Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-05-30
Words:
1,124
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
12
Bookmarks:
1
Hits:
167

Strongest

Summary:

Setiap hari adalah tentang mengumpulkan kepingan kaca,
menyusunnya kembali dengan air mata dan keringat,
menjadi sebuah lentera baru untuk sang buah hati.

Notes:

Chenle as Markhyuck's son

Happy reading!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Gerimis tipis mulai membasahi kaca jendela kamar lantai dua, menciptakan bulir air yang memantulkan cahaya lampu jalan. Di dalam kamar itu, Haechan duduk bersandar di kepala tempat tidur. Pandangannya tidak lepas dari Chenle, putranya yang baru berusia tujuh tahun, yang sudah terlelap di balik selimut tebal bermotif bola basket.

Haechan menghela napas panjang. Ada rasa sesak yang selalu datang setiap kali ia menatap Chenle dalam keheningan malam. Semakin putranya tumbuh besar, wajahnya mendadak menjelma menjadi pahit masa lalu. Alis Chenle yang bertaut saat bermimpi, garis rahangnya yang terlihat tegas, hingga jemari tangannya yang mengepal saat tidur, semuanya adalah duplikat sempurna dari Papanya—Mark. Mark yang beberapa bulan lalu mengemas seluruh pakaiannya ke dalam koper dan berjalan keluar dari pintu rumah tanpa pernah menoleh lagi.

​Haechan mengulurkan tangan, mengusap dahi Chenle dengan lembut, menyingkirkan anak rambut yang menghalangi matanya.

"Lele adalah hal terbaik yang pernah dia berikan kepada Papi, Sayang," bisik Haechan lirih, suaranya sedikit bergetar. "Tapi dia tidak pernah pantas untuk bisa memiliki Lele."

 

~~

 

Belum lama berselang, rumah ini pernah dipenuhi riuh tawa. Haechan mengingat bagaimana mantan suaminya dulu sering menggendong Chenle di pundaknya, berputar-putar di ruang tengah hingga anak itu tertawa kegirangan. Mark adalah segalanya bagi Chenle. Dan di telinga Haechan, Mark seringkali membisikkan janji-janji manis tentang masa depan mereka.

"Suatu saat kita akan melihat Chenle lulus kuliah, Sayang. Dan kita akan menua bersama di rumah ini," begitu katanya.

Namun, semua komitmen dan janji-janji manis itu runtuh dalam satu kedipan mata ketika sosok lain hadir di kehidupan mantan suaminya itu. Seseorang yang baru, yang dianggap lebih memikat dan bebas dari beban-beban rumah tangga. Haechan masih ingat betul malam itu—malam di mana mantan suaminya tidak lagi menyangkal, melainkan justru mengakui dengan nada dingin bahwa dia memilih untuk pergi dan memulai lembaran baru dengan sosok lain.

Tidak ada air mata penyesalan dari mantan suaminya itu. Dia hanya mengemasi barang-barangnya seolah sedang bersiap untuk berangkat kerja, bukan meninggalkan bahtera yang telah mereka bangun bersama selama hampir sepuluh tahun. Ketika pintu rumah tertutup malam itu, Haechan terduduk di lantai kamar, menangis dalam diam hingga dadanya sakit, berusaha keras agar suaranya tidak membangunkan Chenle yang sedang tidur.

 

~~

 

Bagian tersulit menurut Haechan bukanlah membiarkan pria itu pergi, melainkan mengumpulkan kepingan hati yang hancur untuk tetap menjadi orang tua yang kuat dan utuh bagi Chenle. Haechan menyembunyikan rapat-rapat air matanya. Setiap pagi, ia memasang wajah terbaiknya—senyuman hangat, sarapan yang enak, dan pelukan hangat sebelum Chenle berangkat sekolah.

​Namun, anak-anak memiliki radar yang tajam terhadap perubahan di sekitarnya.

​Siang itu, Chenle pulang dari sekolah dengan langkah pelan. Tas ranselnya diseret di atas lantai. Ketika Haechan berlutut untuk menyambutnya, ia melihat sepasang mata bulat Chenle sudah berkaca-kaca.

​"Ada apa, Sayang? Ada yang nakal di sekolah?" tanya Haechan lembut, mengusap pipi putranya.

​Chenle menggeleng. Dia menunduk, memandangi ujung sepatunya sebelum akhirnya mendongak dengan tatapan penuh tanya. "Papi... kenapa Papa tidak pernah datang lagi? Hari ini ada pertandingan basket di sekolah. Ayah Jisung datang, Papa Ningning juga datang. Kenapa Papa tidak pernah datang lagi untuk melihat Lele bertanding?"

​Pertanyaan itu terasa seperti hantaman yang keras di dada Haechan. Lidahnya mendadak kelu. Bagaimana mungkin dia menjelaskan konsep perselingkuhan dan keegoisan orang dewasa kepada seorang anak berusia tujuh tahun? Bagaimana bisa dia mengatakan bahwa Papanya telah memilih sosok lain dan memilih kehidupan baru yang tidak melibatkan mereka lagi?

​Haechan merasakan matanya panas. Sesaat, dia ingin menyerah pada rasa sedihnya, memeluk Chenle sambil menangis bersama, dan mengutuk pria yang telah menghancurkan hati mereka. Namun, saat melihat binar kesedihan di mata putranya, sesuatu yang lain bangkit dari dalam diri Haechan. Sebuah kekuatan dari diri Haechan yang enggan melihat putra satu-satunya itu hancur.

​Haechan menarik napas dalam-dalam, menelan kembali semua air mata dan kepahitannya. Dia tersenyum—senyum paling tulus dan kuat yang pernah dia berikan. Ditariknya Chenle ke dalam pelukan yang begitu erat, menyalurkan seluruh kehangatan dari tubuhnya.

​"Dengar Papi ya, Sayang," bisik Haechan lirih, menahan getaran di suaranya. "Papa... dia harus pergi ke tempat yang sangat jauh karena sedang ada urusan pekerjaan. Tapi Lele tidak perlu cemas. Lele punya Papi. Papi berjanji kepada Lele, mulai sekarang, Papi akan datang di setiap Lele bertanding, dan Papi akan selalu ada di setiap baris depan untuk Lele. Papi juga janji akan menjadi orang tua yang baik yang selalu menjaga dan merawat Lele hingga nanti Lele sudah tidak membutuhkan Papi lagi. Pegang janji Papi ya, Sayang." lanjutnya, dengan memperlihatkan senyuman yang manis dan hangat.

 

~~

 

Haechan menepati janji itu. Sejak hari itu, tidak ada lagi ruang untuk meratapi masa lalu. Jika mantan suaminya berpikir bahwa kepergiannya akan membuat kehidupan Haechan dan Chenle hancur berantakan, pria itu salah besar. Haechan menolak untuk menjadi pihak yang menyedihkan.

​Dia mulai mengambil pekerjaan sampingan dengan gaji yang cukup untuk memastikan kebutuhan Chenle dan tabungan masa depannya aman. Lelah fisik pun tidak lagi dihiraukan.

​Dia juga belajar membetulkan keran air yang bocor, mengganti lampu rumah yang mati, dan mengemudikan mobil sendirian untuk mengantar jemput Chenle. Haechan menjelma menjadi dinding kokoh yang tak tergoyahkan. Dia juga mengajari Chenle cara memaafkan tanpa harus melupakan, dan cara berdiri tegak di tengah masalah yang melanda.

 

~~

 

Sepuluh tahun berlalu seperti kedipan mata. Chenle kini bukan lagi bocah tujuh tahun yang menangis karena merindukan Papanya. Dia telah tumbuh menjadi seorang remaja berusia tujuh belas tahun yang tinggi, berbahu tegap, dan tatapan mata yang tajam.

​Malam itu, setelah acara kelulusan SMA di mana Chenle berhasil meraih penghargaan sebagai lulusan terbaik di bidang olahraga dan akademik, rumah mereka dipenuhi dengan buket bunga dan ucapan selamat.

​Saat Haechan sedang mencuci piring di dapur, Chenle berjalan mendekat. Dia tidak lagi memerlukan kursi untuk menyamai tinggi Papinya, kini dialah yang merangkul pundak Haechan dari samping.

​"Papi," panggil Chenle lembut.

​Haechan menoleh dan tersenyum, "Ya, Sayang? Lele butuh sesuatu?"

​Chenle menggeleng. Dia memandangi wajah Papinya, menyadari ada kerutan halus di sudut mata Haechan—kerutan yang tercipta dari kerja keras selama bertahun-tahun demi dirinya.

​"Lele hanya ingin bilang terima kasih," kata Chenle, suaranya kini terasa berat. "Lele tahu semua ini berat sekali untuk Papi. Lele tahu Papa pergi karena dia lebih memilih orang lain. Tapi melihat Papi yang selalu ada bersama Lele selama sepuluh tahun ini... Lele sadar kalau Lele tidak membutuhkan siapapun dan apapun selain Papi. Papi adalah orang terkuat yang pernah Lele kenal di dunia ini. Dan Lele bangga sekaligus bersyukur terlahir menjadi anak Papi."

​Air mata yang selama sepuluh tahun ini ditahan Haechan dengan sekuat tenaga, akhirnya luruh juga. Namun, kali ini bukan air mata kesedihan. Ini adalah air mata kemenangan.

​Di luar sana, di belahan kota yang lain, pria yang dulu pergi mungkin sudah bahagia menjalani hidupnya sendiri. Namun di dalam rumah kecil ini, Haechan tahu dia telah memenangkan kekacauan terbesar dalam hidupnya. Dia tidak hanya bertahan hidup, dia telah berhasil membesarkan seorang putra yang luar biasa, berkat kekuatannya di saat seluruh dunianya runtuh.

 

 

End.

Notes:

Cerita singkat ini terinspirasi dari lagu Strongest - Ina Wroldsen yang diimplementasikan dengan alur dan bahasa yang berbeda.

Hope you guys enjoy it!