Actions

Work Header

THE PERSON I THINK OF WHEN MASTURBATION IS MY PROFESSOR??

Summary:

Anaxa, seorang profesor, memutuskan mencari uang tambahan dengan mengunggah video pembelajarannya di Y*ut*be. Namun penontonnya sangat sedikit, dan hasilnya tidak memuaskan. Memutuskan ide gila, ia mengunggah video pembelajarannya di situs porno untuk menggaet lebih banyak penonton.

Phainon, seorang mahasiswa, ingin bermasturbasi malam-malam. Ia menemukan sebuah video aneh (video pembelajaran) yang diunggah di situs porno. Penasaran, ia menonton video tersebut. Videonya bagus, dan suaranya sangat seksi, sehingga Phainon bermasturbasi dengan berimajinasi menggunakan suara orang tersebut.

Betapa terkejutnya Phainon, ternyata orang yang mengunggah video tersebut ternyata adalah salah satu profesornya. Sekarang bagaimana cara Phainon meminta maaf kepada profesornya karena telah lancang menggunakan suaranya sebagai objek masturbasi?

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Chapter Text

Gaji seorang pendidik sangatlah kecil.

 

Anaxa tahu tentang hal itu, tetapi itu tidak menghentikan dedikasinya untuk menyebarkan ilmu pengetahuan dan mendidik murid-muridnya. Tetapi, karena gaji miliknya terlalu kecil, ia harus mengambil langkah rasional. Rekan kerjanya berkata ia bisa membuat video pembelajaran untuk diunggah di Y*ut*be platform, dan dia akan mendapat biaya tambahan dari jumlah penonton yang mengikuti siarannya. Ia pun mengikuti saran rekannya, mengunggah videonya di Y*ut*be. Hal ini juga mendapatkan respon positif dari mahasiswanya, karena para mahasiswa dapat mengulang penjelasannya hanya dengan menonton ulang videonya di Y*ut*be. Hal ini sangat menguntungkan, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Namun, setelah satu bulan berjalan, ternyata pendapatannya dari Y*ut*be tidak setinggi yang ia kira. Jumlah penontonnya masih terlalu sedikit untuk mendapatkan uang yang layak dari Y*ut*be. Ia pun memutar otak, memikirkan platform mana yang cocok untuk mengunggah videonya dan mendapatkan banyak penonton.

 

Lalu ide gila melintas di otaknya. Bagaimana kalau videonya diunggah di situs porno? 95% mahasiswa sudah menginjak usia legal, yang mana mereka secara legal dapat mengakses situs porno. Dan juga, kemungkinan mahasiswa untuk membuka situs porno sepertinya lebih tinggi dibandingkan membuka Y*ut*be.

 

Dan ajaibnya, idenya berhasil. Videonya yang diunggah di situs porno mendapatkan 1.000 kali tayangan lebih banyak dibanding videonya yang diunggah di Y*ut*be. Walau yah, banyak komentar cabul di postingannya (yang jelas-jelas postingan itu hanya berisi pelajaran, bukan konten cabul), tapi Anaxa tidak terlalu memedulikannya. Yang terpenting baginya, videonya mendapat banyak penonton, dan ia mendapatkan uang tambahan untuk mencukupi kebutuhan bulanannya.

 

— — — — —

 

Di sisi lain, Phainon adalah mahasiswa semester 4. Dan malam ini, Phainon merasa birahinya sedang sangat tinggi. Namun Phainon adalah mahasiswa yang baik dan berbudidaya, jadi ia tidak akan melecehkan orang lewat untuk memuaskan rasa birahinya. Ia memutuskan berdiam diri di kamar, bermain solo sambil menonton apapun yang disediakan oleh situs porno.

 

Tangan Phainon mengklik situs yang sudah sangat dikenalnya, mencari-cari video yang menurutnya menarik. Saat kursor laptop Phainon menggulir ke bawah, muncul satu video yang menurutnya aneh untuk diunggah di situs ini. Video itu memiliki gambar muka seorang… Pengajar kalau Phainon boleh menebak, bajunya rapi seperti dosen-dosennya di kelas, dan di belakangnya ada papan putih yang sudah penuh dengan rumus-rumus. Penasaran, Phainon pun mengklik video tersebut.

 

Dan ternyata benar, video itu bukanlah video porno, melainkan video pembelajaran salah satu mata kuliahnya. Ia pun menontonnya, berusaha fokus dengan apa yang dijelaskan oleh orang itu. Tapi sayangnya penis Phainon sudah sangat keras, dan suara orang itu sangat seksi, jadi ia menggerakkan tangannya ke arah penisnya, bermasturbasi dengan suara orang itu sebagai latar belakang. Tak lama, Phainon keluar dengan keras, membasahi laptopnya dengan percikan air maninya, bertepatan pula dengan akhir dari video tersebut. Merasa bersalah karena menjadikan orang yang sedang mengajar ilmu pengetahuan sebagai bahan masturbasinya, Phainon pun memutuskan untuk memutuskan untuk menonton video-video lain yang diunggah orang tersebut. Dan seperti dugaannya, konten unggahannya hanya berisi penjelasan tentang pelajaran kuliah, dan tidak ada satupun konten cabul. Phainon pun memutuskan untuk memencet tombol subscribe, karena cara mengajar orang itu sangat bagus (walau ya cukup aneh karena videonya diunggah di situs porno). Dan juga nama akun orang itu adalah ‘Mint Cat Professor’, dan menurut Phainon itu sangat lucu karena cocok dengan rambut mint orang itu.

 

Namun sayang, suara orang itu terlalu seksi. Penis Phainon kembali berdiri tegak.

 

Phainon menghela napas, akhirnya sekali lagi bermasturbasi dengan membayangkan orang itu.

 

— — — — —

 

‘Dumb Samoyed’ menyukai video ‘Fisika Jiwa Dasar’ milik anda!

‘Dumb Samoyed’ menyukai video ‘Alkimia Dasar’ milik anda!

‘Dumb Samoyed’ menyukai video ‘Prinsip Pertukaran Setara’ milik anda!

‘Dumb Samoyed’ menyukai video ‘Tutorial Praktikum Alkimia 1’ milik anda!

‘Dumb Samoyed’ menyukai video ‘Kosakata Penting dalam Alkimia’ milik anda!

.

.

.

‘Dumb Samoyed’ mengikuti anda!

 

Anaxa bangun dengan berbagai notifikasi yang membanjiri teleponnya. Anaxa mengernyit, entah siapa ‘Dumb Samoyed’ ini. Ia menduga, mungkin saja orang ini ingin bermasturbasi malam-malam, tapi sialnya malah mengklik video membosankan miliknya. Tetapi sudahlah, Anaxa tidak mau mengambil pusing. Dengan ‘Dumb Samoyed’ ini mengikuti akunnya, dan menyukai video miliknya, itu berarti orang ini masuk ke daftar tambahan algoritma video miliknya, yang berarti kemungkinan pendapatannya bulan ini bisa naik meski tidak sampai 1%. Tapi, kenaikan tetaplah kenaikan.

 

Anaxa pun bersiap-siap pergi ke kampus, berdoa semoga harinya dipenuhi keberuntungan.

 

— — — — —

 

Phainon berlari menuju ruang dosen mata kuliah fisika jiwa, ia lupa kalau ia punya tugas kuliah dengan tenggat waktu tengah hari ini. Sial, dia keasyikan bermasturbasi kemarin, sepenuhnya lupa dengan tugasnya. Dalam hati ia menghukum dirinya sendiri untuk tidak melakukan masturbasi selama sebulan ke depan, konsekuensi pribadi karena melupakan tugasnya.

 

Ia terburu-buru mengetuk ruangan dosen, dan langsung menerobos masuk sebelum dipersilahkan oleh dosen yang ada di dalam. Terserahlah, Phainon sedang terburu-buru sekarang, dan kalaupun ia dimarahi karena menerobos ruang dosen, ia bisa berkilah bahwa ia telah mengetuk pintu sebelumnya.

 

Dan untungnya, di dalam ruangan itu hanya terdapat satu dosen yang tampaknya tidak peduli dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Phainon pun memutuskan untuk minta maaf duluan kepada dosen tersebut sebelum dimarahi.

 

“Maaf prof, saya izin mengumpulkan tugas.”

 

Dosen itu mengangkat kepalanya, menatap dirinya. Setelah melihat wajah dosen itu, Phainon terkejut!

 

BAGAIMANA BISA PROFESOR ITU ORANG YANG SAMA DENGAN ORANG YANG MENJADI BAHAN MASTURBASINYA KEMARIN MALAM?? ORANG YANG DENGAN ANEH MENGUNGGAH VIDEO PEMBELAJARAN DI SITUS PORNO??

 

Tanpa sadar, kertas tugas yang ada di genggaman Phainon jatuh berserakan di tanah. Profesor itu mengernyit melihat tingkah lakunya.

 

“Apa yang kau lakukan? Cepat kumpulkan kertas-kertasmu yang berserakan dan kumpulkan tugasmu di meja dosenmu yang bersangkutan.” Ucap profesor itu.

 

Phainon yang baru tersadar dari keterkejutan singkatnya, buru-buru mengangguk dan meminta maaf kepada profesor itu (yang hanya dibalas profesor itu dengan lambaian tangan). Phainon pun mengumpulkan kertas-kertasnya, dan menaruh tugasnya di atas meja dosennya.

 

‘Sial, bagaimana bisa objek masturbasinya kemarin malam ternyata adalah seorang dosen di fakultasnya??’

 

— — — — —

 

Setelah dari ruang dosen, Phainon mulai mencari informasi tentang dosen itu dari temannya. Untungnya, ia memiliki teman yang menjadi asisten dosen dari mata kuliah tersebut. Phainon pun menginterogasinya tentang profesor tersebut.

 

“Hey Hyacine, kau tahu nama profesor berambut hijau dari mata kuliah Fisika Jiwa?”

 

“Profesor berambut hijau… Profesor Anaxa? Ada perlu apa dengan profesor Anaxa?” Hyacine yang sedang makan kue menoleh ke arah Phainon.

 

“Um yah… Tadi saat aku mengumpulkan tugas, aku melihat profesor itu ada di ruangan dosen. Namun aku tidak pernah melihat profesor itu selama aku berkuliah di sini, jadi aku sedikit penasaran tentang profesor itu.” Phainon sedikit berkilah. Mana mungkin dia memberitahu Hyacine tentang insiden kemarin malam??

 

“Ah, Profesor Anaxa memang hanya mengajar mata kuliah lanjutan di semester 6, dan membimbing skripsi. Jadi memang kamu tidak pernah bertemu dengannya untuk saat ini.”

 

“Ah… Begitu. Terima kasih banyak atas informasinya Hyacine!” Phainon melambaikan tangan, berjalan pergi meninggalkan Hyacine yang lanjut memakan kuenya.

 

“Tentu saja Phai! Jangan lupa untuk makan siang!” Hyacine membalas.

 

“Tentu saja!” Phainon membalas dengan berteriak sambil berlari.

 

Sial, makan siang? Phainon sedang tidak nafsu makan sekarang. Bagaimana ada orang yang bisa nafsu untuk makan siang ketika mengetahui fakta bahwa objek masturbasimu kemarin malam adalah profesormu sendiri, dan lebih parahnya ternyata dosen untuk mata kuliah di semester atas?? Gila, Phainon sudah gila sekarang.

 

Mungkin, Phainon harus menyiapkan surat pengunduran diri dari universitas untuk mempersiapkan skenario terburuk.

 

— — — — —

 

Sudah seminggu Anaxa merasa diawasi secara diam-diam. Dan ini membuatnya merasa tidak nyaman. Anaxa akhirnya memutuskan untuk menjebak penguntitnya, bila perlu melaporkannya ke satgas ppks apabila ini mengarah ke tindakan pelecehan.

 

Anaxa pun berpura-pura masuk ke mobilnya, menunggu penguntitnya menampakkan diri. Tidak berselang lama, ia melihat ada seseorang berambut putih yang mengendap-endap, terlihat seperti mengintip parkiran mobil dosen. Anaxa menghela napas, penguntitnya keluar juga. Anaxa pun keluar dari mobil, mengendap-endap untuk mengagetkan penguntitnya dan menginterogasinya kalau perlu. Ketika ia berada di belakang penguntitnya, ia menepuk pundaknya.

 

“Apa yang kau lakukan?”

 

Penguntit itu membalikkan badan, badannya melonjak kaget karena terkejut. Anaxa mengernyitkan dahi, merasa familiar dengan wajah ini. Anaxa berusaha mengingat-ingat, sampai ia teringat insiden seminggu yang lalu.

 

“Ah, mahasiswa yang menghamburkan kertas tugasnya saat itu? Sekarang katakan, kenapa kau mengikutiku diam-diam? Apakah kau memang berencana menguntitku?” Anaxa mendekatkan tubuhnya, mencecarkan berbagai macam pertanyaan.

 

Mata mahasiswa itu tidak mau menatapnya, melihat sekeliling dengan panik. Sudah jelas mahasiswa ini pasti menyembunyikan sesuatu.

 

“Katakan sejujurnya padaku. Jangan coba-coba membohongiku atau kau harus menandatangani surat pengunduran diri sebagai mahasiswa karena menguntit seorang profesor.” Anaxa mengancam.

 

“AH, JANGAN MENGELUARKAN DIRIKU PROF. AKU CUMA INGIN MEMINTA MAAF.” Mahasiswa di depannya mengatupkan kedua tangannya di depan kepalanya, membungkuk meminta maaf.

 

Anaxa mengernyit, ‘Meminta maaf? Memangnya anak ini pernah buat masalah apa dengannya? Seingatnya dia tidak pernah bertemu anak ini di setiap mata kuliah yang diajarkannya.’

 

Anaxa memundurkan dirinya, bertanya kepada mahasiswa itu. “Minta maaf? Memangnya kamu pernah berurusan apa denganku?”

 

Mata mahasiswa itu masih menatap sekeliling dengan panik. Jelas masih ada kebenaran yang belum terungkap.

 

“Jawab aku.” Kata Anaxa tegas.

 

“Maafakutelahmembuatmumenjadiobjekmasturbasiku.” Mahasiswa itu menunduk, menggumamkan sesuatu yang tidak dipahami Anaxa.

 

“Hah? Katakan dengan jelas mengapa kamu meminta maaf.” Anaxa membentak.

 

“MAAF AKU TELAH MEMBUATMU MENJADI OBJEK MASTURBASIKU!” Mahasiswa itu berteriak sambil bersujud di hadapannya.

 

Anaxa kaget dan terdiam. Ia masih mencerna kalimat mahasiswa di depannya. Saat kesadaran menabraknya seperti kereta, seluruh wajahnya berubah menjadi merah.

 

“BODOH! BAGAIMANA KAU BISA MENGATAKAN HAL YANG TAK TAU MALU SEPERTI ITU DI TEMPAT UMUM!”

 

Akhirnya, untuk menghindari hal-hal memalukan seperti tadi terulang kembali, Anaxa menarik lengan mahasiswa itu untuk memasuki mobilnya. Setelah situasi sedikit lebih tenang, Anaxa membuka percakapan, bertanya kepada mahasiswa itu.

 

“Jadi, siapa namamu?”

 

“Phainon.” Mahasiswa itu—Phainon berkata sambil menunduk malu.

 

“Hah… Ok Phainon, jadi ceritakan secara lengkap kejadiannya.” Anaxa menghela napas dan bertanya.

 

Phainon di sebelahnya pun bercerita secara rinci. Mulai dari ia yang ingin bermasturbasi, lalu tidak sengaja memencet videonya, setelah itu ia malah melanjutkan masturbasi karena suaranya yang seksi, dan karena merasa bersalah ia memutuskan untuk menonton seluruh videonya, tapi malah tidak sengaja bermasturbasi lagi karena suaranya yang seksi. Anaxa memijat pangkal hidungnya, pusing dengan banyaknya informasi yang absurd dan tidak masuk akal ini. Setelah itu, sebuah ingatan menghantamnya.

 

“Jadi, kaulah pemilik akun ‘Dumb Samoyed’ itu?” Anaxa menebak.

 

“Iya…” Phainon menunduk.

 

Hah… Puzzlenya kini sudah terpasang. Dari notifikasi dari akun ‘Dumb Samoyed’ yang membanjiri teleponnya, Phainon yang kaget saat melihatnya di ruangan dosen itu, dia yang diikuti selama seminggu, semuanya sedikit terasa masuk akal sekarang.

 

“Jadi, kau masturbasi karena suaraku yang menurutmu seksi?” Anaxa menoleh, bertanya pada Phainon.

 

“Iya…” Phainon masih menunduk.

 

Anaxa sedikit kesal. Apakah Phainon hanya mampu berbicara satu kata saja dan sambil menunduk? Apakah Phainon tidak pernah diajari untuk menatap lawan bicaranya apabila sedang diajak mengobrol? Kesal, Anaxa mengikuti arah pandang Phainon ke bawah. Dan oh, Anaxa mengerti kenapa Phainon terus menunduk. Tonjolan besar di celananya menjelaskan segalanya.

 

“Kau keras lagi? Di sini? Saat ini??”

 

“Sudah kubilang, suaramu seksi prof. Maaf aku tidak bisa menahannya." Phainon semakin menunduk, telinga dan pipinya semakin memerah.

 

Anaxa menghela napas, menyalakan mesin mobilnya dan keluar dari parkiran fakultas. Phainon di sebelahnya bertanya-tanya.

 

“Prof? Kau mau membawaku kemana?”

 

“Ke rumahku.”

 

— — — — —

 

Tunggu.

 

Phainon tidak salah dengar kan?

 

Rumah.

 

Profesornya mau membawanya ke rumahnya.

 

Sial, profesornya tau penisnya sedang keras sekarang, dan respon profesornya adalah membawanya ke rumahnya. Hal ini mengarah ke arah satu kesimpulan di otak Phainon.

 

“Profesor… Apakah kita akan melakukan itu di rumahmu?” Phainon dengan hati-hati bertanya.

 

“Tentu saja. Aku harus bertanggung jawab karena membuatmu keras, dan aku tidak mungkin membiarkanmu berjalan-jalan dengan memamerkan tonjolan besarmu itu. Dan tolong diam sampai kita sampai di rumahku, atau kau akan kulempar ke jalan.” Profesornya menjawab sambil mengemudi dan memperhatikan jalan di depannya.

 

Phainon pun terdiam di kursinya, memeluk tasnya yang ada di pangkuannya untuk menyembunyikan tonjolannya.

 

— — — — —

 

Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di rumah profesornya. Phainon turun duluan dari mobil, menunggu profesornya untuk mengunci pintu mobilnya. Setelah itu, mereka berdua memasuki rumah profesornya.

 

Setelah masuk, profesornya langsung menyuruh Phainon untuk mandi duluan. Ia pun mandi, berusaha menenangkan penisnya yang keras sedari tadi. Phainon sedikit bertapa, memikirkan hal-hal baik, memikirkan apa saja untuk melupakan ingatannya tentang suara profesornya yang seksi atau fakta bahwa dia sedang berada di rumah profesornya. Setidaknya usahanya berhasil, penisnya sedikit melunak—masih keras, tapi tidak sekeras tadi.

 

Setelah Phainon mandi, kali ini giliran profesornya yang mandi. Profesornya menyuruhnya untuk duduk diam di kamar, dan Phainon pun melakukannya. Rasanya tegang dan penuh antisipasi saat Phainon menunggu profesornya selesai mandi, karena ia dapat mengira apa yang akan mereka lakukan setelah ini.

 

Setelah profesornya selesai mandi, profesornya masuk ke kamar dengan rambut masih setengah basah serta tubuhnya hanya dililit oleh handuk. Sial, pemandangan itu langsung membuat penis Phainon tegak kembali, tersihir oleh kecantikan yang penuh godaan dari profesornya.

 

Profesornya berjalan ke arah samping tempat tidur, merogoh laci di nakas. Profesornya mengeluarkan sebotol cairan bening—lube, Phainon tau benda itu. Hal itu membuat Phainon merinding, ia benar-benar akan melakukan hal itu bersama profesornya.

 

“Profesor, kau yakin akan melakukan ini bersamaku?” Phainon memegang tangan profesornya sebelum melangkah lebih jauh, sekali lagi bertanya untuk memastikan.

 

“Tentu saja. Kau berani menggunakanku sebagai objek masturbasimu, lalu mengapa kau tidak berani untuk berhubungan badan denganku?” Profesornya menarik tangannya dari genggaman Phainon, hendak membuka tutup botol lube.

 

“Sejujurnya profesor, ini kali pertamaku. Biasanya aku hanya mengocok penisku sendiri, tidak pernah dibantu orang lain atau berhubungan badan dengan orang lain.” Phainon malu-malu mengakui, mengusap tengkuknya yang mulai ikut memerah.

 

Profesornya mengerjap, mungkin kaget dengan fakta ini. Yah sangat jarang untuk menemukan orang yang masih perawan di usia Phainon saat ini. Tapi siapa yang bisa menyalahkannya, Phainon hanya ingin menjadi anak baik yang tidak menancapkan penisnya di sembarang orang hanya karena ia bernafsu.

 

“Yah terserahlah, kalau begitu aku harus mengajarkanmu langkah-langkahnya dan mempersiapkan diriku lebih banyak.” Profesornya terlihat tidak peduli, membuka handuknya dan menuangkan lube dari botol itu ke penis Phainon yang keras.

 

Saat tetesan pertama lube itu mengenai penis Phainon, Phainon mengernyit karena sensasinya yang dingin. Setelah profesornya meneteskan cukup banyak lube, profesornya pun meratakannya di penis Phainon, mengelusnya dengan lembut.

 

“Ah, satu lagi.” Professornya mendekat, berbisik ke arah telinganya. “Jangan panggil aku profesor di ranjang. Panggil aku dengan namaku, Anaxa.” Profesornya—Anaxa sedikit meniup telinganya ketika ia selesai berbicara.

 

Gila. Phainon sudah gila. Suara Anaxa benar-benar membuatnya tergila-gila. Saat Anaxa berbisik di telinganya tadi, kepala Phainon sangat pusing, dan penisnya mulai mengeluarkan tetesan precum.

 

“Hm? Sudah mengeluarkan precum hanya karena suaraku? Apakah suaraku terlalu memengaruhimu?” Anaxa menggodanya, menggosokkan tangannya di penis Phainon dengan lambat.

 

“Ngghh… Anaxaaa…” Phainon mengernyit, merasakan sensasi dari godaan Anaxa.

 

Jari-jari Anaxa kecil, tidak mampu mencengkram penisnya dengan sempurna. Berbeda dengan jari-jarinya yang besar dan mampu mencengkram seluruh lingkar penisnya. Perbedaan ukuran mereka semakin membuat Phainon terangsang.

 

“Nah Phai,” Anaxa memperlambat gerakannya. “Daripada kau menganggur, kemarikan tanganmu.”

 

Phainon pun mengulurkan tangan kanannya kepada Anaxa, dan Anaxa langsung menuangkan lebih banyak lube ke tangannya. Setelah itu, Anaxa duduk di atas paha Phainon.

 

“Gosok jari-jarimu di penisku.” Perintah Anaxa.

 

Dan setelah itu, Phainon dan Anaxa saling menggosok penis mereka. Napas mereka yang panas saling beradu dan hampir tidak terpisahkan jarak. Phainon memperhatikan bibir Anaxa, dan nafsunya mengambil alih logikanya.

 

“Anaxa, bolehkah aku mencium bibirmu?” Phainon meletakkan tangan kirinya di pipi Anaxa.

 

“Ngh, ya, tentu saja.” Anaxa menjawab sambil mendesah.

 

Dan Phainon pun mendekatkan bibir mereka. Awalnya hanya kecupan ringan, sebelum Phainon melumat bibir Anaxa seperti ingin memakannnya. Anaxa membuka bibirnya, berharap lidah Phainon akan masuk dan menggoda lidahnya sendiri. Phainon mengerti dengan isyaratnya, memasukkan lidahnya ke dalam mulut Anaxa, mengajak lidah Anaxa untuk berdansa. Mereka terus berciuman sampai pasokan udara mereka menipis. Saat mereka melepaskan ciuman, kepala Phainon tertunduk di persimpangan leher Anaxa.

 

“Anaxa… Aku… Sudah mau keluar…” Phainon terengah-engah di leher Anaxa.

 

Napas Phainon yang menyapu leher Anaxa sungguh membuat Anaxa bergairah. Anaxa juga sudah merasa di ambang batasnya, jadi ia mempercepat kocokannya di penis Phainon.

 

“Sebentar lagi, kita akan keluar bersama.” Anaxa terengah-engah.

 

Memang, tak lama kemudian, mereka mencapai putihnya. Anaxa keluar dengan gemetar dari tangan Phainon, dan Phainon keluar sambil menggigit leher Anaxa, mencoba menahan kewarasannya. Setelah itu, mereka terengah-engah, berusaha mengatur napas.

 

“Bagaimana? Masturbasi sambil dibantu orang lain?” Anaxa bertanya sambil mengelus rambut Phainon dengan tangannya yang masih bersih.

 

Phainon mendongakkan kepalanya dari persimpangan leher Anaxa, “Sempurna. Tapi ini sangat sempurna karena aku melakukannya bersamamu.”

 

“Huh. Dasar mahasiswa bermulut manis.” Anaxa menyentil dahi Phainon.

 

“Aw! Profesor, kamu kejam!” Phainon mengusap kepalanya di tempat Anaxa menyentilnya tadi.

 

Anaxa tidak peduli dengan keluhan Phainon. Ia mengambil tisu di atas nakas, membersihkan tangannya dan tangan Phainon yang kotor oleh campuran sperma dan lube. Setelah bersih, Anaxa bertanya pada Phainon.

 

“Jadi? Sudah siap untuk langkah selanjutnya?”