Work Text:
Daeyoung sedang terduduk di sofa nyaman di bawah lampu remang ruangan karaoke. Tangannya menggenggam ponselnya sambil menatap benda persegi panjang yang menyala itu dengan gelisah. Suami yang sedang ia tunggu kedatangannya tidak kunjung terlihat.
“Mas ganteng, ayo sini seneng-seneng sama aku.” Perempuan dengan suara mendayu-dayu itu menghampiri Daeyoung dan segera duduk di atas pahanya. Daeyoung berjengit kaget, karena pergerakan yang tiba-tiba itu. “Maaf ya, mbak gak dulu.” Sejujurnya ada rasa takut di dalam dirinya memberikan penolakan kepada mbak-mbak LC itu. Tapi tentunya ia lebih takut akan ancaman yang dilayangkan oleh suami cantiknya di chat Whatsapp beberapa menit yang lalu.
“Awas ya kamu aneh-aneh aku gunting tititmu!”
Tidak pernah satu kalipun terbayang dalam pikiran Daeyoung untuk berbuat yang tidak-tidak di belakang suaminya. Kalaupun dia berniat dari awal tidak mungkin ia memberitahu suaminya, bukan?
Penolakan dari Daeyoung membuat mbak-mbak LC dengan pakaian mini berwarna ungu itu berdiri menjauh dan duduk di sisi lain sofa.
“Daeyoung, ayolah jangan malu-malu. Ini udah yang paling bagus-bagus loh yang saya pilihin, aman aja nanti saya traktir.” Pak Lee — si pemilik hajat malam ini sudah bersuara mabuk karena alkohol yang kerap diminumnya. Ia menawarkan Daeyoung untuk memilih, tidak lain dan tidak bukan adalah para LC yang sudah “disewa"nya malam ini.
Dua perempuan yang sedang terduduk di pangkuan Pak Lee hanya mengeluarkan tawa centil sebelum memberikan ciuman-ciuman kecil kepada pria berumur hampir 50 tahun itu.
“Makasih Pak Lee, tapi saya udah ada LC langganan, lagi jalan ke sini.” Ucap Daeyoung dengan mantap, yakin bahwa suaminya akan datang untuk menyelamatkannya.
Jari Daeyoung kembali sibuk mengetik di papan keyboard ponselnya, merasa panik menunggu kehadiran suaminya yang tak kunjung datang. Pak Lee yang duduk di sebelah kanan bicaranya sudah mulai melantur. Pak Kim, Kepala Divisi Sales sudah tidak sadarkan diri karena kelewat mabuk, entah sudah berapa botol ia habiskan.
“Sayang kamu udah di mana? Makin malem makin ngeri di sini.”
Tak lama setelah itu terdengar suara pintu terbuka dari arah depan. Tampak seseorang berbalut dress ketat mini berwarna maroon, dengan rambut panjang berwarna hitam legam. Sosok itu datang menghampiri Daeyoung yang duduk mematung, bingung harus merespon apa.
“Mas Daeyoung, maafin bikin mas nunggu lama. Tadi aku kesusahan nyari taksi.” Suara yang datang tiba-tiba itu terdengar manja dan agak merajuk.
Saat ini nyamuk ukuran jumbo juga rasanya bisa masuk ke dalam mulut pria itu. Mulut Daeyoung terbuka lebar melihat Riku si suami kesayangannya datang dengan pakaian super ketat dan seksi, tak lupa dengan rambut palsu yang menjuntai ke bawah.
“Nah itu dia, pak LC langganan saya. Neng? Sini duduk sama mas.” Ucap Daeyoung sambil melambaikan tangannya, mengisyaratkan Riku untuk menghampirinya.
Saat Riku sudah mendarat di atas paha Daeyoung, ia mengalungkan tangan kecilnya pada leher tebal Daeyoung dengan manja. Posisi mereka sangat dekat, jarak antara mereka sudah benar-benar terkikis, dan oh-
Daeyoung menyadari sesuatu.
Dada Riku terlihat besar.
Lidah Daeyoung terasa kelu, ia diam seribu bahasa melihat perawakan suaminya yang benar-benar sudah berubah 180 derajat. Dapat dipastikan Riku sedang mengenakan payudara palsu yang terbuat dari silikon.
Wah Daeyoung bisa pingsan sekarang juga.
“Kamu kok ga pernah bilang punya baju kayak gini?” Bisik Daeyoung sambil mulai mengelus-elus paha mulus Riku yang dengan nyaman duduk di singgahsananya.
“Sssstttt udah ga usah banyak tanya. Semua demi kamu ya.” Riku membalas pertanyaan itu dengan nada kesal karena suaminya sudah menariknya ke dalam permasalahan besar ini. Tapi ini dirasa adalah jalan terbaik, dibandingkan ia harus diam di rumah dengan khawatir membayangkan Daeyoung bersenang-senang dengan perempuan lain.
Tanpa disadari, banyak mata di ruangan ini tertuju pada mereka berdua. Lebih tepatnya kepada Riku. Para perempuan lain melirik tubuh si ‘LC langganan’ dari atas ke bawah tanpa henti. Tatapan iri? Sinis? Tidak jelas apa tujuannya.
“Neng cantik, biasa dibayar berapa sama Daeyoung?” Suara Pak Lee memecah keheningan, beserta tangannya yang hampir menyentuh paha Riku. Pemandangan itu membuat Daeyoung langsung sigap dan duduk tegak, khawatir Pak Lee akan bertindak macam-macam.
“Eits, ga boleh pak. Yang ini punya saya. Ayo neng, kayak biasa yang bikin mas seneng.”
Demi apapun Riku ingin menonjok wajah suaminya saat ini juga. Kedua matanya melotot menatap Daeyoung dengan nanar, memberikan isyarat “sampe rumah abis lu”. Semua pikiran anarkis itu Riku pendam dalam-dalam dan melanjutkan perannya sebagai LC dadakan, demi suaminya, demi karir Daeyoung.
Riku meraih tamborin dan mikrofon yang tersedia di atas meja, kemudian mulai memilih lagu sebagai pengiring pertunjukkannya untuk Mas Daeyoung seorang.
Intro lagu Aura Kasih “Mari Bercinta” mulai berkumandang dan dengan pengetahuan terbatas yang Riku miliki tentang bernyanyi, ia memulai kata pertama dari lagu itu.
Detik-detik pertama lagu, Riku masih malu untuk menggerakan badannya, namun lama kelamaan ia mulai terbawa suasana dan menggerakan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, sesuai dengan irama lagu. Tak lupa sesekali dikibaskannya ‘rambut’ hitam legamnya, menggoda siapapun yang sedang menontonnya.
Daeyoung? Tentu sekarang sedang duduk mematung. Ia membatin, mengapa tidak pernah terpikir meminta Riku menari dan bernyanyi untuknya. Suaminya nampak sangat cantik dan menggoda saat ini. Tidak hanya menggoda bagi Daeyoung, namun banyak mata di ruangan ini yang juga terpana akan penampilan Riku. Pak Lee tidak dapat melepas pandangannya, seakan bola matanya dapat keluar dan jatuh ke lantai saat itu juga.
Kamu inginkan aku
Peluk aku (peluk aku)
Cium aku (cium aku)
Kamu inginkan aku
Ingin bercinta denganku
Tepat pada bagian lagu yang sudah hampir mencapai akhir, Riku membelakangi Daeyoung dan mulai menunggingkan bokongnya tepat ke arah wajahnya sebelum menggoyangkannya dengan centil. Pertunjukkan yang dilakukan Riku tentunya mendapatkan respon negatif dari LC lainnya yang berada di ruangan yang sama. Perempuan yang berada di pangkuan Pak Lee mulai menuangkan whiskey ke dalam gelas shot kecil sebelum menawarkannya kepada Pak Lee, guna mengembalikan perhatian pria mesum itu kepada dirinya. “Om ayo minum dulu, abis itu enakin aku ya.” Ucapnya dengan suara centil.
Lagu terus berputar hingga akhir. Posisi Riku sekarang sudah duduk di atas pangkuan — lebih tepatnya selangkangan Daeyoung yang masih berbalut celana kerja. Sesekali ia menggesekkan bokongnya pada gundukan Daeyoung yang entah sejak kapan sudah bertumbuh semakin besar dan keras. Riku kewalahan karena ulahnya sendiri, hingga ia tidak sanggup lagi mengakhiri nyanyiannya dan fokus untuk memuaskan dirinya sendiri.
“Nakal banget sih, neng gesek-gesek ke kontol mas. Bilang aja kalo udah ga sabar dientot.”
Pertama kali sejak pernikahan mereka Riku mendengar suaminya yang bertutur kata halus dan santun berbicara seperti itu. Tapi bohong jika Riku tidak terangsang dengan ucapan-ucapan nakal yang didengarnya. Terdapat konflik batin apakah ia ingin menonjok suaminya karena berbicara kurang ajar, atau karena sudah membuatnya semakin terangsang.
“Hmmm iya mas eneng udah laper nih mau makan kontol mas.” Tidak tahu setan apa yang sudah merasuki Riku, iapun terkejut akan kemampuan lidahnya mengeluarkan kata-kata vulgar itu.
Hanya perlu beberapa detik saja Riku sekarang sudah berlutut di antara kaki Daeyoung yang melebar. Kedua bola matanya menatap lurus ke arah Daeyoung dengan tatapan memelas, sambil tangannya bekerja membuka resleting celana kain Daeyoung, membebaskan penis suaminya yang sudah menegang sempurna hanya karena menonton Riku menari. Tangan Riku menyibakkan rambutnya ke pundak kirinya agar ia lebih leluasa memberikan servis kepada ‘pelanggannya’.
Tanpa menunggu lebih lama, penis panjang Daeyoung sudah masuk ke dalam mulut Riku seutuhnya. Benar-benar ditelan hingga pangkalnya, membuat si empunya bergumam nikmat. Kepala Riku bergerak semakin cepat memberikan sensasi nikmat kepada Daeyoung yang sudah terkulai pasrah karena ulah si cantik. “Aahhh- sshh selalu jago nyepongnya sayangku.” Mata Daeyoung terpejam erat, menahan nikmat yang terus menerus diterimanya.
Kedua alis Riku tertaut erat karena gerakannya sendiri yang kepalang cepat. Sesekali terdengar suara kecipak dari salivanya sendiri yang beradu dengan kulit penis Daeyoung yang sedikit demi sedikit mengeluarkan precum karena nikmat.
Erangan Daeyoung semakin kencang, menandakan ia hampir mencapai putihnya. Tidak sengaja Daeyoung menoleh ke arah Pak Lee. Bosnya saat ini juga sedang menerima nikmat dari perempuan di atas pangkuannya yang tidak berhenti menggerakan tubuhnya sendiri, menerima penis lelaki tua itu di dalam lubangnya.
Tapi tunggu, Daeyoung bisa melihat perempuan itu sedang fokus menatap figur lain yang sudah dipastikan bukanlah kliennya sendiri alias Pak Lee. Mata LC tersebut terpaku pada Riku yang sedang memberikan nikmat pada penis Daeyoung.
“Mbak-mbak LC ini sange sama laki gue?” Itu yang terlintas di benak Daeyoung. Merasa tersaingi, Daeyoung membantu Riku untuk kembali duduk di pangkuannya dan berhenti memanjakan penisnya.
“Sayang, kamu diliatin. Kita cepet aja, abis itu pulang.” Bisik Daeyoung tepat di telinga Riku.
Pria cantik itu melihat ke sekitar ruangan, hanya menemukan bapak-bapak mesum yang sudah pingsan entah sejak kapan bersama dengan masing-masing LC nya. Oh, akhirnya matanya bertemu dengan sosok yang Daeyoung maksud tadi. Beberapa detik Riku bertatap mata dengan perempuan berambut cokelat itu, sebelum Daeyoung menyentuh dagunya dan membawanya ke dalam ciuman yang intens.
Desahan kecil mulai keluar dari bilah bibir Riku saat Daeyoung memasukan penisnya ke dalam lubangnya.
“Hmm- Mas Daeyounghhh- enak..”
Lubangnya belum benar-benar beradaptasi dengan penis besar itu, namun sudah menerima stimulasi bertubi-tubi karena Daeyoung mulai menggerakan pinggulnya, menumbuk Riku dengan cepat.
Tak bisa berbuat banyak, Riku hanya mengalungkan lengannya di sekitar leher Daeyoung, memastikan dirinya tidak jatuh karena gerakan yang begitu cepat. Desahan demi desahan mengisi ruangan karaoke yang sudah berganti fungsinya dari tempat bernyanyi menjadi tempat berbagi nikmat.
Satu lenguhan lain yang sudah jelas bukan berasal dari Riku maupun Daeyoung terdengar. Mbak LC yang melayani Pak Lee sedari tadi memperhatikan Riku hingga salivanya menetes sendiri. Persetan dengan pak tua yang sedang ia layani, ‘perempuan’ berambut hitam legam dan dress ketat maroon yang sedang melayani Mas Daeyoung jauh lebih menarik baginya. Paras Riku memang sudah tidak dapat diragukan lagi. Menjadi laki-laki atau perempuan tidak menjadi masalah, karena apapun itu ia akan menjadi sosok rupawan yang dapat menghipnotis siapapun yang melihat.
“Ahhh sayang- sempit banget.. aku keluarin di dalem ya.” Kedua tangan Daeyoung memeluk pinggang Riku dengan erat agar penisnya dapat masuk lebih dalam menumbuk titik nikmatnya.
“Hhhnnggghh ak- aku ga kuat aahh cepet banget, Daeyounghh sayang- aku pusingg.” Bola mata Riku berputar ke atas akibat penis suaminya yang tanpa ampun menyiksa lubangnya dengan nikmat. Tubuhnya terus menerus bergoyang dengan berantakan.
Beberapa waktu kemudian, perut Riku terasa mual. Cairan putih keluar dari penisnya dan membasahi kemeja kerja yang dari awal masih dikenakan oleh Daeyoung. Desahan sudah tidak lagi dapat keluar dari mulutnya, hanya bibirnya saja yang terbuka lebar karena merasakan nikmat. Ia merasa pusing, dan tidak kian membaik saat Daeyoung juga mencapai puncaknya, diikuti dengan sperma Daeyoung memenuhi liang sempit Riku.
Desahan dan lenguhan panjang keluar dari bibir keduanya seusai permainan singkat ini berakhir.
Jam sudah menunjukkan hampir pukul 2 pagi. Daeyoung yang diikuti Riku berjalan keluar dari tempat karaoke itu menuju mobil hitam miliknya, berusaha secepat mungkin meninggalkan tempat asing ini.
“Sayang…”
“Ga usah ngomong sama aku ya, aku masih marah.”
Riku berbicara dengan nada ketus, ingin segera memotong perkataan Daeyoung, yang hanya dibalas dengan cubitan kecil di pipi pria kecil yang katanya sedang marah besar.
“Makasih ya udah bantuin aku. Terus kok kamu malah dandan cantik banget sih? Terus ini kok kamu bertete? Dapet dari mana?” Tangan Daeyoung terasa ringan, menggapai dada palsu yang masih dikenakan oleh Riku dibalik dress seksinya.
“Stop ya aku bisa tonjok kamu sekarang.” Ucap Riku sambil menunjukkan kepalan tangannya ke arah wajah Daeyoung. Ancaman itu hanya dibalas tawa dan dilanjutkan dengan ciuman di pipi Riku.
“Kamu belanja baju yang kayak gini lagi dong, aku suka.”
Ditonjok beneran kayanya sama suami cantik galak.
