Actions

Work Header

Slip Keberuntungan

Summary:

Slip keberuntungan mengatakan waktu berkencan dengan pasangan yang bagus adalah esok hari.

Notes:

Ini adalah kali pertama buat fanfik crossover knb sama genshin. Berhubung hanya aku penumpangnya jadi mari menghalu kapal Midolumi ini :"))). Happy reading.

Notes: Disini Lumine manggil Midorima pake Shin, dimana dari namanya Shintarou.

Work Text:

“Apa gak bosen daritadi liat ponsel mulu?” Takao menatapnya risih liat kelakukan sahabat karibnya itu. Sedari tadi Midorima tidak berhenti menatap layer ponselnya. Berharap segera muncul popup pesan dari kekasihnya.

“Aku lagi gak nungguin apa-apa.” Lagi dan lagi Midorima akan menyangkal bahwa ia sebenarnya menunggu. Entah itu kabar atau ucapan manis dari gadisnya. Takao tertawa mengejek.

“Selalu aja gak ngaku.”

“Ayo cepat latihan Bakao.” Timpal pemuda kacamata itu.

Sebelum keduanya benar-benar masuk ke gymnastic, seorang gadis pirang mengenakan seifuku lebih dulu menyapanya.

"Ah akhirnya bisa melihat Lumi-chan setelah seminggu ini tidak pernah muncul di sekolah.” Takao menyapa balik gadis itu.

Sore itu di gymnastic sekolah, Lumine seperti biasa akan datang untuk menonton atau membantu urusan remeh-temeh dari tim basket sekolahnya. Seminggu itu ia tidak datang karena harus menghadiri lomba karya tulis di Kyoto.

“Kangen denganku Takao?” tanya Lumine menggodanya, alih-alih harusnya ia bertanya pada pria  disebelahnya.

Takao tertawa, senyumnya menyeringai menyikut Midorima. “Bukan aku yang kangen, tapi pria wortel disebelahku.”

Lumine melirik singkat pada si empunya, kemudian ikut menggodanya. “Ah, Shin padahal aku sering loh menghubungimu, dan masih kangen aja?”

“Lumi-chan harus tau, seminggu ini Shin-chan gak ada semangat-semangatnya latihan. Mana pas nembak bolanya malah meleset.” Takao mengadu tingkah laku sahabatnya. Yang dikatakannya fakta karena baik Takao maupun Yuya heran dengan Midorima yang akhir-akhir ini jarang fokus dan beberapa tembakannya meleset.

“Berisik, Takao.”

Midorima menaikkan kacamatanya yang diam ditempat, menyembunyikan fakta ia memang merindukannya. Ketiadaan Lumine seminggu terakhir cukup membuatnya frustasi. Tetapi rasa gengsinya menekan perasaannya.

“Ayo Latihan.” Pemuda berkacamata itu lebih dulu menarik sahabat mata elangnya segara ke lapangan. Bergabung dengan para senior, sebelum Yuya akan melemparkan nanas pada mereka.

“Tunggulah disini.” Lanjut Midorima pada Lumine, memberikan kode duduk saja disana. Gadis pemilik manik madu tersenyum mengangguk.

 

***

 

Latihan hari ini lebih intens dari biasanya karena menjelang turnamen Interhigh. Pantas saja, kilat mata mereka serius, latihan sekeras mungkin mengingat di tahun sebelumnya mereka kalah dengan Seirin. Dari semua itu, Lumine tak berhenti terkesima setiap Midorima melatih kemampuan menembaknya. Meskipun ia tahu bahwa tembakannya tidak akan meleset.

“Lumi-chan, maaf yah harus menunggu lama.” Takao mengampirinya seusai latihan. Para senpai sedang beristirahat, mereka sepertinya abis ini akan langsung pulang. Sementara itu, Midorima sudah lebih dulu selesai mandi dan berganti pakaian.

“Lumine, kamu harus tetep dateng kesini yah. Midorima lebih bersemangat ketika ada kamu menontonnya.” Tutur Miyaji Yuya, kapten tim basket Shutoku yang baru.

Baik Lumine dan Midorima sama-sama tersipu. Takao tertawa terbahak-bahak.

“Pasangan ini, benar-benar lucu.” Batin mereka memperhatikan keduanya sama-sama salah tingkah.

“Ayo kita pulang.” Midorima langsung menarik tangan Lumine. Gadis itu terperanjat segera berpamitan dengan Takao dan sang kapten.

Sejak sepeninggal dari sekolah, belum ada sepatah kata dari mereka keluar. Ah, bukannya ini biasanya? Jika tidak ada obrolan penting, keduanya akan diam. Terlarut dengan pikiran masing-masing atau malah kebingungan mau ngomong apa.

“Lumine.” Pemuda hijau itu yang lebih dulu membuka suara. “Bagaimana dengan lombanya?”

“Sangat baik. Aku memenangkan penulis terbaik dan juara satu.” Balas Lumine tersenyum sumringah.

“Aku turut senang mendengarnya. Kamu pantas mendapatkannya.” Puji Midorima mengelus helaian rambut keemasan Lumine.

“Itu semua berkat Shin yang banyak membantuku dalam riset dan mengoreksi tulisanku.” Ujar Lumine. “Aku sangat terbantu. Meskipun kamu sibuk dengan turnamen basketmu tapi Shin selalu ada untukku.”

“Bukankah sepasang kekasih harus seperti itu? Kau selalu ada untukku, dan aku tidak akan ragu untuk selalu berada disisimu.” Ucapan dari Midorima entah mengapa membuat hati Lumine menghangat. Ia tau pemuda itu tak mudah untuk bisa mengungkapkan isi hatinya. Seringkali terkendala sifat tsunderenya.

“Makasih banyak, Shin.” Balas Lumine.

“My pleasure, Lumine.”

Lagi-lagi keduanya terdiam di keheningan malam. Hanya terdengar lalulalang manusia dan kendaran saling menyapa. Derap langkah Midorima terhenti di sebuah toko kue. Lumine ikut masuk menyaksikan pemuda itu membeli kue dengan topping strawberry. Ia tanpa ragu menduga pemuda itu akan membeli barang untuk keperluan lucky itemnya.

Tanpa Lumine tau, Midorima sendiri memilih kue topping strawberry karena 'sebuah' firasat.

“Apakah oha asa meramalmu harus membeli kue untuk besok?” Tanya Lumine ikut nimbrung pada pemuda itu sepeninggal dari toko kue.

Midorima terkekeh, “Bodoh. Aku membelikan kue untukmu.”

“Hah? Aku? Besok bukan ulang tahunku.”

“Aku ingin merayakan kemenanganmu.” Jawab Midorima. “Tapi bukan berarti aku ingin lebih banyak menghabiskan waktu denganmu.”

Melihat reaksi pria itu, Lumine ingin sedikit mengerjainya. “Ooh kalo begitu aku pulang duluan  yah, dadah Shintarou.” Lumine melangkah pergi meninggalkan Midorima. Sesekali mengerjai kekasihnya itu. Ingin tahu sampai mana ia akan tetap mempertahankan sikap tsunderenya. Langkah Lumine terhenti ketika tangannya ditarik oleh Midorima. Diam-diam ia tersenyum penuh kemenangan, ia sudah menduga pemuda itu akan lebih dulu bertindak sebelum bicara.

“Itung-itung kamu harus membayar jatah tidak ketemu selama seminggu, Lumine.” Tuturnya sambil menaikkan kacamatanya.

“Aku cuma pergi seminggu loh. Tidak seperti Shin yang tiap turnamen pasti ngilang.” Sambat Lumine.

“Tapi saat pertandingan kamu akan menyusulku.”

“Itupun kamu yang minta.” Ledek Lumine memeletkan lidahnya. “Tebak, siapa yang kangen duluan?”

“Kamu.”

“Shin duluan.”

“Kamu.”

“Kok jadi aku? Siapa duluan yang—“

Tiba-tiba sepasang lengan kokoh merengkuhnya dalam pelukan. Tubuh mungil Lumine terasa hangat dalam rengkuhan Midorima. Pelukannya semakin erat, jemari Lumine bertumpu pada dadanya. Kedua manik giok tajamnya bertemu dengan warna madu. Posisi begitu intens bagi keduanya.

“Kamu gak pernah salah Lumine. Aku gila merindukanmu.”

Kali ini ia benar-benar mengungkapkan isi hatinya, perasaan tulusnya tersampaikan pada wanita yang dicintainya. Lumine membalas pelukannya, tersenyum lembut bersembunyi di dadanya.

“Aku juga rindu sama Shin.”

***

“Shin, kamu seriusan mau ke apartemenku dulu?” tanya Lumine ketika jam menunjukkan pukul 10 malam mereka baru sampai didepan gedung apartemen Lumine. “Ini udah malem. Buat perayaan bisa besok kok. Aku bakal masukin kuenya ke kulkas.”

“Kamu gapapa sendirian?” Midorima malah berbalik tanya.

“Aku udah biasa, tau sendiri Ibuku kerja di luar negeri?” jawab Lumine memasang wajah canggung.

“Good for you, hati-hati. Pastiin semuanya terkunci. Jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku.”

Sebelum keduanya terpisah Lumine segera menahannya, teringat ada barang yang ingin ia berikan pada pemuda surai hijau itu. “Oh Shintarou, aku lupa memberikan sesuatu untukmu.”

Midorima menunggu Lumine mengeluarkan barang dari ranselnya. Keluarlah sebuah kartu ucapan sampul warna pink yang dipadukan dengan tali putih membentuk pita kecil.

“Slip keberuntungamu yang aku ambil dari kuil Narukami Agung. Aku belum membukanya. Jadi siapa tau itu akan menjadi keberuntunganmu, Shin.”

“Makasih banyak.” Jawab Midorima menerima hadiah kecil dari Lumine. “Sampai berjumpa besok.”

Lumine melambaikan tangan sebelum berlalu masuk ke gedung apartemennya.

Sambil berjalan ke arah rumahnya, Midorima membuka slip keberuntungan miliknya. Manik emeraldnya membaca seksama. Ia tersenyum tipis, menantikan hari esok akan lebih banyak hal-hal baik datang padanya.

“Besok adalah hari keberuntungan untukmu. Terutama untuk menghabiskan waktu dengan orang yang kamu cintai. Berkencanlah dan berikan kue topping strawberry untuknya.”

 

-fin