Chapter Text
Mitos kuno selalu menceritakan Nakula dan Sadewa sebagai sepasang kembar tak terpisahkan yang dilahirkan untuk saling melengkapi. Namun, bagi Sadewa Sagara, menjadi saudara kembar dari Nakula Nalendra adalah sebuah takdir komedi paling getir yang pernah ditulis oleh semesta. Mereka berbagi wajah yang hampir identik, struktur rahang yang sama tegasnya, dan sepasang mata yang serupa. Kemiripan fisik itu sering kali membuat orang asing keliru membedakan mereka. Namun di balik cangkang luar yang serupa, Sadewa tahu bahwa orbit kehidupan mereka bergerak ke arah yang bertolak belakang.
Nakula adalah perwujudan dari keteraturan langit malam. Sebagai mahasiswa astronomi tingkat akhir, ia adalah manusia yang mengukur hidupnya dengan kepastian matematika dan presisi pergerakan kosmos. Kamarnya selalu rapi, buku-bukunya disusun berdasarkan klasifikasi sistem desimal Dewey, dan ia selalu tahu persis letak konstelasi bintang terkecil di belahan langit utara. Sebaliknya, Sadewa adalah kekacauan arsitektural yang berjalan. Kamar tidurnya dipenuhi gulungan kertas kalkir, potongan maket balsa yang berserakan, dan noda cat akrilik yang menempel di lantai. Sadewa adalah impulsivitas; ia menggambar kapanpun inspirasi datang, sering kali melupakan makan, tidur, dan kewajiban manusia normal lainnya.
"Sadewa! Demi ribuan meteor yang terbakar di atmosfer, berapa kali aku harus bilang jangan taruh penggaris kamu di atas meja makan?!" Lengkingan suara Nakula memecah keheningan apartemen lantai empat mereka di suatu sore yang mendung. Nakula berdiri menunjuk sebuah penggaris akrilik panjang yang tergeletak di samping piring buah berisi apel.
Sadewa yang sedang tiarap di karpet ruang tengah, sibuk mengikis pinggiran maket dengan cutter, hanya bergumam tanpa menoleh. "Cuma sebentar, Kula. Meja kerja saya penuh sama lem Fox yang belum kering. Jangan lebay deh, itu penggaris bersih kok, nggak ada kumannya."
"Ini bukan masalah kuman, Sadewa! Ini masalah zonasi! Meja makan untuk makanan, meja kerja untuk sampah arsitektur kamu itu!" Nakula mendengus kencang, melangkah mendekat lalu memungut penggaris tersebut dengan gerakan dramatis. Ia duduk di sofa tepat di atas Sadewa, menjatuhkan tubuhnya dengan helaan napas yang terdengar sangat lelah.
Sadewa menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia membalikkan tubuhnya hingga kini terlentang di atas karpet, menatap langit-langit apartemen, lalu menoleh ke arah saudara kembarnya. Dari sudut pandang ini, ia bisa melihat betapa miripnya wajah mereka, namun ia juga tahu ada garis kelelahan yang berbeda di mata Nakula. Belakangan ini, Nakula sering kali melamun menatap layar laptopnya, menghapus baris-baris kode kalkulasi data teleskop dengan frustasi.
"Gimana perkembangan bab empat kamu?" tanya Sadewa pelan, berusaha mengalihkan topik sebelum Nakula menceramahinya lebih panjang tentang manajemen ruang ruang domestik.
Nakula menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Gagal terus. Data fotometri yang aku ambil dari observatorium minggu lalu meleset. Kurva cahayanya berantakan banget. Dosen pembimbingku bilang kalau aku nggak bisa nemuin variabel kesalahannya dalam dua minggu, sidangku bakal diundur semester depan." Suara Nakula meredam di balik tangannya, terdengar begitu rapuh dan penuh tekanan.
Melihat itu, rasa hangat sekaligus sesak yang familier merayap di dada Sadewa. Ini adalah rahasia terbesar yang ia simpan rapat-rapat sejak mereka menginjak usia remaja. Di dalam ikatan darah sebagai saudara kembar, Sadewa telah melewati batas terlarang. Ia tidak tahu sejak kapan perasaan itu bermutasi. Mungkin sejak malam di tahun pertama kuliah ketika orang tua mereka memutuskan untuk bercerai secara sepihak dan menghilang ke kehidupan baru masing-masing, meninggalkan mereka berdua untuk bertahan hidup di kota asing ini. Di malam yang dingin itu, ketika Nakula menangis hingga sesak napas di pelukannya, Sadewa menyadari bahwa ia tidak lagi memandang Nakula hanya sebagai seorang adik kembar. Ia menginginkan Nakula sebagai rumahnya, sebagai belahan jiwanya dalam artian yang paling intim.
Namun, bagaimana mungkin seorang kakak menyatakan cinta pada adik kembarnya sendiri tanpa menghancurkan dunia yang mereka tinggali? Skenario romcom klasik mana pun tidak pernah menyiapkan solusi untuk cinta sedarah yang tabu ini. Jadi, Sadewa memilih untuk menjadi badut. Ia memilih untuk membungkus perasaannya dalam balutan gurauan kasar, ejekan sehari-hari, dan peran sebagai pelindung yang siap siaga.
"Makanya, otak kamu jangan isinya angka doang," sahut Sadewa sambil bangkit duduk dan menyenggol lutut Nakula dengan sikunya. "Bintang juga capek kalau dihitungin terus sama kamu. Sekali-kali ajak mereka ngobrol, nanya kabar, jangan cuma dicari magnitudo mutlaknya."
Nakula menurunkan tangannya dari wajah, menatap Sadewa dengan tatapan jengkel yang lucu. "Bintang itu bola gas raksasa yang jaraknya ratusan tahun cahaya, Sadewa. Mereka nggak punya perasaan."
"Tapi kamu punya," balas Sadewa cepat, tatapannya mengunci mata biru kembarannya selama satu detik yang terasa sangat panjang, sebelum ia buru-buru berdiri dan merebut apel dari piring di meja. "Saya mau beli kopi Famima. Kamu mau titip nggak? Biar otakmu yang kaku itu agak rileks sedikit."
Nakula terdiam sejenak, memandangi punggung Sadewa yang melangkah menuju pintu. "Aku mau KSK. Esnya sedikit aja ya"
"Siap, Bos Astronomi!" Sadewa melambaikan tangannya tanpa berbalik, buru-buru keluar sebelum gemuruh di dadanya terdengar oleh Nakula.
Di koridor apartemen yang sepi, ia bersandar pada dinding semen yang dingin, meremas dadanya sendiri. ‘Bisa gila kalau lama-lama kayak gini,’ batinnya getir.
