Actions

Work Header

When no one is around, my dear, you'll find me on my tallest tiptoes.

Summary:

2 jari Jisung habis mengobok-obok vagina Helga. Klitorisnya kini terasa sangat geli karena semburan air yang kencang, membuat sensasi getaran hebat.

Desahan Helga berubah menjadi teriakan. Kakinya dipaksa terbuka, mengangkang lebar karena ditahan olah kedua kaki Jisung. Sial, ini sungguh nikmat. Helga hanya bisa pasrah, menempelkan punggungnya ke dada Jisung, merebahkan kepalanya ke salah satu bahu Jisung.

“Ji, ahhh… mau, mauu pi..pis.. pipis, pleasee!!”

“Ah, look at you. Ibu Helga yang terhormat, teriak-teriak keenakan, bahkan belum aku masukin. Gimana kalau nanti udah dimasukin sama kontol aku, ibu?”

Notes:

Disclaimer: Cerita ini merupakan penulisan ulang dari karya yang sebelumnya berjudul ob·scure. Jalan cerita utama tetap dipertahankan dengan penyesuaian judul.

Work Text:

Park Jisung.

Mahasiswa semester akhir Jurusan Akuntansi di salah satu universitas negeri di Depok, Jawa Barat. Jisung sebenarnya adalah orang Jakarta, namun dari semester satu sampai tujuh, dirinya menyewa sebuah apartment di dekat kampusnya karena tidak sanggup jika harus pulang-pergi dari rumahnya yang berlokasi di Jakarta Pusat ke kampusnya itu.

Di semester ini, Jisung memilih untuk tinggal di rumah karena sudah tidak ada keperluan untuk datang ke kampus. Hal ini disebabkan saat semester 5 dirinya pernah mengambil 24 SKS, jadilah kini seluruh SKS untuk mata kuliah sudah habis dan dirinya hanya disibukkan oleh tugas akhir. Sedikit informasi, jurusannya ini bisa dibilang lumayan unik. Untuk kelulusan, mahasiswa/i-nya dapat memilih apakah ingin membuat skripsi atau bisa membuat laporan magang sebagai syarat untuk menjadi sarjana ekonomi.

Jisung sendiri memilih untuk membuat Laporan Magang. Well, you can say that he’s a really practical person. Dirinya lebih menyukai mencoba langsung, terjun langsung ke lapangan dan mempelajari ilmu-ilmu yang didapatkannya selama perkuliahan dengan mata kepalanya sendiri.

Sedikit informasi tentang seorang Park Jisung di dalam dunia perkuliahan. Jisung merupakan mahasiswa yang benar-benar pandai membagi waktunya. IPKnya cumlaude, ikut aktif dalam berbagai organisasi, pun tetap masuk ke dalam circle ‘anak tongkrongan’. Jisung bisa dikatakan cukup populer. Di kalangan angkatannya, dirinya di-cap sebagai mahasiswa yang serba bisa. Di kalangan dosen dan asisten dosen, Jisung dikenal sebagai mahasiswa yang aktif dan pandai. Dengan prestasi dan pembawaan dirinya, tidak sulit untuk Jisung dapat diterima magang di perusahaan besar.

Maka dari itu, kini Jisung sudah berpakaian rapi, atasan kemeja putih bersih dengan bawahan celana bahan berwarna hitam, dipadukan dengan sepatu pantofel berwarna senada. Khas anak magang pada umumnya. Jisung akan memulai masa magang untuk tugas akhirnya hari ini, di salah satu Kantor Akuntan Publik Big 4 di daerah Sudirman.

Masa magang akan berlangsung selama 3 bulan, sisanya, digunakan Jisung untuk merampungkan tugas akhirnya.

.

.

.

Grup chat pada Hari Sabtu siang itu cukup ramai. Setelah sebulan lamanya sibuk dengan urusan masing-masing, grup sepermainan Jisung akhirnya memutuskan untuk berkumpul di sebuah coffee shop di daerah SCBD untuk saling bertukar kabar. Mengobrol tentang apa saja yang mereka lewati selama sebulan belakangan ini.

“Woy pengumuman dospem udah ada itu di website. Berdoa dulu sebelum buka, tiati lu dapet Bu Fara atau Pak Bambang, bisa mampus lu semua.” Kata Chenle tiba-tiba, si paling update dalam satu circle pertemanan mereka, yang akhirnya membuka handphonenya setelah 2 jam mengobrol dengan posisi handphone tersimpan rapi di saku celananya.

“HAHH?? Serius??? YAALLAH SEMOGA GUE SAMA KAK HELGA!!” Tiba-tiba Renjun berteriak riuh.

“Yeee itu jatah gue! Gila si, udah cantik, pinter, agak judes galak-galak gitu, rambutnya bondol lagi. Apalagi pas lagi ngajar pake kacamata. Behh, tipe gue banget!” Kali ini Jeno yang membuka suara.

“Langkahin dulu mayat gue! Kak Helga is for the girls ya!” That’s Karina, satu dari dua wanita yang ikut join dalam circle pertemanan mereka.

“Si Kak Helga umur berapa deh? Beneran dosen atau asdos sih? Gue denger-denger muda banget ya? Gak pernah dapet kelasnya gue. Ngajar apasih?” Kini Giselle ikut nimbrung pembicaraan mengenai Kak Helga yang nampaknya sedang nge-trend dikalangan teman-temannya.

“Buset pertanyaanlu, panjang bener kayak gerbong kereta. Dosen cuy, emang masih muda banget, kayaknya umur 29 atau 30 gitu? Gossipnya sih dia akselerasi pas SMP dan SMA, jadi umur 20 udah lulus S1, lanjut S2 di London terus balik Indo langsung jadi dosen. Umur 24 atau 25 gitu pas jadi dosen di sini, muda banget kan gila? Dia dosen Pengantar Hukum Bisnis sama Pengantar Akuntansi, btw.” Jeno, si-paling-tahu-tentang-Kak-Helga menjawab dengan panjang lebar.

“Lah?? Cuma beda 7 tahun sama gue? Masih bisalah itu! Mau gak ya dia sama brondong?” Kini Mark yang berujar.

PLAK! Kepala Mark dipukul oleh Jeno.

“Udah gue bilang, Kak Helga punya gue!” Jeno mencak-mencak tidak karuan.

“Jisung, kok lo diem gitu sih tiba-tiba? Terus kenapa pucet gitu dah? Kebelet lu yak?” Jaemin yang daritadi memperhatikan gerak-gerik Jisung, akhirnya buka suara karena terganggu oleh Jisung yang mendadak diam seribu bahasa dengan air muka yang begitu panik.

“Ah? Hah? Eh.. engga.. eh, iya..” Jisung gelagapan.

“APAANSIH LU? Kenapasih? Kok pas liat HP tiba-tiba pucet? IH UDAH LIAT NAMA DOSPEM YA??! Dapet Pak Bambang ya makanya pucet?” Teriak Renjun yang tiba-tiba menyimpulkan sendiri maksud dari diamnya Jisung.

“Hah? Engga, engga gue tuh.. nyokap, iya! Nyokap gue nyariin, katanya urgent minta dianterin. Sorry sorry, gue cabut duluan ya!” setelahya, Jisung bangkit dan dengan tergesa keluar dari café tersebut.

 

Tentu saja Jisung berbohong.

 

PEMBIMBING TUGAS AKHIR: Helga Lee, S.E., M.Sc.

 

Mati gue. Mati gue. Beneran matiiii gue. Jisung bergumam dalam hati sambil berjalan cepat ke arah mobilnya. Membanting pintu mobilnya, buru-buru menyalakan mobilnya dan menancap gas untuk pulang ke rumahnya.

Yes. Little did they know, Jisung has a really, really big FAT CRUSH on Helga Lee.

Jisung itu cenderung pendiam. Lebih banyak aksi daripada kata. Saat sedang berkumpul dengan teman-temannya pun, dirinya lebih sering menjadi pendengar, tertawa jika ada yang melontarkan bercandaan, atau hanya sekedar datang untuk merokok kemudian pergi melakukan aktivitas lain. Selama berkuliah, dirinya tidak pernah memiliki pacar. Seluruh temannya berfikir bahwa Jisung tidak memiliki pacar karena memang dirinya merupakan mahasiswa introvert yang sangat aktif. Tetapi sebenarnya, alasan Jisung adalah satu: dirinya memang sibuk, sangat sibuk sampai rasanya kepalanya mau pecah, dan dua: ya karena dirinya sudah kepincut mentok dengan Helga Lee, wanita yang menjadi dosen Pengantar Akuntansi saat semester satu, sangat kepincut sampai rasanya kepalanya yang sudah mau pecah, benar-benar hancur berkeping-keping.

 

Apakah ada yang tau tentang fakta ini? Tentu saja tidak.

 

Jisung menyimpan semuanya rapat-rapat. Karena dirinya takut jika rahasia itu terbongkar, semuanya akan menjadi rumit. Umur mereka terpaut hampir 8 tahun, dirinya berumur 22 dan Helga 29, and for God’s sake, Helga itu seorang dosen dan Jisung adalah mahasiswanya! Bagi Jisung, cukuplah melihat Helga dari jauh. Beberapa kali mengikuti dan sesekali mencuri pandang ketika Helga sedang sibuk membaca di perpustakaan. Duduk di selasar kampus saat ada jam kosong hanya demi melihat Helga yang baru turun dari mobilnya untuk masuk ke area kampus. Atau sekedar ikut masuk ke auditorium kampus ketika Helga sedang menjadi pembicara. Semua itu cukup bagi Jisung. Berharap ketika lulus, dirinya akan melupakan Helga karena toh, ia tidak akan pernah bertemu Helga lagi selamanya.

Nyatanya, takdir berkata lain. Apa yang barusan dia baca? Dosen pembimbing tugas akhir? Oh, yang benar saja. Itu berarti, Jisung akan berkomunikasi dengan Helga dengan sangat intense. Membayangkan dirinya harus berada didekat Helga saja sudah membuat dirinya mual, apalagi harus berbicara langsung, bisa jadi hanya berduaan pula? Wah, nyawanya bisa terbang entah kemana.

Tetapi toh, Jisung bisa apa selain menghadapi ini semua?

.

.

.

Laporan Magang Jisung kacau balau.

SRAK! SRETT!!

Kertas itu habis dicoret-coret oleh Helga sambil membuang nafasnya kasar.

“Park Jisung, kamu ini ngapain aja?! Bab 3 kamu sangat berantakan! Teori yang kamu pakai tidak berdasar sama sekali. I expect more for you!”

“Ma.. maaf, bu.. kak… saya.. saya..”

“Kamu fikir saya tidak cek satu persatu kata-kata yang kamu ketik, begitu? Revisi yang kemarin saya kirimkan belum ada satupun yang kamu ganti! Malah sekarang kamu tambahkan teori-teori yang tidak jelas! Sudah saya bilang, sesuaikan dengan PSAK-nya, Park Jisung! Kamu ini buang-buang waktu saya kalau begini!”

Ini merupakan bimbingan tatap muka pertama Jisung dengan Helga. Sebelumnya, semuanya dilakukan secara online. Melalui whatsappemail, dan pernah juga sekali via video call zoom. Hal itu disebabkan oleh Bab 1 dan Bab 2 yang bisa dikatakan hanya pengantar, sehingga tidak memakan waktu dan tidak diperlukan konsultasi sampai bertatap muka. Untuk Bab 3, Teori dan Pembahasan, Helga sangat menuntut pertemuan tatap muka untuk mempermudah proses revisi.

Jujur saja, Jisung tidak tidur semalaman. Badannya bergetar hebat, berkeringat dingin, benar-benar takut untuk bertemu dengan Helga secara langsung. Sedikit bocoran, saat pertama kali dirinya mengirimkan pesan via whatsapp, memperkenalkan diri sebagai anak bimbingan Helga, Jisung menatap ponselnya 3 jam penuh, bolak-balik mengecek kata per kata, baru mengirimkan pesan itu saat dirinya merasa seluruh pesannya sudah sempurna tutur bahasanya. Saat melakukan video call via zoom, seluruh darah Jisung rasanya berhenti mengalir. Hanya lewat video, tetapi Helga sudah mampu membuat Jisung kehilangan seluruh keberaniannya untuk membuka suara.

Bisa dibayangkan, kini Jisung benar-benar seperti mayat berjalan. Otaknya seperti berhenti bekerja, ditambah saat ini, mereka hanya berdua di dalam ruang dosen. Jarak mereka hanya dibatasi oleh meja yang membentang dihadapan mereka berdua. Dari jarak sedekat ini, Jisung bahkan bisa mencium aroma parfum Helga. Manis, wanginya seperti bedak bayi dicampur vanilla. God… she’s so perfect... batin Jisung.

“PARK JISUNG! MALAH BENGONG KAMU YA!”

Jisung tersentak dari lamunannya.  

“Ah, eh.. ma, maaf, kak.”

“Saya nggak butuh maaf kamu, Jisung. Sekarang saya tanya, kamu sendiri kemarin bilang sama saya, kamu mau lulus tahun ini, bahkan kalau bisa kamu mau sidang sebelum bulan Mei. Ini sudah bulan Maret, Jisung. Are we still in the same page?” Suara Helga melembut, sedikit merasa bersalah karena sudah membentak-bentak Jisung tidak karuan.

Jisung menarik nafasnya panjang dan membuangnya perlahan. Sedari tadi, dirinya tidak berani menatap Helga. Tetapi mendengar nada penyesalan dalam suara Helga, ia memberanikan diri untuk mendongak, menatap mata Helga di hadapannya.

“Maaf, Kak. Sekali lagi saya minta maaf. I am not in my right mind beberapa hari ini. Minggu ini saya selesaikan dan akan saya email ke Kak Helga. Saya masih mau lulus tahun ini dan sidang sebelum bulan Mei, kak. Mohon bantuannya.” Entah darimana keberanian itu datang, namun kalimat panjang itu keluar juga dari mulut Jisung.

“Okay, saya juga minta maaf sudah bentak-bentak kamu. Saya lihat progress kamu itu sangat baik, Jisung. Bab 1 dan 2 kamu bagus. Saya sedikit kesal kenapa saat mengerjakan Bab 3 ini kamu seperti ogah-ogahan.” Helga menarik kalender di samping laptopnya, kemudian lanjut berkata,

“Hm, ini Hari Selasa… kebetulan saya minggu depan akan ada conference di London selama 2 minggu. Kamu bisa coba selesaikan di minggu ini?”

“Bisa, kak! Saya jamin pasti selesai! Tapi mungkin baru selesai di akhir pekan. Kalau bimbingan selanjutnya via zoom, apakah Kak Helga berkenan?”

“Hm.. this weekend ya? Yasudah, kamu ke rumah saya saja. Saya gak mau via zoom. Dalam laporan magang, Bab 3 adalah intinya, jadi harus sangat serius dalam pengerjaannya.”

“HAH? GIMANA KAK?” Jisung refleks berteriak, kemudian refleks juga menutup mulutnya dengan tanganya. Dirinya tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

“Eh? Kamu kenapa? Sudah biasa kok mahasiswa/i ngejar-ngejar dosen sampai ke rumahnya untuk revisi, hahaha. Maaf saya menggunakan dosen-card saya, tetapi memang sudah tidak ada waktu lagi, Jisung. Kalau menunggu saya pulang dari London, tidak akan kekejar kamu sidang sebelum Bulan Mei.”

Jantung Jisung seperti mau meledak. Rumah… hah? Ini beneran gue disuruh ke RUMAH KAK HELGA??? HAH??

“Jisung! Park Jisung! Kamu kenapa banyak melamun hari ini? Kamu sedang ada masalah kah?” Kini, raut wajah Helga berubah menjadi khawatir.

“Oh, Eh, Em.. Tidak, kak. Maaf, saya kurang enak badan. Baik, kak. Kira-kira Kak Helga bisa di hari apa dan jam berapa, ya?”

“Ya sudah, habis ini kamu pulang dan istirahat. Mungkin saya bisa di Hari Minggu siang, sekitar jam 2 siang. Untuk alamat saya nanti saya kirimkan via whatsapp. Tolong Bab 3 nya kamu rapihkan, revisi yang saya kirimkan juga tolong dikerjakan dengan maksimal ya, Jisung.”

“Baik, kak. Kalau begitu saya pamit ya. Terima kasih banyak kak atas waktunya.”

.

.

.

Ketika Jisung menginjakkan kakinya di rumah, ralat, penthouse milik Helga, Jisung sudah mengumpat hampir 10x.

Fuck. It’s not an apartment, it’s a fucking penthouse. And fuck she lives alone. So, double fuck.

Helga menggunakan kemeja warna hitam dan celana jeans panjang ketika dirinya menjemput Jisung ke lobby penthouse-nya. Jisung sendiri menggunakan kemeja flannel dengan celana jeans.

Penthouse Helga berara di lantai 15, benar-benar Penthouse megah di bilangan Jakarta Selatan.

“Masuk, masuk, Jisung. Mau minum apa? Kopi atau teh?”

Jisung masuk dan duduk di ruang tamu. Untuk penthouse sebesar ini, tempat tinggal Helga sangat bersih dan nyaman. Semuanya tertata rapi.

“Eh… air putih saja kak.”

“Aduh masa cuma air putih? Santai aja, Jisung. Kopi, ya?”

“Ah, iya, boleh kak, apa saja..”

“Jisung maaf, es saya habis, kalau kopi hangat gakpapa kah?”

“Gak papa kak, gak usah repot-repot padahal…”

“Sudah, santai saja, bimbingan kita hari ini santai saja, ya? Weekend begini, gak usah terlalu tegang hahaha.”

Kemudian Helga berlalu ke dapurnya untuk mengambil air putih dan membuat kopi untuk Jisung.

Helga kembali dengam 3 gelas di atas nampan. Ketika hendak menaruh nampan itu di meja, kakinya tersandung ujung karpet bulu yang sedikit tertekuk.

 

PRANGG!

Gelas kaca itu jatuh pecah ke lantai. Kopi yang masih agak panas itu tumpah membasahi celana Jisung.

“JISUNG!! ASTAGA!! MAAF!! Aduh… maaf, maaf!”

Jisung yang kaget, refleks berdiri dan menarik Helga mundur dari meja agar tidak terkena pecahan kaca dengan melingkarkan lengannya di pinggul Helga, sedikit memeluknya dan memundurkan badan Helga ke belakang.

Hening.

Kemudian Jisung menarik tangannya cepat.

“Eh… ah.. maaf, aku.. saya.. saya gak bermaksud menyentuh Kak Helga sembarangan. Saya hanya khawatir Kak Helga kena pecahan gelas…”

Menempel dengan anak didiknya itu, mencium aroma maskulin bercampur keringat Jisung, merasakan kekar otot lengannya… entah mengapa, pipi Helga bersemu merah. Pinggang Helga seperti sangat pas berada dalam rengkuhan lengan Jisung.

It’s…okay. It’s okay, Jisung. Tapi ini celana kamu basah, kopinya juga masih sedikit panas, aduh.. gimana ya… maaf, Jisung..”

“Sa.. saya… izin pakai kamar mandinya, boleh, kak?”

“OH!! Iya, boleh! Boleh. Pakai yang di kamar saya aja Jisung, kamar mandi untuk tamu lagi rusak pintunya jadi gak bisa dikunci. Lewat sini, Jisung. Maaf ya harus pakai yang di kamar, gak papa kok kamar saya gak ada isinya.”

Kamar Helga cukup luas, bernuansa cokelat kayu dan abu-abu tua. Benar saja, seperti apa kata Helga, kamar helga cenderung tidak berisi. Hanya ada 1 lemari, kasur, dan sofa kecil di pojok ruangan dekat dengan jendela kamarnya.

Kamar mandinya lumayan besar, dipenuhi dengan elements batu berwarna abu-abu. Bersih dan nyaman. Jisung masuk ke dalam kamar mandi tersebut, melepaskan celananya, menyisakan boxer saja. Paha dalamnya memerah karena nampaknya, kopi tersebut terlalu panas untuk kulitnya.

Tok! Tok! Tok!

“Jisung, gimana?” Tanya Helga dari luar kamar mandi.

“Iya kak, celanaku basah banget. Kayaknya tumpah lumayan banyak. Maaf kak, aku pinjam hair dryer-nya boleh?” Teriak Jisung dari dalam kamar mandi.

“Boleh, boleh Ji, pakai aja. Kalau gitu aku tinggal dulu ya, mau bersihin pecahan gelasnya..”

Ji… Ji? Ji, katanya? Dan apa? Aku? She’s addressing herself as ‘aku’? Mampus gue, gemes banget!

Sial. Kini, penis Jisung mulai mengeras.

Shit, shit, shit! Bisa-bisanya gue malah horny ditengah huru-hara ini.

Sumpah, rasanya, dirinya ingin menangis.

Kepalanya terasa sangat penuh, membayangkan Helga meneriakkan namanya… membayangkan Helga yang super galak itu takluk dibawah kuasanya… membayangkan Helga menangis nikmat karena hentakan penisnya… dan kini, penis Jisung sudah mengeras sempurna.

Fuck it, gue keluarin aja, mumpung di kamar mandi. Paling 5 menit. Batin Jisung.

Seperti kerasukan setan, jisung akhirnya kalah dengan nafsunya sendiri. Dirinya mematikan hair dryer, berjalan ke arah kloset, duduk di sana, memeloroti seluruh celananya, dan mulai memompa penisnya yang sudah sangat tegang itu.

1 menit, 2 menit, belum ada tanda-tanda pelepasan jisung akan datang. Dirinya mulai memejamkan matanya, membayangkan seakan-akan tangannya adalah mulut Helga yang sedang memanjakannya.

 

Ngh… kak, Kak Helga.. fuck, pinter, iya, gitu kak… fuck yes..” Jisung tidak sadar bahwa kini dirinya sudah meracau tak jelas.

 

3 menit, 4 menit. Jisung membuka matanya, penisnya sudah mulai membengkak ngilu, tetapi pelepasan yang diinginkannya tidak kunjung datang. Dirinya seperti menginginkan lebih. Menginginkan sentuhan nyata, bukan hanya mengandalkan bayang-bayang yang ada di kepalanya.

“FUCK!!” Jisung mengumpat kencang sambil berdiri dan menutup closet dengan cara membantingnya.

 

“Ji? You okay?”  

Jisung mematung di tempatnya. Seperti tertangkap basah.

“Ji, buka.”

Jisung masih diam seribu bahasa.

“Aku denger, Ji. Semua. Let me help you. Pasti sakit banget kan?”

 

Well, little did they know. The feeling is very mutual. Selama ini, Helga sadar, sangat sadar, bahwa ada 1 mahasiswa yang selalu memerhatikannya dari kejauhan selama 3 tahun belakangan. Di perpustakaan, di auditorium, di selasar fakultas, benar-benar dimanapun saat Helga ada keperluan di kampus. Mahasiswa cemerlang dengan wajah tampan. Park Jisung. Kalau kata anak zaman sekarang, Helga naksir berat dengan sang mahasiswa. Memang levelnya bukan sayang, bukan cinta. Tetapi jujur, dengan kepopuleran Jisung, nilai yang hampir sempurna, citra baik, ditambah wajah yang sangat tampan, tentulah semua wanita normal pasti setidaknya menaruh rasa suka. But she knows her limit. She keeps her safe distance. Mengetahui beda umur mereka yang lumayan jauh, serta title dosen dan mahasiswanya, ditambah sepertinya sang mahasiswa juga tidak membuat pergerakan apapun, perasaan itu dirinya kubur dalam-dalam.

Hingga tiba saatnya semesta mempermainkan dirinya. Helga sempat berfikir untuk menolak, tetapi rasa-rasanya, hal itu sangat tidak professional. So she played along. Menjadi dosen pembimbing seorang Park Jisung. Mahasiswa yang ditaksirnya beberapa tahun belakangan ini.

 

Jisung sudah terlalu dikuasai nafsu. Melirik ke bawah, penisnya benar-benar berkedut ngilu.

“You sure about it, kak?” Akhirnya Jisung membuka suara, sedikit berteriak.

A hundred percent.”

Akal sehat Jisung kalah dengan debar rasa yang kian membara di dalam dadanya. Dirinya memutuskan untuk bangkit, menuju pintu kamar mandi tersebut, membuka kuncinya, membalik badannya, kemudian kembali duduk di closet yang letaknya sejajar dengan pintu kamar mandi. Membiarkan visual porno itu terpampang jelas untuk Helga. Jisung yang sudah terangsang setengah mati, duduk tanpa celana, membiarkan penisnya mengacung tegak dihadapan Helga.

Helga masuk ke dalam kamar mandi, mengunci pintunya. Menelan ludahnya kasar saat melihat kondisi Jisung.

Matanya sayu penuh nafsu, mukanya mulai memerah, rambutnya sudah berantakan, dan penisnya mengacung tegak sempurna. Tebal, panjang, dengan urat-urat yang menonjol menghiasi penis keras tersebut.

 

“Strip. Sit on my lap, facing the door, kak.” Entah darimana datangnya aura dominasi yang begitu kental, menguar begitu saja dari seorang Park Jisung.

Bergetar akan dominasi tersebut, Helga berjalan perlahan sambil membuka satu persatu pakaian yang membungkus tubuhnya hingga tidak ada satu helai benangpun yang tersisa.

Tanpa suara, Helga yang sudah telanjang bulat itu, duduk membelakangi Jisung. Penis tebal Jisung kini bersarang di kedua bilah pantat sekal Helga. Kedua kaki Helga dibawa Jisung untuk mengangkangi kakinya, sehingga kini kaki Helga terbuka lebar, ditahan oleh kaki Jisung.

Tangan Jisung kini melingkar posesif di perut Helga, mengelus-elus sisi pinggangnya, sambil dirinya kini mulai menciumi leher belakang Helga. Dikecup-kecup kecil, kemudian mulai menjilati telinga Helga kanan dan kiri.

“Ah.. engh..”

Tangan Jisung mulai naik, memainkan puting kiri dan kanan Helga, memelintirnya, menggaruknya dengan kukunya, meremas-remas payudara Helga bergantian.

“Ahh, Ji…” Helga mulai kehilangan kewarasannya, tidak menyadari kini dirinya mulai menggesek-gesekkan bokongnya ke penis Jisung.

“Shh.. udah gak sabar, ya, kak? Kok belingsatan gini sih?”

Satu tangan jisung turun mengusak klitoris Helga, satu tangannya melingkari perut Helga, menahannya agar Helga tetap diam ditempatnya.

Or should i call you… bu dosen? Iya?”

“Ji.. nghh… fuck..”

“Yes, ibu. Keep calling my name like that. I will make you moan my name all day.”

Kemudian, Jisung melesakkan satu jarinya ke dalam vagina Helga. Membawanya keluar masuk, sesekali menggerakkan jarinya dengan gerakan memutar.

Menambahkan satu lagi, kini dua jari Jisung bersarang di vagina Helga. Mengocok liang kewanitaan Helga dengan tempo yang makin lama semakin cepat.

“Ji!! Anghh! FUCK!!” Helga tidak bisa diam, benar-benar terbuai dengan permainan jari panjang Jisung.

“Nunduk, kak, liat. Liat gimana jari aku keluar masuk memek kakak. Liat gimana memek kakak nyedot jariku masuk kak. Fuck…”

Helga menurut, menunduk, untuk mendapati gerakan tangan Jisung sungguh cabul. Dua jari panjang Jisung kini basah, penuh dengan lendir kewanitaannya.

Tiba-tiba, Jisung menarik jarinya, kemudian mengarahkan tepat di depan bibir Helga.

“Liat kak, liat lendir kamu. Taste it. Open your mouth.”

Helga, sudah kehilangan kewarasannya, menyambar jari Jisung yang penuh dengan lendir vaginanya. Menyesapnya, menjilatinya dari atas ke bawah seperti permen.

Jisung semakin pusing. Tidak menyangka bahwa Helga sangat, sangat binal seperti ini.

Slut. My pretty slut. Memeknya udah basah banget. Aku bikin pipis-pipis kamu hari ini kak!”

 

Melihat ke kanan, Jisung menemukan selang air yang biasa digunakan untuk membersihkan bagian bawah tubuh setelah selesai buang air. Ide liar muncul di kepalanya, sehingga seketika, dirinya mencabut jarinya yang sedang dikulum oleh Helga, untuk membawanya masuk kembali ke dalam liang vagina Helga.

Tangan kiri bersarang di vagina, tangan kanannya menarik selang tersebut, memencetnya hingga mengeluarkan semburan air, kemudian mengarahkannya ke klotoris Helga.

FUCK!! JI!! FUCKKK!! Gak kuat! AHH!”

2 jari Jisung habis mengobok-obok vagina Helga. Klitorisnya kini terasa sangat geli karena semburan air yang kencang, membuat sensasi getaran hebat.

Desahan Helga berubah menjadi teriakan. Kakinya dipaksa terbuka, mengangkang lebar karena ditahan olah kedua kaki Jisung. Sial, ini sungguh nikmat. Helga hanya bisa pasrah, menempelkan punggungnya ke dada Jisung, merebahkan kepalanya ke salah satu bahu Jisung.

“Ji, ahhh… mau, mauu pi..pis.. pipis, pleasee!!”

“Ah, look at you. Ibu Helga yang terhormat, teriak-teriak keenakan, bahkan belum aku masukin. Gimana kalau nanti udah dimasukin sama kontol aku, ibu?”

“Nghh, hah, please.. please let me cum! Please!”

“Pipis, kak. Pipis yang banyak.”

Dengan kalimat perintah itu, Helga mengucurkan cairan cintanya, deras sekali, hingga badannya bergetar tak karuan dan lantai kamar mandi itu basah oleh carian bening.

“Enak, kak? You think i’m done? Aku gak bakal berhenti sampai kamu gak bisa jalan.”

 

Seketika, Jisung melepaskan pakaian yang masih digunakannya dan melemparnya ke lantai. Menarik tubuh Helga paksa, membuat kini Helga duduk berhadapan dengan dirinya. Mengangkang, melingkarkan kedua kakinya di pinggul Jisung. Membuat penis Jisung kini berada ditengah-tengah labia vagina Helga.

Jisung menyambar bibir Helga, menciumnya seperti tidak ada hari esok. Menyesap bilah tebal tersebut, atas dan bawah. Tangannya menggerayangi tubuh Helga, meremas-remas payudara berisi Helga. Cumbuan Jisung turun ke leher Helga, menjilatinya, menyesap kulit mulusnya hingga berwarna keunguan.

Helga mulai menggerakan pinggulnya maju dan mundur, menggesekkan vagina basahnya ke penis keras Jisung.

Fuck, binal nghh, binal banget kamu kak.”

Sedetik kemudian, Jisung mengangkat tubuh Helga. Menggendongnya bak koala, membawanya ke ruang shower yang dikelilingi pintu kaca. Menyalakan shower di atas kepala mereka, mengguyur tubuh telanjang mereka.

Jisung merapatkan Helga pada tembok, menyangga lutut Helga dengan kedua kakinya agar mengangkang sempurna.

“I am going in. Liat mata aku kak. Aku pengen kamu inget ini semua. I want you to feel me everywhere.”

Perlahan, Jisung memasukan batang penisnya ke dalam lubang Helga.

“Aarh!! Hah..” Dirinya mengalungkan kedua tangannya pada leher Jisung, berharap tidak jatuh ke lantai. Dengan posisi seperti ini, penis Jisung menyentak telak titik nikmat Helga. Benar-benar penuh, benar-benar masuk sepenuhnya. Terlebih, dengan air yang mengalir membasahi seluruh tubuh mereka, membuat penyatuan mereka semakin licin, semakin penuh gairah.

Jisung mulai menghentak-hentakan penisnya keatas dan kebawah. Menyambar bibir Helga sambil tetap memantul-mantulkan tubuh Helga. Ciuman mereka panas dan dalam, air liur mulai menetes di kiri dan kanan pipi mereka.

“Your pussy is so wet, kak. I can fuck you all day.”

“Ji… enak banget, kamu bikin kakak enak. Enak banget, fuckkk nghhh.”

Fuck. Nakal banget kamu, kak.”

Jisung memajukan bibirnya untuk menjilat-jilat puting tegang Helga. Mengemuti putingnya, sesekali menggigit kecil area sekitar dada Helga.

Helga mulai menangis. Ini nikmat, nikmat sekali.

Tubuh Helga kembali menegang, tak tahan dengan seluruh stimulus yang diberikan oleh Jisung.

“Kenapa, kak? Mau pipis lagi?”

Helga kehilangan suaranya, dirinya hanya bisa menganggukan kepalanya lemas. Jisung tersenyum miring, mengangkat badan Helga, kemudian membantingnya turun, membuat penisnya menancap sempurna dalam sekali hentakan.

“JISUNG!!! Fuck!!! AMPUN!!! Ah!! UDAH!!!! HAHHHH.”

Lagi. Jisung mengangkat tubuh Helga kemudian membantingnya, membuat mata Helga kini sudah putih menjuling ke atas.

“Keluarin, kak."

CURRR.

Air mani Helga keluar bak air mancur, dengan tubuh yang merinding bergetar, bercampur dengan air shower yang masih mengalir deras dari atas kepala mereka.

“Aku belum keluar, kak. Kamu udah pipis 2x. Mana Kak Helga yang galak? Yang biasa mulutnya ini dipakai buat maki-maki aku? Sekarang lemes gini pas memeknya disumpel kontol?”

 

Gila. Park Jisung dengan staminanya.

 

Jisung menurunkan Helga, membalik badannya cepat, membuat dada Helga dan pipinya menempel pada kaca pembatas shower dan kloset. Menarik pinggul Helga ke belakang, kemudian dengan sekali hentak memasukkan penisnya kembali.

Jisung bergerak bak orang gila. Menumbuk vagina Helga tanpa ampun, sambil mendorong punggung Helga agar payudaranya menempel dengan kaca, dan menaik turunkan tangannya, yang membuat payudara Helga kian bergesekkan dengan kaca tersebut.

“Gede banget, Ji… fuck… Jisung.. nghh, gabisa, gak tahan.. ahh.. nghh”

“Hamil, kak. Aku pastiin kamu hamil anak aku.”

Jisung kemudian menyambar sabun cair yang ada di rak dekat shower dengan tangannya, kemudian menuangkan sabun itu ke atas punggung Helga. Jisung mulai mengusap seluruh tubuh Helga dengan sabun, membuat tubuh Helga semakin licin.

Tangan yang sudah penuh dengan sabun itu mulai bergerilya, satu tangannya digunakan untuk meremas payudara Helga, satunya lagi turun, mengusak klitoris Helga yang sudah mulai membengkak, sambil tetap menghentak vagina Helga dari belakang.

“Ji… udah, hhhnggh, udaah!!! Aku udah gakuat!!! Fuck!!!”

Fuck, enak banget.. memek kamu enak banget kak.”

Hentak. Hentak. Hentak.

Jisung bergerak maju mundur seperti ada yang merasukinya. Nafsu, nafsu, dan nafsu. Kepalanya hanya dipenuhi dengan nafsu untuk terus menyetubuhi Helga. Jiwa helga sudah melayang. Kepalanya terasa kosong. Badannya sangat sensitif. Rasanya, sedikit lagi dirinya akan ambruk dan pingsan.

Stay with me, kak. I’m close.”

“Di dalem, Ji. Keluarin di dalem, please.”

“Nghh, fuck, i will. I will impregnate you kak.”

3 tusukan dalam, Jisung menumpahkan spermanya di dalam vagina Helga. Banyak sekali, hingga rasanya sangat hangat memenuhi rahim Helga. Sperma Jisung sampai luber ke sisi kanan dan kiri paha dalam Helga, bersatu dengan kencing Helga yang juga ikut keluar.

Helga benar-benar kehilangan seluruh kemampuannya untuk menopang tubuhnya. Jika Jisung tidak menahan badannya, mungkin dirinya sudah jatuh terjerembab ke lantai. Pelepasan mereka berdua benar-benar intense, hingga membuat nafas mereka berderu keras, dan telinga mereka seperti berdenging.

Jisung perlahan melepaskan tautan mereka di bawah sana, membalik tubuh Helga, memeluknya dari depan sambil menyangga tubuh Helga yang sudah sangat lemas.

“Kak, bilas dulu ya sebentar, baru tidur.”

“Hm.”

 

Dengan telaten, Jisung membilas tubuh Helga sambil tetap memeluknya. Turut membasuh dirinya dengan air dan sabun, kemudian ketika sudah bersih, dirinya menggendong Helga keluar dari ruangan shower.

Jisung mengambil handuk dan mendudukkan Helga di atas meja wastafel. Mata Helga benar-benar sudah tertutup sekarang, menyenderkan kepalanya pada salah satu bahu Jisung. Jisung mengeringkan tubuhnya dan tubuh Helga, mengeringkan rambut Helga dengan bair dryer hingga agak kering, kemudian menggendong Helga ke kasur.

Tubuh Helga direbahkan di kasurnya, kemudian berjalan ke arah lemari baju Helga

“Ji… sini…”

Jisung tersenyum, ternyata Helga bisa manja juga?

“Iya, kak. Sebentar aku ambilin baju ya, nanti masuk angin. Izin buka lemarinya yaa.”

Jisung menyambar set piyama satin yang bisa dilihat oleh matanya, kemudian memakaikan baju itu ke tubuh Helga yang kini berbaring lemas.

“Kamu pakai apa? Dingin. Itu ada baju adik aku di paling bawah lemari. Ambil aja.”

Saking memikirkan Helga, Jisung sampai lupa bahwa dirinya masih telanjang bulat sekarang.

“Ohiya aku belum pakai baju, hahaha. Aku pinjam ya, kak.”

“Gak pakai baju juga gapapa. Your body looks nice. Look at those abs.”

Gila, masih ada tenaga buat flirting si Helga ini?

Wajah Jisung bersemu merah, berlari kecil ke arah lemari dan mengambil kaos hitam dan celana boxer milik adik Helga.

“Sshh, tidur, kak.” Kata Jisung yang kini berbaring di sebelah Helga.

“Ji…”

“Iya, kak? Butuh apa?”

“Revisi kamu nanti aku kirim email aja ya?”

“Hahaha, bener juga… iya, kak. Nanti kirim email aja.”

“Ji…”

“Kenapa kak? Ada yang sakit?”

“Peluk…” cicit Helga kecil. Suaranya kecil sekali, tetapi tentu saja dengan jarak sedekat itu, Jisung bisa mendengarnya jelas.

“Apa, kak? Coba ulang?” Kata Jisung usil.

“Ihhh! Yaudah kalau gak mau!” Helga merajuk, kini menarik selimutnya ke atas kepalanya, berbalik membelakangi Jisung.

“Hahahaha! Aduh gemes banget sih bu dosen aku? Iya, sini, aku peluk, kak.”

Jisung menarik Helga ke pelukannya. Nyaman dan hangat.

Sleep now, kak.”

“Hm.”

I love you kak…” lirih Jisung, berharap 3 kata ajaibnya masih didengar Helga yang kini sudah mendengkur halus.

 

 

 

Selesai.

Ditulis dengan banyak cinta oleh dearberleeana.