Actions

Work Header

The dead embrace you.

Summary:

In every universe, eberhand braun is destined to die.

Notes:

this is my first time writing a fanfic. i decide to write this in bahasa instead of english, 'causei afraid to make alot of mistake (english is not my first languange) andi kinda having a writing block(?) or something like that, and i refuse to use 4i to finish this...
so its gonna take a while for the next chapter. i also want to volunteer for this ship.

thats all for me, enjoy!

Chapter 1: Do not let yourself grow numb.

Chapter Text

‘Sial, sial,sial!!’
Eberhard Braun barjalan sambil mengutuk segala makhluk hidup yang ada di dunia ini. bayangkan saja selain dirinya yang yang dikutuk untuk mati pada umur 30 kini mendapati dirinya memiliki stalker.
parahnhya lagi dia diikutin makhluk mistis bukan manusia. bagaimana ia tau? simple aja, makhluk tinggi itu bahkan pernah muncul di tempat kerjannya dan tak ada satu pun yang menyadari keberadaan makhluk setinggi itu.
‘bagaimana ini...tidak mungkin aku bisa melawan makhluk aneh ini, ditambah lagi dia tidak terlihat seperti hantu biasanya...’
"...tapi tetap saja ini harus berhenti" setelah memikirkan apa saja yang bisa ia lakukan untuk menghentikan stalker hantu ini, Eberhard berlari sekuat tenaga menuju rumahnya karena untuk saat ini hanya itu cara agar dapat terhindar dari hantu stalker ini. ‘sedikit lagi...’
Disaat dia hampir samapi di teras rumahnya, eberhard malah salah mengambil langkah yang menyebabkannya terkilir
"sial" disaat eberhard yakin dia akan jatuh ke tanah dan terluka ia malah merasakan sesuatu yang empuk.
"huh..?" saat membuka matanya eberhard di pertemukan dengan dada bidang dan empuk. Saat dia mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang baru saja menangkapnya, bukan wajah manusia yang ia lihat melainkan sesuatu yang terlihat seperti duri-duri tajam.
Melihat hal tersebut Eberhard syok dan ketakutan, membuat dia pingsan di pelukan sang kematian.
"..."
___________

"ugh..." Eberhard akhirnya terbagun dari tidurnya.
‘inikan kamar ku...tapi bagaimana aku bisa sampai di sini? bukannya kemarin hantu/makhluk itu...apa jangan-jangan yang kemarin itu hanya mimpi?’
"Selamat pagi, Eberhard." tiba-tiba terdengar suara dari samping kanannya yang membuatnya kaget
"AKHHHHHH A-APA YANG KAU LAKUKAN DISINI"
"Menemanimu tentuny..." katanya sambil berjalan ke arah braun
"HAH??? KNP?? PERGI DARI SINI, AND WHY TF ARE YOU GETTING CLOSE TO ME?? D-Dont come any closer!!"
Mengabaikan ucapan braun makhluk itu tetap berjalan menuju braun, braun yang ketakutan memutuksan utuk menutup matanya dan berharap agar makhluk itu tidak melukainnya.
Tanpa diduga braun makhluk itu tiba-tiba saja mengangkat seluruh tubuhnya like he weigh nothing, dan membawanya ke kamar mandi kemudian mendudukannnya di kursi toilet
"Sebaiknya kamu membersihkan dirimu terlebih dahulu...braun." dan meninggalkannya braun sendiri di dalam kamar mandi itu sendiri.
"huh??"Braun, saking bingungnya terduduk diam di atas kursi toilet tersebut, wondering wtf just that...
Walaupun dipenuhi dengan kebingungan, braun tetap saja membershikan dirinya, sambil berpikir apa yang telah dilakukannya di kehidupannya sebelumnya untuk mengalami hal aneh seperti ini...

-------------
Setelah beberapa saat kemudian, braun yang sudah berpakainian rapi dan tentu saja sudah amat sadar.
‘oke,braun kamu bisa menghadapi ini’ keluar dari kamarnya braun menemukan makhluk tinggi itu di dapur, sedang terduduk diam dan memandang ke kejauhan.
Untuk beberapa saat braun memadangi makhluk aneh itu. Makhluk itu tiba-tiba menoleh ke arah Braun
"?!"
"Eberhard Braun, pls take a sit, saya akan menjelaskan semuanya."
Dengan ragu-ragu braun, mendudukan dirinya di kursi yang menghadap makhluk itu
"..."
"Kenapa hanya diam saja? katanya ingin menjelaskan, so explain!"
"Maafkan saya tuan Braun, Untuk sesaat wajah anda mengingatkan saya akan teman lama, mohon maaf."
“???”
Karena melihat braun yang sudah tak sabaran, charon akhirnya mulai berbicara.
“Begini braun…ini mungkin akan sangat sulit untuk dipahami. Seperti yang kamu lihat sendiri aku bukan manusia, melainkan seorang Grim reaper…”
“ what the duck??? Well shit, I know your not human. BUT WTF ???? and what the hell are you doing here?? Am I gonna die?”
“ Tenang lah braun-“
“Tenang?? Bagiamana bisa aku tenang kalau ada grim reaper di hadapanku!! Belum lagi aku tidak tau kapan aku akan mening- Waitt, Hei kau! Bagaimana, megapa, kapan, dimana-“
“Tuan Braun…tolong kendali kan dirimu.”
“ugh….”
“Saya tidak dapat menjawab semua pertanyaan mu braun, namun yang ada saru hal yang bisa aku katakaan. Yaitu bahwa hari kematian mu sudah dekat kemungkian besok-“
“APAA?? Oh maaf, s-silahkan lanjut kan”
“… Jadi Saya akan membantu mu untuk melakukan apa saja yang inginn kamu lakukan sebelum hidup mu berakhir.
“Ugh… aku hanya punya hari ini? Mana mungkin aku bisa melakukan apa yang kuingingkan dalam satu hari!”
“… kau benar, namu saya tak menyangka kau akan menerimanya begitu saja.
“ Mana mungkin! Bahkan aku masih merasa ini mimpi, namu melihat mu sudah mengikutiku beberapa hari ini sudah dapat membuktikan sesuati bahwa ini…kenyataan.”
Walaupun braun mengatakan itu, sebenarnya baginya tidak terlalu sulit untuk menerima situasi ini. Dikarenakan kutukan yang dia tau akan terjadi pada setiap orang di keluarganya, ia tau hari seperti ini akan tiba saatnnya. Walapun masih penasaran bagiamana ia meninggal, braun memilih untuk memikirakan apa yang akan di lakukannya di hari terakhinya.
“Tuan braun…? Apakah kau baik-baik saja? Saya atau hal ini sulit di terima, namun setiap manusia tetap kan meninggalkan semuanya dan kembali menjadi debu.”
“…Sudahlah kau tak perlu menasihatiku, aku hanya memikirkan apa yang akan aku lakukan untuk hari terkahir ku di dunia ini”
“ Lakukan lah sambil sarapan braun” ujar charon seraya menyodorkan sepiring roti dan juga secangkir teh.
Braun yang baru menyadari adanya makanan di hadapannya pun langsung berucap terimakasih dan memakan roti tersebut. Selama makan, braun menyadari bahwa charon hanya memandang braun. Walaupun matany atidak terlihat sama sekali, braun merasa di amati. Memilih ketenangan braun mengabaikan hal tersebut dan menyelesaikan sarapan sambil berpikir apa saja yang ingin dia lakukan seharian ini, untung saja hari ini sabtu.

___________
“Baiklah, aku sudah tau apa yang akan kita lakukan hari ini, walaupun banyak yg ingin aku lakukan selama masih hidup, aku sudah memilahnya” ucap braun seraya menunjukan sepucuk kertas pada charon
kick the bucket
1. Get a tattoo
2. Watch a movie
3. Donate everything in my body (if still in good condition)
4. Go see sunrise
“Hanya ini? Hari ini sepenuhnya untuk mu braun”
“Aku tau itu, hanya saja aku memang ingin melakukan ini. Kamu tau sendiri bahwa aku lebih bnayak menghabiskan waktuku untuk bekerja, dan sebagian besar hal-hal yg ingin kumiliki semasa sekolah sudah aku dapatkan karena kerja kerasku selama bekerja. Jadi hanya ini yang ingin kulakukan sebelum meninggal.” Ucap braun sambil tersenyum.
Melihat wajah braun, charon merasa bersalah karena mengatakan hal itu.
“Maafkan saya braun, saya tidak bermaksud jahat. Hanya saja-“
“Sudahlah charon! Lagi pula aku tidak marah padamu sama sekali, tenang saja hahaha. Jadi ayo bergerak”
Sambil menarik lengan charon untuk segera berdiri, braun teringat sesuatu.
“oh iya, charon karena orang lain tidak dapat melihatmu, akan sangat aneh kalau aku berbicara sendiri. Apakah kau tidak bisa mengubah penampilan mu dan menunjukan dirimu di public?”
“bisa saja, namun saya harus memiliki sesuatu untuk dijadikan duplikat.”
“ohhh artinya kau bisa meniru wajah siapapun?? Bisa meniru wajah artis terkenal dong! Wait itu akan sangat mencolok-“ ujar braun, selagi braun mengucapkan nama-nama actor dan orang terkenal lainnya, charon melihat sekitar dan menyadari adanya bingkai foto di ruang tamu.
Charon memilih berjalan ke ruang tamu dan mengabaikan braun, charon mengamati semua foto lalu menyadari 1 bingkai foto yang menunjukan braun dengan…sepertinya temannya karena mereka terlihat sangat dekat di foto itu.
“kau sedang melihat apa??”
“bagaiamana jika saya meniru orang ini saja? Kelihatanya kalian berdua dekat, jadi tidak akan aneh kan?” setelah mengucapkan itu, charon menoleh ke arah braun yang terdiam dan memasang wajah kaget.
“…Tuan Braun, apakah anda baik-baik saja?” ujarnya sambil mengayunkan tangannya di depan braun.
“ huh? Oh- iya menurutku tidak ada salah nya. Ini tentu tak akan menraik perhatian sama sekali”
Walaupun seidkit kebingungan, charon pun mulai menirukan penampilan orang di foto itu.
braun merasakan angin dan juga adanya cahaya yang muncul tiba-tiba. Setelah beberapa saat kemudian, dihadapan braun terlihat sosok yang tak asing baginya.