Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Character:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-02-14
Words:
1,170
Chapters:
1/1
Kudos:
1
Hits:
26

Pasear

Notes:

Happy valentine 🌹 ini cuma tulisan iseng Bunny dan OC kesayanganku, Pride.

Work Text:

Musim panas di Barcelona tak membuat angin malamnya terasa hangat. Sebaliknya, udara malam itu terasa begitu dingin dan agak berangin. Terlebih mereka sedang berjalan-jalan pada pukul satu dini hari. Mungkin hanya keajaiban saja yang akan menyelamatkan keduanya dari flu.

Perempuan itu berjalan di depan, memimpin pria jangkung di belakangnya dengan langkah kecil. Ia berjalan dengan lesu sambil sesekali mencuri pandang pada kaca besar yang menjajakan produk mahal dari beberapa toko ternama. Dari pakaian, sepatu, tas, hingga perhiasan, jalan itu menyediakan segalanya. Diam-diam ia menghitung berapa lama waktu yang ia perlukan untuk bisa membeli sepasang baju hangat dari sana.

“Kita mau kemana, sih?” tanya perempuan itu sambil melirik ke belakang.

Pria di belakangnya mengedikkan bahu. “Entah. Kan kamu yang jalan di depanku.”

“Iglesias,” perempuan itu berbalik dan merengut. “Kamu yang telepon aku jam dua belas malam terus tiba-tiba minta aku buat ke rumahmu, dan sekarang aku yang harus punya jawaban?”

Iglesias, pria muda yang lebih tinggi hampir tiga puluh senti dari dirinya itu, hanya menatap dengan polos. “Kita bisa jalan-jalan aja. Kayak biasa,” ucapnya enteng.

Perempuan itu kembali berjalan. Kali ini langkahnya dihentak-hentak. Iglesias tak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan perempuan itu tapi ia tahu temannya itu sedang merajuk.

“Larut malam begini dan kamu dengan entengnya bilang ‘kita bisa jalan-jalan aja’? Kamu gila ya?!” protes perempuan itu.

“Kan kamu yang setuju buat temenin aku. Kamu gila juga, kah?” Iglesias mengambil satu langkah lebar untuk menyamai langkah perempuan di depannya. “Kamu sendiri yang jalan ke arah sini. Aku gak bilang kita harus jalan-jalan.”

Perempuan itu mengernyitkan dahi. “Terus kamu mau kita berduaan di tempatmu larut malam begini?”

“Memangnya kenapa?” tanya Iglesias dengan asal. Sebelum perempuan itu menjawab, raut wajahnya berubah. Ia baru menyadari maksud dari ucapan perempuan itu. “Pride, jangan bilang kamu—”

Pride—perempuan itu—menepuk lengan Iglesias. “Jangan mikir aneh-aneh!”

“Aw! Hey! Jangan suka mukul!” ucapnya dengan dramatis.

Pride mendengus. “Masa ditepuk begitu kesakitan,” cemoohnya sambil lalu.

Iglesias menatapnya dengan senang. Pride mungkin akan berusia seperempat abad tahun depan. Tapi, perilaku kekanak-kanakannya masih tetap sama seperti apa yang ia ingat. Wajahnya yang kadang merengut sebal dan mulutnya yang tak berhenti menggerutu itu memang jauh lebih menyenangkan untuk dilihat. Poin tambahan apabila ia melakukan itu sambil menuruti keinginan merepotkan Iglesias di tengah malam seperti sekarang.

Keduanya menyisir jalanan Passeig de Gràcia dengan Pride yang bersungut-sungut sambil sesekali menuding Iglesias yang tak merasa bersalah. Butik-butik milik desainer kelas dunia yang mereka lewati tampak kabur. Bagi Iglesias, dunia ini terasa jauh lebih menenangkan tiap dirinya mendengar omelan perempuan di sampingnya itu.

Ia sudah sangat lama mengenal Pride. Meski mereka dulu tak sering bertemu, tapi dirinya merasa kalau kedekatan mereka adalah ikatan yang tak perlu disimbolkan. Pride adalah perempuan yang bersahaja. Tidak ada bagian dari dirinya yang palsu. Ia adalah bentuk nyata dari sebuah keterbukaan.

Dulu, Iglesias sering menyebutnya cengeng karena ia suka menangisi hal-hal yang bahkan tak menyakitinya secara langsung. Namun, sekarang Iglesias berpikir seandainya dulu ia juga sebebas itu untuk berekspresi, mungkin hubungannya dengan Pride bisa lebih dari sekadar teman.

Semakin dewasa ia semakin paham kalau mereka tak bisa selamanya seperti itu. Ada batasan yang tak bisa mereka lewati dengan hanya menjadi teman. Tapi, Pride bahkan tak punya nyali untuk memanggil nama depannya. Sampai sekarang, yang ia dengar hanyalah ‘Iglesias’—bagian yang paling ia benci dari namanya.

Tiap kali mereka menghabiskan waktu bersama, Iglesias jadi semakin bimbang. Separuh dirinya ketakutan setengah mati kalau nantinya ia berakhir menjadi orang asing dan tak lagi melakukan hal sepele seperti ini bersama Pride. Tapi, separuh dirinya yang lain tak henti-hentinya berpikir untuk percaya kalau mereka berdua bisa keluar dari lubang pertemanan itu.

“Katanya kamu mau pindah ke Italia?” tanya Pride tiba-tiba.

Iglesias termangu. Ia bahkan tak tahu kabar itu datang dari mana.

“Iglesias?” Pride menepuk lengan pria itu. “Kenapa? Kok ngelamun?”

“Kamu tau informasi kayak gitu dari mana?” tanya pria itu dengan bingung.

Pride menatapnya dengan wajah keheranan. “Banyak beritanya, lho. Literally dimana-mana. Bahkan teman kantorku beberapa kali tanya-tanya tentang itu. Katanya kamu mau direkrut club Italia,” jelasnya.

“Klub Italia?” tanya Iglesias. “Ada sih beberapa tawaran. Tapi, aku gak kepikiran mau ke Italia. Lagipula kenapa aku harus pindah? Klub yang sekarang udah cukup, kok.”

Heh, aku kira kamu bakal tertarik buat coba hal baru.” Pride menaikkan tudung mantelnya. “I mean, Italia. Aku rasa cocok buat kamu,” ungkapnya.

Iglesias mengerutkan dahi. “Kenapa Italia?”

Pride menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan tatapan yang tak bisa dimengerti. Raut wajahnya tampak ingin mengungkapkan sesuatu tapi diurungkan seolah ucapannya akan menimbulkan sesuatu yang tak diharapkan. Tepat sebelum mereka berbelok ke sebuah blok yang lebih sepi, Pride mendengus geli. Kali ini Iglesias bisa menebak apa yang ada di pikiran perempuan itu.

“Kenapa Italia? Kamu belum jawab,” tuntut pria itu.

“Entah. Aku rasa kamu cocok hidup di Roma,” jawab Pride sekenanya.

Iglesias mendecih. “Barcelona ke Roma mungkin sekitar dua jam kalau naik pesawat,” ucapanya dengan nada mengejek.

“Terus kenapa?”

“Kamu mau bolak-balik dari sini ke Roma?”

Iglesias mengatakannya setengah bercanda. Tapi, wajah Pride tampak serius.

“Kenapa gak kamu aja yang bolak-balik dari Roma ke sini?” tanya Pride balik.

“Bisa. Seminggu sekali?” Pria itu memberi usul dengan nada menantang. “Atau setiap hari? Atau mungkin setiap kali kamu telpon aku?”

“Dasar gila!”

Iglesias mencubit pelan hidung perempuan di depannya. “Gimana aku mau pindah kalau kamu aja gak bisa ditinggal?”

“Jangan cubit-cubit!” protesnya. “Siapa bilang aku gak bisa ditinggal? Lagipula kenapa harus tergantung aku? Kalaupun aku gak bisa ditinggal, kamu kan gak bertanggung jawab buat selalu nurutin apa yang aku mau.”

“Oh, ya? Coba kamu inget apa alasan kamu merantau ke Barcelona,” ledek Iglesias.

Pride mencebikkan bibirnya lalu membuang muka. Ia tak menjawab pertanyaan itu dan memilih untuk terus berjalan sambil sesekali menendang udara dengan kesal.

Sementara itu, Iglesias terkekeh di belakangnya. Ia tahu benar kalau Pride memang pergi ke Barcelona untuk menyusulnya. Dulu, perempuan itu menyebutnya sebagai janji. Katanya, ia akan pergi ke tempat Iglesias berada supaya mereka bisa terus bermain bersama. Tentunya itu hanyalah ucapan naif seorang anak kecil. Tapi, Iglesias mengamini semua janji manis itu dan selalu bernapas lega tiap kali Pride menepati ucapannya.

“Aku rasa keputusan hidupku selama ini selalu bergantung sama kamu. Apa jadinya hidupku nanti kalau segalanya tergantung kamu,” ucap Pride dengan dramatis.

“Mana ada?!” Iglesias mengusap pelan puncak kepala bertudung itu. “Keputusan hidup kamu itu tergantung kamu. Kebetulan aja kamu maunya sama aku. Makanya segalanya jadi tergantung aku,” katanya dengan penuh percaya diri.

“Masa begini terus, sih.”

“Aku kan gak keberatan.”

Pride menoleh lagi. “Sampai kapan kamu gak keberatan?”

Tak ada suara yang keluar selama beberapa saat. Iglesias tampak tertegun karena pertanyaan itu terdengar memiliki arti ganda. Sementara itu, Pride, dengan wajah seriusnya, menatap dengan begitu dalam seolah memberi penekanan bahwa dirinya benar-benar mengharapkan sesuatu.

Seulas senyum tulus terukir di wajah pria itu. Jemarinya bergerak mencolek ujung hidung Pride dengan penuh ketertarikan.

“Sampai kapanpun. Kamu boleh mengikutsertakan aku dalam segala keputusan hidup yang kamu pilih.”

Tak pernah ada ucapan dan simbol keterikatan diantara mereka. Tapi, keduanya sepakat bahwa separuh hidup yang satu adalah milik yang lain, dan itu menjadi hal yang lebih besar dan memiliki makna yang lebih berharga.