Work Text:
Mengetahui kesayangannya sudah datang, dengan cekatan Alhaitam menyelesaikan dokumen-dokumen di hadapannya. Berhubung sudah dekat dengan waktu makan siang juga, ia berpikir bisa menyelesaikan pekerjaan lainnya setelah selesai waktu istirahat.
Dengan wajah yang berseri, pria itu dengan cepat beranjak dari ruangannya. Setengah berlari hanya untuk menghampiri istri dan anak-anaknya.
“Pak Alhaitham ini dokum-”
“Taruh saja di atas meja saya,” jawab sang pemilik nama dengan tergesa. Bahkan ia tidak membiarkan sang lawan bicara menuntaskan kalimatnya. Di pikirannya saat itu hanya ingin segera bertemu dan menghabiskan waktu dengan para kesayangannya.
Walau kesannya seperti sedang tergesa-gesa, lelaki itu tidak lupa untuk mampir sebentar ke kafetaria membeli beberapa makanan dan camilan. Ia tidak terlalu suka dengan suasana kafetaria di jam istirahat, terlalu banyak mahasiswa dan rekan dosennya yang berkumpul di sana.
Pernah beberapa kali ia hanya makan berdua dengan Nilou di kafetaria setelah mereka menikah beberapa bulan, yang tidak Alhaitham sangka adalah ketika teman-teman sejawatnya yang sengaja lewat tempat mereka berdua makan, dan menggoda mereka dengan embel-embel “pengantin baru.”
Memang bukan hal yang menyinggung keduanya, lalu respon istrinya pun baik-baik saja saat itu. Hanya saja dirinya lah yang merasa tidak nyaman, lebih tepatnya takut merasa Nilou tidak nyaman dengan hal-hal itu. Meski begitu, wanita itu selalu tersenyum dan bilang kalau itu tidak masalah baginya, ia juga senang bisa bertemu rekan kerja suaminya.
Dengan begitu Alhaitham merasa lebih tenang, namun tentu saja hari ini ia tidak akan membiarkan rekan-rekannya mengganggu pertemuan ia dengan istri dan anak-anaknya.
“Terima kasih,” ucap Alhaitham sambil menerima dua bungkus penuh berisi makanan dan camilan yang dia pesan.
Kini ia tidak lagi setengah berlari seperti sebelumnya, hanya langkahnya saja sedikit cepat. Dirinya merasa harus hati-hati dengan makanan yang ia bawa agar tidak jatuh ataupun tumpah dari bungkusnya.
Beberapa kali dirinya hampir dihadang oleh mahasiswa yang ada perlu dengannya, tapi tentu saja ia tolak. Ia menyarankan agar mahasiswanya menemui ia setelah jam makan siang berakhir. Tentu saja resiko mereka jika mereka tidak bisa bertemu dengan sang dosen karena ada jadwal mata kuliah yang lain.
Setelah cukup lama berjalan menuju taman kampus, Alhaitham akhirnya melihat sang istri–Nilou dan anak kembarnya di gazebo yang ada di samping kolam ikan. Nilou yang melihat sosok pria itu dari jauh langsung melambaikan tangannya dengan semangat.
“Itu papa kalian,” ucap Nilou pada si kembar sambil menunjuk ke arah Alhaitham yang hampir sampai.
“Papa!!!” Suara nyaring kedua anak kembarnya itu membuat Alhaitham tertawa. Keduanya segera berlari ke arah sang ayah.
Alhaitham merentangkan tangannya sudah siap menyambut mereka ke dalam pelukannya.
Bruk!
Mereka memeluk kaki sang ayah dengan semangat, sesaat Alhaitham hampir saja terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Untung saja hal itu tidak terjadi. Alhaitham langsung sedikit membungkukkan badannya untuk mendekap mereka.
“Papa! Kami kangen papa!” Kata si bungsu, anak perempuannya. Parasnya yang benar-benar mirip dengan Nilou ketika kecil itu sedang tersenyum ke arahnya.
Sedangkan si sulung hanya mengangguk setuju dengan yang dikatakan sang adik. Anak laki-laki yang berparas tampan yang juga mirip dengan istrinya itu memang lebih pemalu jika dibandingkan adiknya.
Anak kembarnya memang secara paras lebih condong mirip sang mama–Nilou, sedangkan yang mirip dengan sang ayah hanya warna rambutnya yang keabuan.
Nilou menghampiri Alhaitham dan anak-anaknya. Mereka berpelukan hangat sekali lagi, lalu berjalan beriringan menuju gazebo untuk menyantap makan siang yang dibawakan Alhaitham.
Alhaitham memang sengaja meminta Nilou untuk tidak perlu repot-repot memasak banyak hari ini, karena Alhaitham tau Nilou akan ada jadwal tampil teater malam nanti. Maka dari itu Nilou hanya membawa makanan ringan untuk camilan si kembar sebagai selingan ketika menunggu jam istirahat ayahnya tiba.
Sambil menunggu Nilou membuka bungkusan makanan yang dibeli Alhaitham, sedangkan Alhaitham membantu si kembar untuk membersihkan tangan mereka sebelum makan.
“Tadi seru liat ikannya?” Tanya Alhaitham pada si kembar.
“Seru, papa! Ada yang warna-warni ikannya.” Si sulung menjawab dengan antusias. “Terus tadi adek mau celupin tangannya ke kolam, tapi sama abang tahan,” lanjut si sulung sambil sedikit berbisik.
“Kenapa ditahan sama abang?” Alhaitham bertanya dengan nada penasaran.
“Soalnya tadi udah janji sama mama buat ga celupin tangan ke kolam kalau mau liat-liat ikan.”
Mendengar jawaban anak sulungnya, Alhaitham terkekeh pelan. “Good job, abang,” pujinya sambil menepuk pelan kepala sang anak.
Melihat itu, adiknya terlihat mengerucutkan bibirnya. “Papa, adek juga mau kayak abang,” protes si bungsu tanpa tahu apa yang dibicarakan ayah dan adiknya.
Nilou yang dari tadi hanya menyimak obrolan antara ayah dan anak itu, ikut tertawa pelan. Tatapannya bertemu dengan netra Alhaitham, wajahnya memasang tampang pasrah. Nilou kembali tertawa, kemudian ia mengangguk, bibirnya memberi tanda “ikuti saja permintaan anakmu itu.”
“Sini adek.” Alhaitham mengulurkan tangannya pada si bungsu. Si bungsu yang biasa dipanggil ‘adek’ oleh kedua orang tuanya itu langsung menerima uluran tangan Alhaitham. “Good job buat adek juga udah nurut kata mama sama abang.”
Tidak lupa pria itu menepuk-nepuk pelan kepala si bungsu sama seperti yang ia lakukan pada si sulung. Sang adik tidak lagi mengerucutkan bibirnya, kini ia tersenyum senang setelah mendapatkan yang ia inginkan.
“Nah, ayo sini kita makan dulu, nanti papa keburu kerja lagi,” ucap Nilou yang sudah selesai merapikan makanan mereka.
Kini anak kembarnya langsung menghampiri Nilou dengan semangat, disusul oleh Alhaitham di belakang mereka.
“Mama, aku mau ini, boleh?” Tanya si bungsu dengan hati-hati.
“Boleh, sayang, tapi duduk dulu ya.” Jawab Nilou dengan ramah.
“Kalau abang?” Tanya si sulung tidak mau kalah.
Nilou tersenyum, “boleh, abang juga. Kan ini papa yang belikan untuk kita. Ayo bilang makasih dulu ke papa.”
Dengan serentak anak kembarnya menjawab, “makasih papa, makasih mama!”
Alhaitham dan Nilou saling berpandangan, lalu tertawa. “Sama-sama anakku,” jawab Alhaitham dan Nilou secara bersamaan.
Siang itu mereka menikmati waktu makan siang bersama dengan hangat. Walau hanya sebentar, tapi kebersamaan mereka cukup untuk saling memulihkan energi sebelum melanjutkan kegiatan mereka yang lain.
-fin-
