Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 7 of ssingyourjan's
Collections:
Anonymous
Stats:
Published:
2026-05-26
Updated:
2026-06-09
Words:
3,031
Chapters:
2/?
Comments:
6
Kudos:
164
Bookmarks:
8
Hits:
12,577

Muncrat di Muka Jaksa

Summary:

Pond adalah seorang pengacara miskin yang membenci Phuwin sampai ke tulang belulang, sementara Phuwin adalah seorang jaksa kaya raya yang selalu menerima suap. Pond merasa selalu direndahkan, hingga akhirnya dia memilih untuk merendahkan.

Notes:

Kasar banget bahasanya tolong kalau nggak suka nggak usah baca oke? Oke.

Chapter Text

Ada dua jenis manusia yang paling gua benci di dunia ini. Jenis pertama adalah kriminal, jenis kedua adalah orang kaya. Phuwin adalah keduanya. Phuwin jelas kriminal, karena dia selalu menerima suap dari para konglomerat, supaya mereka terbebas dari jerat hukum, atau supaya hukuman jadi lebih ringan.

 

Phuwin jelas orang kaya. Semasa kuliah hukum dulu, dia selalu pulang pergi naik mobil. Main di club tiap malam. Bahkan nggak jarang mengeluarkan jutaan untuk minum minuman beralkohol.

 

Dua hal itu udah buat gua muak pada Phuwin. Ditambah lagi, Phuwin selalu menang di persidangan. Kalau ada perlombaan fitnah, dia juaranya. Mulutnya lihai mengubah orang bersalah jadi nggak bersalah, mengubah orang nggak bersalah jadi bersalah.

 

Salah satu korban mulut lihainya itu adalah klien gua. Klien gua elas-jelas nggak bersalah. Dia cuma pekerja kantoran biasa yang butuh keadilan. Meminta upah yang layak dari perusahaan tempat dia kerja. Tapi akibat ulah Phuwin, dia nggak mendapatkan haknya. Paling parah, dia terkena hukuman karena dianggap mencemarkan nama baik.

 

Emang bangsat.

 

Gua benci banget sama Phuwin. Sebenci itu. Ada rasa amarah di dada gua tiap lihat mukanya. Terlebih lagi waktu dia pasang senyum kemenangan di depan muka gua.

 

“Udah gua bilang, kan? Lo nggak akan pernah bisa menang dari gua.” Phuwin menepuk-nepuk bahu gua.

 

“Kita hidup di dunia yang beda. Gua di atas,” Phuwin menunjuk ke langit-langit. “Sementara lo di bawah.” Phuwin menunjuk lantai, lalu mendengus.

 

BANGSAT.

 

Kuping gua panas dengernya.

 

Gua benci karena semua perkataan dia benar. Waktu kuliah dulu, nilai ujian dia selalu menjadi yang paling tinggi di antara gua dan teman-teman satu jurusan lainnya. Presentasi dia selalu bagus, nilai tugas juga selalu bagus. Padahal tiap malam kerjanya cuma minum-minum dan nggak pernah belajar.

 

Gua benci.

 

Benci banget.

 

Bahkan sampai kerja pun gua tetep kalah. Gua masih miskin, jadi pengacara yang dibayar semampunya karena klien gua bukan orang berada. Di persidangan juga masih kalah, karena Phuwin lebih banyak punya koneksi dengan hakim-hakim sialan itu.

 

Dunia emang nggak pernah adil. Apa itu roda berputar? Nyatanya gua selalu di bawah. Phuwin selalu di atas. Dari dulu sampai sekarang.

 

Phuwin memandang gua dengan tatapan meremehkan.

 

Anjing.

 

Gua nggak suka ditatap begitu.

 

Dada gua rasanya mau meledak saking marahnya. Gua nggak tau ini perasaan apa. Rasanya aneh saat gua memandangi bibir dia yang tersenyum miring.

 

Apa ini yang dinamakan Angry Kiss? Gua pernah denger istilah Angry Sex. Tapi kalau Angry Kiss, jujur aja gua nggak pernah. Anjingnya, dua kata yang nggak pernah gua dengar itu kayaknya lagi gua rasain sekarang. Gua marah banget. Amarah paling dahsyat yang pernah gua rasain seumur hidup. Anjing. Kontol. Bajingan. Saking marahnya, semua kata kasar yang ada di muka bumi nggak cukup buat lampiasin amarah gua ke Phuwin.

 

Nggak cuma umpatan, tapi tonjokkan pun udah nggak mempan buat si bangsat satu ini. Gua marah banget sama Phuwin. Saking marahnya gua sama dia sekarang, gua pingin cium bibir dia dengan bibir gua yang kotor ini. Biar dia tau rasa.

 

Apa tadi katanya? Hidup di dunia yang beda? Bangsat. Biar tau rasa dia dikotorin sama manusia bawah kayak gua. Emangnya dia siapa? Dia cuma lebih beruntung karena muncul dari sperma orang kaya raya.

 

Gua menarik kerah Phuwin dan membawanya ke salah satu ruangan yang ada di pengadilan. Gua nggak tau ruang apa ini. Kayaknya sih tempat penyimpanan berkas-berkas. Nggak peduli gua. Yang gua lihat sekarang cuma bibir Phuwin aja. Gua memandangi bibir itu dengan penuh amarah, lalu menarik kerah baju yang sejak tadi gua remas. Memaksa bibir Phuwin agar menempel pada bibir gua.

 

Phuwin berontak, tentu aja. Tapi sayangnya tenaga gua jauh lebih kuat daripada Phuwin. Dia kalah telak. Gua dengan ganas melumat bibirnya yang pahit itu, hingga menggigitnya sampai berdarah. Rasakan, bangsat. Gua bisa merasakan asin darah Phuwin mengenai lidah gua. Membuatnya merintih sedikit.

 

Detik selanjutnya, Phuwin justru membalas ciuman gua. Giliran dia yang memakan bibir gua sampai habis. Menjambak rambut gua dengan tangan satunya. Sementara tangan satunya lagi menarik badan gua supaya nggak ada jarak di antara kita berdua.

 

KONTOL. 

 

Saking dekatnya tubuh kami berdua, gua bisa rasakan kalau ada yang berdiri di bawah sana. BUKAN. BUKAN PUNYA GUA ANJING.

 

Najis. Najis. Najis.

 

Gua langsung dorong Phuwin dan meludah di lantai. Meninggalkannya sambil mengusap-usap mulut dengan punggung tangan.


GUA TADI NGAPAIN ANJING?

 

Rasa asin darah masih kerasa di lidah gua. Gua langsung menggelengkan kepala kuat-kuat tiap teringat kejadian tadi.

 

AH BANGSAT.

 

GUA NGGAK FOKUS.

 

Ada kasus klien yang harus gua tanganin sekarang tapi pikiran gua justru melayang ke orang biadab itu. 

 

BAJINGAN.

 

Gua berusaha konsentrasi dengan semua tenaga yang gua punya, membaca berkas-berkas yang ada di depan gua, tapi nggak bisa.

 

ANJING, NGGAK BISA.

 

Gua masih kepikiran kejadian di salah satu kantor itu.

 

Gua semakin ingin buat Phuwin nggak berdaya. Bukan cuma ciuman, tapi lebih dari itu. ANJING. Gua marah banget. Gua pingin liat dia merintih kesakitan, di bawah gua. Biar dia tau kalau gua juga bisa di atas.

 

Gua mengatur napas, berusaha buat nggak mikirin itu tapi betulan nggak bisa. Bayangan Phuwin berada di bawah gua makin lama makin jelas, buat gua makin susah napas. Buat celana gua sesak. Gua akhirnya memutuskan untuk meninggalkan berkas yang gua baca dan ke kamar mandi.


Sekarang pukul tiga dini hari dan gua masih membayangkan kejadian tadi siang di pengadilan. Gua berusaha untuk tidur, tapi usaha itu sama sekali nggak membuahkan hasil.

 

Akhirnya gua memutuskan untuk melakukan hal bodoh sekaligus gila–menghampiri apartemen Phuwin. Gua datang dengan menggunakan pakaian lengkap. Dasi, kemeja, jas, hingga sabuk dan celana panjang. Sengaja. Gua nggak mau terlihat sebagai pria miskin yang acak-acakan di depan Phuwin. Gua nggak mau harga diri gua diinjak-injak lagi.

 

Oh, jangan heran kenapa gua bisa mendapat alamat Phuwin. Sebagai pengacara, bukan hal sulit buat dapetin alamatnya.

 

Gua menekan bel tiga kali, berhasil membuat Phuwin muncul dengan piyamanya. Gua segera mendorong lelaki bangsat itu, hingga punggungnya menabrak tembok. Setelahnya, gua lalu menutup pintu dengan salah satu kaki.

 

Gua menarik dagu Phuwin, membuatnya bingung dan bertanya, “Lo mau ngapa–”

 

Belum selesai pertanyaan Phuwin, gua udah membungkam mulutnya. Gua habisi mulut yang selalu memfitnah orang tidak mampu itu. Gua gigit lagi sampai darah kembali keluar bibirnya.

 

Tangan gua yang semula di dagu kini berpindah pada kepalanya, gua jambak-jambak rambut yang selalu membuat gua marah. Sementara tangan satunya gua gunakan untuk meremas pantatnya.

 

Phuwin memukul-mukul bahu gua, tapi gua abaikan. Gua biarkan birahi dan amarah mengendalikan tubuh gua. Gua nggak peduli. Gua biasa diinjak-injak. Sekarang saatnya gua menginjak-injak Phuwin.

 

“Kita bisa di kasur kalau lo ma–” gua kembali membungkam bibirnya. Nggak tau udah berapa luka yang gua buat. Tapi gua masih belum mau berhenti. Gua masih marah. Amarah gua masih belum habis. Gua masih menjambaki rambutnya, dan masih meremas-remas pantatnya dengan liar.

 

Setelah puas menghabisi bibir Phuwin, gua kemudian membalikkan tubuhnya dan membuat badannya menghadap tembok. Gua mengikat kedua tangannya ke belakang dengan dasi gua. Bukannya berontak, gua justru mendengar Phuwin mendesah saat gua mengencangkan ikatan dasi gua.

 

Bajingan.

 

Gua menurunkan celananya, dan betapa kagetnya gua saat melihat lubang milik Phuwin penuh dengan cairan pelumas.

 

ANJING.

 

Dia habis main sama siapa?

 

Ah, kontol. Bukan urusan gua. Nggak penting juga dia habis main sama siapa.

 

“Pelacur ya lo, udah basah begini,”  kata gua sambil megaduk-aduk lubang milik Phuwin, membiarkan jari-jari gua bermain di sana dengan cara yang sekasar mungkin.

 

Bangsatnya, Phuwin justru makin mendesah. Gua bisa dengar desahannya makin lama makin kencang, membuat gua merasa sangat terganggu.

 

“Diem, anjing.” Gua menampar mulut Phuwin yang sejak tadi mendesah dengan satu tangan, sebelum akhirnya membungkam mulutnya. Tangan satunya lagi, masih bermain di lubang milik Phuwin. Dirasa lubangnya sudah cukup longgar, gua akhirnya memutuskan membuka sabuk dan celana gua. Gua memegang pinggangnya dengan kedua tangan, lalu membiarkan kontol gua yang cukup besar ini masuk ke dalam lubangnya dalam sekali hentakan.

 

Phuwin langsung menjerit kesakitan, sementara gua sama sekali nggak peduli. Gua langsung memaju mundurkan kontol gua. Menghajar Phuwin tanpa ampun. Jeritan Phuwin semakin keras, sekarang diiringi dengan suara tangis. Gua langsung tersenyum puas mendengar itu semua.

 

Nggak cuma menghajarnya dengan kontol, gua juga menampar pantatnya tampa ampun, sampai meninggalkan bekas kemerahan di pantat yang semula putih bersih.

 

“Sakit,” kata Phuwin dengan suara memelas.

 

Bangsatnya, dia cuma bilang sakit. Dia nggak minta berhenti sama sekali. Buat gua makin marah. Gua kembali menampar pantatnya, kali ini jauh lebih keras, supaya dia bisa rasakan sakit seperti yang gua rasakan.

 

Semakin dia kesakitan, gua semakin puas. Rasa amarah yang ada dalam diri gua akhirnya memuncak, berbarengan dengan diri gua yang pada akhirnya sampai pada puncaknya. Sperma gua menyembur hebat di dalam lubang milik Phuwin. Banyak sekali sampai tumpah-tumpah keluar.

 

Mampus.

 

Gua merasa puas. Puas karena berhasil mengendalikan Phuwin. Puas karena membuatnya menangis. Puas karena mambuatnyatersiksa dan puas membuatnya kelihatan lemah dan nggak berdaya.

 

Semuanya nggak berhenti sampai di situ, kini gua kembali membalikan badan Phuwin. Melihat wajahnya yang sembab dan luka-luka yang ada di bibirnya membuat kontol gua bangun lagi.

 

Gua suruh Phuwin untuk berlutut. Gua acungkan kontol gua di depan muka dia, sambil menjambak rambutnya. Tanpa berkata sepatah apa pun, dia sudah paham apa maksudnya. Lelaki itu langsung menjilat kontol gua yang berdiri tegak.

 

Phuwin terlihat berantakan. Pipinya penuh dengan air mata, mulutnya penuh berisi kontol milik gua. Sementara rambutnya berantakan karena terus gua jambak. Gua nggak berhenti di situ. Gua memajukan kontol gua sampai membuat dia tersedak. 

 

Puas. Puas sekali.

 

Amarah gua yang selama ini terpendam langsung tersalurkan. Sekarang lihat kan siapa yang di atas dan siapa yang di bawah?

 

Phuwin nggak berhenti melakukan service terhadap kontol gua, meski gua udah membuatnya tersedak dan kesakitan.

 

“Jilat terus, udah biasa jilatin konglomerat kan lo?”

 

Menurut, Phuwin terus menjilati kontol gua, sampai gua akhirnya muncrat yang kedua kali. Gua biarkan cairan putih gua membasahi mukanya. Membuatnya kotor dan makin nggak karuan.

 

Sebagai sentuhan terakhir, gua meludahi mukanya sambil tersenyum puas.

 

Selanjutnya, gua memutuskan untuk membersihkan diri sendiri dan meninggalkan Phuwin begitu saja tergeletak tak berdaya di lantai apartemennya, dengan sperma milik gua. Gua biarkan tangannya masih terikat dengan dasi gua. Gua nggak peduli.


Kejadian malam itu emang membuat Pond puas. Sayangnya, nggak cuma Pond aja yang merasa puas. Tapi Phuwin juga. Sperma yang mengotori lantai apartemen Phuwin bukan cuma punya Pond, tapi banyak punya Phuwin juga.

 

Phuwin bahkan sampai squirt karena dia terlalu menikmati. Oh, satu lagi yang Pond nggak tahu. Lubang anal Phuwin yang penuh dengan cairan pelumas itu karena Phuwin main sendiri sambil membayangkan Pond. Kejadian ciuman paksa yang terjadi di pengadilan bukan cuma Pond yang menikmati, tapi Phuwin juga. Sssst, Pond jangan sampai tau soal ini.