Work Text:
Max menutup kemenangan gemilang di Monza. Sorak sorai penonton masih bergema di telinga, atmosfer kemenangan seakan menempel di udara. Di paddock, tim Red Bull larut dalam pesta kecil merekaㅡchampagne berhamburan, tawa membahana, semua mata tertuju pada sang juara malam itu.
Namun di tengah hiruk pikuk perayaan, tatapan Max justru tak henti-hentinya mencari sosok lain.
Di sudut ruangan yang penuh gelas champagne dan jersey tim Red Bull, Max akhirnya menemukan yang ia cari. George Russell, masih dengan rambut basah usai shower, berdiri agak jauh sambil berbincang singkat dengan mekaniknya. Aura tenang George kontras dengan hingar-bingar pestaㅡtapi justru itu yang membuat Max tak bisa mengalihkan pandangan.
Dengan langkah percaya diri, Max mendekat.
"Enjoying the party, Russell?" tanyanya, nada congkak khas pemenang.
George menoleh sekilas, meneguk minumannya sebelum menjawab. "It's your party, Verstappen. I'm just passing through."
Senyum tipis Max makin melebar. Ia tahu, di balik kalimat datar itu, ada sesuatu yang lebih dalam.
Max menyandarkan gelas kosongnya ke meja terdekat, lalu mencondongkan tubuh ke arah George, suaranya lebih rendah agar hanya mereka berdua yang bisa dengar.
"Passing through, huh? Funny. I thought you were staring at me on the podium."
George mendengus, mencoba menahan senyum sinis. "Don't flatter yourself, Max."
Alih-alih tersinggung, Max justru semakin puas. Ia mendekat lebih jauh, cukup dekat hingga aroma champagne dan parfum maskulinnya terasa menusuk. "Come on, Russell. You don't belong in this crowd. Let's get some air."
Sebelum George bisa protes, Max sudah meraih pergelangan tangannya, menariknya menjauh dari sorakan dan lampu pesta. Mereka keluar melewati lorong yang sepi, langkah mereka bergema.
George akhirnya berusaha menahan, menatap Max dengan alis terangkat, "And where exactly are we going?"
Max hanya menyeringai, matanya menatap tajam. "Somewhere quiet. Trust me."
Langkah Max terdengar mantap di lorong paddock yang gelap. George sempat menahan diri, tapi genggaman Max di pergelangan tangannya terlalu kuat untuk ditolak. Mereka akhirnya berhenti di depan garasi Red Bullㅡpintu sebagian terbuka, lampu neon putih masih menyala temaram, dan aroma khas bensin serta karet ban masih menempel di udara.
"Why here?" tanya George, suaranya rendah tapi penuh protes.
Max menoleh, menatapnya dengan senyum miring yang arogan. "Because this is where I feel most alive."
Tanpa aba-aba, Max mendorong George ke arah salah satu mobil RB21 yang masih terparkir rapi. Bunyi kecil logam beradu terdengar ketika punggung George menyentuh sisi mobil. Ia mendesis pelan, namun belum sempat melawan, Max sudah menutup jarak, menempelkan tubuhnya ke George, mencium dengan agresif.
Champagne, bensin, dan keringat bercampur jadi satu dalam udara tipis. George menahan napas, tangannya terangkat otomatis ke bahu Max, bukan untuk menolak, melainkan untuk menariknya lebih dekat.
Di balik pintu garasi yang hanya setengah tertutup, dunia luar masih adaㅡtapi di dalam sini, hanya ada mereka berdua, dengan detak jantung yang berlomba lebih cepat daripada mesin F1.
George menarik napas berat saat Max mulai membuka kemejanya dengan kasar. Suara kecil gesekan kain terdengar nyaring di ruang yang sepi. Dada George terekspos, dan Max langsung menunduk, menempelkan bibirnya pada kulit hangat itu. Hisapan singkat meninggalkan tanda merah di sekitar tulang selangka, membuat George menggertakkan giginya agar tidak bersuara terlalu keras.
"Max, kalau ada yang masukㅡ"
"Then you better stay quiet," bisik Max, senyumnya setengah bengis.
George menunduk, membenamkan wajahnya di bahu Max saat tangan lawannya turun semakin jauh, melewati pinggang, hingga membuka kancing celananya. Suara napas mereka berpacu dengan cepat, bercampur dengan aroma karet ban yang masih segar.
Pinggul George menegang ketika Max menggenggamnya erat, memberi tekanan yang membuat tubuhnya bergetar. Jemarinya mencengkeram kap mobil, kuku nyaris menggores cat biru dongker RB21.
"Fuck..." desah George tertahan, tubuhnya melengkung menekan lebih dekat pada Max.
Di luar, ada kemungkinan kapan saja seseorang bisa lewat dan membuka pintu garasi. Tapi justru itu yang membuat setiap sentuhan, setiap gesekan, semakin terasa berbahayaㅡdan semakin panas.
Max semakin liar, bibirnya bergerak dari dada George hingga ke leher, meninggalkan jejak yang akan sulit disembunyikan. Sementara tangannya bekerja cepat, melucuti sisa pakaian George hingga tubuhnya benar-benar terbuka di bawah cahaya neon yang dingin.
George menggertakkan gigi, mencoba menahan desahan yang nyaris lolos. Setiap sentuhan membuat tubuhnya bergetar, tapi ia tahu tak boleh berisik. Kalau ada yang masuk, habis sudah mereka.
"Max, cepat," bisiknya, suara parau penuh urgensi.
Senyum congkak kembali muncul di wajah Max. "So needy, Russell."
Dengan satu gerakan pasti, Max menekan tubuh George ke kap mobil. Gesekan kulit panas melawan dinginnya logam membuat George melengkungkan punggungnya. Pinggul Max bergerak, semakin cepat, semakin dalam, hingga suara napas mereka terdengar seperti raungan mesin yang teredam.
George menutup mata erat, tangannya meraih bahu Max, kuku menancap keras di sana. Suara kecil lolos juga dari bibirnya meski ia berusaha keras menahannya.
Puncaknya datang begitu cepatㅡpanas, intens, dan mustahil ditahan lagi. George terhuyung, tubuhnya bergetar hebat ketika klimaks menerjang, hampir bersamaan dengan Max yang menekan dirinya lebih dalam dengan desahan berat.
Hening sejenak. Hanya suara napas mereka yang memburu, memenuhi garasi kosong Monza.
George terkulai di kap mobil, tubuhnya masih berkeringat, rambut berantakan. Max menunduk, menempelkan keningnya ke dahi George, senyum tipis terlukis di bibirnya.
"Kau tahu," gumam Max, suaranya rendah, "winning feels good, but thisㅡ" ia mengecup singkat bibir George, "ㅡis even better."
George hanya mendengus, meski pipinya memerah. "Kau bajingan, Verstappen."
Max terkekeh, menepuk paha George sebelum merapikan kembali pakaiannya. "And you love it."
George baru saja menarik kembali celananya ketika suara langkah kaki terdengar dari arah lorong. Lampu garasi bergoyang samar saat pintu besi sedikit bergetar.
"Shitㅡ" George langsung melompat turun dari kap mobil, buru-buru merapikan kemejanya yang kusut. Napasnya masih belum teratur, wajahnya memerah bukan hanya karena panas, tapi juga panik.
Max, sebaliknya, tetap tenang. Ia meraih jaket tim Red Bull di kursi terdekat dan menyampirkannya di pundak George, menutupi bekas yang jelas terlihat di lehernya. Senyumnya muncul lagi, tenang sekaligus menyebalkan.
Pintu garasi terbuka setengah, seorang mekanik memasukkan kepala.
"Eh, Max? Kau masih di sini? Kami pikir kau sudah di afterparty."
Max melirik sekilas ke George yang berdiri agak membelakangi pintu, lalu menjawab santai, "Yeah, just checking on the car. You know, making sure she's still perfect."
Mekanik itu mengangguk tanpa curiga, lalu menutup kembali pintu.
Begitu suara langkah menjauh, George menatap Max tajam, wajahnya campuran lega dan marah. "Kau hampir saja membuat kita ketahuan."
Max menyeringai, lalu mencondongkan tubuh berbisik di telinganya, "Almost makes it better, doesn't it?"
George mendengus keras, tapi tidak menyangkal.
