Work Text:
“Mwah.” Suara kecupan yang Dohoon berikan di pipi kanan Shinyu menggema di seluruh ruangan. Lelaki yang mendapatkan perlakuan langsung melihat sekelilingnya. Takut ada yang lihat, takut menjadi gangguan untuk orang yang hanya ingin mendapatkan ketenangan di sana.
Hal itu kontras dengan gelagat sang pelaku. Dohoon bersikap santai sambil memposisikan dirinya di samping Shinyu. Dia melepas topi yang dipakainya. Hari ini sinar matahari berpancar sangat terik. Dohoon tidak ingin rambutnya menjadi korban terbakar sang Surya.
Setelah merasa tidak ada yang terganggu dengan yang Dohoon lakukan tadi, Shinyu membenarkan posisi kacamatanya sambil melihat pria yang lebih muda dalam-dalam.
“Kenapa, Kak? Mau cium lagi? Sini,” ucap Dohoon tak berdosa sambil memajukan bibirnya untuk mencium Shinyu kembali.
Dengan sigap, tangan Shinyu menahan yang lebih muda agar tidak melancarkan aksinya, “Dohoon! Stop! Udah aku bilang jangan cium aku di tempat publik gini! Malu!”
“Kakak malu sama aku? Kakak masih malu karena pacaran sama brondong? Kakak mal–“
Kini giliran Shinyu yang membungkam mulutnya dengan kecupan sekilas. Dohoon ini… selalu ada aja gebrakan dan tingkah anehnya… batin Shinyu. Yang mendapat perlakuan hanya nyengir lebar sambil mengusak rambutnya salting.
“Enggak gitu! Ini kita lagi di cafe loh. Aku gak pernah nolak kalau kamu cium,” pipinya merona saat dia kilas balik seberapa banyak ciuman yang sudah mereka lakukan.
“Tapi aku gak suka kalau di publik gini. Gak enak dilihat orang. Ntar mereka gak nyaman gimana?”
“Iya-iya maaf,” balas Dohoon singkat.
“Kamu udah pesen?”
“Udah. Kakak mau nambah snack gak? Biar nanti aku pesenin pas aku ambil punyaku.”
“Gak usaah. Nanti aku minta punya kamu aja ya?”
Dohoon mengangguk. Shinyu kembali fokus pada laptopnya.
“Kak lagi ngerjain apa?”
“Masih revisi bab 4 sih. Kemarin pas aku bilang aku bimbingan, dosbingku pengen nambahin bahasan. Aku pusing deh,” Shinyu memijat pelan pelipisnya.
“Kak.”
“Hm?”
Yang selanjutnya Dohoon lakukan membuat Shinyu lupa dengan pusing kepalanya. Di depannya, Dohoon sedang mengedipkan sebelah matanya untuk melakukan wink ratusan kali dan memberinya flying kiss ribuan kali. Selalu ada saja tingkah Dohoon, batinnya untuk yang kesekian kali.
Seakan belum cukup mengganggunya dengan serangan tadi, Dohoon menatap Shinyu dalam sambil menopang dagunya, “Eh sumpah kalau aku lihat Kakak lagi revisian gini aku gak yakin bisa ngerjain punyaku sendiri nanti. Bantuin aku ya?”
Shinyu tersenyum mendengar celotehan pacarnya. Padahal yang rajin ikut lomba sana sini dia, tapi untuk menyelesaikan tugas akhir seperti harus membangun 1000 candi saat itu juga.
Dohoon berhenti mengutarakan keresahannya saat bel tanda pesanan yang dia pesan sudah berbunyi.
“Eh bentar, Kak. Mwah.” Dohoon bergegas mengambil pesanannya. Tak lupa memberi flying kiss sebelum beranjak dari kursinya. Shinyu menggelengkan kepala. Dasar brondong pecicilan, pikirnya.
Dia kembali melanjutkan revisian yang dosennya berikan. Sejujurnya Shinyu sudah pusing membaca skripsinya yang semakin sini semakin membuat dia sadar isinya seperti omong kosong belaka. Tapi demi mendapatkan gelarnya, dia tetap berusaha menyelesaikan semuanya.
Apalagi kini ditemani pacarnya yang – “WOAH DOHOON? Sini aku bantu,” Shinyu refleks berdiri untuk membantu Dohoon dengan nampan berisi 1 es teh plus espresso (minuman kesukaan Dohoon yang Shinyu hapal di luar kepala), dengan beberapa piring makanan lainnya.
“No, Kakak Cantik. Duduk aja. Aku bisa kok.”
Shinyu tidak pecaya. Dia hendak memaksa untuk mengambil nampan itu namun usahanya tetap tidak berhasil.
“No, Kakak Cantik. Duduk dan lanjutin aja ngerjain skripsinya. Aku bisa kok.”
Kalau Shinyu sering dibilang keras kepala oleh kakak-kakaknya, belum saja mereka bertemu Dohoon yang beribu kali lipat lebih batu dibanding dirinya. Ah… memikirkan keluarganya bertemu sang kekasih membuat semburat merah muda muncul di pipi porselennya.
“Kamu pesen buat siapa deh? Ini dibagi sama seisi kafe juga gak akan habis kayaknya.”
“Buat Kakak lah. Eh buat kita maksudnya haha.” Dohoon menarik ucapan jahilnya saat si Kakak Cantik memelototinya dari balik kacamatanya.
“Tadi pas Kakak pap yang kelihatan cuma strawberry latte-nya aja. Gak ada snack or makanan lainnya. Pasti gak pesen kan? Ya udah aku pesen banyak-banyak aja tadi,” jelas Dohoon panjang lebar.
Yang dikatakan Dohoon tidak ada salahnya sama sekali. Shinyu memang sengaja hanya memesan minuman untuk menjaga fokusnya. Karena jika dia pesan makanan juga, Shinyu tidak yakin revisinya hari ini akan lebih dari dua paragraf.
“Aaaaa?” Dohoon sudah siap menyuapinya dengan sepotong tahu cabe garam. Shinyu melihat ke arah laptopnya dan tahu secara bergantian. Masih memikirkan kemungkinan skripsi yang dia kerjakan hanya akan bertambah dua paragraf, Shinyu menutup rapat mulutnya seraya menggeleng pelan.
“Aaaa~” kini Dohoon menggerakan tahunya seperti pesawat terbang yang siap memasuki mulut Shinyu. Persis yang Mamanya lakukan ketika Shinyu kecil enggan membuka mulut.
Oke. Shinyu menyerah. Dengan memperbolehkan Dohoon untuk menemaninya itu berarti memperbolehkan dia untuk mengganggunya juga.
Beberapa suapan setelahnya, mereka sudah menghabiskan dua piring berisi tahu cabe garam dan nasi goreng yang Dohoon pesan. Masih ada beberapa piring berisi potongan kue yang menanti untuk Shinyu dan Dohoon makan.
“Aku beli air mineral dulu sebentar,” Dohoon beranjak dari tempat duduknya saat Shinyu terlihat enggan meminum strawberry latte-nya setelah makan tadi.
Tanpa dia sadari, laptop malangnya sudah masuk ke dalam sleep mode dan Shinyu hanya tersenyum kecil melihat pantulan dirinya yang sedang mengunyah suapan terakhir nasi goreng yang Dohoon berikan. Tidak pernah ada kata membosankan jika ada Dohoon di hidupnya. Shinyu selalu mensyukurinya.
Dohoon sudah kembali dengan air mineral di tangan dan langsung membeikannya kepada Shinyu.
“Kak,” Dohoon sudah terkekeh bahkan sebelum melanjutkan ceritanya.
“Hm?”
“Tadi kan Youngjae nanya aku di mana.”
“Iya, terus?”
“Aku jawab asal aja ada di kosan. Terus gak aku bales lagi pas kita makan tadi.”
Shinyu mengangguk pelan menandakan dia mengikuti cerita yang Dohoon sampaikan.
“Barusan aku cek hp dia di depan kosan haha terus ngirim foto haha sama vn marah-marah HAHAHAHA,” Dohoon. mendekatkan ponsel miliknya agar Shinyu dapat melihat konteks yang sedang dia tertawakan.
“Eh kamu jangan ketawa terus. Itu Youngjae jadinya gimana? Kasihan dia udah ke kosan kamu loh.”
Dohoon memegangi perutnya seraya berusaha menjawab pertanyaan dari Kakak Cantiknya, “Aduh ya ampun… anu, tadi dia sempet marahin aku langsung di telepon dan bilang dia mau ke kosan Harua aja HAHAHA,” ucapnya dengan susah payah. “Lagian tumbenan banget tiba-tiba ke kosan. Biasanya juga tuh anak kan gak bisa kemana-mana gara-gara ketempelan Jihoon.”
“Lagi berantem mungkin?” Celetuk Shinyu asal.
“Iya kali ya?”
Pada kenyataannya, Shinyu tidak asal ucap. Pikirannya melayang ke saat-saat mereka berdua bertengkar. Sama seperti Youngjae, dia juga sering mengunjungi kosan temannya untuk sekedar ditemani agar pikirannya tidak mengacau kemana-mana. Sekalian nyari samsak untuk melampiaskan emosinya kalau Dohoon sudah sangat menyebalkan juga sih.
“Oh iya Dohoon?”
“Iya, Kak?”
“Kamu abis ini kemana?”
Dohoon menunjuk dirinya sendiri untuk mengkonfirmasi.
“Kakak udah selesai?” Dohoon balik bertanya.
“Dikit lagi aja deh. Otakku udah mumet kalau selesain semua revisiannya sekarang.”
“Okay. Abis ini Kakak mau kemana?”
“Gak tau sih. Balik ke kosan mungkin – Eh kamu belum jawab pertanyaanku loh. Kok malah nanya balik!”
“Hehe. Ya aku rencananya mau ngikut Kakak aja sih.”
“Emang kamu gak ada kegiatan lain?”
“No,” Dohoon menggeleng. “Pas Kakak minta temenin aku sengaja kosongin jadwalku seharian buat sama Kakak aja.”
Semburat merah muda menampakkan dirinya di kedua pipi putih Shinyu (lagi). Walaupun pacarnya selalu menggoda dia setiap saat, dia tetap dibuat salah tingkah tiap mendengarnya. Dasar brondong sialan (lovingly).
“Abis ini mau ke kosanku aja gak?”
Wajah Shinyu makin memerah saat dia menawarkan Dohoon untuk mampir ke tempatnya. Shinyu mungkin akan bereaksi biasa saja jika Dohoon tidak bereaksi secara berlebihan juga. Ini bukan pertama kalinya juga Dohoon mendatangi kosnya. Tapi Dohoon di depannya membulatkan mata dan hampir tersedak es teh espressonya itu.
“Hah? Ke kosan Kakak?”
Shinyu mengangguk.
“Ya udah sekarang aja. Ini sisanya aku bungkus ya? Apa mau Kakak abisin dulu? Mau beli makan lagi gak sebelum pulang?”
Kan. Apa yang Shinyu gerutukan tadi itu benar. Dohoon ini selalu berlebihan. Tapi Shinyu sayang.
“Gak usaaah. Sejaman lagi aja kita pulangnya.”
“Oke, Kak.”
Tapi kenyataannya jam kini sudah menunjukkan hampir jam sebelas malam. Shinyu melepas kacamatanya. Dia memijat pangkal hidungnya pelan. Menatap layar dokumen skripsinya itu selama hampir sepuluh jam membuat matanya kering dan lelah.
“Udah yuk Kak kita pulang aja.”
Kalau sedari tadi Dohoon sering menanyakan keadaannya, menyuapinya dengan makanan yang tanpa Shinyu sadari selalu dia terima, meminum strawberry latte yang ternyata telah Dohoon refill beberapa kali, kini yang terdengar dari ucapannya seperti perintah. Perintah untuk segera pulang karena Shinyu enggan mengesampingkan revisi yang sedang dilakukannya sedari tadi. Dohoon sudah mengajaknya puluhan kali tapi Shinyu selalu menjawabnya dengan nanti dan nanti.
Shinyu hendak mengelak lagi tapi Dohoon sudah menutup laptopnya dan memasukannya ke dalam tas yang Shinyu bawa. Kalau sudah begini, Shinyu tidak bisa menggunakan kartu kamu harus nurut sama yang lebih tuanya kepada Dohoon. Dohoon di depannya sudah tidak bisa dibantah lagi.
Jadi yang bisa Shinyu lakukan hanya ikut berdiri saat Dohoon berdiri terlebih dahulu sambil membawa tas berisi laptopnya itu. Dia hendak mengambilnya karena Dohoon harus membonceng keduanya menuju kosannya tapi Dohoon tetap menolak.
“Beneran gak beli makan lagi kita, Kak?”
“Gak usah. Nanti gofood aja kalau tiba-tiba laper.”
“Okay.”
Keduanya keluar dari area kafe yang masih ramai dengan mahasiswa yand sedang mengerjakan revisi seperti Shinyu atau yang hanya berkumpul dengan teman-temannya. Motor yang Dohoon bawa membelah jalanan malam sekitar kampusnya dengan tujuan kos Shinyu. Motor yang mereka tumpangi kini berhenti sejenak karena lampu merah menyala di atas kepala keduanya. Dohoon mengusap lutut Shinyu seraya memanggilnya pelan.
“Kak?”
“Hm?” Yang dipanggil menyahut sekenanya sembari mengarahkan kepalanya untuk melihat Dohoon lebih jelas.
Kedua tangan Shinyu dibawa untuk melingkar di pinggangnya. “Kalau mau tidur, tidur aja ya. Pegangan yang kenceng tapi biar gak keguling haha — aduh kok dipukul kepala akunya?”
“Sembarangan sih ngomongnya,” balas Shinyu sekenanya.
Motor mereka sudah melaju kembali dan Shinyu benar-benar terlelap dengan memeluk Dohoon erat. Walaupun tidurnya tidak nyenyak ditambah helm keduanya berbenturan hampir tanpa henti, Shinyu merasa energinya sudah terisi lagi.
“Eh Nak Shinyu, Nak Dohoon. Baru pulang?”
Mendengar suara Ibu Kos yang memanggil keduanya membuat Shinyu terperanjat seketika. Dia tidak sadar bahwa mereka sudah sampai di parkiran kosan. Shinyu segera melepaskan pelukannya dan melihat jam yang menunjukkan hampir tengah malam. Jarak dari kafe ke kosannya hanya 15 menit paling lama. Kok bisa setelat ini sampainya?
“Hehe iyaa, Bu.”
“Itu Nak Shinyunya tidur ya? Eh apa udah bangun sekarang?”
“Hehe enggak Bu ini tadi kita nyari barang aja takut ada yang ketinggalan tadi,” Dohoon lagi yang menjawab.
“Aduh hati-hati Nak kalau ketinggalan cek-cek lagi aja. Ibu masuk dulu ya.”
“Siaapp, Ibuu!”
Ketika Ibu Kos sudah tidak terlihat, Shinyu buru-buru bertanya kepada yang memboncengnya.
“Kok kamu gak bangunin aku?”
“Udah tahuuuuu. Tapi gak bangun-bangun. Kakak kayaknya capek banget aku jadi gak tega.”
“Kalau gak tega harusnya bangunin biar aku bisa pindah ke kamar.”
Shinyu ingin memarahi Dohoon yang selalu berlaku terlalu lembut padanya. Tapi dia sudah tidak ada tenaga. Keduanya kini berjalan menuju unit kamar Shinyu. Shinyu merogoh kantung celananya tetapi kunci kamarnya tidak ada di sana. Saat dia sedang panik-paniknya, Dohoon dengan santai membuka pintu kamarnya.
“Loh kok kuncinya ada di kamu?”
“Kan tas Kakak di akuuu. Mwaaaah,” Dohoon mencubit hidungnya pelan dan memberikan kecupan setelahnya tepat di mana tahi lalat menghiasi wajah Shinyu.
Ah iya juga, pikir Shinyu. Hari ini terlalu melelahkan sehingga dia tidak bisa berpikir sejernih biasanya. Shinyu langsung menyalakan lampu dan pendingin ruangan saat keduanya masuk kamar. Dohoon mencabut kunci dan meletakannya di gantungan pinggir pintu. Tak lupa dia rapikan dan simpan tas Shinyu ke tempatnya.
Setelah melepas dan menggantung hoodie yang dipakai, Dohoon segera merebahkan dirinya di kasur, “Warghh pegel juga.”
Shinyu hanya tersenyum melihat Dohoon yang terlentang seperti bintang laut di kasurnya. Dia juga ikut melepas jaket yang dipakainya agar bisa segera ikut bergabung dengan Dohoon.
“Geseeerrrr-geseeerrr,” Shinyu berusaha mendorong Dohoon agar memberinya ruang. Yang menjadi korban dorongan Shinyu itu hanya terkekeh dan berguling sesuai perintah agar Shinyu bisa berbaring di sampingnya.
“Eh iya, Dohoon?”
“Hm?”
“Kok kita baru nyampe jam seginian? Kan kafenya deket.”
“Tadi aku bawa motornya pelan. Takut bangunin Kakak.”
Oh. Jadi itu alasan Shinyu tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai. Shinyu termasuk light sleeper. Dia mudah terbangun jika ada gangguan kecil baik itu suara atau gerakan. (Namun untuk urusan bangun pagi, itu kasus yang berbeda. Dia menjadi orang paling sulit dibangunkan).
“Dohoon?”
Dohoon kembali menggumam sebagai jawaban.
“Sini lihat akuuu.”
“Kenapaa, Kaak?”
“Makasih yaa buat hari ini. Jujur aku stress banget sama s word ini. Makasih udah nemenin aku. Makasih udah anter aku pulang. Makasih udah mau aku ajak ke kosan juga. Walaupun stress, tapi aku tetep seneng hari ini karena ditemenin kamu.”
Shinyu mengakhiri ucapan terima kasihnya dengan kecupan lembut di pipi Dohoon. Yang dicium mencoba sekuat tenaga agar tidak terlihat terlalu senang dengan perlakuan si Kakak Cantik.
“Iya Kak sama-sama,” Dohoon membalas ucapan terima kasih Shinyu dengan nada datar.
“Ish.”
“Loh kenapa? Kok manyun-manyun gini,”
“Gak seneng ya aku cium? Padahal daritadi ciumin aku terus. Sekarang aku cium duluan malah kayak gak mau gitu.”
“HAHAHA — ,” Dohoon menutup mulutnya untuk menahan suaranya agar tidak mengganggu tetangga kamar Shinyu.
“Gak mungkin aku gak seneng dicium Kakak. Masih inget kan salah satu life goalsku apa?”
Shinyu hanya mengangguk dengan bibir yang masih maju beberapa senti.
“Apa coba?” Tanya Dohoon memastikan.
“Kamu mau ciumin aku sebanyak mungkin ampe nanti muncul tandanya di kehidupanku selanjutnya.”
Shinyu teringat kembali ke masa awal-awal berpacaran dengan brondongnya. Dohoon benar-benar tidak bisa lepas dari dirinya. Dohoon juga selalu menciuminya tiap saat. Benar-benar tiap saat. Sampai suatu saat Shinyu bertanya mengapa Dohoon senang sekali menciuminya.
Dohoon memegang kedua bahunya ketika menjawab. Wajahnya sangat serius hingga Shinyu merasa dia telah melakukan hal yang salah karena menanyakan hal itu. Tapi dia sangat penasaran.
“Kak. Kayaknya Kakak mungkin bosen ya dengernya tapi tahu kan kalau Kakak itu cantik banget? Tahi lalat yang Kakak punya juga secantik itu. Pasangan Kakak di masa lalu kayaknya terobsesi banget sama Kakak — sama sih aku juga. Sampai-sampai dia bikin konstelasi di wajah indah Kakak,” Dohoon berhenti sejenak untuk menyambungkan konstelasi di wajah Shinyu dengan jempolnya.
“Tapi aku kadang cemburu. Sekarang Kakak kan punyaku. Aku juga bisa kayak dia. Ngasih tanda cintanya di seluruh badan Kakak. Pokoknya life goalsku nambah. Aku mau cium Kakak sebanyak mungkin sampai tandanya muncul di kehidupan Kakak yang selanjutnya. Dan nanti kita harus ketemu lagi biar aku bisa ngebanggain karyaku ke semua orang di dunia.”
Jawaban yang Dohoon berikan membuatnya seperti kepiting rebus favoritnya yang selalu Ayahnya buatkan ketika hari ulang tahunnya. Shinyu rasa otaknya konslet seketika. Dia tidak bisa merangkai kata untuk menanggapi Dohoon. Malam itu mereka habiskan dengan saling bertukar ciuman hangat yang manis. Teramat manis sampai Shinyu mengamini semua ucapan yang Dohoon ucapkan tadi. Dia mau bersama Dohoon selamanya. Sampai kehidupan-kehidupan selanjutnya.
“Nah itu tahu.”
“Ya terus kenapa tadi diem aja pas aku cium!”
Merasa tidak tega menjahili Shinyu lebih lama lagi, Dohoon mengalihkan pembicaraan mereka, “Kakak lagi capek ya?”
Shinyu cubit hidung sang lawan bicara, “Kebiasaan gak pernah langsung jawab! Nanya balik terus!”
“Lagian tumben banget Kakak ngerajuk karena itu doang. Belum ada lima detik dari Kakak cium padahal. Udah bilang aku gak cium balik aja.”
Tangan Dohoon dia selipkan di leher Shinyu agar sang Kakak Cantik menjadikannya bantalan kepala, “Revisiannya capek ya, Kak?”
Shinyu menyamankan posisinya dan menjawab, “Iya. Capek banget aku stress. Tiap ngerjain kayak gitu-gitu aja gak ada progressnya. Padahal aku udah ngerjain minimal 5 jam sehari. Tapi tiap lihat hasilnya kayak kurang terus.”
“Ututu. Hebatnya Kakak Cantikku. Gak apa-apa, Kak. You’re doing amazing loh. Aku tadi ada bilang kayaknya aku gak akan bisa sesabar Kakak ngerjainnya, I meant it. Aku tiap lihat Kakak revisian rasanya bangga banget. Bangga lihat kamu seberusaha itu. Se-gak pernah nyerah itu walaupun hal itu bikin Kakak pusing.”
Dohoon merapikan poni Shinyu yang kini terasa lebih panjang. Sepertinya sudah cukup lama sejak terakhir Shinyu memotong rambutnya.
“Aku tahu Kakak pasti ada timeline yang lagi dikejar. Ada target-target yang perlu Kakak capai. Tapi gak apa-apa kalau mau rehat dulu ya. Sehari dua hari kita main buat refreshing gitu mau? Biar seger lagi. Atau apapun itu yang Kakak mau deh. Kakak boleh banget share sama aku. Aku temenin. Aku barengin. Gak akan aku bikin Kakak jalaninnya sendirian.”
Tak terasa, satu tetes air matanya lolos begitu saja dari mata Shinyu. Mendengar Dohoon memberinya kata-kata penguat disaat semuanya terasa berat membuat bebannya sedikit demi sedikit terangkat.
Dohoon tidak terkejut melihat keadaannya. Mungkin dia sudah mengira akan ada saatnya Shinyu tidak kuat dengan semua ini. Dohoon terus mengusap kepalanya pelan dan menyeka air matanya yang saling berlomba untuk terus keluar.
Setelah beberapa menit, tangisan Shinyu mereda. Dia membuka matanya untuk mendapati Dohoon sedang menatapnya dengan tatapan itu lagi. Tatapan penuh cinta yang Shinyu bisa rasakan sampai ke tulangnya.
“Kak kok bisa secantik ini sih. Selalu cantik tiap saat. Abis nangis pun cantik. Makin cantik malah. Ya ampun Kakak paling cantikku.”
Shinyu terkekeh mendengarnya. Biasanya dia selalu memutar matanya malas ketika Dohoon dengan gombalan mirip abang-abang tongkrongannya itu sudah beraksi. Tapi kali ini dia hanya menerimanya dengan senang hati. Dohoon selalu bisa menghiburnya dengan sejuta cara.
“Cium dong kalau cantik.”
“WADUH. SIAP!” Dohoon memberikan hormat kepada perintah sang Kakak Cantik.
“Tumben banget nih Kakak minta cium duluan gini. AKU SIAP! Semalaman pun aku SIAP. Sampai pagi menjelang pun aku SIAP. Sampai hari berganti pun aku SIAP.”
Shinyu kembali terkekeh. Dia sayang Dohoon. Teramat sayang hingga rasanya dia ingin mempunyai Dohoon untuk dirinya sendiri saja. Terdengar egois memang, tapi dia benar-benar ingin Dohoon untuknya. Hanya untuknya.
Lelaki yang lebih muda menangkup kedua sisi wajah Shinyu. Shinyu tidak tahu saja kalau Dohoon pun merasakan hal yang sama. Dia ingin Shinyu hanya untuk dirinya. Shinyu untuk dirinya jaga, untuk dirinya lindungi dari kerasnya dunia, untuk dia lindungi dari segala yang bisa menyakitinya.
Dohoon mencium pipi yang lebih tua. Menciumnya dengan sangat pelan dan hati-hati karena takut dia terluka. Dohoon ingin mereka berdua begini selamanya. Berada di pelukan masing-masing sambil merasakan rasa cinta yang teramat besar di antara keduanya.
Dohoon menjauhkan wajahnya perlahan. Melihat Shinyu siap menerima ciuman darinya dengan keadaan paling terindahnya; mata terpejam yang menonjolkan bulu mata lentiknya, hidung sempurna dengan hiasan konstelasi yang dia hapal di luar kepala, kedua pipi terisi seperti buah apel kesukaannya, dan bibir ranum merah favoritnya. Sungguh indah. Teramat sempurna. Tidak masuk di akal sehatnya.
Di bawah tatapan Dohoon yang masih (dan akan terus) memuja, Shinyu melakukan kebiasaannya; merapatkan bibirnya beberapa kali agar mereka terhidrasi. Shinyu sering mengeluh bibirnya cepat kering sehingga dia harus menggunakan ulang lipbalmnya setiap saat. Dohoon sering bergurau kalau mau lembab lagi tinggal minta cium dia aja. Yang dia dapatkan biasanya toyoran kepala dari yang lebih tua. Tapi sekarang, Dohoon betulan akan membuat kedua bibir itu lembab hingga mungkin bengkak.
Dohoon membawa dagu Shinyu untuk menyejajarkan pandangan mata keduanya. Dohoon buka belahan ranum yang sebelumnya tertutup rapat dengan jempolnya untuk dia kecup secara cepat. Shinyu membuka mata mendapatkan perlakuan itu dari yang lebih muda. Shinyu membalas kecupan Dohoon secara singkat. Keduanya tersenyum sebelum kembali mempertemukan cinta yang mereka punya dalam ciuman hangat yang menjalar di seluruh inchi tubuh keduanya.
Dohoon selalu menciumnya dengan sedikit kasar. Dengan banyak gigitan dan lilitan lidah. Sesuai dengan yang Shinyu prediksikan melihat kepribadiannya yang sedikit sembrono dan banyak jahilnya. Itu yang Shinyu suka.
Tapi tidak jarang Dohoon menciumnya dengan penuh kelembutan dan kehati-hatian. Biasanya itu dia lakukan pada saat-saat di mana Shinyu merasa letih dan butuh ditenangkan. Itu pun Shinyu suka.
Seringnya, Dohoon selalu bisa menyeimbangi dan memenuhi keinginan keduanya sesuai dengan situasi dan kondisi. Shinyu sering takjub dengan kemampuan Dohoon menyampaikan perasaannya lewat semua yang dia lakukan.
Termasuk sekarang. Shinyu bisa merasakan rasa cinta yang Dohoon punya lewat cumbuan yang diberikan pada bibirnya, sentuhan pada pinggangnya, gigitan pada bibir bawahnya agar Shinyu membuka mulutnya, ajakan berdansa oleh lidahnya, elusan pada punggungnya: semua sarat akan cinta.
Shinyu berusaha sekuat tenaga untuk membalas semua cinta yang Dohoon beri. Dohoon pantas mendapatkan sesuai yang dia beri, bahkan lebih, dan Shinyu selalu diam-diam berdoa agar yang dia lakukan setidaknya cukup untuk membalas yang sudah Dohoon berikan.
Shinyu terlebih dahulu memutus kontak di antara keduanya dan Dohoon terus mengikutinya seolah tidak ingin terpisah walau sedetik saja. Keduanya mengisi paru-paru mereka dengan udara sebanyak-banyaknya. Masih dengan Dohoon yang tetap mengecupnya agar Shinyu tahu bahwa mereka tidak akan berhenti begitu saja untuk malam ini.
Setelah dirasa pasokan udaranya cukup, Dohoon merubah posisi keduanya dengan Shinyu yang kini berada di bawahnya. Si Kakak Cantik mengalungkan kedua tangannya di leher Dohoon yang tertutup rambutnya. Shinyu suka dengan rambut panjang yang Dohoon punya karena mempermudahnya untuk menariknya asal-asalan di tengah pergumulan panas keduanya.
Shinyu melakukannya sekarang ketika Dohoon tanpa aba-aba kembali menciuminya dengan membara; langsung menggunakan lidah dan mengabsen satu persatu giginya. Shinyu menarik rambut Dohoon lebih kencang ketika ciumannya kini berpindah menuju perpotongan leher jenjangnya. Tempat favorit Dohoon untuk memberikan tanda kepemilikannya pada Shinyu.
Satu lenguhan berhasil keluar seusai Dohoon mengigitnya kencang di dekat tulang selangka. Shinyu berani bertaruh besok akan ada bekas ungu di sana. Tapi Shinyu suka. Suka ketika melihat bahwa dia adalah milik Dohoon satu-satunya.
Merasa mendapatkan respon positif dari pemilik tubuh di hadapannya, Dohoon terus melancarkan aksinya sampai dia berada di dalam kaus pacar cantiknya. Dohoon rasa dia menyelamatkan negara di kehidupan sebelumnya hingga kini punya pacar sempurna.
Katakanlah dia sedikit narsis karena dia selalu memuji dirinya sendiri yang bisa mendapatkan kekasih hati seperti Shinyu. Katakanlah dia sedikit ambis karena tujuan hidupnya adalah bisa memiliki Shinyu lagi di kehidupan selanjutnya.
Shinyu rasa dia ada di langit ketujuh dengan bagaimana Dohoon memujanya; memuja tubuhnya, memuja setiap langkahnya, memuja semua yang Shinyu punya. Untuk kali ini, Shinyu rasa semua ini pantas dia dapatkan setelah dihajar revisian dosennya tanpa henti beberapa hari terakhir ini. Jadi Shinyu buang jauh-jauh semua pikiran yang mengganggunya dan mencoba menikmati semua yang Dohoon lakukan saat ini dan pada detik ini.
Malam ini hanya ada Shinyu dan Dohoon yang sedang mencurahkan rasa cinta keduanya yang sudah melampaui kata cinta itu sendiri. Malam ini hanya ada Shinyu dan Dohoon dengan cinta yang mereka punya. Malam ini hanya ada Shinyu dan Dohoon saja. Malam ini hanya ada Shinyu dan Dohoon.
