Work Text:
Pesta Babel Tower yang berakhir mengenaskan itu justru menjadi satu pencapaian bagi Chayoung dan Vincenzo. Melupakan fakta pembunuh Ayahnya baru saja terbunuh, kekalahan Babel cukup untuk membuat Chayoung senang.
Satu gelas beer dan kudapan manis menjadi hadiah untuk perayaan kecil mereka. Di dalam kamar termewah hotel yang Vincenzo pilih untuk menyaksikan kehancuran Babel, selera Vincenzo yang selalu extra.
"Kita belum mengeluarkan bidak gajah, tetap sudah menang," Ujar Vincenzo seraya menlonggarkan dasinya.
Chayoung menghela nafas kecil, "Ini berakhir lebih mudah daripada yang aku bayangkan."
"Pesta yang kedua, akan lebih megah dan meriah," Janji Vincenzo akan rencananya.
Senyuman tipis tercipta di wajah Chayoung, "Aku akan siapkan pesta kedua dengan baik."
Dentingan gelas terdengar setelahnya, Chayoung kembali berjalan menuju sofa. Menaruh gelas dan mengambil satu dokumen dari tasnya.
"Perayaan kecil memang dibutuhkan, pesta kedua juga harus dipersiapkan," Ia menyandarkan tubuhnya, melirik sekilas ke arah Vincenzo yang belum beranjak, "Bukankah begitu, Byeonhosa-nim?"
Mendengarnya, Vincenzo tersenyum tipis menatap gelas di tangannya. Menyesap sedikit alkohol itu, tak lama ia bangkit dari duduknya.
"Aneh mendengarmu memanggilku dengan sopan saat hanya ada kita di ruangan ini," Ucap Vincenzo santai.
Ia menaruh gelas dan melepaskan jas serta dasi yang seperti mencekik lehernya. Menghempaskan keduanya di atas sofa seraya duduk di samping Chayoung.
"Apa maksudmu, Vincenzo-ssi?" Tanya Chayoung tanpa menatap kearahnya.
Tak ada jawaban setelahnya, Vincenzo melepaskan dua kancing teratas kemejanya. Tatapannya jatuh pada dokumen di tangan Chayoung, lidahnya mendorong bagian dalam mulutnya. Mencoba mencari cara melepaskan Chayoung dari sisi ini.
"Ini perayaan kecil kita, Chayoung-ah," Ujar Vincenzo dengan suara beratnya.
Tubuh Chayoung terdiam mendengarnya, panggilan itu sudah asing di telinganya. Dan kini, mendengar Vincenzo memanggilnya, perutnya geli. Seperti ada kupu-kupu memenuhi rongga perutnya.
Sebelum suara Chayoung terdengar, tangan Vincenzo lebih dulu menutup dan mengambil dokumen di tangannya. Perlahan, kepalanya menoleh ke arah pria di sampingnya.
"We're already in the best suite at this hotel, a bottle of wine wouldn't hurt," Ucap Vincenzo dengan nada rendah.
Kedua manik bertemu, Chayoung tersenyum simpul. Menilai ajakan Vincenzo bukan pilihan yang salah, terlebih setelah pesta Babel hari ini.
"Baiklah, do your thing, Vincenzo-ssi," Jawab Chayoung.
Vincenzo menjentikkan jarinya dengan senyum di wajahnya, ia beranjak berdiri untuk mengambil telepon kamar. Membuka menu untuk memilih anggur apa sebelum meminta pada resepsionis.
"Aku pilih Dolce-"
Ucapan Vincenzo terhenti saat melihat Chayoung yang kini sudah melepaskan blazer, menyisakan sweater tipis. Surai cokelat panjangnya sudah di ikat asal ke atas, messy bun. Menyisakan sedikit surai di bagian depan wajahnya.
Oh, Chayoung dengan surai diikat seperti ini salah satu kelemahan Vincenzo.
"Vincenzo-ssi?"
Suara Chayoung memecahkan lamunannya, matanya mengerjap beberapakali sebelum sepenuhnya sadar.
"Hm?" Jawab Vincenzo asal.
"Tadi bicara apa?" Tanya Chayoung yang mulai bingung.
"Huh? Ah.. tidak, bukan apa-apa-"
Dentingan bel pintu memutus kalimat Vincenzo, tidak ingin terus terjebak di situasi canggung, ia bergegas berlari kecil. Mempersilahkan pelayan masuk dan menyajikan pesanan mereka.
"Thank you," Ucap Chayoung menerima gelas tinggi itu, "Anggur apa ini?"
"Dolcetto, wine ringan. Cocok untukmu," Jawab Vincenzo singkat.
Ia sudah mendapatkan kembali sisi dirinya yang sempat hilang.
Chayoung memutar gelasnya pelan, "Aku pikir kamu akan pesan Barolo, you love it, don't you?"
"I do, but tonight isn't about what I like," Vincenzo menyesap anggurnya sedikit, "Dolcetto suits you better."
Kedua sudut bibir Chayoung naik sekilas, memilih untuk menyesap anggurnya dibandingkan menjawab.
Setelah sandiwara Darling dan Sweetie, sesuatu mulai berubah di antara mereka. Namun, kepala mereka sudah sibuk dengan permasalahan Babel. Tidak ada waktu untuk membahas romansa.
Bagi Vincenzo dan Chayoung, act is bigger than words.
Maka, itulah yang terjadi sekarang.
Waktu berlalu, anggur mulai habis hingga Vincenzo menuangkan lagi. Topik pembicaraan mengalir layaknya sungai, tawa atau senyum tidak pernah absen setiap kali keduanya bersama.
"Ah aku baru ingat, masih ada 74 pertanyaan lagi tentang mafia," Chayoung seketika bersemangat, ia menaruh gelasnya di meja.
Helaan nafas terdengar dari Vincenzo, bersiap untuk pertanyaan yang akan keluar dari puan itu.
"Hanya 2 pertanyaan, tidak lebih," Ucap Vincenzo yang kemudian mengambil kue kecil.
Chayoung menyandarkan tubuhnya sejenak, bibirnya mengerucut kecil, di dalam kepalanya ia mencoba mencari pertanyaan.
"Ah," Pekik Chayoung kecil, "Sandiwara Galeri Ragusang, apa di Italia mafia-mafia melakukan hal serupa?"
Vincenzo berhenti memutar gelasnya, kepalanya mengangguk kecil.
"Cukup sering, terutama untuk mendekati target," Jawabnya singkat.
"Artinya sering terlibat?" Tanya Chayoung meminta kejelasan.
"Aku hanya merencanakan dan mengawasi. Orang lain yang menjalaninya," Ujar Vincenzo.
"Ah.." Chayoung terdiam sejenak, "Setahu aku, dunia mafia sangat sibuk. Apa ada waktu untuk punya pasangan?"
Vincenzo tertawa kecil, "Kalau mereka menginginkan, tentu saja bisa."
"Lalu.. bagaimana denganmu?"
Keheningan terjadi sesaat, Vincenzo terdiam.
"Terlalu banyak hal berbahaya di hidupku, sampai aku bisa memastikan keamanannya terjamin," Vincenzo menjeda kalimatnya, "Mungkin saat itu akan memiliki pasangan."
Kini Chayoung yang terdiam, "Maka, semakin sedikit yang musuhmu ketahui. Semakin aman orang-orang disisimu?"
"Ya, itu alasan kehidupan pribadi pemimpin mafia jarang diketahui," Tangannya kembali memutar gelas di tangannya.
"Sudah dua pertanyaan," Peringat Vincenzo.
Seketika Chayoung tertawa kecil, "Iya, tidak akan bertanya lagi."
Chayoung kembali mengambil gelasnya, menandaskan sisa anggur. Tangannya kembali terulur untuk mengambil botol, sebelum mengisi gelasnya. Tangan Vincenzo lebih dulu mengambil botolnya.
"Cukup, kamu minum banyak hari ini," Ujar Vincenzo mengambil alih botolnya.
"Byeonhosa-nim, aku bukan anak kecil," Elak Chayoung. ia mendekatkan diri untuk meraih botol.
"Tetap saja," Vincenzo malah semakin menjauhkan botol di tangannya dari jangkauan Chayoung.
"Aish, apa salahnya minum lagi? Bukankah kamu yang bilang ini perayaan kecil kita?"
"Iya dan aku tidak mau mengurus orang mabuk."
Pertengkaran kecil itu berlanjut, Chayoung masih berusaha untuk mengambil botol anggur dan Vincenzo berusaha untuk menjauhkannya.
Hingga entah karena pengaruh alkohol atau heelsnya, Chayoung kehilangan keseimbangan. Tubuhnya jatuh tepat di atas pangkuan Vincenzo.
Hening menghiasi detik selanjutnya, keduanya berada dalam kondisi tidak aman. Chayoung dengan surai diikat dan Vincenzo dengan kemeja yang terbuka.
Dan alkohol.
Jarak mereka cukup dekat sampai bisa merasakan deru nafas satu sama lain, memburuh.
Mereka seharusnya menjauh.
Namun, sepertinya perintah dari kepala itu dihiraukan oleh hati.
Karena perlahan, Vincenzo mengikis jarak di antara keduanya. Chayoung tidak menjauh, hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Puan itu memiringkan kepalanya sedikit, membiarkan Vincenzo untuk menyentuh ranumnya.
Maniknya terpejam begitu merasakan lumatan lembut, beberapa detik terdiam. Akhirnya, tangannya terulur untuk menangkup sisi wajah Vincenzo, membalas lumatannya yang mulai berantakan.
Chayoung kembali membuka maniknya saat Vincenzo melepaskan tautan. Keduanya saling menatap dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Hong Chayoung," Lirih Vincenzo kecil, "Tell me if you want to stop."
Puannya menggeleng kecil, "Non fermarti."
Vincenzo mengulas seringai mendengarnya, "Merda."
Tanpa menunggu, ia menaruh botol sembarang dan kembali mencumbu ranum Chayoung. Ritmenya lebih serampangan tangannya mulai bergerak di tubuh Chayoung. Mengusap pinggang kecil hingga punggungnya.
Sedangkan Chayoung, ia membiarkan Vincenzo melahap bibirnya rakus. Tanpa melepas ciuman, Chayoung mengubah posisi duduknya hingga sepenuhnya berada di pangkuan Vincenzo.
Suara decapan mulai memenuhi ruangan, erangan-erangan kecil juga bersahutan. Terlebih saat Chayoung dengan sengaja menekan ereksi Vincenzo. Membuat pria itu melepas ciuman dan memusatkan kecupannya di leher Chayoung.
Tangan yang lebih kecil kini meremas tengkuk Vincenzo, kepalanya mendongak hingga ikatan asal di rambutnya terlepas. Surai cokelat itu kini terurai indah.
"Cazzo," Umpat Vincenzo saat Chayoung tidak berhenti menekan ereksinya yang semakin keras.
Tidak tahan, Chayoung mendorong Vincenzo untuk bersandar. Pria itu berantakan, bibirnya kemerahan akibat lisptik Chayoung, kemejanya kusut, dan rambutnya mulai tidak beraturan.
"Are you sure?" Bisik Vincenzo.
Chayoung hanya mengangguk kecil, tangannya sibuk melepaskan satu persatu kancing kemeja Vincenzo.
Sontak pria itu menahan tangannya, "I need a word, Chayoung-ah."
"Fuck! Yes! I want you, Vincenzo-ssi," Jawab Chayoung dengan nada frustasi.
Mendapatkan jawaban beserta nada frustasi, sudut bibirnya terangkat tipis. Tanpa peringatan, Vincenzo menggendong tubuh Chayoung menuju ranjang. Tanpa kesulitan karena tubuh ramping hasil pilates dan yoga rutin puan itu.
"Mmh-"Erang Chayoung saat Vincenzo kembali mencumbu ranumnya.
Tangan yang lebih besar mulai bergerak masuk ke dalam sweater tipis Chayoung, tubuhnya meremang merasakan dingin dari tangannya. Vincenzo semakin memasukkan tangannya, hingga mampu meremas pinggang kecilnya.
Saat ciuman terlepas, Vincenzo menarik sweater tipis itu hingga lepas. Menyisakan bra hitam yang menutupi payudara Chayoung, mengundang Vincenzo untuk membubuhkan cumbuannya.
Puas mencumbu, Vincenzo kembali bangkit. Mengecup bibir Chayoung dan berbisik.
"Wait,"
Chayoung menumpukan tubuhnya dengan siku, memperhatikan Vincenzo yang kini berjalan menuju tasnya. Mengambil 2- tidak, 3- bungkus kondom, berjaga jaga.
Senyum tipis tercipta di wajah Chayoung, entah apa alasan pria itu menyimpan pengaman di dalam tasnya. Namun, setidaknya ia sadar harus menggunakan pengaman tanpa bertanya.
Saat Vincenzo mendekat dan melempar 3 bungkus pengaman ke arah kasur, Chayoung menaikkan kakinya ke arah Vincenzo. Aksinya menciptakan seringai kecil pada pria itu, tangannya terulur menggenggam pergelangan kaki puan itu. Melepaskan heels hitam yang masih Chayoung pakai, menjatuhkannya di bawah ranjang, begitu juga pasangan heels lain.
Tubuhnya merendah, membuka kancing celana Chayoung dan menariknya lepas. Menyisakan panties sepasang dengan bra nya. Setelahnya, Chayoung bangkit, bertumpu pada lututnya untuk melepaskan kemeja putih Vincenzo.
Sorot seduktif Vincenzo tertuju pada Chayoung yang lebih rendah darinya, puan itu kini sibuk melepaskan kaitan celana kainnya. Tangan Vincenzo menarik dagu Chayoung, membuatnya mendongak untuk menatapnya.
Ia merendah untuk mengecup ranumnya sekilas, berbisik seduktif, "Take it off, Chayoung-ah."
Menurut pada ucapannya, Chayoung menurunkan celana dalam Vincenzo perlahan. Maniknya mengerjap beberapakali melihat ereksi milik Vincenzo yang... besar dan keras.
Ia mendongak tepat saat tangannya menggenggam penis Vincenzo, menggerakkan tangannya naik turun seraya menatap Vincenzo yang kini menggigit bibir bawahnya.
"Shhh- merda," Lirih Vincenzo rendah.
Kepalanya mendongak saat Chayoung memasukkan miliknya, merasakan hangatnya mulut Chayoung di pusat tubuhnya. Tangannya meremas surai cokelat Chayoung, membantunya bergerak di ereksinya.
"Che cazzo, Chayoung-ah," Umpat Vincenzo ketika Chayoung menghisap miliknya.
Nafasnya memburuh menahan nafsu, api di dalam tubuhnya membara karena Chayoung. Mulutnya terbuka sedikit, matanya terpejam kuat, dengan sengaja ia menekan kepala Chayoung. Memasukkan penisnya semakin dalam.
"Mmhh-"Erang Chayoung mencoba menerimanya, membiarkan Vincenzo menggunakan mulutnya.
Tidak kuasa menahan bara apinya, Vincenzo menarik tubuh Chayoung menjauh. Membaringkan tubuhnya dan menumpu tubuhnya dengan kedua tangannya, kembali mencumbu bibir Chayoung serampangan.
Satu tangannya terulur untuk melepaskan kaitan bra, membebaskan buah dada Chayoung untuk ia manjakan. Tubuh puan itu kembali meremang merasakan dinginnya tangan Vincenzo, kepalanya mendongak saat cumbuan Vincenzo mulai turun menuju dadanya.
Chayoung sontak membusungkan dadanya saat Vincenzo menghisap putingnya rakus, berpindah dari satu ke yang lain. Erangannya semakin terdengar, membuka pahanya untuk mengundang Vincenzo.
Menyambut undangannya, tangan Vincenzo turun ke kewanitaannya. Mengusapnya di luar panties yang masih menutupinya. Hisapan Vincenzo terhenti, ia mendongak untuk menatap Chayoung dengan seringainya.
"Wet, huh? Basah sekali, Chayoung-ah," Goda Vincenzo.
Chayoung sudah sangat basah.
"Mhh- shut up,"
Tak menjawab, Vincenzo lebih memilih untuk melepaskan panties Chayoung. Matanya penuh nafsu melihat bagaimana Chayoung merawat kewanitaannya, basah dan menggiurkan.
"Vince- Mmh!!" Pekik Chayoung.
Vincenzo kini mencumbu vaginanya, lidah hangatnya menyapu labia Chayoung lembut. Membelah labianya hingga menyapa bagian dalam kewanitaannya, tangannya turut menyapa liangnya.
"Che cazzo-" Umpat Vincenzo merasakan sempitnya Chayoung menjepit jarinya kuat.
"Aahh- mmhh-" Desah Chayoung, ia meremas surai Vincenzo.
Menekan kepalanya semakin dalam mencumbunya, tubuhnya bergerak tidak beraturan, nikmat yang Vincenzo berikan membuatnya sinting.
"V-vincenzo- mhhh- s-stop fuck-," Kalimatnya sulit sekali untuk selesai, "I'm c-close!"
Tidak ingin Chayoung keluar tanpa miliknya di dalam, Vincenzo menghentikan aksinya. Kembali naik untuk mencium Chayoung, membuatnya merasakan dirinya sendiri di dalam mulut Vincenzo.
"Fuck me, Vincenzo-ssi," Bisik Chayoung.
Kening keduanya menyatu, Vincenzo tersenyum tipis.
"I will, Chayoung-ah," Balasnya.
Ia meraba ranjang hingga menemukan kondom, menggigit ujung kondom untuk merobeknya. Memakaikan latex itu di penis kerasnya bersamaan dengan Chayoung yang semakin membuka pahanya.
Lenguhan keluar tepat saat Vincenzo mulai memasukkan miliknya, sempitnya milik Chayoung benar-benar melahap penisnya. Dan besarnya milik Vincenzo, vagina Chayoung terasa begitu penuh.
Pinggul Vincenzo mulai bergerak, bibirnya tidak berhenti mengecupi Chayoung. Tangannya terus bersentuhan, berada di seluruh tubuh Chayoung.
Erangan, lenguhan, desahan, suara-suara yang keluar dari keduanya memenuhi kamar. Chayoung ikut menggerakkan pinggulnya, pelukannya terlepas saat Vincenzo bangkit. Tubuh atletis milik Vincenzo berhasil membuat nafsunya meningkat.
Dan melihat Chayoung begitu pasrah di bawahnya, Vincenzo bisa gila.
Ritme Vincenzo berubah menghentak, menghujam titik manis Chayoung.
"A-aah!!" Pekik Chayoung.
"Here, huh? Disini, Chayoung-ah?" Bisik Vincenzo, semakin menghujam titik manisnya.
"Che cazzo, Chayoung-ah. Che cazzo!" Geram Vincenzo rendah, miliknya dijepit begitu nikmat.
Chayoung mendorong tubuh pria itu, merubah posisinya sampai ia di atas. Membuat penis Vincenzo masuk semakin dalam.
"Merda-"
Pinggul Chayoung mulai bergerak, membiarkan Vincenzo mencengkram pinggulnya untuk membantunya bergerak. Surai cokelatnya total berantakan, menciptakan pemandangan yang justru membuat Vincenzo sinting.
"Aahh- ngghh- V-Vincenzo- mhhh," Erang Chayoung, mendongak menikmati ritmenya sendiri.
"Keep going- shh ahh-"
"I-im c-lose! Fuck!"
Vincenzo kembali membaringkan tubuhnya, menghujam titik manis Chayoung berkali-kali. Menggenggam tangannya yang disambut Chayoung dengan remasan kuat.
"Cum for me, Chayoung-ah. I've got you," Bisik Vincenzo seduktif.
Beberapa detik setelahnya, keduanya sampai pada putihnya. Tidak ingin menindih tubuh Chayoung, Vincenzo menumpu tubuhnya dengan kedua tangannya. Nafas keduanya memburuh mengais oksigen.
Manik keduanya bertemu, senyum hadir seolah baru menyadari apa yang terjadi. Chayoung menarik tengkuknya untuk mencium bibirnya, melumatnya lembut.
Usai menikmati puncaknya, tubuh Chayoung dan Vincenzo kini ditutupi bathrobe. Keduanya berbaring di sofa dengan Chayoung menyandarkan tubuhnya di dada Vincenzo. Satu tangannya terlingkar di pinggang kecil Chayoung. Gelas anggur kembali terisi, menemani keduanya.
"Ini bukan perayaan kecil," Ujar Chayoung membuka suara.
"Still, a little celebration for us."
