Chapter Text
Jam di dinding masih menunjukan pukul setengah 7 pagi, diluar pun matahari baru saja dengan percaya diri merangkak naik. Tapi Hanjin, sudah berada di kamar mandi sejak 15 menit yang lalu, berdiam diri sambil mengetuk ngetuk kening nya sendiri.
Suami nya, Kak Dohoon masih terlelap, efek bekerja sehari 9 jam sehari sampai tidak sadar yang dipeluk erat sekarang hanya guling bukan suami cantiknya yang masih meratapi nasib nya di petak kamar mandi.
Jantung Hanjin berdebar, sudah hampir 2 minggu ia selalu terbangun lebih awal karena mual secara tiba tiba di pagi hari. Hanjin hanya mengeles pada Dohoon dengan "iya ini aku cuma masuk angin" Setiap Dohoon bertanya dengan raut khawatir. Dohoon bisa saja menyeret Hanjin dengan paksa, tapi yang ada hanya Dohoon mendapat pukulan sayang super kuat dari Hanjin.
Tapi saat Hanjin bercerita pada Youngjae 2 hari lalu, Youngjae malah menyentil dahi nya dan dengan kesal berkata "Kamu gak kepikiran kalo kamu itu hamil apa?!"
Karena itu lah sekarang Hanjin ada di kondisi ini, 5 menit yang lalu mualnya kambuh lagi membuat ia terbangun dan sedikit terbirit ke kamar mandi. Namun setelahnya, ia melirik pada tas merah nya yang tergantung bersama jejeran tas lainnya.
Ada testpack yang diberikan Youngjae di dalam.
Karena penasaran, ia dengan ragu mencoba testpack tersebut. Hanjin sebenarnya tidak begitu yakin... Menunda untuk memiliki anak selama 3 tahun, dan hanya baru beberapa kali mereka berhubungan badan tanpa pengaman masa iya sudah bisa hamil, Dohoon segacor itu kah?
Namun setelah beberapa saat Hanjin mencoba alat berbentuk stik tersebut keraguannya terjawab, dua garis biru tercetak jelas, Hanjin tidak sebegitu bodoh nya untuk mengerti arti dari garis tersebut.
"Waduh"
Positif, hasilnya positif, kali ini Youngjae benar.
Makanya sedari tadi ia hanya diam dan memperhatikan testpack itu dengan perasaan campur aduk. Senang? Terharu? Khawatir? Bagaimana Kak Dohoon akan menanggapi ini?
Aneh sih, ia punya suami tapi pas dihamilin malah bingung, padahal dari segi mental dan finansial mereka berdua sudah kelewat siap untuk ini. Hanya saja, mereka baru saja memutuskan untuk menyudahi masa pacaran setelah menikah mereka dua bulan lalu, dan sekarang sudah langsung gol? Mereka bahkan belum sempat untuk mengunjungi dokter untuk persiapan dan pemeriksaan lainnya.
"Hamil ya..."
Hanjin dengan canggung mengangkat piyama nya, perut nya masih rata dan lurus, pinggang nya kecil, tapi hati Hanjin menghangat, jika benar ada kehidupan di dalam sana, Hanjin benar benar penasaran dengan perubahan apa yang akan ia hadapi nanti.
"Anak Kak Dohoon kan ini ya...? "
Mungkin kalau ada Youngjae, Hanjin sudah kena tempeleng sekarang juga
Setelah beberapa menit hanya bengong dan memperhatikan pantulan dirinya di cermin, Hanjin merapikan piyama nya kembali, meletakan testpack nya begitu saja tergeletak dengan naas, biarlah jika Dohoon ingin lihat nanti.
Hanjin kembali menuju kasur, langkah nya gontai, masih sedikit mengantuk, dan terkejut. Di luar sudah mulai cerah, Hanjin masih punya beberapa menit sebelum menyiapkan sarapan hari ini.
Kaki nya menaiki kasur perlahan, takut mengusik Dohoon. Bermenit menit di kamar mandi, Hanjin merasa biasa saja, namun saat menyibak selimut dan menemukan Dohoon terlelap,
Kok mau nangis ya?
Hanjin bergabung kembali dengan Dohoon, tangannya mengelus perutnya saat ia merebahkan diri sejengkal dari Dohoon. Saat benar benar dapat merasakan hangat dari Dohoon, air matanya tidak tertahankan lagi.
Hanjin menempelkan diri pada dada bidang Dohoon sambil sedikit terisak, mengenggam erat jemari Dohoon dan mendengarkan detak jantung Dohoon yang kelewat tenang.
Hanjin sadar, kegiatannya pasti akan mengusik tidur Dohoon. Tak lama, Dohoon sedikit membuka matanya, mencium kening Hanjin dan mengusap kepalanya sayang. Dohoon sedikit kaget, menemukan isakan Hanjin, tetapi jika Hanjin menangis sambil sembunyi, berarti Hanjin akan menceritakan padanya tapi Hanjin butuh waktu.
"Sayang?"
Dohoon itu kadang kelewat tenang, tapi dia memang tidak pernah mau membuat Hanjin semakin menangis jika dia panik. Makanya dengan sebisa mungkin menemukan suami kecilnya menangis di pagi hari dia hanya bisa bertanya tanpa membuat Hanjin terpaksa.
"Kak..."
Hanjin masih menyembunyikan wajah nya di dada Dohoon, meremat lebih kuat lagi jemari Dohoon dan piyama Dohoon. Dohoon merengkuh Hanjin, mengecup kening nya dan mengelus punggung nya sayang.
"Iya? Kakak disini" Dohoon mengusap pipi Hanjin, mencoba membuat Hanjin menatapnya.
Ah, Dohoon tidak tega.
Matanya cantik nya sembab, pipi nya gembul memerah, hidung nya tersumbat. Dohoon makin bertanya tanya apa yang dialami Hanjin di pagi hari gini sampai sampai menangis sekencang ini.
Melihat Dohoon menatapnya dengan sayang, Hanjin mulai tenang, ia lupa bahwa suami nya ini dapat ia percaya dapat Hanjin keluhkan. Hanjin menghapus air matanya sendiri dan menetralkan nafas nya.
"Udah bisa cerita sayang? pelan pelan kakak gak kemana mana" Dohoon mengusap sisa sisa air mata dari sudut mata Hanjin dan mengelus sayang pipi nya.
"Kak..."
"Iya?"
Hanjin menutup mata, sebelum membawa telapak tangan Dohoon ke perut ratanya di bawah selimut.
"Aku... Aku hamil"
Dohoon bisa merasakan ada bunyi 'ctass!' Bagai kabel listrik yang terputus di dalam otaknya sendiri saat mendengar tersebut. Ini dia yang masih ngantuk atau?
"Hah?" Mungkin kalau ada Youngjae, Dohoon juga kena sentil di dahi sekarang.
Hanjin meneguk ludah sebelum berkata lagi, kali ini dengan senyum sedikit malu malu.
"Aku hamil... Hamil anak kakak..."
Sekali lagi, kalo ada Youngjae mungkin dahi Hanjin dan Dohoon udah dijedotin sama dia.
Dohoon mengerjap beberapa saat, sebelum akhirnya menyadari telapak tangannya sedaritadi berada diatas perut rata Hanjin.
Baru setelah sekian detik, Dohoon menarik Hanjin dalam dekapannya lagi, memeluknya sambil mengusap punggung ramping itu.
"Aku bakal jadi Ayah?" Dohoon berbisik
Hanjin mengangguk "kalau kakak mau nya dipanggil itu... Berarti iya"
Hanjin sedikit bingung, Dohoon hanya diam dan bertanya itu saja... Apa Dohoon tidak senang?
"Kak? Kakak gak senang?"
Tapi Hanjin malah ikut mendengar isakan dari Dohoon, iya Dohoon, suami nya yang selalu dibilang T mentok itu nangis sesungukan di leher nya.
"Kakak?! Kok nangis juga?"
"Hiks- aku... Aku seneng banget... Ini mimpi apa bukan sih? Coba pukul aku deh, ini asli? Aku jadi ayah beneran? Kamu hamil? Terimakasih sayang, terimakasih banyak..."
Barulah Hanjin tertawa ringan, gantian mengusap rambut Dohoon.
"Kakak senang?" Dohoon mengangguk pelan.
Dohoon akhirnya memunculkan wajahnya, menatap Hanjin dan membawanya pada ciuman pagi yang tak pernah terasa se hangat ini.
"Kalau kamu, gimana? Kamu senang dan siap? Bagaimana pun juga yang akan mengalami banyak perubahan itu kamu, Hanjin. Kakak cuma bisa support dan selalu ada buat kamu, kamu yang bakal bawa bawa dede kemana pun sampai sembilan bulan"
Hanjin mengusap pipi Dohoon, dan tersenyum "aku senang, bahagia, aku nangis karena tadi lihat kakak tidur jadi mellow... Gak kebayang punya dua kakak dirumah ini, satu besar satu kecil..."
Dohoon tertawa sambil masih mengelap air matanya "loh, aku malah bayanginnya ada dua kamu di rumah ini... Satu ngambek kalo gak dibeliin makanan manis, satu lagi ngambek kalo gak dibeliin mainan"
"Enak aja kakak!" Mereka berdua tertawa, Dohoon mengusap perut rata Hanjin, mengajak dedek yang bahkan belum bertumbuh jauh itu tertawa bersama mereka.
"Kita coba dan belajar sama sama ya kak? Aku gak bakal bisa lewatin ini kalau gak sama kakak juga"
Dohoon mengangguk, membawa Hanjin kembali dalam pelukannya. Hampir 30 menit mereka hanya memeluk, mengecup dan mengelus satu sama lain.
"Berarti masa pacaran kita udahan kak?" Hanjin terkekeh
"Masih ada 9 bulan buat pacaran sama kamu kok" Dohoon mencolek hidung Hanjin
"Kak Youngjae kira kira gimana ya pas tau... Kemaren dia marah banget soalnya aku dan kamu masih bisa santai... Ya aku mana tau bakal jadi secepet ini..."
"Kasih tau aja nanti, kita ke dokter dulu ya. Kita lihat udah sejauh mana dedek di dalam, dan biar kita tau juga apa yang harus kita persiapkan diawal awal, apalagi kamu dari kemaren ngeluh mual mulu kan... Hari ini ya? Nanti siang kita ke rumah sakit"
Hanjin mengangguk, biarlah suami nya ini yang mengatur segala kebutuhannya, toh sifat T mentok Dohoon akan hilang jika itu tentang Hanjin. Sebelum Hanjin meminta dan bertanya, Dohoon pasti sudah menyiapkan seratus kemungkinan apa yang diinginkan Hanjin.
Hanjin kembali menenggelamkan dirinya, membiarkan Dohoon merengkuh nya dan memberikannya seribu kecupan sayang.
Mungkin nanti siang mereka akan melakukan pemeriksaan tahap awal. Hari Sabtu ini, awalnya Dohoon berencana untuk mengajak Hanjin bermain mengelilingi kota, tapi sepertinya itu bisa ditunda.
Nanti juga, Dohoon akan kerumah kembarannya deh, Youngjae. Akan ia bawakan kembarannya itu semangka berkilo kilo, sebagai ucapan terimakasih karena berinisiatif memberikan Hanjin testpack.
Selamat Hanjin! Mulai dari sini mari kita lihat perubahan kecil Hanjin setiap bulannya dan latihan menjadi suami dan ayah super siaga ala Dohoon!
