Chapter Text
Sebulan bekerja di tempat ini cukup membuat Hanjin nyaman, rekan kerjanya memperlakukan orang baru sepertinya dengan begitu baik.
Gaji pertamanya pun telah ia dapatkan yang di mana sangat mengobati trauma dari tempat kerja lama yang memberi upah tidak sesuai kinerja yang dikeluarkan.
Hanjin rasa bisa berada di tempat ini untuk waktu yang lama.
Namun entah mengapa seminggu ini ada sesuatu yang membuatnya merasa aneh.
Tidak biasanya ia terganggu dengan feromon orang lain, semua feromon terasa biasa saja di indra penciumannya.
Namun secara tiba-tiba ia seperti mengenali sebuah feromon asing yang muncul di antara feromon lain. Terasa lebih pekat dan menganggu, bukan dalam artian buruk, hanya saja Hanjin rasa tubuhnya sedikit bereaksi pada feromon asing ini.
Hanjin tidak tahu siapa dan mengapa bisa tiba-tiba membuat dirinya begini.
Itu yang membuat Hanjin merasa aneh akhir-akhir ini, yang tidak bisa ia sampaikan karena masih merasa tidak enak kepada rekan kerjanya yang lain.
Selama enam tahun setelah second gendernya terungkap, Hanjin bahkan tidak bisa tertarik secara fisik kepada lawannya.
Hanjin seorang omega, tidak bisa menjalin hubungan kepada alpha dan beta manapun. Di saat teman-temannya yang lain mulai mencari mate, Hanjin tidak bisa melakukan itu.
Pernah ia coba lakukan, tetapi fisiknya tiba-tiba merasa sakit seperti menolak. Jadi Hanjin putuskan untuk menunggu takdir dari moon goddess saja, walaupun tidak tahu kapan.
Hanjin pun bekerja selama seminggu ini dalam perasaan tidak nyaman, yang membuatnya terpaksa meneguk supressant setengah dosis yang ia harap bisa membantu sedikit meredakan. Untungnya memang membantu.
"Selamat pagi, tuan Dohoon."
Jeemin, sang supervisor itu tersenyum ramah kepada seorang pria yang masuk ke dalam ruangan kerja berisikan tujuh orang itu.
Semuanya ikut menoleh melihat kedatangan pria itu termasuk Hanjin.
"Ku kira tuan sudah lupa dengan ruangan ini," celetuk Woonhak.
"Tidak mungkin aku lupa dengan ruangan yang ada Woonhak di dalamnya," jawab pria yang dipanggil Dohoon itu.
"Yow, emang sudah seharusnya begitu," balas Woonhak dengan telunjuk yang mengarah pada Dohoon agar kesannya hip-hop.
Dua pria itu pun tertawa kecil dan yang lain hanya tersenyum melihat interaksi itu.
"Yang mana anak barunya?" tanya Dohoon kepada Jeemin.
"Oh! Hanjin!" Jeemin memberi isyarat agar Hanjin berdiri dan memperkenalkan diri kepada pria berposisi lebih tinggi itu.
"Selamat pagi, tuan Kim. Nama saya Hanjin, saya akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini," ujar Hanjin memperkenalkan diri sambil membungkuk sopan.
"Jangan panggil marga, panggil nama saja," pinta Dohoon.
"Baik, tuan Dohoon," ucap Hanjin sekali lagi membungkuk hormat.
Dohoon mengangguk sambil tersenyum lalu Hanjin kembali duduk untuk melanjutkan pekerjaannya.
Lalu semuanya kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing seperti Dohoon yang menuju meja Jeemin untuk membicarakan hal penting.
Hanjin tidak tahu hal penting macam apa yang sedang dibicarakan itu, nyatanya ia sedang tidak terlalu fokus sekarang.
Karena wangi feromon asing yang dari kemarin mengganggunya itu benar-benar terasa amat sangat pekat sekarang.
Kepala Hanjin sedikit pusing.
Tidak mungkin ini feromon Tuan Dohoon, kan?
✧*。
Suara rebusan air yang mulai mendidih di dalam teko listrik itu lah yang membantu malam ini agar tidak begitu sunyi.
Hanjin menunggu air panasnya siap dalam lamunan kosong. Matanya menatap kantung teh yang berada di dalam cangkir, sedangkan pikirannya seperti burung yang terbang ke sana ke mari tidak tahu harus bertengger pada topik apa.
Benar-benar kosong.
"Hanjin, tekonya sudah mati dari tadi."
Suara wanita tua dari belakang tubuhnya sedikit mengagetkan Hanjin, ia langsung melirik teko listrik yang ternyata lampu indikatornya memang sudah mati.
Air panas yang sudah siap itu pun dituangkan Hanjin ke dalam cangkir berisi teh kantung yang sudah dipegangnya sejak awal.
"Ibu baru pulang?" tanya Hanjin sembari mengaduk tehnya.
Wanita tua yang sedang merapikan isi kulkas itu mengangguk, "syukurlah, anak-anak lebih gampang tidurnya dibanding kemarin malam. Haewon bisa bernapas lega akhirnya bisa tidur lebih cepat."
Hanjin tertawa kecil, "aku jadi rindu ke panti dan membantu menidurkan mereka."
"Kapan-kapan saja, nak. Sekarang fokus bekerja saja. Bagaimana hari ini kerjanya?" tanya ibu.
"Sama seperti kemarin, mengetik semua laporan pemasukan harian. Itu-itu saja pekerjaanku sampai lima bulan ke depan," jawab Hanjin.
"Tetapi masih lebih baik daripada kerja mengangkut barang berat itu, kan?"
"Perbandingan yang sangat jauh, ibu..."
Wanita tua itu tertawa kecil melihat raut wajah Hanjin, terlihat sangat trauma dengan pekerjaan berat berupah kecil yang dijalaninya sebelum ini.
Bahkan Hanjin hanya bertahan dua bulan di sana, saking tidak kuatnya bekerja seperti itu.
"Oh iya,stok supressant sudah ibu isi lagi ya di kotak obat. Heatmu sebentar lagi kan?"
Hanjin mengangguk, "mungkin sekitar semingguan lagi."
"Baiklah, taruh juga di tas kerjamu. Untuk jaga-jaga," titah sang ibu membuat Hanjin kembali mengangguk.
Wanita tua itu pun pamit pada Hanjin untuk naik ke atas dan masuk ke kamar lebih dulu, sepertinya begitu lelah dan ingin cepat tidur.
Sedari pagi sudah berangkat ke panti asuhan untuk memasakkan anak-anak asuh sarapan, lalu mengurusi mereka hingga malam hari.
Kegiatan yang sudah dilakukan ibunya selama lebih dari dua puluh tahun.
Hanjin adalah salah satu anak asuh panti yang kini dirawat secara pribadi oleh wanita itu.
Anak-anak yang sebaya dengan Hanjin dulu semuanya telah diangkat oleh keluarga baru, hanya Hanjin yang tidak pernah kedatangan tamu yang mau jadi orang tua angkatnya.
Jadi salah satu ibu asuh di panti itu lah yang membawa Hanjin tinggal di rumahnya, sedikit kasihan karena Hanjin sudah tidak punya teman sebaya yang bisa diajak bermain. Anak asuh yang ada semuanya masih anak balita waktu itu.
Sekarang Hanjin sudah punya banyak teman setelah bersekolah di sekolah umum dan bekerja di berbagai tempat.
Walaupun sampai sekarang belum menemui matenya sama sekali. Hanjin bingung harus memulai dengan siapa dan bagaimana lagi, rasanya ia belum boleh bertemu siapa-siapa walaupun katanya ini usia paling cocok untuk mencari mate.
Rasanya raga Hanjin menolak siapapun yang mau dekat ataupun ia dekati.
Kalau kata Anxin—teman sekolahnya yang masih akrab sampai sekarang—hal seperti itu hanya akan terjadi ketika sudah marking pada kelenjar di tengkuk leher dengan mate mereka.
Mereka yang belum pernah marking di sana sama sekali masih bebas menentukan mate sendiri.
Namun siapa memang yang pernah menggigit tengkuk Hanjin? Siapa yang pernah marking dengannya?
Hanjin tidak tahu, rasanya ia tidak pernah begitu. Bahkan setelah second gendernya terungkap, teman-teman Hanjin hanya sebatas omega dan alpha wanita saja.
Sedikit alpha pria yang Hanjin kenal dan semuanya telah memiliki mate masing-masing.
Jadi siapa yang pernah marking dengannya?
