Work Text:
H-1 tahun baru tapi Riku masih harus kerja lembur, jadi disinilah dia, di kantor yang sudah jadi rumah keduanya selama dua tahun ini. Kalau boleh jujur, dia muak jadi budak korporat, tapi mau bagaimana lagi? Ada perut yang harus diisi. Harusnya hari ini dia lembur bareng Yushi, teman senasib seperjuangannya, tapi tiba-tiba Yushi menghilang entah kemana, tidak terlihat batang hidungnya.
“Sialan! ini anak kemana sih?! Orang lembur bareng dia malah ngilang.” Riku tidak punya pilihan selain meneruskan lemburnya karena gunungan berkasnya tidak mungkin selesai sendiri tanpa dia kerjakan
Sudah satu jam dari terakhir kali dia lihat Yushi, jadi dia berniat mencari Yushi karena chatnya juga tidak dibalas dari tadi. Riku berjalan ke arah pantry dan mendengar suara aneh, yang jelas itu suara Yushi, “ah… ah… enak banget Daeng… lebih cepet… ah…” Riku tidak salah lihat! Dia melihat Yushi sedang digarap olen Daeyoung, pacarnya, anak divisi sebelah yang hari ini juga lembur. Yushi dan Daeyoung masih memakai baju lengkap, tapi celananya sudah dilepas, Riku melihat posisi Yushi yang sedang nungging keenakan karena dimasuki kontol Daeyoung, mukanya merah, matanya sayu merem melek, mereka tidak ada yang sadar kalau Riku sedang mengintip.
Enak banget lembur begini malah ngewe, pantes dia semangat banget kalo lembur, soalnya ini jadi kesempatan ngewe sama pacarnya di tempat umum tapi nggak bakal ketauan, sementara gue? Entah kapan terakhir kali digarap kontol beneran karena gue jomblo sekarang. Pengen dikontolin tapi masa mau ijin join? Kan nggak enak sama Yushi, kalo Daeyoung mah kayanya enak enak aja tuh bisa ngewe dua orang sekaligus. Pikirnya.
Saking sangenya, Riku cuma bisa menyender di tembok sambil mengigit bibir dan meremas dadanya sendiri membayangkan dirinya dikontolin juga, dia tidak tahu dari tadi manajernya, Oh Sion, melihat Riku dengan ekspresi kepengen di belakangnya.
Sion ikut mengintip apa yang sedang terjadi, ia tahu sekarang kenapa Riku begini, otak mesumnya keluar. “mau dibantuin nggak, sayang?” Goda Sion. Riku menoleh ke arah Sion, pas banget Riku juga sudah tidak tahan, jadi Riku cuma bisa mengangguk mengiyakan, toh manajernya masih muda dan ganteng, kalaupun dia bisa hamil nantinya, dia bakal senang kalau anaknya mirip Sion. “Ayo ikut.” Sion menarik tangan Riku, jalannya agak susah karena kontolnya yang sudah terlanjur keras menggesek celana, untungnya ruangan Sion tak seberapa jauh.
Sampai di ruangan Sion, Sion kunci ruangannya takut ada yang datang, dia ambil pelumas dari tasnya dan duduk di sofa, melepas celananya dan dilempar ke samping, sementara Riku melepas celananya sendiri, mereka berhenti sejenak saling tatap-tatapan. “Sini sayang, dudukin kontol saya.” Sion mengeluarkan pelumas sampai luber untuk diusapkan ke kontolnya, lalu menepuk pahanya yang langsung diiyakan oleh Riku, ia bersiap duduk sambil memunggungi Sion, masih menunggu tangan Sion membawa kontolnya ke anal Riku. “AH…” Sion mendesah saat kontolnya masuk ke anal sempit Riku, diikuti desahan tertahan dari Riku.
Riku perlahan turun menyesuaikan diri dengan kontol Sion sampai dia benar benar duduk di pangkuan bosnya itu. Setelah mulai terbiasa, ia mulai bergerak naik turun sambil tangannya bertumpu pada paha Sion. “Ah… enak banget pak… ngh…” ini pertama kalinya Riku dimasuki kontol beneran setelah sekian lama, dan pertama kalinya ia ngewe dengan bosnya.
Riku masih terus naik turun, suara pertemuan kulit dan nafas mereka yang memburu terdengar memenuhi ruangan. “Kamu sempit banget Rik… saya suka…” Sion juga tidak mau kalah, ia ikut bergerak sambil tangannya memegang pinggul Riku, membuat Riku tidak menggenjot sendirian. “enak banget Rik…” Sion juga membawa tangannya berjalan ke arah dada dan kontol Riku, meremas mereka satu per satu, membuat Riku berjengit, alhasil jepitan di kontol Sion semakin menyempit “FUCK RIKU…”
Riku masih menggenjot kontol Sion sampai akhirnya peluh membasahi dahinya dan ia merasa cape. “Pak… enak… tapi cape…” Sion menggelengkan kepala sambil berdecak. “Ckckck baru genjot bentar doang udah cape, pantesan jadi boti.” Sion mendorong Riku dan menarik kontolnya dari anal Riku. “Kamu nungging aja, nanti saya dari belakang.” Riku mengerti, ia langsung menaikan lututnya ke sofa, meletakkan sikunya pada sandaran sofa, siap menerima kontol Sion kembali ke tempat seharusnya. Sion kembali mengoleskan pelumas dan mengurutnya sebentar sebelum memasukan kontolnya ke anal Riku, “AH….” Walau ini kedua kalinya dia masuk, tetap saja sensasi dijepit anal Riku membuatnya menggelinjang sekali lagi. “Sempit banget Riku… kamu udah berapa lama nggak dientot?” Sion tidak menunggu jawaban Riku, ia segera menggenjot Riku sambil tangannya mengocok kontol Riku, membuat Riku merem melek karena keenakan. Sion yang ingin melihat ekspresi Riku, menjulurkan kepalanya ke samping sambil menarik dagu Riku, membuat wajah mereka berhadapan. Melihat muka merah Riku dan kondisinya yang sekarang berantakan, Sion menyeringai lalu mencium bibir Riku ganas. “Ngh… pak…” nafas mereka memburu, pertemuan kulit mereka bisa tedengar memenuhi ruangan.
“hhh…ngh…” Saat Sion masih asik dengan kegiatannya, Riku yang tidak tahan, mendorong wajah Sion menjauh. “Pak… jangan kecepetan ngocoknya… saya mau keluar…” dengan semua rangsangan yang Sion berikan, Riku berusaha menahan pelepasannya, ia merasa Sion belum akan keluar jadi ia gengsi kalau keluar duluan. Walau dia boti, dia tetap punya harga diri.
“Sebentar ya sayang, kalo bisa kita keluar bareng.” Karena niat awalnya keluar bersamaan, Sion menghentikan kocokannya di kontol Riku dan memegang pinggul Riku, menggenjotnya lebih cepat, rangsangan di kontolnya memang sudah tidak ada, tapi genjotan yang semakin cepat membuat Riku keluar duluan “AH….” Jeritan Riku terdengar sampai keluar ruangan. “Hhhh…. Sebentar Riku… ngh… Saya belum keluar…” paha Riku bergetar saat ia keluar, membuatnya lemas dan bersandar pada sandaran sofa, lututnya tidak kuat menahan beban tubuhnya lagi jadi Sion agak maju mengikuti tubuh Riku. Walau Riku sudah lemas, Sion tetap melanjutkan genjotannya, belum ada tanda tanda dia akan keluar.
“Pak… Riku cape…” keluh Riku masih dengan posisinya yang nungging di sofa.
Sion yang mendengar keluhan Riku segera melepas kontolnya dan membalik tubuh Riku tiduran di sofa agar Riku tidak perlu menahan tubuhnya. “Ngangkang yang lebar Rik.” Ia melebarkan kedua paha Riku lalu memasukan kontolnya lagi ke dalam Riku. “ngh… ah…” melihat wajah Riku yang kelelahan membuat Sion semakin sange. Rintihan Riku yang sudah tidak kuat lagi tidak membuatnya berhenti, justru ia semakin terangsang. Sion menatap lurus ke wajah Riku saat ia rasa ia akan keluar dan melontarkan pertanyaan, “Boleh crot di dalem nggak, sayang?” permintaan bosnya itu diiyakan oleh Riku, membuatnya semakin mempercepat genjotannya dan, “AH……” Suara yang berasal dari Sion itu menandakan ia sudah selesai, Sion bergetar beberapa kali. Setelah memastikan sudah tidak ada cairan yang keluar dari dirinya, ia meletakkan paha Riku kembali dan terkulai lemas sambil memeluk Riku di atas tubuhnya. “Hhh… hhh… hhh…” Sion mengatur nafasnya, keringatnya bercucuran, ia mengangkat kepalanya tersenyum pada Riku dan mengacak acak rambutnya. “Makasih ya Rik, udah lama saya nggak begini.” Sion melihat ke arah jam yang sudah menunjukan lewat tengah malam. “Happy new year, Riku sayang.” Sion menatap wajah Riku dan mengecupnya.
“Happy new year juga pak…” kata pertama yang Riku ucapkan tahun ini adalah kata selamat untuk Sion, orang yang memberinya kenikmatan yang sudah lama tidak ia rasakan. “Kontol bapak mantep banget, kalo mau ngewe lagi, sama saya aja ya pak.” Sion tersenyum, baru kali ini anak buahnya berani berkata seperti itu di depannya.
“iya sayang, yaudah tidur dulu ya, besok pagi saya anter kamu pulang.” Sion baru sadar, kata sayang yang awalnya ia gunakan untuk menggoda Riku kini sudah menjadi lain, kali ini ia mengucapkannya dengan maksud yang sebenarnya. Hari pertama 2026 dan dia sudah tahu akan menjalani tahun ini dengan siapa. ya! siapa lagi kalau bukan Riku? Bawahannya yang sekarang benar-benar ada di bawahnya.
