Work Text:
Jam sembilan malam lewat sedikit. Anton dan Eunseok berjalan di antara tamu undangan yang membentuk barisan di kanan kiri. Musik pengiring dari DJ, riuh kembang api, dan taburan konfeti memeriahkan grand exit sebagai penutupan acara resepsi pernikahan keduanya.
Dua mempelai baru itu meninggalkan lawn area hotel menuju kamar pengantin yang berada di hotel yang sama. Personal butler yang bertugas, mengantar mereka dengan buggy car ke tempat tujuan.
Dalam perjalanan, si pasangan baru saling berpagutan dan berpelukan mesra. Mencoba menghilangkan ketegangan dan antusias akan sesuatu yang menunggu mereka di dalam sana. Beberapa menit kemudian, buggy car berhenti di paving block yang mengarah ke gerbang kayu jati yang sudah terbuka, dengan sederet angka tertulis di dinding sampingnya.
***
Kartu akses ditempelkan ke bulatan hitam kecil di atas gagang pintu masuk bangunan. Keduanya melangkah masuk dengan tangan saling menggenggam. Kamar bertipe one-bedroom villa itu didekorasi sebagaimana kamar pengantin pada umumnya. Area ruang tamu sampai kamar dihiasi taburan kelopak mawar segar, lilin-lilin aromaterapi di lantai kamar, juga balon-balon merah di sudut atas kasur. Di depan nakas TV dekat kasur, ada dua koper kecil milik mereka berdua, juga satu paper bag merah besar yang entah apa isinya. Sengaja diletakkan di situ agar keduanya tidak bingung mencari.
Tidak ada orang selain mereka di dalam sini. Sudah seharusnya.
“Kamu mau bersih-bersih duluan?” tanya Anton pada suaminya.
Eunseok yang ditanya menjawab dengan anggukan pelan. Dia menanggalkan jas hitam mahalnya, sepasang sepatu berganti jadi sandal berlogo hotel. Butuh waktu dua puluh menit sampai Eunseok selesai membersihkan diri. Dia membangunkan Anton yang terlelap sebentar saat menunggu giliran mandi. Lilin-lilin aromaterapi sudah padam, berganti pendar dari lampu-lampu dinding.
Menunggu suaminya, Eunseok hanya menggulirkan layar ponsel dengan malas. Bunyi ceklekan pintu buat dirinya tolehkan kepala. Bukan dari kamar mandi, melainkan dari pintu kamar yang terbuka. Di sana, Bapak berdiri dengan senyum tampan tapi cabulnya. Eunseok balas tersenyum.
Bagaimana bisa Bapak masuk ke kamar ini? Karena dia punya kartu akses villa, juga berkat lembaran uang ratusan ribu yang diberikan pada pegawai hotel agar tidak mengganggu unit yang ditempati Eunseok sampai besok sore.
Sungchan mendekat ke arah kasur luas itu. Eunseok berlutut di atas kasur, dan langsung menghambur ke pelukan bapaknya, tepi lehernya dihirup dan dikecup pelan oleh yang lebih tua. Pelukan yang kelewat mesra untuk bapak dan anak.
Tangan si muda dikalungkan ke leher Sungchan, pinggang rampingnya dipeluk lengan berotot. Bibir keduanya beradu liar, lumatan-lumatan kasar yang seharusnya tabu untuk dilakukan mengingat status keduanya.
“Selamat buat pernikahannya, Cantik. Anaknya Bapak udah gede, bentar lagi resmi ngentot sama suaminya, ya?”
Eunseok tertawa geli mendengar ucapan saru Bapak. Tangan kekar berurat itu mengelus pipinya, lalu turun meremas bokong padatnya dengan penuh nafsu.
“Iya, memek aku bentar lagi dijebol kontol lain. Kontol lain selain punya Bapak. Bapak mau liat, kan?” balasnya lirih.
Pantat sekal anaknya dia remas dan beri satu tamparan kencang. Bibir ranum Eunseok kembali dilahap hingga kecipak lidah bergema di ruangan sunyi itu.
“Iya, mau Bapak liat gimana suamimu muasin memek laparmu ini,” sebelah tangannya menangkup lipatan vagina Eunseok dari luar bathrobe. “Memek lapar yang doyan kontol bapaknya sendiri.”
Eunseok mengerang. Lendir kawinnya keluar membasahi liang memek. Dia selalu sange setiap bertukar kalimat cabul dengan Bapak. Tangkupan tangan lebar dan gesekan kain bathrobe membuat vaginanya makin gatal. Gatal merindukan mulut liar Bapak melamotinya sampai pipis enak.
“Hngh.. iya. Kontol gede Bapak enak soalnya. Aku ketagihan. Ajarin suamiku biar bisa sejago Bapak. Boleh kan, Pak?”
Tangan lentiknya meremas gundukan dari luar celana bahan Sungchan. Badannya makin dirapatkan hingga tidak berjarak dengan Bapak. Eunseok rasanya ingin menunggangi batang kekar ini sekarang juga.
“Lacur liar kamu. Bapak ajarin suamimu, tapi memekmu Bapak pake dulu, ya? Gak tahan mau ngontolin kamu dari resepsi tadi. Nyangein banget kamu, Sayang.”
Eunseok mengangguk senang. Kepalanya disejajarkan dengan gundukan di celana Bapak, lalu diciumi batang yang masih berlapis kain. Bapaknya sudah keras. Tanpa disuruh, kancing dan resleting dibuka, celana bahan dan boxer diturunkan. Batang kontol bapaknya menampar pelan pipi lembut Eunseok sebagai sambutan. Pipinya ia gesekkan dengan urat-urat kasar Sungchan.
Ujung palkon berlendir itu dia cium, lalu disesap. Tangannya mengurut sisa batang tegak berurat. Dia membaui seluruh batang peler, testis, hingga bulu pubis agak lebat punya Bapak. Eunseok suka dengan bau jantan ini, dia bisa berlama-lama menghidu selangkangan Bapak kandungnya. Baru begini saja memeknya makin ileran.
Sungchan yang sudah sange sejak tadi langsung mengambil alih. Batang peler ia sundulkan ke bibir merah Eunseok. Lendir kontolnya ia gosokkan ke bibir itu sampai mengilap.
“Buka mulutnya. Angetin kontol Bapak, Nak.”
Eunseok membuka mulutnya, lidahnya ia julurkan. Ia biarkan Bapak menepuk pucuk kontol beberapa kali, sebelum menerobos masuk sepenuhnya dalam rongga mulut. Bunyi decapan kasar terdengar akibat pertemuan batang dan lubang. Eunseok berusaha menelan sepenuhnya. Kepalanya ia naik turunkan dengan lihai, ia bisa merasakan pangkal tenggorokannya bertabrakan dengan ujung tumpul, biji zakar Sungchan menampar-nampar dagunya, jembut lebat menutupi jalan napasnya. Kepalanya kadang ditekan makin dalam agar menelan keseluruhan panjangnya Sungchan. Paru-parunya sesak, tapi Eunseok menikmati melahap batang yang jadi sumber dirinya lahir.
Sumpalan batang itu ia cabut, giliran tangannya yang mengocok naik turun. Testis kencang Sungchan ia isap kasar, lalu dimasukkan semuanya dalam mulut. Pipinya dicekungkan hingga bola kembar itu berdenyut dalam rongga hangatnya. Eunseok seperti pelacur handal yang memuaskan pelanggannya.
“Bangsat mulutmu, anjingg!” Sungchan menjerit keenakan.
Eunseok yang dihina makin bersemangat, batang kontol bapaknya ia lumat lagi. Satu tangannya ia bawa untuk kucek pelan memek gatalnya di bawah sana.
“Kontol Bapak bikin memek aku becek. Istri Bapak tolol banget gak make kontol gede ini buat ngenakin memek tiap hari,” ujarnya tidak tahu diri. Anak brengsek, bisa-bisanya menghina istri Bapak yang adalah Ibu kandungnya.
“Bajingan kamu, Sayang. Perek liar haus kontol. Gak malu sama Ibumu, hm?” Sungchan bertanya dengan desah pelan. Batang pelernya tengah diremas dan dikulum nikmat oleh anaknya.
“Gak peduli. Aku cuma mau kontol Bapak. Enak banget kalo udah ngewein aku uhh,” balasnya tidak tahu malu. Eunseok merasakan liur mengalir dari dahinya. Bapak meludahi wajah cantiknya. Lidahnya ia julurkan, ingin diludahi lagi. Dan yang lebih tua mengabulkan, rongga mulut Eunseok menggenang dengan air ludah.
Jari-jari panjang Sungchan mengaduk genangan liur di mulut Eunseok, lalu dirojok ke dalam sampai kenai pangkal lidah si anak. Eunseok sempat terbatuk, matanya memerah, tapi jari-jari tebal itu tetap dilahap dengan rakus.
“Demen kontol Bapak, tapi tempikmu mau diobral buat suamimu nanti. Perek gak puas sama satu kontol.”
Mukanya diludahi lagi, jari-jari Bapak masih tetap merojok mulutnya.
Percakapan saru keduanya terinterupsi oleh deheman dari arah lain kamar. Di depan pintu kamar mandi, Anton berdiri dengan handuk menggantung rendah di pinggang, gundukan penisnya berdiri membentuk tenda.
Situasi gila saat ini bukan hal yang terjadi tiba-tiba. Tiga orang dewasa dalam ruangan sudah merencanakan ide laknat ini sebelumnya.
Anton dan Eunseok yang baru lulus kuliah dua bulan lalu, dipergoki nyaris bersetubuh oleh Eyangnya Eunseok suatu siang. Eyangnya yang kolot meminta keduanya segera menikah.
Takut Eunseok hamil duluan, katanya.
Padahal hari itu Anton masuk saja belum. Kedua pemuda awalnya menolak menikah muda, tapi karena diiming-imingi satu unit rumah, satu cafe, dan dua villa, disertai paksaan keluarga kedua belah pihak, mereka akhirnya menyerah. Memang pada dasarnya anak muda mata duitan dan hobi berfoya-foya, pada hartalah mereka menyerah.
Hanya Bapak yang agak tidak rela anaknya menikah muda. Tidak rela lubang memek gratisan miliknya dibagi dengan orang lain. Sebagai kompensasi untuk Bapak yang ngambek, Eunseok menawarkan Bapak untuk menonton malam pertamanya, juga memerawani bool rapat Anton. Suaminya yang ternyata doyan juga sama kontol itu, ternyata bernafsu dengan Sungchan. Akibat sering didongengi bagaimana Eunseok dientot karena sering menggoda Bapaknya sendiri, Anton jadi penasaran ingin merasakan juga batang perkasa itu.
Jadi, di sinilah ia sekarang. Duduk di sofa bed yang berada di kaki kasur, memperhatikan Eunseok memakan kontol keras ayah mertuanya yang gagah. Ludahnya diteguk kasar, napasnya memberat, tangannya tanpa sadar sudah meremas batang penisnya sendiri. Anton sange berat. Dia juga ingin mengemut kontol Sungchan.
“Liat Ton, anak Bapak emang pelacur. Doyan kontol bapaknya sendiri. Sukanya godain Bapak, sampe akhirnya Bapak perkosa memek liarnya.” ujar Sungchan dengan napas berat.
Batang kontol dikeluarkan dari mulut Eunseok, lalu digoyangkan seolah memanggil Anton untuk menyepongnya.
“Gede nggak, Ton? Mau juga, hm? Mau kontol Bapak, iya?”
Anton mengangguk. Entah untuk pertanyaan yang mana. Matanya hanya terfokus pada batang berurat kasar itu. Tanpa sadar liur terbit di sudut bibirnya.
“Ke sini, lacur. Isepin kontol Bapak. Biar mulut pecun kalian Bapak entot ganti-gantian.”
Anton merangkak ke sebelah Eunseok. Posisinya berlutut di depan penis tegak ayah mertua. Handuknya sudah tanggal dari tadi, Anton total telanjang. Kepalanya diarahkan oleh Sungchan untuk berciuman dengan Eunseok. Keduanya berbagi liur di depan kontol konak Bapak. Rambut Anton dijenggut dan didorong untuk endusi selangkangan ayah mertuanya. Baru sebentar menghirup aroma jantan itu, kepalanya dijauhkan.
Eunseok menggenggam batang kontol Bapak, lalu dimasukkan ke dalam mulut dalam sekali sentak, lalu dikeluarkan. Begitu terus beberapa kali, dia ingin menunjukkan pada suaminya cara mengisap kontol yang baik dan benar.
“Ludahin,” Eunseok berkata pada Anton. Yang disuruh langsung mengumpulkan liur dan meludah ke kepala kontol Sungchan. Batang peler itu masuk lagi ke mulut Eunseok. Beberapa kali naik turun, hingga akhirnya ujung palkon diarahkan ke mulut Anton. Yang paling muda menyesapnya pelan, lalu ritmenya dipercepat bagai orang kehausan. Sungchan menyeringai cabul melihat menantunya bagai pecun lapar akan kontol.
Kepala Anton ditekan Eunseok untuk melahap seluruh batang peler Sungchan. Karena tidak siap, dia tersedak hebat. Batang keras itu dikeluarkan dari mulut. Tapi Eunseok kembali menuntunnya untuk menyepong lagi.
“Telen, Sayang. Rileksin kerongkongannya,” ucap Eunseok menyemangati. Rambut legam suaminya ia usap pelan, tangan yang lain meremas testis Bapaknya.
Sungchan menghela napasnya pelan. Anton jelas amatir dalam urusan menyepong, tapi sensasi yang ditimbulkan buat dirinya bergetar. Kepalanya mendongak ke atas saat merasakan hisapan mulut Eunseok di buah zakarnya. Enak sekali dilayani dua pelacur muda.
“Hahh. Kontol Bapak enak banget disepongin kalian. Mulut anak muda emang nikmat. Beda sama mulut istri tuanya Bapak.”
Sesapan pada batang dan bijinya makin kencang akibat kalimat puja dan hinaan itu. Dia menunduk ke bawah, matanya bersirobok dengan kelopak mata sayu Anton. Sungchan meludahi kening menantunya, yang dihadiahi erangan dari si muda. Erangan yang buat batang konaknya makin kedutan enak.
“Asu! Ahh.. Enak banget memek mulutmu, Nak. Kempotin pipinya, Sayang. Lubang coli barunya Bapak pinter banget nelen kontol.”
Anton yang dipuji hanya menurut. Pipinya dikempotkan hingga meremas kencang kejantanan ayah mertuanya. Sungchan menggeram penuh nikmat. Dia membuka matanya saat sadar ada jilatan lain di bagian belakang. Lubang duburnya dicolek lidah laknat anaknya, sambil jari lain si cantik mengobel pepeknya sendiri.
“Lacur anjing, tau banget cara muasin Bapak. Terus entotin bool Bapak pake lidahmu,” makinya karena sange dan nikmat. Pucuk susunya sendiri ia garuk-garuk, menambah rangsangan.
Batang tegangnya ia cabut dari mulut Anton. Eunseok yang ada di belakang ia seret ke atas tempat tidur. Kedua tungkai anaknya ia kangkangkan hingga lubang memek melernya kelihatan. Sungchan meludah ke lubang merekah yang cengap-cengap itu. Dua jarinya ia gesekkan ke lipatan vagina berlendir, lalu dicolokkan ke dalam. Eunseok mendesis merasakan sensasi jari-jari tebal Bapak di dalam liang kawinnya.
“Nggh.. Bapak, gerakin jarinya. Colokin pepekku.”
Sungchan menggerakkan jari-jarinya dengan ritme pelan. Anton yang duduk di sebelah kanan Eunseok tengah memainkan penis ilerannya sendiri. Matanya menatap jari yang keluar masuk lubang berlendir Eunseok, membayangkan lubang duburnya yang dicolok-colok.
“Anton, sini. Ciumin memek istrimu, Sayang.”
Istri katanya. Sekalipun punya memek, Eunseok tetaplah laki-laki. Tapi panggilan misgendering dari Bapak buat batang penis Anton berdenyut antusias. Eunseok yang sudah terbiasa dengan panggilan-panggilan cabul dari Bapak juga mengedutkan memeknya, jari bapaknya diremas lubang kawin.
“Seneng dia kalo dipanggil gitu, Nak. Ayo, ciumin memek lacur istrimu.”
Anton menunduk dan mengecup lubang kawin Eunseok. Jari-jari Sungchan yang tetap keluar masuk juga dikecupi. Lidahnya ia julurkan untuk menjilat lipatan vagina sampai kelentit bengkak istrinya—suaminya. Kadang lidahnya sengaja menyentuhi jari-jari Bapak. Eunseok yang diberi rangsangan enak hanya mendesis, tangannya ikut memelintir putingnya sendiri.
Jari tebalnya ia keluarkan dari memek anaknya. Sungchan mepetkan badan besarnya dengan badan Anton, tangan lebarnya melingkupi pundak si muda.
“Udah pernah ngapain aja sama memek ini, Nak? Udah pernah diewe?” bisiknya di telinga Anton
Anton menggeleng di antara jilatannya. “Dikobel sama diisep aja, Pak. Belum pernah penetrasi,” jawabnya lugu
“Duh, kasian. Bapak ajarin lamotin sama entotin memek yang bener mau, ya? Biar jago, nanti abis itu memekmu Bapak lamotin juga.” Sungchan bertanya cabul. Cuping telinga menantunya ia jilat dan kulum pelan. Anton hanya mengangguk tidak jelas, badannya geli-geli enak diperlakukan seperti itu. Lubang duburnya berkedut-kedut senang.
“Pake mulut jawabnya, Sayang. Mau apa?”
“Mau belajar lamotin sama entotin memek. Mau m-memeknya Anton dientot Bapak,” balasnya malu-malu.
Eunseok yang mendengar jawaban Anton hanya tersenyum gemas akan kelakuan suaminya yang punya bibit jadi pecun nakal.
“Buruan lamotin memekku, ih. Udah ileran dari tadi, Pak, Sayang.”
Sungchan mendorong kepala Anton ke bukaan memek anaknya.
“Hidungmu mainin di itil bengkak ini, Sayang. Lubang kencingnya ditoel-toel pake lidah.”
Anton mengikuti instruksi mertuanya dengan baik. Eunseok yang dirangsang di titik sensitifnya menggelinjang nikmat. Satu jari Anton diarahkan Sungchan untuk mengobel lubang memek, jari tangan lainnya dibawa untuk memelintir pucuk susu bengkak Eunseok.
“Lonte pinter, analnya juga jilatin, Nak. Kelojotan nanti istrimu kalo dicolok bool memeknya.” Anton langsung mempraktikkan, lubang dubur Eunseok juga dia jilati, lalu kembali ke lubang kencing istrinya. Jari-jari tangan tidak berhenti menggoda lubang memek dan puting.
Sungchan juga ikut membantu, jari panjangnya dikeluar-masukkan ke lubang anal Eunseok yang langsung menjerit. Lidahnya juga ikutan menjilat itil bengkak anaknya, dan sesekali bersenggolan dengan lidah Anton
Jari dan lidah nakal dua pria besar yang mengerjainya, juga pemandangan menggairahkan Bapak dan Anton yang seperti berciuman di atas memeknya buat Eunseok belingsatan. Tumbukan kasar jari-jari di titik-titk sensitif akhirnya buat Eunseok pipis. Muka Bapak dan Anton dia kencingi.
“Nggh.. bocor pipis sshh..”
Anton kaget melihat Eunseok squirting. Istrinya mirip artis bokep. Ini pertama kalinya dia melihat secara langsung.
“Anak pinter. Bisa bikin memek istrimu bocor enak. Sini Bapak jilatin mukamu.”
Sungchan menjilat wajah Anton yang penuh bekas air seni. Lidahnya berhenti di depan bibir menantunya, mendobrak-dobrak ingin masuk. Bilah bibir itu terbuka, liang mulut Anton dijilat sampai ujung, pangkal langit-langitnya digelitiki, lalu bibir ranum menantunya dilumat penuh nafsu. Keduanya berciuman di depan memek Eunseok, yang sedang mainkan putingnya. Terangsang lagi lihat pemandangan di depannya.
“Meletin lidahmu,” perintah Sungchan. Lidah Anton diisi gumpalan ludah dari mertuanya. Kadang ludahan meleset kenai mata dan sudut bibir.
“Telen. Makan ludah Bapak biar jinak kayak anjing. Anjing birahi doyan ngentot.”
Ludah Bapak ia telan, mulutnya dibuka lebar lagi. Kali ini rongga mulutnya dirojok jari-jari tebal Bapak, lalu diganti lidah panas sang mertua. Sekujur tubuhnya gatal ingin dilecehkan oleh lelaki kekar di depannya ini. Batang kontolnya juga ingin diremas liang memek istrinya.
Ciuman panas keduanya Sungchan sudahi. Dia bawa tubuhnya ke belakang Anton yang sudah berada di antara paha Eunseok.
“Gesekin lipatan memeknya, itilnya sundulin pake palkonmu, Nak.”
Semua arahan Bapak ia ikuti, Eunseok bereaksi baik. Ajaran Bapak memang tidaklah salah.
“Langsung rojokin liang kawin istrimu, Sayang. Anak lacur ini sukanya dientot kasar.”
Batang kontol menantunya ia remas pelan dan diarahkan ke bukaan memek. Pinggul Anton ia dorong hingga seluruh penisnya tertanam dalam lubang pepek meler anaknya. Eunseok yang digenjot tiba-tiba langsung memekik kaget.
“AHH–anjing, sayang..” jerit Eunseok kencang
“Genjotin, entotin memeknya. Gak usah peduliin teriakan istrimu. Suka dia diperkosa kayak lonte murahan.”
“Ahh.. kamu gak apa-apa, Sayang? Aku boleh gerak?” tanya Anton
Eunseok mengangguk payah, memeknya memijat batang kontol suaminya. Perkataan Bapak adalah benar. Ia suka dikasari. “Cepetin, kencengin entotannya, please,” pinggulnya ia naik turunkan, mencoba menelan seluruh panjang Anton.
Anton yang dipintai langsung menggenjot dengan ritme sedang, kemudian dipercepat. Sungchan masih di belakangnya, membantu mendorong pinggulnya keluar masuk. Dia bisa merasakan kontol besar Bapak di belahan pantat montoknya. Puting tegangnya kadang dicubit-cubit oleh yang paling tua.
“Genjotin yang bener, sayang. Yang becus, biar ada guna tititmu itu,”
Jepitan memek Eunseok mengencang tiap ia mengenai satu titik di dalam sana, istrinya meraung-raung meminta dikerjai terus.
“Ahh–kenain situ, anjing uuhh..”
“Sshh, tititku kayak diperes, Sayang. Enak banget.”
“Ohh, Anton perkosa aku, kasarin tempikku, Sayang,”
Desahan penuh nafsu keduanya buat Sungchan makin sange. Dia bawa dirinya ke samping kepala Eunseok dan langsung menyumpal mulut berisik si anak kandung dengan kejantanannya.
Anton makin tidak teratur menyodok istrinya, dirinya sudah diujung. Eunseok yang merasa batang titit suaminya membengkak di dalam sana, makin menyempitkan cengkeraman otot vaginanya. Dan beberapa tusukan, Anton muncrat dalam memek Eunseok, perutnya mengejan. Pejunya ditembaki ke dalam rahim hangat.
“Ngecrot shh.. aku ngecrot ahh–”
Titit melernya masih terlampau sensitif saat Eunseok bangun dan menyepong sisa-sisa tembakan mani dari lubang uretranya. Di belakang istrinya, Bapak sedang menggesek lubang memek dengan kontol kerasnya.
“Masukin, Pak. Mhh.. kangen diperkosa Bapak,” desisnya penuh gairah.
Sungchan merodok kontolnya ke dalam liang kawin anak kandungnya dalam sekali sentak. Rambut lepek Eunseok ia jambak kasar.
“Pepekmu sesek banget, brengsek. Ahh–enak tempik istrimu, Nak..” serunya cabul, matanya menatap intens menantunya. Bisa ia lihat titit yang basah itu berdenyut lagi, terangsang.
“Anak Bapak lacur banget, Nak. Suka diperkosa sampe ngowoh memeknya, istrimu ini doyan kontol ampe bapaknya juga diembat,” ia berkata mesum. Muka anaknya ia ludahi, batang leher Eunseok ia belit dengan lengan berototnya.
“Iya kan, Sayang? Kasih tau suamimu siapa yang merawanin pepekmu, hm?”
Tusukan kontol Bapak di memeknya buat dia pening karena gairah yang membumbung, tangannya ia bawa untuk mengucek itilnya sendiri. Petanyaan Bapak terlupakan bagai angin lalu.
“Ck ck, malah gosok klentit. Ayo, kasih tau suamimu gimana Bapak merkosa memekmu, bangsat.” jeda sodokannya makin pendek pendek, liang vagina Eunseok ngilu karena intensitas tumbukan kian bertambah.
“Ahh ahh—digenjot nggh di atas kasurnya Ibu, dientot pas masih pake seragam sekolah mmhh..”
Anton jelas tahu cerita ini, Eunseok sudah pernah menceritakan padanya. Tapi melihat istrinya menuturkan kembali sambil liang kawinnya digauli bapak kandungnya sendiri di depan mata, sensasinya buat seluruh badan Anton panas karena nafsu. Pusat tubuh dan analnya berdenyut karena gairah. Tangannya ia bawa untuk pijat tititnya yang keras lagi.
“Pecun kamu, Sayang,” maki Anton.
“Nggh iya iyahh—pecun Bapak, enak banget kontol Bapak, bangsatthhh..”
“Aku hnng—duluan yang nyepong kontol Bapak pas lagi tidur, memekku aku gesek-gesek ke perut, akhirnya aku diperkosa sampe pingsan,” tuturnya sambil digasak kontol keras Sungchan.
Benar Eunseok duluan yang menggoda Sungchan. Entah sejak kapan mulanya, tapi dia sangat bernafsu melihat Bapak. Dia sering colok-colok memek sambil membayangkan digenjot kejantanan Bapak. Dia juga tahu bapaknya kerap menatap dirinya penuh syahwat binatang. Maka ia mulai berpakaian bak pelacur jalanan tiap di rumah, sering menempelkan badannya pada Bapak bagai anjing birahi, dalaman Bapak sering ia pakai untuk bahan colmeknya.
Sentuhan yang memercikkan gairah itu akhirnya berakhir di satu siang di tahun terakhir SMA-nya. Rumah yang sepi, ibu tololnya entah ke mana, dan Bapak yang tertidur. Dengan berani ia mengisap kontol Bapak dari luar celana piyama hingga berdiri, memek remajanya kala itu ia gesekkan ke perut telanjang Bapak, yang mengakibatkan dirinya diperkosa nikmat oleh ayah kandungnya sendiri.
Kilasan saru masa lalu buat kedua bapak anak itu kian bernafsu. Lendir kawin makin meler dari lubang-lubang kencing. Genjotan Sungchan makin kencang dan kasar.
“Anghh—Bapak, ahh perkosa tempikku mmhh—Ahh, sayang kontol Bapakku mentokin memek dalem banget. Mhh aku suka kontol bapakku sendiri, Anton. Brengsek uhh..”
“Kencengin lagi unggh Bapak—ahh Sungchan anjinghh kontol bejatmu merkosa aku tiap hari. Buntingin aku uhhh.. Bapak brengsek enak banget batang kontol.”
Cabul. Saru. Tabu. Laknat. Tidak pantas, racauannya sangat tidak pantas, tidak kenal adab dan dosa. Nikmat dikawini bapak kandungnya buat dia buta, otaknya tidak bisa berpikir dengan baik. Sungchan yang dilecehkan oleh mulut putranya makin kesetanan menggenjot. Kocokan Anton pada batang titit mengencang, bukaan analnya ia gesek-gesek kasar.
Eunseok dibalik hingga telentang, mukanya diludahi berulang-ulang. Seluruh wajahnya berubah merah karena pacuan adrenalin gairah yang tinggi.
“Pecun jalanan kamu Eunseok.”
“Istrimu gila kontol, Sayang. Gak tau malu, ngemis-ngemis dientot tiap malam sama Bapak. Kamu juga mau, hm? Mau tempiknya Bapak perkosa?” matanya menatap nyalang Anton yang membasahi telunjuk dan merojok duburnya sendiri.
“Hnggh mau kontol Bapak,” desah Anton pada mertuanya.
Benar-benar dua pecun laknat. Pasangan pengantin haus dan lapar batang kontol.
“Bapak entotin kalian berdua, lacur-lacur gak tau diri,”
“Ahh Anton, Sayangnya Bapak. Memek anak kandung emang paling enak, Nak. Buntingin istrimu, biar jadi anak, terus kamu perkosa. Harus rasain kontol ayah kandung, nanti Bapak ikutan icip tempiknya. shh— anjing ngentot..” racauan bejat ia keluarkan karena dilecut birahi.
Anton terangsang hebat—membayangkan Eunseok hamil, melahirkan dan membesarkan anak mereka, lalu diperkosa ramai-ramai oleh mereka saat memek remajanya siap. Dia ingin muncrat, ingin batang kontol ada dalam lubang boolnya.
“Anjinggh—mau kontol, mau ngentot mhh—ngecrot lagi brengsek AHH..” Anton mengangkangi kepala Eunseok, muntahan maninya mengguyur wajah istrinya yang teler karena digauli.
Sungchan tertawa berat melihat kelakuan menantunya, rojokan pada tempik anaknya makin sembarangan. Dirinya juga sudah diujung.
“Pak, muncratin di dalam.. basahin rahimku anjing.. pengen hamil anak kalian berdua OHH—” Eunseok pipis duluan. Pipisnya kencang sekali sampai penis Sungchan terdorong keluar.
Sungchan memasukkan kembali penisnya dan menyodok kasar pepek Eunseok. Seluruh otot tubuhnya menegang, urat-uratnya timbul dengan jelas, mukanya merah, otot perutnya mengencang dan akhirnya aliran mani mengalir deras ke rahim anaknya.
“Bapak siramin rahimmu pake peju, biar bunting gak tau siapa bapaknya. Anak pecun!”
Tubuhnya tersentak-sentak. Tembakan mani yang tersisa buat dia terlonjak sekali. Penisnya dia diamkan dalam memek Eunseok. Ketiganya menghela napas berat. Ruangan itu penuh dengan aroma seks, udaranya menebal karena gairah yang belum surut.
Sungchan menjatuhkan dirinya di atas Eunseok, kepalanya disimpan di ceruk leher si cantik. Anton yang terkulai lemas di samping, ia tarik hingga ketiganya berdekatan. Kecupan-kecupan basah ia bubuhkan di pelipis dua anak muda itu, bibir keduanya ia cium bergantian.
“Bapak bilang ke Ibu mau ke mana? Gak mungkin jam segini ngilang gak dicariin istri ribetmu itu,” suara lemas Eunseok memecahkan hening yang cukup lama terjadi.
Sungchan terkekeh kecil. Anak lanangnya ini kalau mode sedang birahi, pasti ketus sekali pada Ibunya sendiri.
“Bapak bilang ada hal urgent di cabang Surabaya, jadi harus ngejar flight malam ini. Ibumu tahunya Bapak lagi di pesawat.”
Eunseok terkekeh, Ibu dungunya yang gampang dikibuli. Suaminya bukan mengejar pesawat, tapi mengejar muncrat pakai memek anaknya, juga lubang bool rapat menantunya. Nanti.
Atau sekarang
Karena Eunseok bisa merasakan batang konak bapaknya berkedut lagi di dalam memek.
“Naik lagi, ya, Pak? Gagah banget Bapakku.”
Sungchan meringis geli. Bibir Enseok dan Anton ia lumat, lidah ketiganya saling membelit di satu titik.
“Memek Anton belum Bapak perawanin. Iya, kan, Sayang? Gatel, ya memeknya belum dirojok dari tadi?” Sungchan berbisik penuh nafsu di depan dua bibir kekasih-kekasih mudanya.
Anton mengerang. Kontolnya ia gesekkan di antara betis Eunseok dan Sungchan yang tumpang tindih.
“Huum. Pengen kontol Bapak, mau dibikin ngowoh memeknya.”
Rengekan manjanya dibalas pagutan dalam dan gumpalan liur di bibir bengkaknya.
***
Sungchan kembali ke kamar dengan dua botol air mineral berbahan kaca yang dia ambil dari mini bar dekat ruang tamu villa.
Anton dan Eunseok sedang berpelukan di atas tempat tidur. Dia menyodorkan botol minuman pada kedua pengantin baru itu, yang diteguk sampai habis. Mereka benar-benar kehausan ternyata.
Yang paling tua meraih paper bag merah yang disimpan di atas nakas. Dia sengaja menyuruh staff yang mendekor villa agar ikut meletakkannya bersama koper-koper. Di dalamnya ada kotak hitam besar yang tidak terlalu berat. Kotaknya dibuka, isinya dipertontonkan untuk kedua anak muda.
Tiga lingerie set yang benar-benar kekurangan bahan, dress tembus pandang, pleated plaid skirt, sex toys, dua botol lubrikan, juga empat kotak kondom. Kondom yang Eunseok yakin tidak akan terpakai karena Bapak lebih suka ngentot tanpa lapisan karet pengaman.
Bapak yang punya fantasi gila untuk mendandani anak dan menantu lelakinya dengan pakaian tidak senonoh. Eunseok tidak keberatan sebenarnya, sebab dia juga sering crossdressing. Tapi tidak dengan Anton. Suaminya itu pasti kaget dan malu melihat semua garmen-garmen ini.
“Anton, mau ya pake ini buat Bapak?” Sungchan menyerahkan setumpuk kain padanya. Laced bikini lingerie berwarna merah menyala—bagian bawahannya berbentuk thong, atasannya bra dengan hiasan renda, juga rok lipit berwarna pink cerah yang kelewat pendek. Anton meneguk ludahnya ragu melihat tumpukan kain di tangannya.
“I-iya, mau, Pak.”
Lalu dirinya menghilang ke bilik kamar mandi.
Untuk Eunseok lingerie berawarna hitam yang tembus pandang, dilengkapi garter belt dan stocking berenda. Eunseok menyusul Anton ke kamar mandi dan membantu suaminya.
Anton masih dalam keadaan telanjang saat Eunseok masuk. Dia tersenyum melihat suaminya terlihat gelisah dan malu-malu. Padahal mereka sudah sejauh ini, memakai pakaian kurang bahan harusnya bukan masalah besar, tapi dia maklum.
“Mau aku bantu pakein, Sayang?”
Anton menggeleng ragu, lalu mengangguk. Eunseok tertawa. Dia mendekat ke arah yang lebih muda, tangannya meraih bra merah dari tangan Anton. Kedua tangannya menangkup dada montok Anton akibat sering nge-gym.
“Gak usah malu, Sayang. Cocok kok pake bra, tetek kita hampir samaan gini ukurannya. Bapak pasti suka.”
Anton makin memerah mendengarnya. Eunseok memasangkan tali bra ke kedua lengan suaminya dan bantu mengaitkannya. Bra itu melapisi dada agak montok milik Anton dengan baik. Yang lebih tua kemudian turun dan mencium paha hingga betis yang lebih muda. Tangannya berikan sentuhan seringan bulu pada sepanjang tungkai Anton. Thong merah yang ia bantu pasang juga mengait pas di pinggang, dan agak sesak sedikit di bagian depan. Bokong padat Anton terlihat lebih menonjol akibat tekanan kain di belahannya.
Eunseok ngiler. Suaminya cocok sekali berpakaian seperti ini. Cantik.
“Cantik, Sayang,” ujarnya keras. Dia masih dalam posisi berlutut.
“Kalo kayak gini aku juga mau ngentotin kamu jadinya, Sayang. Seksi banget suamiku.” Paha sekal Anton ia kecup ringan.
Anton malu, tapi dia berterima kasih karena pujian istrinya—suaminya.
“M-makasih, Sayang. Roknya biar aku pake sendiri. Kamu juga harus ganti. Kasian Bapak nunggu.”
Eunseok mengangguk. Dia berganti dengan cepat. Lingerienya hampir mirip modelnya dengan Anton, hanya saja punya Eunseok tembus pandang. Pentil tegangnya terlihat dengan jelas, begitu pula lipatan memeknya. Bokong sekalnya tidak tertutup. Stocking hitam dan garter belt menambah kesan seksi pada kaki-kaki jenjangnya. Bapaknya benar-benar cabul membelikan pakaian seperti ini padanya.
Keduanya bertatapan setelah selesai dengan kostum masing-masing. Rok merah muda yang Anton pakai makin terlihat pendek karena dipakai oleh tubuh semampainya. Bagian bawah rok benar-benar hanya berjarak seinci dengan bongkahan pantatnya. Anton terlihat seksi dengan kostum barunya.
“Rileks, Baby. Kamu udah lama nunggu ini. Enak, pasti enak dientot Bapak pakai baju ini.” Eunseok meyakinkan suaminya yang gugup karena akan diperawani. Padahal dia tadi yang gatal minta disetubuhi Bapak. Bibir suaminya ia lumat pelan, keduanya nyaris bercumbu panas jika ketukan dari pintu kamar mandi tidak menyadarkan. Kaki keduanya melangkah ke arah kamar.
Sungchan sudah ada di posisi terduduk di sofa bed di kaki kasur. Batang kontolnya sedang ia pompa naik turun, jempolnya kadang meratakan cairan licin dari lubang kencingnya. Giginya bergemeletuk saat melihat dua pecun mudanya yang berbalut kostum haram berjalan mendekat.
“Ke sini, Cantik-cantiknya Bapak.”
Anton dan Eunseok berdiri di hadapan Sungchan. Anton terlihat masih malu-malu, ujung rok pendeknya dipilin gusar. Sementara Eunseok dengan percaya diri meliukkan pantatnya di selangkangan Sungchan. Tidak menempel sepenuhnya, hanya bersentuhan ringan, lalu dijauhkan bokongnya. Dia menoleh melihat reaksi Sungchan, matanya sengaja disayukan, lidahnya ia julurkan untuk basahi bibirnya sendiri.
“Suka liat anaknya kayak lonte gini, Pak? Istri tua Bapak gak bisa nyenengin makanya nyarinya badan anak muda yang molek, ya?” Eunseok bertanya kurang ajar.
Sungchan menatap bokong padat anaknya lapar. Tangan lebarnya menampar bongkahan itu hingga timbul warna kemerahan pada kulit Eunseok.
“Gundik murahan kamu, Nak. Istri Bapak gak bisa bertingkah lacur kayak gini, makanya badanmu Bapak pake. Bapak pake gratisan kayak jablay pinggir jalan,”
Memek Eunseok becek. Pantatnya ia benturkan sesekali ke penis keras Bapak, lalu dia jauhkan.
“Pake aku, Sayang. Pake suamiku juga. Jadiin dia perek kamu juga, ya?” Eunseok menggenggam tangan Anton dan menuntunnya untuk duduk di sebelah paha Sungchan. Lalu dirinya sendiri turun berlutut di antara paha Bapak. Kepalanya ia tumpukan di paha yang kosong, matanya memandang Anton yang kini dada dan pinggangnya tengah digerayangi yang paling tua.
“Lecehin badan suamiku, Pak. Udah lama dia pengen dipegang-pegang Bapak.” Eunseok merayu. Jemarinya berikan sentuhan seringan bulu di paha dalam dan betis Sungchan, sesekali pinggiran selangkangan itu dikecup halus.
Bapak dan suaminya sedang berciuman mesra. Bibir ranum Anton dimakan bagai tak ada hari esok. Liang mulutnya dirodok lidah lihai mertuanya. Putingnya dicubit, tali bra merahnya sudah melorot sebelah.
Eunseok senang melihat suaminya dimanjakan. Lidahnya ia julurkan dan jilat batang konak bapaknya, buat yang lebih tua mendesis dalam cumbuan dengan sang menantu.
“Sepongin, Sayang. Basahin kontol Bapak pake liur kamu. Mau Bapak pake buat mentokin memek suamimu,” kata Sungchan dengan napas berat. Tangannya menangkup dada dan bokong Anton gemas.
Eunseok mengamini. Kontol Sungchan ia sesap pelan, lalu ditelan seluruhnya hingga pangkal. Sungchan menggeram rendah, tangannya tidak berhenti menggerayangi Anton. Pelipis dan pipi menantunya ia cium sesekali.
“Liat istri kamu pinter ngenakin kontol bapaknya sendiri. Kamu harus bisa kayak gitu, Nak. Biar jadi lobang onani tiap Bapak sange.”
“Isepin pelernya Bapak, Sayang. Pengen liat lonte-lonte Bapak rebutan kacuk.”
Anton turun ke antara paha Sungchan yang makin membuka lebar, berikan ruang untuk dua orang di sana. Eunseok melepaskan kuluman, ia beri jilatan panjang di urat-urat kasar itu. Sebelah tangannya menuntun Anton untuk berlaku sama. Dua sisi kontol Bapak dijilati lidah-lidah anak dan menantunya. Lidah keduanya kadang bertemu di pucuk kontol, kadang saling memagut dan membelit.
Eunseok yang lebih ahli memberikan Anton akses penuh untuk menelan penis besar itu. Dia berada di belakang Anton kini. Kepala suaminya ia tekan pelan hingga menelan separuh kejantanan Bapak.
“Rileksin lagi, sayang. Turun sampe bawah, kenain ujung mulut biar Bapak enak.”
Anton turun sampai pangkal selangkangan. Otot rahangnya pegal, bunyi tersedak keluar, tapi dia coba menahan. Kepalanya juga tidak diberi ruang gerak oleh tekanan tangan istrinya. Liur merembes basahi bawah dagu juga kontol mertuanya. Paha Ayah mertuanya ikut-ikutan menjepit kepalanya. Pengap, panas, tapi nafsunya makin naik.
“Rapet banget mulutmu, Anton. Apalagi memek perawanmu, pasti keset,”
Pahanya ia angkat hingga duburnya berada di ujung tempat tidur. Anton disuruh jilati analnya.
“Makan bool Bapak, Sayang. Entotin pake jarimu juga.”
Sungchan benar-benar bergairah. Dia juga kadang suka colok-colok lubang pantatnya kalau mencari stimulus lebih. Dia mendesis pelan saat rasakan satu jari basah Anton menerobos liang sempitnya dan dikeluar-masukkan pelan. Badannya ia tidurkan penuh ke tempat tidur. Eunseok ia perintahkan untuk duduki mukanya. Liang pepek anaknya ia lamot sampai meler-meler karena liur dan cairan kawin. Eunseok menunduk dan melahap kontol Bapaknya, posisi kaki kepala mudahkan jalan mereka berdua.
Anton yang sudah puas mencolok dubur Sungchan, kembali berbagi sepongan dengan Eunseok. Jari-jarinya ia bawa untuk mengobeli lubang analnya yang gatal dari balik thong. Napas ketiga orang itu memberat, ruangan pengantin baru dipenuhi bunyi kecipak mulut bertemu kelamin.
Sungchan bangkit dari posisi tidurnya, giliran Anton yang ia rebahkan. Paha menantunya dilebarkan, kedua tangan si muda diletakkan di bawah lutut. Lubang anal Anton ia ludahi dan ia makan. Lidahnya menusuk-nusuk kerut anal yang berkedut antusias. Jarinya merojok ke dalam buat Anton meringis pelan. Merasa kurang, ia tambakan satu, lalu dua jari. Empat jarinya ia rojokkan ke lubang sempit itu. Anton menjerit enak.
“Ngghh… Bapak, jarinya banyak banget shh..”
Ini pertama kalinya anus perawannya dimasuki lebih dari satu jari, ia hanya sanggup masukkan satu selama ini.
“Enak? Enak boolnya dicolok? Lubang kamu kenceng banget jepitin jari Bapak, Nak. Bapak siapin memeknya biar bisa nelen kontol gede Bapak nanti. Tahan ya, Cantik.” Jari-jarinya ia sodok kasar ke liang panas Anton. Anton mendesah, badannya belingsatan. Memeknya dicolok Bapak, puting susunya dikenyot istrinya penuh nafsu. Kepalanya berdenyut karena birahi.
“Pak, masukin kontol. Tolong rojokin pake kontol, memek aku gatel banget angghh—”
Sungchan bangkit dan meraih lubrikan, melumuri sepanjang batang kerasnya juga lubang anal Anton yang megap-megap minta diperkosa. Kepala kontolnya ia tepukkan beberapa kali ke liang anal, lalu ia masukkan pelan ke dalam liang panas Anton.
“Ahh mmhh—gede banget, Bapak. Memek aku sesek.”
Sungchan menggenjot pelan lubang perawan itu. Matanya menatap penuh nafsu penyatuan kontolnya dan anal Anton.
“Panas liangmu, Nak. Keset banget, ngentot. Memek perawan legit.”
Sungchan menatap sayu Eunseok yang kini mencolok liang pepeknya sendiri dengan dildo dari kotak hitam.
“Entotin memekmu pake kontol karet, liatin Bapak perkosa memek perawan suamimu, Sayang.”
“Uhh, pecun-pecun gila kontol. Hhh–”
Tiga orang dalam ruangan mencari nikmat mereka masing-masing. Sebelah tangan Sungchan membawa Eunseok ke atas badan Anton, liang memek anaknya ia isi dengan kontol menantunya, anal Eunseok ia sodok dengan dildo berlendir.
Ketiganya mendesah nikmat. Geraman dan umpatan bersahut-sahutan dalam kamar itu. Eunseok menggenjot memeknya di atas kontol Anton, lubang analnya dirodok dildo, jemarinya mencoba beri rangsangan pada Sungchan dengan menarik-narik pentil tegang bapaknya.
Sungchan memagut bibir anaknya yang keenakan. Batang kontolnya makin berat di dalam sana, rodokannya tidak teratur.
“Pak nggh mau keluar ahhh— pelerku mau crot lagi Ohh..’’
“Kencengin lagi Pak. Perkosa tempikku, AHH Ahh aku bucat. Haah–”
Mani Anton muncrat dalam memek Eunseok disusul kucuran air seni yang penuhi liang istrinya. Eunseok cabut dildo dari analnya, lalu dilesakkan ke memek yang masih berisi kontol kedutan Anton. Ia perkosa lubang kawin berlendirnya sampai dia pipis-pipis.
“Anjing Anton ANGHH bocor.. muncrat memekku Ahh suami lonte Nggohh—” kencingnya basahi wajah Sungchan dan genangi perutnya sendiri. Badannya menggelepar keenakan di atas badan letih Anton.
Sungchan merogol lubang lacur Anton dengan gerakan serampangan. Muncratnya sudah di ujung.
“Anton mmhh Bapak angetin rahimmu pake mani. Eunseok angghh tempik lacur suamimu keset banget ngentot. Asu! Hamil kamu, hamil pecun brengsek. Ohh OHH Bapak bucat hhh—”
Maninya ditembakkan banyak sekali ke dalam liang panas menantunya. Kencingnya yang juga sudah tidak bisa ditahan ia muntahkan ke liang memek Anton. Anton yang dikencingi malah muncrat dan pipis lagi.
Badan ketiganya lemas dan sensitif selepas orgasme hebat. Ruangan kamar penuh bau pesing dan cairan kawin di mana-mana. Jam digital di atas nakas menunjukkan pukul tiga pagi. Napas tiga orang dewasa yang baru selesai melepas birahi tersengal-sengal.
Mereka hanya beristirahat setengah jam, permainan kelamin dilanjutkan lagi. Kali ini Eunseok digenjot kontol Bapak dan suaminya di lubang memek dan anal.
Ketiganya baru berhenti karena kelelahan saat matahari mulai muncul di ufuk timur. Tubuh telanjang mereka berpelukan mesra di atas kasur yang berantakan karena pergumulan cinta.
Di kamar lain di gedung hotel yang sama, Marisa yang sudah bangun pagi menatap ruang obrolan dengan sang suami yang tidak berbalas sejak semalam. Tidak sadar tubuh suaminya tengah tepar dikelilingi dua gundik muda yang bisa puaskan hasrat binatangnya. Benar-benar perempuan malang.
FINNNN FINNNN
