Actions

Work Header

The String We Painted Red

Summary:

Se-Teknik yang homophobic itu juga tau soal Gevano Aquaristha yang suka cowok. Dan, Marshakal Tanjung, atau cowok cishet FH yang lebih sering dipanggil Haikal, cuma berusaha untuk bersikap respectful dengan keadaan teman satu divisi KKN-nya itu. Gak ada pilihan lain.

But what if, as the days grow fewer, he realizes he's starting to fall for Ge? Does this mean he's really into men? Will this ever work?

Do they really have to paint the string red?

Chapter Text

"Ge, gimana udah sehat?"

Gevano sedikit menoleh ke belakang dan menyunggingkan senyum. "Udah. Jumat kemaren gue dipulangin, tapi emang masih ada obat yang perlu dikonsumsi," jawabnya seraya memasukkan laptop ke dalam ransel.

"Syukur deh," balas Kavi. Cowok itu ikut berdiri tatkala Ge bangkit dari kursi. Takut-takut, Kavi melangkah mengikuti pergerakan Ge. "Kemaren tuh selama lo sakit, proker yang bareng FH udah diputusin jadinya mau pake draft anak FH, Ge," Kavi menggaruk pelipisnya, "tapi lo tetep dijadiin PIC asisten projeknya."

Gevano melewati pintu kelas. Napasnya lumayan dihembus dengan lega mengetahui kelas hari ini sudah berakhir di pukul satu siang. Meskipun 3 SKS dan harus duduk berdempetan karena disatukan dengan kelas C, tapi setidaknya ada satu hari lain yang berhasil ia jalani.

Masalahnya, berita buruk yang disampaikan Kavi — Wakil Ketua BEM FT periode sekarang, alias atasannya di organisasi, alias kakak tingkatnya yang ngulang matkul — sepertinya akan membuat Gevano kehilangan mood di sisa hari ini.

"Gue? Gue atau departemen gue?"

"'Kan karena ini emang prokernya antar departemen eksternal jadi buat pengarahan lapangan dan runner stage dibalikin ke departemen yang bersangkutan."

Gevano berhenti berjalan. "Kavi, demi Tuhan! Kalau bukan demi nilai A di mata kuliah Statistiknya Pak Agus, bapak lo, supaya gue gak ngulang, gak akan nih gue ikut organisasi kontol kek gini. Udah bener kemaren pake pitch deck gue ... mereka tinggal ngikut kita dan gue jelasin alur technical-nya. Speaker udah ada, peminjaman main hall udah masuk, audiens — anak Teknik udah pasti mau kalo kita bawa-bawa kuliah umum buat skor SKP. Emang anjing Ketum lo, loyo bener cuma ke anak FH juga," ia menghela napas, "eksternal yang FH-nya gimana? Udah atur schedule buat brainstorming?"

Proker tambahan di penghujung periode benar-benar membuat Ge ingin kabur dari kota padi sialan ini. For fuck's sake, he barely eats and do his daily noon-walk karena jadi harus bolak-balik rapat dengan pihak FH yang sangat, sangat lamban dan gak disiplin waktu. Hampir enam jam di kafe cuma untuk berhasil brainstorming selama dua sampai tiga jam karena sisanya nunggu tim mereka lengkap, atau kadang terdistraksi karena anak departemennya memilih untuk mengobrol dengan tim FH di sela-sela mereka menunggu kelengkapan anggota.

Ge gak suka algoritma hidupnya terganggu karena ini. Harusnya kalau kemarin mereka semua memilih pitch deck yang sudah Ge susun, dia bisa bersantai di kos. Soalnya semester 3 ini merupakan semester-santai-di-akhir-tahun yang terakhir. Di tahun depan, praktikum mulai berjumlah lebih dari dua dan dia perlu mulai mempersiapkan magang untuk data Sempro-nya.

Habis sudah waktu Ge untuk bersantai.

"Kak?"

Ge mengerjap. Ia menatap sekeliling. "Oke. Cukup? Gak ada lagi yang nanya?"

Dean mengangguk. "Notulensi seperti biasa nanti gue kirim di grup dan gue upload di Google Drive ya."

"Yang tadi jadi gak?" tanya Ilham. Matanya mengerling. "Ke District? Minum? Abis ini 'kan kita gak ada rapat lagi — ya ada, tapi gak seminggu ampe tiga kali lagi."

Pada akhirnya waktu Ge yang habis itu masih bisa juga untuk bersantai.

Ge bukan pemabuk. Dia jarang minum meskipun berada di departemen eksternal yang bawaan tiap studi bandingnya adalah arak bali. Tapi, bukan berarti dia gak jago minum. Terakhir minum amer-nya Sahabat, dia masih kuat untuk ngerjain tugas setelah menenggak dua botol bersama dua temannya yang lain.

"Jam dua balik ya."

Ilham ngider sana-sini untuk memberitahu hal itu. Beberapa tersebar di dance floor, sisanya di table mereka yang agak tersembunyi. Gak. Sisanya cuma Ge yang duduk sendirian. Ge memilih untuk menikmati cocktail-nya sendirian.

"Ge, gak joget?" Ilham duduk di sofa. Dengan jarak dua seat di seberang. "Jam dua balik ya."

Ge tertawa. "Lo bolak-balik nyamper anak-anak cuma buat ngomong itu ya daritadi?"

"Kedengeran ya?" Ilham ikut tertawa.

"Kedengeran. Tadi Dean 'kan di kamar mandi."

Ilham mengambil botol beer di meja. "Lo introvert banget ya, Ge?"

"Not really. Gue cuma gak kuat sama suaranya. Gendang telinga gue pernah pecah."

"Oh iya? Kayak temen gue, jir!" sahut Ilham, "makanya dia kalo mabok lebih sering ke pub yang live music biasa atau enggak di kontrakan. Tapi, itu karena dia gampang kena juga sih."

"Anak FH mainnya kontrakan juga ya?" Sarkastik.

"Buset. Lo pikir FH semua orang kaya dan classist yang gak mau rantau kalo bukan di apart?"

"Asumsi jelek. Gue cuma nanya doang."

Ilham mendelik. "Tapi iya sih, itu kontrakan juga bukan yang patungan dan ada ibu kosnya. Itu kayak bangunan gitu dan dibeli ama bokapnya temen kita. Jadi, technically itu rumah dia."

"As expected," Ge mengangguk-angguk.

"Itu orang yang sama yang ngalahin pitch deck lo, FYI," ujar Ilham. "Dia sebenernya bukan anggota BEM, dia anak kepanitiaan proker gue. Tapi karena pinter dan dia lagi butuh distraksi jadinya dia bantu gue."

"Kenapa dia gak sekalian ajak ke rapat kita aja?"

"Right after rapat yang decide pitch deck-nya dipake, dia balikan sama mantannya. Aktif organisasi cuma gimmick biar bisa move on."

Ge menyipit. "Nyebelin ya."

"Makanya gue gak enak mulu bawaannya ke lo — LAH, KAL!"

Cowok bernama lengkap Ilham Cetta ini terdistrak dengan keberadaan seseorang. Alih-alih menoleh ke belakang untuk melihat teman Ilham, Ge justru gak ambil pusing dan kembali menyesap cocktail-nya.

Kemudian, hingga proker besar ini selesai, semua berjalan seperti autopilot. Ge gak pernah berkesempatan untuk tau siapa di balik pitch deck sialan yang menguras energinya di sisa semester. Hingga proker selesai, Ge juga gak pernah tau siapa teman Ilham yang menarik Ilham ke dance floor dan berakhir wasted. Semua ini berujung pada Ge yang akhirnya menyetir mobil, juga mengambil alih peran mengantar anak-anak Eksternal pulang satu persatu di sesi minum mereka malam itu.

Gak enak, katanya?

Kejadian yang mengacak-acak algoritma hidup Ge gak cuma ada di semester 3. Semua ini terulang di pertengahan transisi semester 6 dan 7-nya. Dimulai dari semester 6 sebetulnya, ketika ia harus mulai magang di kawasan industri yang jauh dari kos lamanya. Dengan terpaksa ia harus mengambil kos yang lebih dekat, meskipun tetap menghabiskan sepuluh menit perjalanan. Kos sialan yang membuatnya mengalami hampir setengah tahun seperti di neraka dan surga sekaligus.

Tapi, itu bukan cerita utamanya.

Cerita utama ini ada pada hubungannya dengan seorang cowok cishet yang merupakan mahasiswa fakultas hukum. Cowok dengan muka di mana-mana — brand ambassador kampus, fakultas, semua. Cowok yang ia temui di KKN karena satu divisi PDD. Cowok low profile yang pernah viral di Tiktok karena ganteng. Dan, Ge akui. Dia memang ganteng.

Ya… yaudah aja gak sih, Ge? Emang bangsat aja tu cowok.”

Ge menyentuh-nyentuh layarnya yang menampilkan Instagram berisi insta story Alex. “Beneeeeer,” balasnya pada Haikal di panggilan suara ini. “Cowok ngentot emang.”

Haikal ketawa. “Ntar kalo ada ketemuan-ketemuan sama anak KKN gitu lo bakal ikut gak?

“Tergantung.”

Tergantung ape?

Most probably not karena gue udah muak sama orang-orangnya,” Ge diem bentar, “tapi iya sih, tergantung juga bakal ada si jamet indramayu itu apa enggak.”

HAHAHAHAHAHAHAHAH. Udah bisa yeeee manggilnya nyebut pake jamet indramayu. Biasanya gue tuh yang nyebut gitu,” kata Haikal masih dengan sisa-sisa ketawanya. “But I wanna ask you something, deh.”

Go on.”

Do you  — like, udah aware kalo lo suka cowok dari dulu? Dari kecil?

Ge berhenti menggulir layar, alisnya mengerut. “Sebetulnya gue juga masih bingung sih, bahkan, sampe sekarang, Kal. I definitely still love women romantically and sexually, gue masih ngaceng. But when it comes to men that I find attractive, gue bakal suka the tension that I get from him gitu loh. Tapi, itu rare banget.

"Makanya gue berkali-kali ngomong, kayaknya ke Alex pun lebih ke sexual tension aja karena gue satu area kosan dari lama dan pas di posko tiduran satu kasur berdua di ruangan terpisah dari lo semua. Gue pun baru pertama kali bener-bener in relationship sama cowok ya kemaren itu  — walaupun udah bubar,” Ge mengedikkan bahunya walaupun Haikal tidak akan melihat. “Dan, menilik behavior gue dari dulunya, emang kalo kata nyokap, gue terlihat lebih soft dibanding cowok in general.”

I see,” Haikal mengangguk-angguk walaupun tau Ge gak akan bisa lihat. “Maaf ya kalo agak sensitif ... jujur gue baru kali ini temenan sama yang a part of them … so …

Waktu pertama kali Haikal mergokin Ge dan Alex (sumber neraka dan surga Ge) bertengkar di kebun belakang posko, sebenernya Haikal deg-degan banget. Ini apa ya … kok topik berantem mereka janggal banget … kenapa bawa-bawa cemburu …

Waktu itu terhitung 15 hari setelah KKN berjalan, tapi bagi Ge, itu baru hari ke tujuhnya di posko, karena terhambat magang yang baru selesai di tengah bulan. Haikal belum akrab-akrab banget sama Ge, dia cuma tau, di Divisi PDD yang paling getol dan bisa ngedit itu Ge dan dia. Jadi, mau gak mau mereka emang sering brainstorming masalah konsep. Awalnya waktu ngobrolin masalah edit lewat chat, Ge kerasanya sensi dan galak banget sampe Haikal ngira Ge itu cewek, makanya di beberapa hari pertama Ge dateng ke posko, Haikal males ngajak dia ngobrol.

Tapi, setelah ngebaur sama temen kelompok (walaupun gak nyambung sama sekali) dan akhirnya ngobrol secara langsung sama Ge, Haikal justru malah ngerasa nge-blend-nya sama Ge. Meskipun pada saat itu belum ngobrolin hal di luar KKN sama Ge, tapi Haikal udah cukup tenang untuk mikir bahwa, at least dia bakal punya temen ngobrol yang nyambung di sana.

Nah, balik lagi ke kejadian itu.

Menyaksikan perdebatan Alex dan Ge waktu itu bikin Haikal otomatis melotot dan membatu. Ia masih mempertahankan ekspresi tersebut bahkan saat Alex melewatinya dengan wajah yang sangat kaget. Tapi, sepertinya Alex gak se-peduli itu. Mikirnya mungkin Haikal baru dateng. Makanya masih dengan prengat-prengut, Alex jalan lagi tanpa mengindahkan Haikal.

Justru Ge yang lebih panik karena ngeliat air muka Haikal berubah, yang tadinya cuma datar jadi kayak nuntut penjelasan itu tadi apa anjgggggg tapi ogah ngeluarin suara.

Di sisa sore itu, sambil Haikal jemur pakaian (padahal biasanya anak mami ini selalu nge-laundry, bisa-bisanya bertepatan pas dia lagi ngurus cucian malah barengan sama kejadian berantem Ge-Alex  — kadang Ge mikir kayaknya emang pertemanan Ge dan Haikal ini udah direncanain sedemikian rupa sama Tuhan), Ge bercerita dari awal sampe akhir. Tentang gimana Ge dan Alex juga sama-sama baru pertama kali mencoba hal seperti ini, tentang Alex yang gak mau orang sampe tau dan bisa bertindak abusive once Ge bertingkah kemayu di depan orang, dan tentang gimana gimmick Alex ngedeketin cewek-cewek di posko cuma untuk nge-cover sexuality dia.

Ge udah sampe di tahap mikir itu bukan lagi gimmick. Makanya selalu minta ngeudahin hubungan gak jelas ini karena udah terlalu makan hati. Sebab, peak-nya adalah Alex gak mau pacaran tapi nge-keep Ge untuk jangan deket sama siapa-siapa.

“Lo udah sejauh apa?” Rasa penasaran Haikal tuh udah di ujung banget, karena dia masih gak percaya. Tampilan Ge dan Alex itu kayak temen-temen cowok dia pada umumnya aja. Behavior kemayu Ge pun baru Haikal notis setelah mengetahui hal ini, itu pun cuma di beberapa waktu aja. Sisanya ni orang lakik abis, mana tinggi banget ye kan.

Kala itu, menjelang lokakarya kecamatan, pas mereka lagi nunggu pesenan umbul-umbul ke percetakan di kota, Ge refleks mendengus denger pertanyaan Haikal. “Lo serius nanya kayak gitu? Kontol banget dah.”

“Santai anjingggg. Maaf, maaf.”

Lambat laun, dengan berjalannya pertemanan ini, Haikal semakin tau, Alex itu brengsek mentok.

Alex benar-benar definisi cowok sexist yang aslinya gay parah. Dia gak mau maskulinitasnya diragukan, makanya pas punya kesempatan punya branding baru di posko, dia flexing abis-abisan dengan kebisaan dia  — yang mana mas-mas Jawa ini emang serba bisa (itu juga yang bikin Ge naksir) , kayak bantu masang gas, benerin kompor, masang ganjelan pintu kamar mandi, masakin cewek-cewek, nganterin cewek-cewek ke manapun. Bahkan sampe ada satu cewek yang udah deket mampus dan sering dijajanin sama Alex.

They were sexually active back thenMost of the time, Alex yang maksa. Alex manipulated him into thinking that they only sexually attracted as a man towards each otherthat they longing for tensions they rarely got from womenand that there’s no feelings involved. Ge easily fell for itWent months being denial over his feelingsthinking that this feelings might just an attachment.

Tapi, ketika ngobrol sama Haikal, it was different. Dia kayak ditarik keluar dari sumur dan kaget, di luar ternyata cerah banget, gak gelap kayak di dalam sana.

Cerita-cerita itu semua mengalir di tiap pergantian hari dan seiring mereka semakin sering bertelepon, walaupun KKN sudah selesai.

Oh, Ge dan Alex juga selesai tepat setelah lokakarya kampus. Puncak amarah Alex adalah ketika mereka berdua sampai di kamar kos Ge setelah acara lokakarya tersebut.

Ge meminta Alex untuk jangan datang lagi  — ngejelasin baik-baik bahwa dia udah capek berhubungan kayak gini. Tapi, lagi-lagi dengan tangannya yang kian ringan, Alex melempar botol Vit 1 liter yang masih penuh dengan air ke arah kepala Ge hingga cowok itu jatuh terjerembab dan menghantam sudut tembok. Pelipis Ge yang mengalirkan darah segar gak bikin Alex diam.

Untungnya, ketika hampir membabi buta, pintu Ge terbuka tiba-tiba oleh Haikal dan Tasya yang berniat naro benda dekorasi. Ternyata di luar udah ramai orang ngumpul karena dengar teriakan Ge.

Alex beralasan bahwa Ge merebut pacarnya untuk membela diri sendiri. Ge cuma diem.

Setelah itu, Alex pindah kosan, Ge juga. Disusul dengan jadwal di fakultas teknik yang semakin padat, Ge udah gak pernah lihat Alex di mana pun lagi. Cuma ancaman dan verbal harassment lewat iMess aja yang kesisa dari jejak Alex.

"Kal?"

Halus suara dengkuran terdengar dari seberang telepon.

"Anjing ya lo, malah tidur pas gue cerita," Ge bersungut-sungut, "gak lagi-lagi gue angkat telepon lo."

"Hmmhjangan. Nantiguetelponansamasiapa."

Tut.

 

 


 

 

Alex

Woi kontol

Gw awasin gerak-gerik lu

Kalo sampe lu bacot ke orang tentang gw, gw abisin lu

Alex

Ngebawa sial aj lu ngentot hoodie gw diambilin semua

Alex

Udh brp cowok yang lu sepongin abis dari gw?

Alex

Woi bencong skrg ngegay ama haikal lu? Wkwkwkw