Chapter Text
Di tahun ketika angin masih membawa bau mesiu dari pelabuhan dan jalan-jalan tanah belum mengenal lampu listrik yang ramah, Manggala Wiratama diturunkan ke sebuah kota kecil di tanah Jawa. Kota itu bernama seperti bisik hujan—sunyi, lembap, dan selalu menyimpan rahasia di balik dinding-dinding kayu.
Ia datang bersama seragam kusut dan wajah yang terlalu tampan untuk berada di medan perang. Markas mereka berdiri di tepi jalan besar, bekas rumah pejabat lama yang kini dipenuhi langkah sepatu bot, teriakan komando, dan bunyi radio yang tak pernah berhenti mendesis. Setiap pagi Manggala menjalani tugas seperti mesin: berjaga, mencatat, berpatroli, lalu kembali memandangi langit dalam bara waspada.
Ia dipindahkan ke kota kecil itu setelah bertahun-tahun berkelana dari satu pos ke pos lain. Ketika mendengar bahwa tugas barunya masih di tanah Jawa, ia menghela napas pendek dengan rapalan menyerupai syukur. Setidaknya pulau ini masih murah hati pada mata, sawah terhampar seperti permadani hijau, pohon-pohon randu berdiri teduh di tepi jalan, dan hujan turun dengan suara yang mengingatkan dirinya bahwa dunia belum sepenuhnya rusak.
Tubuhnya tinggi dan tegap, macam hasil dipahat dari kebiasaan menahan beban. Bahunya lebar, lengannya dipenuhi garis-garis urat keras, tanda kebiasaan mengangkat peti amunisi, menahan beban, dan hidup tanpa banyak kemewahan. Kulitnya lebih gelap dari pertama kali ia dilahirkan, hasil terbakar matahari dari tahun ke tahun. Rahang kirinya ada bekas sayatan tipis yang memucat, kenang-kenangan dari perkelahian lama yang tak pernah ia ceritakan kepada siapapun. Bila ia berdiri di tengah kerumunan serdadu lain, orang akan mudah menemukannya dari sosok yang menjulang dan bayangan yang jatuh paling panjang saat sore tiba.
Wajahnya hampir selalu cemong—kadang oleh debu jalanan, kadang oleh jelaga dapur lapangan, kadang oleh minyak mesin kendaraan. Pada pipinya kerap melekat garis hitam samar yang lupa dibersihkan, membuat parasnya tampak lebih garang daripada tabiat aslinya.
Ia bukan lelaki banyak bicara. Kata-katanya pelit, tawanya pendek, dan kemarahannya lebih sering membuatnya diam. Namun di markas, orang-orang mengenalnya sebagai orang yang dapat diandalkan: seperti apa yang menjadi tugasnya, maka akan Manggala selesaikan dengan sempurna tanpa keluh yang kerap menjadi lalapan.
Tolong bedakan mana prajurit yang mirip budak dan mana yang menjadi tangan kanan perang—orang orang selalu berisik membicarakan hal itu. Mereka yang tubuhnya tinggal tulang, tidur berdesakan di lantai lembap, dan bekerja sampai punggung nyaris patah, lalu mereka yang mengenakan seragam lebih rapi, berdiri di dekat meja komando, berbicara lantang seolah dunia berada dalam genggaman.
Manggala berada di antaranya.
Ia bukan perwira tinggi yang hidup nyaman di balik kepulan cerutu dan gelas sake hangat, namun juga bukan pekerja hina yang namanya hilang bersama lumpur jalanan. Ia cukup dipercaya untuk membawa senjata, cukup dihormati untuk menerima perintah langsung, tetapi tetap terlalu rendah untuk dianggap manusia sepenuhnya oleh atasan-atasannya.
Barangkali itulah sebabnya wajahnya selalu tampak lelah meski usianya baru tiga puluh. Perang telah memakan manusia di dalam dirinya sedikit demi sedikit, menyisakan tubuh tegap dengan sorot mata yang kosong di beberapa malam tertentu. Dan di antara deru kendaraan militer, bau mesiu, serta suara orang-orang yang tiap hari membicarakan kematian seperti topik makan malam, Manggala hanya hidup seperti lelaki yang bingung akan isyarat kehidupan.
Malam hari, saat para serdadu lain mencari hiburan di meja kartu atau botol minuman murah, Manggala kerap duduk sendiri di tangga belakang markas sambil merokok perlahan. Dari sana ia memandangi langit Jawa yang lapang, mendengar suara jangkrik dari kebun jauh, dan bertanya dalam diam berapa lama lagi hidupnya akan terus begini.
Padahal dahulu, sebelum seragam dan senapan menjadi bagian dari tubuhnya, ia hanyalah anak dari pasangan sederhana. Ayahnya seorang penulis kecil yang hidup dari lembar-lembar cerita dan tinta yang membuatnya melakukan sujud diatas tumpukan beras dalam kelimpungan ekonomi. Sementara ibunya hanyalah penjahit rumahan, perempuan pendiam yang menghabiskan malam di depan kain-kain lusuh dengan mata lelah dan jemari penuh bekas jarum.
Mereka bukan keluarga terpandang. Bukan pula orang-orang penting. Namun di masa ketika dunia gemar mencari kambing hitam, kesederhanaan pun dapat terdengar seperti kesalahan. Rumah mereka pernah didatangi orang-orang berseragam yang berbicara terlalu keras, membolak-balik buku, menginjak potongan kain, lalu pergi meninggalkan ketakutan yang tak pernah diizinkan untuk hilang.
Sejak saat itu, Manggala belajar bahwa hidup dapat dirampas hanya karena seseorang terlalu miskin untuk melawan.
Dan kini, ketika dirinya sudah bertahun-tahun berpindah dari satu markas ke markas lain, ia bahkan nyaris lupa rupa halaman rumahnya sendiri. Tapi ia tidak pernah lupa rupa cantik ibunya walau mulai samar di ingatan, atau bahkan suara ayahnya yang kian terdengar jauh seperti lagu lama yang diputar pelan dari radio rusak. Kadang-kadang, di malam paling sunyi, Haga mencoba mengingat aroma rumahnya dahulu—adakah bau kain, tinta, atau teh hangat. Namun, yang tersisa hanya bau mesiu yang telanjur menetap di hidupnya terlalu lama.
Di kota kecil itu perang hadir dalam rupa-rupa yang sunyi. Beras ditakar lebih hemat, lampu dipadamkan lebih awal, ibu-ibu berbisik di pasar ketika truk militer lewat, dan anak-anak kecil berhenti bermain saat mendengar derap sepatu mendekat. Di kejauhan kadang terdengar letupan samar dari latihan senjata, kadang pula kabar orang hilang beredar dari mulut ke mulut seperti angin buruk yang tak bisa ditahan.
Sampai pada suatu sore, ketika matahari condong rendah dan cahaya jingga sepenuhnya menumpah di jalan besar, ia berdiri di pos depan sambil menyalakan rokok. Angin lewat membawa bau tanah basah sisa hujan semalam, bercampur aroma solar dari kendaraan perang yang terparkir di halaman markas. Dari kejauhan terdengar derit roda yang pelan, bunyi kecil yang nyaris tenggelam oleh suara mesin truk dan komando para serdadu.
Sebuah becak muncul dari tikungan jalan. Berjalan lambat, seakan hadir bersama senja yang rapuh.
Di atasnya duduk seorang pemuda.
Pakaiannya rapi dan sederhana, kemeja lengan panjang dilapisi kain jarit yang jatuh bersih hingga mata kaki. Sebuah tas berisi buku-buku diletakkan di pangkuannya. Rambutnya tersisir halus, hitam mengilat diterpa cahaya sore, sementara wajahnya menunduk tenang diantara gaduh dunia dalam damainya sendiri
Ia cantik—bukan dalam arti yang lazim diucapkan lelaki-lelaki kasar di markas, melainkan cantik macam bait puisi yang terselip di antara lembar laporan perang. Garis rahangnya halus, bibirnya merah alami, dan bulu matanya menaungi mata yang teduh. Pada dirinya ada kelembutan yang tak menghapus ketegasan, ada keelokan yang justru membuat siapa pun segan memandang terlalu lama.
Manggala lupa mengisap rokoknya. Bara di ujungnya mati sendiri.
Sudah satu pekan ia tinggal disini, tapi rupa itu baru menyapanya sore ini.
Pemuda itu lewat tepat di hadapan pagar markas. Dalam sekejap, matanya yang bening terangkat, menatap lurus ke depan. Melewati kawat berduri, seragam-seragam kusam, bangunan tua yang dirampas perang, dan segala hiruk-pikuk dunia yang kasar. Tatapan itu tidak singgah pada Manggala, tetapi entah mengapa lelaki itu merasa seperti baru saja disentuh sesuatu yang halus dan tak kasatmata.
“Guru sekolah kampung,” ujar salah satu penjaga di sampingnya, acuh tak acuh. “Namanya Kelana. Pulangnya selalu jam segini.”
Manggala tak menjawab. Pandangannya masih mengikuti becak yang menjauh perlahan, roda-rodanya meninggalkan garis tipis di atas tanah lembap yang saban hari dilalui truk-truk tentara.
Sejak hari itu, sore tak lagi sekadar pergantian waktu baginya. Ia mulai mengenali arah cahaya, panjang bayangan pohon, bahkan suara burung yang pulang ke sarang—semua tanda bahwa sebentar lagi roda becak akan terdengar dari ujung jalan. Diantara keringat dan gundah suasana perang yang merampas hiruk piruk miliknya, Manggala diam-diam menunggu satu hal kecil yang belum sempat direbut dunia: kedatangan Kelana.
