Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-06-11
Words:
1,709
Chapters:
1/1
Hits:
7

jodoh akal-akalan neraka

Summary:

Aku sih suka kamu. Tapi, eh, enggak tahu kalau kamu. kamu sih, pakai tidak tahu segala.

aku yang suka kamu ini rasanya asing. kalau jatuh cinta itu harusnya mudah dan menyenangkan, tapi kenapa aku malah marah dan khawatir?

Work Text:

I have wrought my simple plan

If I give one hour of joy

To the boy who’s half a man

Or the man who’s half a boy


 

Adalah paragraf pertama pembuka, lebih tepatnya semacam persembahan, dari buku The Lost World. Halaman bukunya menguning, ada bercak kecoklatan, pula sampul buku dengan ilustrasi yang tidak terlalu sesuai dengan keinginan masyarakat kekinian. Bulan menemukannya di antara sketsa bangunan di dalam tas Timur, membalik halamannya, lalu membaca judul bab pertama : There Are Heroisms All Round Us.

Untuk sejenak, Bulan berpikir. Lelaki itu beranggapan bahwa Timur mirip dengannya—penuh kalkulasi, kritis, logis. Tentu, Bulan juga membaca buku humaniora. Prinsip yang paling sering dia gunakan dalam kultus ialah Illusory joy is often worth more than genuine sorrow. Memahami bagaimana cara pikir seseorang dan mengantisipasi tindakan tersebut juga bagian dari bagaimana Bulan hidup.

Akan tetapi, Timur membaca fiksi untuk berempati.

Sepertinya. Hal ini masih dalam hipotesis milik Bulan, belum sepenuhnya terpecahkan sebelum dia betulan bertanya. Ada beberapa hal yang membuatnya ragu; Timur terlalu emosional untuk seseorang yang rasional, namun terlalu dingin untuk dibilang afektif. Satu atau dua minggu, paling lama satu bulan, adalah waktu yang cukup agar Bulan mencapai satu konklusi kepribadian dari seseorang. Ini sudah enam bulan dan, sudah 3 kali dia berhubungan badan saling menyatukan dan mendominasi, Bulan masih meraba-raba jawaban dari pertanyaan pertamanya; kenapa.

Lalu, sepasang mata itu terbuka.

Biru. Sangat sangat biru. Biru cerah yang pekat, juga terang. Layaknya langit yang menaungi warga sipil tanpa rasa bersalah. Bulan menarik napas pelan. Langit biru berbeda yang dilihatnya. Masih mengantuk, masih berbayang kesadaran. Sepasang biru mata Timur menatap Bulan lambat, kemudian terpejam lagi. Dia bergerak pelan dan membuat seprai kusut sebelum menyapa dengan malas, “Good morning.

Buku tulisan Sir Arthur Conan Doyle tidak jadi dia baca. “You’re early.”

“Kamu sebentar lagi mau berangkat kerja, ‘kan,” ucap Timur seraya mengerang. Dia belum beranjak dari posisi tengkurap, kepalanya ganti-gantian menghadap kiri dan kanan, mencari posisi agar suaranya terdengar sekaligus tidak sesak napas karena posisi tidurnya. “I can’t let you leave without a proper goodbye kiss.”

Bulan tidak bereaksi. Tidak kaget, tidak terkesiap, maupun tersipu malu. Hanya ada hening dan sepasang matanya yang mengamati. Timur bergerak lagi. Kali ini punggungnya ikut bergoyang, pula dengan helai rambut panjangnya. “Ah, apa sih.” Dia mengembus napas kasar. “Aku masih ngantuk.”

You’re being clingy because you haven’t kissed me yet,” kata Bulan, lebih mirip pernyataan daripada rayuan asmara.

Ada jeda, yang Bulan kira, selama sepuluh detik.

Punggung Timur naik-turun dengan stabil. Tak ada pergerakan mencari posisi, maupun argumen bantahan yang tetap akan dia lemparkan walau setengah sadar sekalipun. Semalam, dia masih bisa melawan balik Bulan di tengah gempuran puncak kenikmatan, berkata semacam Not even a deity like you can’t resist the temptation of lust, huh. Bulan tidak marah, karena dia bisa menghentak pinggulnya lebih agresif.

Timur tidur lagi. Bulan tidak bertanya selama sepuluh detik, karena kemudian, Timur bangun. Ada keengganan dari bagaimana dia bersuara dan melenguh. 

“Sana,” satu napas, “mandi.”

Baru bangun tapi sudah menyuruh-nyuruh. 

“Kalau aku enggak mau?” 

I like my personal space without you in it.

Tidak ada balasan dari rayuan Bulan sebelumnya. Sialan, tapi bagus. Bulan memang mulai mempertanyakan mulut manisnya apakah mulai menumpul. Atau mungkin, itu hanya tidak berlaku ke Timur saja.

Jadilah, Bulan bangkit dari ranjang. Buku The Lost World yang usang mengisi tempat kosong di kasur. Kaki-kakinya menyentuh lantai dingin, sementara kepalanya berasumsi seberapa sering Timur ke hotel ini sampai-sampai namanya tercatat dalam sistem hotel, dan dia yang seperti tidak terganggu dengan pendingin ruangan.

Ah, bukan urusannya.

Timur betulan sadar saat dia mendengar bunyi klik halus dan suara keran air yang dibuka. Helai-helai rambutnya jatuh di bahu dan membingkai wajahnya layaknya tirai kain. Lelaki itu mengembus napas panjang. Timur sangat sangat suka rambutnya, sampai-sampai ada peraturan tak tertulis dalam hubungan seks yang dia jual; kamu boleh berciuman dan bercinta dengannya selayak kekasih, maupun simpanan, tapi rambutnya harus tetap terkepang rapi.

Tubuhnya sudah tidak bergidik ngeri jika dipanggil sayang, cantiknya mas, mamah, adik kecil, jalang, tapi ini—Timur menarik napas lagi. “Bajingan,” umpatnya. Timur bisa saja dianggap ramah, tapi mulutnya tidak akan menahan makian. Seks dengan Bulan memang luar biasa—harus dia akui. Lelaki itu tahu kapan memberikan kendali, maupun memaksa Timur berada dalam kendalinya. Namun, acap kali mereka memutuskan untuk mereguk satu sama lain, Bulan selalu membuka kunciran jalinan rambut Timur, mengurainya secara perlahan ditengah ciuman, hingga tanpa sadar, helaiannya tergerai jatuh.

Timur mengerang lagi. Itu artinya, Bulan sangat terampil menggunakan jari-jemarinya.

Karena, ada bangle emas yang mengunci tiap empat atau lima jalinan kepang. Kalau dia betulan melepas seluruhnya, maka Bulan harus mengulang prosesnya sebanyak tiga kali.

Sepasang biru mata Timur melirik ke samping, tempat di mana Bulan tidur. Dia memaki lagi, “Bedebah betul.”

Buku The Lost World itu tidak seharusnya ada di situ. Tidak ada dokumen rahasia sebenarnya, maupun buku itu bukanlah sampul belaka yang melapisi kotak rahasia berisi senjata api. Timur hanya tidak suka; dia tidak suka jika pikirannya dibaca, maupun isi hatinya diprediksi. Mengetahui buku macam apa yang Timur baca adalah satu Langkah memahami isi kepalanya. Apalagi, untuk orang-orang seperti Bulan.

 Timur lebih suka dikenal, daripada diteliti.

Seperti seseorang yang dikenalnya. Seseorang yang menatapnya seolah kenal dan paham. Seseorang yang dibiarkan Timur untuk jatuh cinta padanya.

Ah. Timur mengembuskan napas. Dia mulai emosional lagi.

Mungkin kamu kesepian. Timur ingat kalau Bulan suatu waktu bilang begitu. Makanya kamu marah, makanya kamu tidak ingin meninggalkan jejak. Kamu ingin kesepian dan menenggak kesedihan itu sendiri sampai overdosis. Aku enggak akan mengambil kesedihan, kemarahan, maupun kesepian kamu. Kamu akan mati, tapi seenggaknya, aku mau melihat kamu mati dengan mata kepalaku sendiri.

Sunyi kamar hotel membuat Timur sempat berpikir bahwa melankolisme tidak cocok untuknya yang terbakar kemarahan. Timur beranjak dari kasur dan mulai menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. Lelaki itu duduk, lalu mengamati tubuh telanjangnya. Kulitnya gelap terbakar matahari dan untuk itu, dia yakin siapapun dan sebanyak apapun yang mencoba menjejaki, tanda kemerahan itu tak akan membekas, maupun mekar di kulitnya.

Kalaupun ada, dia lebih suka menyebutnya sebagai luka; sebagai bentuk kekerasan. Aku terantuk stang motor di parkiran kemarin adalah kebohongan yang lebih masuk akal dibanding menjawab, Aku menjual diriku.

Lalu dimulailah Timur menyisir rambutnya. Untuk seseorang yang berjibaku dengan terik matahari dan konstruksi, tangan Timur terhitung mahir dengan detail kecil seperti merawat rambut. Tidak tergesa namun yakin, perlahan namun teliti. Lelaki itu bersenandung halus. Dia suka rambutnya. Dia suka ketika helai-helainya mengisi sela jari, lalu jatuh di pundak. Tangannya cekatan memilin, menjalin helaian rambut hitam pekat menjadi sebuah kepang.

Dari kamar mandi, suara shower berhenti, lalu,

“Kamu yakin rambutmu tidak ditata setelah mandi saja?”

Hotel bintang lima punya aroma sabun yang berbeda sebagai ciri khas hotel mereka. Timur bisa menghidu buah persih dan pucuk daun teh. Mirip seperti diffuser di hotel-hotel tradisional Jawa Timur. Wewangian alam begini berbeda dengan parfum Bulan yang lebih condong ke aroma maskulin. Dia pasti tidak bawa sabun mandi dan memilih mandi dengan apa yang tersedia.

Ah, sayang sekali.

Kalau pagi ini mereka memutuskan untuk bergumul dalam adegan dewasa lagi, Timur lebih suka diselimuti dengan keringat beraroma daun pinus dan kesturi.

Timur masih bersenandung pelan. “Kamu yakin tidak mau diam saja setelah mandi?”

Dari sudut matanya, Timur bisa melihat Bulan baru saja menutup pintu kamar mandi. Bulan tidak telanjang, namun yang menutupi dirinya hanya selembar handuk di pinggang. “Kamu tidak suka aku menyentuh rambutmu?”

“Aku enggak suka kamu, lebih tepatnya,” tantang Timur. Ada tawa yang mengiringi kala dia menjawab begitu. Ringan, renyah. Lesung pipinya terpantul dari cermin di meja.

Bulan mendengkus. Dia sudah mandi dan meskipun belum berpakaian utuh, menyaksikan Timur menata rambutnya dengan kondisi yang tidak jauh berbeda ternyata menyenangkan. “Berarti kamu enggak keberatan aku ikutan mengepang rambutmu?”

“Kamu selalu begini dengan jemaat lainnya yang kamu tiduri?” Timur membalas seraya tangannya meraih bangle emas, kemudian dengan telaten menyusun rambut agar aksesoris itu kokoh di tempatnya. Ini caranya menggoda Bulan (dan lelaki lainnya); mengerling manis, kadang  menjadi cantik sampai ingin dicicip.“Touchy, ikut campur. Kamu bukan pacarku.”

Kali ini, Bulan yang tertawa. Dia tidak tahu apakah harus senang atau kecewa dengan penilaiannya selama tiga bulan ini. “Kamu cemburu.” Dia berjalan ke arah nakas, melewati Timur, dan sengaja memunggunginya, membiarkan lelaki itu mendelik dari kaca. “What are we?”

“Kita bukan bocah sekolah menengah pertama yang harus melabeli setiap hubungan.” Tangan Timur memulai kepangan kedua. Kalau Bulan mulai menggodanya dengan otot punggung, maka selamat, dia telah berhasil. Meskipun Timur juga rajin olahraga dan cukup atletis.

“Kamu membeliku,” nada suara Timur terdengar lembut, layaknya kain sutra menyapu sensoris, “dan aku membiarkanmu menggagahiku layaknya lelaki, walau aku enggak tau kalau kamu ternyata tertarik dengan sodomi.”

You’re being too spiteful with the idea even though you enjoyed it too.”

Jeda sebentar. “Oh, why the sudden thought that I'm spiteful?” Timur tertawa. “I enjoys all the pleasure.

“Dosa yang kamu tolerir cuma seks. Kamu enggak nyentuh narkoba, rokok, maupun alcohol.”

All the pleasure is destroying the body.” Kepangannya sudah selesai, namun Timur masih tak sudi menoleh. Mereka berkomunikasi dan berpandangan lewat cermin. Sepasang mata birunya tampak yakin ketika dia menambahkan, “Aku ngejar yang paling minim resikonya.”

Bulan menarik laci nakas, menyemprotkan pewangi tubuh dengan desisan panjang. “Berarti kita bakalan ketemu lagi?”

“Aku mungkin enggak ngebolehin kamu nyentuh rambutku,” aturan Timur tetap tiga kali berhubungan seks, namun itu hanya berlaku dalam transaksi. Apakah Timur menginginkan Bulan dalam suatu hubungan? Itu keraguan pertamanya, pula kutukan. “But I’ll let you choose the accessories.

Timur juga penasaran dari mana datangnya keraguan itu. Kendati demikian, mereka tak putus kontak mata; Bulan malah menyungging senyum dan bergerak mendekatinya dengan congkak. Sepasang mata Bulan terkesan dingin, penuh kalkulasi. Senyumnya makin lekat, namun tidak sampai ke matanya.

Gawat.

“Berarti boleh sekali lagi?”

Timur mendengak dan Bulan sudah lebih dulu membungkuk, lalu menciumnya. Tidak ada perlawanan dan tangan lelaki itu menggerayangi bahu, lekuk leher, serta bangle emas yang baru saja dirapikan.

Ada kelas jam dua siang dan ini masih jam tujuh. Timur menggigit daun telinga Bulan di sela-sela kecupan. “Enggak usah pake kondom.”

Breeding kink?”

Timur terkekeh. Bibirnya dipagut sekali lagi. Kali ini lebih lembut dan lebih pakai hati. Lelaki itu tak banyak bergerak dan membiarkan jemari lentur Bulan mengusap lehernya, menelan tawanya bersama dengan napas yang tertahan. “Biar kamu merasa close enough to taste but never enough to actually swallow.

Bersamaan dengan bibirnya yang dicari dan dinikmati, Bulan kepusingan.

Kejam betul lelaki ini.[]

 

.

[selesai.]