Actions

Work Header

Jubah Yamanbagiri

Summary:

Jubah Yamanbagiri hilang satu.

Notes:

Touken Ranbu belong to DMM Games & Nitro+

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Jubah Yamanbagiri hilang satu.

Yamanbagiri tahu karena jubah itu sengaja dijemurnya pada jendela—kemarin kehujanan, tapi Yamanbagiri juga ogah mencucinya, jadialah dia keringkan saja di sana. Pulang dari ekspedisi lain (yang tentunya, dengan jubahnya yang lain, yang sayangnya bersih), jendelanya kosong, tapi isi lemarinya juga tak bertambah sama sekali.

"Sayangnya aku juga ekspedisi seharian—jadi aku tidak tahu." Kasen menjawab disertai gelengan pelan, ketika Yamanbagiri bertanya. "Maaf, ya, Yamanbagiri?"

Yamanbagiri menghela napas berat.

"Mungkin tertiup angin?" Hachisuka ikut nimbrung. Kue beras yang tadi dikunyahnya sudah habis ditelan.

Gurat kecewa masih terlihat di wajah Yamanbagiri ketika ia menggeleng. "Sudah kucari," katanya. "… Tidak ada di mana-mana."

"Hee …"

"Kurasa ada yang mengambilnya," gumam Kasen. Yamanbagiri dan Hachisuka sama-sama menoleh padanya.

Hachisuka mangut-mangut, setuju. "Pasti, sih …" Lalu, ia menatap Yamanbagiri. "Makanya cuci jubahmu, Yamanbagiri."

Yamanbagiri memalingkan muka sambil menarik tudungnya turun. Enggan membalas perkataan Hachisuka, agaknya. Akan tetapi, baik Kasen maupun Hachisuka sempat melihatnya sekilas, kalau Yamanbagiri menggembungkan sebelah pipinya.

Bagaimanapun, ucapan Kasen terdengar masuk akal, soalnya—kalau bukan tertiup angin tapi tidak terlihat di manapun, berarti sudah jelas ada yang mengambil. Tapi siapa juga yang mau mengambil jubah bulukan milik Yamanbagiri, coba?

"Kalian nyari jubahnya Yamanbagiri?"

Yamanbagiri dan kedua kawannya langsung menoleh ke arah pintu.

Dari balik ambang pintu, kepala Kashuu Kiyomitsu muncul bersama sebelah tangannya. Netra merahnya satu persatu bertemu dengan Yamanbagiri dan Kasen dan Hachisuka. Kelihatannya ia tak sengaja menguping.

Kasen mengangguk. "Begitulah," balasnya.

Kiyomitsu manggut-manggut. "Ah …" Ia melangkah hingga seluruh tubuhnya terlihat di ambang pintu. Sambil menyandarkan tangannya, ia berkata, "Di sini, deh. Itu si—hei, Izuminokami?!"

Seruan Kiyomitsu mengudara bersama derap langkah kaki kecil-kecil. Saat itu juga Kiyomitsu langsung berlari—seolah-olah tengah mengejar seseorang. Yamanbagiri dan kedua rekannya saling bertukar pandang. Tak ada yang angkat bicara, lebih-lebih setelah tiba-tiba terdengar Kiyomitsu berseru lagi, "Ah, Mutsunokami! Tangkap anak itu!!!", disusul sebuah pekikan cempreng, "Mutsunokami minggir!!!".

Kasen beranjak. "Hei, Kashuu—"

Ucapan dan gerakannya terputus di sana, karena setelahnya gaduh. Syukurlah itu hanya sebentar. Derap-derap langkah itu mulai terdengar berangsur kembali, diiringi dengan seru "Lepasiiinn!! Mutsunokami jelek!!!" yang berulang-ulang. Kiyomitsu muncul lagi di ambang pintu tak lama setelahnya, sambil berkacak pinggang. Sebelah tangan terangkat, jempol menunjuk ke kiri. "Tuh," katanya pendek.

Kiyomitsu bergeser. Mutsunokami Yoshiyuki ikut muncul sejurus berikutnya—lengkap dengan seorang bocah bertudung kotor dalam gendongan.

Kasen benar-benar berdiri kali ini. "Izuminokami—?!"

Yamanbagiri menunjuk bocah dalam gendongan Yoshiyuki. "… Itu jubahku!"

Wajah anak itu—si tantou, Izuminokami—jadi makin manyun.

.

.

.

Kata Izuminokami, ia selalu penasaran dengan jubah Yamanbagiri.

Mengenai bagaimana Yamanbagiri selalu betah memakai jubahnya ke mana-mana, bahkan ketika cuaca Higo sedang panas-panasnya. Aneh sekali, makanya Izuminokami penasaran. Jadilah, ketika Yamanbagiri pergi misi dan kebetulan sedang menggantung jubahnya di jendela, Izuminokami iseng mengambilnya.

"… Tetap saja itu tidak boleh, Izuminokami." Kasen menghela napas. Sudah panjang ia mengomeli Izuminokami yang sekarang menunduk dalam-dalam. Jubah yang semula dikenakannya sudah kembali ke tangan Yamanbagiri—dan Hachisuka pelan-pelan ikut mengomel pada uchigatana pirang itu, kendati yang bersangkutan lagi-lagi pura-pura tidak dengar, lebih-lebih ketika Hachisuka mengucapkan kata "cuci".

Kiyomitsu dan Yoshiyuki memperhatikan saja di ambang pintu. Sebenarnya mereka berdua sudah tidak punya kepentingan apa-apa, akan tetapi kelihatannya keduanya kepo—atau sebetulnya itu hanya Kiyomitsu yang kepo (Yoshiyuki tadi sudah mau beranjak pergi, seribu sayang Kiyomitsu malah menahannya).

"Sekarang bilang apa ke Yamanbagiri?" Kasen berkata lagi.

Izuminokami mengangkat kepalanya sedikit-sedikit. Matanya menatap Yamanbagiri. "… Maaf, Yamanbagiri." Ada raut bersalah di wajahnya—entah benar-benar merasa bersalah atau hanya karena habis dimarahi Kasen. Entahlah.

"… Mmm …" Pelan, Yamanbagiri mengangguk saja. "Asal bukan kamu cuci."

Hachisuka berkacak pinggang. "Yamanbagiri—"

Lagi, Yamanbagiri pura-pura tidak dengar.

"Tapi syukurlah bukan orang lain yang ambil, ya?" Kiyomitsu menimpali. Ia beranjak dari posisinya bersandar, lalu duduk di sebelah Izuminokami. "Kau juga—jangan bandel, ish."

Izuminokami manyun lagi.

Kiyomitsu terkekeh ringan. Selanjutnya, ia menoleh pada Hachisuka. "Nee, Hachisuka. Kue berasnya masih ada, 'kan? Bagi~!" Ia mengganti topik pembicaran.

Hachisuka menatapnya. "Ah, iya. Ini ada—"

Izuminokami ikut menoleh. "Aku juga mau kue beras!"

"Anak nakal gak boleh makan kue beras! Iya, gak, Hachisuka? Yamanbagiri?"

"Hmm, hmm."

"Eeeh?!"

Mengabaikan kegaduhan kecil di sebelahnya, Kasen menghela napas ringan. Pandangannya tertuju pada satu uchigatana lain yang masih setia berdiri di ambang pintu. "Mau sampai kapan kamu berdiri di sana, hmm?"

Yoshiyuki berkedip. ".. E-eh, aku …?"

"Siapa lagi?" Samar, Kasen mengulum senyum. "Kemarilah, Mutsunokami."

Sejenak, Yoshiyuki diam—hanya sebentar karena setelahnya, ia mengangguk pelan.

"… Mmm, oke!" Ia turut mendekat dan duduk, pada akhirnya. "Aku mau kue berasnya juga -jya!"

"Sini, Mutsunokami. Masih banyak, kok." []

Notes:

Sesekali yg full fluff dari honmaru ini <3

Series this work belongs to: