Chapter Text
“Eunghhh… Papahh… ahhh….” Laki-laki dengan kulit semanis madu itu menggerakkan pinggulnya dengan begitu piawai di atas seorang pria yang umurnya terlihat jauh lebih tua daripada dirinya, membuat batang kontol yang lebih tua keluar-masuk dari lubang kawinnya.
“Ughh… iyahh… ketatin memekmu lagi, Evanhh… fuckhhh… ahhh!”
“Mmmhhh … aku mau keluarhhh… Papahhh… ahhhh!”
Evan–lelaki yang lebih muda itu—menghentikan gerakannya dengan punggung yang melengkung dengan wajah yang menengadah, bersamaan dengan puncak klimaks yang menyeruak seperti gunung aktif yang tengah melepaskan inti buminya. Tubuh Evan merebah di atas tubuh pria yang lebih tua itu—tak terlalu tua sebenarnya, tetapi perbedaan umur mereka cukup jauh, mengingat Evan baru berusia 20 tahun dan pria tersebut sudah berumur 39 tahun, jaraknya hampir dua kali umur Evan sendiri.
“Kenapa udah berhenti, hm? Papa belum keluar, sayang,” goda si yang lebih tua itu kepada Evan yang mendengus sambil mengerucutkan bibirnya.
“Aku udah keluar sampe dua kali, tapi Papa belum keluar sama sekali… eunghhh… masih keras aja di dalam memeknya aku, Pa.” Evan balas menggoda sembari memutar pinggulnya hingga batang kontol besar itu bergesekkan lagi dengan dinding memeknya yang becek sampai-sampai bunyi beceknya memenuhi kamar apartemen mewah yang menjadi saksi bisu perbuatan kotor mereka.
“Ahhh … fuck!” Maresta—pria yang lebih tua itu—menggeram menahan nikmat yang berdesir ke seluruh pembuluh darahnya. Kedua telapak tangannya yang besar nan lebar itu terlulur meremas pipi pantat Evan yang begitu sintal dan kenyal, lantas mengatur tempo gerakan pinggul yang lebih muda sampai Evan mendesah tak keruan dengan wajah yang memerah total.
“Papahhh! Ahhh! Ahhh!”
“Papa isi lagi memekmu sama pejunya Papa, ya, sayanghhh… ahhh!” bisik Maresta tepat di samping telinga Evan yang menyembunyikan wajah manisnya di ceruk leher pria itu.
Erangan dan desahan mereka saling bersahutan di kamar tersebut. Semakin lama, semakin intens pula sampai akhirnya Maresta mengeluarkan puncak klimaksnya di dalam memek Evan, sementara itu Evan kembali mendapatkan kenikmatannya hingga membuat seprai di bawah mereka basah kuyup akibat kantung kemihnya yang terasa penuh di setiap sodokan kontol pria dewasa yang sudah ia layani selama dua tahun lebih sejak ia masuk kuliah.
“Ahhh….” Evan mengerang pelan dengan napas yang terengah-engah. Di saat ia hendak beranjak dari tubuh Maresta, pria itu menahannya dengan memeluk pinggang Evan.
“Sebentar aja begini… ahh… Papa mau ngerasain memek kamu mijitin kontol Papa lebih lama, sayang,” bisik Maresta dengan suara parau yang menggelitik telinga Evan.
Evan pun bergeming. Ia membiarkan kontol pria itu dimanjakan oleh dinding memeknya yang terasa berkedut hebat di dalam sana, meremas setiap inci batang besar dengan urat-urat tebal yang memenuhinya.
“Mmm… Papa, nanti boleh tambahin uang jajannya nggak? Soalnya buat beli buku-buku yang direkomendasikan sama dosen aku, terus mau nongkrong juga sama temen-temen” kata Evan yang memecahkan keheningan yang tercipta beberapa saat di antara mereka dengan suara imutnya yang centil itu sembari membuat pola lingkaran dengan telunjuknya di dada bidang pria yang umurnya lebih tua darinya itu.
“Boleh dong, nanti Papa tambahin lima puluh juta buat uang jajan kamu, cukup nggak?” sambut Maresta sembari mengelus punggung tak bercela itu dengan lembut. Evan yang sedari tadi tengah merebahkan kepalanya di dada Maresta pun langsung terkejut dan mengangkat kepalanya untuk menatap ‘sang papa’. Ia mengerjapkan mata bulatnya itu dengan begitu menggemaskan.
“Beneran, Pa?” tanyanya setengah tak percaya. Tanpa ragu, Maresta menganggukkan kepalanya dengan senyuman lebar. “Aaaaa… makasih, Papa sayang!” seru Evan seraya mengecup bibir Maresta berkali-kali.
“Sebagai gantinya, Papa pengen genjotin anal kamu juga hari ini, gimana?”
Evan menggigit bibir bawahnya, menggoda ‘sang papa’ sambil menggoyangkan pinggulnya lagi. “Eunghhh… Papa bebas pejuin memek sama anal aku hari ini sampe Papa puas!” ujar si manis itu dengan nada nakalnya.
Namun, momen-momen panas itu ternyata hanya bertahan sampai Evan menyelesaikan kuliahnya, di mana kontrak perjanjian mereka pun selesai. Hari itu seharusnya menjadi hari perpisahan mereka setelah hampir empat tahun menjalin hubungan kotor itu. Di dalam peraturan yang mereka sepakati, bila ingin menyudahi hubungan tersebut, mereka harus mengucapkan selamat tinggal dengan seks perpisahan. Maresta sudah siap menunggu di apartemennya sebelum kisah panas mereka usai, tetapi Evan tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
Tentu saja Maresta tak hanya menunggu. Ia bahkan bergegas pergi ke apartemen Evan yang sengaja dibelikan oleh Maresta. Posisinya dekat sekali dengan kampus laki-laki itu agar memudahkan mobilitas Evan ke kampusnya. Namun, setelah Maresta sampai ke apartemen tersebut, seluruh barang-barang Evan sudah tidak ada, bahkan lemari pun sudah kosong semuanya, tak ada jejak sehelai pun yang tertinggal. Maresta berdecak seraya tertawa getir. Setelah menguras uang Maresta hingga miliyaran sedari awal Evan masuk sampai selesai kuliah, bahkan menguras perasaan pria itu, Evan langsung mengganti seluruh kontaknya, bahkan menghapus sosial media miliknya agar Maresta benar-benar tak bisa menemukannya lagi.
Tampaknya Evan lupa bahwa Maresta adalah pengusaha sukses dengan latar belakang keluarga konglomerat yang memiliki usaha di berbagai bidang, beberapa di antaranya seperti manufaktur, retail, dan pertambangan. Tak sulit bagi Maresta untuk menemukan Evan dengan relasi yang ada di mana-mana dengan berbagai ranah, bahkan dari ranah politik sampai kepolisian sekalipun.
Maresta tertawa sembari melihat layar ponselnya saat suara operator menjelaskan bahwa nomor yang sedang ia telepon saat ini sudah tidak aktif lagi. “Liat aja kamu, Evan sayang. Kamu masih utang seks ke Papa. Papa will come for you, Honeybun.”
