Work Text:
Suara dering handphone terdengar dari saku orang yang sekarang sedang mengisapi kontol Hyeongjun di gang kecil. Bener-bener ngerusak suasana. Dia langsung mengeluarkan kontolnya dari mulut.
“Tunggu ya beb. Ini penting.” kemudian orang itu berdiri untuk mengangkat telfonnya.
Menyebalkan. Kepala Hyeongjun pusing karena masih mabok, ditambah kontolnya tiba-tiba dibiarkan ngaceng sambil berdiri di gang kecil dan masih dilumurin liur orang itu. Ujungnya sepongannya juga gak dilanjutin karena dia tiba-tiba cabut buru-buru. Sialan.
Hyeongjun pun akhirnya balik ke kosnya dengan keadaan mabok dan masih ngaceng. Gak enak banget bangsat. Masa dia kepaksa ngurusin diri dia sih.
Setelah entah jalan kliyengan berapa lama, akhirnya dia nyampe depan pintu kosnya itu.
Matanya disambut oleh kasur yang harusnya kosong diisi seseorang. Lampu lorong yang masuk untuk menerangi kamar hanya bisa menunjukkan Hyeongjun bahwa orang itu tidur menghadap tembok dan memiliki rambut panjang berwarna hitam. Namun, karena sudah lelah dia hanya ingin tidur, mungkin orang di kasurnya ini hanya halusinasi kepala maboknya saja. Hyeongjun akhirnya menyalakan lampu mejanya dan melemparkan diri ke kasur, mencoba untuk tidur.
Lima menit berubah jadi sepuluh, kemudian dua puluh menjadi tiga puluh dia habiskan tidur terlentang menatap langit-langit kosannya. Hyeongjun tidak bisa tidur karena ngacengnya belum diurus. Akal-akalan siapa lagi nyepongin orang tapi pas belom selesai langsung ditinggal.
Hyeongjun memalingkan badannya ke samping, menontoni orang sedang tidur pulas di sampingnya. Tiba-tiba muncul ide bejat di kepalanya. Dia menarik orang itu sampai dia tidur terlentang di kasur.
‘Lah?’ adalah salah satu kata yang muncul di kepala Hyeongjun setelah melihat muka orang itu. Dari mata, hidung, mulut, hingga tahi lalat yang ada di ujung kelopak matanya sama persis dengan mukanya sendiri. Hal yang berbeda hanyalah rambut mereka saja karena miliknya warna merah pekat. Anehnya, dirinya yang sedang tertidur terlihat sangat cantik.
Hyeongjun mengukung orang itu (dirinya?) untuk melihat mukanya lebih jelas. Dia mendekati mukanya sendiri untuk menginspeksinya lebih jeli dan seketika mulut mereka saling bersentuhan. Ciuman yang awalnya hanya kecupan berubah menjadi raupan lapar dari Hyeongjun yang di atas. Kepalang sange sama mabok, ciumannya berantakan sampai air liurnya membasahi dagu mereka berdua. Rahangnya kemudian diciumi sampai lehernya diberikan bercak-bercak merah, bau badan Hyeongjun yang di bawah bikin dirinya merasa tambah mabok. Nggak tau kenapa kontolnya tambah berkedut menghirup baunya sendiri.
Hyeongjun menarik lepas baju dirinya yang di bawah.aju dirinya yang di bawah hingga lepas. Melihat badannya sendiri dengan matanya secara langsung dibandingkan dengan kaca memberikannya perspektif baru. Dia tidak ingin terdengar narsis tapi setelah melihat dirinya seperti ini dia memang secantik itu. Saking cantiknya dia menghabiskan lima menit hanya untuk menontoni dirinya bernafas secara tenang sambil tertidur.
Dia lanjut menciumi lehernya lagi sambil membawa bercak-bercak merah sekaligus bekas gigitan itu turun ke dadanya. Melihatnya ditutupi bekas cupang membuatnya merasa posesif. Hyeongjun memainkan pentil dirinya yang dibawah sambil kenyotin pentil satunya. Belom apa-apa aja udah sange, saking sangenya dia gesek-gesek kontolnya di paha dirinya yang di bawah.
Hyeongjun akhirnya mulai berjalan turun, menciumi perut ratanya sendiri sambil menarik celana tidur dan kolor dirinya sendiri yang di bawah sampai copot.
Anjing. Matanya disambut dengan memek yang sudah banjir dibanding kontol yang menyamakan miliknya sendiri. Hyeongjun mengelap ilernya yang dari tadi sudah menetes sambil menontoni memek dirinya cengap-cengap. Rasanya seperti balik jadi perawan yang baru pertama kali liat memek orang lain.
Hyeongjun langsung pindah ke antara paha miliknya itu lalu melahap memeknya seperti orang keanjingan yang belum diberi minum tiga hari. Semua cairan yang keluar dari dirinya dia telan dengan senang hati. Hidung mancungnya yang menusuk-nusuk itilnya sendiri membuat terasa mabuk akan baunya sendiri. Lidahnya yang dkeluar masukan juga dijepit-jepit oleh dinding sempitnya yang di dalam.
Hyeongjun pun kembali untuk menggesekan kontolnya ke apapun yang ada di bawahnya karena dia bisa merasakan dirinya bucat seperti ini. Dan betul saja, beberapa menit kemudian celananya dibasahi peju dirinya.
Dia akhirnya mencopoti mulutnya dari memek itu. Diikuti oleh baju-bajunya yang sudah basah karena keringat dan pejunya.
Hyeongjun memposisikan kontolnya di luar memeknya sebelum melesakannya masuk. Entah sisa alkohol yang masih tersisa di tubuhnya atau dia memang terpalang tidur tapi rasanya dia bisa nangis sekarang. Dia tidak bergerak selama beberapa menit hanya untuk merasakan kencangnya memek dirinya sendiri.
Hyeongjun baru menggerakan pinggulnya beberapa kali sebelum dirinya digulingkan sampai tidur terlentang di kasur. Lehernya dicengkram erat oleh dua tangan.
“Enak aja lu merkosa gua. Lu siapa anj–” Hyeongjun yang berambut hitam akhirnya mematung melihat muka dirinya menatapnya kembali. Dia melonggarkan cengkraman tangannya di leher dirinya.
“Apa? gua cakep kah sampe nyekeknya udahan? Narsis juga lu.” Hyeongjun kembali mentokin kontolnya di dalam memeknya. Pinggulnya menghantam ke atas dengan kuat.
“Ngghh… kok bisa sih… aduh! kecepe– ahhnn…. kecepetan Hyeongjun.” ucap dirinya yang berambut merah.
“Gua manggil lu apa ya? Junhan aja deh. Mungkin ini berkat dari tuhan Junhan.” kekeh Hyeongjun.
Tangan Hyeongjun memegangi pinggul Junhan agar dia bisa bergerak lebih enak. Salah satu tangannya dia bawa untuk memainkan itil Junhan, membuatnya kedutan di dalem.
Junhan mencoba untuk melepaskan dirinya dari Hyeongjun walaupun usahanya ditemukan dengan kekecewaan karena cengkraman Hyeongjun di pinggulnya membuatnya tidak bisa bergerak. Dia terpaksa dirojok dirinya sendiri.
“Coba cekek gua lagi. Gua tau lu suka gituan.” ejek Hyeongjun, menarik salah satu tangan Junhan ke lehernya.
Junhan mengikuti perkataan Hyeongjun dan mulai mencekiknya. Mukanya kelihatan marah.
“Lu juga sama anehnya minta dicekek sambil ngentotin diri lu sendiri.”
Hyeongjun tidak salah, Junhan yang sembari tadi menontoni dirinya berusaha untuk bernafas sambil keenakan merojokinya membuat perutnya geli-geli dikit.
Ritme Hyeongjun lama kelamaan mulai berantakan. Dia merasa dia bisa bucat bentar lagi. Siapa sangka memeknya sendiri seenak ini ngeremes-remes kontolnya. Hyeongjun memberikan satu dua kali hentakan dalam lagi sebelum keluar di dalam. Membuat perut Junhan terasa hangat.
Tangan Junhan di lehernya dia copot paksa bersamaan dengan kontolnya di lobang Junhan. Memeknya cengap-cengap minta diisi lagi sambil peju Hyeongjun netes-netes keluar. Hyeongjun yang nontonin dari bawah jadi ngaceng lagi.
Hyeongjun menggulingkan Junhan lagi dan kembali mengukungnya.
“Gua bikin lu kencing-kencing biar lu suka dilecehin diri lu sendiri.” tangan Hyeongjun mencengkeram rahang Junhan agar terpaksa terbuka dan mulutnya dia ludahi agar ditelan.
Tangan di rahang itu kemudian turun untuk menyekek lehernya. Tangan Junhan menarik-narik lengan Hyeongjun yang eratannya mulai mengencang.
Hyeongjun kembali menyumpalkan kontolnya ke dalam Junhan. Pejunya yang menetes kembali dientot ke dalam.
“Ahhhn.. bangsat memek lu kayak perawan lagi sambil dicekek-cekek gini. Sesuka itu ya?”
Hentakan Hyeongjun pelan tapi dalam. Posisi ini bikin kontolnya nusuk-nusuk lebih dalem lagi sampai keliatan di perutnya. Entah keenakan atau mulai hilang napas tapi Junhan sampai juling dan ngiler. Teler dikontolin dirinya sendiri.
Tangan Hyeongjun akhirnya dilepaskan dan dipindahkan ke perut Junhan untuk menekan-nekan tonjolan kontolnya. Badannya bergetar saking enaknya. Salah satu tangannya dia bawa ke bawah untuk kembali memainkan itil Junhan yang bikin dia tambah kelonjotan lagi.
Hyeongjun pun bucat ke dua kalinya di dalam. Hangat pejunya ditambah stimulasi lain bikin Junhan makin kedut-kedut di dalam dan akhirnya mencapai klimaksnya sendiri. Hyeongjun mencopot kontolnya agar bisa menonton pertunjukan air mancur itu. Semua pejunya juga akhirnya luber keluar.
Hyeongjun tiduran di samping Junhan yang masih kejang-kejang keenakan dan akhirnya tertidur lelap.
