Work Text:
Ada yang aneh dengan Jihoon. Hanjin yakin, cuman dia gak tau gimana cara membuktikannya. Tepat setelah Kyungmin menceritakan cerita horornya di ruang TV tadi, Hanjin merasa laki-laki yang seumuran dengannya itu terus saja memandangi dirinya. Ngeri euy, berasa mau dimangsa aja.
Hari sudah semakin larut, Shinyu sebagai kakak tertua telah memerintahkan adek-adeknya untuk masuk ke kamar dan tidur. Setelah menggunakan kamar mandi, Hanjin berjalan masuk ke kamarnya. Ia langsung menidurkan tubuhnya di atas kasurnya lalu membuka ponselnya, kegiatan sebelum tidur Hanjin, menonton reels Instagram hingga merasa ngantuk.
Krek.
Pintu kamarnya terbuka, ia pikir itu adalah Kyungmin teman sekamarnya, Hanjin sudah ancang-ancang ingin menyuruh yang termuda untuk mematikan lampu kamar. Namun ketika dilihat lebih jelas, rambut Kyungmin warnanya tidak seterang itu. Hanya ada satu orang di dalam rumah ini yang warna rambutnya terang mengalahi cahaya matahari, dan orang tersebut adalah teman sebayanya.
“Ada apa Hoon?”
Hanjin bertanya, Jihoon—pelaku yang membuka pintu kamar Hanjin hanya terkekeh di depan pintu. Wah, jangan-jangan Jihoon yang di depannya ini sedang dirasuki hantu yang diceritakan oleh Kyungmin tadi!? Ditanya kok malah ketawa gak jelas gitu. Hanjin jelas menyerngitkan alisnya ketika melihat temannya itu hanya terkekeh sampai matanya cuman nampak segaris.
“Aku tidur di sini yak.”
Lah.
Bingung dah Hanjin, perasaan kawannya ini punya kamar di samping kamar dia. “Terus Kyungmin?”
“Aku suruh tidur di kamar aku.”
Hanjin hanya mengangguk ketika mendengar penjelasan dari Jihoon. Dia tidak ingin ambil pusing karena teman sebayanya itu tiba-tiba pengen tidur di kamar yang sama dengannya. “Matiin lampu kamarnya.” Titah Hanjin lalu kembali memainkan ponselnya.
Jihoo menurut, lampu kamar telah mati, masih dengan cengiran khasnya Jihoon berjalan mendekati kasur Hanjin. Makin bingung lah si Hanjin ngeliat Jihoon kini berdiri di hadapannya sambil cengengesan begitu, merinding. Hanjin makin yakin kalau Jihoon di depannya ini sedang kerasukan hantu yang diceritakan Kyungmin tadi. “Kenapa?”
“Hehehe… Tidur di sini, boleh?” Tanya Jihoon dengan suara yang diimut-imutkan sambil menunjuk kasur Hanjin.
Hah.
Bukan, Hanjin gak kaget dengan permintaan Jihoon barusan. Dia lebih kaget dengerin cara ngomong Jihoon. Cukimay ada yang salah nih sama Jihoon. “Boleh ya?” Mana dia natap Hanjin melas banget, kayak anak anjing yang minta dikasihani.
“Kan ada kasurnya Kyungmin…” Balas Hanjin pelan.
Garis di bibirnya melengkung ke bawah, tangan Jihoon bergerak meraih tangan Hanjin yang sedang memegang Iphone 17 Pro Max Silver 2TB ori ibox CASH. Diayun-anyukannya lengan kekar itu. “Gak boleh ya..?” Semakin lembut suara Jihoon, semakin merinding pula Hanjin.
Anaknya sampai meneguk ludah. Apa perlu gue rukiah ini anak yak?
karena Hanjin sayang TEMAN akhirnya dia ngizinin Jihoon buat tidur di kasurnya. Kesenangan dah anaknya, langsung saja Jihoon melompat naik ke atas kasur Hanjin. Hanjin udah menggeserkan tubuhnya ke samping, memberikan tempat untuk Jihoon tidur namun itu anak malah tidur mepet ke Hanjin hingga si pemilik kasur kejepit antara dinding dan tubuh Jihoon.
“Hoon! Sempit!” Protes Hanjin.
Perasaan Hanjin udah beli kasur baru yang lebih luas deh, napa si Jihoon malah mepet ke dia, maruk amat si Jihoon. Walaupun udah diprotes sama yang punya kasur, Jihoon tidak menghiraukannya. Malah makin mepet dia ke tubuh Hanjin. Tangannya pun sudah bertengger di pinggang Hanjin,
dipeluk eratnya tubuh yang lebih kecil sehingga tubuh mereka benar-benar menempel.
“Hoon!” Seru Hanjin bergerak gelisah.
Jihoon cuman terkekeh ngelihat temennya udah lemes gitu dipeluk erat olehnya. Durhaka nih Jihoon. Akhirnya ia mengedurkan pelukannya dan bergerak SEDIKIT menjauh dari Hanjin. “Kamu kenapa deh Hoon? Tiba-tiba pengen tidur di sini?” Tanya Hanjin setelah terbebas dari tubuh Jihoon, ia memiringkan tubuhnya hingga sekarang posisi mereka saling berhadapan.
Walaupun kini kamar yang ditempati minim cahaya, namun Jihoon dapat melihat dengan jelas wajah lembutnya Hanjin. “Emang gak boleh ya?” Bisik Jihoon.
Gak usah ditanya ‘what are we?’ ke Jihoon. Aura membalas dengan ‘Teman kan? Kamu mikirnya kita apa?’ Udah melekat banget di dia.
Hanjin menghela nafas, dari pada dia menyuruh otaknya bekerja lebih keras untuk menafsirkan tingkah laku Jihoon malam ini, Hanjin lebih memilih untuk tidur. Ditariknya selimut tebalnya hingga menutupi kedua tubuh tersebut. “Tidur.” Perintah Hanjin lalu memejamkan matanya.
“Jihoon!”
Jihoon gak langsung tidur setelah diperintahkan oleh Hanjin, dia malah kembali mendekati tubuh Hanjin lalu memeluknya, bahkan kakinya pun ikut memeluk kaki hanjin. Jadinya tubuh Hanjin benar-benar dikunci sama Jihoon. Mana anaknya sekarang lagi mendusel di ceruk lehernya, makin merinding disko si Hanjin.
“Ssttt… Tidur Hanjin, jangan berisik.”
!?
“Gak usah dipeluk gini juga lah! Lemes aku!”
Jihoon tertawa, sekarang ia semakin mengeratkan pelukannya. Bentar lagi tubuh mungil Hanjin bakalan semakin mungil karena dihimpit dengan tubuh bongsor Jihoon tersebut.
“Udaahh.. Tidur, katanya ada hantu di dalam selimut, hih seram.”
Hah…
Ujung-ujungnya Hanjin pasrah dipeluk oleh Jihoon. Dia tidak lagi memberontak. Karena sudah lelah Hanjin memutuskan untuk tidur, meninggalkan Jihoon yang masih terjaga.
—
“Hanjin… Jihoon… Ayok bangun.”
Pagi telah tiba, Youngjae masuk ke kamar sambil menghidupkan lampu. Awalnya dia bingung ngelihat kasur Kyungmin kosong, lalu Youngjae pikir Jihoon sudah bangun dan lagi di kamar mandi. Tapi ketika ia berjalan ke kasur Hanjin, Youngjae malah melihat Jihoon di sana.
Tertidur pulas sambil memeluk tubuh Hanjin, yang lucunya, Hanjin membalas pelukan Jihoon. Membuat kedua tubuh mereka semakin merapat.
