Actions

Work Header

ngajarin lonte bloon

Summary:

“Sini, gue ajarin biar pelanggan lo selanjutnya ketagihan” Ujar Ricky. Namun sebenarnya, kalimat itu buat dia merasa sedikit nggak rela. Entah kenapa ia tak ingin Gyuvin punya pelanggan lain.

Or, Ricky pelanggan pertama Gyuvin yang baru seminggu kerja sama Hao.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Shen Ricky bukan pemuda baik-baik. Jika s-line itu nyata, maka pasti milik Ricky sudah memenuhi kepalanya sampai bingung hendak diletakkan di mana. Jujur, ia sendiri sadar bahwa ia memang brengsek. Ia lakukan semua itu lantaran bosan semata. Ricky masih muda, kaya raya, bertubuh tinggi nan atletis, ia juga tampan— diakui oleh orang-orang disekitarnya sekaligus diakui Ricky sendiri.

Jadi intinya, sulit temukan hal yang bisa tingkatkan dopaminnya. Maka dari itu ia pilih cara ini— sewa orang setiap malam untuk puaskan dirinya. Atau kalau kata Jiwoong, “Celap-celup sana sini!”. Seperti hari ini, ia dan teman kuliahnya, Gunwook, tengah memasuki sebuah rumah bordil yang tersembunyi di lantai tiga dan empat sebuah warung internet. Gunwook yang sarankan tempat ini, Rumah Bordil Zhang namanya. Kata Gunwook, walaupun masih terbilang kecil, tapi disini cantik-cantik pekerjanya. Bahkan Gunwook sudah punya langganan disini.

Saat masuk, sang owner yang sedang sibuk catat pemasukan segera berdiri dan sambut Gunwook yang memang sudah menjadi reguler disana.

“Eh, Nuk, udah bilang sama Taerae belum kalau mau kesini? Bentar, gue suruh dandan dulu anaknya”. Ucap Hao cepat tanpa berhenti mencatat. Lelaki turunan Cina itu ambil telepon kabel didepannya lalu hubungi lantai atas— tempat para pekerja istirahat.

“Mashu, panggilin Taerae dong, suruh siap-siap, bilangin ada Nuki ini— nggak, nggak ada Jiwoong. Nuki doang sama temennya satu— bukan Jiwoong anjing gak percayaan banget lo, mau gue pecat?”

Zhang Hao tutup teleponnya lalu kembali menatap kedua pria didepannya. “Oh ya, mas yang ini baru pertama kesini ya?” Tanyanya, yang dibalas anggukan oleh Ricky.

Hao kemudian merogoh sesuatu di kolong mejanya. Keluarkan sebuah tablet lalu membuka list yang berisikan nama-nama pekerjanya.

“Nih, liat dulu anak-anak gue”. Ucap dengan senyuman, sambil sodorkan tablet itu pada Ricky. Gunwook ikut mengintip dari sampingnya, penasaran akan pilihan temannya.

Mata Ricky naik turun memindai nama-nama dan foto yang terpampang disana. Benar kata Gunwook, orangnya sedikit, tapi cantik-cantik. Ada Seok Matthew, asal Kanada- duh, Ricky nggak bisa ngewe pake bahasa inggris, skip. Ada Kim Taerae, widih, seksi bener— eh, inimah langganan si Gunwook!

Ricky gulir layar tablet itu kebawah hingga sampai pada nama terakhir— nama yang terakhir ditambahkan.

Kim Gyuvin, dua puluh tahun.

Mata Ricky terpaku pada foto yang dipajang disamping namanya. Cantik, imut, adem mukanya. Bidadari kah ini? Matanya besar mirip rusa, senyumnya manis. Buat Ricky deg-degan.. eh, sange maksudnya. Nggak, Ricky nggak percaya sama cinta pandangan pertama.

“Tipe lo banget tuh Ky”. Sahut Gunwook sambil bersiul. “Yang lucu-lucu bloon gitu”. Ujarnya sambil rebut tablet dari tangan Ricky, menunjukkannya ke Hao.

“Nih kak! Temen gue mau sama yang ini”. Ujarnya sambil tunjuk foto Kim Gyuvin. Hao mendekatkan wajahnya, memeriksa.

“Eh? Masih baru loh dia, perawan dari desa. Baru ikut talent scouting gelombang terakhir minggu lalu!” Jelas Hao. Buat Ricky naikkan alisnya— cara rekrutmen mereka ternyata macam idol-idol ibukota, ada talent scoutingnya segala.

“Emang gapapa Ky? Lo demen yang perawan? Nanti gabisa ngapa-ngapain lagi”. Ujar Gunwook. Ricky sendiri sudah kekeh dengan pilihannya. Ia mau Kim Gyuvin, mau dia perawan kek, pengalaman 20 tahun kek, intinya Ricky mau entotin Gyuvin malam ini.

Jadi Ricky segera anggukkan kepalanya tanpa pikir panjang. “Yakin gue”. Ucapnya.

Hao mengangguk. “Yaudah. Tapi jangan dijahatin loh ya! Masnya nggak ada fetish cambuk-cambukan kan? Anak gue jangan dibikin luka!”

“Siap, kak. Aman” Ujar Ricky. Sebenarnya ia doyan juga sih, main sadis. Tapi untuk si cantik Gyuvin malam ini Ricky akan main dengan lembut. Lagipula, Hao kelihatan benar-benar sayang dengan pekerjanya yang satu ini.

Maka setelah selesaikan registrasi, Ricky diberitahu bahwa Gyuvin sudah menunggu didalam kamar. Disini baru tersedia lima kamar— kata Hao kalau lagi rame nanti penyewa bakal disuruh cari hotel sendiri. Untungnya Ricky tak perlu lakukan itu karena sekarang cuma ada dia dan Gunwook.

Ricky tarik napas dalam-dalam. Mendadak membuka pintu saja terasa sulit baginya. Biasanya tak ada rasa aneh seperti ini saat ia sedang menyewa seseorang. Tangannya mendadak berkeringat. Gugup, Ricky yang percaya dirinya menjurus kearah narsistik itu kini gugup.

Damn, bakal secantik apa ya Gyuvin di dunia nyata? Apa Ricky akan digoda tepat setelah ia buka pintu? Atau ia akan disambut dengan pemandangan Gyuvin yang sedang malu-malu?

Ricky buka pintu kayu itu perlahan, jantungnya berdegup kencang.

“Ekhm, permisi”

Ricky baru tau. Kadang bidadari muncul dalam posisi paling canggung.

Lelaki yang seharusnya bernama Gyuvin itu sekarang duduk dikasur dengan posisi yang lucu— duduk menyamping ala mermaid di film-film dengan pantat sedikit dinaikkan. SOP, sepertinya. Kelihatan jelas kalau Gyuvin ini kurang berpengalaman dari posenya yang kaku. Tubuh kurusnya dibalut lingerie putih yang udah nggak berfungsi sebagai pakaian— alias, seksi banget.

Dandanannya nggak muluk-muluk amat. Tapi tetap cantik. Sulit Ricky lihat sebenernya, karena wajah Gyuvin sedikit ia tundukkan. Sementara kedua lengan kurusnya berusaha tutupi area dadanya. Pipinya merah dan Ricky yakin itu bukan karena riasan.

Ricky menahan tawa— God, kok bisa ada orang seimut ini? Ricky baru mau bilang kalau Gyuvin tak perlu berusaha terlalu keras untuk berpose sensual. Tapi Gyuvinnya keburu buka suara duluan.

“.. Hai.. selamat datang..? Eh- maksudnya selamat- selamat menikmati..?” Gyuvin bersumpah ia sudah siapkan kata-katanya. Namun sayangnya ia lupa.

Ricky tak sanggup lagi untuk menahan tawa. Ia terkekeh gemas lalu hampiri Gyuvin dikasur. Tubuh kurus itu reflek berjengit seakan-akan Ricky baru saja menyetrumnya.

Biasanya orang-orang yang ia sewa akan langsung lemparkan tubuh mereka ke pelukan Ricky, menggodanya habis-habisan. Tapi Gyuvin malah menghindar, seakan takut (dilihat dari wajahnya sih kayaknya dia memang takut).

Ditengah kegugupannya, Gyuvin tetap berusaha lakukan pekerjaannya dengan benar. Perlahan ia singkirkan tangannya dari dadanya. Malu-malu ia tatap Ricky. Sambil tangannya mengelus tetek, hingga turun ke pahanya sendiri.

“Hai.. Nama kakak Ricky ya? Hari ini mau ngapain sama Gyuvin? Gyuvin janji bikin Ricky enak malam ini..” Suaranya pelan, namun Ricky merasa itu ribuan kali lebih menggoda dari rayuan manapun yang pernah ia dengar. Ia dekati Gyuvin. Rengkuh pinggang kecilnya dengan satu lengan, lalu bawa Gyuvin ke pangkuannya.

“Mau ngewein lo”. Bisik Ricky dengan jahil buat Gyuvin berjengit lagi. “O-oh.. iya..”

Muka Gyuvin yang memerah buat Ricky ingin cepat cepat kotori seluruh tubuhnya dengan peju. Namun, sesuai janjinya pada Hao, ia akan perlakukan Gyuvin dengan lembut malam ini.

“Katanya lo masih perawan, bener?” Tanya Ricky. Masih merengkuh pinggang Gyuvin, mencoba membuatnya nyaman di pangkuannya. Yang lebih muda mengangguk. “I-iya..”

“Sini, gue ajarin biar pelanggan lo selanjutnya ketagihan”. Ujar Ricky. Namun sebenarnya kalimat itu membuatnya merasa aneh. Entah kenapa ia tak ingin Gyuvin punya pelanggan lain.

Ricky gelengkan kepalanya. Menepis pikiran anehnya dan fokus pada nafsunya, juga pada tubuh molek yang disajikan di pangkuannya.

“Cantik banget, Gyuvin” Ucapnya,

“Makasih Ricky.. Kamu juga ganteng”. Jawab Gyuvin. Buat Ricky tertawa.

Perlahan Ricky bawa tangannya ke lingerie yang dikenakan Gyuvin. Ia usap-usap pentil yang lebih muda. “Gyuvin pernah pegang-pegang ini?” Tanyanya. Dibalas gelengan oleh Gyuvin. Mukanya benar-benar polos, bloon malahan.

“Enggak, Ricky. Kenapa Ricky pegang-pegang tete aku?” Tanyanya. Ragu-ragu singkirkan tangan Ricky dari dadanya. Ricky berdecak, apakah tim talent scoutingnya Hao cuma lihat Gyuvin dari parasnya saja? Si manis ini benar-benar tak paham apapun soal aktivitas seksual.

Tapi nggak apa-apa, Ricky akan ajari dia sampai Gyuvin ketagihan akan kenikmatan yang ia berikan. Sekarang mereka mulai dari langkah kecil dahulu.

Ricky tekan-tekan pentil yang belum mengeras itu. Tekstur fabrik yang kasar menambah stimulasi yang didapatkan Gyuvin. Tak butuh lama hingga pentil Gyuvin menegang, tercetak dibalik kain lingerie-nya.

Tangan satunya aktif remas-remah dada Gyuvin. Dadanya nggak terlalu besar, namun pas di genggaman Ricky. Ia uleni bongkahan kenyal itu, sambil memerhatikan ekspresi Gyuvin.

‘Ngapain sih ini?’ Itu yang awalnya dipikirkan oleh Gyuvin. Namun ketika pentilnya ditarik oleh Ricky. Tiba-tiba timbul gelenyar aneh yang asing di perutnya. Apalagi saat tangan Ricky yang satunya mulai meremas dadanya. Agak sakit, tapi… enak.

“Haa..h..” Napas Gyuvin memberat. Ia tatap Ricky dengan bingung. Matanya menyayu dan dadanya mulai membusung. Tangan Ricky besar dan berurat. Bisa menangkup dada Gyuvin dan meremas-remasnya dengan mudah. Seluruh badan Gyuvin rasanya aneh. Panas, geli, enak. Gyuvin suka tangan Ricky pegang-pegang dadanya.

Ricky sendiri kesenangan karena si cantik didepannya mulai luluh. Tubuh Gyuvin yang tadinya tegang mampus kini mulai rileks di pangkuan Ricky. Bahkan sekarang Gyuvin mulai membusungkan dadanya, seakan cari perhatian lebih.

“Hnng.. enak.. lagi Ricky..” Gyuvin mulai merengek. Ketagihan. Matanya menutup karena keenakan. Bibirnya terbuka mengeluarkan desahan-desahan. Bawel, Gyuvin bawel banget. Dan Ricky suka itu, ia suka dengarkan Gyuvin merengek dan mendesah.

Tangan Ricky berkelana ke punggung mulus Gyuvin. Raih pengait atasan lingerie yang berada disana. Gyuvin buka matanya karena merasa stimulasinya hilang. “Ricky kenapa udahan..?” Rengeknya. Ricky terkekeh lagi. “Buka dulu bajunya cantik, baru lanjut”.

Gyuvin alihkan pandangannya setelah dipanggil cantik. Ia gigit bibirnya dan biarkan Ricky melepaskan atasannya. Tingkah lakunya buat Ricky menyeringai. Gyuvin ini lagi salting ya?

Ricky lempar asal atasan lingerie tadi, dan kini tubuh bagian atas Gyuvin tak lagi kenakan apapun. Buat sang empu reflek tutupi dadanya lagi— kayak barusan nggak dimainin sama Ricky aja.

Ricky singkirkan tangan Gyuvin dengan lembut. Pergelangan tangannya yang kurus Ricky genggam dan satukan diatas kepala Gyuvin. Buat seluruh tubuhnya terekspos. Ricky mendekatkan wajahnya ke rubuh Gyuvin. Wangi. Ia suka wanginya.

“Ah!”

Gyuvin keluarkan suara aneh saat lidah Ricky sapa kulit lehernya. Kenapa Ricky jilat-jilat dia? Gyuvin kan bukan eskrim! Tapi entah kenapa, Gyuvin suka dijilati sama Ricky. Ricky kayak kucing besar yang lagi jilat-jilat makanannya. Kucing ganteng, pikir Gyuvin.

Jilatan Ricky turun ke tulang selangka Gyuvin. Ia hisap kulit mulusnya, sambil tatap mata sayu Gyuvin. Yang lebih muda memilih alihkan pandangan— salting lagi.

Lidah Ricky menyapu ketiak Gyuvin, baru kembali ke dada yang sudah ia mainkan tadi. “Gue enakin lagi ya teteknya. Tadi lo suka kan?” Gyuvin mengangguk semangat. Kini ia sudah tau enaknya pentilnya dimainkan. Jadi ia busungkan dadanya ke arah Ricky. “Suka!”

Ricky tersenyum tipis. Kini bukan jarinya yang mainkan pentil Gyuvin, melainkan mulut dan lidahnya. Ricky kenyot pentil yang lebih muda perlahan. Ia sedot sedot kayak bayi menyusui.

Gyuvin sendiri heran kenapa Ricky tiba-tiba begitu. Ternyata sudah dewasa pun masih boleh nenen ya? Begitu pikirnya. Tapi Gyuvin sendiri nggak diberikan waktu sama Ricky buat berpikir. Kenyotan di dadanya buat Gyuvin mendesah-desah heboh. Mukanya udah teler banget, bahkan liurnya menetes dari ujung bibirnya yang terbuka.

Gyuvin ngences cuma gara-gara Ricky kenyotin pentilnya.

Ricky pandangi wajah bloon Gyuvin di sela-sela hisapannya. Duh, anak perawan mah emang beda ya, dikenyotin dikit langsung teler.

Tangan Ricky yang lain nggak tinggal diam. Dada Gyuvin yang satunya diremas, sesekali pentilnya dipilin. Gyuvin sampai nggak bisa mikir saking enaknya. Tubuhnya panas, otaknya kosong. Perut bagian bawahnya terasa geli. Tubuhnya mengirimkan sinyal yang familiar..

Gyuvin mau pipis. Benar, Gyuvin yakin banget. Cepat-cepat ia pukul pelan bahu Ricky, buat sang empu mendongak.

“Ricky udah— bentar, aku mau ke kamar mandi-“ Udah diujung banget ini! Bisa-bisa Gyuvin ngompol didepan customer pertamanya.

Tapi Ricky malah peluk Gyuvin erat-erat. Seakan paham apa yang akan terjadi. Gyuvin makin panik, merengek dan mencoba dorong kepala Ricky dari dadanya. “Ricky! Aku— hnng!” Gyuvin menggerakkan pahanya karena nggak nyaman. Celana dalamnya kerasa lembab.

Ricky tarik pentil Gyuvin dengan kencang. Sementara satu tangannya lagi menyelinap ke bagian bawah tubuh Gyuvin. Ia tekan celana dalamnya, dan—

“Ricky—!”

Gyuvin ngompol.

Cairannya ngalir banyak banget basahi celana Ricky dan tentunya celana dalamnya sendir. Badan kurusnya kelojotan sampai harus dipegangi oleh Ricky agar dia nggak jatuh. Ricky elus elus punggungnya menenangkan, sementara Gyuvin sibuk atur napasnya.

Setelah Gyuvin tenang, Ricky singkirkan rambut yang lepek dan menutupi dahi Gyuvin. Tersenyum bangga karena baru buat partnernya sampai pada orgasme pertamanya.

“Enak sayang?” Tanyanya. Sementara Gyuvin masih sedikit tremor akibat pelepasannya. Matanya berkaca-kaca. Di mata Gyuvin, pertanyaan itu merupakan bentuk amarah karena Gyuvin baru saja ngompol di pangkuan Ricky. Ia kira Ricky tengah marahi dia.

“Maaf-hh.. maaf Ricky..” Cicitnya, air matanya jatuh dan turun ke pipi gembilnya. “Gyuvin minta maaf karena nggak sengaja pipisin Ricky… Ricky jangan marah..”

Ricky justru ketawa. Elus-elus punggung Gyuvin dengan lembut. “Lo nggak ngompol itu, bloon”. Terangnya. “Orgasme namanya. Tandanya lo suka gue pegang-pegang”.

“Gyuvin nggak bloon..” Ucapnya masih dengan mata berkaca-kaca. Buat Ricky si paling ber MBTI T bahkan sampai tersentuh hatinya. “Iya, iya. Nggak bloon”. Ujar Ricky sambil mengusap rambut yang lebih muda.

“Berarti nggak apa-apa? Ricky nggak marah?” Tanyanya sekali lagi. Ricky menggeleng. “Nggak, itu kan tandanya lo suka gue pegang”.

Gyuvin ber ‘oh’ ria. Mulutnya membentuk huruf o, bikin Ricky gemas. “Mhm, aku suka Ricky kenyotin pentilnya kayak tadi..” Ucapnya senang.

“Sini, gue ajarin lagi yang lebih enak”. Ujar Ricky lalu tuntun tubuh kurus Gyuvin untuk tiduran dikasur. Ricky mengungkungnya dari atas. Kedua lengan berototnya diletakkan disamping kepala Gyuvin.

Setelah itu, Ricky turunkan wajahnya hingga Gyuvin bisa rasakan napas Ricky di kulitnya. Yang lebih muda tatap Ricky malu-malu. “….Mau ciuman ya..?” Tanyanya.

Ricky tak kuasa menahan senyum. “Hooh, lo ngerti kalo ciuman?” Tanyanya. Sambil kecup kecup singkat bibir Gyuvin. Menggodanya.

“Nggak…” Jawab Gyuvin malu-malu. Takut akan diejek bloon lagi. Tapi Gyuvin sungguh nggak tau caranya. Ia sering lihat adegan ciuman di sinetron, juga pernah diajari oleh Hao— sebagai skill basic. Tapi Gyuvin sudah lupa.

“Tapi mau diajarin Ricky..”

Shen Ricky was known to have a big ego. And when someone asked him to teach them with those big, sparkling eyes, his ego was well-fed.

“Mmph!“

Ricky lumat bibir si cantik dengan rakus. Lupa sudah dirinya dengan janjinya pada Hao tadi. Kini ia sibuk memakan bibir Gyuvin. Tangannya cekal dagu Gyuvin, memaksanya untuk membuka mulut. Lidah Ricky masuk dan absen isi mulut lawan ciumannya.

Tak sampai semenit, Ricky bisa rasakan tubuh Gyuvin menegang, tanda bahwa ia kehabisan napas. Ricky mau banget cium dia sampai pingsan, tapi ia simpan itu untuk nanti. Masih banyak hal yang harus mereka coba malam ini. Jadi Ricky lepaskan ciuman mereka sambil usap ujung bibir Gyuvin.

“Gimana ciuman, enak?”

“Hnng..” Gyuvin tatap Ricky dengan matanya yang sayu, lalu kedua lengannya dibawa ke belakang leher Ricky, mencoba menariknya turun lagi. “Enak.. lagi..” Gyuvin manyunkan bibirnya mengejar milik Ricky. Semua yang diajari Ricky enak. Gyuvin jadi ketagihan.

“Sst. Sabar cantik, masih banyak yang lebih enak”. Ricky kecup bibir Gyuvin cepat. Sebenernya ia takut Gyuvin pingsan kalau ia lanjutkan lagi ciuman mereka. Nanti kalau pingsan nggak bisa Ricky entotin dong?

Halah, denial. Sebenarnya Ricky nggak mau saja Gyuvin kenapa-napa.

Perlahan Ricky ciumi pipi gembil Gyuvin. Tenangkan empunya yang masih terengah-engah. “Coba yang lain dulu ya? Nanti kalo udah baru ciuman yang banyak”. Ujar Ricky. Yang dibalas anggukan oleh Gyuvin. Gyuvin mau jadi lonte penurutnya Ricky biar Ricky mau ajari dia banyak hal.

Ricky ciumi dada dan perut mulus Gyuvin. Hingga turun ke pahanya. Perlahan kedua paha itu ia buat mengangkang. “Tahan gini, jangan gerak”. Perintahnya.

Ricky kemudian dekatkan wajahnya pada memek Gyuvin yang masih dibalut celana dalam berenda yang jadi satu stel dengan lingerie -nya. Ia endus baunya lalu mulai ciumi permukaannya. Bagian tengahnya udah basah nggak karuan karena orgasme pertama Gyuvin tadi. Sudah lengket dan menempel ke vaginanya.

Bagian yang menyendul Ricky tekan dengan jahil, buat Gyuvin gemetar sebadan-badan. “Yang gue teken barusan itu itil lo, enak nggak?” Tanyanya.

“Rasanya aneh..” Sahut Gyuvin.

Ricky buat gerakan memutar diatas itil Gyuvin, perlahan menggesek dan menekannya. Buat tubuh kurus Gyuvin sedikit mengejang. Celana dalamnya makin basah.

And now, it’s time for the main course.

Ricky sibakkan celana dalam itu kesamping. Pertontonkan memek perawan Gyuvin langsung kedepan matanya. Memeknya tembam, bersih, berwarna kemerahan dan terus-menerus mengeluarkan cairan. Benar-benar kelihatan kalau dijaga dengan baik. Kelihatan rapat, beneran memek perawan ini.

Ricky dekatkan wajahnya ke memek Gyuvin, berikan satu jilatan panjang eksperimental di labianya. Tubuh Gyuvin langsung menegang. Ricky tak biarkan memek Gyuvin tak disentuh terlalu lama. Segera ia kokop memek basah itu, ia sedot sedot buat Gyuvin menggeliat keenakan.

Gyuvin kira enaknya nggak bisa lebih dari ini, tapi waktu Ricky mainan itilnya dengan ibu jari, bola mata Gyuvin langsung bergulir ke belakang— enak banget!

Ricky sudahi oralnya ketika Gyuvin orgasme untuk yang kedua kalinya. Ia kembali keatas untuk ajak Gyuvin ciuman, bikin yang lebih muda ikut rasakan cairannya dari mulut Ricky. Jarinya dibawah tak beri ampun pada Gyuvin yang baru keluar. Perlahan ia masukkan satu jari, buat Gyuvin menggeliat tak nyaman.

“Sempit banget, cantik. Ini kalau nggak disiapin dulu nanti robek pas gue kontolin gimana?” Ucap Ricky sambil maju mundurkan jarinya. Setelah dirasa cukup, Ricky masukkan jari kedua.

“Ah!” Tubuh Gyuvin menegang. Ricky baru saja temukan titik nikmatnya. Langsung saja Ricky tumbuk habis-habisan titik tersebut. Buat Gyuvin mendesah heboh dibawah kungkungannya. Jari ketiga masuk tanpa hambatan. Memang dasarnya Gyuvin ini berbakat jadi lonte.

“Enak, diperawanin jari gue?”

Gyuvin nggak bisa jawab, sibuk desah-desah keenakan. Ternyata dimasuki sesuatu di memeknya enak banget. Cerita Kak Matthew sama Kak Taerae ternyata bukan bualan semata. Gimana nanti kalau kontol Ricky ya? Bayanginnya aja udah buat Gyuvin ngences lagi.

Tiba-tiba, Ricky keluarkan semua jarinya, sisakan memek Gyuvin yang sudah sedikit ngowoh berkat fingeringnya tadi. Gyuvin yang lagi keenakan langsung merengek protes. Rengekannya dihentikan oleh sesuatu yang lebih besar, yang coba tembus memeknya.

“Gue masukin ya, kalau sakit remes aja tangan gue”. Ucap Ricky. Gyuvin hanya bisa mengangguk. “Mhm, mau..” Bisiknya. Namun sejujurnya Gyuvin nggak yakin setelah lihat kontol besar Ricky. Emang bakal muat?

Dan bener aja, sakitnya nggak karu-karuan. Gyuvin remas tangan Ricky kuat-kuat sambil nangis. “Ricky, udahan.. sakit-hh..”

Kak Matthew sama Kak Taerae bohong! Orang ngewe nyatanya sakit gini kok! Gyuvin nggak suka—

“Aaa-h!”

Ricky tersenyum miring saat lihat ekspresi keenakan Gyuvin. Titik nikmatnya ditekan kontol Ricky buat sang pihak submisif kembali mendesah keenakan. Sakitnya perlahan mulai digantikan enak.

“Nahloh, enak kan kontol gue?” Ricky sodok memek Gyuvin kuat-kuat. Ia mentokkan dalam satu hentakan buat tubuh kurus Gyuvin terlonjak. Yang lebih muda cuma bisa meracau nggak jelas. Mukanya bloon banget, Ricky suka.

Ricky genjot memek Gyuvin tepat di titik nikmatnya berkali kali. Sampai Gyuvin sekarang udah teler banget, liurnya muncrat kemana-mana, kedua tangannya lemas, bahkan nggak sanggup buat sekedar remat seprai kasur. Ia cuma bisa pasrah disodokin Ricky pakai kontolnya.

Jari Ricky nggak dibiarkan menganggur. Ia pilin itil Gyuvin, lalu ia mainkan dengan ibu jarinya. Bikin Gyuvin rasakan panas yang aneh di perut bagian bawahnya. Ia mau pipis lagi.

“Iky—hh… pipis.. mau pipis..” Rengeknya. Ricky malah kesenangan, ia tekan perut bawah Gyuvin sambil itilnya dimainkan.

Ngaah.. Iky!!”

Gyuvin muncrat lagi. Basahi kontol Ricky hingga ke perut dan dadanya. Ricky nggak beri ampun, ia tetap genjot memeknya yang masih kontraksi karena orgasme. Gyuvin kelojotan bukan main, pinggulnya sampai harus ditahan oleh Ricky. Pipisnya nggak mau berhenti muncrat karena terus diberikan stimulasi sama Ricky.

“Ricky udah… nggak bisa berhenti pipisnya-aah..” Rintih Gyuvin lemas. Baru setelah Gyuvin menangis sesenggukan, Ricky hentikan sodokannya. Ia keluarkan kontolnya dari memek Gyuvin yang udah ngowoh. Keluarkan cairannya sedikit sedikit seiring getaran tubuhnya.

Gyuvin pejamkan matanya lelah. Seluruh tubuhnya gemetar. Sementara Ricky ciumi pipi dan hidungnya. Menunggu Gyuvin siap ia pakai lagi.

“Udah Ricky.. boleh masukin lagi..” Ucapnya pelan. Kakinya dibuka lagi, mengundang si customer untuk masukkan kejantanannya.

Ricky masukkan kembali kontolnya perlahan. Bahkan setelah orgasme sampai pipis-pipis, memek Gyuvin masih kerasa sempit bukan main. Ricky hentakkan kontolnya, mengganti ritmenya menjadi perlahan namun dalam. Gyuvin jadi bisa rasakan kontol Ricky sampai ke perutnya.

Karena sudah orgasme, Gyuvin kini lebih fokus lihat wajah Ricky. Ricky ganteng banget pas lagi nyodokin dia. Gyuvin suka liat Ricky keenakan. Geraman rendah Ricky bikin Gyuvin terangsang lagi. Gyuvin suka fakta bahwa Ricky keenakan karena dia. Karena memek Gyuvin.

“Bangsat. Nambah ketat ini memek” Geram Ricky. Ia cepatkan sodokannya tatkala merasa pelepasannya sudah dekat. Mata Gyuvin kembali buram oleh airmata saat stimulasi dari Ricky terlalu banyak. Sang dominan kini sibuk kejar putihnya, nggak pedulikan Gyuvin yang sudah setengah sadar.

“Gyuvin- ssh..”

Ricky orgasme. Penuhi memek Gyuvin pakai pejunya. Rasanya enak banget, anget, penuh. Gyuvin ngerasa perutnya penuh. Saking enaknya sampai-sampai ia tanpa sadar orgasme lagi. Otot memeknya kontraksi lagi, muncratkan cairan yang buat kontol Ricky keluar. Pipis Gyuvin mengalir keluar bersamaan dengan peju Ricky.

Yang lebih tua jatuhkan tubuhnya di sebelah Gyuvin. Agak kaget ketika Gyuvin yang sedang lemas itu reflek memeluknya. Menurut Ricky, aneh aja dipeluk habis ngewe. Tapi dia nggak benci juga, jadi dia balas pelukan Gyuvin.

Mereka gunakan beberapa menit selanjutnya untuk mengatur napas. Dan saat napas keduanya sudah normal, Gyuvin baru sadari sesuatu. Ia menggeliat dari pelukan Ricky. Namun yang lebih tua enggan lepaskan dirinya.

“Bentar dulu Iky, aku mau ambil sesuatu!” Ujarnya buat Ricky memutar bola matanya malas. Ia lepaskan pelukannya, biarkan Gyuvin meraih sesuatu dari nakas disamping tempat tidur.

Kondom.

“Ini kata Kak Hao suruh kasih ke Iky, tapi aku lupa suruh ngasihnya kapan”. Ucap Gyuvin.

Ricky tepuk jidatnya. Sekali bloon tetap bloon. Kenapa juga kasih kondom sekarang? Peju Ricky aja masih luber luber dari lubang memek Gyuvin. Ia rebut kondom itu dari tangan Gyuvin.

“Ini kondom, fungsinya buat nampung peju gue biar nggak masuk memek lo. Biar lo nggak hamil”. Terang Ricky. Gyuvin manggut-manggut paham.

“Terus sekarang? Kan udah terlanjur..” Ucap Gyuvin. Matanya menatap horor ke arah memeknya yang nggak sanggup menampung peju Ricky. Tapi dalam hati Gyuvin juga suka sih, disembur peju. Agak nggak rela rasanya kalau harus pakai kondom..

“Ya nanti lo minum pil kontrasepsi, gampang besok gue beliin”. Ucap Ricky. ‘Atau lo hamil anak gue’. Pikirnya setelahnya. Ricky sebenarnya nggak pernah kepikiran mau menikah, apalagi punya anak. Tapi bayangan Gyuvin hamil anaknya, Gyuvin main sama anak kecil yang mirip mereka berdua—

Anjing, mikir apa sih?

Gyuvin cuma bisa ngangguk-ngangguk bloon. “Okay..” Ucapnya, lalu peluk Ricky lagi. Dan Ricky kepikiran, besok customer lainnya apa bakal Gyuvin peluk begini juga? Ricky eratkan pelukannya, entah mengapa merasa tak rela.

“Ricky jangan—

“Iky aja”

“Iky jangan kenceng-kenceng meluknya pinggang aku sakit..”

Besoknya, Ricky dan Gyuvin diomelin Hao karena nggak pakai kondom. Dan Ricky nggak akan lupakan wajah memerah Gyuvin waktu dia bilang siap tanggung jawab kalau Gyuvin sampai hamil.

Sebelum pulang, Ricky tarik Hao untuk bicara sebentar dengannya.

“Kim Gyuvin, jangan lo jualin ke siapapun selain gue. Oke kak?”

Ucapnya sambil sodorkan kartu kedepan muka Hao. Buat si lelaki Cina nyengir senang.

“Deal!”

Notes:

hii! makasih sudah baca ya, jangan lupa tinggalkan jejak! semoga ngefeel juga ya, ini kayaknya agak kepanjangan.. :’

@lemariasa untuk ngobrol di x !

ada juga fewtweets keesokan harinya.(sudah di reupload)

Series this work belongs to: