Work Text:
Arjuna masih ingat ketika pertama kali dia diberitahu ibunya bahwa sebentar lagi ia akan memiliki seorang adik. Ia ingat betapa tidak sabarnya dirinya untuk segera bertemu dengan si adik, bahkan menanyakan langsung siapa nama adiknya kelak. Ibunya hanya tertawa singkat dan mengelus kepala Arjuna.
Ketika akhirnya adiknya lahir, Arjuna menatap bayi mungil melalui kotak kaca di ruang tempat ibunya di rawat.
Namanya Aya Aulya. Dia adikmu, Arjuna.
Arjuna hanya merasakan perasaan senang di dadanya dan dengan lantang berkata, "Adik Aya pasti aku jagain ya, Mah!"
Dan Arjuna selalu menepati perkataannya itu selama bertahun-tahun, tanpa cela, tanpa sedikit pun beban. Tak satu pun amarah, iri, atau dengki menghinggapi hatinya.
Terkecuali pada satu hal saja.
Arjunalah yang pertama kali berteman dengan Yudistira.
Itu hanyalah sebuah fakta. Dirinyalah yang lebih dulu bertemu dengan Yudistira di klub musik SMAnya. Yang pertama kali mendekati Yudistira dan bertanya soal gubahan nada gitar yang dimainkannya. Yang pertama kali memperkenalkan diri dan menawarkan persahabatan.
Arjuna lah yang pertama. Bukan mau pamer, hanya ingin menegaskan alur lini masa.
Peluh dan tawa bersama, jemari kikuk yang memetik gitar dan menulis lirik lagu, degup jantung penuh cemas dan harap yang terbagi. Semuanya itu adalah yang dilalui pertama kali oleh Yudistira bersama Arjuna. Dia. Dirinya yang memandu Yudistira pertama kalinya.
"Juna, kau gak bawa payung kah ke sini?"
"Ya mana bisalah, kocak. Tadi di telpon bilang butuh vokalis cepet-cepet buat lomba band ini kan? Ya gue langsung gas motor ke sini lah."
"Yaudah kamu buka baju basahmu itulah."
"…maksud lu apa?!"
"Ini maksudnya ganti pakai jaketku aja. Daripada bebebku masuk angin pas nyanyi nanti kan?"
"Eh, um. Udah gak usah! Nanti paling di panggung juga kering, sih!"
"Jangan lah, Juna. Aku gak mau kamu sakit. Lagian ini hoodie-ku kegedean di aku. Merah kayanya lebih cocok buat kamu, deh. Ya? Pakai jaketku, ya?"
"…Ah elah ribet amat sih lu. Sini buruan kasih jaket lu, gue mau nyanyi."
Tawa Yudistira ketika menyerahkan jaketnya masih akan terus terngiang di kepala Arjuna. Bahkan ketika jaket merah tersebut sudah lusuh dan tak tersentuh di pojok lemarinya selama bertahun-tahun, Arjuna akan selalu mengingat senyum dan tawa tersebut.
Tentu saja Arjuna akan memperkenalkan sahabat baiknya dengan keluarganya. Hal tersebut hanyalah progresi yang masuk akal dari hubungan mereka.
(Hubungan? Pertemanan saja kan? Ya. Hanya pertemanan. Itu yang Arjuna yakini.)
"Ini adikku, Aya," adalah kalimat terakhir yang keluar dari mulut Arjuna sebelum dia menyaksikan semuanya dimulai dan berakhir dalam waktu bersamaan. Bagaikan sinar mentari yang menyerbak dari balik awan gelap, Arjuna menyaksikan sendiri bagaimana kedua bola mata hijau kesayangannya berkilau dengan cinta untuk pertama kalinya.
(Memangnya Arjuna siapa, berharap kilau tersebut terarah kepadanya?)
Adikmu manis sekali, ya, Arjuna?
Tentu saja. Itu adik kesayangannya. Anak gadis paling cantik, paling baik hati dan lembut yang pernah hidup di muka bumi ini. Tak akan pernah bosan Arjuna memamerkan saudaranya yang satu itu. Dirinya akan selalu berani menghadapi siapapun yang mencoba menganggu Aya.
Hanya yang terbaik untuk Aya.
Hal itulah yang selalu Arjuna hujamkan ke pikirannya setiap kali dia melihat senyum gembira Aya kala Arjuna mengajak Yudistira berkunjung ke rumah mereka.
Arjuna mengingat kembali janji masa kecilnya; untuk selalu menjaga adiknya. Sepenuh hati tanpa beban. Tanpa pamrih.
Walau kini terasa sesak dadanya dengan kedengkian yang semakin memuncak.
"Kamu mau minta tolong sama Yudis?" Arjuna bertanya ke adiknya, mengulangi apa yang baru saja dikatakan Aya.
Aya mengangguk. "Aya tahu Kak Juna dan Bang Yudis pasti lagi sibuk di kampus sekarang, tapi Aya udah mentok buat tampil pensi dan Naia juga lagi sibuk lomba ke luar kota jadi aku bingung mau minta tolong siapa lagi, jadinya—"
"Aya, tenang dulu, tenang. Aku bisa kok panggil Yudis sekarang buat bantuin kamu. Butuh dibuatkan melodi kah?"
"Sebenarnya Aya kepikiran mau bikin lagu orisinal juga," Jawab Aya, suaranya lega karena sudah dapat kepastian bantuan. "Seperti yang Kak Juna buat sama Bang Yudis dulu pas pentas terakhir?"
(Karena biarpun Arjuna adalah lagu pertama untuk Yudistira, apalah dirinya dibandingkan bunga seayu adiknya ini?)
"Iya, yang kayak aku dan dia buat dulu itu, ya. Bisa kok, Aya. Sebentar ya aku panggilkan Yudis," Arjuna menutup telponnya dan berlari ke wastafel. Bibirnya berdarah, terlalu dalam ia gigit.
Bukannya Arjuna tidak melakukan apapun soal ganjalan di hatinya.
Bukannya Arjuna tidak mencoba untuk mewujudkan angannya.
Hanya saja—
Rangkulan tangan Yudistira di bahunya sangatlah hangat. Begitu pula dengan tawanya yang menggema di telinganya—jernih dan terang, nada yang menggubah hati Arjuna untuk segera duduk dan menulis puisi lagi.
"Eh gacor juga ya si ganteng ini," kata Yudistira, senyumnya masih lebar di wajahnya. "Menang lagi lho band kita pakai lirik lagumu, Juna. Ajari aku sedikit lah caranya buat kata-kata macam pujangga ini."
"Lu tuh udah pinter bikin nada masak harus ditambahin bisa buat lirik juga, ga adil lah!" Arjuna berpura-pura mendorong Yudistira dan hatinya melompat lega ketika Yudistira malah bergerak semakin menempel ke dirinya.
"Kayaknya keturunan memang ya bakat itu?" Yudistira mendekap Arjuna lebih dekat, lebih hangat sampai ke relung hati.
"Hm?"
"Ya itu lihat, kamu sama adikmu sama-sama cantik, suaranya bagus, pintar juga pula, kan? Eh tapi masih jomblo ya dua-duanya?" Yudistira tertawa kecil dengan leluconnya sendiri. Arjuna hanya bisa terus tersenyum, tidak berani bersuara apapun.
"Eh, benarkan ya, Aya belum punya pacar?" Yudistira bertanya lagi, kali ini air wajahnya berubah—seakan gugup mendengar jawaban Arjuna.
"Memangnya—" Arjuna berdeham, berusaha menenggelamkan perih di tenggorokannya. "—memangnya kenapa kalau sudah?"
Yudistira melepaskan rangkulannya dan Arjuna harus menahan gemetar dingin yang menyergapnya seketika. Dilihatnya sahabat baiknya itu yang langsung terlihat kikuk. Yudistira mengusap lehernya dan mengalihkan pandangannya dari Arjuna. "Yaa… ya tidak kenapa-kenapa, sih."
Tiba-tiba Yudistira menatapnya tajam, bola mata hijaunya berkilat-kilat dengan tekad. "Juna," katanya sangat serius. "Mungkin kau akan marah dengan omonganku. Tapi, kau sahabatku dan aku mau minta izinmu dulu."
—hanya saja, apalah rasa sakit di hatinya jika dibandingkan kebahagiaan kedua orang tersayangnya?
Pertama kalinya Arjuna melihat jaket kulit hitam milik Yudistira tersampir di bahu Aya, ada hasrat luar biasa dalam dadanya untuk merebut jaket tersebut, menginjak-injaknya sampai rusak dan mendorong Yudistira dan Aya sampai jatuh, sampai lecet dan luka. Sampai mereka menangis dan meraung.
Arjuna bangkit dan pamit pergi.
Dirinya adalah kakak panutan, tauladan yang baik tentang bagaimana seharusnya seorang saudara melindungi adiknya. Sejak Aya lahir, dirinya tidak pernah lelah melindungi dan menyayangi adiknya. Namun Arjuna juga tidak pernah merasa dirinya harus diakui atau diberi hadiah terkait hal tersebut. Rasa cintanya tulus untuk keluarganya.
Karena itulah dirinya berdiri tegap mengenakan black suit formalnya, menatap Aya berjalan di pelaminan dengan indahnya.
Hari yang sungguh berbahagia.
Di sebelahnya, calon suami Aya mengendus air matanya supaya tidak jatuh dan menghancurkan momen. Arjuna tersenyum kecil, padahal tadi dia sudah susah payah menenangkan Yudistira yang mulai panik karena gugup tidak hafal-hafal dengan wedding vownya. Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, sahabatnya ini ternyata masih bisa membuatnya heran dengan tingkahnya.
Yah, pikirnya, habis ini kan gilirannya Aya yang dibuat terheran-heran sepanjang hidupnya.
Arjuna memejamkan matanya dan menarik nafas panjang. Masih sedikit perih terasa di seluruh tubuhnya. Tapi biarlah, ada seluruh sisa hidupnya untuk membiasakan dirinya.
"Kak Juna! Sudah semua barangnya masuk koper, kan?" Aya berseru.
Arjuna melihat ke sekeliling kamarnya yang kosong. Semua yang ia butuhkan sudah dimasukkan ke dalam box pindahan dan beberapa mungkin bahkan sudah sampai duluan ke Amerika saat ini. Dalam hati dia menghitung dan mereview ulang apa-apa saja yang mungkin dia butuhkan untuk proyek musik besar jangka panjangnya di sana.
Ekor matanya menangkap pintu lemari baju yang terbuka. Sekelebat merah terlihat tertinggal di dalam lemari. Arjuna membukanya perlahan, sudah tahu apa yang ada di situ.
Tangannya membelai kain polyester merah yang sudah memudar tersebut.
Merah memang ternyata sesuai untuk dirinya.
Jemari Arjuna bergetar, bimbang untuk meraih atau melepaskan.
"Juna? Sudah siap?"
Yudistira berdiri di ambang pintu kamarnya. Tak lama, Aya muncul dari balik tubuhnya, "Kak Juna, ada yang masih ketinggalan kah di sini?"
Arjuna menutup pintu lemari bajunya, menggeleng pelan, "Tidak. Semua sudah sesuai tempatnya. Ayo, berangkat ke bandara."
