakula mengembuskan napas panjang, “Dewa … terima kasih udah bantu aku selama ini.”
Ia menunduk, menatap dalam mata keemasan makhluk itu. Tangannya meremas ujung selimut yang menutupi kakinya.
“Tapi … kurasa kita harus berhenti …,” raut wajah Sadewa perlahan berubah, “badanku makin hari makin lemah. Aku tahu ini harga yang harus aku bayar, tapi … aku benar-benar nggak kuat lagi.”
“Dewa, aku benar-benar minta maaf … kalau aku udah baikan, kita bisa—”
Kalimat Nakula terputus. Bulu kuduknya berdiri lantaran ketakutan. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, sorot mata makhluk itu dipenuhi kemarahan. Netra keemasannya berubah menjadi merah dan kini menatapnya tajam.
“D-Dewa?”
Tubuh kecil itu perlahan mendekat. Tanpa sadar, Nakula menggeser tubuhnya ke belakang, berusaha menjaga jarak. Namun, beberapa saat kemudian punggungnya telah menyentuh dinding kontrakan yang dingin. Ia tak lagi memiliki ruang untuk menjauh.
Sadewa kini berada tepat di hadapannya. Napas Nakula semakin berat, sementara sorot mata Sadewa tak sedikit pun bergeser darinya. Suasana di dalam kamar sempit itu mendadak terasa mencekam.
“Dew—eukhh!?”
Tangan kecil sedingin es itu mencengkeram erat leher sang tuan. Pasokan udara terputus, membuat napas Nakula tersendat seketika. Ia memukul-mukul lemah lengan Sadewa, tetapi makhluk itu mengabaikannya seolah pukulan Nakula hanyalah angin lalu.
Menggunakan satu tangannya yang bebas, Sadewa bergerak cepat merenggut paksa kemeja yang membungkus tubuh tuannya hingga kancing-kancingnya terlepas. Nakula yang kondisi fisiknya memang sedang lemah, benar-benar tidak mampu melawan. Postur tubuhnya yang menang telak sama sekali tidak berguna di hadapan kekuatan mistis tuyul tersebut.
Begitu kain kemeja itu tersingkap dan mengekspos dada telanjang Nakula, Sadewa tidak membuang waktu. Makhluk kecil itu langsung merunduk, menempelkan bibirnya pada dada sang tuan, lalu mulai mengisapnya dengan rakus. Seketika itu juga, Nakula merasakan sensasi sedingin es menjalar ke seluruh tubuhnya. Energi kehidupannya seolah ditarik paksa keluar dari dada, membuat tubuh besarnya yang semula masih mencoba bertahan, kini perlahan semakin kehilangan daya.
Bersamaan dengan isapan yang kian dalam di dadanya, cengkeraman di leher Nakula dilepas. Dadanya naik turun dengan kasar, mencoba mengisi kembali paru-parunya yang sempat kosong, sementara Sadewa masih menempel erat di sana—terus menyusu tanpa memedulikan penderitaan sang tuan.
Belum sempat Nakula menguasai kesadarannya, tangan kecil Sadewa beralih ke bawah. Tanpa repot-repot menurunkan ritsleting, makhluk itu merenggut dan merobek celana Nakula hingga koyak menjadi dua. Udara dingin malam langsung menerpa selangkangan Nakula, mengekspos bagian intimnya yang rupanya sudah basah akibat stimulasi pada dadanya sejak tadi.
“D-Dewa … m-mau ngapain ….”
Nakula mencoba menggerakkan bibirnya yang mendadak terasa kaku. Kesadarannya bergulat antara rasa lemas akibat energinya yang diisap dan sensasi aneh yang menjalar di bawah sana.
Sadewa mengabaikannya, terlalu sibuk mengisap puting Nakula yang kini mulai memerah. Di saat yang sama, jemari kecil makhluk itu mulai bergerak mengusap dan memainkan labia Nakula yang basah. Sentuhan itu membuat sang tuan menggelinjang.
“A-ahhh … Dewa … u-udah, stop …,” erangan Nakula akhirnya lolos dari celah bibirnya.
Sentuhan dingin di area sensitifnya mengkhianati akal sehatnya. Sensasi aneh itu terasa sungguh memabukkan hingga membuat tubuh bagian atasnya melengkung ke atas, sementara kepalanya mendongak pasrah. Desahan demi desahan mulai memenuhi ruangan.
Mengabaikan rintihan sang tuan, Sadewa langsung melesakkan tiga jarinya sekaligus ke dalam liang Nakula yang sudah sangat basah. Nakula tersentak, matanya membelalak saat rasa penuh dan dingin menghujam bagian dalamnya tanpa peringatan. Ia memekik tertahan, mencengkeram seprai di bawahnya dengan erat saat tiga jemari kecil itu mulai bergerak maju mundur, mengocok lubangnya dengan ritme yang konstan.
Cairan alami Nakula merembes semakin banyak, bekerja sebagai pelumas yang mempermudah pergerakan Sadewa. Perlahan, otot-otot liang Nakula yang semula menjepit ketat mulai mengendur. Desahan yang keluar dari mulutnya kini berubah kian tak beraturan mengikuti alur tubuh mereka. Dirinya mulai pasrah menikmati stimulasi liar yang menguras sisa-sisa kesadarannya.
Begitu merasakan dinding dalam tuannya sudah melunak, Sadewa memberikan seringai tipis. Dengan satu dorongan mantap, seluruh tangan kecilnya melesak masuk ke dalam vagina Nakula. Tubuh Nakula gemetar hebat, erangan kerasnya teredam di udara malam saat merasakan seluruh kepalan tangan mungil si tuyul kini memenuhi bagian dalam liangnya.
“D-Dewahh!”
Tangan kecil Sadewa mulai bergerak keluar masuk dengan ritme yang lambat. Nakula hanya bisa menangis pasrah, membiarkan tubuhnya diobrak-abrik dari dalam oleh makhluk itu. Tiba-tiba, kepalan tangan Sadewa menyenggol satu titik di dinding dalam Nakula, membuat sang tuan memekik keras. Menyadari reaksi tuannya, gerakan tangan Sadewa mendadak berubah menjadi sangat cepat dan brutal.
“D-Dewa—ahh! Stop, k-keluarin … hnggh! Dewaah!”
Jeritan Nakula pecah bersamaan dengan tubuhnya yang menggelinjang sebelum akhirnya ia melemas setelah mencapai klimaks pertamanya.
Begitu pelepasan Nakula mereda, Sadewa akhirnya melepaskan isapannya dari puting sang tuan yang sudah memerah dan bengkak. Makhluk itu menarik keluar tangannya yang basah kuyup oleh cairan dari dalam tubuh Nakula.
Tanpa membuang waktu, Sadewa beralih melepaskan selembar kain yang menutupi selangkangannya. Nakula yang masih terengah-engah hanya memicingkan mata, menyaksikan penis milik si tuyul yang telah menegang di hadapannya.
Sadewa mencengkeram kedua lutut Nakula dan melebarkan paha sang tuan secara paksa. Nakula mencoba menutup kakinya kembali, tetapi tenaganya yang sudah terkuras habis membuat usahanya sia-sia. Sadewa merangkak maju, memosisikan kejantanannya tepat di depan bibir vagina Nakula yang masih berdenyut dan basah pascaklimaks.
“J-jangan, Dewa … ampun … jangan di sana …,” lirih Nakula dengan suaranya yang serak.
Seringai kembali terukir di wajah Sadewa. Tanpa memberi peringatan, makhluk itu menyentakkan pinggulnya ke depan, melesakkan seluruh panjang kejantanannya ke dalam liang Nakula dalam satu dorongan.
“AKHHH!” jeritan melengking Nakula menggema di dalam kamar.
Tubuhnya refleks tersentak ke atas, matanya membelalak lebar menatap langit-langit saat merasakan benda keras dan asing itu menghujam dalam, mengisi penuh kembali dirinya.
Tanpa memberikan waktu bagi Nakula untuk membiasakan diri, Sadewa langsung mengentakkan pinggulnya dengan brutal. Gerakan keluar masuk itu terjadi begitu cepat, menimbulkan suara basah yang bersahut-sahutan dengan desahan Nakula. Sang tuan hanya bisa menangis pasrah, meremas seprai erat-erat saat setiap tumbukan keras makhluk itu mengocok isi perutnya. Pikirannya benar-benar mati rasa, hanya bisa menerima setiap hantaman tanpa daya.
Setelah puluhan tumbukan kasar, Sadewa mengerang rendah saat mendekati pelepasannya yang pertama. Tepat di depan mata Nakula, sesuatu yang mengerikan mulai terjadi pada tubuh si tuyul. Bersamaan dengan cairannya yang menyembur deras di dalam, ukuran tubuh Sadewa membengkak dan membesar secara tidak wajar. Kulitnya berubah gelap, berkerut-kerut menjijikkan, dan perutnya membusung.
Ketika wajah tuyul itu berubah menjadi sesosok monster berwajah buruk yang teramat jelek, Nakula membelalak horor. Jarak wajah mereka yang begitu dekat dengan bau yang memuakkan membuat perut Nakula mendadak bergolak mual. Ia ingin muntah, tetapi rasa takut yang luar biasa telanjur mencengkeram dadanya hingga ia hampir tidak bisa berteriak.
Belum sempat Nakula memalingkan wajah karena mual, tubuh besar Sadewa langsung ambruk, menggencet tubuhnya telak di atas kasur. Bobot besar, kenyal, dan berminyak itu menekan dada Nakula hingga ia merasa paru-parunya nyaris remuk.
Di tengah kepanikan Nakula yang setengah mati ketakutan di bawah impitan monster itu, Sadewa tidak berhenti. Tanpa mencabut kejantanannya, makhluk buruk rupa itu kembali mengentakkan penis yang ukurannya jauh lebih besar itu dengan ritme yang jauh lebih kasar.
Dua kali, tiga kali, hingga empat kali berturut-turut, Sadewa mencapai klimaksnya. Setiap pelepasannya menyemburkan cairan panas yang merembes dari lubang Nakula.
Pada klimaks yang keempat, penglihatan Nakula sepenuhnya buram. Sensasi panas di dalam dirinya dan beban luar biasa yang mengimpit dadanya membuat dirinya benar-benar kehabisan ruang untuk bernapas. Tubuhnya yang sejak awal memang kurang sehat kini bergetar hebat pada klimaks terakhir. Pada akhirnya ia pingsan, sementara si setan masih asyik mengobrak-abrik tubuhnya yang tak lagi bergerak.
Ketika cahaya matahari pagi mulai menerobos masuk lewat celah jendela, Nakula perlahan membuka matanya. Rasa sakit dan linu luar biasa menjalar di sekujur persendiannya akibat hal gila yang terjadi semalam. Namun, ada satu hal ganjil yang ia rasakan, tubuhnya tak lagi selemas dan sepucat kemarin. Entah sakit yang biasanya menyiksa tubuhnya itu menguap ke mana.
Bukannya merasa lega, Nakula justru langsung bangkit dengan panik, meringkuk ketakutan di sudut kasur sembari memeluk lututnya rapat-rapat hingga berdempet dengan tembok. Ingatan mengenai wujud besar Sadewa yang gendut, berkerut, dan buruk rupa mendadak terputar kembali di kepalanya. Bersamaan dengan itu, bayangan bau memuakkan yang sempat menguar semalam seolah kembali menusuk hidungnya.
Perut Nakula bergolak hebat. Rasa mual yang tak tertahankan membuatnya menunduk, lalu memuntahkan isi perutnya di atas kasur. Sambil gemetar, tangan Nakula meremas perutnya sendiri dengan cemas. Ia teringat dengan jelas bagaimana cairan panas dalam jumlah tak masuk akal telah disemburkan ke rahimnya semalam. Ketakutan yang amat sangat mulai merayapinya.
Bagaimana jika makhluk terkutuk itu berhasil membuatnya hamil?
Setelah rasa mualnya sedikit mereda, Nakula memberanikan diri mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar yang berantakan. Kamar itu kini sunyi. Di sudut meja, Sadewa rupanya sudah kembali ke wujud kecilnya dan tertidur lelap di dalam botol kacanya.
Tepat di sebelah botol tersebut, tergeletak segepok uang tunai yang ia yakini nominalnya lebih dari tiga puluh juta. Jumlah yang sangat cukup untuk melunasi sisa utang yang selama ini mencekik hidupnya. Hasil dari ritual semalam terpampang nyata di depan mata, tetapi Nakula justru jijik melihat lembaran-lembaran uang tersebut.
Mengumpulkan sisa-sisa keberanian dan tenaganya, Nakula bergegas turun dari kasur. Ia segera membersihkan diri di kamar mandi secara terburu-buru, mencoba menggosok kulitnya sekeras mungkin demi menghilangkan jejak sentuhan Sadewa yang masih membekas di benaknya.
Tanpa membuang waktu, ia memasukkan beberapa potong pakaian ke dalam tas untuk menginap selama beberapa hari di kosan Arjuna. Nakula benar-benar tidak sanggup jika harus berhadapan dengan Sadewa lagi dalam waktu dekat.
Setelah siap, ia melangkah cepat menuju pintu keluar, sengaja meninggalkan uang segepok itu tetap tergeletak di atas meja tanpa menyentuhnya sama sekali.
Langkah kaki Nakula terasa begitu berat saat akhirnya ia tiba di depan kosan Arjuna. Di dalam kamar, Arjuna sebenarnya sudah rapi dan wangi, bersiap-siap karena Yudistira baru saja datang menjemputnya untuk pergi berkencan hari itu.
Namun, atmosfer manis sepasang kekasih itu mendadak buyar begitu pintu luar diketuk dan menampilkan Nakula di ambang pintu. Penampilan sahabatnya itu luar biasa kacau. Rambutnya berantakan, lingkaran hitam menggantung di matanya, dan seluruh tubuhnya tampak bergetar hebat seolah baru saja lolos dari maut.
Rencana kencan Yudistira dan Arjuna mendadak menguap begitu saja setelah melihat kondisi Nakula.
“Kul, lu kenapa? Kok berantakan gini?”
Arjuna langsung menghampirinya dengan raut wajah yang dipenuhi kekhawatiran. Ia menuntun tubuh sahabatnya yang tampak lunglai itu untuk duduk di tepi kasur. Yudistira yang berada di dalam kamar pun ikut menghentikan aktivitasnya.
Di bawah tatapan menyelidik kedua temannya, Nakula hanya bisa menunduk dalam-dalam. Lidahnya mendadak kelu. Ia tidak mungkin menceritakan kebenaran yang sesungguhnya, kan? Entah bagaimana reaksi mereka jikalau tahu bahwa ia memelihara tuyul demi melunasi utang peninggalan ayahnya dan makhluk itu baru saja memerkosanya semalam.
Kamar kos itu sempat dilingkupi kesunyian yang mencekam selama beberapa saat. Nakula hanya diam, meremas ujung jaketnya dengan sisa tenaga yang ada. Namun, ketika Arjuna kembali menyentuh pundaknya dengan lembut, pertahanan Nakula runtuh sepenuhnya. Air matanya pecah, mengalir deras membasahi pipinya yang pucat mengiringi suara tangisnya yang tertahan.
“Juna … boleh, ya, aku numpang nginap di sini beberapa hari?” bisik Nakula di sela-sela isak tangisnya, “aku … aku cuma takut kalau harus sendirian di kontrakan sekarang.”
Ia sengaja mengunci rapat-rapat alasan di balik ketakutannya. Membiarkan penyebab trauma itu tetap menjadi misteri bagi kedua temannya.
Melihat sahabatnya yang menangis histeris seperti itu, Arjuna tidak tega untuk bertanya lebih jauh dan langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat. Di tengah pelukannya yang menenangkan, suara erangan pelan kembali lolos dari mulut Nakula sembari tangannya meremas perut.
“Perutku … agak mual,” lirih Nakula.
Mendengar hal itu, pikiran Arjuna langsung berasumsi bahwa sahabatnya hanya sedang kelelahan dan telat makan. Ia kemudian mendongak, menatap Yudistira yang berdiri di dekat kasur dengan raut bersalah karena kencan mereka terganggu.
“Yudis, kita tunda dulu, ya? Tolong keluar sebentar, beliin sarapan yang hangat-hangat sama obat masuk angin buat Nakula.”
Yudistira sempat terdiam sesaat, memandangi pacarnya yang kini sibuk mendekap Nakula yang masih sesenggukan. Meskipun instingnya mengatakan ada sesuatu yang ganjil sedang disembunyikan oleh sahabat pacarnya itu, ia memilih untuk tetap diam. Ia menghela napas pendek, mengusap sekilas bahu Arjuna untuk menenangkannya, lalu mengangguk pelan.
“Iya, gak apa-apa. Aku cari sarapan dulu di depan,” sahut Yudistira sebelum melangkah keluar kamar itu.
Ia meninggalkan sepasang sahabat itu di dalam, membiarkan Nakula menumpahkan seluruh tangisnya di pelukan Arjuna. Mencari rasa aman sementara sebelum waktu memaksanya untuk kembali menghadapi kenyataan di kontrakannya sendiri.
Seminggu telah berlalu sejak malam mengerikan itu dan Nakula merasa sudah terlalu lama menumpang di kosan Arjuna. Rasa tidak enak hati mulai membayanginya, membuatnya memantapkan diri untuk untuk berpamitan pulang ke kontrakannya hari itu.
Meskipun Arjuna memperlihatkan raut wajah yang masih sangat khawatir dan terus membujuknya untuk tinggal lebih lama, Nakula hanya melempar senyuman tipis seraya meyakinkan sahabatnya bahwa ia sudah baik-baik saja.
Jauh di dalam lubuk hatinya, Nakula tahu ia tidak bisa terus-menerus lari. Ini adalah masalah yang ia bawa sendiri ke dalam hidupnya dan mau tidak mau ia harus pulang untuk menghadapi Sadewa sendirian.
Atmosfer di dalam kontrakan Nakula terasa jauh lebih dingin dan mencekam begitu ia melangkah melewati pintu depan. Hari sebenarnya masih siang dengan cahaya matahari yang masih terang benderang di luar. Namun, aturan bahwa makhluk halus hanya aktif di malam hari seolah tidak berlaku bagi Sadewa.
Begitu Nakula membuka pintu kamarnya, sosok kecil itu rupanya sudah tidak lagi berada di dalam botol kaca. Sadewa duduk diam di atas kasur, menanti kedatangan sang tuan dengan aura yang mengancam, membuat bulu kuduk Nakula langsung meremang seketika.
Nakula terpaku di ambang pintu, napasnya mendadak tercekat melihat eksistensi makhluk itu. Belum sempat ia melangkah maju atau mengucapkan sepatah kata pun, Sadewa bergerak secepat kilat. Tubuh sang tuan ditarik dan dibanting kasar ke atas kasur hingga memekik kesakitan. Si tuyul mengunci tubuh tuannya agar tidak bisa kabur lagi.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Nakula untuk mencerna apa yang telah terjadi, Sadewa merangkak naik ke atas dadanya. Makhluk itu membungkam belahan bibir tuannya dengan sebuah ciuman yang kasar dan menuntut. Sadewa memaksakan tautan itu hingga membuat Nakula benar-benar sesak dan kesulitan mencari celah untuk menghirup udara. Nakula hanya bisa melenguh tertahan dalam kungkungan si setan, merasakan rongga mulutnya dikuasai sepenuhnya secara paksa.
Ketika tautan bibir itu akhirnya terlepas, Nakula langsung tersedak meraup oksigen, tetapi Sadewa tidak membiarkannya lepas begitu saja. Ciuman makhluk itu bergerak turun ke area leher, menggigit dan mengisap kulit putihnya dengan rakus.
Sadewa sengaja meninggalkan banyak bercak merah keunguan di sepanjang leher dan tulang selangka Nakula sebagai penanda kepemilikan yang mutlak. Belum sempat Nakula menguasai dirinya dari rasa perih di leher, sepasang tangan kecil Sadewa bergerak ke dada dan merobek paksa kaos yang dikenakan sang tuan hingga koyak.
Dada telanjang Nakula kembali terekspos sepenuhnya di bawah tatapan kelaparan si tuyul. Sadewa langsung merunduk, menempelkan bibirnya pada puting tuannya dan mulai menyusu dengan cara yang jauh lebih rakus dan menyakitkan dibanding seminggu lalu. Detik itu juga, Nakula merasakan energi kehidupannya kembali ditarik paksa dari dadanya. Sensasi sedingin es yang familier itu langsung memicu memori traumatis di kepalanya. Kepanikan mulai menghantam benak Nakula.
“S-stoph, Dewa! Aaghh berhenti! H-hentikan, aku mohon!”
Teriakan Nakula pecah, menggema histeris di dalam kamar yang terkunci rapat. Air matanya langsung luruh deras saat rasa takut yang amat sangat menguasai akal sehatnya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Nakula memukul-mukul punggung dan lengan kecil Sadewa dengan membabi buta, mencoba mendorong makhluk itu agar menjauh darinya. Ia benar-benar tidak mau melihat wajah buruk rupa itu lagi. Ia tidak sudi digencet oleh tubuh raksasa menjijikkan itu untuk kedua kalinya.
Mengabaikan seluruh pukulan dan permohonan tuannya, Sadewa bergerak tanpa ampun. Tangan kecilnya langsung melucuti paksa celana yang dikenakan Nakula, kemudian melepaskan selembar kain yang menutupi selangkangannya. Tanpa memberikan memberikan aba-aba atau waktu bagi Nakula untuk bersiap, Sadewa langsung menghujam kejantanannya masuk ke dalam liang sang tuan yang belum sepenuhnya siap.
“AKHHH! S-sakith, Dewhaah! Hnggh keluarin!”
Jeritan melengking Nakula pecah seketika. Tubuhnya melengkung di atas kasur akibat rasa perih yang luar biasa gila. Meski dalam wujud kecil, ukuran penis tuyul itu sama dengan ukuran pria dewasa normal yang belum menegang. Hantaman langsung yang menghujam ujung liangnya tanpa peringatan itu membuat Nakula menangis sejadi-jadinya.
Sadewa terus memompa dengan ritme yang cepat dan kasar, mengabaikan tangisan pilu di bawahnya. Tumbukan demi tumbukan yang gencar pada titik sensitif Nakula mulai memicu reaksi biologis yang berlawanan dengan penolakan mentalnya. Tubuh Nakula bergetar hebat hingga ia dipaksa mencapai klimaks pertamanya.
Belum sempat ia mengatur napas, gempuran liar Sadewa yang semakin brutal kembali memicu pelepasan kedua bagi Nakula. Sang tuan mengerang pasrah dengan tatapan kosong yang basah oleh air mata, sementara si tuyul justru semakin gencar bergerak hingga pelepasan pertamanya yang ia semprotkan jauh di dalam rahim Nakula.
Tubuh kecil si tuyul mendadak membengkak cepat, kulitnya menggelap berkerut, dan perutnya membusung menjadi sosok monster buruk rupa. Bersamaan dengan perubahan wujud itu, ukuran penisnya di dalam lubang Nakula membesar secara drastis hingga lima kali lipat dari ukuran semula.
Nakula membelalak horor, merasakan organ dalamnya mendadak diregangkan paksa hingga batas maksimal yang sangat menyiksa. Ia mencoba berontak sekuat tenaga, tetapi tubuh raksasa seberat ratusan kilogram yang kenyal dan berminyak itu menggencet seluruh tubuh Nakula telak di atas kasur hingga ia tidak bisa bergerak sama sekali. Sang tuan hanya bisa menangis pasrah, ia sepenuhnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Penis berukuran tidak masuk akal yang menghujam bagian terdalamnya itu mulai memicu stimulasi yang menggerogoti sisa-sisa kewarasannya. Di balik rasa sakit yang menyiksanya hidup-hidup, saraf-saraf tubuh Nakula mulai mengkhianati dirinya. Sensasi nikmat yang luar biasa mulai menjalar, membuat Nakula menggelengkan kepalanya dengan histeris.
Gak mungkin … gak boleh keenakan, Kula … pikirnya menjerit menolak, mencoba menyangkal atas apa yang dirasakan oleh tubuhnya sendiri. Siksaan kenikmatan itu terasa begitu salah, terus-menerus mengikis kewarasan Nakula yang tersisa hingga pertahanan mentalnya runtuh sepenuhnya.
Ketika ia sampai pada pelepasan ketiga, akal sehat Nakula benar-benar patah. Air matanya masih mengalir, tetapi tatapan matanya kini berubah kosong dan sayu, sepenuhnya menyerah pada rasa nikmat yang memabukkan. Ia tidak lagi peduli pada wajah buruk rupa Sadewa yang menggencetnya. Dengan napas yang terengah-engah dan suara yang parau, Nakula justru mulai mendesah liar.
“Ahhh … Dewa … l-lebih cepet … hnggh, cepetin lagiih!” igau Nakula berbalik memohon dengan pasrah agar monster itu terus mengobrak-abrik tubuhnya tanpa ampun.
Permohonan tidak waras dari Nakula langsung disambut dengan geraman puas dari Sadewa. Makhluk itu meningkatkan kecepatannya secara brutal, memompa habis-habisan dan membuat mabuk sang tuan. Tumbukan demi tumbukan yang menghujam rahim itu membuat Nakula memekik histeris, menjeritkan nama si setan di sela desahannya yang liar.
Hanya butuh beberapa entakan keras sebelum akhirnya tubuh Nakula menegang dan meledak dalam klimaks yang bersamaan dengan Sadewa yang menyemburkan seluruh cairannya ke dalam liang Nakula yang berdenyut kencang.
Napas Nakula masih memburu dengan tatapan yang sepenuhnya sayu ketika pelepasan mereka mereda. Alih-alih menjauh, kerusakan mentalnya membuat Nakula justru mendamba sentuhan lebih. Dengan manja ia merintih pelan, meminta ciuman dari monster di atasnya.
Tentunya Sadewa menurut. Makhluk bertubuh besar itu bangkit untuk duduk, lalu ia mengangkat tubuh lemas Nakula dan mendudukkannya langsung di atas pangkuannya. Gerakan itu secara otomatis melesakkan kembali seluruh panjang kejantanannya masuk ke dalam vagina Nakula.
“Nngghh … Dewa … p-penuh … ahngg kebesaran ….”
Nakula merengek pilu. Tangannya mencengkeram bahu berminyak si setan saat merasakan organ dalamnya kembali diregangkan secara paksa hingga penuh dan sesak.
Sadewa mengabaikan rengekan tersebut dan langsung membungkam bibir Nakula yang terbuka dengan ciuman. Di saat lidah mereka saling bertautan, pinggul Sadewa mulai kembali bergerak menyodok lubang Nakula yang menghantam mentok ke bagian terdalam.
Kamar kos yang terkunci rapat itu akhirnya menjadi saksi bisu dari runtuhnya seluruh pertahanan Nakula. Di atas pangkuan makhluk buruk rupa tersebut, tubuh Nakula terus diombang-ambingkan tanpa ampun dalam gempuran yang seolah tiada hari esok.
Dorongan demi dorongan yang menghantam rahimnya memicu pelepasan yang terjadi berulang kali. Cairan persanggamaan membanjiri selangkangan mereka dan seprai, tetapi baik sang tuan maupun si setan sama sekali tak berniat untuk berhenti. Pikiran Nakula sudah sepenuhnya rusak, digantikan oleh rasa candu terhadap stimulasi gila yang diberikan oleh Sadewa.
Ketika Sadewa akhirnya memperlambat gerakannya setelah entah berapa kali mereka mencapai klimaks bersama, Nakula justru melenguh protes. Dengan mata yang sayu berair karena kenikmatan yang membuncah, ia menyandarkan kepalanya yang lemas ke bahu berminyak si monster, lalu berbisik dengan nada merengek yang manja.
“Dewa … lagi … hnggh, mainin aku lagi … aku masih belum puas ….”
Satu bulan telah berlalu dan kehidupan Nakula telah berubah total seolah memutar balik takdir. Ia kini menempati sebuah rumah baru yang jauh lebih besar, bersih, dan mewah. Beban finansial yang dulu mencekik lehernya kini menguap. Ia tidak perlu lagi membanting tulang bekerja keras bagai kuda hingga jatuh sakit. Semua kemewahan dan kenyamanan hidup instan ini adalah hasil nyata dari kontrak yang ia jalin dengan makhluk di dalam kamarnya.
Begitu melangkah masuk ke dalam kamar setelah pulang kerja sore itu, netra biru Nakula langsung melirik ke arah botol kaca yang berada di atas meja kerjanya. Di dalam sana, Sadewa masih tertidur dengan sangat pulas. Nakula melempar senyum tipis, lalu memutuskan untuk segera membersihkan diri ke kamar mandi.
Ia menghabiskan waktu yang cukup lama di dalam. Dengan telaten, ia melumuri seluruh tubuhnya dengan lulur agar wangi dan halus, lalu membersihkan serta mempersiapkan vaginanya dengan telaten. Nakula ingin memastikan bagian dalamnya sudah siap agar kejantanan Sadewa bisa langsung melesak tanpa hambatan.
Selesai mandi, Nakula melangkah keluar hanya dengan selembar handuk putih yang melilit tubuhnya. Ia hanya menahannya dengan genggaman satu tangan. Lilitan rapuh yang akan langsung merosot jatuh jika genggamannya terlepas.
Begitu kakinya menapak di lantai kamar, ia mendapati Sadewa yang sudah terbangun dan keluar dari botol kacanya. Sosok kecil itu duduk di tepi tempat tidur, menatap kedatangan sang tuan dengan netra keemasannya yang kelaparan.
Melihat eksistensi si setan, Nakula refleks melepaskan genggaman tangannya pada handuknya. Detik itu juga, selembar kain putih tersebut merosot jatuh ke lantai, mengekspos seluruh lekuk tubuh telanjangnya yang bersih dan wangi dengan bercak merah samar di seluruh tubuhnya. Tanpa rasa takut atau ragu, Nakula melangkah maju mendekati kasur. Ia merangkak naik, menatap wujud kecil Sadewa dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh nafsu.
“Dewa sayang … makan Kula dulu, ya, sebelum berangkat kerja?”
