Actions

Work Header

malaikat penghancur

Summary:

Gunil jatuh suka kepada anak sahabatnya.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Gunil menelan ludah, merasa tenggorokannya begitu kering.

Harusnya ia tidak memupuk semua pikiran ini, harusnya Gunil bahkan tak memikirkannya— namun bukan salahnya makhluk di depannya begitu cantik. Lelaki di depannya tersenyum sopan, bibirnya merah muda dan mengkilap, tangannya yang lentik menaruh gelas-gelas minuman di meja.

“Makasih, Jungsu.” Gunil berkata pelan— berharap Jungsu akan melirik ke arahnya— dan benar saja. Lelaki satu itu mengangkat wajahnya dan tersenyum sopan.

“Makasih, Abang.”

Ah, benar. Lelaki yang sedari tadi ia kagumi, dengan senyum manis dan perawakan tinggi yang selalu menghantui malam-malam Gunil adalah anak dari teman dekatnya. Gunil sudah mengenal Jungsu dari ia kecil, bahkan ia ada di nyaris setiap langkah penting bagi Jungsu.

“Jungsu makin cakep aja. Udah punya pacar?” Gunil bertanya, menyesap kopi yang disediakan dan mencoba membuat suaranya setenang mungkin. “Udah umur berapa deh, kamu?”

Omong kosong sekali pertanyaan Gunil. Tentu saja ia tahu Jungsu sudah berumur 18 tahun, terpaut 25 tahun dari dirinya. Jungsu terlihat terkejut dengan pertanyaan Gunil, namun dengan cepat ia tertawa.

“Udah 18, Om. Belom punya pacar, tapi.” Jungsu menjawab riang.

“Banyak yang ngejar dia, mah.” Ayahnya, Kyungsoo berbicara, mencibir ke arah Jungsu. “Tapi anaknya ngga pernah mau.”

“Lagian ngapain sih, pacar-pacaran?” Jungsu memutar bola mata, lalu duduk tepat di sebelah Gunil. “Masih kecil aku, tuh.”

Jika saja jantung Gunil mempunyai nyawa dan akal sendiri, sudah pasti organ kecil itu akan merobek dada Gunil dan berlari keluar lalu menyelip ke dalam kantung Jungsu. Gunil tahu tak seharusnya ia mempunyai perasaan ini, tapi bahkan berdekatan seperti ini dengan Jungsu membuat nafasnya seakan tercekat.

“Gue start aja ya? Soalnya untuk expansion yang di Surabaya—“ Gunil memulai, namun tertahan saat ia merasa sentuhan pelan di pahanya.

Matanya melirik ke bawah, melihat jemari Jungsu yang lentik di atas pahanya— menari pelan seakan paha Gunil adalah lantai dansa dan jari-jarinya adalah sepasang penari.

“Iya, anak-anak di Surabaya kemaren nelfon gue—“ Entah apa yang Kyungsoo katakan, karena yang Gunil bisa perhatikan cuma sentuhan Jungsu.

Yang menyentuh sendiri terlihat biasa saja, terlihat seakan ia tak sedang membuat teman ayahnya sendiri itu nyaris gila hanya dengan sentuhan kecilnya. Jungsu malah fokus menatap ayahnya sendiri yang sedang membicarakan rencana ekspansi mereka ke Surabaya.

“Jadi nanti Jungsu ikut Om Gunil aja, ya?” Kyungsoo bertanya, menyadarkan Gunil dari pikirannya sendiri. “Lumayan, biar kamu bisa belajar juga.”

“Oke, Pa.” Jungsu menjawab, meremas paha Gunil pelan lalu tersenyum ke arahnya. “Jungsu pasti belajar banyak sama Om Gunil.”

Gila. Gunil sudah gila— bisa-bisanya ia malah memandangi Jungsu dan berpikiran untuk menciumnya detik itu juga. Jungsu menawan sekali, seperti bunga yang baru merekah, wanginya begitu menggoda. Gunil ingin mengecapnya, ingin menciumi kulitnya—

“Oke, jangan repotin Om Gunil ya, Jungsu.” Kyungsoo melanjutkan, membuat Gunil berdeham.

“Aman. Nanti biar hotelnya bareng gue aja.” Gunil akhirnya menyahut, sedikit merasa kehilangan saat tangan Jungsu yang di pahanya menghilang.

“Makasih, Gunil.” Kyungsoo tersenyum ke arahnya.

Satu-satunya yang Gunil bisa pikirkan hanyalah Kyungsoo tak akan berterima kasih kepadanya jika saja ia tahu apa yang Gunil pikirkan tiap ia melihat Jungsu, bagaimana rasanya ingin sekali ia rasakan ranum yang menggoda itu, ingin merasakan lidah yang sedang membasahi bibirnya, ingin menggenggam jemari Jungsu saat ia—

“Maaf Papa ngga bisa ikut.” Kyungsoo melanjutkan. “But you’ll be in good hands, kok.”

“Sure, Papa.” Jungsu mengangguk pelan.

“Yep. You’ll be safe with me.” Gunil balik meremas paha Jungsu pelan, memberikan senyum terbaiknya.

 

✦•······················•✦•······················•✦

 

“Ini kamar kamu nyambung, kok, sama Om.” Gunil berhenti tepat di depan sebuah kamar hotel, lalu memberikan kartu aksesnya kepada Jungsu. “Ntar kalo ada apa-apa, ketok aja.”

“Oke, Om.” Jungsu tersenyum manis, lalu mendorong pintunya terbuka.

Gunil sendiri pindah ke pintu tepat di sebelah kamar Jungsu, kamar yang akan menjadi kamarnya selama seminggu ke depan. 

Awalnya Gunil tak terpikir untuk memesan kamar yang bersambungan dengan kamar Jungsu, namun entah kenapa asistennya malah memesan yang seperti itu— dan sekarang Gunil harus melewatkan malam-malamnya dengan bayangan Jungsu yang tertidur pulas di tempat tidur di seberang kamarnya.

Sudah terlalu malam untuk mengajaknya makan berdua, namun Gunil nyaris terlonjak saat pintu yang menyambungkan kedua kamar mereka tiba-tiba terbuka.

“Om Gunil.” Jungsu tersenyum lalu mengangguk pelan. “Mastiin aja pintunya beneran nyambung.”

“Ya, nyambung dong, Jungsu.” Gunil memilih tertawa, sembari menaruh bajunya di gantungan. “Kenapa?”

“Om laper ngga? Makan yuk.” Jungsu malah mengundang dirinya sendiri masuk, membiarkan pintu penyambung terbuka dan duduk di kasur Gunil. “Room service aja kali, ya? Aku udah males mau keluar.”

“Boleh.” Jawab Gunil, tenggorokannya terasa kering. “Coba kamu liat aja menu-nya.”

Ah, Gunil rasanya ingin mengantukkan kepalanya ke dinding terdekat. Ia baru saja selesai mengatur bajunya di lemari dan berbalik untuk melihat Jungsu, namun yang ia lihat malah membuatnya menahan nafas.

Jungsu sedang berbaring di kasurnya, fokus memperhatikan buku menu— namun Gunil hanya bisa fokus kepada baju Jungsu yang sedikit terangkat, memamerkan kulitnya yang lembut dan seputih susu. Celana yang ia kenakan juga begitu pendek, membentuk bokongnya yang bulat dengan sempurna. Pahanya begitu mulus, rasanya Gunil ingin meremas—

“Om, aku mau bolognese aja. Om mau apa?” Jungsu tiba-tiba berbalik, membuat Gunil nyaris saja terbata karena kaget.

“Boleh. Om telfonin, ya.”

Gunil lebih memilih untuk duduk di sofa sementara mereka menunggu makanan, sedangkan Jungsu sudah membuat diri sendiri nyaman di kasur Gunil— berbaring dan bermain handphone seakan itu adalah kasurnya juga.

Obrolan kosong mengisi ruangan sembari mereka menunggu— obrolan yang hanya setengah Gunil pedulikan, obrolan yang hanya ia lakukan agar kepalanya tak terus-terusan menyuruhnya untuk naik ke kasur dan menarik Jungsu dalam ciumannya.

Akan sangat mudah jika ia ingin melakukannya. Jungsu terlihat sangat cantik seperti ini, rambutnya yang tebal berantakan di kasur, pipinya yang sedikit merona— yang Gunil harus lakukan hanyalah berpindah ke kasur dan mengungkungnya. Semudah itu jika ia ingin.

Namun tampaknya moralnya masih menang, meskipun Gunil tak yakin bisa sampai kapan ia menahannya. Ini baru malam pertama dan rasanya iblis dalam diri Gunil sudah meronta ingin dilepaskan, semua sel dalam dirinya berteriak untuk mendekati Jungsu, menyicip, menciumi seluruh bagian tubuhnya sampai Gunil hafal tiap inci.

Beruntung makanan mereka datang saat itu juga, Gunil jadi mempunyai distraksi lain agar ia tidak terus berpikir yang tidak-tidak tentang Jungsu. Ia pikir cobaannya sudah berakhir saat makanan sampai, namun Jungsu malah bersikeras untuk makan di kamar Gunil.

“Om, besok kalo aku ngga bangun, tolong bangunin, ya.” Jungsu berkata sembari menyuap spaghetti ke dalam mulutnya.

“Iya, nanti Om telfon.” Gunil mengangguk, mencoba fokus kepada makanannya.

“Ih, aku ngga bangun kalo ditelfon doang. Harus beneran dibangunin.” Jawab Jungsu, senyumannya berubah sedikit nakal. “Ditepuk kek, apa kek. Dicium juga boleh.”

Tuhan, sepertinya Gunil tak akan bertahan selama seminggu.

 

✦•······················•✦•······················•✦

 

Sudah tiga hari mereka melewatkan waktu bersama mengurus proyek Gunil dan ayah Jungsu— tiga hari penuh penyiksaan yang selalu berakhir dengan Gunil menumpahkan putihnya di larut malam, entah di kamar mandi ataupun di kasurnya sendiri.

Wangi Jungsu sudah mulai menghilang dari sepreinya, membuat Gunil sedikit ingin untuk mengundang remaja satu itu untuk berbaring di kasurnya lagi sampai wangi tubuhnya menempel. Klimaks Gunil benar-benar membuatnya nyaris pingsan keenakan saat ia memuaskan diri dengan wangi Jungsu di bantalnya.

Sudah tiga hari mereka bersama— lengkap dengan agenda makan malam yang terasa seperti kencan— dan Gunil rasanya tak kuat lagi. Apakah ia harus mengirim Jungsu pulang lebih cepat? Apakah ia saja yang pulang lebih cepat? Gunil menadah kepalanya sendiri di tangannya, menarik rambutnya pelan.

“Ow! AH!!”

Gunil nyaris lompat saat mendengar teriak kesakitan dari kamar Jungsu. Kakinya langsung membawanya ke pintu penyambung, lalu dengan cepat ia buka.

“Jungsu kenapa?!”

Yang lebih muda sedang meringkuk di atas kasurnya, wajahnya memerah lengkap dengan sedikit air mata yang berkumpul di pelupuknya. Sesekali ia mengerang kesakitan, dan rasanya hati Gunil retak tiap mendengar keluhannya.

“Yang mana yang sakit?” Tanya Gunil, mendorong tubuh Jungsu pelan agar ia berbaring menghadap atap. 

“Ini. Sakit banget.” Tangan Jungsu turun, mengarah ke— Oh, Tuhan. 

“K-Kok bisa?” 

“Ngga tau. Sakit banget, Om.” Jungsu kembali mengerang, tangannya menekan pelan selangkangannya. “Om Gunil, tolongin..”

“K-Kita ke rumah sakit aja, ya?” Tanya Gunil akhirnya, mencoba untuk mengalihkan pandangannya dari tangan Jungsu. “Ayo, Om siapin mobil.”

“N-Ngga usah!!” Jungsu malah menahan tangan Gunil saat ia ingin beranjak dari kasur. “Bantu cek aja, Om..”

“Cek gimana maksud kamu?”

“Bantu liatin..” Jungsu menjawab lemah, kakinya perlahan membuka. “Siapa tau ada luka disitu.”

“Kamu serius?!” Rasanya jantung Gunil akan lompat dari dadanya sebentar lagi.

“S-Serius— AHH!” Jungsu kembali mengerang, membuat Gunil buru-buru berpindah ke depan selangkangannya.

Sial. Sial sial sial. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Jungsu masih saja mengerang sementara Gunil masih terpaku, bingung harus melakukan apa. Rasanya ia tak seharusnya melihat ini, melihat selangkangan Jungsu yang hanya dibalut celana dalam berwarna biru muda.

“Disini, Om.” Jungsu malah menarik tangan Gunil, membuat jemarinya yang tebal dan pendek itu menempel pada selangkangan Jungsu.

Gunil yakin nyawanya akan melayang pergi sebentar lagi. Jemarinya sekarang menekan-nekan selangkangan Jungsu, dituntun oleh Jungsu sendiri— Gunil yakin ia sedang bermimpi. Tapi tunggu, mengapa tak ada..

“Ini..?”

“Erm,” Jungsu menggumam, wajahnya semakin memerah. “Iya. Aku ngga punya penis.”

Gunil benar-benar akan meledak sebentar lagi. Jemari Jungsu masih terus menuntunnya, namun Gunil tentu saja tahu apa yang harus ia lakukan. Telunjuknya menekan di satu tempat, membuat Jungsu tiba-tiba mendesah kencang.

“O-Om!!” Jungsu mencengkram pergelangan tangan Gunil.

“Ini yang sakit?” Tanya Gunil pelan, telunjuknya membuat gerakan melingkar tepat di titik yang tadi. “Diginiin sakit ngga, Jungsu?”

“Hnn— n-ngga— Om Gun—“ Jungsu sendiri malah menutup matanya, tangannya menarik-narik apapun yang ada di sekitarnya.

Baiklah, jika memang ini yang Jungsu mau, maka siapa Gunil untuk menahan-nahan? Toh selama ini Gunil menahan hasratnya hanya karena ia tak yakin Jungsu akan bereaksi seperti apa jika ia tahu bahwa teman terdekat ayahnya sendiri ingin menyetubuhi dirinya. Gunil tentu saja tak akan bergerak tanpa persetujuan Jungsu, namun apa boleh buat saat sekarang remaja itu sedang menawarkan dirinya sendiri seakan menawarkan kudapan di atas nampan perak?

Jemari Gunil bergerak semakin lihai, terus menekan titik yang ia yakin adalah klitoris Jungsu sementara jari yang lain mengelus bagian dari selangkangan Jungsu. Ah, sial, cepat sekali celana dalam itu basah, membuat gerakan jemari Gunil makin licin.

“Masih sakit, Jungsu?” Suara Gunil sudah berubah semakin berat, satu tangannya mencengkram paha Jungsu.

“M-Masih, Om—“ Punggung Jungsu membusur, terangkat dari kasur saat Gunil mempercepat gerakannya. “K-Kayanya harus dari dalem—“

Tak pernah sekalipun Gunil menyangka mereka akan melakukan hal ini. Sedikit rasa bersalah terus mengetuk di hatinya, mengingatkannya bahwa ia sudah melihat remaja di depannya ini tumbuh dari ia kecil, remaja yang sama yang sekarang membuka kakinya lebar seperti pelacur demi lelaki yang bisa jadi ayahnya sendiri.

“Dari dalem mana, Jungsu?” Gunil bertanya pelan, tangannya yang satu meremas-remas paha Jungsu. Celana dalam Jungsu sudah begitu basah, merubah kainnya menjadi sedikit gelap. 

“C-Celana dalemnya..” Jungsu berbisik, wajahnya begitu merah. “Dibuka aja..”

“Ini?” Gunil malah menarik celana dalam Jungsu ke samping, memperlihatkan lapisan-lapisan yang sudah basah bukan main. Rasanya tenggorokannya begitu kering, ingin segera mengecap cairan yang terus keluar dari Jungsu. “Dibuka gini, sayang?”

Tampaknya panggilan kecil itu malah membuat Jungsu semakin bersemangat— jemari kakinya melengkung saat jemari Gunil langsung menyentuh lapisannya, mulutnya terus-terusan mengerang.

“Yang ini yang sakit?” Tanya Gunil lagi, menekan jarinya tepat di klitoris Jungsu. “Diginiin masih sakit ngga, Jungsu?”

“N-Ngga— Om— disitu ngga sakit—“ Jungsu kembali mengerang kencang.

Wajah Gunil begitu dekat dengan lapisan-lapisan basah itu, satu gerakan dan ia bisa langsung mengecapnya— namun ada rasa puas tersendiri dari melihat Jungsu kehilangan kontrol hanya dengan jarinya. Bahkan Gunil tidak perlu memasukkan jarinya untuk membuat Jungsu berteriak keenakan.

“Om Gunil— jangan berhenti— nggghhh—“ Jungsu terus mendesah sembari Gunil terus menggerakkan jarinya dengan cepat. Gunil bisa menebak klimaks Jungsu akan datang sebentar lagi.

Jemari Gunil menjepit klitoris Jungsu, dan seketika remaja itu berteriak kencang— seluruh tubuhnya bergetar sementara gelombang nikmat menerpa seluruh dirinya. Gunil yang berada tepat di depan selangkangannya hanya bisa terkejut saat cairan muncrat dari lubang Jungsu, membasahi wajah dan dadanya.

“Om MAAF!!” Jungsu seketika duduk, mencoba menggunakan seprei untuk membantu mengelap wajah Gunil— namun seketika terdiam saat Gunil malah membuka bajunya sendiri.

“Tidur di kamar Om aja. Disini basah.” Gunil berkata sembari mengelap wajahnya dengan baju yang baru saja ia buka. “Mandi sana, abis itu ke sebelah.”

 

✦•······················•✦•······················•✦

 

Gunil hanya bisa menggigit tangannya sendiri sembari mengurut penisnya yang sudah tegang sedari tadi. Bagaimana tidak? Ia baru saja membantu Jungsu klimaks, bahkan melihat kemaluannya. Gunil kembali mengerang saat mengingat bahwa Jungsu mempunyai vagina.

Ereksinya berkedut saat Gunil memerasnya, membayangkan wajah Jungsu yang tadi mendesah keenakan saat kemaluannya dimainkan oleh Gunil. Cantik sekali, seksi sekali, Gunil rasanya ingin menjilati semua cairan yang keluar dari kemaluannya.

“Jungsu..” Gunil mengerang saat klimaksnya datang, putihnya mewarnai dinding kamar mandi. Gunil benar-benar sudah gila, sekarang.

Jungsu sudah berbaring di kasurnya saat Gunil keluar dari kamar mandi, terlihat segar dengan rambut yang masih setengah basah dan wangi sabun yang masih menguar dari tubuhnya. Gunil tak bisa menatapnya, lebih memilih untuk membelakangi Jungsu sementara ia memilih baju untuk dikenakan.

“Masih sakit ngga, Jungsu?” Gunil bertanya tanpa berbalik.

“Udah ngga. Makasih, Om.” Jungsu menjawab pelan, sementara Gunil hanya mengangguk.

Sepertinya keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk merupakan keputusan yang salah, karena sekarang ada tenda kecil di bagian depan handuknya.. Meskipun Gunil baru saja klimaks beberapa menit lalu, ia bisa merasakan ereksinya kembali menegang hanya karena melihat Jungsu di atas kasurnya.

Jungsu dengan kaos yang kebesaran, dengan celana pendek yang bahkan tak menutupi apa-apa— ini akan menjadi cobaan terbesar Gunil setelah kejadian tadi.

Kasurnya cukup besar untuk dua orang dewasa, namun Gunil tetap saja memilih untuk tidur di bagian paling ujung. Jungsu hanya terdiam saat Gunil akhirnya menyelip masuk ke bawah selimut, lalu mematikan lampu.

“Good night, Jungsu.”

“Good night, Om.”

Harusnya Gunil tahu ia tak akan bisa tidur semudah itu, tidak saat objek dari semua imajinasinya berada di kasur yang sama, di bawah selimut yang sama, hanya berjarak beberapa sentimeter jauhnya dari tubuhnya sendiri. Gunil malah merasa begitu segar, kantuk tak kunjung datang meskipun jarum detik di jamnya terus bergerak.

“Om Gunil?” Jungsu berbisik tiba-tiba. “Om udah tidur?”

“Belum.” Gunil akhirnya menghela nafas, lalu berbalik arah menghadap Jungsu. “Kamu kenapa belum bisa tidur?”

“Takut Om marah sama aku.”

“Kenapa? Emang kamu ngelakuin kesalahan?”

“Tadi aku..” Jungsu menggigit bibirnya, menghindar dari pandangan Gunil. 

“Kenapa kamu tadi?” Gunil tersenyum kecil, tangannya terulur untuk menepis rambut Jungsu dari wajahnya. 

“Aku tadi itu..” Suara Jungsu mengecil, terdengar tak yakin ingin berbicara. “Itu Om..”

“Kamu mau jujur ngga, sama Om?” Tanya Gunil kembali, tangannya mengelus pipi Jungsu pelan. “Ngga beneran sakit kan, tadi?”

“I-Iya..”

“Terus, kenapa tadi?” Gunil tersenyum, membawa tubuhnya semakin dekat— begitu dekat hingga ia bisa merasakan hangat tubuh Jungsu. 

“A-Aku pengen—“ Jungsu terbata, mencoba menghindar dari tatapan Gunil, namun tak berhasil. Tangan Gunil menahan wajahnya. “Aku pengen—“

“Pengen apa, sayang?” Gunil semakin dekat, jarak mereka hanya dipisahkan beberapa sentimeter saja. Jika Gunil maju sekarang, ia bisa mengecup kening Jungsu.

“Pengen Om..” Jungsu mengaku akhirnya, wajahnya seketika memerah.

“Pengen Om apain?” Gunil bertanya lagi, sementara Jungsu hanya merengek, menolak untuk menjelaskan. “Ayo ngomong, nanti Om kasih. Tapi bilang dulu kamu mau apa, Jungsu.”

Gunil melingkarkan satu tangannya di pinggang Jungsu, lalu menariknya semakin mendekat sampai kulit mereka bersentuhan. Gunil tersenyum saat Jungsu terkesiap— sepertinya ia merasakan ereksi Gunil menempel dengan selangkangannya. Tangan Gunil di pinggang Jungsu menyelip ke bawah bajunya, menggambar pola-pola abstrak di kulit Jungsu.

“Om Gunil..” Jungsu merengek, menggerakkan pinggangnya hingga bergesekan dengan ereksi Gunil. “Jangan bilang Papa..”

 

“Mau apa, Jungsu? Jawab.” Gunil kembali mendorong dagu Jungsu untuk menatapnya. “Om ngga akan ngomong sama papa kamu.”

“M-Mau Om..” Jungsu berbisik, menggigit bibir bawahnya. “Aku mau Om Gunil..”

Mungkin ini mimpi, Gunil berpikir saat ia mendekat, hidungnya menyentuh leher Jungsu. Gunil bisa mencium wangi tubuhnya, bisa merasakan hangat kulitnya— bahkan bisa merasakan detak jantungnya saat Gunil mengecup pelan nadinya yang berdenyut.

“Mau diapain sama Om?” Gunil bertanya lagi, bibirnya menciumi leher Jungsu pelan.

“A-apa aja— hnn— apa aja yang Om Gunil mau—“ Jungsu tersendat saat menjawab, tangannya mencengkram lengan Gunil saat yang lebih tua menciumi lehernya.

“Apa aja yang saya mau?” Gunil tersenyum tepat di leher Jungsu. “Bener? Kalo saya mau ngentotin kamu, gimana?”

Oh betapa nikmat mendengar desah Jungsu. Remaja itu malah mendesah saat mendengar pertanyaan Gunil, malah semakin menempelkan selangkangannya dengan ereksi Gunil, seluruh tubuhnya menempel dengan yang lebih tua.

“M-mau Om.. hngg—“ Jungsu tak bisa menahan desahnya saat tangan Gunil berpindah meremas bokongnya.

Tubuhnya semakin dimajukan sementara Gunil meremas-remas, sesekali menampar bokongnya yang sintal sementara bibirnya terus menjelajahi leher Jungsu. Desah pelan Jungsu terdengar seperti musik di telinganya, apalagi saat jari Gunil berpindah tepat ke selangkangan Jungsu.

“Suka memeknya dimainin sama Om?” Bisik Gunil sembari menekan-nekan lapisan Jungsu. “Ini udah basah gini, kamu daritadi sange?”

“Om Gunil..” Jungsu hanya mengerang saat merasakan jemari Gunil memainkan lapisannya. “Buka aja celananya, Om—“

Jungsu terkejut saat tangan Gunil menarik celananya lepas dengan sekali tarikan. Selimut yang mereka kenakan ikut terbuka, mengekspos Jungsu yang terlihat siap dihancurkan. Kakinya sudah mengangkang, memperlihatkan celana dalamnya yang sudah banjir.

Gunil menunduk, akhirnya menyatukan bibirnya dengan bibir yang sudah ia idam-idamkan. Bibir Jungsu terasa begitu lembut, begitu empuk, Gunil rasanya ingin menciuminya sampai ia mati nanti. Tangannya terus bergerak menggoda kemaluan Jungsu sementara bibirnya melumat bibirnya yang satu, lidahnya menelisik masuk dan mengecap semua rongga mulut Jungsu.

“Om Gunil.. buka aja..” Rengek Jungsu saat Gunil menggigit bibirnya.

“Jungsu, Jungsu, Jungsu.” Gunil menggelengkan kepalanya, menarik tangannya menjauh dari selangkangan Jungsu. “Siapa sangka kamu makin gede makin kaya pelacur?”

Gunil yakin Jungsu tertegun mendengar pertanyaannya, tapi sejujurnya Gunil sudah tak lagi peduli. Jungsu hanya menatapnya dengan mulut menganga sementara Gunil menjauh, memandanginya dengan tatapan yang belum pernah Jungsu lihat sebelumnya. Jungsu terkejut saat sebuah tamparan pelan mendarat di selangkangannya.

“Pake bohong segala kalo memek kamu sakit.” Gunil mencemooh, tangannya mengangkat dagu Jungsu agar menatapnya. “Bilang aja memek kamu gatel pengen dikobelin. Iya, kan?”

“O-Om G-Gunil—“ Jungsu terbata, suaranya bergetar. “M-Maaf—“

“Kenapa minta maaf? Minta maaf udah bohongin Om?” Tangan di dagu Jungsu berubah menjadi cengkraman. Mata Jungsu berkilat dengan nafsu dan sedikit rasa takut. “Atau maaf karna kamu sange sama Om?”

“Om juga— egh— sange sama aku, kan?” Jungsu membalas. “Om pengen nyobain sama aku, kan?”

Jungsu memekik saat kembali merasakan tamparan pelan di selangkangannya. Gunil hanya tersenyum, kembali melumat bibirnya sementara tangannya menarik celana dalam Jungsu ke samping.

“Kamu udah pernah dimasukin belum?” Tanya Gunil, menggigiti bibir Jungsu pelan.

“P-Pernah.”

“Sendiri? Apa sama orang lain?”

“Sendiri, Om.”

“Good.” Gunil menepuk pipinya pelan, sebelum menarik tubuh Jungsu hingga terduduk, sementara Gunil berpindah ke depannya. “Ngangkang, cantik.”

Jungsu membuka kedua kakinya, memamerkan celana dalamnya yang sudah nyaris menetes saking basahnya. Wajahnya merah, bibirnya bengkak, Jungsu terlihat begitu cantik seperti ini.

“Buka dalemannya.” Bisik Gunil sembari memijat ereksinya sendiri. 

Jungsu perlahan mendorong celana dalamnya lepas, membuat Gunil menahan nafas saat melihat tali yang menyambungkan basah di celana dalam Jungsu dengan lapisannya yang mengkilap.

“Coba, Om mau liat kamu masukin diri sendiri gimana.” Suara Gunil begitu berat, ereksinya terasa ngilu saking tegangnya.

“Malu..”

“Ayo, Om mau liat, cantik.” Gunil menggunakan satu tangan untuk meremas paha Jungsu. “Abis itu Om bikin enak, mau?”

Jungsu hanya mengangguk, tatapannya berkabut dengan nafsu. Gunil tahu, apapun yang ia minta malam ini akan diberikan oleh Jungsu— remaja satu itu kepalang birahi.

Gunil mengerang pelan saat melihat jemari Jungsu menyingkap lapisan-lapisannya yang basah, menunjukkan lubangnya yang berkedut seakan meminta untuk diisi, dipenuhi. Jungsu sendiri terus melenguh saat jarinya mengelus klitoris sendiri, mulutnya menganga merasakan stimulasi dari jarinya.

“Cantik banget kamu, Jungsu.” Gunil berbisik, mengeluarkan ereksinya dari celana dan terus mengelusnya.

Rasa bersalah yang tadi ia rasakan tiba-tiba kembali, namun entah kenapa Gunil malah merasa semakin bernafsu. Jungsu, Jungsu kecil yang pintar, yang dulu terus-terusan meminta Om Gunil-nya untuk menemaninya bermain, sekarang malah mengajaknya bermain di kasur. 

“Om Gunil.. mau tangan Om..” Jungsu mendesah saat mendorong satu jarinya masuk ke dalam lubangnya. “Om Gunil— hnn— enak—“

“Tambah satu lagi.” Perintah Gunil, merasakan nafasnya mulai memburu hanya dengan menatap Jungsu.

Satu jari lagi ia tambahkan, membuat Jungsu mendesah semakin kencang saat merasakan lubangnya melonggar. Nama Gunil terus berjatuhan dari bibirnya, membuat ereksi Gunil meneteskan pre-ejakulasi saking tegangnya. Jungsu cantik sekali, Gunil rasanya tak tahan.

“Om Gunil..” Panggil Jungsu kembali. “Pake jari ngga enak— hnn— entotin aku aja, Om..”

Gunil tak perlu diberi tahu dua kali. Semua pakaian ia lepaskan, membuat Jungsu menganga menatap tubuhnya. Gunil mungkin sudah menyentuh kepala 4, tapi tubuhnya masih sangat terjaga— apalagi staminanya.

“Kamu udah pernah ngewe sebelumnya?” Tanya Gunil, mendekat ke arah Jungsu. Ereksinya begitu tegang, satu gerakan dan ujungnya akan mencumbu klitoris Jungsu.

“Be-belum—aah!!!” Jungsu terkejut saat merasakan stimulasi di klitorisnya. Ujung ereksi Gunil diputar, memainkan klitoris Jungsu yang sudah mulai bengkak.

“Mungkin bakal sakit.” Gunil menepuk paha Jungsu pelan, lalu mengarahkan ereksinya tepat di depan lubang Jungsu. “Tarik nafas.”

“Om, Om Gunil!!!!!!” Jungsu berjengit saat merasakan ereksi Gunil perlahan masuk.

Gunil sendiri hanya bisa meringis keenakan, merasakan ereksinya dijepit oleh liang basah yang tak hentinya berkedut seperti sedang memijat batangnya. Jungsu sendiri sudah kelabakan, mulutnya mengatup dan membuka seperti kehabisan nafas.

“Bangsat— memek kamu sempit banget, Jungsu—“ Gunil mengumpat sembari terus mendorong, nikmatnya dijepit dinding Jungsu membuatnya mengerang.

“Om, Om— oh my god, Om Gunil—“ Jungsu sudah gelagapan, tangannya sibuk menarik seprei yang ada di bawahnya. “Om Gunil— gede banget—“

Gunil meringis saat merasakan Jungsu menjepit ereksinya, begitu panas dan sempit. Pinggangnya terus bergerak, terus masuk hingga paha bertemu paha— sampai seluruh ereksinya masuk ke dalam lubang Jungsu.

Jungsu sendiri masih mencoba mengatur nafas, tampaknya dimasuki pertama kali membuat oksigennya habis. Gunil mengangkat baju yang Jungsu kenakan hingga terlepas, lalu menunduk untuk menjilati puting Jungsu yang sudah tegang.

“Ah— Om Gunil—“ Tangan Jungsu di rambut Gunil terasa begitu nikmat saat yang lebih tua menjilat dan menghisap putingnya, sementara tangannya memilin dan mencubit puting satunya.

Gunil menggigit pelan puting Jungsu, membuat empunya melenguh rendah. Tubuhnya membusur, membuat ereksi Gunil masuk semakin dalam.

“Om Gunil, gerak— please, I’m okay—“ Pinta Jungsu, nafasnya sudah tak lagi beraturan.

Gunil mendaratkan kecupan kecil di dada Jungsu, sebelum mengangkat tubuhnya dan mulai bergerak.

Hentakan pertama membuat Jungsu berteriak, tubuhnya mengangkat dari kasur dan matanya membelalak. Mungkin bagi Jungsu yang belum pernah merasakan sebelumnya, rasanya seperti tubuhnya sedang dibagi dua— namun untuk Gunil rasanya luar biasa nikmat.

Gunil terus bergerak, begitu pelan di awal— hanya agar Jungsu terbiasa dengan rasanya— lalu mulai bertambah cepat saat yang keluar dari mulut Jungsu menjadi desahan. 

“Om Gun— hahhh—“ Jungsu membanting kepalanya di bantal, terlihat begitu kewalahan dengan semua sensasi yang ia rasakan. “Om enak banget— Om, fuck—“

“Enak, sayang?” Gunil tersenyum sombong, terus memompa ke dalam Jungsu. “Suka dientot sama Om-nya?”

“S-Suka..” Jungsu menjawab lemah, mengerjap-ngerjap agar bisa memandang Gunil dengan jelas. “O-Om Gunil yang n-ngambil perawan aku..”

Benar saja, saat Gunil melihat ke bawah, ada bercak darah yang tercetak di atas seprei putih. Pernyataan dari Jungsu membuat Gunil mengerang, rasa bersalah dan bahagia berkecamuk di dalam dirinya. 

“Kamu gila, Jungsu.” Gunil berbisik, tangannya mengangkat kedua kaki Jungsu hingga lututnya bertemu dada. “Gila.”

Posisi yang baru membuat Gunil bisa bergerak semakin dalam, membuat mata Jungsu berputar ke atas dalam nikmat. Gunil terus memandangi wajah Jungsu, terus teringat wajah Jungsu kecil yang dulu sering sekali menginap di rumahnya, meminta Gunil untuk memainkan gitar atau drum, Jungsu kecil yang tampan.

Jungsu yang sekarang jauh lebih tampan, bahkan lebih tinggi dari Gunil, namun yang ia minta bukan lagi hal-hal kecil. Yang ia minta justru semua hal terlarang yang selama ini Gunil bayangkan, semua imajinasi liar yang Gunil kunci dan sembunyikan— semua yang mereka lakukan saat ini.

Gunil menekan kedua kaki Jungsu, memompa semakin dalam membuat Jungsu lagi-lagi meneriakkan namanya. Indah sekali, mendengar namanya keluar sebagai desah dari mulut cantik itu. Gunil tak sabar ingin mencoba mulutnya, ingin melihat seberapa cantik remaja itu dengan ereksi Gunil di dalam mulutnya.

Satu tangan Gunil turun ke bawah, mulai menyentuh dan memainkan klitoris Jungsu hingga empunya berjengit. Pinggang Gunil terus memompa, tak berhenti mengisi lubang Jungsu yang terus-terusan berdenyut.

“O-Om, a-aku mau keluar— Om Gunil—“ Nafas Jungsu memburu. 

Gunil bisa merasakannya— dari basahnya lubang Jungsu, denyut yang semakin sering, bahkan dari bertambah sempitnya lubangnya. Jempol Gunil terus mengelus dan memainkan klitoris Jungsu, tak peduli meskipun tubuh Jungsu mencoba menjauh karena kewalahan.

“Ayo keluar, sayang.” Bisik Gunil, jempolnya menekan kencang di klitoris Jungsu. “Ayo basahin lagi Om-nya.”

Seluruh tubuh Jungsu mengejang saat klimaksnya datang. Gunil terus bergerak sementara nikmat terus memenuhi diri Jungsu, membuat desah dan erang tak henti-hentinya bergema dalam ruangan itu.

“O-Om— pipis— aku mau pipis!!” Jungsu berteriak saat Gunil malah menepuk-nepuk klitorisnya. 

Benar saja, tak lama kemudian cairan bening muncrat dari lubangnya, membasahi dada Gunil sampai ke selangkangannya. Jungsu bahkan tak punya energi lagi untuk terlihat bersalah, hanya terbaring lemah di atas bantal yang berantakan. Betapa cantiknya.

Gunil tak mengelap cairan yang terkena bibirnya, malah memilih untuk menunduk mendekati wajah Jungsu.

“Sini, taste yourself, sayang.” Panggil Gunil sebelum mencium Jungsu. 

Rasa sedikit asin bercampur dengan liur saat Gunil mendorong lidahnya masuk, melilit lidah Jungsu sementara pinggangnya mulai bergerak lagi— memompa hingga membuat Jungsu merengek ke dalam mulutnya.

“Kamu mau Om keluarin di mana?” Bisik Gunil, masih menciumi bibir Jungsu.

“D-Di muka aku— please—“ 

Mungkin dulu Gunil menyelamatkan negara, dan sekarang ia sedang diberi hadiah. Gunil rasa tak ada pemandangan lebih indah dari Jungsu sekarang. Rambutnya yang berantakan, wajahnya yang memerah sampai ke dada, keringat yang mengucur di sekujur tubuhnya membuat kulitnya mengkilap— bagaimana Gunil bisa tahan?

Lubang Jungsu menjepit Gunil, membuat yang lebih tua mengerang. Ia bisa merasakan klimaksnya sebentar lagi datang, mengancam untuk membuatnya jatuh berlutut. Gunil menarik ereksinya keluar, lalu bergerak hingga posisinya tepat di atas wajah Jungsu.

“M-Mau— kasih aku—“ Jungsu meminta, namun Gunil hanya mengarahkan ereksinya untuk menyentuh bibir Jungsu.

Dalam puluhan tahun Gunil hidup, belum pernah sekalipun ia merasakan klimaks sekuat itu. Seluruh tubuhnya bergetar saat akhirnya ia keluar, melukis wajah cantik Jungsu dengan warna putih buram yang dengan semangat malah dijilat oleh Jungsu.

“Jungsu— shit—“ Gunil tak peduli sisa-sisanya masih ada di bibir Jungsu, ia tak bisa tak mencium lelaki di depannya.

Saliva bercampur dengan rasa asin yang khas saat Gunil menciumnya, mencoba memberitahu semua yang ia rasakan tanpa berbicara. Jungsu terasa begitu rapuh di bawah sentuhannya, begitu cantik.

“Cantik. Kamu cantik.” Bisik Gunil, mengecupi bibir Jungsu.

“Om, ah..” Betapa menggemaskannya melihat remaja satu itu tersipu. 

“Jangan tidur, sayang. Mandi dulu, sini.” Gunil beranjak dari posisinya, mengulurkan tangan untuk menarik Jungsu.

“Mandinya sama Om, kan?” Jungsu mengedip pelan, terlihat seperti anak anjing menggemaskan yang sedang meminta porsi makanan lebih. “Om mandiin aku, ya?”

Sial. Jungsu benar-benar akan menjadi malaikat penghancur Gunil.

Notes:

Ngehehe, age gap gunsu🤤 ketauan ga gue cinta banget sama age gap gunsu🤤

come find me on twt @plvtodearest!