Chapter Text
Mardi. Duda baru di desa Kembang Asri. Mardi menjadi duda di usia 35 tahun. Istrinya meninggal karena kecelakaan. Meninggalkan Mardi dan Cahya, gadis kecil anak mereka yang berusia 2 tahun. Setiap harinya, Mardi bekerja sebagai tukang bajak sawah menggunakan traktor milik Pak Joni, si pemilik sawah. Kadang juga ikut Pak Joni pergi ke kota untuk mengantar hasil panen. Dan saat mengirim hasil panen itu, dengan senang hati istri Pak Joni, Bu Tania untuk bantu menjaga Cahya. Bu Tania senang saat Cahya ke rumah. Rumah jadi ramai. Maklum, dia hanya punya 1 anak. Itupun masih kuliah di kota.
Mardi yatim piatu. Orangtuanya meninggal saat ia masih kecil. Dia punya satu Abang. Namanya Jaka. Dia sudah berkeluarga juga dan hidup di kota. Walau begitu, sesekali Jaka akan pulang menengok adik satu satunya dan juga keponakannya, Cahya.
"Nduk. Ayok sini sarapan. Endog mata sapi kesukaanmu wes mateng Iki loh", ucap Mardi.
Tak selang lama, terdengar langkah kecil yang berasal dari arah ruang tv.
"Yayahh yayahh", Cahya berlari dengan kaki mungilnya menghampiri Mardi dengan sepotong cookies ditangan.
Mardi tersenyum. Dia mematikan kompor, lalu merentangkan tangan ke Cahya.
Hupppp, Cahya melompat ke dekapan Mardi.
"Siapa mau makan karo endog karo kecap?", ucap Mardi.
"Ayaa ayaa", ucap gadis mungilnya sambil menunjuk dirinya sendiri dengan antusias.
Mardi terkekeh. Mengecup pipi gempul putrinya. Lalu mendudukan anaknya dipangkuan sambil menyuapinya.
"eummm, nyakkk", kata Cahya.
Mardi terkekeh.
tok tok tok
"Mardi.. Mardiii. Assalamualaikum". Terdengar suara Pak Joni.
"Walaikum salam", Mardi menurunkan anaknya lalu berjalan menuju depan, dengan Cahya yg mengekori ayahnya.
"Nggeh Pak Joni. Ada apa nggeh? Monggo masuk", sapa Mardi saat pintu sudah terbuka.
"Ndak usah. Aku neng kene wae", balas Pak Joni.
"Enggeh. Ada perlu apa Pak?"..
"Gini Le. Aku ada perlu ke desa sebelah sama bojoku. Lha anakku hari Iki pulang kampung. Nggak ada sing jemput. Aku mau minta tolong karo kowe buat jemput anakku", katanya.
"Oalahh. Mbak Hani pulang dari kuliahnya to Pak?", tanya Mardi.
"Iyo Mar. Kowe yang jemput yo neng terminal. Pake wae motor sing biasa tak pake buat ke sawah kuwi. Iki kuncine yo. Aku buru buru Iki", katanya sambil menyerahkan kunci motornya. "nanti kamu ambil aja ke rumah Yo".
"Nggeh pak. Nanti saya jemput. Kira kira, Mbak Hani nyampenya jam berapa nggeh Pak? Anu Pak, saya uudah lama ndak ketemu Mbak Hani. Terakhir waktu SMA nggeh. Jadi agak lupa gimana muka Mbak Hani sekarang Pak".
"Walahh. Anakku saiki tambah ayu Mar. Di sana dia nyambi jadi model lho Mar. Kowe pasti pangling sama dia. Apalagi pas masih sekolah tuh item karena suka mancing karo Jasmin, anake si Yudo", jawab Pak Joni membanggakan anaknya. "Ngene wae wes. Ntar Hani ku kasih tau kalau yang jemput kowe. Nanti tak kirim fotone kowe yo. Wes wes. Gitu aja. Aku wes kesusu Iki", Pak Joni nyalain motornya. Lalu meninggalkan pekarangan rumah Mardi.
"Astaga. Ini ke mana sih orang suruhan Papah? Lama banget", katanya sambil mengibas rambutnya.
Tak berselang lama, matanya bersiborok dengan lelaki yang persis kayak difoto yg dikirim Papahnya. Tapi kenapa gendong anak? Apa adiknya? Ah bukan deh. Muka mereka terlalu mirip kalau dibilang adik. Mungkin anaknya? Entahlah. Segera Hani menghampiri orang itu.
"Permisi. Mas Mardi bukan?", tanya Hani.
Mardi yang sejak tadi celingak celinguk pun menoleh.
deg.....
Badannya tiba tiba membeku. 'Duh gustii. Bidadari tah iki? kok ayu tenan', batinnya.
Udah gitu dipanggil Mas lagi. Langsung nyess gitu di dadanya.
Hani menyerit bingung. Kenapa orang di depannya ini malah bengong? jangan jangan tuli?. "Halooo. Malah bengong", Hani memanggil lagi sambil melambaikan tangan di depan muka Mardi.
"ehh ehh maaf Mbak. Anu, iyaa saya Mardi", jawabnya tergagap.
"Oh...", matanya bergulir ke bawah, menatap anak kecil yg tertidur digendongan Mardi. "adik lu?", katanya sambil menunjuk Cahya.
"Anak saya Mbak", jawabnya.
Hani hanya oh ria. "Sini biar gue aja yang gendong", katanya.
"Aduhh jangan Mbak. Nanti merepotkan Mbak Hani", kata Mardi.
Hani merotasikan matanya, "Kalau nggak gue gendong, ntar lu nyetirnya gimana?".
Mardi kikuk. Benar juga yang dikatakan Mbak Hani. Kenapa mendadak Mardi jadi bloon gini ya?
Hani mendengus. "udah sini. Gue udah cape. Mau cepet pulang. Mau istirahat".
Mardi pun terpaksa menyerahkan anaknya yg sedang tertidur untuk digendong Hani. Cahya langsung nyaman digendongan Hani. Pipinya mendusal, kegencet susu. Ehh? 'opo sih Di? matamu lho celalakan', batin Mardi.
Mardi segera mengambil koper serta tas jinjing milik Hani. Lalu menaruhnya di depan.
"Ayo mbak", katanya setelah siap membereskan barang barang Hani.
Setelah itu, keduanya meninggalkan area terminal.
**
Sudah 3 hari Hani di rumah. Kerjaannya makan, molor, scroll sosmed, gitu mulu. Bosen dia tuh. Mau main, tapi temen sebayanya di kampung ini sudah pada bekerja. Akhirnya goleran nonton Drakor aja hari ini tuh.
Plakkkk .......
"Aduhhh-shhhhh", Hani mengusap pantatnya. Panas coy. Habis ditabok.
Pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Mamahnya sendiri.
"Kamu ini. Anak gadis kalau pake baju iku sing bener. Iki lihat", kata Mamah Tania sambil menoel pantat Hani. "Bokongmu lho ke mana mana dek. Udah gitu sukanya males malesan aja. Mbok dibantu ini Mamahnya lagi nyapu", omelnya.
Hani menyebik sebal, "Ishhhh. Gamau aku kalau nyapu. Capek Maaahhh. Udah gitu ntar kuku ku pada patah", katanya sambil menatap nail art yg baru dipasang sebelum pulang ke rumah.
"Halahh alesan. Bilang aja males", omel Tania. "Atau ngene wae. Tolong anterin makan siang buat Mardi di sawah. Kasihan belum makan. Mamah masih ada kerjaan ini, gak bisa nganter. Cahya juga lagi bobok iku"
"IHH gamau ah. Banyak kodok di sawah. Iiiii geliii", Hani bergidik.
"Halaah. wong kodok wae lho kok wedi", kata Tania.
"Bukan takut, Mamah. Tapi geli. Takut sama geli tuh beda ya", balesnya.
"Halah. Rasah kakean alesan. Cepet mangkat. Mesakne udah siang belum makan", final Mamah Tania.
Dengan malas malasan Hani bangun dari golerannya.
"Ganti dulu iku bajumu. Mamah cubit loh", kata Tania.
"Gamauu. Wleeee", Hani langsung kabur saat jari Mamah Tania seperti ingin mencubit pahanya.
Tani menggelengkan kepalanya. Heran banget dia tuh. Anak sebiji tapi kelakuannya seperti punya anak 5.
"Rantangnya di meja makan ya dek. Sama itu termos isi kopine juga dibawa yo", terbaik Tania dari kamar sang anak. Lagi beresin sprei sama selimut yang jumpalitan gara gara anaknya tidur muter kali ya.
"Iya mahh", balas Hani. Hani senang. Sudah lama dia tidak melihat sawah sawah Papahnya. Sekalian jalan-jalan lah, kan bosen di rumah mulu.
Hani berjalan kaki ke sawah. Awalnya mau pake motor Ayahnya. Tapi di pikir pikir kayaknya enak jalan kaki deh. Sekalian hirup udara seger di kampung. Itung itung juga sekalian olahraga. Seminggu di rumah keknya bikin berat badannya naik deh. Ya gimana, pulang ke rumah orangtua=memperbaiki gizi. wkwk
Dia berjalan perlahan menyusuri jalan setapak menuju sawah. Tangan kanan membawa rantang, yg kiri termos berisi kopi.
Dari kejauhan Hani melihat Mas Mardi membajak sawah. Kok sendirian? Apa emang sendiri? batinnya.
Pas udah dekat, jantung Hani kek mau copot. Mas Mardi bajak sawah kutangan. Badannya manteb banget. Mengkilat kecoklatan, serta peluh yg menetes.
Uhhhh, jadi ange adek Mas.
"Mas Mardiii......", panggilnya. Tak menoleh. Ya iya lahh. Suara Hani kalah sama suara traktor. Jadilah Hani berjalan lebih dekat. Sampai ke gubuk di bawah pohon rindang. Dia meletakkan bekalnya. Lalu berjalan lagi mendekati Mardi.
"Mas Mardiiii.....", panggilnya lebih kencang lagi.
Akhirnya Mardi menoleh. "Loh Mbak Hani", kaget lihat Mbak Hani sudah sampe sawah. Lebih kaget lagi lihat outfit si Hani. Iya, si Hani masih pake baju kurang bahan. Hanya dibalut lagi pake cardigan. Ini kalau emaknya tau anaknya ke sawah pake baju seksi ini apa nggak dicincang dia.
"Makan siang dulu mas. Gue udah bawa makanan sama kopi. Tuh gue taruh di gubuk. Yuk makan dulu yuk", ajak Hani.
Mardi menelan ludahnya kasar. Mbak Hani lagi nunduk, bersihin kakinya dari beberapa rumput yg menempel. Memperlihatkan belahan dada Hani yang begitu eerrrrr, montok dan putih bersih.
"I-iya mbak. Sebentar ya, aku matiin dulu traktornya. Mbak Hani ke sana dulu ya", gugup Mardi tuh. Apalagi sekarang kontolnya yg sudah mulai bereaksi.
Sudah sekitar 15 menit Hani di sawah. Mardi sudah selesai makan. Lagi membereskan rantang. "Eumm, anu. M-mbak Hani ke sini naik apa?", tanya Mardi susah payah. Penis dia masih berdiri tegak sejak tadi btw. Ngilu asli.
"Jalan ka-.....", belum selesai Hani berucap, hujan turun cukup lebat.
"Waduh. Kok hujan? Deres lagi", keluh Hani.
"Mbak Hani. Ayo ke dalem aja. Makin deres ini. Ntar Mbak Hani basah loh", ajak Mardi.
Hani hanya mengangguk. Lalu melepas sendal crocsnya dan mulai masuk ke dalam gubuk.
Kini keduanya sudah masuk ke dalam gubuk. Karena berangin, Mardi pun menutup pintu gubuk.
Matanya melirik Hani yang menggigil kedinginan di atas kasur lipat. Gimana nggak menggigil, pakaian Hani yg seperti itu sudah pasti nggak bisa melindungi tubuh Hani dari dinginnya udara. Apalagi bajunya tipis. Bahkan Mardi bisa melihat puting Hani yg mengintip dari balik tank top yg dikenakan Hani.
"Mbak Hani piye? Dingin banget yo?", tanya Mardi.
Hani tak mampu menjawab. Hanya mengangguk saja.
Mardi celingukan ke sekitar gubuk. Mana tau Pak Joni meninggalkan selimut atau sarung di sini. Tapi nyatanya nggak ada. Karena memang sawahnya belum ditanamin apapun, pasti Pak Joni tidur di rumah.
"M-mas Mardihh", panggil Hani lirih. Serius, Hani kedinginan banget. Di Kota nggak pernah se kedinginan ini.
"N-nggeh mbak", Mardi berjalan mendekat. "Waduh gimana ini mbak? Bapak nggak ninggalin sarung di sini"
Hani menggeleng, "Udah gapapa. Tapi eummm ituu", Hani bingung ngomongnya. Tapi ini jalan satu satunya biar dia nggak mati kedinginan.
"N-nggeh mbak?", Mardi duduk di dekat Hani. Berjarang sekitar satu jengkal.
Tapi Hani mulai mendekat. Sampai bahu keduanya bersentuhan.
Mardi menelan ludahnya susah payah. Makin gak karuan dideketin Mbak Hani. Sumpah, Mbak Hani wangi banget. Udah gitu kulitnya halus. "P-peluk gue dong", kata Hani. Suaranya yg pelan pun teredam hujan.
"Piye mbak? Aku ndak denger e", Mardi mendekatkan telinganya ke depan muka Hani.
Hani pun berbicara tepat di telinga Mardi, "peluk gue. Angetin gue. Gue kedinginan banget", lirihnya.
Mardi yg shock pun langsung noleh. Buat bibir keduanya bersentuhan tanpa sengaja.
Hani membelalak kaget. Namun tak menghindar. Bahkan bibirnya bergerak melumat bibir Mardi. Mardi? Mardi diem aja kayak orang bloon. Dia diam mencerna situasi.
Hani yang kesal Mardi diem aja mulai bergerak naik ke pangkuan Mardi. Mengalungkan tangannya ke leher Mardi. Dengan bibir yang bergerak menjilat dan mengulum bibir Mardi.
Lama kelamaan Mardi terbuai. Inget kan kalau kontol Mardi udah berdiri sejak kedatangan Hani tadi? Nah ,sekarang makin kenceng tegaknya karena Hani bergerak maju mundur mempertemukan memeknya dengan kontol Mardi.
Mardi bisa merasakan betapa tembam dan empuknya memek Hani. Mardi juga membalas lumatan Hani. Yang awalnya Hani memimpin, kini Mardi lah yg memegang kendali.
Mardi menggigit pelan bibir Hani. "Ahhhh", Segera Mardi lesakkan lidahnya begitu ranum Hani terbuka. Membelit serta menghisap kuat kuat ranum serta lidah Hani.
Deru napas yang memburu bersahutan, bersaing dengan suara hujan yg semakin deras. Menciptakan suasana panas yang menjalar di tubuh keduanya. Mereka dengan pakaian dan rambut yang telah acak-acakan itu saling mengejar bibir satu sama lain. Memantik gairah semakin membara.
"Ahhhhh Mashhh", desahan lirih dan merdu Hani membuat Mardi makin sange. Bahkan pinggulnya semakin menekan nekan memek Hani.
Ciuman keduanya terlepas saat Hani menepuk bahu Mardi, mengisyaratkan kalau dia kehabisan oksigen.
Keduanya saling pandang dengan kabut nafsu. "Mbak Hani"
Hani menjawab dengan centil, "jangan panggil mbak. Panggil adek aja", katanya sambil merabai dada bidang Mardi yg basah karena keringat sehabis membajak sawah tadi. Dengan kerlingan manja sambil mengigit bibirnya.
"Jancokk", Mardi kembali meraup ranum yg menggodainya ini. Kali ini temponya semakin panas dan menuntut. "Ahhh..hmmm....pelanhh Mas", Hani pun kembali menerima ciuman Mardi. Namun sekarang, pinggulnya tak bergerak mengulek penis Mardi. Tapi tangannya menyusuri dada Mardi sampe ke pusatnya.
Hani menyusupkan tangannya masuk ke dalam celana gombrang Mardi. Mengelus pusaka Mardi ke atas ke bawah sambil terus berciuman.
Mardi tak mau kalah. Tangannya juga menyusup masuk, membelai dada Hani. 'Asuuu? Dek Hani ndak pake bh?', batinnya
Mardi melepas ciuman sejenak. Matanya yg berkilat nafsu memandang manik sayu Hani. "Dek Hani nakal ya. Keluar rumah ndak pake kutang gini", jari Mardi yg masih di dalam tank top Hani pun mencubit pentilnya. "Mau godain sopo sih?"
"Ahhhhh. Biarin. Sengaja mau goda Mas Mardihhh"
Mardi tak digoda saja sejak awal sudah tergoda dengan kemolekan dan kecantikan Hani. Ini pake digodain yang makin gragas lah.
Mardi kembali memajukan tubuhnya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Hani. Ia menyesap leher mulus Hani dengan rakus, hingga meninggalkan jejak merah keunguan.
Saat bibirnya sibuk meninggalkan jejak, tangannya sibuk melucuti celana pendek Hani. Setelah terlepas, Ia mulai mengusap permukaan memek Hani yg masih terbungkus celana dalam. "Hmm…Mashhh… Aaah!”, Hani melenguh saat jari Mardi mengusap miliknya dari balik celana dalam.
Mardi mendongakkan wajahnya. Menatap wajah cantik Hani yg sudah belingsatan karena perlakuannya. "Asuu dek. Nyangein banget sih raimu".
Mardi membaringkan Hani ke kasur lipat. Kakinya juga melebarkan paha Hani dan segera menindih tubuh Hani.
Mardi kembali satukan bibir keduanya. Bibirnya menghisap ranum Hani bak tak ada hari esok. Lumat lumat, gigit gigit, hisap, itu lah yg dilakukan Mardi berulang.
Setelah puas mengerjai bibir Hani sampe bengkak, Mardi tergesa ingin melepas tank top Hani, "Boleh mas buka kaosmu dek? Mas udah ndak tahan".
Setelah mendapat persetujuan Hani, dengan terburu-buru ia melepaskan kaos yang dikenakan Hani. Lalu menarik celana dalam sekalian. Udah nggak tahan si Mardi tuh. Pusakanya udah nyut nyutan. Pengen cepet cepet masuk ke sarangnya. Ibarat lagu yang lagi hype tuh ya gini, *manukku ndangak ndangak. Manukku siap nembak*
Kini Hani telanjang bulat, namun tidak dengan Mardi. Mardi masih pake bajunya lengkap. Sepertinya tak akan bertahan lama. Karena pujaan hatinya merengek menyuruh Mardi juga melepas bajunya.
"Masa adek doang yang telanjang sih? Mas juga dong. Mau lihat yang gede gede nih", katanya sambil menjulurkan kakinya, mengusap gembungan kontol Mardi.
"Asuu dek. Kowe kok koyok perek ngene to", ucap Mardi.
Kini keduanya sudah telanjang bulat. Tangan mereka saling meraba dan mengelus tubuh satu sama lain. Sambil terus bergulat lidah.
Jari Mardi menelusup ke bawah. Menekan kelentit Hani.
"ahhhh mashhhh. jangan ditekenhh..ngiluhhh...tapi enakk!!"
Mardi menyibak bibir memek Hani. Lalu memasukkan satu jarinya ke dalam lubang itu. "Basahh dek, tapi angettt...jariku kejepit dek"
"Nggh..iyahhh basahh ya Mashhh", Hani menggeliat. "Tapi enakkhh....eughhh adek suka...gerakinn", katanya sambil meremas dadanya sendiri.
Mardi semakin sange melihat Hani mendesahkan namanya sambil meremas dadanya sendiri. Saat putingnya dipelintir, dia julurkan lidahnya menjilat puting yg sudah mengacung itu.
"Ahhhhh nakal dehh lidahnyaahh", Hani semakin meremas dadanya dan menekan kepala Mardi untuk semakin tenggelam memuluti payudaranya.
Tak lupa juga Mardi meninggalkan jejak basah di kedua payudara Hani.
Mardi sejenak memandang paras ayu Hani yg lagi berantakan dibuatnya.
"duh dek. Jan ayu tenan awakmu", puja Mardi sembari mendekap tubuh polos Hani.
"Eumm makasih Mas"...
Mardi kembali membaringkan Hani. Dia semakin mempercepat kocokan jarinya di lubang Hani.
"arghhhh Mashhh....enakkk..lebih cepetthh...eungh kayaknya aku mauu ahhhh.... aduhhh massh enakkk", Hani semakin kelojotan. Jari jari kakinya sampe menekuk. Dadanya membusung merasakan rangsangan di seluruh sarafnya. Hani merasa sebentar lagi dia akan klimaks.
Mendengar desahan ribut itu, jari Mardi bukannya mempercepat malah melepasnya.
"Ahhhh kok dilepas sih? Aku dikit lagi keluarr. ahhh ayo masukin lagi", pantat Hani bergerak mengikuti ke mana perginya jari Mardi.
Mardi hanya terkekeh. "Mas mau makan dulu dek. Laper nih"
Hani menyebik sebal, "Seriously?? RIGHT NOW? Aku lagi tinggi loh..!! kok ditinggal makan?", katanya sambil melotot ke arah Mardi.
Tapi yang dilakukan Mardi, membuat Hani tercengang. "Mashhh, mau apa?"
Mardi melebarkan paha Hani. Lalu memposisikan mulutnya di depan lubang Hani, "Mas udah bilang mau makan loh dek. Ya ini makananku sslllrrppppp", tanpa ragu, Mardi menjilat memek Hani.
Mardi dengan semangat menjilati memek Hani,"Ahhh Mashh..fuckk.. enak banget", paha Hani reflek menjepit kepala Mardi. Namun sama Mardi, kembali dilebarkan agar dia lebih leluasa memakan memek Hani. Wangi khas memeknya sungguh memabukkan Mardi.
Mardi semakin rakus menjilatnya. Kedua belah bibir memek Hani dilamot habis oleh lidah hangat Mardi. Bahkan lidahnya bergerak menusuk nusuk ke dalam lubang Hani. Sesekali jari Mardi bakal mengusak kelentit Hani.
Hani yg diperlakukan gitu semakin bergairah, agaknya udah mau buncat dia, "Aahhh jangan digituin itilku,,shhh ngiluuuhhh ...."
"Memekmu wangi banget dek. Mas suka ssllrrpppp. Rasanya mau mas makan tiap hari. Ssllrrppp cpakkkk. Mau ndak mas makan memeknya tiap hari?"
Mardi buka labia Hani dengan kedua jarinya, sementara mulutnya terus bekerja untuk mengincar klit Hani. Ia hisap kuat sampe pipinya mengempot, kemudian menjilat kasar sampai membuat Hani menggeliat kewalahan.
"Aakuuh mauhh.. Mau dimakan sama Mas Mardi tiap hari ahhh. Mau dihamilin jugaa".
Mardi tentu semakin kesetanan mendengar ucapan Hani. "Owalahh ternyata kamu lonte ya dek"
Mardu juga menggesek klit Hani menggunakan hidung bangirnya. Tentu semakin basah dan becek memek Hani.
Hani menekan kepala Mardi semakin dalam. Matanya merem-melek keenakan dengan apa yang saat ini tengah dilakukan si duda ini.
"Masshhh. lidahmu nakal. ahh kayaknya aku kelu.... ahhh enakkk....lebiih cepeet lag.. iyaah di ahhh di situuhh.. anjingg lidahmu Mashhh. ahhh geli enakk ahhh terusshhh. Dikit lagi aku ARGHHHHHH!!!", Hani orgasme. Badannya kejang disertai squirt deras. Mardi membuka mulutnya lebar lebar. Tak membiarkan sedikitpun buncat Hani tersisa.
Hani sedikit menunduk untuk melihat Mardi. Mardi masih menjilat habis sisa orgasme Hani. Lalu, Hani melihat Mardi mengusap lelehan cairannya dimukutnya. Itu terlihat errggh seksi dimata Hani.
"Duh dek. Kontol mas udah ngaceng banget ngene. Lihat?", Mardi memaju mundurkan pinggulnya, membuat pusaka tegangnya mantul mantul di depan muka Hani. Hani sange lagi. "Mau aku sepong dulu nggak?", katanya sambil mengocok pelan penis Mardi.
"Shhhh emoh dek. Mas mau langsung genjot kamu aja. Mas wes gak tahan pengen nancep Iki", Mardi langsung menindih tubuh Hani. Memposisikan penisnya di depan memek benyek Hani. Sambil sedikit mengocoknya, agar semakin tegak.
Hani kembali menggoda Mardi, "Ayo masukin aku Mas. Memek adek udah gatel. Udah kedut kedut pengen dirojok. Buat aku tolol keenakan digenjot sama kontol gede Mas Mardi", katanya sambil menjilat jarinya sendiri lalu dibuat untuk melebarkan vaginanya dengan kedua jarinya.
"Asuu asuu. Perek tenan kowe dek. Siap siap gaono ampun kanggo lonte koyok kowe dek",
Setelah itu, Mardi menuntun penisnya masuk. Melebarkan paksa vagina Hani. "Aaarrgghhh...!!! Kontol Mashhh. eughhh. gede bangeett", Hani meremas kasur lipat untuk menyalurkan rasa sakitnya.
"Ah asuu asuu. Enak tenan lubangmu dek. Kontolku kejepit Iki shhh", Mardi merem melek merasakan penisnya dijepit kuat didalam sana. Ini dia belum gerakin penisnya loh, tapi rasanya udah berhasil buat Mardi gila. Apalagi kalau udah digerakin, beuhhh.
Mardi mulai melakukan gerakan maju-mundur pelan. Melihat wajah ayu Hani sejenak. "Enak dek?" ,tanyanya.
"Eunghh iya enakkk. Kontol mas gede banget. Berurat lagi eghhhh".
Mardi menunduk. Dia kembali melumat bibir Hani yg sudah bengkak dan sedikit meneteskan liurnya, karena mungkin Hani sudah keenakan makan kontolnya kali ya. "Dek Hani ahhhh, jangan diketatin sayang. Mas geraknya susah Iki".
Hani menggeleng, "nyempit sendiri dia mas. Saking keenakan akunya ahhh, lebih cepettth".
Mardi pun menambah kekuatan genjotannya. Membuat Hani semakin mendesah ribut.
Hujan semakin deras, semakin panas pula pergumulan mereka. Sudah berbagai posisi dicobain. Hani sudah keluar entah berapa kali, tapi Mardi baru sekali. Perkasa banget.
Ini aja Mardi mulai masukin lagi pas Hani menunggingkan badannya untuk meraih segelas air.
"Ahhhhh adek haus Mashhh", Hani terlonjal lonjak, jadinya susah mau minum.
"Minum aja dekk. Tanggung, wenak poll tempikmu dek. Gak bisa berhenti genjot Iki aku aargghhhh jangan dijepit sayanggghhh", Mardi menggeram karena memek sengaja disempitkan oleh empunya. Membuat kontolnya terjepit kuat di dalam sana.
"Aahhhhh. Mentok mashhh. Aduhh di situ di situu terus, iyaah lebih cepetthh..." Hani yg bilang stop dulu juga ujung ujungnya ikut menggerakan
pinggulnya. Ini bisa bisa si Hani buncat buat entah keberapa kalinya ini mah.
Mardi meraih bahu Hani untuk dia tempelkan ke dadanya. Mardi menggerakkan tangannya untuk
meremas dada menggantung Hani yang sejak tadi mantul mantul mengikuti irama sodokannya. Jarinya juga memelintir puting Hani yg sudah bengkak memerah karena sejak tadi dimuluti Mardi.
Mendapat kenikmatan bertubi tubi membuat badan Hani semakin lemas. Jika saja tidak di dekap Mardi, mungkin dia sudah ambruk.
"Bajinganhh arghhh memek lonte enak tenan", Mardi menggeretakan giginya. Kenikmatan ini sampe ke ubun ubunnya. Mardi bersumpah, memek Hani enak sampe bikin dia gila. Ini sex pertama kali setelah dia menduda. Sebenernya bisa aja dia ngesex berkali kali. Karena bukan hanya anak gadis yg suka rela minta diewein, bahkan janda juga istri orang terang terangan godain dia.
"Mas mau keluar sayanghhh...aaarrrghhhh", Mardi semakin mempercepat tempo genjotannya.
"Ahhh mashhh. gak k-kuat. Hikss fuckkk
Pipissshhhhh....",akhirnya Hani muncrat lagi bahkan sampe mengeluarkan air kencingnya dalam keadaan masih digenjot brutal oleh Mardi. "Ahhhh sensitif mass.stop dulu...eghhhh"
Mardi mendadak tuli, malah semakin menguatkan tempo genjotannya. Mardi nggak bisa berhenti. Justru disaat seperti inilah rasa nikmatnya bertambah berkali kali lipat. Bahkan saking nikmatnya, mata Mardi juling ke atas. Merinding se badan badan Mardi tuh. Otot tangannya muncul seiring dia mengeratkan genggamannya pada pinggang Hani.
"AAARRGHHHHH, ketatin lubangmu dek" Hani mengetatkan lubangnya, meremas kontol Mardi. Hani merasa milik Mardi semakin membesar dan berkedut keras di dalam sana.
"Asuuuu...eergghhhhh-terima ini lonte", Mardi menekan kontolnya semakin dalam, semakin tenggelam di dalam lubang Hani. Kepalanya mendongak, urat urat leher dan lengannya menonjol. Sebagai tanda bahwa orgasmenya sungguh luar biasa nikmat.
Keduanya masih bergetar. Bahkan milik Mardi terus berdenyut mengeluarkan sisa orgasmenya. Mardi melirik memek Hani yg meleleh, benyek dan merah merekah. Mengeluarkan sisa sperma Mardi yg tak tertampung, karena saking banyaknya.
Dua orang yg habis bergumul panas itu masih menetralkan nafasnya. Mardi melirik badan Hani yg langsung ambruk melemas begitu Mardi menarik keluar kontolnya dari lubang merekah dan benyek Hani.
Dan jujur saja, melihat memek Hani masih berkedut itu membuat kontol Mardi tegang kembali. Mardi masih belum puas. Ingin rasanya dia kembali memasukkan kontolnya ke dalam memek Hani yg masih berkedut mengeluarkan sperm yg tak dapat tertampung. Namun Mardi cukup waras melihat kondisi Hani yg sudah selemas ini.
Mardi bergerak mendekat, mendekap tubuh mulus telanjang Hani. "Dek...", panggilnya. Hani menoleh, menatap wajah tampan Mas duda yg baru saja menggagahinya tadi. "Iya mashh", katanya lirih. Sumpah demi apapun, Hani lemes banget. Udah gak keitung dia squirt berapa kali, yang pasti badannya lemes.
"Capek banget Yo dek? Maafin mas Yo, mas mainnya kasar", kata Mardi sambil mengusap peluh di dahi Hani. "Iya capek banget mas. Tapi enak hehe. Kontol Mas Mardi enak banget. Aku sampe gatau udah keluar berapa kali tadi", Hani juga bergerak masuk ke dalam dekapan Mardi. Menghirup aroma maskulin yg menguar dari tubuh kekar Mardi.
Mardi semakin mendekap erat tubuh Hani. Kaki mereka saling membelit. Tubuhnya nempel tanpa celah. Tangan mereka saling mengusap dan meraba tubuh polos satu sama lain. Sampe beberapa saat saling meraba, bisa Hani rasakan, kalau kontol Mardi keras lagi.
"Masss?", Hani mendongak menatap Mardi. "Itunya bangun lagi?"
Mardi terkekeh. Tanpa menjawab pertanyaan Hani, tangan Mardi bergerak membuka paha Hani. "Mas mau apa?", tanya Hani.
Mardi mengarahkan kontolnya untuk masuk kembali.
Blessss.....
"Ssshhhhhh"
"Ahhhhhhh"
Keduanya mendesis begitu kontol itu langsung masuk mentok. "Lagi Yo dek? Kamu diem aja, ben mas yg gerak. Sambil bobokan miring ngene wae gapopo". Mardi kembali menggerakkan pinggulnya maju mundur.
"Ahhhh nakal deh. Bisa bisa aku hamil deh habis ini", Hani juga ikut menggerakkan pinggulnya maju mundur.
"Gapopo. Biar langsung bisa tak nikahin, terus tak kawinin tiap hari", Mardi mempercepat tusukannya..
"Eughhh mauu. Mauu hamil, mau dikawinin. Mau dipake terus terusan EUNGHHH", Hani melenguh begitu Mardi semakin menekan kontolnya masuk semakin dalam.
"Aku tresno awakmu dek".......
TAMAT
Makasih udah baca tulisan pertamaku ya heheh.
Aku juga mau ucapin terima kasih buat Mami Hirudinea yg udah ngajarin aku nulis di sini. Makasih mamiku......
