Actions

Work Header

Les ciumannya udah, terus les apalagi?

Summary:

Sejak kejadian ditertawakan karena nggak pandai berciuman bahkan dibilang "Ciuman sama batu", Oxcel termotivasi untuk minta diajari hingga mahir seperti kedua pacarnya. Sampai jadi ketagihan sendiri, dikit-dikit ciuman, dikit-dikit manjat pacarnya buat ciuman, dikit-dikit dry humping eh maksudnya dikit-dikit gangguin pacarnya yang lagi sibuk cuma buat ciuman.

Bener-bener ketagihan sendiri.

Tapi lama-lama, Oxcel jadi penasaran sama hal lain. Contohnya apa? Nyepong. Oxcel penasaran deh, pacarnya mau nggak ya ngajarin? Terus kalau udah jago ciuman, jago nyepongin pacarnya, apalagi dong?

Notes:

semua karakter disini berasal dari socmed au yang pernah diposting di x dengan judul "shared gravity"

Max V as Elio (Io)
Charles L as Vale
Oscar P as Oxcel (Ocel)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Seiring berjalannya hubungan antara mereka bertiga, banyak hal yang mulai berubah. Salah satunya adalah Oxcel yang kini sudah jauh lebih mahir dalam berciuman, hasil dari pembelajaran yang ia dapat dari Vale selama beberapa bulan terakhir. Bisa dibilang, ia seperti ikut les berciuman dari sosok yang lebih tua darinya itu. Rasa malu yang dulu sempat muncul saat pertama kali meminta Vale menciumnya justru membuat Oxcel semakin sering meminta diajari.

Sekarang Oxcel jadi jauh lebih berani. Ia bisa tiba-tiba naik ke pangkuan Vale lalu langsung melumat bibirnya begitu saja. Nggak cuma sama Vale, Oxcel juga berkali-kali mengganggu Elio dengan tiba-tiba menciumnya. Ya of course, Elio dan Vale nggak ada yang marah akan hal ini. Tapi hari ini, tepat saat mereka bertiga sedang duduk di sofa ruang tengah apartemen Elio dengan Oxcel yang merebahkan kepalanya di atas paha Vale dan kakinya yang berada di atas paha Elio, tiba-tiba celetukan asal bunyinya muncul “Kak, rasanya nyepong tuh gimana sih?”

Elio langsung terbatuk-batuk saat mendengar pertanyaan dari yang paling kecil, sedangkan Vale langsung mematung. “Kenapa nanyanya gitu sih?” tanya Elio.

“Emangnya kenapa? Aku penasaran tau,” Oxcel menjawab. Lalu kepalanya ia bawa ke atas untuk melihat reaksi Vale yang bengong setelah mendengar pertanyaannya. “Kak? Denger nggak sih aku nanya apa?”

Vale berhenti bengong, lalu pandangannya beralih ke Oxcel, “Kamu mau coba?” 

“Val????” Elio yang denger jawaban Vale kaget, jelas kaget karena selama kurang lebih empat tahun mengenal Oxcel tak sekalipun muncul di pikirannya Oxcel akan bertanya hal seperti ini. 

“Ya kalau Ocel penasaran, cobain sama aku sini,” balas Vale.

Elio kepikiran Ocel nanyain hal dewasa aja enggak apalagi diiyakan pula sama pacarnya satu lagi?

Oxcel dudukkan dirinya, merubah posisi jadi sepenuhnya menghadap Vale. “Beneran boleh? Tapi aku nggak pernah jadi nggak ngerti gimana caranya.” 

Gantian kali ini Elio yang bengong. Ini konsepnya apasih?

Vale terkekeh kecil, ia buka kedua kakinya. “Sini kamu duduk di sini,” ia tunjuk ruang yang ia sisakan di tengah-tengah kakinya pada Oxcel.

Oxcel berpindah, beneran duduk di karpet tepat di antara kedua kaki Vale yang terbuka. 

“Kamu beneran mau nyobain kan? I’m asking you again for consent,” Vale tepuk-tepuk halus kepala Oxcel di depannya.

Oxcel mengangguk, “Can i?”

Vale terkekeh lagi, “El, kamu ajarin nih kamu biasanya gimana,”

Elio yang merasa namanya dipanggil tersentak, “Meng, lu yang bener aja?” Ia memastikan sekali lagi yang langsung diangguki oleh Oxcel.

Lalu Elio mendekat ke arah dua pacarnya yang kini hadap-hadapan. Ia beri kecupan singkat di bibir Vale sekali lalu ia berikan juga pada Oxcel sekali, yang tentu aja jadi nggak cuma kecupan karena Oxcel menahan kepalanya untuk mengajak berperang lidah.

“Jadi caranya gimana?” tanya Oxcel sambil memiringkan kepalanya. Tuh kan IMUT, gimana bisa Elio mau ngajarin gimana caranya melakukan hubungan dewasa alias nyepongin Vale kalau Ocel di matanya persis sama kayak pertama kali ia bertemu Ocel di bangku SMA.

Vale yang mampu menangkap ekspresi ragu dari Elio langsung membuka suara, “Bisa nggak, Elio? Kalau kamu nggak bisa yaudah aku aja,” 

“Bisa sayang, tapi aku lagi nggak percaya aja kalau Ocel udah gede.” jawabnya.

Oxcel, yang namanya disebut, langsung merespon, “Ih aku udah gede dari semenjak masuk kuliah, Io! Aku bukan bocah lagi???”

Ya tapi di mata gue masih KECIL, Oxcel!!! 

Vale berdehem, tangannya mulai melepas ikat pinggang dan resleting celananya sebelum ia turunkan, menyisakan briefs hitam dan miliknya yang udah mulai berdiri. Ia lalu tarik tangan Oxcel dan membawanya menuju ke atas gundukannya itu.

Mata Oxcel membulat. Kok gede banget…kan Ocel jadi takut keselek.

Vale tersenyum, “Buka coba, kan kamu katanya mau buka.”

Lalu perlahan Oxcel mulai turunkan briefs Vale, membebaskan milik Vale yang menegang. Tangan halusnya mulai meraih penis Vale dan mengusapnya lembut. Vale dapat melihat Oxcel yang menelan ludah dan Elio di sampingnya yang terus menatap wajah Oxcel. Fyi, Vale dan Elio sebelumnya udah sering melakukan hubungan dewasa yang sering disebut-sebut Elio itu alias sex. Tapi belum pernah sekali pun mengajak Ocel dan Ocel juga tau itu.

“Coba kamu sayang-sayang dulu,” Vale buka suara lagi.

“S-sayang-sayangnya gimana…?” Oxcel tatap Vale, ia benar-benar nol pemahaman dan pengalaman. Sama seperti pelajaran mencium bersama Vale yang berawal dari bibirnya yang bergetar tiap kali merasakan hisapan Vale sampai kini ia mampu menerobos lidahnya masuk mengabsen gigi milik Vale atau Elio tiap kali berciuman.

Vale nggak langsung jawab, matanya memandang Elio yang masih diam menatap Ocel kecilnya yang kini memegang penis Vale. Sekali lagi, memegang penis Vale.

Elio yang merasa ditatap akhirnya natap Vale balik, mengeluarkan ekspresi bertanyanya. Empat detik...lima detik…barulah Elio paham apa maksud tatapan Vale. Elio hembuskan napasnya sekali sebelum menyingkirkan tangan Oxcel, berganti kini ia yang menggenggam milik Vale di tangannya. “Gini meng, lu liatin,” Elio mulai beri belaian halus pada selangkangan Vale, ia remas sedikit untuk memancing lenguhan keluar dari bibir Vale, lalu ujung ibu jarinya ia bawa untuk mengusap puncak penis Vale. Kepalanya ia turunkan lebih dekat, lalu Elio beri kecupan-kecupan singkat pada ujung milik Vale yang kini mulai mengeluarkan cairan precum. 

“Mmmhh” 

Lenguhan Vale mulai keluar lagi saat Elio beri jilatan singkat pada ujung penisnya. Vale tatap Elio yang fokus memberikan kenikmatan pada pusat tubuhnya. Sebelum ia kembali melenguh kencang, melihat Elio yang mulai mengulum penisnya dengan mata tertutup. Ia rasakan rongga hangat Elio menyelimuti batangnya yang mampu buat kepala Vale refleks bersandar ke belakang.

Ocel mau nangis aja, rasanya kayak lagi nonton live action porn yang biasanya cuma pernah ia tonton di layar ponselnya tapi kali ini dua tokohnya ada di depannya langsung dan ini cuma bagian dari gimana mereka ngajarin Ocel.

Ocel benar-benar pengen nangis, di satu sisi ia pandangi lekat-lekat kepala Elio yang sibuk turun naik dan meringis melihat Io beberapa kali tersedak saat ujung milik Vale masuk terlalu dalam. Namun di satu sisi, ia merasa sange banget. Lenguhan Vale dan ekspresi Io dengan mata berairnya benar-benar ikut membuat miliknya berdiri. Oh…sekarang Ocel harus apa?

“Udah meng, lu jadi mau nyoba nggak?” terlalu sibuk ngobrol sama pikirannya sendiri, ia baru sadar Elio udah selesai ngasih contoh yang baik dan benar bagaimana cara mengulum penis.

Oxcel lihat bahkan penis Vale belum turun, ya Vale memang belum mau keluar juga sih. Lalu tangannya memegang milik Vale yang masih basah karena saliva Elio dan precumnya sendiri, Oxcel beri kocokan pelan sebelum ia dekatkan wajahnya.

Bibirnya mulai mencium ujung milik Vale dan ia beri jilatan tipis, mengecap merasakan bagaimana rasa precum Vale. Mulutnya ia buka dan mulai membawa kepala penis Vale masuk ke dalam mulut hangatnya.

“Aw!” Oxcel rasakan tangan Vale yang reflek mendorong kepalanya. “Jangan kena gigi, Ocel!”

“Maaf…” Oxcel langsung takut melihat perubahan ekspresi pada wajah Vale.

Melihat Oxcel yang takut, Elio ikut bersuara, “Gapapa Ocel, Vale nggak marah. Kulum lagi aja itu penisnya masih tegang, tapi jangan kena gigi lagi ya.”

Oxcel mengangguk, mulutnya kembali ia buka untuk menyambut milik Vale. Ia mulai kulum perlahan dan mulai memainkan lidahnya. Benar saja, Oxcel nggak sanggup menelan milik Vale hingga pangkalnya seperti yang dilakukan Elio sampai tersedak berkali-kali tadi. Jangankan seluruh penis Vale, setengahnya aja rasanya mulut Oxcel kebas. Matanya juga ikut berair seperti Elio yang berhasil menelan panjang Vale, tapi ia setengahnya aja kesusahan.

Vale melihat air mata Oxcel yang turun, ibu jarinya tergerak menghapus air mata di pipi Oxcel, “Kalau udah nggak sanggup udahin aja, Ocel. Biar dilanjutin Io aja.”

Lagi-lagi, Elio yang merasa namanya disebut langsung menatap Vale heran sambil menunjuk dirinya sendiri. 

Oxcel menggeleng, nggak mau. Ia yakin dirinya masih sanggup mengulum milik Vale dengan kepala yang naik turun naik turun walaupun ujung mulutnya kebas. Ya, Vale sebenarnya juga menikmati sih disepongin Ocel walaupun tetap lebih jago Elio. Tapi di pengalaman pertamanya ini Ocel bisa ngasih dia kenikmatan, walaupun cuma sanggup mengulum setengah miliknya. Ekspresi Ocel juga bikin nafsunya makin naik, matanya yang berair karena mulutnya penuh disumpal milik Vale dan rambutnya yang basah karena keringat. Belum lagi pipinya yang merah merona, kata Ocel ini natural dan bawaan sejak lahir tiap kali Ocel merasa malu dan happy.

Saking fokus menatap wajah Oxcel dengan mulut penuhnya, Vale nggak sadar mulutnya keluarkan erangan kencang. Penisnya semakin menegang di dalam mulut Oxcel, ia merasa akan mencapai puncak nikmatnya sebentar lagi. 

“Mmmhhh! Ocel fuckkk”

Sebelum akhirnya sperma Vale menyembur deras di dalam mulut Oxcel. 

Elio bergegas mengambil tisu dari atas meja, memberinya ke Oxcel “Buang kesini Meng, jangan ditelen,” suruhnya. 

Tapi terlambat. Oxcel sudah terlanjur menelan habis sperma Vale di dalam mulutnya. Emang nggak boleh ditelan ya? Ocel lihat di video-video porno yang pernah ia tonton pada ditelan aja tuh?

Elio yang lihat leher Oxcel meneguk sesuatu di kerongkongannya langsung cepat mengeluarkan penis Vale. Vale jangan ditanya, dia udah tepar banget. Biasanya juga tiap abis di-blowjob Elio, Vale langsung ketiduran. 

“Kok lu telen sih?” tanya Elio.

Oxcel yang ditanyai heran, “Emangnya nggak boleh ya ditelen?”

Suara kekehan terdengar dari bibir Vale, “Kenapa dilarang Ocelnya? Orang kamu biasanya juga ditelen, bahkan kamu jilatin terus sampai aku tegang lagi.” Lemes-lemes gitu masih mau nimbrung di obrolan dua pacar lucunya itu.

Elio terdiam. Lalu Vale yang tadinya menyandarkan kepalanya di sandaran sofa menatap Elio yang tumben nggak jawab lagi perkataannya.

“Elio?” panggilnya.

Oxcel juga bingung, kepalanya sibuk bolak-balik natap Vale dan Elio. Ini situasi apa bjirrrrr.

“Elio!” panggil Vale sekali lagi. 

“Kamu kenapa sih? Ocel tuh udah gede, sayang. Wajar kalau dia mau nyobain hal-hal yang sebelumnya belum pernah dicoba. Lagian nyobanya juga sama kita, kan?” Vale melembut, tangannya menangkup wajah Elio. Ia lalu bawa bibirnya melumat bibir Elio. 

“Kamu gini bukan karena cemburu liat punyaku yang pertama kali diisep Ocel kan?” Vale memandang Elio curiga. Oxcel yang masih duduk berlutut di antara kedua kakinya juga ikut pula menatap Elio curiga.

Elio menghela napas, “Nggak tau sayang, aku juga tau Ocel udah gede tapi kayak masa sih udah segede ini? Masa sekarang aku ngajarin Ocel nyepongin kamu?”

Oxcel bangkit dari duduknya, kepalanya mendekat ke Elio. “Kamu mau disepongin juga ya? Cepetan buka celananya, sebelum mulutku pegel-pegel.”

HAH? Nggak gini maksud Elio. Tapi celananya keburu dipelorotin Vale dan Ocel duduk di depan kakinya.

Elio udah sange dari tadi. Ocel tau dan bener aja belum juga sepuluh menit Ocel ngisepin sambil bawa kepalanya naik turun, Elio udah nyemburin spermanya aja di mulut Oxcel. Yang tentu aja kali ini nggak dipaksa Elio buat lepehin. Jadilah hari ini, di hari pertama Oxcel belajar sepong menyepong, ia dua kali nelen sperma. Untung aja sperma pacar-pacarnya ini nggak ada yang bikin mual, mungkin karena mereka semua nggak ada yang perokok rutin.

Vale juga sempet nanyain Oxcel mau disepongin juga atau nggak, tapi karena Oxcel ngerasa malu buat lihat entah mulut Vale atau Elio yang bakal lingkupin penisnya jadi gantinya Oxcel cuma dikocokin sama Vale sampai keluar.

 

 


 

 

Udah dua bulan semenjak kejadian Oxcel yang minta diajarkan bagaimana cara menyepong, sekarang Oxcel udah lebih dari sepuluh kali menerima permintaan pacar-pacarnya buat disepongin. Tapi Ocel bukan cowok panggilan ya! Oxcel juga udah empat kali disepongin Vale dan dua kali disepongin Elio. Jujur aja, pacar-pacarnya ini emang jago banget! Emang pengalaman yang berbicara. Vale bahkan pernah ngulum miliknya sambil scroll tiktok, udah kayak hal sehari-hari aja gitu main hp sambil ngemutin penis pacarnya.

Nah kemarin Ocel baru aja nyeletuk asal bunyi lagi yang bikin Elio untuk pertama kalinya selama empat tahun kenal Ocel, ngebentak Ocel. Padahal Ocel cuma nanya “Gimana rasanya ngewe?” Elio langsung ngebentak nanyain kenapa Ocel ngomongnya gitu, padahal kan normal ya? Ocel cuma penasaran. Vale sih nggak jawab apa-apa tapi pas mau pulang ke rumahnya, Vale bilang kalau Ocel mau nyobain juga besok kita coba.

Besoknya tuh kapan? Ya hari ini. Oxcel udah bersih. Walaupun Oxcel nggak tau position pacar-pacarnya selama berhubungan badan tuh apa, tapi ya jaga-jaga Oxcel bebersih duluan. 

Oxcel beneran datang sore ini ke apartemen Elio. Vale bilang dia udah di apartemen Elio sejak satu jam yang lalu.

Baru aja Oxcel mau masuk ke dalam kamar Elio yang tertutup rapat karena dirinya yakin Elio dan Vale pasti ada di dalam, ia mendengar suara desahan kencang milik Vale dan tepukan antar kulit dari dalam. Matanya melebar. Ini di dalam Vale sama Elio udah mulai duluan?

Biasanya kalau mereka lagi mau sex, Oxcel bakalan disuruh pulang atau lebih tepatnya dipesenin grabcar sama Elio buat pulang ke rumahnya dengan selamat. Oxcel juga mau-mau aja padahal ya gapapa juga kalau mereka mau having sex di depan Oxcel. Toh juga Oxcel cuma dua tahun lebih muda. Oxcel udah dewasa dan bukan anak kecil lagi. Oxcel juga pernah kok dry humping beberapa kali di atas Vale atau Elio yang bahkan sampai ikut keluar di balik celananya.

Karena takut mengganggu akhirnya Oxcel duduk di sofa ruang tengah, mainin hp sampai bosen ditemani suara desah dari kamar Elio.

Cklek

Suara pintu yang terbuka buat Oxcel menoleh, Elio keluar kamar hanya dengan boxer warna-warninya itu. Elio kaget melihat Ocel yang ada di apartemennya dan Ocel juga kaget lihat dada Elio yang penuh jejak merah. Liarnya Vale emang nggak usah diragukan.

“Lah, Meng? Sejak kapan disini?” tanya Elio.

“Sejak…nggak tau, pokoknya dari pas Kak V jerit-jerit di dalem,” jawabnya asal.

Lalu Vale ikut keluar dengan kemeja Elio yang kebesaran di tubuhnya, nggak dikancingin, dan nggak pakai bawahan apapun.

“Ocel? Udah berapa lama kamu disini?” Vale mendekat ke arah Oxcel, menarik tangannya lembut untuk berdiri dan menuntunnya untuk masuk ke dalam kamar. Diikuti Elio di belakang mereka.

“Ini apaan? Kamu mau ngontolin Ocel apa gimana?” tanya Elio. Duhhhh Ocel jadi pusing kalau denger pacarnya ngomong jorok.

Vale menggangguk, “Ya iya? Kan kemaren Ocel nanyain gimana rasanya ngewe, yaudah aku aja yang ajarin kalau kamu ngamuk-ngamuk kayak kemaren.”

Elio malah menggeleng ribut, lalu menarik lengan Ocel dari genggaman Vale. “Nggak ya nggak, Vale. Kalau kamu masih sange yaudah kontolin aku, jangan Ocel.”

“Hah?”

“HAH?”

Nah kan bingung. Kedua pacarnya malah sibuk hah heh hoh padahal Elio ngomongnya serius loh? “Kenapa lu ikutan ‘hah’ anak kecil?”

“Iihhh!” Oxcel menepuk bahu Elio kencang sampai yang dipukulnya mengaduh. “Aku bukan anak kecil Io!!!”

“Tau ya, Ocel bukan anak kecil Elio. Buktinya dia hari ini aja mau belajar ngewe, coba sini sayang rebahan disini.” Vale menepuk-nepuk kasur yang kosong di sampingnya.

Oxcel ikuti pinta Vale. Ia rebahkan tubuhnya di samping Vale. Sedangkan Vale dudukkan tubuhnya dan tangannya segera meraih nakas di sebelah tempat tidur Elio. Mengambil botol lube dan kondom. Sejujurnya Ocel deg-degan gila. Dia merasa kayak anak gadis yang mau diperawani di malam pertama. Tapi sebenarnya Ocel tuh cuma penasaran aja, Ocel cuma pengen tau gimana sih rasanya? Apalagi sama kedua pacarnya ini (walaupun Elio nggak mau).

Vale mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Oxcel, lalu bibirnya ia bawa untuk berikan cium pada tahi lalat yang tersebar banyak di seluruh wajah Oxcel. “Nggak ada abisnya moles kamu tuh, bisa sampai besok pagi aku ciumin,”

Oxcel tersenyum, “Coba kalau kamu bisa hitung berapa banyak moles di muka aku sambil dicium satu-satu nanti aku sepongin,” 

Ucapan Oxcel buat Vale terkekeh. “Mau salah atau bener tetep disepongin ya? Janji?” Vale angkat kelingkingnya di antara wajah mereka, yang dibalas Oxcel dengan mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Vale, “Janji.”

Elio yang lihat dua pacarnya tertawa di atas kasur, ikut naik dan merebahkan diri di samping Oxcel.

Vale yang lihat Elio naik ke atas kasur pun berdecak “Ck, Siapa yang suruh kamu ikut? Udah kamu keluar aja kalau nggak mau lihat Ocel aku kontolin,” 

Mampus. Beneran Ocel yang bakalan jadi pihak yang nerima penis Vale. Ocel bayangin sekali lagi gimana besarnya milik Vale. Duh, Ocel takut. Tapi penasaran, tapi takut juga. Ocel harus gimana ya bilangnya…?

Vale sedikit merasa kesal karena kemarin Elio beneran marahin Ocel cuma karena Ocel nanyain gimana rasanya ngewe, padahal menurut Vale ya wajar-wajar aja kok.

Elio lihat wajah Vale yang jelas kelihatan marah langsung mendekatkan kepalanya dan mulai mencium Vale. Mencium Vale di atas wajah Oxcel lebih tepatnya. Dari bawah sini, dapat Oxcel lihat bagaimana bibir Elio dan Vale saling hisap. Udah pernah Ocel bilang kan? Pacar-pacarnya ini emang paling jago urusan ciuman. 

Oxcel berdehem dan kedua pacarnya langsung memutus ikatan bibir mereka. 

“J-jadi siapa yang mau ngewe sama aku?” Oxcel terbata karena demi apapun ia gugup sekali apalagi kini kedua pacarnya menatapnya lekat.

Lalu ia lihat Vale dan Elio saling tatap-tatapan. Sebelum Vale mengedipkan sebelah matanya pada Elio.

“Balik badan, Meng,” Elio bersuara. Tangannya mengangkat tubuh Oxcel untuk pindah posisi. Baju Oxcel ditarik ke atas oleh Vale dan celananya di tarik turun oleh Elio. Hingga ia hampir sepenuhnya telanjang karena Elio belum menarik turun briefs putihnya. 

Dapat Oxcel rasakan punggungnya diberi kecupan-kecupan halus oleh Elio yang kini ikut memeluk tubuhnya dari atas, tangan Elio mengusap-usap halus perut Oxcel sebelum menariknya yang buat Oxcel menahan tubuh hanya dengan siku dan lutut.

“Kamu beneran mau dikontolin, sayang?” Oxcel bergidik geli sebab Elio berbisik dengan suara halus di telinganya.

“M-mau Io…boleh?” tanya Oxcel. Perasaannya masih deg-degan gila. Sependek yang ia tau, ngewe tuh rasanya sakit banget apalagi first time. Ocel mau bilang ke Elio tapi takut, karena Elio udah larang dia dari kemarin dan Ocel tetap keras kepala mau ngerasain karena punya backingan Vale.

Lalu Oxcel rasakan punggungnya dingin karena angin AC yang langsung menerpa tubuhnya. Elio sudah duduk di sampingnya. Mulai membuka boxer yang ia kenakan. Elio pandangi tubuh kecil Ocel dari ujung kepala hingga kaki yang belum pernah ia lihat selama ini. Ia belum pernah telanjangi Ocel dan yang ia pikir mungkin sampai kapanpun nggak akan pernah justru terjadi hanya dalam hitungan bulan ia berpacaran. Elio sangat menyayangi Ocel sampai rasanya nggak tega kalau Ocel mulai terpapar kegiatan dewasanya bersama Vale. Padahal Elio juga tau Ocel bukan lagi anak enam belas tahun seperti pertama kali ia kenal dulu. Ocel udah jadi sosok yang juga sama dewasa seperti dirinya, tapi rasanya Elio nggak pernah siap melakukan hubungan dewasa dengan Ocel. Jangankan ini, tau Ocel yang masih curi-curi merokok saja rasanya Elio masih marah, dan saat tau kalau dirinya yang mencuri first kiss Ocel kala itu Elio rasanya mau tolol-tololin dirinya sendiri. 

Terlalu banyak bengong, Elio dengar suara Vale yang berbisik di telinganya. “Pelan-pelan ya El, ini first timenya Ocel.”

Elio lalu menoleh ke Vale, “Aku kayaknya nggak bisa,”

Vale tersenyum, kedua tangannya ia bawa untuk memegang bahu Elio sambil berikan pijatan lembut agar Elio relax. “Nggak ada yang maksa kalau kamu nggak mau, Elio. Take your time. Aku ngasih chance ini ke kamu karena aku tau gimana besarnya rasa sayang kamu ke Ocel. Tapi kalau kamu nggak bisa ya gapapa, Ocelnya masih bisa sama aku, kok. So? Kamu mau atau nggak?”

Elio tarik tangan Vale dari bahunya, ia bawa keduanya untuk ia kecup. “Aku mau sayang, tapi aku nggak tega sama Ocel.”

Vale tersenyum lagi, lalu menarik Oxcel untuk ikut duduk di samping Elio. “Ocel, kamu takut nggak? Coba jujur sama aku,”

Oxcel pandangi wajah kekasihnya satu persatu, “Takut…”

Elio yang mendengar respon Oxcel langsung berdiri, “Nah terus kenapa masih mau nyobain? Gila ya?” 

“Hey, hey. Calm down, Elio.” Vale menengahi. “Terus gimana Ocel? Kamu masih mau?”

Oxcel mengangguk. 

“Yaudah, sini dulu kamu sepongin Io dulu ya. Biar aku yang prepare,”

Dengan skill problem solving Vale, jadi lah sekarang Oxcel sibuk mengulum milik Elio dengan Elio yang mengusap kepalanya lembut dan Vale di belakangnya yang sibuk memberikan usapan di sekitar lubangnya. Oxcel rasakan dingin lube yang dituangkan Vale pada lubangnya.

“Nghh”

Oxcel melenguh saat satu jari Vale menerobos masuk ke analnya. 

Satu jari, dua jari, dan kini tiga jari Vale bekerja keluar masuk melonggarkan analnya agar siap untuk dimasuki Elio. 

Nghh…Kak V enakahh enak...” ucapan Oxcel mulai nggak kekontrol, mulutnya udah nggak bisa mengulum penis Elio lagi. Yang ada di pikirannya cuma enak, enak, enak.

Vale yang merasa udah siap memberi sinyal ke Elio yang langsung diterima baik.

“Sayang, kamu beneran mau kan?” Elio bertanya sekali lagi. Kepalanya ia turunkan ke leher Ocel, memberi ciuman-ciuman halus beserta jejak merah yang nggak akan hilang dalam hitungan hari. 

“Iya…ngh…mau sayang…mau dimasukin…” Oxcel benar-benar udah nggak bisa berpikir jernih. Vale segera berdiri, isyaratkan Elio untuk pindah posisi. Vale bawa kepala Oxcel ke atas pangkuannya, berikan waktu agar Elio bisa memasang kondomnya. 

Lalu Elio kembali begabung dengan kedua pacarnya, beri cium sebanyak-banyaknya pada tubuh Oxcel. Kedua kaki Oxcel ia lebarkan, tangannya menyentuh milik Oxcel yang juga menegang buat Oxcel melenguh. Vale kembali mencium Oxcel, melumat bibirnya dalam. Saat Elio rasa Ocel fokus pada Vale, ia coba tuntun miliknya masuk ke dalam hangat Oxcel.

Oxcel melotot dan badannya membeku. Sakit bangettttt. Bibirnya masih dilumat Vale, mencoba alihkan rasa sakit Oxcel yang nggak ada ujungnya itu. Sakit banget, sampai muncul rasa penyesalan dalam diri Oxcel. Tangannya bergerak menahan tubuh Elio dan Elio yang paham berikan waktu sampai Oxcel terbiasa. Tangannya mengusap panjang Oxcel, ujungnya diberikan belaian halus sampai precum Oxcel merata di kepala penisnya.

Vale tersenyum saat Oxcel membalas lumat bibirnya lagi sebelum ia menarik diri. Matanya menangkap air mata yang menetes di sudut mata Oxcel, “Sakit ya sayang?” tanyanya.

Oxcel yang diberi tatap menjawab dengan anggukan pelan. Air matanya terus mengalir walaupun Vale berulang kali menghapusnya. Elio yang lihat respon itu jadi iba, “Udah aja ya Meng?”

Nggak cuma Oxcel, Vale yang dengar pertanyaan Elio pun menatapnya kesal. “Udah apaan? Udah tau dia kesakitan ya dikasih enak, Elio. Kalau diudahin ya cuma ninggalin rasa sakit doang buat Ocel.”

Saat Elio lihat Oxcel mengangguk, rasa yakin perlahan muncul dalam dirinya. “Aku boleh gerak, sayang?” tanyanya.

Oxcel mengangguk lagi.

Tepat saat Elio mulai bergerak pelan, keluar masuk dalam tubuhnya, Oxcel merintih. Enak. Matanya berputar ke atas, kehilangan warasnya. “Ngh- Io…” panggilan Ocel buat Elio mencium dadanya. Beri jilatan halus yang buat tubuh Oxcel membusung ke atas. Kaki Oxcel bergetar kencang, Elio juga beri usapan halus sambil sesekali diami tubuhnya hingga kaki Oxcel berhenti bergetar.

Vale lihat Oxcel yang mulai terbang terbawa nafsunya. Tangannya membelai halus wajah Oxcel. Oxcel pun mengalihkan perhatiannya ke atas, ke pacarnya satu lagi. “Aku mau sepongin kamu, boleh ya? Mau…please…” Oxcel meminta yang langsung dipenuhi Vale. Milik Vale di depan wajahnya, ia jilat lembut sebelum kulum masuki mulutnya. Oxcel cuma mau mulutnya nggak kosong selama tubuhnya dihentak Elio dari bawah sana. Entah berapa kali matanya berputar tiap Elio cium dadanya atau kocok miliknya hingga keluar. Tapi Oxcel belum rasa milik Elio membesar dan akan tumpahkan cairannya. 

Elio masih sibuk menjamah tubuh Oxcel. Oxcel yang penuh, dengan miliknya yang menyumpal ia lihat berkali-kali. Ia tanam dalam memorinya, kalau-kalau setelah ini ia nggak punya alasan untuk penuhi Oxcel lagi. Perutnya yang basah karena cairannya sendiri, dadanya yang penuh jejak merah, kakinya yang masih bergetar tiap kali Elio dorong miliknya mentok sampai ke ujung. Benar-benar nikmat tuhan turun dalam bentuk tubuh indah milik Oxcel kesayangannya.

“Kamu suka sayang? Dimentokin gini suka ya?” 

Io tuh nggak tau apa ya rasanya Ocel udah nggak bisa mikir jernih. Gimana mau jawab, pikirannya Ocel cuma enak, enak, enak. Sampai rasanya Ocel mau dipenuhin terus. Ocel mau disumpal terus. Mana sekarang mulut Ocel juga penuh, menurut Io kalau gini Ocel bisa kah jawab pertanyaannya?

Elio nggak mendengar jawaban apapun dari Oxcel. Hanya “mmh mmh” yang keluar dari mulutnya karena masih sibuk mengulum milik Vale. Mungkin lebih tepatnya, Oxcel hanya menghangatkan milik Vale di dalam mulutnya, karena kepalanya udah nggak mampu untuk ia gerakkan maju mundur berikan oral untuk Vale. Vale pun memaklumi, ia suka hangat mulut Ocel yang lingkupi penisnya. Oxcel dengan mulut penuh mungkin jadi salah satu dari pemandangan yang ia sukai saat ini. Berkali-kali getaran juga diberikan Oxcel dari dalam mulutnya sebab Elio yang masih sibuk menghentakkan miliknya, cukup untuk memberi nikmat pada Vale yang lebih dari suka melihat Oxcel nggak berdaya seperti saat ini.

Elio rasa sebentar lagi ia akan sampai pada puncaknya. Gerakannya semakin cepat untuk keluar masuk dalam tubuh Oxcel, yang buat Oxcel sangat kewalahan. Kakinya masih bergetar tiap kali rangsangan yang ia dapatkan dari Elio terlalu banyak ia rasakan. Sampai akhirnya ia rasa Elio yang membesar dan cairannya menyembur banyak di dalam kondomnya.

Elio terengah-engah, begitu pula Oxcel. Elio tunggu hingga puncaknya selesai, sambil ciumi wajah Oxcel. Bibirnya beri cium juga untuk sisa penis Vale yang nggak muat untuk masuk ke dalam mulut kecil Oxcel. Sebelum ia tarik Oxcel agar terbebas dan mencium bibirnya lembut. Elio dapat merasakan Vale dari dalam mulut Oxcel, namun mulutnya nggak berhenti melumat dan mengabsen tiap gigi Oxcel.

“Enak, sayang?” tanyanya saat sudahi tautan bibirnya dengan Oxcel.

Oxcel menggangguk, “Makasih, Io…” Lalu Oxcel kecup bibir Elio yang belum menjauh dari atas tubuhnya cepat.

Elio menarik diri dan melepas kondomnya. Lalu beralih ke Vale yang memandangnya lekat, “Kenapa liatin aku?”
Vale terkekeh, “Sange lagi abis liatin kamu ngontolin Ocel,”

“Kamu dikit-dikit sange, mending kamu tidurin dulu itu Oxcel langsung tepar udah abis energinya,” balas Elio.

Vale kembali menatap kepala Oxcel yang masih ia pangku. Benar saja, Oxcel udah menutup matanya. Mungkin benar ia kelelahan langsung setelah energinya terkuras habis dari sex pertamanya. Mulutnya masih penuh dengan milik Vale yang tadi dikembalikan Elio setelah curi ciumannya. Vale menarik penisnya dari dalam mulut Oxcel, yang buat Oxcel membuka matanya menatap heran.

“Kamu capek kan sayang? Tidur aja ya abis ini,” ujar Vale. Oxcel menggeleng, mulutnya masih ingin dipenuhi dengan milik Vale. Tangan Oxcel menahan Vale yang ingin menarik diri, “Aku masih mau sepongin kamu…”

Vale menatap Elio, meminta bantuan. 

“Meng, udahan dulu. Ntar kalau mau nyepong pas bangun aja, masa Vale lagi tegang gini kamu pake buat menuhin mulut kamu doang?” tanyanya.

Vale suka sih, miliknya hangat di dalam mulut Ocel. Vale suka cock-warming, tapi sekarang miliknya benar-benar butuh dikocok sampai keluar. Mana mungkin Vale biarkan spermanya tumpah di dalam mulut Ocel dengan kondisi Ocel yang setengah sadar.

Setelah berhasil membujuk Oxcel, Vale meminta Elio untuk bersihkan perut Oxcel yang penuh dengan spermanya sendiri, lalu mereka berdua bekerja sama memakaikan kembali pakaian Oxcel agar yang paling kecil itu bisa tertidur dengan nyaman. Sebelum akhirnya kepala Oxcel, dipindahkan Elio ke atas bantal.

Setelah selesai mengurus Oxcel, Elio dan Vale tatap-tatapan. Tertawa karena mereka mengerti maksud satu sama lain hanya lewat tatap. 

“Aku sepongin aja sini,” ujar Elio.

Vale menggeleng, “Sampai keluar aja dong, please?”

“Aku udah nggak tegang lagi, nggak inget aku udah keluar berapa kali pas sama kamu?” Elio mengusap pipi Vale lembut.

Vale nggak mau kalah, tubuhnya naik ke atas pangkuan Elio. “Tadi katanya aku boleh ngontolin kamu aja?” bisik Vale di telinga Elio.

Elio membelalakkan matanya, “Kata siapa??”

“Lah udah lupa, padahal kamu tadi yang bilang karena nggak mau lihat Ocel duluan sama aku,” balas Vale.

Wajah Elio memerah. Padahal mulutnya cuma asal bicara.

“Ya? Boleh nggak hari ini selain Ocel yang nyobain first sexnya, kamu juga nyobain gimana rasanya aku kontolin?” Vale menatap mata Elio.

Elio menggeleng, “Tapi nggak disamping Ocel yang tidur juga, Val? Kapan-kapan aja ya?”

Vale mendengus, bibirnya melengkung kecewa. Kepalanya ia bawa bersandar di bahu Elio, sambil tangannya mengusap halus pinggang pria yang memangkunya ini. “Janji ya?"

“Iya sayang,” Elio mengusap belakang kepala Vale lembut. “Terus kamu mau gimana, mau aku sepongin apa aku kocokin aja?” tanyanya.

Vale nggak jawab tapi tangannya meraih celana Elio untuk ia buka. Elio yang tau Vale akan memakai penisnya untuk memuaskan dirinya sendiri akhirnya membiarkan.

“Kenapa lemes amat sih, udah nggak nafsu ya sama aku?” tanya Vale saat dapati milik Elio yang nggak menegang walaupun sudah ia duduki.

“Udah capek dianya,” kata Elio asal. Vale tertawa, matanya menyipit lucu membuat Elio tertarik untuk mencium bibirnya.

Vale udah akan duduki dirinya di atas penis Elio, sebelum Elio menahan pinggangnya untuk turun lebih jauh. “Kondom, Vale.” 

“Jauuhhh,” protes Vale. “Lagian enakan raw, lebih berasa kan?”

Elio yang nggak terbujuk rayu Vale malah memindahkan Vale dari pangkuannya, lalu ia meraih nakas untuk ambil kondom yang belum terpakai.

Setelah ia kembali duduk di ujung kasur dan Vale kembali naik untuk ia pangku, Vale pasangkan kondom pada milik Elio dan langsung duduki dirinya di atas milik Elio yang udah terbungkus kondom. Vale jauh lebih liar dan semua pacarnya tau itu. Tubuhnya bergerak sendiri, melonjak-lonjak di atas Elio sambil mendesah kecil. Tangan Elio ia arahkan untuk kocok miliknya. Elio yang lihat Vale puaskan hasratnya sendiri di atas tubuhnya, mau nggak mau mengeras lagi dan Vale bisa rasakan milik Elio yang tegang di dalam lubangnya.

Sampai akhirnya, Elio keluar penuhi kondomnya dengan sperma. Begitu pula Vale yang keluar menyembur ke perutnya sendiri dan perut Elio. Tubuh Vale bergetar selama pelepasannya, mengundang Elio untuk kecup leher Vale berkali-kali hingga ia turun dari puncaknya.

“Udah sayang?” tanya Elio lembut, tangannya merapikan rambut Vale yang menutupi matanya dan lengket karena keringat.

Vale mengangguk, “Makasih ya sayang, kamu emang paling best,” Vale kecup bibir tebal Elio sekali.

“Mau tidur?” tanya Elio. Tubuhnya lelah dan ia yakin Vale juga sama capeknya.

Vale mengangguk, matanya memandang ke arah jendela kamar Elio yang menunjukkan langit malam. Entah sudah berapa lama mereka terlalu larut dalam aktivitas seksual, sampai-sampai lupa waktu hingga nggak menyadari matahari yang berganti bulan.

Setelah sama-sama membersihkan tubuh mereka, Vale dan Elio merebahkan tubuh di ujung kasur. Biarkan Oxcel di tengah-tengah mereka.

“Elio,” panggil Vale yang belum tertidur.

Elio yang udah memejamkan mata merespon, “Ya?”

Vale bergerak, merubah posisinya jadi menghadap ke kiri. Ke arah dua pacarnya yang kini sama-sama memejamkan mata. “Makasih ya udah ngajakin aku ke hubungan ini, ke hubungan kita bertiga.”

Elio yang mendengar ucapan Vale membuka matanya kembali, menatap langit-langit kamarnya. Tentu saja, menjalankan hubungan itu bukan suatu hal yang mudah. Berdua saja banyak yang tak berhasil apalagi bertiga. Entah apa kata dunia pun, Elio nggak ingin tau. Yang Elio mau tau adalah, hubungannya dengan baik Ocel maupun Vale selalu penuh dengan rasa cinta. Walaupun banyak kesalnya, Elio berharap mereka selalu punya ruang maaf yang besar untuk dirinya.

Begitu pun dirinya sendiri yang ia harap selalu mencoba untuk jadi versi yang terbaik di depan kedua cintanya. Masalah demi masalah yang mereka lewati, semoga jadi alasan mereka bisa jauh lebih memberi kasih dan sayang setiap waktu. Mau berakhir seperti apa nanti, nggak ada gunanya dipikirkan dari sekarang. Tapi Elio sungguh-sungguh berharap bisa menjalankan kehidupannya yang lama dengan Vale dan Ocel. Elio benar-benar menyayangi keduanya tanpa terkecuali.

“Elio, kok…kamu nangis?” suara Vale menyadarkan Elio, tangannya menghapus air mata yang tanpa disadari keluar dari sudut matanya.

“Itu sensitif ya? Aku minta maaf,” ujar Vale lagi.

Elio menggeleng, tubuhnya berpindah posisi juga jadi menghadap kedua kekasihnya. “Nggak Val, harusnya aku yang makasih sama kamu dan sama Ocel. Makasih dari awal udah nyadarin aku ya. Maafin aku yang banyak mau, tapi karena aku banyak maunya ini aku bisa jalin hubungan sama kalian berdua.” 

Vale tersenyum, “Bukan karena kamu banyak mau, tapi karena kamu nggak tau kamu maunya apa. Kalau bukan aku yang nyadarin kamu waktu itu, mungkin sampai sekarang kamu masih bingung sama perasaan kamu sendiri.”

“Yeee sama aja, pokoknya kita jadi bisa bertiga karena aku, kan?” Elio nggak mau kalah.

Vale pun jadi ikutan nggak mau kalah, “Lah karena aku dong?”

“Karena aku, titik.”

Vale dan Elio sama-sama memandang Oxcel dari sisi masing-masing. Oxcel terbangun sejak Elio dan Vale berdebat di telinganya. Posisinya yang berada di tengah kedua pacarnya nggak membantu sama sekali, malah rasanya Vale dan Elio benar-benar ribut dengan perantara telinganya.

Elio terkekeh mendengar respon Oxcel, Vale ikut terkekeh. “Iya deh, karena Ocel.” ujar Vale, lalu kepalanya maju untuk mengecup pipi kanan Oxcel. Begitu pun Elio yang maju menciumi pipi kiri Oxcel.

“Aaaahhh, aku mau tidur jangan diciumin terus.” 

Notes:

kalau ingin mencari di x <3