Work Text:
Gianna termenung ketika melihat figur kokoh sang suami tengah berjalan santai menuju ke arahnya. Senyumnya sedikit merekah namun dengan cepat berganti dengan wajah datar tanpa emosi ketika netranya menangkap wajah Juan, sang suami, yang kini telah berdiri di hadapannya. Lelaki itu tengah tersenyum sembari memindahkan tas belanja yang Gianna genggam ke genggamannya.
Ah, Gianna merindukan senyum cantik itu.
Tetapi tidak saat pikirannya berlari ke beberapa waktu yang lalu saat Juan meninggalkannya di saat ia tengah kesulitan menahan gejolak nafsu birahinya.
Ia tak sepenuhnya salah, 'kan merajuk pada sang kekasih karena alasan tersebut?
Sebenarnya Gianna tak marah karena merasa ditinggalkan begitu saja, namun karena rasa malu yang membelenggunya hingga membuat wanita tersebut tak mampu berpikir secara rasional. Malu yang berubah menjadi rasa kesal terhadap dirinya sendiri karena dengan mudahnya terbawa arus yang ia ciptakan sendiri. Niat hati ingin menggoda sang suami malah berakhir ia terjebak oleh permainannya sendiri.
Namun rasa kesal tersebut kini sedikit sirna lantaran sebuah usapan lembut yang ia terima di kepalanya dari lelaki yang telah berjanji sehidup dan semati dengannya mampu mengalihkan sedikit rasa kesalnya. Usapannya terasa lembut dan penuh kehati-hatian, terasa seperti Juan karena selama bertahun-tahun Gianna hidup dengan lelaki itu, dua kata tersebut sudah cukup menjelaskan bagaimana sikap Juan kepadanya.
Well, tentu saja kedua kata tersebut tidak cocok disandingkan dengan Juan yang mendadak berubah menjadi singa buas di atas ranjang.
"Kenapa gak bilang kalo mau belanja? Aku bisa temenin kamu, sayang." Nada suaranya lembut, selembut untaian kapas yang menari di sekitar kulitnya ketika ia sedang membersihkan wajahnya.
Dan itu sudah cukup membuat hati Gianna luluh.
Namun, Gianna masih tak merespon kalimat Juan barusan. Ia hanya terdiam di sana tak tentu arah, bingung harus bereaksi seperti apa. Ia hanya menatap Juan di tempatnya berdiri sembari menggigit pipi dalamnya, menimang reaksi seperti apa yang patut ia berikan kepada Juan. Tangannya yang tertutup mantel tebal ia gunakan untuk merapatkan mantel tersebut, kepalanya kemudian menunduk sembari kedua jemarinya memijat buku jari satu sama lain.
"I hate you karena ninggalin aku gitu aja kemarin," Gianna berucap. Nada suaranya pelan namun terdengar jelas di telinga Juan. Ia mendongak lalu kembali menatap Juan yang masih senantiasa menatapnya, yang berbeda hanya wajahnya dihiasi senyum simpul - yang sialnya terlihat manis di mata Gianna - yang biasanya ia gunakan ketika menjahili Gianna. Gianna menghembuskan napasnya lalu melanjutkan kalimatnya, "sumpah aku kesel banget sama kamu waktu kemarin itu. Kamu - gak usah ketawa gitu, aku makin bete tau, Kakak!"
Juan tertawa lepas, tak terlalu keras karena dengan tawanya yang sekarang pun sudah dapat mengundang cubitan singkat di pinggangnya hingga ia mengaduh dan menangkup wajah Gianna yang kini menatapnya dengan raut wajah kesal. "Maaf, sayang. Aku salah karena ikut godain kamu waktu, maaf ya?"
Gianna kembali terdiam, berbeda dengan jantungnya yang seakan ingin meledak karena tingkah manis nan simpel Juan yang selalu dengan mudahnya membuat Gianna bertekuk lutut.
Juan menggenggam pergelangan tangan Gianna menggunakan tangan kirinya yang bebas, ia mendekat untuk membubuhkan sebuah kecupan singkat di bibir Gianna. "Kamu boleh lampiasin nanti di rumah, sayang. I'm all yours tonight tapi sekarang boleh ya kita pulang dulu? Udah malem, dingin tau. Boleh?"
Haduh.
Gianna menahan senyum singkatnya, "Bener ya?"
"Bener. Kapan sih aku bohong? You have my words tapi sekarang, please, pulang ya?"
Gianna mengangguk.
Keduanya sampai di rumah beberapa menit kemudian. Juan sibuk menata barang belanjaan Gianna di meja setelah membantu Gianna duduk di kursi. Lelaki itu selalu memperlakukan Gianna dengan lembut - scratch kata lembut ketika Juan berada di ranjang - bak ia adalah harta berharga yang ia miliki.
Lelaki itu selalu mengerti bagaimana menaklukkan Gianna yang kadang sedikit susah ditebak, susah dipahami, dan kadang membuat Juan kewalahan karena sifatnya yang moody. Namun, setelah heart-to-heart panjang yang terjadi di meja makan tersebut, keduanya kembali seperti biasa.
Gianna yang sibuk berceloteh dan Juan yang sibuk mendengarkan sembari memberikan respon singkat.
"You know what.." Gianna menjeda kalimatnya, matanya menelisik ke arah Juan yang kini sedang mencuci piring di wastafel. "You have such a beautiful bum, Kak."
Gerakan tangan Juan terhenti di udara ketika mendengar kalimat tersebut. Ia tak menoleh, hanya terdiam di tempatnya sembari membiarkan air terus mengalir dari keran di hadapannya. Tubuhnya sedikit membungkuk lantaran selain fakta bahwa Tuhan telah memberkati ia dengan tubuh tinggi semampai dan bahu yang tegap dan lebar, ditambah fakta bahwa Gianna menyukai bagian tubuh yang ia sebutkan secara spesifik, Juan merasa bersyukur.
Ah, pembahasan ini lagi.
"Apalagi waktu kamu pake celana panjang kain gini," Gianna berkata dari tempatnya duduk. Kedua sikunya bertumpu di atas meja sembari menumpukan rahangnya di atas kedua telapak tangan yang membentuk kepalan di tiap sisinya.
Ia menampilkan senyuman terbaiknya, disambut kerlingan nakal yang terpancar dari mata cantiknya- yang meskipun Juan tak mampu melihat secara langsung, ia yakin seratus persen bahwa mata Gianna terlihat begitu memukau. Rambut silver nya menari mendayu-dayu menghiasi wajah cantiknya, ia selipkan ujung yang memanjang di dekat matanya di belakang telinganya sehingga wajahnya yang putih bersih seakan semakin bercahaya di bawah kilauan lampu dapur yang tak terlalu menyilaukan mata. Rambut silvernya beradu tak kalah eloknya dengan crop tee berwarna putih yang baru saja ia beli beberapa hari yang lalu, rok pendek berwarna hitam yang tersampir di pinggang rampingnya semakin menyempurnakan outfit nya hari ini.
Sedangkan Juan, yang kini mulai melanjutkan mencuci piring kotor bekas makan malam mereka yang sempat tertunda karena kalimat Gianna barusan, hanya mengenakan celana panjang kain yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Kemeja berwarna hitam yang kedua sisinya ia lipat dengan rapi bertengger dengan begitu indahnya di kedua lengannya. Rambut hitam yang kini ia potong pendek mempertontonkan feature wajahnya yang kian membuat sepasang mata yang melihatnya akan terpesona. Kedua lengan kekarnya yang sibuk bergelut dengan minyak dan sabun pencuci piring yang menyita hampir segala atensinya terlihat begitu menggiurkan dari sudut pandang Gianna saat ini. Terlebih, katakan Gianna seorang pervert yang senantiasa ogling her prey - well, this is another matter-of-fact - from where she sat down, tubuh bagian belakang Juan yang seakan 'bergoyang' menarik perhatian Gianna.
Hey, bukan salah Gianna jika ia salah fokus menatap pantat Juan yang begitu menggiurkan dari balik celana kain yang ia kenakan.
Toh, ia juga beberapa kali membicarakan betapa gemasnya Gianna terhadap bagian tubuh Juan tersebut.
Rasanya Gianna ingin melarikan tangannya di sana, merasakan kelembutan hingga kenyalnya bagian tubuh yang kadang membuat Juan sedikit insecure tersebut. Barangkali membenamkan wajahnya di sana karena Gianna ingin menikmati tiap detik yang berharga untuk menghabisi pantat Juan yang begitu menggoda tersebut. Juan pasti terlihat begitu tampan dan mempesona - Gianna ingin menambahkan semua sinonim untuk menggambarkan keindahan tersebut jika bisa - ketika pakaian sialan itu tak lagi membalut tubuhnya. Sialan, membayangkannya saja membuat Gianna sedikit basah.
Ia merapatkan kakinya ketika bayang-bayang Juan tanpa busana tengah berbaring dengan erotis di bawahnya secara perlahan mengundang sisi binatang dari dalam dirinya. Bagian bawahnya berkedut ketika bayang-bayang tersebut seakan terasa semakin nyata, meskipun ia dapat menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri Juan masih berdiri di hadapannya. Ia hanya terpaut satu meja makan dan sebuah preparation table.
"Kak," Gianna memanggil dengan pelan, kakinya masih senantiasa disilangkan dengan rapat berharap gelombang nafsu sialan tersebut tak lagi membelenggunya. "Masih lama nyucinya?"
Juan terkekeh, "Sabar dong. Tinggal cuci tangan aja ini."
Tepat ketika ia selesai mengatakan hal tersebut, beberapa menit setelahnya Juan kembali menghampiri Gianna yang duduk di kursi - masih senantiasa di tempat sebelumnya mereka menghabiskan dinner bersama. Kedua tangannya yang basah ia keringkan dengan menggunakan lap kain yang tersedia di sebelah meja sebelum ia kembali mengambil hand sanitizer yang ia sediakan di tas yang ia letakkan di kursi di sebelah Gianna.
Juan duduk di tempatnya semula, bersebelahan dengan Gianna yang kini wajahnya sedikit memerah - entahlah Jungsu tak begitu mengerti kenapa ia tiba-tiba merasa demikian. Ia sibuk membalurkan hand sanitizer ke kedua tangannya, mengusapnya hingga memastikan seluruh bagian tangannya ter-cover cairan tersebut.
Gianna menyandarkan tubuhnya di meja, tangannya ia gunakan untuk menyangga sisi wajahnya di atas meja. Mata cantiknya tak mampu mengalihkan pandangan dari Juan yang kini sibuk dengan kegiatannya di sebelahnya. "Kak, kamu mau aku pegging nggak?"
Tangan Juan kembali berhenti mengoleskan hand sanitizer tersebut, ia menoleh dengan gerakan perlahan seakan takut salah mendengar kalimat yang Gianna ucapkan barusan. Alisnya terangkat ketika wajah mereka kembali bertatapan, "You.. What?"
Jantung Juan rasanya mau copot.
Juan bingung harus mereaksi seperti apa karena agenda ini tampaknya akan selalu Gianna sampaikan padanya. Ia terlihat sangat bersemangat ketika membahas bahasan ini. Bukannya Juan tak menyukai, ia hanya tak biasa dengan kegiatan tersebut. Gianna memang hampir selalu menjadi pihak dominan saat mereka sedang memadu kasih, ia selalu berada di pihak atas sembari menggerakkan tubuhnya ke atas bawah - riding Juan however she likes. Juan tentu saja tak masalah karena Gianna akan memberikan reward kepadanya tiap kali Juan dapat menjadi Gianna's obedient big boy.
Juan menghela napasnya ketika melihat mata Gianna tak pernah kehilangan spark tiap kali ia membicarakan hal ini.
Terlebih ketika ia samar-samar melihat bagaimana wajah Gianna semakin memerah ketika Juan menatapnya lekat-lekat.
Ah, Juan mengerti.
Maka dari itu, Juan membereskan dan memasukkan asal barang-barangnya ke dalam tasnya dengan asal. Setelah selesai, ia menarik kursi yang Gianna duduki dengan kedua tangannya, secara tidak langsung memaksa netra Gianna bertatapan dengan miliknya dan juga membuat Gianna mau tidak mau merubah posisi duduknya.
Gianna duduk sedikit menyamping, menyandarkan satu sisi tubuhnya di kursi kayu tersebut sembari menatap Juan. Sedangkan yang lebih besar sedikit menggeser posisi duduknya hingga kini keduanya tengah menatap satu sama lain dengan tatapan yang hanya mereka sendiri pahami apa artinya.
"Kenapa tiba-tiba kepikiran gitu?" Juan mencondongkan wajahnya ke arah Gianna, tatapan teduhnya tak pernah lepas memenjarai Gianna dari jarak yang kian membuat Gianna susah bernapas.
Gianna kembali merasakannya.
Terlebih ketika ia mendengar suara rendah Juan terdengar sangat renyah di telinganya, tatapan teduhnya yang membuat Gianna mati kutu, lalu ditambah tangan Juan yang senantiasa berada di tiap sisi kursi miliknya - tak memberikan Gianna kesempatan untuk bergerak.
Sialan, Juan selalu mengerti bagaimana membuat Gianna merasa kecil di hadapannya.
Gianna menyukainya.
Menyukai bagaimana dirinya merasa kecil di bawah kungkungan Juan.
Gianna memberanikan diri, menatap Juan dengan api yang semakin berkobar di matanya. Ia tersenyum licik, mendekatkan wajahnya hingga kini wajah keduanya dapat merasakan sensasi hangat menjalar ke tiap jejak kulit tiap kali mereka menghembuskan napasnya. "Emang kenapa?"
"Gak mau?" Ia kembali melanjutkan. Tangan Gianna merambat dengan gerakan perlahan di paha Juan, jari telunjuknya bergerak dengan gerakan melingkar sembari matanya berusaha mempertahankan tatapan yang Gianna mengerti betul akan menggoyahkan Juan dalam beberapa waktu ke depan. "I'll fuck you real good, Kakak."
"You're always on top every time we fuck, doesn't that mean, you're always fucking me, sayang?"
"That's right," Gianna berucap dengan kerlingan mata yang Juan kenal betul apa maksud tersiratnya, diikuti dengan jemari telunjuk yang kini bermain dengan bebas di sekitar selangkangan Juan. "Aku yang kontolin Kakak, 'kan? Tapi kali ini I want to feel you, Kakak. Bukan cuma naikin Kakak kaya biasanya. Mau liat wajah tolol kamu waktu keenakan dipegging."
Juan terkekeh, semakin mendekatkan wajahnya sebagai bentuk tantangan. Senyum miring terbit di bibirnya tatkala melihat Gianna membasahi bibir bawahnya, ia dapat merasakan telapak tangan Gianna semakin berani bermain bahkan memijat penisnya yang masih tertidur. "Oh iya?"
Juan membuka kakinya semakin lebar, membiarkan tangan Gianna bergerak bebas di tubuhnya. Memijat penisnya dengan gerakan asal dan tidak terburu-buru seakan berusaha membuat Juan merasa gila dan menginginkan lebih melalui gerakan yang terlampau pelan ini. Selalu begini, Gianna yang akan memegang kendali penuh tiap kali mereka memadu kasih. Juan tak ambil pusing, toh, ia juga merasa nyaman menyerahkan dirinya dan membiarkan Gianna memegang kendali atas dirinya sendiri.
Juan menyukainya.
Terlampau menyukainya hingga kini rasanya ia ingin segera berbaring di ranjang dan menikmati bagaimana hangat tubuh Gianna menyelimuti penisnya yang kini mulai sedikit bangun. Pemandangan cabul tersebut terus terngiang di kepalanya. Bagaimana tubuh molek Gianna bergerak dengan bebas saat mengejar duniawinya, bagaimana hangat lubang Gianna senantiasa menunggu untuk menghancurkan Juan.
Gianna tersenyum miring, tangannya merasakan kejantanan Juan yang mulai bereaksi di bawah rangsangannya.
"Lemah, baru disentuh kontolnya udah ngaceng duluan," Gianna mencemooh, tak lagi meremas kejantanan Juan di balik celana kain yang kini terasa sesak. "Mau banget ya dikontolin sekarang?"
Juan menggeram rendah ketika Gianna menepuk pahanya dengan sedikit keras, lalu dengan sengaja menggesekkan celana kainnya - dengan gerakan seperti tengah mencuci baju - menggunakan telapak tangannya. Kedua tangannya yang bebas beralih mencengkeram ujung kursi kayu yang ia duduki, kakinya tanpa sadar semakin terbuka lebar hingga tubuhnya sedikit melorot di atas kursi. Juan benar-benar merasa lemah, lemah karena gerakan santai ini dengan mudahnya membuat Juan merasa terangsang. Sedangkan Gianna nampak tak menunjukkan respon apapun, terlampau santai memberikan hand job asal pada Juan.
"Buka kakinya yang lebar, Kak." Gianna menurunkan resleting celana kain Jungsu, ia terdiam sejenak ketika mengamati celana dalam yang Juan kenakan terlihat begitu menggembung di baliknya. "Kalo Kakak bisa tahan gak keluar sampe aku puas mainin Kakak, then I'll stop asking."
Juan ingin mendecih mendengarnya.
Bertahun-tahun dengan Gianna, ia mengerti betul bahwa istrinya tersebut takkan pernah berhenti menggodanya.
Gianna menggigit bibir bawahnya, bagian bawahnya berkedut ketika melihat wajah Juan yang sedikit tersiksa di atas kursi. Ditambah pemandangan tak senonoh dimana ia dengan leluasa mengamati penis Juan yang nampak tegang dari balik celana dalam semakin membuatnya merapatkan kakinya, berusaha menutupi dirinya sendiri yang semakin basah.
Bagian bawahnya semakin berkedut dan gatal karena melihat bagaimana berantakannya Juan di bawah kuasanya. Bagaimana lenguhan tertahan yang disertai geraman itu mampu membuat Gianna bergidik. Ditambah lagi dengan wajah Juan yang mati-matian menahan gelombang duniawi tersebut semakin membuat Gianna mendamba rayuan tangan Juan untuk menggaruk miliknya yang semakin gatal.
Ah, hasratnya semakin menggebu-gebu melihat Juan susah payah menahan desahannya karena dominasinya.
Gianna melupakan sejenak tentang dirinya sendiri, ia bangkit dari kursinya sebelum mendudukkan dirinya di pangkuan Juan. Kedua tangannya tepat berada di atas tangan Juan yang meremat pegangan kursi kayu tersebut sebagai bentuk emotional support yang Gianna tau semua hanyalah sia-sia.
Sia-sia karena ketika Gianna dengan sengaja menggesekkan miliknya yang mulai basah di atas penis Juan, Juan hanya dapat menutup matanya. Membiarkan rangsangan tak manusiawi itu menerpa dirinya.
"Tapi kalo gak bisa…" Kedua kakinya menggantung di sisi tubuh Juan, tangan Gianna memenjarai tangan Juan yang ingin menyentuh pinggangnya. "No touching, Kakak. Kamu cuma boleh duduk sambil rasain dikontolin sama memek aku, okay? If you touch me, atau kamu bucat duluan tanpa persetujuan aku then I'll take it as a yes kalo kamu mau aku pegging."
Bajingan.
Juan bisa gila.
Wanita di atasnya ini benar-benar gila.
Gianna tak memberi Juan banyak waktu untuk merespon karena selanjutnya yang terjadi adalah Gianna melingkarkan kedua tangannya di leher Juan, sedangkan pinggulnya bergerak naik dan turun secara perlahan sembari menggesekkan miliknya yang masih terbalut kain dengan penis Juan yang kini meronta untuk dibebaskan.
Keduanya berusaha menahan suara cabul yang muncul tiap kali bagian bawah tubuh mereka saling bergesekkan. Juan semakin erat memegang pegangan kursi hingga buku tangannya memutih, kepalanya kini tersampir dengan indahnya di kepala kursi tempat ia duduk. Matanya tertutup ketika ia merasakan celana dalam Gianna terasa semakin lembap bergesekkan dengan miliknya yang keadaannya juga tak jauh berbeda.
Ia ingin menggerakan pinggulnya searah dengan pergerakan Gianna namun ia tak mampu menampik ataupun melawan kalimat Gianna barusan. Bukan karena ia takut Gianna merealisasikan keinginannya tersebut, toh ia yakin Gianna pasti akan menemukan seribu cara untuk membuat mimpi basahnya menyetubuhi Juan lewat anal akan menjadi kenyataan. Ia hanya takut gadis itu akan melakukan hal gila lain yang membuat Juan semakin kewalahan.
Gadis itu sukar ditebak.
Dan Juan terlampau lelah bermain game dengannya.
"Kakak.." Panggilnya setengah mendesah, tepat di telinga Juan karena gadis itu membenamkan wajahnya di ceruk leher Juan sembari terus menggerakkan tubuh bagian bawahnya.
Sialan.
Juan merasa semakin sesak di bawah sana.
Miliknya yang kini memaksa untuk dibebaskan beradu dengan kehangatan Gianna yang semakin membasahi celananya. Gianna tak punya pilihan apapun selain menggeram, terkadang bibir bawahnya terbuka ketika ia kesulitan menahan desahan yang keluar dengan begitu mudahnya.
"Sayang, buka - "
"No." Gianna berhenti bergerak, ia menarik wajahnya menjauh dari ceruk leher Juan kemudian melarikan tangannya untuk bergerak dengan kecepatan lambat namun cukup untuk membuat Juan semakin gila karena gadis itu bermain-main dengan dadanya. "You don't get to command me, Kakak. That's the rules, lupa ya? Perlu aku ingetin siapa yang punya kendali sama tubuh kamu, Kak?"
"Maaf.." Cicitnya begitu Gianna mulai kehilangan minat melanjutkan gerakannya.
Dalam posisi sialan ini, kepala penis Juandapat langsung merasakan bagaimana tersiksanya miliknya ketika tak mampu melesak masuk ke dalam Gianna. Semua karena pakaian sialan yang Juan dan Gianna kenakan. Padahal Juan bersumpah, ia dapat merasakan bagaimana kehangatan Gianna berkedut ketika kepala penisnya bergesekkan dengan labianya yang masih tertutup kain ataupun saat klitorisnya bergesekkan langsung dengan celana dalam Juan yang juga secara tidak langsung menyentuh ujung kepala penis Juan.
Juan semakin gila.
Ia ingin segera dibebaskan, membenamkan miliknya seutuhnya di dalam Gianna meskipun itu berarti ia harus siap menerima hukuman yang berada di luar kuasanya.
"Kakak, palkon kamu dari tadi nusuk-nusuk memek aku tau gak?" Gianna dengan kurang ajarnya mengangkat rok hitam yang ia kenakan ke atas, mempertontonkan celana dalam putih berendanya yang telah basah akan cairannya sendiri. "Liat, Kak, jadi basah gini."
"Gak ada yang bisa kucekin memek lonte kamu makanya kamu grinding gini ya?" Juan tersenyum miring, ia menatap tubuh kekasihnya yang duduk dengan begitu santai di pangkuannya. "Kasian, dari tadi cuma bisa cengap-cengap gitu."
"Such a brat." Sebuah tamparan Gianna berikan di pipi Juan, membuat sang kekasih berjengit kaget karena gerakannya terlalu tiba-tiba. Namun, keduanya malah tertawa.
"You'll still love me anyway," Juan menjawab dengan nada jahil, lalu dengan sengaja menghentakkan pinggulnya hingga kepala penisnya kembali menyentuh milik Gianna yang terlampau sensitif, yang mana secara tidak langsung membuat Gianna melenguh.
Mulutnya terbuka dan matanya tertutup ketika Juan kembali menggodanya dengan menghentakkan pinggulnya beberapa kali, kedua tangannya menyangga tubuhnya di dada Juan agar tak rebah.
Gianna bersenandung singkat, ia menutup matanya ketika lagi dan lagi Jungsu menghentakkan pinggulnya. "Kakak, I'm curious about something. Kalo aku mainin pentil Kakak kaya gini.."
"Ah!"
Juan berhenti menggoda sang kekasih ketika putingnya dicubit secara tiba-tiba hingga membuat tubuhnya berjengit di atas kursi. Sebuah lenguhan meluncur bebas dari mulutnya ketika gadis di hadapannya kembali bermain dengan putingnya yang masih tertutup pakaian.
"…Kakak bisa.." Gianna memilin puting Juan menggunakan dua jemarinya, tak mengindahkan napas putus-putus yang Juan keluarkan. Ia membasahi bibir bawahnya ketika melihat Juan berusaha mati-matian menerima permainan gilanya. "..bucat, nggak? I want to see you cum untouched.”
Gianna menemukan mainan barunya.
Ia tersenyum, tertawa kecil di hadapan Juan yang semakin sakau. Ia memilin, mencubit, hingga menekan puting Juan dengan gerakan asal. Juan merasa geli, terlebih ketika rasa geli tersebut seakan mengirimkan sensasi yang sama ke bagian tubuh bawahnya.
Gianna sialan.
Juan benar-benar tak tahan.
Namun ia tak ingin membuat sang kekasih menjadi jumawa.
Ia menahan hasratnya untuk berdiri dan menyetubuhi Gianna di atas meja dapur, menghentakkan pinggulnya dengan kekuatan penuh hingga yang dapat Gianna lakukan hanyalah melenguh dan akhirnya ia dapat menyemburkan spermanya di dalam Gianna.
But a game's still a game.
Jika ia menuruti kata hatinya tersebut, Gianna akan semakin menggodanya di kemudian hari. Tentu dengan level yang semakin membuat Juan sinting.
"In your wildest dream, sayang." Juan menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan desahan yang bercampur dengan lelehan saliva dari bibirnya yang kian tak menentu melolongkan desahan.
"Oh ya?" Gianna memberanikan diri mendekat ke arah Juan, ia menjilat ceruk leher Juan dengan gerakan sangat pelan. Kedua tangannya dengan manis bertengger di ujung rambut Juan, menjambaknya hingga Juan mau tidak mau mengikuti pergerakan tangan Gianna. "Place your bets, Kak. Kalo Kakak bisa bucat untouched, Kakak harus turutin kemauanku. And vice versa, I'll do yours if you hold it for as long as humanely possible."
"Deal." Sudut bibir Juan terangkat sebelah, ia menatap Gianna dengan tatapan menantang yang sebelumnya sempat hilang. "Can I touch you, Baby?"
"Huum."
Juan menerimanya.
Sebuah sinyal yang membebaskan tangannya yang sedikit kebas karena harus memegang kursi kayu sialan tersebut. Juan terlampau patuh, bak anjing yang selalu patuh terhadap Tuannya, dan Gianna menyukai kepatuhan Juan.
Cukup dengan deheman singkat tersebut, Juan melarikan tangannya di pinggang ramping Gianna. Kedua tangannya menyapu permukaan kulit yang masih terbalut kain tersebut dengan gerakan pelan. Secara perlahan naik mengusap punggung Gianna dimana Juan dapat merasakan sensasi tangannya menyapu tali bra yang Gianna kenakan.
Juan menarik tubuh Gianna mendekat, ia kehausan. Ia kepanasan. Ia ingin lebih.
Maka dari itu, ia berusaha mencari titik sensitif dari wanita mungil tersebut.
"Kakak boleh kucekin kamu gak, sayang?"
Sekali lagi, Juan bertanya dengan lembut. Meminta ijin karena itu lah hal yang paling Gianna sukai darinya.
Gianna tak menjawab, tak mampu menjawab karena lidahnya sibuk bermain dengan ceruk leher Juan. Gadis itu menjilatnya dengan lembut, diiringi kecupan basah yang seakan menyegel seluruh kewarasan Juan. Juan dapat merasakan gadis itu mengangguk sembari mengarahkan tangan Juan ke bawah, tepat di depan kehangatannya yang kini meraung-raung meminta untuk diisi.
Juan mengerti.
Sebuah gesture kecil milik Gianna yang sudah ia kenali betul makna tersiratnya.
"Thanks, Baby."
Ibu jari Juan mengusap klitoris Gianna dari balik kain, menyebabkan tubuh sang gadis menegang di tempatnya dan diikuti sebuah lenguhan tertahan. "You know what to do, Kakak."
Juan kembali mengusapkan ibu jarinya di tempat yang sama, dengan gerakan pelan dan mengambang karena ia ingin membuat Gianna merasakan bagaimana sakaunya ia saat dikerjai di tengah-tengah gelombang nafsu yang semakin meningkat.
Jemari panjang Juan kembali menyapu klitoris Gianna di balik celana dalam, tangan kirinya ia gunakan untuk menahan tubuh sang kekasih yang melengkung tiap kali jemari Juan bermain di sana. Juan menggunakan kesempatan tersebut untuk menyingkirkan lipatan celana dalam yang membuatnya gemas tersebut ke satu sisi lalu dengan cepat menyambut klitoris Gianna menggunakan jemarinya, mengusapnya dengan gerakan yang terlampau lihai hingga membuat Gianna semakin menempelkan tubuhnya ke tubuh Juan. Kedua dadanya yang bergerak naik dan turun karena pasokan udara yang secara tiba-tiba menipis membuat atensi Juan sedikit teralihkan. Juan melarikan tangannya untuk melepas kaitan bra dengan satu tangannya, sedangkan tangannya yang lain menarik keluar bra tersebut sehingga puting Gianna yang mencuat kini tercetak jelas di kaus ketat yang ia gunakan. Dua gundukan yang putingnya kini mulai menegang membuat Juan melarikan tangannya untuk bermain di sana, menggunakan cara yang sama seperti yang gadis itu lakukan sebelumnya - memilin, mencubit dan menggesekkan jemarinya di puting tersebut. Kedua tangannya sibuk memanjakan si cantik yang kini sedikit teler hanya karena dua titik sensitifnya dikerjai habis-habisan oleh Juan.
"Mnhh.." Gianna menekuk jari-jari kakinya saat tangan itu dengan kurang ajarnya mencubit dan menggesekkan klitorisnya dengan gerakan sedikit kasar.
Tubuh Gianna menggelinjang, bergetar ketika jemari Juan mengoyak dan mempersiapkan kehangatannya dengan gerakan cepat. Dua jemarinya berhasil memasuki Gianna, mengoyaknya dengan gerakan telaten namun santai. Gianna menarik rambut Jungsu dengan lebih kuat, "Hey, you crossed the line. Kakak tadi mintanya apa?"
Juan menatapnya, "What? Tadi katanya Kakak - ah, sakit, sayang."
Juan merintih kesakitan ketika Gianna menjambak rambutnya, menariknya hingga kepalanya hampir terantuk kursi. Berbeda dengan dirinya yang kesakitan, Gianna sedikit terbawa arus ketika Juan masih aktif menggerakkan jemarinya di bawah sana. Pinggulnya bergerak berusaha mengikuti gerakan Juan, sama sekali tak mengindahkan Juan yang kesakitan.
Terlebih ketika jemari bajingan itu dengan mudahnya menemukan sensitive spotnya, tubuhnya sedikit terlonjak kaget.
"Udah teler aja, sayang. Mana katanya tadi mau pegging Kakak? Baru fingering gini aja memek kamu udah kelonjotan, gimana mau - "
"Can you shut the fuck up."
"Whoops.”
Sebuah tamparan, kali ini cukup keras, Juan terima dari Gianna. Tampaknya gadis itu mulai merasa kesal karena Juan terus menggodanya dengan kalimat jahil yang kini mulai berefek padanya. Jemari panjang nan lentik itu tak lagi menjambak Juan, namun mencengkeram dagu Juan dengan kuat - yang kalau boleh Juan bilang tak terlalu berefek padanya, hey, Juan bisa saja membebaskan dirinya dan mengembalikan posisi mereka dengan mudah. Hanya saja ia terlampau menyukai melihat bagaimana kilat amarah bercampur nafsu mewarnai wajah cantik Gianna.
Ah, gadisnya selalu terlihat cantik jika sedang berada di posisi ini.
Juan tak tahan untuk tak menggodanya.
Gianna menatapnya sengit, tak memperdulikan gerakan tangan Juan melambat di bawah sana. "Banyak omong, aku pastiin mulut lemes Kakak nanti bakalan makin lemes waktu sepongin kontol aku. Sekarang lepas tangannya,"
"Kontol? You gotta be joking," Juan mencemooh, "Strap-on dick, sayang." Juan mengendikkan bahunya dengan acuh, senyum singkat menggantung di wajahnya ketika memberikan godaan terakhir di bawah sana.
"Stop getting on my nerves, Kak." Gianna menatapnya marah, ia dengan sengaja menahan tangan Juan yang kembali ke tempat semula. Ia menuntun tangan yang sebelumnya berada di bawah sana ke mulut Juan, memaksa sang kekasih untuk menjilat jemarinya sendiri - serta merasakan Gianna. "Jilat, Kak. Ini yang kamu mau, 'kan?"
Alisnya terangkat sebelah, kakinya ia gunakan untuk membantunya membenarkan posisi duduk yang sedikit lama semakin membuatnya kebas. Jemarinya tepat berada di depan mulutnya, beradu dengan saliva yang menetes dari ujung bibirnya. Ia dapat mencium bau familiar khas Gianna yang ia sering hindu tiap kali Juan menyantap sang kekasih. Juan menurut, membuka mulutnya sembari mempertahankan kontak mata dengan Gianna yang wajahnya semakin menggelap.
Ia menjilat jari telunjuknya sekilas, "Udah, sayang."
Gianna mengernyit, alisnya tertaut dengan rentetan emosi yang membuat adrenalin Juan semakin meningkat. "Jilat yang bener, Kakak. It's for your own amusement."
"For what scientific and amusement purpose of mine I have to lick over my fingers, baby?"
"At least you should know how to finger yourself using your own fingers, Kakak."
What the hell?
Juan tertegun, kedua matanya berkedip beberapa kali sembari mencoba memproses semua informasi yang ia terima.
Gianna menegakkan dirinya, "A Brat kaya kamu doesn't deserve to be treated and highly praised by me. Let me remind you once again who's your master, Kakak."
Gianna bangkit berdiri dari tempatnya semula, tanpa banyak kata ia mengambil sesuatu dari tasnya. Ia mengobrak abrik sesuatu sebelum akhirnya sebuah kotak panjang berisi beberapa benda Gianna berikan ke arah Juan dengan gerakan sedikit kasar.
"Forget about the bets and whatnot. You only have an hour to prepare yourself, Kak. Bersih-bersih yang bener sana." Juan dapat mendengar dengan jelas nada jutek di kalimat Gianna.
Alisnya terangkat ketika melihat dan memegang douching kit tersebut di hadapannya. "Tapi, sayang, Kakak gak tau caranya.."
"Get over your shit by yourself. Aku tunggu di kamar."
Juan menelan ludahnya, tampaknya ia telah membangunkan singa yang tertidur.
Satu jam berlalu namun Juan masih berada di kamar mandi.
Berpuluh-puluh menit kemudian ia masih belum menginjakkan kakinya di luar kamar mandi.
Gianna terlampau kesal dibiarkan menunggu terlalu lama di kamar keduanya. Dirinya sudah mempersiapkan dirinya dengan sebaik mungkin, ia bahkan menaruh beberapa mainan yang akan menjadi kesukaan Juan di kasur - ia bermaksud membiarkan Juan memilih mainannya sendiri namun hey, it's been almost two hours since the last time Gianna saw him dan Juan belum juga keluar dari kamar mandi.
Gianna bangkit dari kasur, bermaksud mengetok pintu kamar mandi namun tangannya berhenti di udara ketika pintu kamar mandi tersebut terbuka dan menampilkan suaminya dengan wajah yang memerah. Juan menahan napasnya ketika melihat Gianna berdiri di depan pintu kamar mandi, tangannya terangkat dan Juan tak mampu untuk tak berpikir bahwa Gianna akan memukulnya karena ia menghabiskan waktu terlalu lama di kamar mandi.
Namun yang terjadi hanya keheningan.
Gadis itu hanya berdiri di sana, tangannya masih terangkat di udara. Ia menatap Juan yang half naked di depannya, ia menaikkan satu alisnya. "Kok masih pake celana?"
Juan buru-buru menjelaskan ketika mendengar respon Gianna yang sedikit kesal -toh sebetulnya ia sudah menduga Gianna akan bereaksi seperti ini. "Maaf.. I don't know what am I doing di dalem sana. I swear, udah coba pelajarin but - "
Giann melunak, ia tak percaya Juan akan benar-benar berusaha untuk menyenangkannya. Meskipun melalui permintaan gila seperti ini, Juan masih berusaha memberikan yang terbaik. Rasa kesalnya mendadak sirna, tak sepenuhnya hilang memang, namun melihat wajah linglung Juan yang mirip seperti anak anjing yang ketakutan di bawah hujan secara tidak sadar membuat Gianna tersenyum.
Gianna terkekeh, secara tidak langsung membuat Juan terdiam. "Lucu banget sih, Kak. You've been such a good big boy to me."
"I thought you're mad at me."
"Indeed I am, but that was a long time ago. I mean, you could've asked me about that or maybe I could've helped you." Gianna berjalan mendekat, merengkuh tubuh sang suami ke dalam pelukannya. Dagunya ia sandarkan di bahu Juan, lalu dengan sengaja menggoyangkan tubuh Juan bak ia sedang menggoyangkan sebuah boneka. "But that's okay, thanks for being such an obedient big boy for me.”
Juan tersenyum mendengar nada Gianna yang terdengar bersahabat di telinganya, terlebih ketika gadis itu menekankan kata 'big boy' yang terdengar begitu memanjakan telinganya. Kata tersebut terdengar simpel namun mampu membuat Juan terbang karena menyadari bahwa gadis itu sengaja berkata demikian.
Gianna mendongak kemudian berjalan menuju kasur dan duduk di sana, ia masih mengenakan pakaian yang sama namun yang berbeda kali ini ia tak lagi mengenakan dalaman jadi ketika ia duduk di kasur, Juan langsung dihadapkan oleh pemandangan favorite nya.
Gadis tersebut terkekeh, ia mendapati mata Juan tak pernah lepas dari tubuh bagian bawahnya. "Suka, Kak?"
"Suka," Juan menjawab bak ia sedang terhipnotis.
Melalui pemandangan tersebut, Juan dapat merasakan bagaimana tubuh bagian bawahnya bereaksi - Mind you, Juan jerked him off right after he slammed the bathroom door. Juan berjalan mendekat hingga ia akhirnya berada tepat di hadapan Gianna yang sedang duduk. Wajah Gianna tepat berada di depan selangkangannya sehingga Juan mau tak mau membayangkan bagaimana wajah cantik Gianna dipenuhi oleh sperma miliknya ketika lelaki itu akhirnya bucat.
Itu adalah pemandangan favorite Juan, by the way.
Juan menangkup wajah Gianna, "Daleman kamu kemana, sayang? Pentil kamu itu juga jadinya ngecap di baju."
"Did you just jerk off, Kak?" Gianna mengalihkan pembicaraan ketika maniknya tak sengaja menatap milik Juan yang mulai bangun kembali. Alisnya menukik ketika menyadari ada noda sisa di celana Juan, terlebih ketika tangannya menyusuri jejak kain tersebut, ia dapat merasakan kain tersebut basah di beberapa titik.
Juan menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan geraman rendahnya karena jari-jari lentik Gianna yang terus mengerjai dirinya di bawah sana. Terkadang ia akan menekan penisnya dengan kuat lalu mengusapnya dengan gerakan singkat hampir melayang yang nyaris membuatnya merasa gila karena gadis itu benar-benar memojokkannya. Tangan lentik itu kembali menyusuri paha dalamnya, menyentuhnya dengan gerakan perlahan namun pasti hingga membuat Juan menutup matanya ketika tangan Gianna kembali menyentuh miliknya yang kini telah ereksi di balik celana dalam.
Tangan Gianna yang bebas menyentuh belah pantat Juan dari belakang, memijatnya dengan gerakan perlahan sembari merasakan benda tak bertulang itu bersentuhan langsung dengan tangannya - meskipun terhalang kain namun Gianna dapat merasakan bagaimana Juan bergidik di bawah sentuhannya.
"Jawab aku, Kak. Kok malah keenakan gini." Tak kunjung mendengar jawaban Juan, Gianna menampar selangkangan Juan dengan sekuat tenaga.
Juan terlonjak di tempatnya, hampir saja rebah menindih Gianna namun ia dengan cepat bereaksi terhadap sentuhan tersebut. Kepalanya terasa penuh, tubuhnya terasa panas dan sesak, ia butuh tangan Gianna untuk langsung bersentuhan dengan miliknya namun gadis itu memiliki intensi lain.
Juan mendongak, tangannya berada di sisi wajah Gianna ketika gadis itu dengan sengaja memajukan wajahnya dan menjilati selangkangan Juan yang masih terbalut kain. Lidahnya bertemu langsung dengan milik Juan yang kini telah mengeras, terasa sakit tiap kali organ tak bertulang itu menerima sentuhan Gianna. Juan ingin sekali membenamkan miliknya di mulut Gianna, dengan paksa jika perlu, lalu memaju-mundurkan miliknya dengan cepat dan tak memperdulikan Gianna yang kesakitan. Juan ingin sekali menggunakan kesempatan ini untuk memaksa Gianna memberikan blow job namun tangannya terkulai di sisi wajah Gianna, tak mampu berkutik ketika ia membuka mata dan dihadiahi senyuman jahil Gianna - gadis itu masih menjilati selangkangan Juan sembari menatapnya dari bawah.
Gerakan Gianna semakin liar hingga membuat Juan mulai menghentakkan pinggulnya untuk mengejar pleasure miliknya, "Babe.. mnhh.."
Tapi Gianna berhenti bergerak.
Ia merubah posisi mereka dan mendorong Juan hingga punggungnya terantuk permukaan kasur yang lembut, bagian lutut ke bawah menggantung sempurna di atas batas kasur. Juan mengernyit, ia hendak mengatakan sesuatu ketika Gianna duduk di sebelahnya. Wajahnya ia bubuhi senyuman paling cantik yang pernah Juan temui, namun dibalik senyum cantik tersebut terdapat bisa yang membuat Juan tersihir.
Matanya memejam ketika tangan Gianna kembali bermain di tempat yang sama, kali ini ia memijatnya dengan gerakan sedikit brutal menggunakan ketiga jarinya bak ia sedang menggaruk sesuatu. Pandangan Juan sedikit mengabur, gadisnya itu selalu dengan mudah menemukan titik sensitifnya dan menggunakannya untuk melumpuhkan dirinya.
"Kakak.. kontol kamu bangun.." Gianna menunduk, mencium gundukan tersebut dengan kilat mata mirip seperti seorang anak kecil tengah diberikan mainan. Kedua tangannya dengan aktif bermain di sana, terkadang ia membiarkan tangannya menyetuh paha dalam Juan hingga sampai ke bagian belakangnya. Hanya menyentuh namun gerakan tersebut justru mampu membuat Juan semakin menggelinjang di bawah sentuhan Gianna. "Aku mau kasih hadiah."
Gianna mengambil sebuah vibrator dari sisi kasur, ia ingin bertanya apakah Juan menyukai diberi vibrator namun melihat keadaan Juan yang kacau seperti ini Gianna mengurungkan niatnya. Biarlah Gianna yang membantu memilihkan mainan favorite Juan.
"Oh, shit." Tubuh Juan menggelinjang dan bergetar ketika vibrator kecil berwarna pink ditaruh di atas penisnya yang masih terbalut kain. "Gi.. please.."
"Nggak," Gianna menjawab dengan tegas. Ia menahan kaki Juan dengan satu tangannya, meskipun harus berusaha sekuat tenaga karena lelaki itu memiliki posture tubuh yang tinggi menjulang sehingga untuk memegang kakinya saja Gianna membutuhkan tenaga yang sangat besar. "Kakak diem, ih. Nikmatin aja kaya biasanya Kakak mainin aku. Ini kesempatan Kakak rasain gimana jadi aku. I'll fuck you real good, trust me."
Semakin Gianna menahan Juan agar tak semakin berontak, semakin kuat pula Juan berusaha untuk membebaskan diri.
"Kakak." Gianna berusaha memperingati Juan, suaranya tegas dan sedikit terganggu ulah Juan.
"Gi, please." Juan membuka matanya, ia berusaha menggunakan dua sikunya untuk menopang tubuhnya yang setengah terduduk di kasur. "Gianna."
"Oh gitu, kamu gak suka kalo di situ ya, Kak. Oke, aku ganti tempatnya." Gianna membuka celana beserta dalaman Juan dengan susah payah yang akhirnya dibantu Juan karena melihat gadisnya sedikit kesusahan.
Penisnya yang sudah mengacung tegak akhirnya mendapatkan kebebasannya. Juan dapat bernapas dengan lega, setidaknya ia tak harus menikmati sensasi tercekik karena pakaian yang ia kenakan. Gadis itu kemudian berjongkok di sebelah kasur dan belum sempat ia merasakan kebebasan yang Gianna berikan, lelaki itu lagi-lagi terlonjak kaget karena Gianna mengangkat kakinya - salah satunya karena tubuh mungilnya tak mampu menopang tubuh Juan. Gianna kembali mendorong tubuh Juan agar rebah dikasur, kali ini ia mengambil sebuah pelumas yang diletakkan di meja sebelah kasur. Juan mendelik ketika menyadari bahwa gadis itu menargetkan lubangnya yang.. masih virgin.
"Gianna."
Gianna menatapnya dari posisinya berjongkok dengan cemberut. "Apasih dari tadi manggil nama mulu."
Juan kembali menegakkan dirinya, kali ini ia setengah duduk di kasur yang mau tak mau membuat Gianna kembali menatapnya dengan kedua alis yang tertaut. "Gi, kamu serius?"
"Serius." Gianna menghela napasnya, sedikit tidak sabaran dengan respon Juan yang menyebalkan baginya. "Percaya deh sama aku, Kak."
"Gianna, ini tuh - "
"Stop panggil pake nama, please." Gianna mendesah, ia mengistirahatkan dagunya di paha Juan. Matanya menatap Juan dari bawah sembari tangannya sibuk menjelajahi kulit sekitar kaki Juan. "Serius, Kak. Aku cuma penasaran. Nothing's wrong with that, 'kan? Apa mau aku cobain kaya gini ke laki-laki lain?"
"You know that's not funny, Gianna." Wajah Juan menggelap ketika mendengar kalimat tersebut. "Besides, that's not the whole point, Gi."
Gianna menggigit bibir bawahnya menyadari reaksi Juan yang sedikit tersinggung akibat kata-katanya barusan. "Maaf, tapi serius aku cuma penasaran."
Juan menghela napasnya dengan lelah, ia menunduk lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Kedua tangannya menutupi wajahnya, berusaha menutupi semua emosi yang berkecamuk di pikirannya. Ia selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi Gianna, namun kali ini Juan merasa sedikit takut. Bukannya ia tak yakin akan kemampuan Gianna yang begitu lihai namun Juan hanya takut jika ia tak mampu membuat Gianna merasa puas.
Ia tak merasa rendah diri ataupun merasa harga dirinya diinjak-injak oleh Gianna karena Juan akan terus bertekuk lutut untuk memberikan apapun yang bisa membuat Gianna merasa senang. Apapun. Tak peduli jika ia harus mati sekalipun, jika itu yang membuat Gianna senang, maka Juan akan melakukannya.
Namun emosinya yang tak stabil sejak Gianna mengajukan pembahasan ini pertama kali membuatnya merasa sedikit tak terkendali. Juan terlalu takut, entah kepada dirinya sendiri atau pada bayangan ekspetasi yang ia buat sendiri di kepalanya. Juan terlalu takut untuk melangkah.
"Kak," Gianna memanggil dengan lembut, gadis itu kini berdiri di hadapan Juan dan memeluk kepala Juan di dadanya.
Gianna menundukkan dan menyandarkan kepalanya di puncak kepala Juan, persis seperti yang selalu Juan lakukan ketika sedang menenangkan dan meyakinkan dirinya. "It's okay, Kakak."
"Gi." Suara Juan sedikit teredam, namun Gianna dapat jelas mendengarnya. "What if I can't satisfy your insatiable lust?"
"Apasih, Kakak." Gianna menangkup paksa rahang Juan, memaksa mata keduanya saling bertatapan dan melebur dalam obsidian masing-masing. "Kok mikir gitu, sih. Kenapa?"
"It's my first time.”
Gianna hampir tertawa, namun ia urungkan karena melihat wajah Juan begitu tersiksa di bawahnya. Lelaki itu sedang menahan tangisnya, entah karena apa yang jelas Gianna dapat menangkap beberapa emosi yang tak bisa Juan utarakan di sana. Ibu jarinya mengusap pipi Juan dengan gerakan lembut, berusaha membuat Juan merasa nyaman di dekapannya.
Juan menurut, membiarkan Gianna memberikan kenyamanan ekstra sebelum ia merengkuh pinggang mungil di depannya. Juan memeluk Gianna dengan erat yang langsung dibalas Gianna dengan usapan lembut di puncak kepala Juan.
"Kakak." Juan menyamankan posisi wajahnya di dekapan Gianna ketika mendengar suara lembut yang tak pernah bosan ia dengar. "Remember what you told me when we hooked up for the first time? You were my first, so it was kinda nervous for me."
"That we can stop whenever you want?"
Gianna menggelengkan kepalanya, ia mengerutkan bibirnya. "Bukan. You said all I needed to do was to trust you, karena kamu bilang you won't hurt me."
Juan terdiam di posisinya.
Ia mendongak dan detik itu ia dihadiahi kecupan singkat di bibir oleh sang kekasih. Bagaimana bisa Juan melupakan hal tersebut?
Ah, Juan bodoh.
"Maaf," cicitnya.
Tetapi Gianna kembali membubuhkan kecupan singkat berulang di bibirnya hingga Juan mau tak mau menutup matanya. Gianna tersenyum, "Can you trust me this time? You know that I won't hurt you."
Juan menarik pinggang mungil tersebut hingga keduanya rebah bersamaan di atas kasur dengan Gianna menindih dirinya. Keduanya tertawa sembari menatap manik satu sama lain. Tangan Juan dengan mudahnya merapihkan dan menyelipkan anak rambut Gianna yang memanjang di kedua telinganya sembari Juan berharap pada angin agar ia dapat memberhentikan waktu yang bergulir di saat ia sedang mengagumi kekasih cantiknya dari jarak sedekat ini. Juan tanpa sadar menahan napasnya ketika ia dapat merasakan bagaimana tubuh Gianna bereaksi terhadap dirinya. Bagaimana tubuh mungil dalam dekapannya itu bergerak dengan tak nyaman-yang Juan sadari bahwa ia sengaja melakukannya-di atasnya, gerakan berantakan Gianna membuat putingnya yang mengeras mengenai dada telanjang Juan sehingga membuat napasnya tercekat.
Gianna memajukan wajahnya, beralih meletakkan dagunya di atas dada Juan sembari menatapnya bak anak kecil menatap mainan yang baru saja dibelikan oleh orang tuanya. "Kamu gak bosen apa ya ganteng terus?”
"Kamu gak bosen apa ya cantik terus?" Juan dengan sengaja menirukan gaya bicara Gianna barusan.
"Gombal dasar."
Juan menatap iris kecoklatan yang nampak semakin bersinar di hadapannya, "You know that you can pick up things where you left off, don't you?"
Gianna merubah posisinya, ia menyandarkan salah satu sisi wajahnya di dada Juan tetapi tangannya terus merambat ke bagian bawah Juan. Dari posisinya tersebut, kerlingan mata jahil tak pernah lepas dari matanya. "Dasar gak sabaran, tadi aja marah-marah."
Skakmat.
Juan tak mampu menemukan kalimat yang dapat ia gunakan untuk membalas kalimat Gianna barusan. Ia hanya mengendikkan bahunya, "Gak tau ya abisnya sekarang aku pengen di - ah!"
Juan mendongak, menutup matanya ketika tangan Gianna berhasil meraih batang penisnya yang masih mengeras di bawah sana. Tangannya dengan telaten memijat menggunakan cairan precum sebagai salah satu pelumas alami, sedang tangannya yang bebas menopang tubuhnya untuk setengah duduk di atas Juan.
Posisi kesukaan Juan dan Gianna.
Gianna membiarkan tangan Juan berada di kedua sisi tubuhnya sembari dirinya asik memainkan milik Juan yang kian berkedut di bawah sana, sedang tangannya yang kini bebas ia larikan ke dalam mulut Juan. Dua jari berada di mulut Juan dan Juan menerimanya, menjilatnya seperti orang kehausan minuman dan jemari Gianna adalah satu-satunya penyelamat di tengah kelaparan. Juan asik mengemut jemari Gianna sembari berusaha mengalihkan dan menahan rengekan tak senonoh yang berlomba-lomba ingin keluar dari mulutnya ketika tangan Gianna bekerja semakin cepat di bawah sana. Pinggulnya bergerak tak pasti, berusaha menyamakan ritme gerakan dengan gerakan tangan Gianna yang mulai asal. Jantungnya berdegup semakin kencang ketika Gianna berhenti memberikan stimulasi di penisnya. Juan merasa kosong dan frustasi karena ia ditinggalkan saat dirinya sedikit lagi akan klimaks.
"Gi..”
"Diem." Gianna beralih dari posisinya barusan lalu berjongkok di tempat semula sebelum Juan menarik tubuhnya rebah di atas kasur.
Tangannya dengan telaten kembali mengoleskan pelumas di jemarinya lalu meminta Juan untuk membuka kakinya dengan lebar. "Kalo sakit bilang, Kak."
Juan tak menjawab, atensinya teralihkan oleh rasa dingin akibat pelumas yang Gianna berikan di sekitar lubangnya. Gadis itu memang tak langsung melesakkan jarinya, jemarinya ia biarkan berdansa di sekitar bagian belakang Juan. Juan tersentak ketika Gianna sesekali mengetukkan jemarinya di depan lubang Juan.
Sial, sial, sial.
Tubuh Juan mengejang ketika Gianna semakin berani untuk meremas belah pantat Juan dan menghembuskan napasnya di sana. Gadis itu terus menerus mengulangi kegiatannya barusan hingga Juan merasa sedikit tenang. Sedikit saja karena yang terjadi selanjutnya adalah kegiatan paling erotis yang tak pernah Juan bayangkan akan terjadi kepadanya malam ini. Gianna kembali membawa penis Juan ke dalam mulutnya, lidahnya mengitari batang tersebut hingga membuat Juan merasa melayang. Kaki Juan tertekuk di atas kasur sembari menahan dirinya agar tak lepas kendali menendang Gianna di bawahnya, ia beralih meremat kasur di sebelahnya ketika jemari lentik Gianna mulai meringsek masuk ke dalam dirinya.
Gianna menahan napasnya.
Hangat lubang Juan menyelimuti seruas jari Gianna yang kini masih diam di dalam sana. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat raut wajah Juan yang kini hanya mampu menutup matanya, beberapa kali ia mengernyit menahan rasa sakit yang muncul bersamaan saat Gianna menggerakkan jemarinya. Gianna dapat melihat dengan jelas bagaimana tersiksanya lelaki itu menahan rasa sakit. Kakinya gemetar tiap kali Gianna memberikan usapan menenangkan di paha luarnya, tangan kanannya ia larikan menutupi separuh wajahnya tiap kali Gianna berusaha untuk menggerakkan jemarinya di bawah sana.
Sedangkan Gianna berusaha menahan dirinya agar tak terbawa nafsunya untuk memaksa Juan menerima semua jemarinya. Gianna ingin menggerakkan jemarinya di bawah sana, memporak-porandakan Juan hingga yang tersisa hanyalah sisa-sisa kewarasan Juan yang hampir tidak menggantung di sana.
Melihat respon Juan yang terlihat kesakitan membuat sesuatu di dalam Gianna memberontak. Sesuatu tersebut membuat Gianna merasa kepanasan dan tanpa sadar membasahi bibir bawahnya tatkala lubang Juan berkedut di sekitar ruas jarinya. Lenguhan dan erangan Juan bersaut-sautan dengan lenguhan tertahan Gianna, gadis itu bahkan berusaha menggigit bibir bawahnya agar suara lenguhannya tak mengalihkan fokusnya dari lubang Juan yang kini semakin lapar melahap jemarinya. Gianna bersumpah, pemandangan di depannya semakin membuatnya merasa terangsang.
Gianna menambah satu jemarinya lagi sesaat setelah jemari pertama berhasil diterima oleh Juan dengan baik di dalam sana, ia menggerakkannya secara perlahan sembari berusaha menerka-nerka titik sensitif yang—oh.
“Ah!” Pinggul Juan terangkat ketika jemari Gianna menyentuh sesuatu di dalam sana.
Juan tak yakin apa itu namun tubuhnya bereaksi tanpa bisa ia cegah tiap kali Gianna menyapukan ujung jarinya di dalam sana. Jemari kakinya meringkuk, tangannya yang bebas mencengkeram sprei sembari tangannya yang semula berada di sisi wajahnya kini ia gunakan untuk menutup mulutnya. Entahlah, gelombang nikmat yang bercampur dengan nafsu berhasil membuat Juan kehilangan kewarasannya. Terlebih ketika jemari Gianna kembali menyentuh titik sensitifnya, lagi dan lagi, Juan langsung bereaksi dengan mengangkat pinggulnya.
“Enak ya, Kak? Dari tadi berisik mulu.” Gianna menarik jemarinya keluar dari lubang Juan, nada suaranya terdengar lembut namun mencemooh. Gadis itu berpindah posisi menjadi setengah berdiri dengan menumpukan tubuhnya dengan menggunakan kedua lututnya, tubuh bagian atasnya bergerak condong ke arah Juan. “Gak usah ditahan gitu. Kakak tau, ‘kan kalo aku suka waktu Kakak berisik gitu.”
Setelah berkata demikian, Gianna kembali melesakkan jemarinya di dalam sana. Namun kali ini ia tak tinggal diam, ia kembali memasukkan penis Juan yang kini basah oleh cairan ejakulasi ke dalam mulutnya. Kegiatannya barusan membuat Juan nyaris memekik lantaran rangsangan tiba-tiba yang membuat syaraf di tubuhnya mendadak kehilangan kendali atas dirinya. Tubuhnya gemetar ketika gerakan antara tangan dan mulut Gianna membuat Juan pening, tubuhnya dibakar oleh nafsu hingga rasanya ia tak mampu berpikir dengan jernih. Juan hanya mampu menggerakkan pinggulnya, mencoba mengejar rasa nikmat kian menyiksanya.
“Fuck, Gianna.” Juan kembali melolongkan desahannya, kali ini ia tak mampu lagi menahan dirinya. Terlebih ketika ujung penisnya menyentuh tenggorokan Gianna, Juan merasa terbang ke langit ketujuh. Ditambah pula gerakan lihai jemari Gianna di bawah sana yang merangsang titik sensitifnya semakin membuat Juan sakau. “Gi, I'm close..”
Gianna mempercepat pergerakan tangannya, kini ia tak lagi fokus dengan lubang Juan setelah mendengar kalimat yang disertai napas putus-putus tersebut. Tangannya ia larikan untuk memijat batang penis Juan yang tak mampu ia masukkan semua ke mulutnya, memberinya pijatan hingga ke ujungnya dan membuat Juan kembali menggerakkan pinggulnya—menyetubuhi mulut Gianna dengan gerakan sedikit brutal.
Kepalanya beberapa kali terantuk tubuh bagian bawah Juan, namun Gianna dengan cepat menahan tubuhnya dengan menyangga kedua tangannya di paha Juan. Kepalanya dengan mudahnya kembali memberikan blow job terbaik hingga suara putus-putus Juan disertai sebuah usapan di kepalanya menjadi penanda bahwa lelaki itu meraih pelepasan pertamanya.
Semburan cairan yang Gianna kenali betul rasanya memenuhi seluruh rongga mulutnya, Gianna tersenyum simpul ketika melepaskan cengkeraman tangan dan mulutnya dari tubuh Juan. Gadis itu menatap Juan dengan senyum miring, sedangkan tangan kanannya mengusap sisa saliva dan cairan ejakulasi Juan yang menggenang di sisi mulutnya.
Gianna terkekeh, “How was it, Kak?”
Juan masih enggan membuka matanya, kedua tangannya terkulai di sisi tubuhnya. “Great. It was fucking great, Gianna.”
Napasnya yang semula memberat kini terasa sedikit ringan karena tubuhnya tak lagi terbelenggu rasa sesak memabukkan yang membuatnya mati kutu. Juan pikir Gianna telah selesai bermain games dengannya. Matanya memejam karena rasa kantuk yang tiba-tiba menyerangnya, kelopak matanya memberat namun belum sempat ia sepenuhnya terbawa mimpi, sebuah sensasi dingin kembali menyapa tubuhnya. Ia mendongak, melihat ke bawah tepat dimana Gianna sedang berjongkok di sela-sela kakinya sembari mencoba memasukkan sebuah butt plug di lubang Juan.
Juan meringis ketika rasa sakit bercampur dengan rasa aneh dari pelumas bercampur menjadi satu. “Ngapain, Gi?”
Gianna tak menjawab, ia dengan perlahan mendorong mainan berwarna hitam tersebut hingga sepenuhnya berada di dalam Juan. Senyum puasnya terlukis di wajahnya ketika menyadari lelaki di hadapannya hanya mampu mengernyit heran sembari menahan rasa ngilu di sekitar mainan tersebut. Ah, kalau boleh jujur, Gianna tak terlalu lihai menginvansi lubang Juan seperti yang biasa Juan lakukan kepadanya. Namun, ketika gadis cantik tersebut melihat wajah pucat pasi setengah linglung milik Juan yang entah kenapa terlihat begitu menggoda malam ini membuatnya mengupayakan segala cara agar mimpinya bisa menjadi kenyataan.
“You're such a pervert, Gianna.”
Gianna merengut mendengarnya, “Apa salahnya? You're my husband, a lawfully legal husband, by the way.”
Gadis itu kemudian memposisikan tubuh mungilnya yang masih memakai pakaian lengkap di atas Juan, mata Juan yang sedikit berair bertatapan dengan miliknya. Keduanya tersenyum, Gianna mencondongkan tubuhnya dan melingkarkan tangannya di leher Juan. Hangat dan kenyalnya bibir Juan menyapa bibirnya yang sedikit lapar akan sentuhan terlampau berpengalaman milik Juan. Keduanya larut dalam ciuman panas nan basah dimana Juan melumat bibir bawah Gianna dengan lembut, menggigitnya lalu ketika Gianna membuka mulutnya ia akan menyesap rasa manis sisa dari lipgloss yang Gianna kenakan hingga bibir kenyal Gianna semakin terasa nyata di mulutnya. Kedua tangannya memegang pinggang ramping Gianna di kedua sisi, mengelusnya dengan perlahan dan lembut sambil sesekali tangannya menggoda Gianna di bawah sana. Juan melarikan tangannya di sekitar paha dalam Gianna, mengelusnya dengan gerakan terlampau pelan hingga ujung jemarinya menyentuh milik Gianna yang telah basah. Hanya menyentuh dengan sekilas namun sentuhan tersebut membuat tubuh Gianna bergerak tak nyaman di atasnya. Benang saliva terpaut di antara mulut keduanya tepat ketika Gianna menjauhkan dirinya dan beralih menyesap kulit leher Juan hingga memerah.
Juan tak tinggal diam, ia membiarkan Gianna mengerjai tubuh bagian atasnya. Juan menyingkap rok yang masih Gianna kenakan ke atas, mempertontonkan tubuh moleknya yang begitu kenyal di bawah sentuhan tangan Juan. Dadanya yang bergerak mengikuti gerakan mulutnya nampak begitu memesona dari sudut pandang Juan, pentilnya yang menyeplak di kaus putih tersebut membuat Juan merasa terpanggil. Lelaki itu melarikan jari telunjuknya tepat di depan puting yang sudang menegang tersebut, menyentuhnya dengan perlahan hingga membuat Gianna meliukkan tubuhnya di atas Juan. Juan kembali menyentuh puting tersebut dan kini ia dihadiahi desahan tertahan milik Gianna.
“Kiss me,” Juan meminta dengan nada desperate yang begitu nyaring di telinga Gianna.
Gianna mengabulkannya, ia kembali mempertemukan kedua bilah bibir mereka dalam satu pagutan basah nan erotis. Tangannya menyangga tubuhnya agar tak langsung ambruk di atas tubuh Juan, sedangkan ia mulai perlahan menggerakkan tubuh bagian bawahnya. Klitorisnya berkedut tiap kali ia menggesekkan miliknya yang tak tertutup kain apapun ke tubuh Juan.
Penis Juan kembali menegang ketika mendengar suara erotis yang muncul dari bibir mungil tersebut. Terlebih ketika Juan berhasil membalikkan posisi mereka menjadi Juan yang mengungkung Gianna, gadis itu sepertinya telah kehilangan kewarasannya.
Ia membuka lebar kedua kakinya, “Kakak, enak gak tadi aku fingering?”
Juan menganggukkan kepalanya, meskipun ia sedikit malu karena Giannalah yang pertama kali melakukan hal tersebut kepadanya. Namun ia sendiri tak mampu mengelak bahwa ia juga menikmatinya. Menikmati tiap rasa sakit yang gadis itu bubuhkan dengan khidmat di bawah sana, menikmati dengan sedikit kewarasan yang kian menipis saat jemari Gianna menyentuh titik prostatnya di bawah sana, terlebih ia juga menikmati bagaimana tubuhnya merespon tiap hal yang Gianna berikan kepadanya.
“Mau lagi?”
Kali ini Juan kembali menganggukkan kepalanya.
Namun yang ia terima malah sebuah tamparan yang cukup keras di sisi wajahnya, terlampau keras hingga kepalanya menoleh dan Juan yakin kulitnya akan berubah kemerahan.
“Gak bisa jawab apa, Kak? Keenakan lubang lontenya dientotin jari aku?”
“Maaf, Gi—”
Sebuah tamparan kembali ia terima di sisi lain wajahnya.
“Kamu dari tadi panggil nama terus, Kak. Lupa ya?”
“Maaf, sayang. Maaf,” Juan menangkup wajah Gianna dengan satu tangannya, tak memperdulikan kedua sisi wajahnya yang kini terasa panas karena tamparan Gianna barusan. “Maaf, okay? Aku salah.”
Gianna berdecih, ia menaikkan dagunya saat menatap Juan dari bawah. “Make me feel good then I’ll consider anything.”
Tak perlu diminta dua kali, Juan sudah mengerti apa yang harus ia lakukan untuk Gianna. Juan menganggukkan kepalanya, memberikan satu kecupan terakhir di bibir Gianna yang kian merekah karena sempat ia sesap beberapa waktu yang lalu. Senyum singkat terpatri ketika tangannya menarik ujung kain rok yang gadis itu kenakan, “Take this off, please?”
Kedua tangannya yang bebas membantu meraih kait rok yang Gianna kenakan, membukanya dengan cepat bersamaan dengan Gianna yang mengangkat pinggulnya. Rok tersebut Juan turunkan dengan menggunakan salah satu tangannya, sedangkan tangannya yang lain dengan mudahnya memenjarai kedua tangan Gianna di atas kepalanya—membuat pergerakan Gianna terbatas karena kedua tangannya terkunci tangan Juan.
Kesempatan itu ia gunakan untuk membungkam Gianna yang sudah membuka mulutnya, alisnya mengernyit serta mulutnya yang cemberut karena gerakan tiba-tiba Juan yang belum sempat ia setujui. Hangat mulut Gianna kembali menyapa Juan, kali ini ia dengan segera melesakkan lidahnya ke dalam mulut Gianna, menariknya ke dalam sebuah pagutan panas antara kedua organ tak bertulang tersebut. Gianna merengek tertahan, suaranya terdengar tak jelas karena mulut Juan masih setia menginvansi bibirnya. Kakinya berusaha bergerak menendang ke segala arah sebagai bentuk perlawanan—dan juga reminder bagi Juan karena lelaki itu secara tidak langsung kembali membuat Gianna emosi.
Sialan, Gianna lupa jika suaminya itu terlampau handal dalam manhandle dirinya—Gianna sebenarnya tak menolak, hanya saja ia yang memegang kendali di sini dan Juan bertingkah seenaknya sendiri.
Berandal handal yang sialnya juga menjadi kesayangan Gianna.
“Mmpph!” Gianna mendelik, berusaha mendorong tubuh Juan dengan seluruh tenaganya ketika lelaki itu menaikkan kaki kirinya ke bahu Juan, secara tidak langsung kembali membelenggu Gianna di bawah kungkungannya.
Gianna tak mampu banyak bergerak karena posisi sialan ini benar-benar memojokkannya. Kakinya sakit karena Juan mengunci pergerakannya dengan meletakkan tangannya di atas pahanya sehingga tak peduli sekuat apapun ia bergerak kakinya akan selalu tersegel tangan Juan. Belum sempat ia memberontak, Juan kembali menghujamnya dengan rangsangan yang semakin membuatnya sakau.
Tangan sialan itu menyapu klitorisnya, kini tak lagi berdiam diri dengan memberikan sentuhan melayang namun langsung menggesekkan jemari Juan di atas klitorisnya yang sedikit membengkak. Tubuh mungilnya terlonjak, secara tidak langsung memutus ciuman keduanya hingga yang mampu Gianna lakukan hanyalah mengalihkan pandangannya ke arah samping—kemana saja agar tak melihat Juan yang tersenyum miring di atasnya.
Juan bajingan.
Gadis itu bergerak tak nyaman tiap kali Juan sengaja mengerjai dirinya, ia akan menarik tangannya tiap kali Gianna merasakan gelombang nikmat semakin mendekat. Tak hanya klitorisnya yang dihujam gerakan tangan tak manusiawi Juan, namun juga labia dan seluruh titik sensitif di sekitar selangkangannya.
“Oh, ini ya, Gi?” Juan sengaja menirukan bagaimana Gianna mengerjai dirinya beberapa saat yang lalu, ibu jarinya menekan titik sensitifnya hingga membuat Gianna mengejang. “Memek kamu masih sensitif banget sama jari aku ternyata. Masih kedutan tiap itilnya aku mainin kaya gini.”
“Stop playing, Juan. I wa—”
“Ngomong apa sih, sayang.” Juan menampar selangkangan Gianna dengan menggunakan tangannya, kemudian memasukkan jemarinya dengan cepat dan menggerakkan jemarinya dengan sedikit brutal. “Nih, liat. I'm making you feel good kaya kata kamu tadi.”
Gerakan Juan terlampau kasar di bawah sana, namun Gianna tak mampu menendang ataupun menggigit sisi tubuh Juan karena lelaki itu sengaja menarik wajahnya menjauh. Sensasi penuh bercampur basah dan juga geli membuat Gianna berulang kali mengangkat pinggulnya mengikuti irama gerakan tangan Juan yang sedikit gila.
“Memek kamu cengap-cengap mulu padahal udah ada jari aku, Gi.”
Gianna memekik lantaran jemari Juan berhasil menemukan titik sensitifnya, menggaruknya dengan cepat dan berulang hingga Gianna merasa mabuk kepayang. Terlebih ketika jemari Juan yang berada di kedua pergelangan tangannya membuatnya mati kutu, Gianna rasanya ingin meledak. Tubuhnya terlampau sensitive namun Juan seakan enggan berhenti, desahannya sudah tak begitu coherent dengan apa yang ia ucapkan. Kalimatnya berantakan karena kabut nafsu yang menyelimutinya.
“Mau pipis.. Kak, mau pipis..”
Senyum puas kembali tersungging di wajah Juan ketika suara putus-putus milik Gianna terdengar begitu merdu di telinganya. Jemarinya bergerak dengan cepat, sesekali Juan akan dengan sengaja melambat atau merubah arah gerakannya hingga yang dapat ia terima hanyalah gerutuan singkat Gianna. Juan terkekeh, ia mengerti betul Gianna pasti akan membalasnya nanti—entah kapan—namun pemandangan Gianna yang kini setengah teler di bawahnya membuat penisnya semakin mengacung.
“Memeknya gatel, sayang?” Juan tak lagi bermain dengan menggunakan jemarinya, namun kini ia menggunakan kesempatan tersebut untuk menggoda lubang Gianna yang semakin berkedut ketika Juan dengan sengaja menggesekkan kepala penisnya di sana. “Enak digarukin pake tangan aku apa aku sumpel pake kontol aku?”
Gianna melenguh tiap kali Juan dengan sengaja menampar labianya dengan menggunakan miliknya yang semakin membesar. Napasnya berubah menjadi tak beraturan, ia kehilangan kendali atas dirinya dan juga Juan. Gianna menutup matanya sembari berkata, “You know this is not what I meant, Kak. I—ah!”
Jika tadi Gianna menampar Juan tepat di wajahnya, kini giliran Juan yang memberikan hal yang sama tepat di milik Gianna yang sudah semakin basah dan sensitive. Gadis itu terlihat seakan sedang pipis di atas kasur dan Juan tak mampu untuk tak semakin menggoda Gianna hingga mendorong gadis itu berada di ujung terakhir kewarasannya. “I know, Gi. I know. Tapi coba liat kondisi kamu sekarang. Memek tembemnya minta dirodokin gini, tadi bahkan pengen pipis. Sakit memek nya gak bisa pipis meskipun itilnya aku mainin gini?”
Sial, rangsangan serta kalimat kotor itu mampu mengirimkan sinyal aneh di tubuh Gianna.
Tubuhnya yang kini basah oleh keringat melengkung dan beberapa kali gemetaran hebat menerima rangsangan bertubi-tubi Juan. Mulutnya terbuka dan menutup hingga benang saliva menetes dari sana, tangannya masih senantiasa terbelenggu jeratan tangan Juan sehingga ia tak mampu menahan rasa sesaknya lagi.
Gianna menangis, bukan karena rasa sakit yang mendera namun karena rasa nikmat yang kian dipermainkan oleh Juan membuatnya semakin sakau. Ia terlihat semakin cantik dan memesona ketika Juan menatapnya dari atas. Juan kembali jatuh cinta pada wajah rupawan bak malaikat yang kini nampak memerah—entah karena nafsu atau rasa panas—serta matanya yang meskipun berlinang air mata terlihat begitu berkilau.
“You know..” Suaranya serak karena terlalu sering melolongkan desahan bak seekor hewan tak punya akal tengah kawin dengan pasangannya. “..that.. this is.. not what I meant, Kak.”
Dadanya naik turun dengan cepat, napasnya tersengal-sengal menahan dirinya agar tak mendorong Juan lalu memasukkan paksa penisnya di dalam miliknya yang kini terasa semakin gatal. Gianna menatap Juan dengan matanya yang sembab, “I want to fuck you. I want to peg you, not the other way around.”
“That doesn't matter, Gianna sayang.” Juan memiringkan kepalanya, ia menanggapi Gianna dengan bibirnya yang cemberut. “You can fuck me real good kaya yang kamu bilang waktu itu. Tapi tadi you said that you wanted to feel good, ‘kan? Let me show you.”
Gianna memberontak ketika Juan melepaskan genggaman di tangannya, ia merasa kesal karena Juan yang mengambil alih kendali tanpa persetujuannya. “I’ll make sure—”
“Iya, iya,” Juan membalas dengan nada malas, terlampau bosan mendengar kalimat Gianna yang sudah ia hafal di luar kepala. “You can do anything to me nanti, sayang.”
Wah.
Wah.
Dalam hati Juan merutuki dirinya yang begitu ceroboh mengatakan hal tersebut. Ia bersumpah, kilat mata Gianna yang semua sedikit mengabur karena air mata kini nampak mengintip dari tempatnya sembunyi. Kilat yang Juan mengerti betul merupakan tanda bahaya, setidaknya bagi dirinya. Senyum Gianna luntur dan kini digantikan wajah tanpa ekspresi yang membuat Juan meneguk ludahnya dengan gugup. Terakhir kali ia melihat raut wajah Gianna seperti ini, ia berakhir didiamkan selama beberapa hari oleh sang istri. Tak ada kalimat terucap meskipun Gianna masih tidur di sebelahnya, masih memakan sarapan yang Juan masakkan untuk keduanya, dan masih melakukan sesuatu di hadapan Juan—hanya saja ia tak mengajak Juan berbicara. Jangankan mengajaknya berbicara, Gianna saat marah itu seperti tak sudi menatap wajahnya.
Wajah Juan semakin mendekat, ia berbisik di telinga Gianna sembari terus mengecupi permukaan kulit seputih susu di perpotongan leher sang kekasih. “You know what I meant, dont you? I love you.”
Gianna menatapnya dengan ekspresi malas. Kedua tangannya kembali tersampir di leher Juan sembari menahan kepala lelaki tersebut untuk tetap berada di tempatnya. “What's wrong with you, Kakak? Suka banget being a brat in front of me, lagi mau apa sih?”
“Nothing.” Juan kembali mempertemukan bibir keduanya ke dalam sebuah ciuman panjang, tidak terlalu menuntut namun ia memastikan sang gadis yang kini mulai melingkarkan kedua kakinya di pinggangnya itu merasa nyaman. “You’ll love me anyway, regardless I'm being such a freak or such a brat.”
“I fear I have grown attached to being smitten and infatuated with you.”
Juan tersenyum di sela-sela ciumannya, “And I fear you have to bear that for the rest of your life.” Kedua tangannya tersampir di sisi tubuh Gianna, ia dengan cepat membalikkan posisi keduanya hingga ia berada di bawah dan Gianna berada diatasnya. “Take this off for me, please?”
Gianna melepas satu-satunya kain yang menutupi tubuhnya, lalu dengan cepat kembali mencium Juan seperti tiada hari esok. Keduanya larut dalam cumbuan memabukkan yang kian lama kian membuat mereka semakin lupa diri. Gianna menjadi pertama yang menarik dirinya, kedua tangannya dengan mudah menemukan titik ternyaman untuknya sebelum ia perlahan memasukkan penis Juan di dalam tubuhnya. Kedua tangannya menyangga tubuhnya di atas tubuh Juan saat ia menjatuhkan dirinya secara perlahan. Desahan tertahan milik keduanya terdengar bersaut-sautan saat Gianna mulai menggerakkan dirinya.
Juan melayang sembari menikmati pemandangan indah di hadapannya saat tubuh Gianna bergerak dengan gerakan sedikit berantakan demi mengejar surga duniawinya. Kedua tangannya berada di sisi tubuh Gianna sembari membantu sang kekasih bergerak naik turun di atasnya, ia terkadang akan menghentakkan pinggulnya dari bawah atau membiarkan Gianna mengambil alih seluruhnya. Gerakannya yang sedikit berlawanan dengan Gianna membuat gadis itu beberapa kali sempat oleng karena milik Juan yang terbenam sempurna di dalamnya beberapa kali mengenai titik sensitifnya, membuat tubuh mungilnya gemetar dan tubuh bagian bawahnya semakin basah.
Rasa nikmat ketika penisnya dijepit oleh milik Gianna membuat Juan sedikit melupakan rasa tidak nyaman yang ia rasakan di tubuh bagian belakangnya. Ia sedikit melupakan fakta bahwa Gianna sempat memasangkan butt plug di sana. Meskipun sudah beberapa kali mereka memadu kasih, Juan tetap merasa amazed tiap kali Gianna selalu berhasil membuat pengalaman bercinta mereka sedikit berbeda dari malam-malam sebelumnya. Seperti saat ini, di mana penis Juan yang kian membesar di dalam sana bergerak dengan kecepatan yang telah Gianna atur, menghantarkan sensasi geli yang langsung Juan rasakan di analnya yang tersumpal oleh butt plug. Gerakan berantakan Gianna seakan membuat butt plug itu ikut bergerak di dalam sana sehingga Juan mau tak mau semakin membuka kakinya tiap kali Gianna bergerak menghentakkan tubuhnya.
Juan merasa bahwa dirinya sedang disetubuhi oleh Gianna melalui bagian belakangnya dari posisi seperti ini.
Posisi yang Juan sendiri tak menyangka akan membuatnya semakin sakau lantaran ujung butt plug yang terbenam di bawah sana itu beberapa kali menyentuh prostatnya tiap kali Gianna menggerakkan pinggulnya. Juan merengek—meskipun ia langsung mendelik ketika mendengar suaranya yang sedikit high-pitched ketika lagi dan lagi Gianna berhasil membuat sesuatu di bawah sana bergerak dengan sedikit kurang ajar. Bibir bawahnya ia gigit seakan berusaha menahan suara gila yang membuat Gianna menjadi jumawa—meskipun berapa kali ia mencoba, Juan mengerti semua berakhir sia-sia.
Decakan basah antara dua tubuh manusia menjadi harmoni di setiap lolongan desahan yang kini memenuhi semua sudut ruangan. Tiada nada terbelenggu ataupun ter-bending karena baik Gianna dan Juan seakan sedang berlomba menjadi satu-satunya soloist di paduan simfoni yang sedang mereka pertontonkan. Tubuh Juan tidak hanya dipenuhi oleh keringat, namun kini sesuatu yang sedikit lengket dan basah juga menggenang di sekitar perutnya. Gadis itu nampaknya sudah keluar beberapa kali, entah saat foreplay panjang yang memabukkan dan membuat kabut nafsu di antara keduanya semakin menggenang atau saat Juan kembali menghentakkan miliknya di dalam sana. Genggaman di pinggang Gianna semakin mengerat ketika gadis itu kembali memaksa Juan untuk mendorong penisnya semakin masuk.
“Kak, mentokin please.. Rodokin memek aku, mau dikontolin sama kakak.”
Sebuah permintaan singkat namun permintaan tersebut mengaktifkan sesuatu lain di diri Juan. Juan dengan sigap menegakkan dirinya, kedua tangannya menahan tubuh Gianna yang oleng karena pergerakannya barusan, sebelum akhirnya ia bangkit sembari memegangi tubuh Gianna yang kini setengah lemas di pelukannya setelah beberapa kali mendapati orgasmenya.
“Mnh.. lagi..” Gianna mengistirahatkan kepalanya di ceruk leher Juan ketika lelaki itu ia persilahkan untuk menggauli tubuhnya.
Juan menggendong tubuh moleknya sembari adiknya mengoyak kehangatan Gianna dengan beringas, kedua tangannya menjaga kedua kaki jenjang Gianna agar tetap berada di pinggangnya. Posisi seperti ini membuat Gianna semakin pusing, matanya berkabut oleh nafsu yang semakin meringsek memaksa untuk mengambil alih dirinya. Punggung telanjang Juan menjadi tempat dirinya menumpahkan segala frustasinya ketika milik Juan kembali menyentuh titik sensitifnya, kali ini disertai gelombang yang membuat tubuhnya mengejang karena hal tersebut membuatnya kembali ingin kencing.
“Kak, mau pipis.. Wait..” Ia berusaha mendorong Juan agar melepaskan dirinya, namun lelaki itu malah semakin merapatkan tubuhnya.
Juan sama sekali tak memperdulikan Gianna yang kini ini menangis karena tak mampu menahan gejolak di perut hingga bagian bawahnya.
“Wait, Kak!” Gianna menangis, sia-sia usahanya mencengkeram bahu Juan ketika gelombang nikmat itu memenuhi tiap ruang kosong dirinya. “Wait.. slow down, Kak.. mau pipis..”
Beberapa hentakan setelahnya, Juan merasakan sesuatu mengalir di sela-sela pahanya. Sesuatu cair, bening yang ia yakin bukanlah sebuah kencing namun—
“Saking enaknya sampe squirt gini, ya?” Juan melarikan tangan kanannya kembali ke klitoris Gianna, menggesekkan jemarinya di sana sembari membiarkan squirt Gianna membasahi jemarinya.
Gianna rebah di pelukannya, napasnya sedikit tak beraturan setelah pelepasannya barusan. “Can I cum inside, babe?”
“Patience, babe.” Gianna mendongak, menangkup kedua pipi Juan lalu berkata, “Gak sabaran banget sih.”
Juan tak menjawab, ia sebenarnya sudah mengerti maksud kalimat Gianna barusan. Bibirnya kembali mencumbu bibir manis yang menjadi adiksinya selama beberapa tahun ini. Pinggulnya secara alami kembali bergerak untuk menjemput pelepasannya yang sempat tertunda beberapa kali, mengabaikan Gianna dan rengekannya yang teredam oleh ciuman panas Juan. Sedangkan sang kekasih yang terlampau memahami sensitivitas Juan hanya mendecih di sela-sela ciuman, dengan malas memagut dan menyesap sisa-sisa romansa di bibir Juan sembari membiarkan lelaki itu kembali menyusuri tubuh bawahnya.
Huh, hari ini Juan benar-benar membuatnya sedikit kesal.
Beberapa hentakan berantakan setelahnya, Juan melesakkan miliknya hingga ujung kepala penisnya selesai menyemprotkan spermanya yang kini mengisi Gianna, beberapa bahkan menetes ketika Juan mencoba untuk memijat batang penisnya. Tubuhnya rebah di atas kasur setelah meletakkan Gianna di sebelahnya, matanya terpejam sembari membiarkan dirinya mengendarai rasa nikmat setelah pelepasan yang sudah ia tahan beberapa kali hari ini.
“Such a brat,” Gianna berceletuk dari samping.
Gadis itu menoleh ke arah samping tempat Juan sedang berbaring, ia menahan kepalanya menggunakan tangan kanannya. Hidung bangirnya yang sedikit memerah membuat wajah cantiknya terlihat begitu lucu, ditambah matanya yang sedikit memerah karena sibuk menangis beberapa waktu lalu membuatnya nampak seperti anak kecil. Gadis itu menatap Juan dengan tatapan bosan, terlampau bosan sehingga ia memainkan puting Juan dengan gerakan malas dan tak bersemangat.
Namun, karena Juan sedang berada dalam keadaan over sensitive nya, gerakan tersebut membuat tubuhnya menggigil.
“Babe..” Juan berusaha menghalau tangan Gianna dari tubuhnya. “Kamu gak capek apa?”
“Loh aku belum sempet kontolin kakak karena kamu gak sabaran hari ini.” Gianna menepis tangan Juan, tangannya yang semula bermain di dada Juan kini beralih memompa penis Juan. Tangannya dengan telaten kembali menarik atensi Juan untuk fokus kembali kepadanya.
Juan membiarkannya, terlampau lelah mengikuti permainan gila Gianna. Berbanding terbalik dengan Gianna yang kini setengah bangkit di atas kasur, memposisikan kepalanya di atas penis Juan yang mengacung tegak meskipun telah mencapai orgasme nya barusan. Hidungnya tepat berada di depan kepala penis Juan, membiarkan wajahnya tertampar beberapa kali karena ia sengaja memijat batang penis Juan di hadapannya. Tubuh Gianna tepat berada di atas Juan dengan tubuh belakangnya menghadap di wajah yang lebih besar. Juan terlampau lelah hingga ia hanya diam di tempatnya, kedua tangannya menahan tubuh mungil kesukaannya agar tidak jatuh.
“Gi..” Juan mendesah ketika hangat mulut Gianna menginvansi penisnya. Tubuhnya bergejolak, ia menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga ketika tak hanya mulut gadis itu yang bekerja di bawah sana, namun juga tangannya yang kini sibuk memainkan butt plug. “Mnhh..”
Kepala Gianna bergerak naik turun dengan bebas dengan penis Juan di dalam mulutnya, lidahnya mengitari batang keras tersebut sembari menghisapnya hingga pipinya menirus. Tangannya yang bebas bermain di sekitar selangkangan Juan, memijat dan memompa sisa batang Juan yang tak bisa ia masukkan ke dalam mulutnya sedangkan satunya berusaha mengeluarkan dan memasukkan butt plug di anal Juan dengan sedikit asal. Gianna dapat merasakan tubuh di bawahnya bergetar dan bereaksi terhadap rangsangan yang ia berikan, ia tak masalah, justru reaksi natural Juan malah membakar dan membuat nafsunya semakin berkobar.
Kepala penis Juan berulang kali terantuk ujung tenggorokannya hingga membuat gadis itu beberapa kali kesusahan mengatur napas dan temponya.
“Mnhh..” Juan meremat paha Gianna dengan kedua tangannya hingga jemarinya memutih ketika gelombang sialan itu kembali menghampiri dirinya. “Stop.. Gi, please.”
Entahlah, Juan tak mengerti akan dirinya sendiri.
Ia berkata stop namun tubuhnya bergerak berlawanan dengan perkataannya. Pinggulnya menghentak hingga ia bersumpah ia dapat merasakan sensasi geli dari rambut Gianna mengenai pahanya beradu dengan kecipak basah dari mulut Gadis itu. Gianna melepas butt plug dari lubang Juan, namun masih senantiasa mengemut penisnya bak itu adalah permen kesukaannya. Lidahnya bekerja bak professional, begitu pula dengan mulut dan juga tangannya yang semakin membuat Juan terbang.
Hentakan pinggul Juan yang berantakan malah membuat Gianna tersenyum dan mendesah—yang mana semakin memojokkan Juan karena getarannya mengenai penisnya secara langsung—dengan sengaja. Ia begitu menikmat kegiatan ini—mengerjai Juan.
“Gi, I'm close—fuck, Gianna!” Juan memekik, matanya terbuka ketika Gianna melepaskan cengkeraman penisnya. Tak ada lagi hangat dari mulut ataupun tangan Gianna di saat lelaki itu mendamba sentuhannya. “Oh, fuck. Come on!”
Gianna terkekeh, ia bangkit dari posisinya lalu mengambil sebuah dildo berwarna merah muda. Bibirnya mengerucut ketika melihat perubahan suasana hati dan ekspresi Juan di hadapannya, begitu hancur dan, ah sialan, Gianna kembali turn on.
Gianna kembali duduk di atas tubuh Juan, “Jilat.”
Juan menghela napasnya dengan malas, mau tidak mau membuka mulutnya karena Gianna dengan sengaja mendorong mainan tersebut tiap kali ia berusaha menghindar. Dingin yang terpancar dari mainan tersebut membuat Juan mengernyit, ia berusaha menyampaikan sesuatu namun yang keluar hanyalah rentetan kalimat tak jelas yang teredam karena mulutnya tersumpal.
“Jangan digigit gitu, Kak! Aku gak pernah gigit kontol kamu ya, by the way. Mau aku gigit?” Sentaknya ketika melihat Juan menggigit dildo tersebut.
Mendengar hal tersebut, Juan meringis. Ia menyadari kesalahannya dan mulai menjilati mainan tersebut dengan mengikuti cara yang biasa Gianna lakukan kepadanya. Meskipun ia sedikit kesusahan namun Juan perlahan namun pasti mulai menemukan temponya. Gianna menarik tangan Juan yang bebas untuk memegangi mainan tersebut, membuatnya seakan Juan sedang benar-benar memberikan blow job paling handal untuk dirinya. Sedangkan tangan Juan yang bebas ia tarik kembali untuk bermain di dadanya, membiarkan jemari terlatih Juan untuk memainkan putingnya yang masih mengacung.
“Kak.. Mnnhh.. Good boy..” Desahannya tak beraturan, sama seperti tangannya yang kini merojoki mulut Juan—fucking his mouth using her dildo as if it were her dick.
Gianna semakin menggila, ia beralih dari atas tubuh Juan, tak memperdulikan tatapan penuh tanya yang ikut Juan layangkan terhadap dirinya ketika gadis itu meraih sebuah strap yang sempat ia letakkan di atas meja. Gianna memakainya dengan terburu-buru, sedikit tak sabar karena ia sudah kepalang turn on ketika membayangkan bagaimana mainan tersebut menyetubuhi Juan di bawahnya.
“Enough.” Gianna mengambil mainan tersebut dari mulut Juan, memasangkannya di sisi kosong strap tersebut sebelum matanya memberi sinyal kepada Juan untuk kembali berbaring dan membuka kakinya.
Juan lagi-lagi menurut, toh tak ada yang bisa ia lakukan di saat seperti ini karena melawan pun percuma. “Promise you’ll—Gi, pelan-pelan..”
Kalimatnya terputus ketika lubangnya dimasuki sesuatu yang asing. Bertahun-tahun ia hidup sebagai laki-laki, ini merupakan kali pertama lubang analnya dimasuki oleh sesuatu. Sensasi asing dan tak nyaman membuatnya bergerak di atas kasur, bermaksud mencari posisi yang membuatnya nyaman.
“Kak, relax..” Gianna menepuk paha dalam Juan, memberikan kalimat penenang bagi Juan yang masih kesakitan di bawahnya. “Relax, Kakak. You'll hurt yourself, Kakak sayang.”
“Anjing, Gi.” Kedua kakinya yang terbuka lebar seakan berubah menjadi jeli tiap kali Gianna berusaha mendorong masuk dildo tersebut. “Anjing, sakit!”
“Kak..” Gianna berusaha memperingati Juan namun Juan tak mengacuhkannya, ia masih fokus pada rasa sakitnya. “Kak,” serunya lagi, kali ini suaranya sedikit tegas.
Namun Juan masih enggan mendengarnya.
Bagian bawahnya terasa begitu ngilu saat benda asing itu memaksa melebarkan otot-ototnya yang terasa kaku. Semakin Gianna memaksa melesak masuk, semakin sakit dan violent pula tubuhnya dalam merespon. Juan tak mengerti—dan tak mau tahu juga—bagaimana Gianna memasukkan benda tersebut di bawah sana. Kepalanya terasa pusing dan napasnya memberat tiap ia fokus pada rasa sakitnya. Tenang katanya? Bagaimana bisa Juan tenang di keadaan seperti ini. Tubuhnya terasa di paksa membelah dengan sesuatu yang tumpul. Ia merasa ngilu yang teramat sangat hingga rasanya ia yakin ia takkan mampu berjalan untuk besok.
Juan mengejang, berusaha menolak benda asing tersebut namun ditahan oleh tangan Gianna yang kini menahan kedua tangannya. “Gianna, lepas.”
Juan mendongak dan menatapnya marah, giginya bergemelatuk ketika menangkap raut wajah bingung di wajah Gianna. “Gianna, I said lepas.”
“Aku tadi, ‘kan udah bisa relax, Kak. Itu juga—”
“Lepas dulu bisa gak?” Juan tak berteriak, namun ia berbicara menggunakan suara lower registernya yang mau tak mau membuat Gianna merinding sehingga gadis itu melepaskan tangan Juan.
Kedua tangannya berpangku di atas paha Juan, “Aku tadi udah bilang—”
“Bisa diem dulu gak?”
Gianna menciut.
Juan memijat pelipisnya yang mendadak semakin pusing hingga matanya sedikit memburam. Ia tak sadar ia kehilangan kontrol atas dirinya sendiri hingga berakhir marah seperti ini—sesuatu yang sangat jarang hingga hampir tak pernah kejadian di saat seperti ini. Namun Juan menyanggah bahwa responnya adalah wajar dan normal karena tubuhnya benar-benar tak berdaya.
Juan melupakan satu hal.
Gadis itu tak pernah mengerti anal sex sehingga wajar saja jika ia melakukannya seperti yang biasa Juan lakukan kepadanya. Bisa dibilang, Gianna sedikit inexperienced jika berbicara tentang anal sex karena gadis itu juga belum pernah mencobanya.
Namun kini Juan yang menjadi kelinci percobaannya.
Ingatkan Juan untuk membalas gadis itu dengan sesuatu yang lain.
“Did you know you just ripped me off, Gianna?”
Gianna menggaruk tengkuknya, ia sedikit kelabakan ketika Juan menatapnya lekat-lekat. “I swear, aku udah ikutin tutorialnya kok, Kak. Cuma aku gak tau bakal sesusah ini..” cicitnya di akhir kalimat.
“Tutorial liat di mana?”
“Google?” jawabnya dengan nada tak yakin.
“Good gracious, not even a video tutorial one, Gianna?” Juan menjambak rambutnya dengan tangan kanannya, ia merasa pusing.
Gadis itu benar-benar hampir mengirimnya ke rumah sakit terdekat dan respon yang ia terima hanyalah sebuah gelengan kepala, diikuti dengan kata maaf yang ia katakan dengan begitu pelan.
“Let me..” Juan memotong kalimatnya dengan hembusan napasnya. “Biar aku saja sini.”
“Tapi aku mau—”
“If you want to see me lying on the hospital bed then you're more than welcome to do so.”
Gianna mencebikkan mulutnya mendengar sarkasme yang jarang keluar dari mulut Juan. Kedua bibirnya melengkung ke bawah ketika mendengarnya sehingga ia mau tak mau menyerahkan dildo tersebut ke tangan Juan. Beberapa menit setelahnya hanya terdengar suara hembusan napas teratur milik Juan sebelum ia perlahan memasukkan mainan tersebut, merasa kesusahan ia mulai mengatur posisinya hingga kini ia tak lagi terlentang.
Di posisi barunya yang sedikit tak nyaman dan sedikit awkward ini, Gianna memperhatikan bagaimana tangan Juan perlahan mendorong mainan tersebut secara perlahan. Sangat pelan hingga Gianna bersumpah ia hampir tak melihat perbedaan jarak yang terjadi di antara dorongan tersebut. Dalam hati ia meringis, Juan hampir saja ia kirim masuk ke ruang operasi karena kelalaiannya yang kurang riset ketika bermain. Sedangkan lelaki tersebut berusaha mati-matian untuk mendorong mainan tersebut, beberapa kali berhenti demi menyamankan rasa sakit yang kini telah membuatnya terbiasa serta membiarkan tubuhnya secara alami terbiasa akan benda asing tersebut.
Gianna memberikan usapan lembut di sekitar paha Juan, membantunya tenang ketika beberapa kali mendengar Juan meringis—entah karena rasa sakit atau rasa nikmat. “You did well, Kakak. You're taking me so well from here.”
Juan berhenti bergerak, ia menatap Gianna. “Seriously?”
“Apasih, emang gak boleh ya aku bilang gitu? ‘Kan aku mau kontolin Kakak.”
Juan menghela napasnya, tak membalas ucapan Gianna lebih lanjut. Beberapa menit setelahnya ia berhasil memasukkan seluruh batang penis imitasi tersebut di dalam dirinya. Wow, rasanya teramat sangat aneh dan asing.
Juan meneguk ludahnya, “What comes after this?”
“Hmm…” Gianna tak menjawab namun dengan cepat memasangkan kembali dildo tersebut ke strapnya dengan mendekatkan tubuhnya ke tubuh Juan. “I fuck you..?” Jawabnya dengan sedikit tak yakin.
“Oh my goodness, Gianna!”
“Just kidding, baby.” Gianna mengecup bibir Juan, cengiran bodohnya terukir di wajahnya. “But honest to blog though, I'm gonna fuck you real good.”
Lipatan di dahinya menjadi jawaban yang dapat Juan utarakan ketika mulutnya terlampau lelah menjawab kalimat Gianna.
“Boleh aku gerak?” Gianna bertanya hati-hati, kedua tangannya kembali menemukan titik favorite nya di paha Juan.
Juan menganggukkan kepalanya, sedikit tak yakin namun melihat Gianna yang mendadak menjadi lembut seperti ini membuatnya merasa campur aduk. “Pelan-pelan, sayang.”
Tubuh mungilnya terpenjara di antara dua kaki Juan yang terbuka lebar, tangan Gianna menyangga dirinya di atas kasur sembari menggerakkan pinggulnya secara perlahan. Tangannya sesekali mengusap paha dalam Juan dengan lembut ketika alis Juan menukik menahan rasa sakit atau rasa tak nyaman yang muncul. Sesekali ia juga memainkan penis Juan yang kini mengacung dan bergoyang di hadapannya, memberikan batang kesayangannya itu sebuah pijatan lembut hingga sang pemilik menggeram karena rasa nikmat.
“Enak, Kakak?” Gianna menghentak lebih dalam, gerakannya pelan namun berhasil mendorong dildo tersebut untuk singgah di dalam Juan. “Aku mentokin gini, enak?”
Kalau boleh jujur, ujung mainan tersebut tak sampai menyentuh titik terdalamnya. Sepertinya gadis itu salah mengambil ukuran dildo, mungkin karena terlalu serampangan dan minim persiapan. Juan tak mempermasalahkannya, ia hanya menganggukkan kepalanya. Separuh jiwanya berusaha mengikuti permainan Gianna sedangkan separuh lainnya berharap ini semua cepat berakhir.
Tidak saat Gianna mulai menemukan ritmenya.
Oh, Juan melayang.
Penisnya kembali dibanjiri precum yang keluar tiap kali dildo tersebut mengenai prostatnya.
Tubuhnya mengejang menerima gerakan Gianna yang terlampau cepat—tak secepat dirinya memang, namun untuk ukuran tubuh mungil seperti Gianna, Juan beranggapan gerakan Gianna sudah cukup cepat.
“Kak Juanmnhh.. Enak banget kontolin Kakak kaya gini..” Gianna mendesah, ia menirukan bagaimana Juan tiap kali mengoyak kehangatannya.
Gadis itu juga menirukan gerakan dan ritme yang biasa Juan gunakan, pinggul mungilnya terantuk dengan selangkangan Juan yang kini sedikit basah. Tangan Gianna berkali-kali meremas penis tersebut sembari menatap Juan dari posisinya sekarang. “Kakak.. You're so breathtakingly cute..”
Cute apanya, Juan membatin.
Jika maksudnya adalah gambaran kedua tangannya memilin sprei kasur yang semakin tak terbentuk, ditambah kedua kakinya yang gemetaran karena berusaha untuk tidak menumpukan berat tubuhnya pada Gianna, dan bayangan bagaimana matanya terbuka dan tertutup secara cepat tiap kali prostatnya ditumbuk oleh penis imitasi tersebut adalah cute, maka Juan akan memikirkan ulang semuanya.
“Faster, sayang..” Juan meminta, setengah teler dan sakau karena gerakan brutal Gianna di penisnya.
“Yang mana?” Namun Gianna tetaplah Gianna.
Gadis itu menargetkan lubang di kepala penis Juan yang kini semakin lapar menerima tiap rangsangan jemarinya, menutupnya dengan ibu jari sebagai usaha menutup lelehan cairan precum yang keluar dari sana.
“Kontolnya? Atau yang mana, Kakak?” Ia bertanya sembari mempercepat pergerakan pinggulnya.
“Dua-duanya, sayang.”
“Aww cute,” Gianna mengatakannya dengan nada manja yang dibuat-buat. “But you didn't say the magic word, so, no.”
Pupus sudah harapan Juan.
Gigi Juan bergemelatuk, “Gianna, sumpah I’ll make sure nanti aku bikin kamu nangis-nangis keenakan aku entotin.”
Gianna mengendikkan bahunya tak acuh, “Try me.”
Bak orang kesetanan, Juan meracau dan bergerak tak tentu arah di bawah dominasi Gianna. Gadis itu lagi dan lagi melambatkan seluruh rangsangan di tubuh Juan sehingga sang kekasih kini berusaha mati-matian mengejar surga duniawinya dengan perlahan menghentakkan pinggulnya yang langsung diberikan tamparan oleh Gianna di pahanya.
“Siapa yang bilang kamu bisa gerak?” Gianna kembali menampar selangkangan Juan hingga kulitnya memerah karena Juan masih memaksa bergerak.
Kedua pahanya kini nampak bercak kemerahan karena gadis itu memukulnya berkali-kali, tak hanya di sana namun juga di paha luar Juan ketika lelaki itu masih senantiasa melawan Gianna.
“I said stop.” Gianna menampar penis Juan, tidak sekali namun beberapa kali hingga Juan merasa sesuatu keluar dari matanya.
Ia menangis.
Sesuatu yang hampir tidak pernah terjadi saat mereka berada di ranjang namun kali ini Gianna berhasil membuat Juan menyadari bahwa Giannalah yang mampu mengontrol dan mengintimidasi Juan di atas ranjang.
Juan tak kuasa untuk tak menangis karena dirinya benar-benar sudah diujung. Penisnya begitu sakit karena menahan gejolak nafsu yang mampet di ujungnya, ditambah tamparan tak manusiawi dari tangan Gianna yang semakin membuatnya merasa terpojok. Gianna memang menyukai edging dan di-edging, namun gadis itu kadang suka lupa jika ia berhadapan dengan seorang manusia dan bukan sebuah boneka.
Juan mendongak, membuka matanya dan memegang kedua tangan Gianna. “Please, please let me cum.”
“Aww, my baby knows how to beg.” Gianna menepis tangan Juan dalam satu sentakan. “So cute. My big boy knows how to beg.”
Sebuah tepukan singkat nan menenangkan ia terima di pahanya, seakan ia sedang diberikan penghargaan karena bertingkah baik. Juan tak mampu bersuara. Ia terlampau pent-up untuk sekedar merespon sehingga yang bisa ia lakukan hanyalah menyebut kata ‘please’ tiap ia membuka mulutnya, berharap Gianna akan mengabulkannya.
Gianna mengabulkannya beberapa waktu kemudian, setelah ia bosan dengan stunt yang ia dan Juan lakukan.
Maka dari itu, kedua tangannya memegang pinggang Juan dengan erat lalu mulai menghentakkan pinggulnya dengan cepat. Wajah menangis Juan di bawahnya membuat tubuhnya semakin memanas. Beberapa hentakan selanjutnya, diiringi dengan hand job asal yang gadis itu berikan, Juan menjemput kembali pelepasannya. Beberapa membasahi tangan Gianna dan paha Juan dan beberapa menggenang di perut Juan.
“So good for me.”
Juan tak lagi peduli akan hal yang terjadi selanjutnya. Ia memejamkan matanya membiarkan dirinya menikmati sisa-sisa romansa yang tersisa. Matanya seperti enggan terbuka dan kepalanya seakan berputar meskipun ia telah dalam posisi terlentang. Juan lelah, terlampau lelah hingga yang ingin dilakukan hanyalah tidur.
Tak berselang lama, Gianna menarik lengan kirinya lalu meringsek masuk ke dalam pelukan Juan. “I love you, Kakak. My good boy, my love.”
Senyum simpul nya terbit ketika Gianna memberikan shower kiss di sekitar wajahnya. Kedua tangannya menarik tubuh mungil itu semakin dalam ke pelukannya, ia juga tak lupa memberikan kecupan panjang di bibir Gianna. Kecupannya berubah menjadi kecupan singkat namun berulang di bibir dan wajah Gianna.
“I love you, too. Tidur aja ya, sayang? Capek banget. Hari ini gila banget.” Juan menekankan kata ‘gila’ dalam kalimatnya barusan.
Kepalanya ia sandarkan di ceruk leher Gianna sembari menghindu aroma tubuh sang kekasih, membiarkan hangat napas keduanya saling bertabrakan di kulit masing-masing.
