Actions

Work Header

On a Peaceful Day After the Storm

Summary:

Amphoreus telah kembali damai, namun entah mengapa masih ada rasa ganjil di hati Stelle. Bukan. Ini bukan tentang Dan Heng yang mendadak ‘berubah’.

Atau mungkin iya.

Notes:

Hai! Ini cerita pertama yang kupost di sini! Maaf kalau misalnya tagsnya kurang lengkap/ga sesuai :'D
Anyways enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Amphoreus telah kembali damai, namun entah mengapa masih ada rasa ganjil di hati Stelle. Bukan. Ini bukan tentang Dan Heng yang mendadak ‘berubah’.

Atau mungkin iya.

Ah entahlah, mumpung keadaan sedang tenang begini, lebih baik ia tanyakan langsung saja pada lelaki pendiam itu.

Stelle berjalan celingukan di sekitar Marmoreal Palace. Menatap ke arah bangunan dengan air terjun besar itu dengan takjub.

Selepas pertempuran besar yang lalu itu, Stelle cukup banyak kehilangan memori ketika ia tertelan oleh gelombang memoria Amphoreus yang kritis. Di dalam kegelapan yang panjang itu, rasanya seperti di alam mimpi. Ia tidak tahu kapan ia sudah berada di sana. Tahu-tahu saja suara Dan Heng menyapa dengan hangat—awalnya hanya bisikan, lama kelamaan menjadi panggilan kelegaan. Dan ketika Stelle membuka mata, ia tidak lagi menemukan gelap. Hanya Dan Heng di sana, menariknya dari ujung gelombang tanpa batas itu.

Ia tampak berbeda. Lebih dewasa. Lebih besar, dan… kekar. Stelle tidak tahu mengapa, namun ia hanya tersenyum lebar, menerima tautan lengan perkasanya dan jatuh dalam dekapan. Stelle sempat melirik wajah rekan perjalanannya itu selama ini. Sebuah ekspresi yang belum pernah dilihatnya sepanjang waktu.

Dan Heng, pada saat itu, menangis bahagia.

Itulah sumber perasaan ganjil di dalam hatinya. Ia tidak pernah membayangkan Dan Heng dengan sikap dinginnya itu menangis atau bahkan tersenyum sekalipun. Waktu itu ia ingin sekali bertanya, namun kejadian demi kejadian menghantam bertubi-tubi—tak memberinya kesempatan untuk ngobrol sebentar dengannya.

Makanya, saat ini, Stelle bertekad menghabiskan sisa waktu di Amphoreus dengan Dan Heng. Stelle kembali berjalan menyusuri pintu masuk kolam kelimpahan yang dipenuhi banyak orang. Ramai sekali, Dan Heng tidak mungkin berada di tempat seramai ini. Ia terus masuk dan segera berbelok ke kanan, menuju lorong yang membawanya lurus ke gazebo besar di ujung jurang takdir. Dan Heng terkadang ada di sana, menenangkan dirinya sambil membaca buku di sudut gazebo.

Sayangnya, ia juga tidak berada di sana. Stelle membuang napas, menggaruk kepalanya bingung.

“Di mana dia itu sebenarnya?”

Seketika, ia ingat satu tempat lagi yang pastinya didatangi Dan Heng kala ia ingin menyendiri. Kamar mereka di ujung Marmoreal Palace!

Stelle mendengus geli kala mengingat ‘kamar mereka’ di dalam pikirannya. Itu sebenarnya adalah kamar tamu yang diberikan Aglaea pada mereka berdua ketika pertama kali sampai di Okhema. Ia juga bertanya-tanya sebetulnya, mengapa Aglaea hanya memberikan satu kamar bagi mereka berdua. Yah, bukan berarti Stelle enggan berbagi tempat dengan Dan Heng, dia sudah terbiasa kok di dalam kereta untuk tidur di mana saja sebelum akhirnya ia dibuatkan kamar oleh Pom-Pom. Namun rasanya mendapat sebuah kamar istimewa dengan pemandangan kelas atas begini terasa berlebihan… Apa Aglaea mengira mereka berdua ini pasangan…?

Stelle cepat-cepat menepis pikirannya yang dirasa sudah ngawur. Pikiran sekelebat ini membuat tangannya jadi ragu untuk meraih daun pintu.

Glek. Stelle menelan ludah. Kenapa ia tiba-tiba gugup begini?

Belum sempat ia mendorong daun pintu, benda itu sudah terbuka duluan dari dalam. Stelle mengerjap kala Dan Heng muncul dari balik pintu. Wajahnya terkejut, namun seperti biasanya ia tetap berekspresi setenang air danau.

“Oh, kau sudah kembali?” katanya.

“Iya.” Stelle hanya menjawab singkat.

“Mau masuk?” tanya Dan Heng.

“Iya.” Lagi-lagi ia menjawab singkat.

Dan Heng membuka daun pintu itu lebih lebar supaya Stelle dapat masuk. Ia menutupnya lagi. Bunyi cetak kunci pintu membuat Stelle tiba-tiba menengok cepat.

“Bukannya kamu mau keluar tadi?” tanyanya cepat.

“Iya, mau cari kamu. Tapi kamu sudah kembali, jadinya aku batal pergi.” Jawabnya santai.

“O-oh, begitu…”

Ini! Ini yang Stelle rasakan sebagai situasi yang ganjil dan sangat-sangat canggung! Dan Heng jadi banyak ngomong! Dan dia sepertinya lebih perhatian dari biasanya. Dan entah kenapa Stelle jadi ikut salah tingkah menanggapi hal ini.

Kalau ini di Penacony, Stelle normalnya pasti akan mengejeknya atau menggodanya, apalagi jika ditambah March yang akan ikut menimpali Dan Heng. Dan Heng sendiri pasti hanya akan memasang wajah datar dan tidak berkata apapun. Namun sekarang March tidak di sini, dan tiba-tiba saja Dan Heng jadi banyak bicara dan super perhatian? Aneh! Ini sangat aneh!

“Uh.. Dan Heng—?”

“Kamu dari mana saja? Keliling Okhema?”

Oke Aeon, ini benar-benar aneh! Sejak kapan Dan Heng sepeduli itu untuk menanyai Stelle habis pergi dari mana? Bukankah jika Stelle habis berkeliling planet yang mereka datangi, respon Dan Heng hanya akan sekedar “Oh.” atau “Ho…” begitu kan???

Stelle tidak tahan, ia langsung saja bertanya tanpa perlu menjawab pertanyaan yang dilontarkan Dan Heng sebelumnya.

“Dan Heng, sehat?” Stelle merasa sudah seperti dirinya sendiri saat mengajukan pertanyaan singkat minim SPOK begitu.

Dan Heng mengangguk sebagai respons. “Iya, sehat. Kamu sendiri?”

“Fisikku sehat tapi pikiranku tidak.” Jawabnya.

Di luar dugaan Dan Heng cepat-cepat mendekat dan mengamit lengannya, “Kepalamu sakit? Katakan padaku apa yang kau rasakan sekarang?” sorot matanya terlihat cemas.

Stelle menangis di dalam hati, ini aneh sekali, oh Aeon, tolong jangan bilang Aha sudah mengutak-atik Dan Heng hanya untuk mengerjainya. Yang entah bisa atau tidak dewa tawa itu masuk ke arena bermain milik Fuli ini.

Walaupun begitu, entah mengapa melihat Dan Heng sebegitu perhatiannya begini padanya membuat Stelle agak terharu. Mungkin sedikit senang juga. Ia tertawa geli, membuat raut wajah cowok di depannya menjadi kebingungan.

“Dan Heng ini sudah berubah ya. Aku jadi bertanya-tanya apa yang kulewatkan selama aku dipenjara oleh Evernight?”

Dan Heng terbata memberikan respons. Sebagai gantinya, Stelle mengamit telapak tangan Dan Heng yang menjadi semakin lebar itu dan membandingkannya dengan telapak tangan kirinya sendiri. Tangan kanan Stelle bergerak ke pucuk kepala Dan Heng, ke celah tengah di antara tanduk naganya yang baru. Ia tersenyum.

“Kamu jadi seperti ini. Apa yang terjadi?”

Dan Heng sedikit tersipu. Ia membiarkan jemari Stelle mengusap pelan anak-anak rambutnya yang hitam gelap.

“Aku… singkatnya, aku berusaha berdamai dengan masa laluku dan menerima anugerah Terravox untuk menyelami bumi ini.” Dan Heng menatap lurus ke arah Stelle. Telapak tangannya merengkuh milik Stelle dalam genggaman. Ia melanjutkan, “Kulakukan semuanya untukmu. Untuk menyelamatkanmu.”

Pipi Stelle merekah merah. Ia yakin betul bahwa ini Dan Heng asli dan bukannya hasil akal-akalan Aha seperti yang tadi dipikirnya. Ia memang banyak bicara, namun sorot mata dan ketegasannya itu milik Dan Heng seutuhnya.

Mendengar jawaban setulus ini datang dari Dan Heng, Stelle semakin salah tingkah. Masih ada sisa bibit keraguan dalam hatinya mengenai perhatian Dan Heng yang sebegitu besarnya padanya.

“Yah, begitulah Dan Heng yang kami kenal ya.” Stelle menghela napas, “ia pasti akan selalu menyelamatkan rekan-rekannya saat di dalam bahaya.” Stelle melepaskan usapan pada rambut Dan Heng dan bergerak untuk menggenggam tangannya, “terima kasih ya Dan—”

“Tidak. Bukan begitu.” Dan Heng dengan cepat menahan tangan Stelle. “Bukan… bagaimana aku harus mengatakannya padamu.”

Stelle mengerutkan keningnya, “Dan Heng—?”

“Kamu bukan sekedar rekanku.”

Di tengah deru pertanyaan membumbung dari kepalanya, Stelle terkesiap kala ia merasakan tautan hangat menyapu bibirnya. Wajah Dan Heng begitu dekat darinya bahkan helaan napas frustrasinya berhembus di pori-pori wajah. Dan Heng mengecupnya perlahan. Kecupan singkat hanya untuk menyalurkan perasaannya.

Sewaktu tautan itu dilepas, kedua wajah mereka memerah—panas. Stelle masih membelalak syok.

“Kamu lebih dari itu.” Bisik Dan Heng di sela-sela napasnya.

Dan Heng memilih tindakan yang tepat. Bagi Stelle dan pemikirannya yang sederhana, kata-kata dan metafora tidak akan selalu dipahaminya. Apalagi Dan Heng sendiri bukanlah orang yang blak-blakan. Maka, tindakan adalah cara yang paling benar untuk mengatakan pada Stelle tentang bagaimana perasaannya selama ini.

Stelle paham maksud tindakan Dan Heng. Ia mengerti sekarang. Kini ia memahami mengapa Dan Heng sebegitunya berjuang untuknya. Sebegitunya perhatian setelah kejadian yang sudah lampau itu.

“Jadi begitu…” Stelle terkekeh geli. Ujung hidung mereka masih bertautan dan napas hangat masih saling menyapu satu sama lain. Kedua tangan Stelle yang sudah bebas bergerak menangkup wajah Dan Heng. Ia menghela napas lega. “Syukurlah. Aku senang.”

Stelle membalas kecupan Dan Heng sebelumnya. Ia merasa sangat senang mendengar perasaan Dan Heng sebenarnya. Ia menerimanya dengan hati berbunga sebab di dalam hatinya pun, Dan Heng juga adalah orang yang spesial baginya.

Dan Heng sedikit terkejut mendengar perkataan Stelle, namun ia tidak menunjukkannya. Ia menerima kecupan itu. Lengannya bergerak menumpu tengkuk Stelle untuk membuat keduanya larut dalam ciuman yang lebih dalam.

Dengan perlahan Dan Heng mengangkat tubuh Stelle dalam dekapannya. Stelle melenguh pelan saat pijakan di kakinya hilang tergantikan dengan lengan kekar Dan Heng yang melingkari pinggul dan pahanya. Lenguhan itu dibalas Dan Heng dengan menyapu bibir Stelle agar terbuka sepenuhnya. Bersamaan dengan itu, Dan Heng membawa Stelle ke bangku panjang di kiri ruangan, menidurkan Stelle dengan hati-hati sambil menjaga tautan lidah mereka tidak putus. Saat Stelle sudah terbaring, Dan Heng menuntaskannya dengan ciuman terakhir sebelum akhirnya menatap Stelle dengan bibirnya yang agak bengkak.

“Kamu, cantik…” Ucapnya sambil menyelipkan anak rambut Stelle ke belakang telinganya. “Sewaktu kamu hilang di gelombang memoria, aku… aku sangat panik…” Dan Heng mulai meracau sembari mengelus wajah Stelle.

Stelle terdiam mendengarkan, tangannya terjulur ke atas, ikut mengusap pipi Dan Heng yang dibalasnya dengan semakin mendekatkan wajahnya untuk dielus. Jika Dan Heng sedang tidak merajuk begini—yang mana tidak pernah sama sekali—Stelle pasti akan terbahak-bahak melihat raut wajahnya yang seperti anjing mini minta dielus-elus. Apalagi ekor naganya yang besar itu, Stelle sudah sedari tadi gagal fokus melihat ekor kehijauan itu meliuk-liuk hebat di belakang.

Keren. Betulan seperti anjing.

“Hei… apa kau mendengarkan?” Dan Heng membawa pandangan Stelle kembali dari ekor naganya. Suaranya terdengar setengah merengek.

“Aku dengar kok.” Jawabnya sambil terkekeh. “Tapi… jujur saja, penampilanmu ini membuatku gagal fokus terus-terusan, hehe…”

Stelle menyentuh tanduk emas di kepala Dan Heng. “Penampilanmu ini…” tangannya terus turun ke bawah, menyibakkan jubah putih lelaki itu untuk memperlihatkan otot lengan dan bahu miliknya yang tercetak di balik compressed shirt hitamnya. “…jadi makin seksi.”

Dan Heng tersipu malu.

“Apa ini salah satu kekuatan Terravox? Membuat orang jadi lebih hot?” Stelle menggoda. Dan Heng masih terdiam, tidak tahu mau menanggapi apa selain menyebarkan rona merah dari pipi ke telinganya.

“Atau jangan-jangan selama aku tertidur di dalam memoria, kamu nge-gym ya? Gym Amphoreus yang bisa bikin otot kawat tulang besi seperti Mydeimos?” Stelle semakin gencar menggoda. “Ah aku juga ingin deh kalau bisa jadi lebih hot begini—”

“Tidak perlu.” Jawab Dan heng cepat. “Bagiku, kamu sudah oke dari asalnya.”

“Ehhhh… itu kan bagimu. Bagiku, aku memimpikan tubuh yang lebih seksi dari ini tahu.”

“Kamu, seksi… menurutku.” Timpal Dan Heng dengan malu-malu.

Stelle menyeringai iseng. “Oh? Maksudmu, aku bisa membuatmu terangsang?”

Pipi dan telinga Dan Heng semakin merah. “Hei kenapa kamu mengatakannya seperti itu?”

“Jadi, tidak?”

“Tidak… uhh… iya…”

Dalam hal kejahilan, Dan Heng memang tidak ada apa-apanya dibandingkan Stelle. Ia menyerah dan membenamkan wajahnya dalam tangannya karena terlampau malu. Stelle yang sudah tidak terkungkung dalam lengannya bangkit dari baringannya dan duduk menghadap Dan Heng yang masih tersipu.

Hari ini ia sudah melihat cukup banyak sisi Dan Heng yang sangat menggemaskan. Yah walaupun awalnya dia sempat curiga Dan Heng dijampi-jampi Aha, tapi nyatanya sisi yang ini tidak buruk juga. Rasanya jiwa iseng Stelle sedang membludak saking gemasnya melihat naga keturunan Vidyadhara ini malu-malu seperti kucing.

Didorong dengan rasa usilnya, Stelle melepas atasan kaos putihnya dan meninggalkan tubuhnya terbalut tank top hitam ketat saja. Dan Heng yang mendengar suara samar pakaian ditanggalkan memicing. Ketika siluet tubuh Stelle tertangkap netranya, ia mendadak memalingkan wajah.

“Apa yang kamu lakukan??”

Stelle balas bertanya, “Apa maksudmu? Kamu bilang aku seksi kan.” Dia lanjut menyeringai, “Apa aku seksi? Coba bilang di depan wajahku.”

Dan Heng berusaha tidak menatap tubuh Stelle—yang ia akui memang seksi. Sebagai gantinya, ia menatap mata Stelle yang kini berbinar kesenangan.

“Kamu, seksi.” Ujarnya pelan. “Sudah sekarang pakai bajunya!”

“Eh begitu doang? Apakah aku seksi dan membuatmu terangsang?” Stelle semakin mendekatkan dirinya ke Dan Heng. Dasar usil.

Dan Heng bisa merasakan aliran panas berkumpul di bagian abdomen bawahnya. Dan Heng bisa merasakan dengan jelas bagaimana celananya mendadak terasa sempit sekali. Dan Heng tentu bisa merasakan godaan manusiawi untuk menyekap Stelle di bawah kendalinya.

Ya jelas Dan Heng terangsang. Tapi bisa tidak hal itu tidak usah ditanyakan? Batinnya berteriak kencang.

Tapi Stelle memanglah kekanakan, dan sedikit bodoh—dalam artian tidak bisa membaca situasi dengan baik. Maka, mungkin… bisa jadi… dia tidak tahu akan akibat apa yang kira-kira terjadi jika hal ini terus menerus dilakukan. Mungkin kini dia harus memastikan dengan bertanya.

Dan Heng menghela napas berat, “Stelle. Apa kau yakin dengan ini?” Tangannya menggenggam kedua bahu Stelle dengan kencang. Sebagian didasari keinginannya untuk menekan hasratnya sendiri.

“Eh? Yakin dengan ini?” Stelle berpikir sejenak, “kalau yang kamu maksudkan ini adalah itu. Maka, iya dong aku yakin.”

Ah Dan Heng teringat bahwa cara paling cepat membuat Stelle paham memang harus lewat tindakan. Maka sekali lagi ia ingin memastikan apa Stelle benar-benar paham maksudnya atau tidak. Dan Heng mendorong tubuh Stelle kembali terbaring ke bangku panjang dan dengan cepat mengunci kedua tangannya dengan lengan kirinya, dan membuka kedua paha Stelle dengan lengan kanannya.

“Stelle. Apa kamu yakin dengan ini?” Tanyanya dengan suara yang lebih berat dan tegas dari sebelumnya.

Stelle mengerjap kaget ketika ia didorong untuk kembali berbaring. Ia merasakan determinasi yang kuat dari atasnya yang asalnya dari Dan Heng. Wajah Dan Heng terlampau serius, bias kemerahan yang ada di pipinya masih tersisa namun sialnya Dan Heng yang malu-malu tadi sudah meninggalkan ruangan ini. Yang ada sekarang hanya Dan Heng yang siap menerkam dirinya.

Stelle paham. Sedari awal sudah paham kok. Makanya ia memancing Dan Heng supaya kegiatan ini segera terlaksana. Dan umpannya berhasil.

Ia tersenyum menjawab, “Yakin, sayang.”

Dan segera setelahnya Stelle merasakan deru napas panas lagi yang menyapu wajah dan bibirnya. Kali ini yang diberikan Dan Heng tidak terlalu lembut dan hati-hati seperti sebelumnya. Lumatan demi lumatan bibir diberikan dengan hasrat bertubi. Stelle cukup kewalahan mengelola sistem napasnya yang kini mulai kehilangan ritme. Namun ciuman Dan Heng enak sekali, Stelle rasanya seperti terbang ke ujung pohon Imaginary. Makanya kehilangan oksigen beberapa persen saja rasanya Stelle rela, sebab penggantinya jauh lebih nikmat.

Dan Heng akhirnya paham bahwa selama ini bukan Stelle yang tidak mengerti, melainkan dirinya. Mereka berdua sebetulnya sudah memikirkan hal yang sama sejak tadi, namun hanya Dan Heng yang sepertinya menahan diri. Memikirkan ini membuat Dan Heng merasa kesal, namun di sisi lain ia tidak bisa mengungkapkan betapa bahagianya ia pada akhirnya bisa merengkuh tubuh orang yang ia cintai seperti ini.

Lengan Stelle sudah bebas sekarang. Dan Heng sudah menggerakkan lengannya turun untuk menyingkap tank top hitam dan rok mini yang membalut tubuh Stelle. Kini Stelle hanya terbalut bra dan celana dalam saja. Dan Heng beranjak dari posisinya dan berhenti untuk mengagumi siluet tubuh di bawahnya. Dan Heng tidak bohong ketika ia bilang bahwa Stelle sudah sempurna apa adanya. Stelle itu seksi. Itu adalah fakta.

“Eh kenapa berhenti?” Tanya Stelle setengah menggumam. Efek mabuk ciuman Dan Heng yang luar biasa.

Dan Heng masih diam dan menatapnya dari atas hingga bawah dengan dalam. “Cantik.”

Ia membawa tangannya mengelus pipi Stelle, lalu turun ke leher, melewati lembah dua gundukan terbalut katun hitam, terus ke bawah menggelitik pusar, dan berhenti tepat di depan pintu masuk bawah yang kini sudah basah merembes dari kain yang membalutnya. Dan Heng merasa celananya semakin sempit.

Stelle menggeliat tidak nyaman ketika jemari Dan Heng mengelus bagian bawahnya secara pelan. Matanya kini yang merengek manja. Seakan meminta Dan Heng untuk melanjutkan sesi ini secepatnya. Dan Heng mendengus geli melihat gadis itu merengut setiap kali tangannya menepuk lembut daging tebal di bawah. Tangannya kembali melingkari tubuh Stelle untuk melepas kaitan bra yang dikenakan, kemudian dengan gerakan efisien, ia menarik celana dalam gadis itu dengan satu tarikan halus. Dengan begitu Stelle kini secara resmi telanjang bulat di atas bangku kasur kamar penginapan.

Dan Heng mengiyakan rengekan Stelle dengan memajukan tubuhnya ke depan. Ia kembali menghadiahi Stelle dengan kecupan dan hisapan di seluruh tubuhnya. Leher kanan dan kiri, turun ke dada, ke dua buah dadanya yang ujungnya telah merekah merah. Dan Heng mencium dan menghisap payudara kirinya, membuat Stelle bergidik dan mendesah pelan. Tangannya mencengkram surai-surai hitam milik lelaki itu yang kini memilin dan meremas payudara kanannya. Seluruh syaraf sensitif di dalam tubuhnya menjerit, mengirimkan sinyal-sinyal kenikmatan dari sentuhan-sentuhan yang diberikan Dan Heng padanya. Stelle mendesah semakin kuat.

Tangan Dan Heng bergerak memisahkan kedua paha Stelle, memperlihatkan klitoris miliknya yang berkedut ringan. Liang itu sudah cukup basah, namun Dan Heng tidak mau mengambil resiko nantinya Stelle terluka, maka ia menyambar botol minyak terapi di kabinet sebelah dan melumuri jarinya sendiri. Stelle masih berkunang-kunang akan sensasi sebelumnya ketika ia melihat Dan Heng mengoleskan minyak itu pada jemarinya. Dan Heng meliriknya yang terlihat agak takut. Lelaki itu meletakkan kembali botol minyak itu dan maju mengelus pipi Stelle dengan tangannya yang tidak diolesi minyak.

“Jangan khawatir. Aku akan membantumu, oke?”

Stelle mengangguk, “Oke… tapi cium aku lagi ya?”

Dan Heng terkekeh dan langsung menyambut bibir gadis itu yang mendesis ketika jari Dan Heng menelusup ke dalam liang cintanya. Dan Heng mengunci ciuman itu supaya Stelle tidak berteriak ketika jari kedua menyusul. Saat jari ketiga ikut masuk, Stelle sudah pasrah dan hanya meracau, membiarkan jemari Dan Heng mengobrak-abrik liangnya, mencari tempat.

“Ah, Dan—Heng! Ah—iya! Iya di situ—!"

Dan Heng sudah tidak menciumi bibirnya, membiarkan Stelle mengeluarkan desahan yang membuatnya makin bergairah. Jemarinya masih saja mengocok liang itu, membuat Stelle makin gila karenanya. Kepalanya pindah di antara kedua paha Stelle, secara lembut ia menciumi pangkal paha itu. Stelle semakin hilang dalam kenikmatan, kepalanya sudah berkabut.

“Dan…Heng—ah! M-mau k-keluar—!”

Tak berapa lama Stelle menjerit hebat ketika hamburan cairan keluar dari vaginanya. Percikan cairan itu mengenai sedikit wajah Dan Heng, membuatnya menjilat sekilas cairan yang mengalir di pipinya. Ia juga menjilat jemarinya sendiri yang berlumuran cairan yang sama. Ia mencium Stelle lagi, mengajaknya merasakan hasil miliknya sendiri.

You did great.” Ujar Dan Heng sambil tersenyum lembut.

Stelle terengah-engah sambil terkekeh kecil. “No… you did great on doing me.”

Dan Heng tersipu mendengarnya. Itu pujian tertinggi baginya saat ini. Ia mengecup Stelle sekali lagi. Tak disangka, Stelle bangkit dari baringannya dan mendorong Dan Heng hingga terduduk di bangku panjang di seberangnya. Stelle melepaskan kecupan, menyeringai.

“Giliranmu.” Ia mendorong kaos hitam Dan Heng ke atas, menyuruhnya menanggalkan pakaian yang sudah dikenakannya sedari tadi, yang kini sudah basah oleh keringat.

Stelle tercengang menatap tubuh di depannya. Begitu seksi dan menggoda. Stelle berani sumpah Dan Heng betulan dapat kode cheat gym begitu ia mendapatkan kekuatan milik Terravox. Kalau tidak, bagaimana mungkin cowok ini memiliki otot dada dan perut yang sempurna sekali???

“Wow…” Stelle sudah sepenuhnya hilang dalam kekaguman. Sementara Dan Heng entah mengapa merasa malu ketika Stelle melihatnya sedalam itu.

Stelle meraba satu persatu otot pada tubuhnya, bisep yang bulat sempurna, otot dada yang penuh, dan enam tonjolan keras pada abdomennya. Dan Heng hanya mendengus tiap kali jemari Stelle menyusuri tubuhnya. Stelle benar-benar menganggumi setiap inci darinya seakan-akan ia ini pajangan museum.

“H-hei… kamu cuma mau lihat badanku atau bagaimana…?” Dan Heng akhirnya membuka suara. Ia tidak tahan lagi. Tidak dengan mata berbinar Stelle itu. Tidak dengan sentuhan jemarinya yang mengirim rangsangan tanpa kepastian.

“Oh ya benar! Maaf aku salfok, hehe…” Stelle memundurkan tubuhnya perlahan, sengaja menyeret tangannya di sepanjang cetakan otot Dan Heng. Menggodanya. Yang kemudian direspon desisan dari bibir lelaki itu.

Stelle berlutut di lantai menghadap gundukan besar yang sedari tadi berkedut di balik sepasang celana hitam. Dan Heng membantunya membuka ikatan yang membalut celana itu dan sisanya dilakukan oleh Stelle. Begitu celana dan dalamannya disibak, kepunyaan Dan Heng langsung menyembul keluar. Tegak perkasa. Seakan senang bisa menghirup udara Okhema setelah sebelumnya terhimpit kain celana.

Stelle menganga tak percaya. Ia menatap Dan Heng dengan raut wajah yang sangat kompleks.

“Dan—kamu, punya dua!?” Stelle memekik heboh.

Dan Heng mengusap pipinya yang kembali memerah. Terbata-bata ia menjelaskan, “N-naga punya dua organ reproduksi…”

“Aku tidak tahu!” Stelle masih menatap dua penis di hadapannya dengan takjub. “Kukira karena kamu hanya keturunan, maka kamu sudah sepenuhnya seperti manusia normal.”

Dan Heng tidak tahu harus berkata apa lagi, saat ini dia merasa malu luar biasa. “Aku, seperti normalnya makhluk fana… tapi, kekuatan Terravox sepertinya membuat DNA naga di dalam diriku bermutasi dan menjadi dominan. K-kau tahu, karena Terravox sendiri juga naga bumi, jadi…”

“Jadi! Kamu hanya punya dua ketika dalam wujud ini? Kalau wujudmu yang biasa, maka hanya punya satu?” Stelle memotong dengan cepat.

Dan Heng mengangguk kecil, “Apa kamu mau aku menjadi diriku yang sebelumnya…?”

“Eh?”

“Kurasa dua akan terlalu membebanimu…”

“Iya sih… tapi—” Stelle dengan segera melingkarkan kedua tangannya masing-masing ke kedua penis itu, “aku penasaran dengan yang saat ini, hehe.” Stelle meraba keduanya dari ujung pangkal sampai ke kepalanya yang kini mengeluarkan sedikit precum.

Ah Dan Heng tahu tatapan Stelle ini. Ini wajahnya ketika tertantang akan sesuatu. Dan Heng tahu betapa merepotkannya Stelle kalau dalam mode ini. Maka untuk kali ini, ia mengangkat tangannya pasrah, membiarkan Stelle melakukan apa yang dia suka. Lebih parahnya, kini ia juga berada di situasi yang tidak menguntungkan. Ia jelas butuh ruang untuk mengurus dua ‘adiknya’ itu.

“Kalau itu maumu…” Dan Heng mendesah pasrah. Kedua organnya itu membuat hasratnya naik dua kali lipat.

Stelle meng-oke-kan dirinya dan segera menyibukkan diri mengocok kedua penis itu, membuat Dan Heng mengerang tertahan. Oh ini akan jadi ujian terberat baginya, Dan Heng yakin sekali. Stelle mulai memajukan tubuhnya, mendekat, dan mengecup penis di tangan kanannya. Dan Heng mendesis, tangannya mencengkram rambut Stelle yang tergerai. Stelle menyesap dan mengulum miliknya, sesekali dibarengi dengan rabaan pada pangkal batangnya. Dan Heng semakin mengeratkan cengkramannya.

Tangan kiri Stelle mengurusi penis yang satunya. Dia bolak balik mengulum keduanya satu persatu. Sebenarnya ia ingin mengulum keduanya secara bersamaan, namun ukuran masing-masingnya saja sudah cukup besar. Memasukkan keduanya dalam rongga mulutnya sepertinya cukup merepotkan.

Ah mungkin kali ini Dan Heng benar, ini merepotkan. Ketika Stelle melirik Dan Heng dengan niat ingin berganti ‘mode’, ia malah melihat pemandangan Dan Heng yang sangat manis dari bawah. Dan Heng tampak bersandar pasrah di bangku dengan kepala terkulai yang ditutupi sebelah tangannya, sementara tangan satunya masih mencengkram rambut Stelle. Nafasnya terengah dan berat seakan menahan sesuatu yang tidak ingin ia keluarkan.

Stelle bangkit dari duduknya dan menangkup wajah Dan Heng yang semerah tomat. Lelaki itu membuka matanya yang berkaca-kaca, oh astaga dia manis sekali.

“Hei, hei, tidak apa… aku di sini…” Stelle merengkuh tubuh yang lebih besar itu ke dalam dekapannya. “Tak apa, lepaskan saja…”

Dan Heng balas merengkuhnya, “Aku takut menyakitimu.” Ujarnya pelan.

“Aku baik-baik saja.” Stelle mengusap kepalanya lembut. “Kita lakukan saja tidak apa-apa. Satu persatu juga tidak masalah.” Ucapnya lagi.

Stelle memperbaiki posisinya sejenak, ia membantu menuntun salah satu penis milik Dan Heng ke bukaan klitorisnya. Mata emas Stelle menatap netra gelap milik Dan Heng, berusaha menyakinkannya. Dan Heng pada akhirnya mengangguk, mengarahkan kedua tangannya untuk meraih pinggul Stelle.

Dalam satu dorongan, salah satu dari milik Dan Heng telah meluncur mulus ke liangnya. Stelle dan Dan Heng mengerang bersamaan. Rasa sakit perlahan terganti kala Dan Heng mulai memandu pinggul Stelle untuk bergerak memompa. Stelle menguatkan cengkeramannya pada bahu kekar Dan Heng; ia mendesah di telinga runcing pemuda Vidyadhara itu. Hal itu membuat sang wira semakin terangsang. Ia mempercepat pompa pinggul milik Stelle.

Di tengah berkabutnya mata Stelle oleh karena dorongan nafsu, ia melirik penis Dan Heng satu lagi yang teranggurkan di antara tautan tubuh mereka. Tanpa pikir panjang, Stelle menggenggam milik Dan Heng yang satu lagi itu dan mengocoknya dengan ritme yang sama dengan yang mereka lakukan sekarang.

Dan Heng mengerang semakin keras. Cengkeramannya pada pinggul Stelle menguat, membuat Stelle meringis. Namun ini bukan apa-apa, batin Stelle. Ia menyadari bahwa Dan Heng menyimpan beban dua kali lebih banyak dari manusia normal. Untuk itu, Stelle ingin hadir di sini bersamanya, ikut memikul beban yang sama dengannya. Stelle mengusap, memutar, dan meremas milik Dan Heng yang satu lagi dari ujung pangkal hingga ujung kepalanya. Merasakan benda itu berkedut hebat di tangannya. Napas Dan Heng semakin tak beraturan, di sela-sela engahannya, ia membenamkan wajahnya ke dalam dada Stelle. Melepaskan bebannya dari miliknya yang berada di luar. Cairan semen menyemprot ke sekitar perut dan dada.

Stelle mencium pipinya, “good boy.”

Dengan ini, satu hal telah beres. Tinggal satu lagi yang kini sedang ditangani oleh organ dalam Stelle.

Stelle dapat merasakan ujung kepala milik Dan Heng menyundul sampai ke pintu depan jalur rahimnya. Liangnya bergerak lincah meremas setiap sisi milik Dan Heng sampai pemiliknya tak kuasa menggeram bak hewan gila. Disebut hewan gila mungkin memang masuk akal, karena Dan Heng dalam wujud ini merupakan setengah hewan naga. Dan sebagai setengah naga, ekor miliknya betulan segila itu melingkari tubuh Stelle dengan cengkeraman kuat agar tak lepas.

“Hng—Stelle, sedikit l-lagi…” Dan Heng berujar terbata-bata.

“Ah—aku juga…” Balas Stelle mengetahui klimaks keduanya juga akan datang.

Dan Heng menarik penisnya ketika sensasi menggelitik itu sudah di ujung. Ia menyemprotkan cairan putih pekat ke perut Stelle. Bersamaan dengan itu, Stelle mengalungkan lengannya ke leher Dan Heng dan memekik—klimaks keduanya.

Keduanya masih saling merengkuh. Dada beradu dengan tersengal-sengal, masih mengejar ritme pernapasan normal. Stelle masih meletakkan kepalanya di ceruk leher Dan Heng, ia tertawa pelan. Dan Heng membalasnya dengan mendengus geli—ikut tertawa. Keduanya larut dalam pikirannya mengenai seks hebat yang mereka lakukan barusan.

“Kita berdua benar-benar dalam masalah untuk ke depannya…” Dan Heng tiba-tiba saja menyeletuk.

“Hm? Aku tidak mengerti.” Stelle menatap Dan Heng dengan bingung.

“Kita beruntung mendapat kamar seperti ini di Amphoreus. Ekspres? Tidak.” Jawabnya.

Stelle menyeringai, “Kamarmu kan bisa. Atau kamarku.”

“Kamu pikir kita bisa dimaafkan Pom-pom kalau mengotori ruang arsip?”

“Benar juga…”

“Kamarmu mungkin bisa… asal March tidak mampir untuk ‘girls’ night.’”

Stelle terbahak kencang. March memang suka mendadak ke kamarnya secara random. Entah untuk sekadar ngemil, main gim, atau hanya mengobrol dengan Stelle di kamarnya. March menyebutnya girls’ night. Dan karena girls’ night, Himeko juga sering diajak. Sementara Dan Heng dan Tuan Yang, serta Sunday tidak diperkenankan hadir.

“Benar juga. Kita perlu memikirkan alasan untuknya.” Stelle memperbaiki posisi duduknya di dalam pangkuan Dan Heng. Berusaha menyamankan dirinya.

Dan Heng menyandarkan kepalanya ke rambut Stelle. Ia berpikir sejenak,

“Kurasa Tuan Yang bisa membantu…”

“Kok Tuan Yang??”

“Aku rasa Tuan Yang sudah tahu kalau kita sama-sama menyimpan perasaan satu sama lain.”

“EHHHHH???” Stelle terlonjak dan memalingkan kepalanya—membuat kepala Dan Heng terentak ke belakang. “Ah maaf! Kamu tak apa?”

Dan Heng hanya terkejut, dia mengangguk mengiyakan bahwa ia baik saja.

“Gawat, aku malu sekali kalau disuruh menghadap Tuan Yang sekarang. Aku nggak nyangka dia bisa tahu perasaanku.”

Dan Heng menghela napas pelan, “Jangan dipikirkan. Tuan Yang juga pasti bantu merahasiakan.”

Stelle setuju dengan pernyataan itu, Tuan Yang yang paling dewasa dan bijaksana di antara kru Ekspress. Dia bisa jadi rekan kompromi yang baik.

“Kalau begitu…” Stelle kembali menatap Dan Heng dengan berbinar, “lain kali biarkan aku mengurusi ‘keduanya’ ya!”

Otak Dan Heng sempat terhenti sejenak, sebelum akhirnya ia paham akan maksudnya.

Next time I’ll take them both!” Ujarnya mengerling nakal.

.

Notes:

Wrote this while listening to Supernatural - Ariana Grande
Makasih udah mampir baca!