Work Text:
Seumur hidupnya, Joel tidak pernah terbesit akan tertarik dengan sosok yang jauh lebih matang. Selama ini, permainannya hanya berputar pada yang usianya lebih muda atau setidaknya sebaya dengan dirinya. Tapi, mana bisa Joel membiarkan begitu saja sosok menawan yang sejak awal jelas-jelas menggodanya di hari pertama mereka bertemu.
Selama ini, kebutuhan Joel untuk berada di dunia malam hanya untuk cinta satu malam. Bukan untuk berkomitmen atau bahkan mencari uang tambahan di tengah posisinya sebagai mahasiswa tingkat akhir. Namun, dunia memang rasanya penuh dengan kejutan. Karena siapa sangka jika pilihannya untuk mengunjungi Zestful pertama kali berujung membuat Joel tidak bisa terlepas dengan sosok bernama Meriel.
Kali pertama bagi Joel mempunyai keterikatan dengan sosok yang lebih tua dalam waktu lama. Sudah tiga bulan sejak Joel dan Meriel saling mengenal satu sama lain. Selama itu pula Joel jadi terbiasa untuk berkunjung ke apartemen Meriel. Menghabiskan malam panas yang membuat keduanya lupa akan dunia untuk sementara.
Mereka saling membutuhkan satu sama lain. Hubungan yang terjalin memang saling menguntungkan masing-masing pihak. Joel tau apa yang Meriel butuhkan, begitu juga sebaliknya. Keduanya adalah tipe pengeksplor seks yang handal, dan Joel suka bagaimana malam-malam yang dilewatinya bersama Meriel membangunkan kesukaan baru dalam dirinya.
“Meriel?”
Joel yang baru saja masuk ke dalam ruang apartemen dibuat tak berkutik dengan apa yang ada di hadapannya. Sebelumnya, ia memang pernah berpikir kalau perawakan Meriel terlalu cantik untuk seorang laki-laki kepala tiga. Fantasi gila Joel pernah membayangkan Meriel menjadi sugar mommy yang rela berdandan cantik untuk dirinya
Dan kini, ia dihadapkan secara langsung dengan betapa menawannya Meriel dalam balutan kimono satin berwarna cokelat susu yang begitu pas dipadukan dengan kulit putih mulusnya. Kaki jenjang yang selama ini sering menjadi incaran Joel untuk dikecup kini dihiasi sepatu high heels berwarna merah. Bibir plumpy berwarna merah muda yang kerap menjadi cumbuan Joel kini berubah warna berkat pulasan lipstick merah terang.
Entah Meriel yang bisa membaca mimpi basah sang mahasiswa atau memang pada dasarnya ia pintar menyenangkan, perlahan apa yang didambakan Joel menjadi perwujudan nyata di hadapannya.
“Meriel…”
Joel berjalan mendekat ke arah Meriel yang jelas-jelas menggodanya untuk segera diterjang. Ia letakkan tas kuliahnya di sembarang tempat. Dari jarak beberapa jengkal, Joel bisa merasakan aroma parfum old money yang biasanya bisa tercium setiap dirinya bertemu tante-tante kaya raya di mall.
Senyum di bibir Meriel semakin melebar saat Joel sudah berada di hadapannya. Merasa puas dengan ekspresi Joel yang tampak masih terkesan dengan gaya barunya.
“Sudah pulang berondongnya tante?”
Holy fucking shit. Joel rasanya ingin menonjok tembok yang ada di sebelahnya karena demi apapun sejak kapan ia menyetujui untuk bermain peran?
“Meriel..”
Joel lama-kelamaan kayak orang tolol karena terus-terusan cuma bisa manggil nama Meriel. Di otaknya cuma ada nama Meriel, Meriel, dan Meriel.
“Tante. Panggilnya Tante Riel aja, sayang,”
Meriel semakin mendekatkan diri, membiarkan jari-jari lentiknya bermain pada kancing kemeja Joel, seolah hendak melepasnya namun tidak. Joel juga baru menyadari kalau jari-jari Meriel sudah dipulas cat kuku yang lagi-lagi senada dengan warna lipstik dan high heels kenaaanya.
Meriel dan kosa kata cantik memang sudah menjadi satu kesatuan.
“T-tante Riel..” panggil Joel gelagapan. Ia yang biasanya jadi pihak dominan dan sukanya mengontrol, kini telah tersihir sepenuhnya.
“Pinter sayangnya tante,”
Meriel memberikan kecupan pada bibir Joel sebagai hadiah.
Perlu diakui, selama ini Meriel lebih sering menjadi pihak penurut dan menerima, tapi ternyata mengendalikan Joel dengan peran sebagai sugar mommy rasanya menyenangkan juga.
“Joel malam ini jadi temenin tante kan? Jadwal modellingnya sudah dibatalkan?”
“Malam ini kamu jadi modelnya tante aja. Pose ganteng di depan tante. Nanti tante transfer lima kali lipat dari bayaran modelling kamu hari ini,”
Meriel beneran udah mendalami perannya sebagai tante-tante old money yang melihara berondong buat kesenangan pribadi. Celana denim Joel lama kelamaan menggembung. Rasanya seperti mau meledak disuguhin sama versi Meriel yang kayak gini.
“Udah dibatalin. Malam ini Joel punya Tante Riel,”
Meriel tersenyum penuh arti, kemudian menarik tangan Joel ke arah ruang tamu. Sesampainya di sana, tubuh Joel didorong hingga terduduk di sofa tunggal. Tanpa aba-aba, Meriel meletakkan sebelah kakinya yang berbalutkan heels di antara kedua kaki Joel yang terbuka.
Anjing. Joel bisa tau apa yang bakal dilakuin Meriel setelah ini.
“Tante dari tadi ngeliatin punya kamu sejak pas dateng. Kenapa udah ngegembung aja? Bukannnya belum tante apa-apain ya?”
Meriel bertanya sambil ujung heels-nya menekan penis Joel dari luar celana. Gak pernah kepikiran oleh Joel kalau dilecehin begini sama tante-tante bakal ngebuat dia makin turn on.
“Tante Riel… Sshhh…”
“Kok malah ngedesah? Joel suka diinjek sama tante begini?” tanya Meriel sambil menekan kuat penis Joel yang lama-lama makin membesar di balik celana. Kelihatan banget sesaknya. Ujung heels Meriel yang lancip memberikan sensasi tersendiri setiap kali menekan dan bergesekan dengan penis Joel.
“Tante.. Boleh gak dibuka?”
Meriel tertawa, tidak pernah menduga akan ada hari di mana Joel meminta izin kepadanya. Padahal jelas-jelas selama ini Joel lebih sering melakukan kehendak sesuka hati, tanpa memikirkan disetujui oleh Meriel atau tidak. Melihat sisi lain Joel yang submisif, memang patut diakui kalau berondong kesayangannya ini cocok jadi sugar baby.
“Pinter banget sayang pakai izin dulu. Kalau tante gak ngebolehin, gimana dong?”
Memangnya cuma Joel yang bisa menyiksa Meriel sampai nangis memohon setiap kali mereka bermain? Sekarang sudah saatnya Meriel balas dendam.
“Tante… Tolong… Sesak banget tan,”
Joel bisa merasakan penisnya terus mendesak untuk segera dibebaskan. Meriel tanpa ampun terus menginjaknya, menikmati bagaimana ekspresi Joel yang kesakitan bercampur enak tiap heels yang dikenakannya memberikan siksaan. Memang tidak salah Meriel memilih untuk membeli sepatu wanita dengan ujung tumpul dan heels setinggi 10 cm. Semakin mudah untuk mengerjai Joel.
“Boleh dibuka celananya kalau Joel udah keluar,”
“Tante…”
“Ayo keluar buat tante, ganteng?” Meriel pengen banget ngeliat Joel ngompol. Jangan dikira cuma Joel aja yang bisa bikin Meriel ngompol selama ini.
Yang lebih muda gak bisa berpikir panjang, jadi yang dilakukan setelahnya adalah menggesekan kejantanannya ke sepatu heels Meriel. Gak peduli kalau hal yang dilakuin bikin harga dirinya tercoreng, karena nyatanya Joel emang udah sange banget dan butuh pelepasan. Joel sekarang udah kayak nyetubuhin dirinya sendiri dengan cuma ngandelin kaki Meriel.
“Tante… Ahh… Cantik banget Tante Riel…”
“Joel suka?”
“Suka.. Banget… Shh…”
Meriel cekikikan ngeliat Joel yang udah kelewatan tolol. Beneran kayak bukan Joel yang dirinya kenal.
“Seenak itu diinjak kontolnya pakai sepatu tante? Emangnya gak pernah sebelumnya ngewe sama tante-tante?”
Joel menggeleng dengan mata berkabut penuh nafsu. Gesekannya makin menjadi membuat kaki Meriel lama-kelamaan merasa pegal karena terus dipakai sebagai alat pemuas.
“Tante Riel… Mau keluar bentar lagi…”
“Iya sayang. Coba muncratin yang banyak buat tante?
Dengan gerakan yang semakin berantakan, Joel akhirnya bisa merasakan bagian celananya menghangat.
“Ahh.. Fuck..” Joel beneran dibuat ngompol sama Meriel.
Nafasnya berantakan, tapi setelahnya masih mampu memberikan kecupan penuh damba pada kaki cantik Meriel sebagai ucapan terima kasih.
Cup
Cup
Cup
Joel berulang kali mengecup high heels merah Meriel.
“Tante Riel.. Makasih udah bikin Joel muncrat, sekarang Joel boleh buka celana?”
Meriel lagi-lagi dibuat terkikik melihat sisi submisif Joel. Ia menganggukan kepalanya sebagai tanda persetujuan. “Tapi tante aja yang buka celana kamu, ya?”
Dan Joel tidak ada alasan untuk menolak. Ia pasrah pas tangan lentik Meriel membuka resleting celananya, menurunkannya dengan lamban, sengaja ingin mengikis kewarasan Joel yang dikenal tidak sabaran.
“Tante mau tau kontol mahasiswa kayak kamu bisa gak bikin puas tante,”
Meriel berucap seolah ini kali pertama dirinya bermain dengan berondong. Tangan lentiknya menarik turun celana denim Joel hingga menyisakan dalaman menggembung berwarna abu-abu. Saking tegang-nya, Meriel bisa melihat kepala penis Joel mengintip berusaha dilepaskan.
“Udah sange banget ya?” Meriel menunduk bikin dirinya menungging cuma buat mengecup kepala penis Joel yang terlihat dari sela-sela celana dalam. Joel udah gak bisa mikir, dirinya lebih milih buat pasrah diapain aja sama Meriel kali ini.
Tubuh Joel menegang saat merasakan gigitan Meriel di karet celana dalamnya, melihat secara langsung pemandangan porno gimana lihainya Meriel ngelepasin celana dalam miliknya cuma pakai bantuan gigi. Hidung mancung itu bahkan sempat bergesekan dengan bulu pubis Joel, menggodanya sebentar sebelum lanjut menurunkan.
“Uhhh..” Meriel sedikit mendesis saat penis besar Joel mencuat dan menampar wajahnya. Wajah Meriel jadi terciprat cairan putih, bikin tampilannya makin cantik di mata Joel.
“Joel gak mau buka kimono tante?”
“Mau…” Yang ditanya makin keliatan banget oon-nya pas dapat tawaran menggiurkan begini.
Tangan besar Joel akhirnya berhasil menarik tali kimono itu, membuat apa yang ada di baliknya terekspos seketika.
“What the fuck…”
Apa yang ada di pikiran liar Joel tentang tubuh indah Meriel kini sudah tersaji di depan mata. Di balik kimono itu, Meriel hanya mengenakan satu set lingerie berupa celana dalam dan bra hitam bermodel lace transparan. Celana dalam itu bahkan tidak bisa menyembunyikan penis Meriel yang ternyata juga sama sesaknya. Joel makin dibuat salah fokus dengan dada sekal Meriel yang sengaja menggunakan push up bra, membuat belahan dadanya semakin tercetak jelas.
Tampilan Meriel saat ini adalah perwujudan dari mimpi basah Joel.
“Tante Riel…”
“Iya sayang?”
Meriel melepaskan kimono yang sedari tadi bertengger di tubuhnya hingga terjatuh ke lantai. Dengan mudahnya, Meriel naik ke pangkuan Joel sebelum melepaskan high heels yang sedari tadi membuat kakinya sakit. Sofa tunggal yang diduduki membuat tubuh mereka semakin terhimpit satu sama lain.
“Capek gak kuliahnya hari ini? Mau nenen?”
Anjing. Meriel emang anjing.
Yang lebih tua jelas tau betul apa yang sedari tadi membuat berondongnya salah fokus. Meriel membusungkan dadanya, meraih kedua tangan besar Joel untuk menangkupnya. Tanpa merasa malu, Meriel meremas dadanya sendiri menggunakan tangan Joel
“Tante sedih banget, dulu mantan tante gak pernah mau nyusu ke tante,”
“Padahal tante perlu nenenin orang, soalnya susu tante keluar mulu setiap hari. Butuh dikeluarin — hung… Joel mau kan nenen ke tante? Bantuin tante sayang..”
Meriel dengan segala imajinasi liarnya. Terlalu handal jika mereka sedang bermain peran. Mungkin memang akting adalah bakat terselubung yang dimiliki Meriel. Jadi, Joel bisa apa selain mengikuti arah permainan yang ditunjukkan Meriel?
“Kenapa mantan tante gak mau nyusu ke tante? Padahal dada tante bagus banget buat nyusuin orang,” Joel meremas kuat dada Meriel hingga pemiliknya mengeluarkan desahan nikmat. Gatel. Dada Meriel sedari tadi gatel di balik bra renda yang digunakan. Butuh dijamah oleh tangan besar Joel.
“Mhhh—nggak tau. Dulu Zeli—ahh.. Maksudnya mantan tante, dia nggak mau. Nggak suka. Padahal susu tante sampai tumpahㅡngerembes karena ngucur terus—”
“Coba tante ketemu Joel lebih dulu. Pasti bakalan Joel bantu. Sekalian Joel bantuin pumping mau nggak tan? Dada tante besar banget kayak udah pernah ngelahirin anak lima,”
Joel meremas kasar dada Meriel. Salah satu bagian dadanya dikeluarkan dari balik bra, diberikan kecupan sebelum melahap dengan rakus sampai membuat mulutnya penuh. Meriel mengelus kepala belakang Joel, menikmati agenda bayi besarnya menyusu kepadanya.
Mulut Joel pandai bermain pada dadanya. Memberikan jilatan, menggigit, hingga menghisap puting kecoklatan itu kuat-kuat dengan harapan ada cairan susu yang keluar dari sana.
Meriel mengambil ponsel yang tergeletak di meja sebelah sofa. Membuka aplikasi kamera, kemudian memposisikan ponsel itu dari atas untuk mengabadikan momen dirinya yang sedang menyusui berondong kesayangannya.
“Bayi besarnya tante…” gumam Meriel sambil berpose centil di hadapan kamera. Ada kesenangan tersendiri setiap dirinya mengabadikan diri tengah dicumbu oleh orang lain. Koleksi pribadi yang begitu Meriel nikmati.
Puas dengan dada yang satunya, Joel beralih dengan dada Meriel yang belum terjamah. Mengeluarkan dari balik bra, membuat dada itu semakin membusung berhadapan dengan wajah Joel. Tanpa aba-aba, Joel langsung meraupnya dengan penuh nafsu. Kali ini memberikan gigitan dan hisapan lebih kuat sampai membuat Meriel mengerang
“Ahhh—Joel sayang.. Pelan-pelan aja.. Susunya tante buat kamu semua uhhh. Jangan digigit kasar, nanti copot gimana—”
Kedua tangan Meriel menahan kepala Joel agar semakin melahap dengan rakus. Mengusap rambutnya, dan sesekali memberikan kecupan di pucuk kepala Joel. Well, ada gunanya juga Meriel mempunyai dada besar. Ukuran bra yang dibeli cocok sekali menopang dadanya yang berisi.
“Tante… Kangen…”
Di tengah sibuknya mulut Joel yang menyusu, tangannya kini mulai menggesekan kepala kontol ke belahan pantat Meriel yang masih tertutupi celana dalam renda.
“Kangen apa, ganteng?”
Meriel berusaha menggoda, masih setia mengelus rambut Joel dengan sayang. Joel menghentikan agenda menyusunya, kedua mata mereka kini saling bertatapan. Meriel mengerling nakal sambil jari-jarinya mengusap bibir Joel yang penuh liur akibat terlalu enak menyusu.
“Kangen ngentotin lobang Tante Riel. Masih ketat banget ya, tan? Kayak perawan,” kedua tangan Joel beralih mencengkram pantat semok Meriel. Memberikan remasan yang membuat si tante mengerang manja.
“Udah gak perawan—” gumam Meriel.
“Tante kan sering dipakai sama kamu—Mhh.. Jadi udah nggak perawan lagi,”
Joel tersenyum miring. Yaiyalah udah nggak perawan, agenda seks mereka aja dalam seminggu gak bisa terhitung. Ibaratnya seperti menyatukan dua makhluk birahi yang ngeseks gak tau tempat. Mau di kantor Meriel, atau di kampus Joel, semua tempat hampir pernah dirasakan.
“Tapi tante emang sukanya diperawanin sama berondong ya? Kontol berondong lebih enak ya, tan?”
Emang Joel gak kalah anjing. Tau banget gimana caranya bikin Meriel yang udah tinggi makin kelabakan lewat serangan kalimat joroknya.
“Joel—”
“Emangnya Tante Riel gak malu? Tante kan punya perusahaan yang perlu dijaga. Gimana ya kalau karyawan tante tau bosnya ini hobinya dientotin sama berondong? Masih mahasiswa pula,”
“Joel—Udah sayang—”
“Atau emang udah jadi hobi tante pelihara mahasiswa berondong kayak gini?”
Pusing. Kepala Meriel rasanya melayang denger kata-kata Joel yang terlalu jorok namun juga mengandung fakta. Meriel tangkup wajah tampan Joel, kemudian meraup bibirnya kasar untuk membungkamnya. Ciuman mereka terlalu berantakan dan penuh dengan gairah. Joel rasanya kayak mahasiswa amatir yang baru pertama kali ciuman sama tante-tante.
Meriel mendominasi ciuman dengan melesakkan lidahnya ke dalam mulut Joel. Mengajak lidah sang berondong untuk saling membelit, hingga saliva mereka bercampur dan menetes menuruni leher si cantik. Skill ciuman Joel seolah menguap begitu saja berkat ciuman memabukkan Meriel.
“Kalau tante bilang udah, artinya berhenti sayang. Masa gitu aja nggak paham? Emang udah kelewatan tolol ya?”
Meriel melepaskan ciumannya. Ibu jari lentiknya menahan mulut Joel untuk terbuka sebagai bentuk hukuman. Tak peduli dengan liur Joel yang terus menetes, justru itu yang membuatnya terlihat semakin seksi dan bodoh.
“Maafh.. Tante…” jawab Joel, kembali in-character menjadi submisif penurut.
“Pinter langsung minta maaf. Coba sekarang julurin lidahnya?”
Joel menjulurkan lidahnya bak anak anjing pintar yang tersihir dengan kalimat sang majikan. Meriel tersenyum bangga karena berhasil mengembalikan sisi berondongnya yang penurut.
“Pinter banget. Gitu dong jadi anak penurut. Kalau gini kan tante makin sayang. Nanti tante tambahin uang jajannya ya?” puji Meriel sebelum mendekatkan wajah untuk menyesap lidah Joel yang terjulur. Menelan saliva yang saling bercampur dan menetes secara bersamaan.
Kedua tangan Meriel menari di atas kancing kemeja Joel, membukanya satu persatu, kemudian mengusap perut kotak-kotak yang terbentuk dari hasil gym.
“Bagus banget badan kamu, Joel,” puji Meriel sambil melepaskan kaitan bra yang dikenakan. Sengaja membuat bagian atas tubuhnya terekspos, kemudian menyatukannya dengan tubuh atas Joel. Kedua tangan Meriel mengalung dengan indah di leher yang lebih muda. Merasakan kedua putingnya yang menegang bersentuhan langsung dengan kulit hangat tubuh Joel.
Obsidian cantiknya menatap Joel penuh dengan damba. Wajah lelaki muda di hadapannya mengingatkan pada sosok di masa lalu. Setiap malam panas yang keduanya lewati, Meriel beberapa kali kedapatan salah menyebutkan nama. Mungkin hubungan yang keduanya jalin terlalu berisiko, apalagi buat Meriel yang masih sulit melupakan.
“Sayangnya tante.. Joel, kamu ganteng banget. Tante bisa gila kalau macarin berondong kayak kamu,” Meriel berucap dengan penuh puja. Celana dalam rendanya sudah terlepas, membuatnya lebih mudah untuk menggesekan kontol menegang Joel di belahan pantatnya.
“Tante Riel… Nghh..” Joel mendesah merasakan belahan pantat itu menggoda batang kejantanannya yang sudah mengacung tegang. Ia menyenderkan kepalanya, menikmati bagaimana lihainya Meriel naik turun di atas pangkuannya.
“Mhh? Iya sayang? Enak ya diginiin tante?” tanya Meriel sambil mengusap wajah tampan Joel yang mulai berkeringat. Satu tangannya lagi sibuk menggenggam kejantanan Joel untuk terus digesekkan di antara belahan pantat semoknya.
“Enak banget tante—Mhhh… Tante… Gesek terus aja.. Jangan berhenti… ” kedua tangan Joel mencengkram pinggang langsing Meriel untuk menjaganya agar tidak terjatuh.
“Cuma mau digesek aja? Gak mau dijepit di dalam?”
“Mau… Tante Riel… Mau please…”
Meriel tersenyum puas mendengar nada desperate Joel. Masih tidak menyangka betapa pintarnya Joel mendalami peran sebagai berondong penurut yang cuma haus untuk dipuaskan. Kepala Joel terpental ke belakang saat merasakan batang kontolnya perlahan masuk ke dalam lubang anal Meriel yang merenggang
“Ahhh—Kontol kamu gede banget Joel. Udah lama tante gak ngerasain kontol kamu,”
Bohong. Jelas-jelas mereka baru ngewe kemarin malam.
Dahi Meriel berkerut merasakan lubangnya yang melebar untuk bisa melahap kejantanan Joel secara keseluruhan. Kedua tangan Meriel kini bertumpu pada dua bahu tegap yang lebih muda, menurunkan pinggulnya hingga seluruh batang penis Joel bersarang sempurna di dalamnya.
“Ahhh… Penuh… Enak banget Joel… Kontol kesukaan tante,”
“Tante Riel.. Sebentar—Ahhh…”
Biasanya Joel jadi pihak yang tidak sabaran untuk segera menggenjot, tanpa menghiraukan pekikan Meriel karena belum siap untuk disetubuhi. Namun, kini Meriel justru yang tidak sabar untuk mencari nikmat pada lubang analnya yang sedari tadi sudah gatal untuk dihantam.
Meriel langsung menaik turunkan pantatnya dengan semangat. Desahan mereka saling bersahutan di ruang tamu. Joel bisa melihat secara dekat bagaimana kebanggaannya yang tebal keluar masuk dari anal si cantik. Ini juga jadi kali pertama Meriel mengambil alih permainan mereka.
Meriel sendiri yang mengatur tempo gerakan, sedangkan Joel jadi pihak menerima yang keenakan sampai membuat isi kepalanya kopong.
“Tante… Tante Riel… Ahhh…” Joel beneran kayak orang tolol memanggil nama Meriel yang sedang naik turun di atas kontolnya.
“Good boy. Pinter banget kontol kamu muasin tante. Sering-sering ya, ganteng? Kamu gak perlu kerja paruh waktu jadi model. Kamu kerja buat tante aja. Tante bakal bayar kamu jauh lebih banyak, asalkan kamu bisa muasin tante kayak gini,”
Meriel beneran menikmati perannya jadi tante girang yang nyimpen berondong diem-diem buat kesenangan semata. Joel menjatuhkan kepalanya pada sandaran sofa, pasrah dengan kontolnya yang terus dijepit kuat di dalam anal Meriel.
“Nghh… Tante… Mau keluar lagi…”
“Keluarin aja, sayang. Semburin pejunya yang banyak di dalam tante. Tante kangen dipenuhin peju sama kamu,”
Baru kali ini roleplay yang mereka lakukan bikin kepala Joel melayang bukan main. Ibaratnya mereka kayak lagi main film bokep, tapi Joel beneran dibikin sange sama peran Meriel yang jadi tante-tante begini.
“Ahhhh!—FUCK!”
Peju Joel menyembur tanpa bisa ditahan. Semburannya terlalu banyak sampai meluber keluar. Meriel tersenyum penuh arti, lubangnya dibuat penuh sama cairan Joel.
“Pinternya Joel kesayangan tante,”
Meriel melabuhkan kecupan kupu-kupu di wajah tampan Joel yang berkeringat. Joel kira permainannya sudah selesai, namun memang salah besar jika menganggap Meriel hanya cukup sekali.
“AHHH… Tante… Sebentar… Gak kuat tante… Ahhh…”
Meriel tertawa melihat Joel yang kelabakan saat tubuhnya kembali bergerak naik turun. Genjotannya kali ini terasa lebih mudah akibat licinnya peju yang telah disemburkan di dalam tubuhnya. Meriel menggoda kontol Joel terus-terusan dengan cara menjepitnya semakin kuat.
Wajah Joel dijilat sensual. Berondongnya ini sungguh telah menjadi santapan malam Meriel.
“Tante… Tolong… Udah… Ahhh… Ahhh.. Nanti keluar lagi gimana—”
Joel beneran kayak mahasiswa polos yang lagi diajarin hal gak senonoh sama sugar mommy-nya. Ngelakuin hal kayak gini demi dapat uang jajan tambahan.
“Sebentar, ganteng. Tante juga mau keluar… Mhh… Setelah ini kita keluar bareng-bareng ya?”
Meriel menjerit setiap kali ujung kejantanan Joel ngehantam titik nikmatnya. Satu tangannya juga kali ini gak tinggal diam. Dikocok kejantanannya seirama dengan gerakan naik turun yang temponya mulai berantakan.
“Tante.. Keluar lagi…”
“Barengan sayang,”
Cuma butuh beberapa kali hentakan untuk membuat keduanya keluar di waktu bersamaan. Joel kembali memenuhi lubang Meriel hingga cairan di analnya semakin meluber dengan peju. Sedangkan, peju Meriel berhasil membasahi perut otot kotak-kotak Joel yang juga sudah basah dengan keringat.
Meriel tersenyum bangga. Rasanya seperti baru saja menang lotre, terlalu senang karena misinya berhasil membangunkan sisi lain Joel yang penurut dan mudah dibuat lemas.
“Puas?”
Nada Joel langsung berubah waktu balik ke mode asli. Seolah karakter berondong penurut yang sedari tadi ia mainkan menguap begitu saja.
“Puas banget,”
Meriel terkikik senang, tubuhnya menubruk Joel dengan pelukan dan ciuman kupu-kupu di wajah. Membuat keduanya bersandar nyaman di sofa tunggal yang sejatinya tidak cukup untuk ditempati dua orang.
“Sering-sering ya, please? Aku jadi tante, kamu jadi berondong,”
“Nggak ada.”
“Atau yaudah tukeran?”
“Gimana?”
“Kamu jadi om cabul, aku jadi mahasiswi polos peliharaan om-om,”
“Meriel anjing.”
