Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-25
Completed:
2026-06-27
Words:
5,203
Chapters:
2/2
Comments:
7
Kudos:
119
Bookmarks:
18
Hits:
5,252

After Our First Fanmeeting

Summary:

The last day of their first fanmeeting in Seoul, they decided to go to Jaemin’s appartment. Of course, they chose to had fun together after undertaking a tiring yet pleasant day.

Notes:

It’s my first NSFW work, y‘all... Minta maaf besar kalau banyak salah, I’m truly an amateur!

Chapter Text

“Kamunya capek nggak, sayang?”

Pintu apartemen kembali tertutup dan terkunci otomatis. Sepasang kekasih baru saja menghabiskan waktunya sepanjang hari untuk bekerja—menjadi idol tentu saja. Mereka baru menyelesaikan dua kali pertunjukan dalam satu hari, sungguh melelahkan.

“Nggak, yeee. Kamu kali yang capek? Tadi ngelakuin dance challenge aja engap banget tuh keliatannya,” ucap Jaemin yang kini beranjak memasuki kamar khusus bagi ketiga kucingnya, yang diikuti oleh kekasihnya, Jeno.

Wait! Pake masker kamu dulu!” perintah Jaemin begitu melihat masker Jeno tidak lagi menutupi sebagian wajahnya.

Jeno menggeleng, “Aku lihatin dari sini aja.”

“Oke.”

Kemudian, Jaemin melanjutkan kegiatannya yaitu menyapa kucing-kucingnya yang seharian ini dibiarkan bermain di dalam ‘kamar’ mereka. Tentunya sudah disediakan berbagai makanan, cemilan, tempat untuk membuang kotoran, dan bermacam-macam mainan di sana.

Tiga kucingnya itu segera menghampiri Jaemin setelah ia menginjakkan kakinya di kamar itu. Mereka mendusalkan kepala di kaki Jaemin membuat kedua lutut Jaemin menyentuh karpet bulu di sana. Ia mengelus lembut ketiga kucingnya itu secara bergantian.

“Meng!”

Jeno yang berdiri di pintu sana sembari melipat kedua tangannya, tiba-tiba bersuara yang membuat keempat makhluk di hadapannya mengalihkan perhatian mereka.

Salah satu kucing milik Jaemin—Lucy, segera berlari menghampiri Jeno. Namun, hal tersebut membuat Jaemin panik lantaran kekasihnya kini tak mengenakan masker. Takut-takut alerginya kambuh. “Lucy, adek, sini! Nanti Papa meler hidungnya.”

Tak mengindahkan ucapan Jaemin, Lucy justru menidurkan badannya di atas tungkai Jeno. Lantas si empu hanya tertawa gemas melihat tingkah satu kucing tersebut. “Lihat tuh, Pi, Lucy malah tiduran di kaki aku.”

“Haduh, anak bandel!”

Setelah mengatakan hal tersebut, Jaemin beranjak untuk mengambil box berisi kotoran kucing. Ia hendak membuangnya dan menggantinya dengan pasir yang baru. Sembari melakukan aktivitas tersebut, Jaemin memerintah Jeno untuk segera membersihkan dirinya dahulu. “Yang, kamu mandi duluan, gih. Aku mau bersihin kamar anak-anak dulu.”

“Perlu aku bantu, nggak?”

“Nggak usah!” Jaemin menggelengkan kepalanya kencang. “cuma buang sisa kotoran aja, makanan mereka masih banyak tuh.”

Keduanya melanjutkan aktivitas masing-masing; Jeno membersihkan diri, sementara Jaemin masih sibuk membersihkan kamar kucing-kucingnya. Hingga akhirnya, Jaemin juga langsung membersihkan dirinya setelah urusan per-kucing-an selesai.

“Aku nggak masalah kalau kita ngelakuin itu sekarang,” ucap Jaemin begitu ia menyusul Jeno yang terlebih dahulu di atas ranjang.

Baik Jeno maupun Jaemin, kini sudah berada di atas kasur king-sized milik Jaemin. Mereka mengikis jarak yang ada, sehingga bahu, lengan, bahkan satu sisi kaki mereka saling menempel. Keduanya menyandarkan punggung ke kepala ranjang, siap untuk membuka diskusi singkat.

“Emang kamu nggak capek apa?”

“Nggak sih, kamu capek?” Jaemin balik bertanya pada Jeno.

A little bit, cuma—

“Kan. Dibilangin buat stop nge-vape, bandel sih! Mampus kan lu jadi capek-an begitu.” Jaemin segera menyanggah ucapan Jeno, ia juga menambahkan emosi kesal pada ucapannya.

“Udah aku kurangin, Sayaaaang.”

“Berhenti, bukan kurangin.”

Jeno menggaruk pelan tengkuknya sambil tertawa kikuk, “Ya itu pelan-pelan, hehe.”

“Lagian kamu bisa sedot yang lain, kenapa harus nge-vape sih?”

Mendengar hal tersebut, alis Jeno mengangkat satu. Raut mukanya berubah serius—dan agak menggoda. Ia menolehkan wajahnya ke kiri untuk melihat Jaemin, yang ternyata kini sedang menghadap lurus—ia merutuki dirinya sendiri kenapa berkata hal memalukan seperti itu.

“Sedot apa tuh?” Setiap kata yang Jeno lontarkan itu, mengandung sebuah godaan. Jelas hal tersebut membuat Jaemin semakin panik.

“Y—ya, apaan kek? Es kopi atau permen? Mesum amat!”

“Loh, aku mah cuma tanya, Yang. Lagian permen apaan yang disedot? Ini mah kamu yang lagi needy aja,”

“Sembarang—AHH, JENO!”

Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Jaemin terpekik saat Jeno tiba-tiba membubuhi leher jenjangnya dengan ciuman basah. Namun pada detik selanjutnya, Jaemin justru memiringkan kepalanya untuk memberikan akses bagi Jeno dalam mengeksplor lehernya.

Jaeminnya suka ditandai. Mengingat hal tersebut, Jeno menggigit permukaan putih itu lumayan keras namun tidak cukup menyakiti sang empu. Ia lakukan hal tersebut berulang kali pada titik yang berbeda-beda, yang malah mengundang kekasihnya semakin mengeraskan desahannya tanpa sadar.

“Jenhhhh!”

Jeno mengganti targetnya setelah mengamati noda-noda yang cukup memenuhi permukaan kulit di sana. Selanjutnya, ia mengincar bibir Jaemin yang membulat. Ia memaksa Jaemin untuk membaringkan tubuhnya—sementara, Jeno sendiri mengukung tubuh Jaemin.

Jeno kemudian langsung menempelkan bilah ranumnya dengan milik Jaemin. Keduanya saling beradu, hingga kepalanya bergerak ke kanan dan kiri bergantian secara terburu-buru. Sembari tangan kanan yang menahan tengkuk Jaemin supaya tidak terlalu bergerak-gerak, tangan kirinya, ia gunakan untuk menanggalkan kancing piyama Jaemin satu per satu.

Hingga seluruh kancingnya terlepas, Jeno juga bergegas melepas setelan piyama berwarna pink satin yang tadinya menempel apik pada tubuh kekasihnya, dan kini ia membuangnya asal. Ciuman basah bibir Jeno turun dari bibir, dagu, leher, hingga sekarang berhenti pada sternum sang terkasih. Bukan hanya bibirnya yang bergerak, ia juga sedikit menggigit pelan dan memainkan kulit putih tersebut hingga memunculkan ruam yang tak terlihat menyakitkan sedikitpun. Hal tersebut menyebabkan pekikan dari sang lawan bermain, “OUCH!”

“Aku mau nen, boleh?” tanya Jeno yang dihadiahi anggukan dan senyum malu-malu dari Jaemin.

Tanpa membutuhkan detik-detik berikutnya, kepala Jeno kini terbenam pada dada sebelah kiri Jaemin. Ia menjulurkan lidahnya untuk hinggap di atas areola sebelah kiri kekasihnya, kemudian digerakkan melingkar. Akibatnya, sang empu terus bergerak resah sebab rasa geli yang menyerangnya—belum lagi tangan kiri Jeno yang memilin areola sebelah kanannya.

“Shhh hnghh, pelanhh pleasehh!”

Bukannya menuruti permintaan tersebut, Jeno malah semakin rakus memainkan sepasang areola milik Jaemin. Tangan kirinya memilin, mencubit, hingga menarik-narik entitas kecil tersebut tanpa ampun. Begitupun dengan mulutnya yang menyedot, bahkan giginya ikut menggigit main-main benda yang tengah menegang tersebut.

Kepala Jeno dipindahkan ke areola sebelahnya untuk diberikan perlakuan yang sama; dijilat, disedot, dan digigit kecil hingga teramat basah akibat liurnya. Satunya pun dimainkan dengan tangan kanan Jeno, digaruk hingga ditarik tanpa henti meskipun terdengar rintihan yang menyiksa dari Jaemin.

“Udahh angh! Please stophh duluhh!”

Justru, tangan yang tadinya Jeno gunakan untuk menopang tubuhnya, diarahkan ke pusat tubuh Jaemin yang terasa lembab akibat banyak mengeluarkan lendir. Jeno mengusap-usap pelan vagina tersebut, yang membuat sang empu berjengit kaget. “AH!”

Jaemin yang diperlakukan sedemikian rupa, menggerakkan tubuhnya resah—berusaha menghindari stimulus yang diberikan oleh Jeno. Akan tetapi, peduli apa Jeno? Ia justru semakin gencar menggoda Jaeminnya.

“Udahhh pleasehhh!”

“Ahh!”

Mendengar Jaemin yang terus-menerus teriak, membuat Jeno memutus stimulus pada areolanya. Kepalanya kini ia bawa untuk diarahkan ke pertunjukan yang sangat disukainya—Jaemin yang memejamkan matanya erat, kepala mendongak, badan bergerak-gerak resah, banyak tanda kemerahan di leher dan dada, serta sepasang areola yang terlihat mengkilap ulah liurnya.

Tangan kanan Jeno dibawa untuk menahan pinggang Jaemin, jaga-jaga karena setelahnya ia memasukkan dua jari sekaligus ke dalam lubang surgawi yang belum sempat merekah. Ia keluar-masukkan jari berurat itu dengan tempo sedang, dan ujungnya dibuat sedikit menggelitik di dalam sana. Membuat Jaemin terus memekik, “Oh! Shithh!”

“N-nohh pleasehh!”

Melihat Jaemin yang tampak sangat frustasi, Jeno melebarkan senyum separuhnya yang tidak sengaja tertangkap oleh netra Jaemin yang sempat terbuka. Pikirannya terlalu lambat untuk mencerna apa yang akan Jeno lakukan selanjutnya untuk mengerjai dirinya.

Dan benar saja, kepala Jeno kini berada tepat di antara kedua pahanya. Tenggelam di selangkangan dengan lidah yang menjulur lurus, mengenai benda kecil menyerupai biji-bijian. Perlakuan Jeno seakan-akan menyengatkan aliran listrik ke seluruh tubuhnya, melalui titik paling sensitif darinya. Hal tersebut membuat tubuhnya kaku dan perlahan melemas, Jaemin menyerah.

Berbanding terbalik dengan Jeno yang justru semakin cepat menggerakkan kedua jarinya di dalam lubang itu, sembari membengkokkan sendi-sendinya agar dinding vagina milik Jaemin tergaruk kasar. Lidahnya berputar-putar di atas klitoris dan merambat di sepanjang kelopaknya yang membuka. Hidung mancungnya menusuk perut bawah Jaemin yang membuat sang empu ingin mengeluarkan sesuatu yang tertahan dari dalam sana.

Kedua tangannya sendiri, Jaemin arahkan untuk menyelimuti sepasang dadanya yang menganggur. Ia meremasnya kencang bersamaan dengan tangan Jeno yang berpindah—dari pinggang, beralih untuk menggelitik pelan perut ber-line 11 tersebut. Hingga seluruh tubuhnya berubah menjadi merah muda, stimulus yang diberikan tidak juga berhenti.

“M-mauhhh keluarrhhh! Lepashhh dulu hhh!”

Jeno mendongakkan kepalanya, mengecek keadaan kekasihnya kini. “Keluarin aja, Sayang. Aku habisin,”

Sebelum akhirnya, Jeno kembali menenggelamkan kepalanya di antara selangkangan tersebut. Lidahnya bergerak untuk menemui uretra Jaemin, dan menjilati bagian tersebut sebelum kembali beralih ke klitorisnya untuk dijilat, dihisap, dan disedot kencang dengan mulutnya. Belum lagi tangan yang tadinya mengelus pelan, kini menekan perut bawah Jaemin yang semakin kencang.

Akibatnya, bagian bawah tubuhnya bergerak tidak nyaman, dan pada beberapa detik berikutnya, lendirnya menyemprot deras. Bola matanya berotasi hingga menyisakan putihnya. Seluruh tubuhnya kejang-kejang tanpa dapat ia kendalikan. Napasnya terburu-buru dengan teriakan yang lolos di antara desahannya.

Splash!

“Hngghh! AAAAHHH JENHHHH!”

Jeno menerima seluruh cairan yang menyemprot dari vagina Jaemin, dan menelannya dengan senang hati. Jemari yang menyiksa dinding vagina itu, akhirnya dikeluarkan dan berganti alih untuk dibawa menari-nari di atas klitoris Jaemin. Sang empu terus berteriak dengan sisa tenaganya—memohon ampun karena masih teramat sensitif.

“Ahhh, stophhh ithh! Sensitifhhh ahh!”

“Pleaseehhh hhh, nggak ku—AHH!”

Hingga akhirnya Jeno merasa puas mengerjai kekasihnya. Satu jilatan penuh tekanan menjadi penutup di permainan babak pertama.

Bibirnya yang masih dihinggapi bekas-bekas cairan memabukkan, dibawa untuk menyatu dengan bibir milik Jaemin yang sedikit terbuka. Dadanya masih naik-turun akibat napas yang belum sepenuhnya kembali normal. Ciumannya tidak terasa menuntut, namun tetap terasa ada nafsu yang mendasari. Sepasang tangan Jeno yang basah menyelinap ke belakang punggung telanjang Jaemin, mengusapnya lembut.

“Hnggh,”

Ciuman itu terlepas setelah lenguhan dikeluarkan oleh sang empu yang terbaring lemas. Jeno mencium cukup lama di dahi Jaemin sebelum ia bertanya, “Mau lanjut atau udahan, Sayang?”

“Lanjut, Yang. Orang kamu aja belum tuntas, ‘kan?”

“Gampang aku mah!”

“Nggak papa, lanjut aja. Tapi istirahat bentar, ya. Aku capek,”

Keduanya tertawa pelan sembari Jeno mengambil selimut di bawah Jaemin untuk diarahkan ke seluruh tubuh telanjang tersebut sebelum ia membaringkan tubuhnya sendiri di sebelah Jaemin. Mereka saling berpelukan erat sejenak, hingga waktu berjalan selama sepuluh menit.

Dan setelahnya, nafsu keduanya kembali memuncak. Keputusan mereka untuk menghabiskan malam dengan kegiatan yang memabukkan berlanjut hingga matahari menyapa.