Work Text:
sesa josephine, seorang fashion stylist di sebuah creative company, belakangan ini tenggelam dalam kesibukan. proyek campaign new collection yang akan segera launching menuntut banyak persiapan, membuatnya sering pulang larut malam.
sedangkan nancy, rekan kerjanya yang menjabat sebagai social media specialist, sering merasa iba melihat kondisi sesa. meskipun nancy juga sama sibuknya, tapi ia akui bebannya tak seberat sesa.
pagi itu, seperti ritualnya setiap hari, nancy menyalakan lilin aromaterapi di mejanya. aroma menenangkan yang menguar dari lilin itu segera memenuhi seisi ruangan, menyentuh indra penciuman sesa yang sedang berjalan melewatinya, membuatnya berhenti sejenak.
"enak banget! varian baru?" tanya sesa mendekat, matanya mencari sumber aroma.
nancy tersenyum tipis, matanya masih fokus pada layar komputernya, "iya nih. semalem baru beli lagi di mier."
mierㅡ toko langganan nancy, menjual aneka produk aromaterapi seperti lilin, essential oil, hingga diffuser. entah seberapa sering nancy mengunjungi toko itu, yang pasti sesa yakin temannya tersebut mampir setidaknya seminggu sekali ke sana untuk berbelanja lilin-lilin aromaterapi kesayangannya.
“lo sering banget deh ke mier," komentar sesa, sebuah nada iri terselip dalam suaranya.
“yahh namanya juga stress release," jawab nancy santai, akhirnya menoleh dan menatap sesa. "kayanya lo juga perlu deh."
sesa menghela napas panjang, menandakan lelah yang tak tersembunyi. "kalau cuma beli lilin aromaterapi doang sih mending gue nitip lo aja. udah nggak ada tenaga kemana-mana lagi pulang kerja. rontok semua badan gue."
"cobain spa-nya deh," usul nancy, nadanya penuh keyakinan.
sesa mengerutkan kening. "hah? gue baru tau mier ada spa? bukannya cuma jualan barang-barang aromaterapi kayak lilin dan oil gitu-gitu doang?"
nancy menggeleng, senyumnya kini berubah menjadi seringai kecil penuh rahasia. "enggak dong. khusus gold member, dia ada special treatment-nya. kalau regular member belum bisa."
"canggih banget?" sesa sedikit takjub, rasa penasarannya terusik.
nancy tersenyum miring, seperti seorang agen rahasia yang baru saja membocorkan informasi penting. "mau nggak? kalau mau, lo cobain spa-nya pake member gue deh, nanti gue bantu registrasiin. tapi, harganya lumayan sih…”
"hmm… nggak dulu deh, nen. next time mungkin?" tolak sesa, meskipun ada secercah godaan di hatinya.
"ayolah, ses…” bujuk nancy tak menyerah, suaranya kini terdengar lebih mendesak. "gue anterin deh kalau lo capek nyetir, dijamin spa-nya mantep banget, nggak bakal nyesel. percaya sama gue."
sesa menimbang-nimbang, antara rasa lelah yang membelenggu dan bujukan menggiurkan dari temannya. akhirnya, ia mengalah, "ya udah deh… besok kali ya?"
"aman!" seru nancy lega, senyumnya melebar.
setelah sedikit perdebatan, akhirnya ia pun menurut pada bujukan nancy. nggak ada salahnya juga mencoba, toh badannya memang sangat butuh relaksasi. ia hanya berharap "mantap" yang dijanjikan nancy benar-benar bisa mengembalikan semangatnya yang hampir terkuras habis belakangan ini.
_______________
keesokan harinya, nancy benar-benar menepati ucapannya mengantar sesa langsung ke mier setelah pulang dari kantor. sesampainya di sana, wangi menenangkan dari berbagai lilin dan minyak esensial langsung menyambut mereka di pintu masuk. nancy yang sudah hapal seluk-beluk tempat itu, langsung melangkah ke bagian lilin aromaterapi yang dipajang, matanya berbinar memilih-milih varian baru.
"lo langsung aja ke lantai dua, ses..." seru nancy tanpa menoleh, jarinya menunjuk ke arah tangga.
sesa menghela napas, napas lelah yang sudah menjadi teman setianya akhir-akhir ini. dengan langkah sedikit gontai—efek dari tumpukan pekerjaan yang tak kunjung usai—ia menapaki anak tangga menuju lantai dua. sesa melihat dua ruangan tertutup dan sebuah meja kecil di dekatnya, di mana seorang perempuan berseragam rapi tersenyum menyambutnya.
"selamat malam, kak," sapa perempuan itu ramah, senyumnya meneduhkan. "dengan kak sesa, ya?"
sesa mengangguk. perempuan itu kemudian menyerahkan selembar kain khusus untuk penutup badan dan sebuah kotak tidak begitu besar. "ini kain untuk kak sesa pakai nanti setelah ganti baju, dan ini kotak untuk simpan pakaian serta barang-barang kakak. silakan pilih varian minyaknya dulu ya, kak.”
sesa mengamati deretan botol botol kecil berisi minyak esensial, mencium satu per satu aromanya, mencoba menemukan yang paling pas dengan suasana hatinya. setelah memilih varian vanilla lavender, perempuan berseragam itu kembali berbicara, "baik kak. untuk pijatnya nanti ada bagian yang kurang berkenan untuk dipijat?”
perempuan kantoran berambut panjang dengan kaki jenjang tersebut menjawab cepat, “nggak ada kak, butuh dipijet sebadan badan.” sambil tersenyum kecil.
terapis perempuan tersebut lalu tersenyum dan mengangguk mendengar jawaban sesa, “baik, kalau gitu kak sesa bisa ganti baju di toilet dalam ruangan nomor dua, ya. kalau sudah siap, cukup pencet bel yang ada di sebelah bed, nanti terapis kami akan datang. selamat menikmati spa-nya, kak sesa."
sesa hanya mengangguk dan melanjutkan langkahnya ke ruangan yang ditunjuk barusan, rasa lelahnya terlalu dominan untuk merangkai kata. pintu kayu berwarna coklat itu terasa berat, seolah menyimpan rahasia di baliknya. setelah masuk, ia menemukan sebuah toilet kecil dan sebuah ranjang yang tampak nyaman.
perlahan sesa menanggalkan pakaiannya, menggantinya dengan kain tipis yang terasa lembut di kulit, dan juga tidak lupa mencepol rambutnya keatas dengan ikat rambut scrunchie yang dari tadi ada di pergelangan tangannya.
dalam balutan kain itu, ia merasa begitu rentan, namun juga menyimpan harapan akan relaksasi yang akan datang.
setelah siap, jarinya menekan bel kecil yang letaknya di sebelah ranjang, sinyal bahwa ia sudah siap untuk menyerahkan diri pada sentuhan magis sang terapis untuk memijat. ia berbaring telungkup di ranjang, memejamkan mata, membiarkan pikirannya rileks.
tak lama kemudian, terdengar decitan pelan dari pintu ruangan. sesa bisa merasakan seseorang masuk, langkah kaki yang tenang, kemudian suara-suara kecil dari benda-benda yang disiapkan—mungkin terapisnya sedang meracik minyak atau menyiapkan handuk hangat. hening menyelimuti, hanya dipecah oleh suara musik relaksasi melantun sayup-sayup dan aroma minyak esensial yang kini mulai menguar.
"malam, kak sesa. saya bas, saya mulai ya sesi pijatnya."
suara bariton itu—jelas suara seorang pria—menampar kesadaran sesa. matanya sontak terbuka lebar, kaget. ia menoleh ke arah suara, pupilnya membesar tak percaya. di sampingnya, berdiri seorang pria dengan senyum tipis yang ramah, terlihat sangat siap untuk memulai sesi pijat.
"s-sebentar, mas!" sesa tergagap, rasa kikuk melandanya. "maaf mas, saya kira terapisnya perempuan?"
terapis tersebut tersenyum, “di sini hanya ada terapis laki-laki, kak sesa…”
kenapa nancy gak bilang informasi penting begini sih. aduh, gimana ya? batin sesa menggerutu.
sesa pernah dipijat tukang pijat lelaki, yaitu tukang pijat langganan keluarganya yang sudah paruh baya, itupun hanya sebatas memijat bagian kaki dan pundaknya.
kalau sekarang dipijat terapis laki-laki yang masih muda dengan keadaannya yang hampir telanjang sih, jelas beda cerita.
apa batal ya? ah, tapi sayang udah bayar mahal-mahal… kira kira begitu isi kepala sesa.
“gimana kak sesa? apa bisa saya mulai?” tanya terapis ganteng yang mengaku bernama bas tersebut.
“oh, iya… bisa mas.” jawab sesa akhirnya dengan suara kecil.
yaudah lah, sesa udah terlalu capek, toh hanya dipijit dan dia masih pakai kain penutup.
“tapi saya boleh request lampunya diredupin lagi gak, mas?” pinta sesa.
“boleh, kak sesa. kalau mau pakai penutup mata juga boleh, kami menyediakan kok.” tawar terapis tersebut.
sesa mengiyakan tawaran terapisnya menggunakan penutup mata, biar gak canggung canggung banget, pikirnya.
“oke, kak sesa. saya mulai sesinya ya, 90 menit relaxation spa.”
mas bas memulai dari menyeka telapak kaki sesa dengan handuk hangat. membalur kaki sesa dengan minyak yang beraroma vanilla lavender, lalu memijat betisnya.
pijatan pijatan yang diterima sesa membuat sesa hampir tertidur, jari jari mas bas lincah banget menari di area kakinya dengan tekanan yang sangat pas sesuai selera sesa.
apalagi musik menenangkan yang mengalun terdengar sayup-sayup di ruangan yang ukurannya tidak begitu besar tersebut.
ini dia. ini dia yang sesa butuhkan. relaksasi setelah berkutat seharian di kantor dengan kain kain berwarna-warni dan juga pernak-pernik aksesoris yang membuat kepalanya pusing.
“saya turunin sedikit ya kainnya, kak sesa.” sekarang jari jari mas bas mulai memijat bagian punggungnya, diusap, ditekan, diputarㅡjago banget. sesa jadi berpikir, dengan wajah seganteng dan badan sebagus mas bas, harusnya dia jadi model atau artis aja daripada jadi terapis spa.
“kak sesa, silakan balik badan ya, saya lanjut ke sesi selanjutnya…”
sesa tidak ambil pusing apa yang dimaksud mas bas dengan “sesi selanjutnya” lalu membalikkan badannya menjadi telentang. sampai ketika jari besar mas bas tiba-tiba menangkup buah dadanya yang masih terbalut kain tipis.
tangan sesa otomatis meraba-raba untuk meraih dan menghentikan tangan mas bas, “m-mas—”
“gimana kak sesa?”
“tangannya…”
“tadi katanya kak sesa berkenan untuk dipijat di seluruh badan, kan?” tanya bas meyakinkan.
“iya, tapi maksudnya enggak di bagian ini juga, mas…”
“ini termasuk service di sini, kak… saya dibayar mahal untuk bikin kak sesa rileks dan puas.”
oh.
harusnya sesa paham.
harusnya, alarm itu sudah berdering kencang di kepalanya sejak awal.
harusnya, dia menyadari sejak awal tidak ada celana dalam sekali pakai yang diberikan, tidak seperti di tempat spa pada umumnya.
wanita cantik berambut coklat panjang itu kini mengerti sepenuhnya apa yang dimaksud sahabatnya dengan "spa mantap" tersebut.
sekarang dia sadar betul situasi macam apa yang menantinya.
mau kabur? rasanya sudah terlambat.
dengan keadaannya yang sekarang hanya berbaring dilapisi kain tipis dan rasa pijatan nikmat yang sudah dirasakannya, apa yang bisa sesa lakukan selain pasrah melanjutkan?
lagi pula, kalau kabur, dirinya akan tetap merugi karena sesi pijatnya bahkan belum berjalan setengahnya.
dan sesa harus akui, pijatan mas bas memang beneran enak dan bikin nyaman.
sesa rasa sesekali gak apa-apa untuk tanggalkan warasnya.
“tapi… saya malu, mas…” cicit sesa masih dengan mata yang masih tertutup eye mask.
untung saja, kalau enggak, sesa harus berhadapan dan bertatapan langsung dengan terapis tampan tersebut, dan hal itu bakalan bikin dia jadi lebih canggung lagi.
“kak sesa tenang aja, saya jago kok… sekarang rileks ya?” sahut bas menenangkan sambil perlahan menaruh kedua tangan sesa di tempatnya semula.
bas mulai lagi sesi memijat di bagian dada.
pijatan lembut di dada itu membuat sesa menahan napas. sebuah desahan hampir lolos dari bibirnya, tapi ia berhasil menahannya. di tengah keheningan, suara bas terdengar, rendah dan dekat. "jangan ditahan, kak sesa. saya perlu tau kalau pijatan saya enak atau enggak…. ruangan ini kedap suara, aman kok..." ujar bas pelan penuh keyakinan.
sesa meresponnya hanya dengan mengangguk pelan.
"saya buka ya, kak." lanjut bas.
bas dengan lembut membuka kain yang menutupi tubuh sesa. kulit sesa yang berwarna cerah langsat dan mulus itu kini terpapar seluruhnya.
telapak tangan mas bas kini sepenuhnya membungkus buah dada sesa yang tidak terlalu besar, namun pas di genggamannya. bas gerakkan tangannya memutar perlahan, “begini suka kak sesa?”
sesa hanya mampu mengangguk dengan lemah sambil menggigit pelan bibir bawahnyaㅡmasih malu.
sesa tentu bukan perawan. sesa sering melakukannya dulu dengan mantannya, tapi sesa tidak pernah melakukan hal se-intim ini dengan orang asing. sesa bahkan tidak mengerti konsep friends with benefits yang sering dilakukan oleh teman temannya. karena menurut sesa, aneh gak sih sama orang gak dikenal?
“kalau begini, suka?” tanya bas kembali ketika ibu jari dan telunjuknya mulai memilin-milin puting kecoklatan sesa yang mulai menegang karena terangsang.
“s-suka…” jawab sesa akhirnya.
mendengar jawaban tersebut, mas bas tambah semangat memilin puting sesa ditambah dengan gerakan memutar perlahan, memastikan pelanggannya puas.
“mmhㅡ” desah kecil sesa lolos dibarengi dengan kedua tangannya yang memegang pinggiran kasur kecil tersebut karena dirinya sekarang total terangsang.
mas bas tersenyum mendengar desahan samar tersebut, “lebih keras lagi desahnya, ngga apa apa, kak sesa…”
bas semakin menggoda puting tersebut, sekarang tambah dicubit cubit kecil.
sesa yang titik sensitifnya memang berada di putingnya kini bergerak gelisah, “nnhㅡ mas. mas bash.. hah… pelan…”
bas hanya bisa patuh, ia menyudahi cubitan di puting sesa dan memelankan pijatannya. setelah dirasa cukup bermain dengan buah dada sesa, tangan bas perlahan bergerak turun, menuju bagian perut, diusap-usap pelan dan terus bergerak turun sampai tangannya kini menyentuh bagian atas vagina sesa. bas meraba dan menggoda sebentar di daerah tersebut lalu gak berlama-lama, ia segera berpindah posisi ke arah kaki. melanjutkan sesi pijatnya, bas memijat telapak kaki sesa yang agak tegang, lalu tangan lincahnya naik ke kaki dan paha sesa secara beruntun.
mas bas tambahkan beberapa tetes minyak supaya pijatannya tambah licin di area tersebut. bas lalu menekuk satu kaki sesa dan mulai memijat paha bagian dalamnya.
“segini cukup kak sesa?” tanya bas ketika ia mulai agak menekan nekan bagian paha dalam sesa sampai ke pangkalnya.
si cantik berjengit geli dibuatnya, “c-cukup, mas…”
pijatan di sana terasa begitu menggoda, bas adalah terapis berpengalaman, tentu ia tahu persis di mana harus menyentuh. sentuhan jarinya semakin dalam, sengaja beberapa kali mengenai area labia sesa, lalu ia menguceknya perlahan dengan sangat lembut dengan jempolnya, “kalau begini, cukup atau kurang kenceng, kak sesa?”
“mhh– cukup, mas…”
“yakin cukup, kak? kalau begini gimana? lebih suka yang ini atau yang tadi?” tanya bas menggoda sambil memainkan biji klentit sesa.
“anhh– dua–”
“dua-duanya suka?” tanya bas memastikan dengan posisi jari jarinya masih bermain di area klentit dan labia sesa.
“mmhh– iyah…”
“berasa banget kak sesa suka dua duanya, sampe becek gini… kedengeran gak kak sesa?” tanya bas jahil.
kalau saja mata sesa tidak ditutup eye mask warna gelap tersebut, ia pasti sudah merem melek sekarang akibat ulah bas si terapis ganteng.
suara becek terdenger samar di telinga sesa membangun sensasi yang membuat sesa melayang dan vaginanya yang tambah berkedut. sudah lama juga ia gak merasakan sensasi ini.
“saya ijin masukin satu jari ya kak…” ijin bas ketika dirasa sesa sudah tambah rileks dari sebelumnya.
bas masukin jari tengahnya lalu pelan-pelan digerakan maju mundur.
“aahh– mas…”
“iya? enak atau sakit, kak?”
“nggh– e-nak… enak mas…”
“kalau enak, desahnya yang kenceng dong, kak sesa…”
jari bas begitu mahir di dalam, beberapa kali ditekuknya hingga menyentuh titik nikmat sesa.
di ruangan temaram itu, ada tiga suara yang saling beradu. musik relaksasi yang samar-samar mengalun, erangan erotis sesa yang nyaring dengan dominasi ah, ah, ah yang terus-menerus, dan suara basah yang becek dari vagina sesa saat bas mengerjainya.
“pinter, kak sesa… mau ditambah dua jari atau cukup satu aja, kak?”
“t-tiga… tiga boleh gak mas…” jawab sesa tanpa rasa malu, dengan napasnya yang masih terengah-engah.
mendengar permintaan pelanggan cantiknya tersebut, tentu saja bas senang. itu berarti service dia terbukti bikin enak.
bas kini menekuk kaki sesa satunya lagi, bikin posisi sesa sekarang jadi mengangkang.
sang terapis pun kini memasukkan ketiga jarinya pelan-pelan sekali, supaya sesa nggak kesakitan, karena ia paham betul, jarinya gak bisa dibilang kecil ataupun kurus.
“kalau sakit bilang ya, kak sesa…”
penuh. sesa merasakan penuh dan sesak di dalam vaginanya. merasakan tubuh sesa yang agak menegang, bas menghentikan pergerakkan jarinya, “sakit kak? mau saya kurangin aja jarinya?”
“nggak… gak usah mas… lanjut aja, gak sakit, kok…” sambil menggeleng.
mendengar jawaban dari sesa bas lanjut menggerakkan jarinya di dalam vagina sesa, mengocoknya pelan, benar-benar lembut. ia tidak terburu-buru, karena tujuannya memang untuk bikin sesa puas dan nyaman.
“kencengin lagi mash–” rengek sesa.
diberi perintah seperti itu bas mulai menggerakan jarinya keluar masuk lebih cepat, sesekali jarinya ditekuk dan bergerak menggunting di dalam, tidak lupa jempolnya dipakai untuk menekan biji klentit sesa yang membengkak karena stimulasi.
“anhh– mas, mas bas, jarinya enak bangeth– ah..”
pinggul sesa ikut bergerak naik-naik turut mengejar nikmat akibat kocokan jari si terapis ganteng.
“mas– ah mas b-bas.. aku mau keluar.. mmh– nghh, mas.. mas ah–” rengek dan erangan erotis sesa memenuhi ruangan tersebut.
“enak ya kak? banyak banget keluarnya…” bas takjub melihat pemandangan di depannya—sesa dengan mata tertutup eye mask, paha bergetar hebat dan vagina mulus tanpa bulu mengkilat basah penuh lendir.
sesa tak mampu menjawab, ia sibuk mengais dan mengatur napas akibat pelepasan pertamanya.
“bisa saya lanjut ya kak? sesi selanjutnya, kita pakai sex toys. sebentar saya siapkan dulu.”
setelah menyiapkan dildo karet dan mengolesinya dengan lubrikan, bas mengusap-usap ujung mainan itu ke permukaan vagina sesa yang basah. "saya masukin pelan-pelan ya, kak sesa rileks," ujarnya sopan, sambil memijat klitoris sesa juga agar sesa gak tegang.
bas coba keluar masukkan ujung kepala dildo tersebut pelan ke lubang vagina sesa, gerakan tersebut nyaris seperti godaan, sebelum akhirnya memasukkan seluruhnya dalam satu kali dorongan.
erangan sesa lepas, panjang, begitu mainan menyerupai penis itu mengisi penuh lubangnya.
“kak sesa becek banget, dildonya bisa langsung masuk…”
bas gerakkan dildo tersebut dengan mahir sampai sesa gak henti-hentinya mendesah. air liurnya sedikit menetes ke pipinya, kepalanya bergerak gelisah sampai penutup mata tersebut terlepas dan tak lagi menutupi matanya. kini sesa bisa melihat jelas semua pemandangan yang ada di depannya; bas dengan wajahnya yang serius dan tangannya yang sibuk menggerakkan mainan karet tersebut di antara selangkangannya.
sesa jadi tambah terangsang, karena jujur, mas bas kelihatan seksi banget… tangannya yang berurat dan lengannya yang menampilkan otot yang apik bikin sesa ingin merasakan sesuatu yang lebih.
bas yang menyadari desahan sesa makin kencang disertai rengekan manja, mengalihkan pandangannya sebentar dari dildo di tangannya. ia melirik sesa dan menatapnya tepat di matanya, “enak ya kak sesa?”
“enakh… mhh enak banget mas…” jawab sesa dengan nada manja, matanya menatap bas sayu.
tatapan mereka bertemu, saling mengunci selama beberapa detik, dengan posisi tangan bas yang masih memainkan dildo di vagina sesa.
“mas. s-stop— sebentar.”
“kenapa kak sesa?” tanya bas bingung.
kaki sesa bergerak menuju arah kontol bas, jari kakinya menyentuh daging tak bertulang yang ia yakini sudah bereaksi akibat dirinya.
“kalau lanjut pakai ini… boleh, mas?” nadanya merayu, jari kakinya masih naik turun di area selangkangan si terapis.
bas tertegun dengan kejadian yang sedang dialaminya, “maaf kak, tapi di sini gak bisa…”
“saya bayar lebih, mas…” tawar sesa.
“maaf banget kak sesa…”
mendengar penolakan bas, mata sesa mulai berkaca-kaca, “kenapa? mas punya pacar? atau istri?”
“gak punya, kak sesa.”
“terus kenapa mas? mas bas gak nafsu sama saya?”
“bukan gitu, kak sesa. bed-nya kecil, nanti kakak gak nyaman… saya juga gak ada kondom…” jelas bas, tidak mau sesa kecewa.
sesa mengubah posisinya menjadi duduk, “saya bersih, mas,” lalu ia turun dari kasur kecil itu dan membelakangi bas.
sesa mengistirahatkan badannya di atas kasur dengan posisi kaki menapak ke lantai.
dengan posisi ini bas bisa dengan jelas melihat pantat sesa yang sintal dan vaginanya yang basah sampai ada cairan meleleh ke paha dalamnya.
“mas bisa entot aku dari belakang kayak gini…”
goda sesa, tangan kanannya menyentuh vaginanya dari belakang, membukanya dengan gerakan sensual, memperlihatkan lubangnya yang sudah becek dan kedutan.
bas hanya pria biasa yang punya nafsu.
bohong kalau tubuhnya gak bereaksi.
sesa cantik, badannya bagus, desahnya enak— nggak mungkin bas nggak tertarik.
apa ia turuti saja kemauan sesa? pelanggan adalah raja, kan?
jujur, ia belum pernah sampai menyetubuhi pelanggannya, karena memang aturannya tidak boleh.
tapi kalau ada yang merengek seperti ini, bas bisa apa?
lagian kalau melanggar aturan, ia gak mungkin dipecat, kan? toh dia salah satu pendiri dari usaha ini.
bas mendekat ke arah sesa lalu mengelus pantat mulusnya, “kak sesa yakin?” ia melirik jam dinding sekilas, “waktunya masih sisa 18 menit…”
“bisa quickie, mas…”
bas semakin merapatkan badannya ke sesa sampai kontolnya yang masih terbungkus celana menempel di pantat sesa. “bener bisa quickie aja?” godanya lagi sambil meraih pinggang ramping sesa dengan telapak tangannya yang besar.
sesa menggerakkan pantatnya nggak sabaran, membuat celana bas ikut basah terkena lendirnya, “cepetan, mas…”
“gak sabaran banget sih, kak sesa.” ucap bas, satu tangannya meremas-remas bokong pelanggan cantik di depannya, sementara tangan satunya lagi menurunkan celananya sampai paha untuk membebaskan kontolnya yang hampir sepenuhnya tegang.
bas mengocok kontolnya beberapa kali sebelum memasukkannya ke memek licin sesa.
“saya masukin ya, kak…”
baru kepala kontolnya yang masuk, sesa sudah mengerang, “sakit, kak? mau berhenti aja?”
sesa menggeleng, “lanjut mas, saya cuma kaget…”
gimana gak kaget, ukuran kontol mas bas lebih gede dari dildo yang tadi.
“tahan sedikit ya, kak sesa.” bas memposisikan lagi kontolnya ke depan lubang memek sesa dan memasukkannya perlahan sampai akhirnya semua batangnya tertelan.
keduanya mengerang nikmat, bas mulai menggerakkan pinggulnya sambil mencengkram pinggang sesa.
“sempit banget, kak sesa…”
“ah mas b-bas yang kontolnya gede bangeth— angh ah ah!”
“enakan kontol saya atau dildo tadi?” tanya bas retoris.
“mhh k-kontol… ah, kontol mas bas…”
bas merunduk memeluk dan merengkuh tubuh sesa. ia menghidu leher sesa sambil mengencangkan genjotannya.
lengkingan dan erangan dari mulut sesa makin jelas terdengar. bas mencium sekilas leher sesa, “wangi. mmh, kak sesa wangi… desahnya seksi…”
sesa lemas, semua yang dilakukan mas bas enak. kaki sesa rasanya seperti gak sanggup lagi untuk napak di lantai. bas yang sadar dengan hal itu memelankan genjotannya sebelum akhirnya ia memutar tubuh sesa menjadi berbaring miring di kasur kecil tersebut tanpa melepas persatuan kelamin mereka di bawah sana.
bas mengangkat kedua kaki sesa untuk istirahat di pundaknya, sebelum akhirnya memek sesa digenjot lagi.
sesa hanya bisa pasrah dengan apapun perlakuan mas bas, karena semuanya enak, enak, dan enak banget.
“kencengin lagih… mass… hah akh— ngh ah gitu! ah, oh my god. mas bas—”
genjotan bas cepat dan dalam, kontol bas di dalam sana memompa dengan presisi, memek sesa rasanya kayak digaruk. suara erangan, beradu dengan suara plok plok plok, dan juga derit kasur membuat suasana di dalam ruangan jadi semakin panas. tidak peduli dengan waktu “spa” yang sudah habis, mereka tetap mengejar nikmat.
“mmass aku mau keluar mmhh mau pipisss…” kata sesa sambil memilin putingnya sendiri dengan kedua tangannya.
melihat hal tersebut, bas menghentikan kedua tangan sesa dan menggantikannya dengan tangannya sendiri.
“biar saya aja, kak sesa cukup terima semua service dari saya… pipis aja kak, yang banyak…”
pinggul bas masih setia menggenjot memek sesa dibawah sana sambil memilin putingnya, tak lupa digaruk oleh ujung kukunya.
bas merasakan memek sesa semakin menjepit kontolnya, menandakan pelepasannya sebentar lagi datang.
wajah sesa penuh peluh, poni yang tadinya menutupi jidatnya kini berantakan, pipinya memerah, matanya terpejam dengan mulut kecilnya yang menganga.
sesa bucat dengan paha yang gemetar, lendir lengket berwarna putih bercampur dengan air bening yang keluar. sesa squirting membasahi celana dan baju si terapis.
bas menghentikan gerakannya sebentar untuk menikmati pemandangan erotis di depannya sebelum akhirnya menggenjot lagi batangnya untuk mengejar pelepasannya.
“kak sesa cantik… saya sebentar lagi, tahan ya…”
sesa kepalang teler, gak begitu dengar apa yang dibilang terapis tersebut. ia hanya dapat merasakan kontol bas yang masih keluar masuk memakai lubangnya. kalau bas gak berhenti sebentar lagi, mungkin sesa bisa muncrat untuk kedua kalinya.
merasakan dirinya sebentar lagi akan bucat, bas menarik kontolnya dan mengocoknya persis di depan memek sesa. dan bas akhirnya memuntahkan semua putihnya di sana.
permukaan memek sesa terlihat berantakan, lendir yang lengket, cairan pipis, dan lelehan sperma bercampur jadi satu.
“gimana kak sesa? puas sama pelayanan saya?” tanya bas sambil menggesekkan kontolnya yang belum sepenuhnya turun di lelehan cairan yang ada di permukaan memek sesa, membuatnya lebih berantakan lagi.
“lebih dari puas mas…” jawab sesa setelah berhasil mengais seluruh warasnya ke permukaan.
tidak peduli meskipun ia harus merogoh kocek lebih karena harus membayar overtime charge sesi spa yang lewat sekitar 12 menit, yang penting sesa pulang dengan keadaan puas dan segar.
ingatkan sesa untuk berterima kasih sama nancy setelah ini.
