Work Text:
Bocah-bocah kecil yang bersetelan dobok putih berhamburan di lapangan parkir terbuka yang cukup luas. Di salah satu bangku panjang yang tersedia, Anton sedang asyik bercengkerama dengan dua teman lesnya sambil mengulum es krim yang dibeli di minimarket dekat gedung olahraga berlantai dua tempat mereka berlatih taekwondo. Mereka tengah menunggu jemputan.
Belasan menit berlalu, kini hanya tersisa beberapa anak yang terlihat di sekitar gedung. Langit mulai menggelap, es krim di tangan tinggal tangkainya, tapi ketiga bocah masih bersemangat menceritakan karakter game favorit mereka. Anton baru menghentikan celotehannya saat melihat mobil hitam Papa masuk dari pintu masuk sebelah kiri. Ia segera berpamitan pada teman-temannya dan beranjak menuju mobil Papa. Ia berlari dengan semangat kala melihat Papanya turun dari pintu kemudi dan langsung tersenyum kala menangkap presensinya. Anton langsung menghambur ke pelukan Sungchan saat jarak mereka hanya selangkah. Tangan gempalnya terjulur minta digendong, yang segera disahuti sang Papa.
“Kok lengket tangannya? Habis mam apa, Sayang?” Sungchan bertanya saat merasakan jejak lengket pada tengkuknya yang dipeluk tangan kanan Anton. Putra kecilnya hanya menggigit bibir dan tersenyum manis sambil menggeleng pelan. Ia mencondongkan kepala dan tenggelam di lekuk leher Papa, tidak menjawab pertanyaan yang lebih dewasa. Anton menggeliat dan terkikik senang saat pinggang kecilnya digelitik dan ditusuk-tusuk jari Papa. “Mam es krim, ya, tadi? Nanti diomelin Mama, lho. Kan kemarin udah mam banyak, Dek.”
Anton membawa tangan kecilnya dan menutup mulut Papa, ia menatap Sungchan dengan tatapan penuh sekongkol. “Secret! Jangan bilang Mama, Paaa. Adek bayar pake cium.” Pipi Sungchan dikecup dua kali, lalu tepi bibirnya. Yang dicium tersenyum gemas dan nyaris melumat bibir anaknya, tapi ia sadar mereka masih di tempat terbuka. Ia berhasil menahan diri dan balas mencium pipi Anton, hidungnya diseret turun ke leher putranya dan menghirup aroma keringat bercampur wangi cologne anak-anak. Wangi tubuh yang tidak seharusnya membangkitkan nafsu binatang. Sungchan menggeram pelan. Ia melangkah cepat ke mobil, tidak ingin tingkah gilanya dipergoki orang lain. Juga tak tahan ingin segera mengisap dan mencium badan putranya.
🍦🍦
Baru juga sebentar Anton duduk di kursi penumpang, badannya segera dipindah ke atas pangkuan Papa yang duduk di balik kemudi. Bibir kecilnya dikecup, dilumat, diisap, digigit-gigit oleh Papa. Anton membalas ciuman seadanya, ia hanya pasrah menerima lumatan rakus Sungchan. Deru mesin mobil dan pendingin menemani bunyi cecapan liar sepasang papa dan anak. Sungchan menyesap leher Anton, menghirup aroma tubuh anaknya yang buat ia mabuk kepayang. “Wangi banget, Sayang. Papa jadi sange. Hmhh.. Kerasa gak?” Ia menekan punggung anaknya hingga jarak mereka tak bersisa, pinggulnya bergerak menyodok dari bawah agar putranya bisa rasakan jendolan penis yang mulai bangun.
“Geli hahahaha… Papa mau ngentotin Adek di sini?” Anton bertanya lugu di sela-sela tawa geli karena semilir napas hangat Papa yang menerpa tengkuknya, juga jari-jari panjang yang mencubit puting kecilnya dari luar kaus. Sungchan melumat bibir anaknya sekali dan tersenyum. Kata-kata jorok seperti ngentot, kontol, memek, keluar tanpa canggung dari bibir Anton. Didikan bejatnya dan Wonbin berhasil tertanam dalam otak mungil anak-anaknya. Ia menggeleng sekali, kemudian mendudukkan Anton di kursi penumpang dan memasangkan sabuk pengaman.
“Jangan di sini, Dek. Bahaya,” ia menjawab sambil tertawa kecil. Ia melirik ke arah pos satpam. Satpam yang berjaga tertangkap tengah mengintip ke arah mereka. Mungkin merasa aneh karena mobilnya tidak bergerak padahal sudah nyaris lima belas menit terparkir. Ia menyalakan mesin mobil dan meninggalkan tempat les Anton, tidak lupa memberi klakson pada si satpam kepo. Tangannya yang bebas menggerayangi dada dan selangkangan Anton sepanjang jalan, buat anaknya duduk gelisah.
Titik-titik gerimis menerpa kaca mobil saat ia memarkirkan mobilnya di area konstruksi villa yang dikelilingi beberapa petak sawah. Sekeliling begitu sepi karena hujan dan jalanan becek yang baru separuh jadi, buat orang-orang enggan lewat jalur ini. Memberi kebebasan bagi si Papa bejat untuk mencabuli badan mulus putranya sesuka hati.
Anton duduk mengangkang di kursi penumpang yang dimundurkan. Celana putih dan dalamannya sudah tanggal, menyisakan atasan kaus hitam dan dobok yang tergulung sampai dada. Jari-jari Papa memilin puting kanannya, yang satunya lagi menggosok kerutan analnya dengan gerakan sensual. Papa mengarahkan tangan Anton yang terbebas untuk ikutan memuaskan pentil kirinya. Si kecil merengek karena elusan Papa di bawah terlampau pelan. Rengekan yang teredam karena mulutnya tengah dilahap Sungchan, liur keduanya menjuntai buat decapan kian basah terdengar di dalam ruang sempit itu. Anton bergerak-gerak tidak sabar, mengejar jari Papa agar menggosok memeknya lebih kasar. Kurang, sentuhannya kurang. Ia ingin lebih.
“Pah.. mmmnghh…” lenguhannya tidak ditanggapi. Anton yang kepalang gatal, akhirnya mengarahkan jari-jari gempalnya yang bebas menuju selangkangannya sendiri. Ia meremas-remas itilnya yang mengacung dengan pucuk basah dan memerah. Tapi rasa gatalnya tidak kunjung hilang, malah makin menjadi-jadi. Jari-jarinya turun dan bersentuhan dengan jari Papa. Ia menggesek kerutan analnya sendiri, berlomba dengan telunjuk Sungchan. Yang lebih dewasa melepas ciumannya, ia melirik sekilas ke bawah dan mendengkus melihat jari Anton yang tidak sabaran. Tangan Anton ia tepis dari bukaan anal. Pipi si muda ia cengkeram dan dihadiahi liur kental yang jatuh di atas bibirnya. Anton dengan cepat menjilat, lalu menelan liur Papa. Mulutnya menganga lebar, menunggu ludahan berikutnya. Sungchan menggeram, kemudian meludah tepat ke kerongkongan anaknya.
“Paa… enakin memek Adek..” Anton mencebik, matanya menatap penuh harap. Tapi Papa tidak langsung mengabulkan pintanya. Yang paling tua mendorong dua jari ke dalam mulut Anton, menyuruh anaknya membasahi jari-jari yang akan melecehkan tubuh belianya. Sungchan menarik jarinya keluar dan membasahi pentil tegang Anton, bukan liang memek si anak. Anton mendesah tidak terima.
“Sabar, Dek. Papa ajarin Adek biar makin tahu enak. Biar badan kamu makin sensitif kayak lonte.” Mulutnya turun mengenyot dan menggigit kedua puting Anton bergantian. Ia menyudahi agenda melecehkan susu Anton, dan menitah si kecil memuaskan kedua putingnya sendiri. “Mainin terus, gak boleh berhenti sampe Papa bilang stop. Ngerti?”
Anton mengeluarkan dengus protes, tapi kedua tangannya tetap patuh melecehkan putingnya sendiri. Ia menatap ujung kontol Papa yang menyembul dari balik kolor, membayangkan putingnya berciuman dengan kepala berlendir itu. Anton merem keenakan, ia hilang dalam pikiran liar yang tak pantas ada di otak prematurnya. Terlalu asyik bermain hingga tak sadar Papa memasang gembok berukuran kecil pada itil tegangnya. Matanya terbuka lebar kala menyadari ujung itilnya terperangkap di antara besi dingin yang kini dalam posisi terkunci. Pucuk itilnya kebas luar biasa. Anton menggoyangkan pantat, tangannya menggerapai ke bawah, berusaha mencabut kuncian yang menyesakkan, tapi hardikan Papa buat ia gigit bibir menahan tangis.
“Ck. Fokus lecehin pentilmu, Dek. Jangan bikin Papa marah, atau Papa iket tanganmu, mau?”
Anton menggeleng panik. Bayangan diikat, walau oleh Papanya sendiri buat pikirannya tertuju pada orang-orang jahat yang kerap diceritakan Miss di sekolah. Bocah bodoh tidak sadar bahwa Papanya adalah satu di antara banyaknya manusia bejat yang menjahatinya. Ujung-ujung jarinya kembali memilin kedua putingnya yang kian membengkak. Stimulasi yang langsung berimbas pada itil kecil yang terperangkap menyedihkan di antara belitan besi gembok. Sakit, kebas. Tapi lama-lama gelenyar aneh berubah jadi adiksi nikmat. Ia menggasak putingnya dengan kasar, itil dan biji zakarnya terasa penuh dan siap memuntahkan pipis enak. Badannya tersentak-sentak kecil, tapi tidak ada cairan yang menyembur, hanya ada tetesan menyedihkan dari lubang kencingnya. Anton menangis, memandang Papa dengan tatapan minta tolong.
“Papaa… Gak bisa pipis. Gak bisa keluar..”
Sungchan yang sedang sibuk merancap kontol kerasnya dalam posisi berlutut sambil menatap pertunjukan si kecil, kembali perintahkan Anton mainkan pentilnya. “Mainin lagi, anjing. Papa mau liat kamu kejang enak. Abis ini Papa kasih kontol. Mau ini, kan?” Ia menampar perut Anton yang paling dekat dengan batang kerasnya. Anaknya melenguh merasakan gesekan batang panas dengan perut lembutnya. Bocah tolol benar-benar ketagihan kontol.
Anton mengulang lagi permainan pada putingnya, tapi kali ini ia makin tersiksa enak. Ujung itilnya ditusuk-tusuk palkon berlendir Papa, lubang pantatnya ikutan digosok brutal di bawah sana. Ia meraung-raung keenakan, air matanya menyatu dengan lelehan liur Papa di seluruh mukanya. Anton makin belingsatan saat telunjuk Sungchan menerobos dan mengocok memeknya. Kandung kemihnya serasa mau pecah, Anton ingin pipis.
“-but.. mhh..”
“Papahh.. cabut. Pipis, mau pipisss AHH!” Tapi Papa brengseknya tidak melepaskan kuncian gembok di itil. Lubang kencingnya ditutup pakai jempol yang lebih tua. Anton kejang-kejang untuk yang kedua kalinya. Sekujur tubuhnya merah dan bermandi keringat dan air mata, tapi titik yang seharusnya keluarkan cairan enak malah terhalangi.
“-dah hiks…”
“Udahh.. Capek, Pa.”
Sungchan mengungkung tubuh Anton, ia menjilat muka dan membubuhi ciuman di bibir si bocah. Tangannya menurunkan tuas jok hingga sepenuhnya dalam posisi rebah. Ia kemudian turun, melebarkan pipi pantat Anton dan memberi jilatan panjang pada lubang anal yang cengap-cengap usai kejang enak dua kali. Anton terkulai lemas, ia hanya menatap Papa dengan pandangan berkabut.
“Gila. Anjing. Lubang memek kamu mancing gini, nak. Mancing dientot kontol terus.” Liurnya jatuh tepat di lubang yang ngempot dan menyedot liurnya.
Ia berlutut di antara kepala anaknya, memaksa kontol kerasnya masuk. Kontolnya juga ingin dibasahi mulut hangat Anton. “Basahin, Dek. Basahin biar bisa ngentotin memek kamu sampe hancur nggh..”
“Anak goblok, demen banget nelen kontol.”
“Kerongkongan kamu enak mijet kontol sangenya Papa. Mmhhh..”
Anton yang diperkosa, menerima dengan pasrah batang perkasanya Papa. Refleks muntahnya kian hari kian hilang, beradaptasi dengan ukuran kontol Papa yang hampir tiap hari hinggap di liang mulutnya. Sungchan berlutut di depan anal si bocah, tangannya merogoh kunci dan membuka gembok yang membelit itil Anton, dan tanpa aba-aba, pipis yang tertunda sejak tadi muncrat kemana-mana, membasahi perut keduanya hingga jok dan lantai mobil. Sungchan tertawa dan mendengus penuh nafsu. “Adek bego, ya? Udah gak bisa nahan, ya, pipis enaknya? Padahal memeknya belum dientot, tapi udah muncrat duluan.”
Badan Anton tersentak kecil usai keluarkan pipis yang tertahan. Sekujur tubuhnya masih sensitif, tapi ia bisa rasakan gumpalan ludah yang jatuh ke analnya dan dorongan ujung kontol Papa yang menerobosi liang memeknya. Papa bangsatnya yang menahan sange dari tadi langsung menggenjot memek hangatnya. Sungchan menggeram dan mengumpat keenakan tiap rasakan jepitan dinding anal Anton. Memek kecil putranya tidak pernah gagal buat ia hilang kendali.
“Huuh. Memek ketat banget, setan. Ahhh..”
“Kempotin lagi memeknya, Dek. Peresin sampe pejunya papa muncrat di dalam..”
Anton mendesah dan melenguh nikmat di tiap genjotan kasar Papa. Puting-puting tegangnya diisap yang lebih tua, lubang itilnya digaruk pakai kuku yang agak tumpul. Desahan binal dan geraman nikmat bersahutan dengan derasnya hujan yang menghantam kap dan jendela mobil. Pasangan Papa dan anak menyatukan kelamin tanpa peduli mobil sialan ikut bergoyang.
“Lembut banget memek Adek. Papa gak bisa berhenti merkosa kamu, bangsatth!”
“Engnnakhh… Papaa.. lagi biji enaknyahh..” si bocah lacur juga keenakan. Ia berujar sambil tersedak ludahnya sendiri, meminta Papa biadabnya memerkosa biji prostatnya sampai bengkak.
“Memek kamu anjing ahh.. ancur nggh! Enak Papa ancurin shhh!”
Kontol dan itil keduanya berkedut hebat seiring tumbukan liar di dalam liang memek.
“Pahh! Ahh anghh! Ngomp—Ahh! nguhh!” Anton tak lagi sanggup merangkai kata. Lidahnya melemas, otaknya rusak karena ngompol enak. Bola matanya bergulir ke tengah. Pemandangan lacur yang mengundang rojokan kasar kontol Papa pada memeknya yang merekah merah. Pipisnya menyembur dan menambah genangan basah di lantai mobil. Kedutan otot memeknya juga ikutan mengencang seiring orgasme.
“Anjing! Perek anjing! Enak banget memek kecil. Kempotin lagi, ahh..”
“Peju gue muncrat ugh.. anjing ahhh… Makan nih BANGSAT!!” otot perutnya mengencang, tubuh atasnya bergetar hebat, gigi-giginya bergemeletuk nyaring. Maninya muncrat dalam memek Anton. Ia mendengus dan mendesah lega saat semua muatannya keluar.
“Anjing. Enak banget mmh…”
Gila. Memek anaknya benar-benar sialan. Warasnya tidak lagi tersisa karena nyaris setiap hari dijepit memek enak anak-anak dan istrinya. Ia menunduk dan mengecup pipi dan bibir Anton yang matanya tertutup. Anaknya kelelahan usai dihajar kontol Papa. Sungchan meraba ponselnya yang terselip di kursi kemudi, ia memotret tubuh telanjang keduanya, kontolnya bahkan masih bersarang dalam lubang anal Anton. Ia mengirim pesan singkat pada istrinya, mengabarkan keduanya pulang terlambat—disertai gambar tidak senonoh tadi.
Kontolnya masih keras di dalam sana. Ia menggenjot pelan memek anaknya yang tertidur kelelahan. Hujan deras menemani Sungchan yang mendesah dan mengumpat nikmat karena dijepit enak.
FIN
