Actions

Work Header

Sayang Sekali

Summary:

Mengabulkan cita-cita Ilay Riegrow yang tidak tercapai di karya asli Passion: Taeui Hamil

Chapter 1: Hamil

Chapter Text

Malam-malam berlalu dalam sunyi di ruang kerja Ilay Riegrow. Lampu meja menyala lembut, menyinari tumpukan dokumen yang tersusun nyaris sempurna di sisi kiri meja. Tapi malam itu, kertas-kertas itu tak disentuh.

Ilay duduk diam, punggung tegak, tangan terlipat di depan layar. Di monitor menyala, sebuah berkas medis terbuka—hasil pemeriksaan laboratorium Jeong Taeui. Ia menatapnya tanpa ekspresi, namun sorot matanya tajam, nyaris klinis, seolah sedang menganalisis sesuatu yang terlalu penting untuk diluputkan.

Tanda-tanda biologis. Data hormonal. Grafik pertumbuhan. Dan di bawahnya, satu baris dalam teks tegas dan tak terbantahkan,

Gestation detected: early stage.

Ilay tidak bergerak. Tak satu pun otot wajahnya bereaksi. Tapi matanya tak berpaling, seperti sedang menatap sesuatu yang lebih dari sekadar angka—lebih dari sekadar data medis.

Ia membaca ulang kalimat itu, lalu menutup file dan memindahkannya ke dalam folder terenkripsi. Setelah itu, hanya duduk diam. Tak ada gumaman. Tak ada helaan napas. Malam itu, seperti malam-malam berikutnya, ia hanya duduk di sana. Diam. Menerima. Mengingat. Menunggu.

Beberapa minggu sebelumnya, Jeong Taeui mulai tampak pucat lebih sering dari biasanya. Kadang mual usai makan siang. Kadang pusing setelah bangun terlalu cepat. Pernah ia hampir jatuh di tangga dapur karena kehilangan keseimbangan. Dan suatu pagi, tanpa peringatan, ia memuntahkan sup jagung ke wastafel, dengan ekspresi bingung dan kesal sekaligus.

Namun, seperti biasa, Taeui menepis semua itu. "Pasti hanya masuk angin. Flu musim panas," katanya enteng. Di hari lain, "Mungkin salah makan." Tak ada rasa cemas. Hanya bahu terangkat dan langkah yang tetap ringan, seakan tubuhnya tidak berhak mengkhianatinya.

Ilay tidak menanggapi. Ia hanya mengamati dalam diam, lalu mulai mengatur ulang kegiatan harian Taeui secara halus. Menyuruh Peter membatasi aktivitas fisik, menghilangkan makanan tertentu dari daftar belanja. Semua dilakukan tanpa satu pun kata tentang dugaan yang perlahan membentuk kesimpulan di benaknya.

Tapi Taeui tetap Taeui. Keras kepala. Menolak diganggu. Menghindari dokter seperti anak sekolah menghindari ujian.

Akhirnya, setelah Rita dan Kyle sama-sama menyuruhnya untuk "cek darah, setidaknya," Taeui menyerah. Ia pergi sendiri ke klinik kecil terdekat, membawa buku untuk dibaca di ruang tunggu dan berkata, "Hanya agar mereka berhenti cerewet."

Ia kembali membawa sebotol vitamin dan laporan ringan. Tak menganggap apa-apa.

Beberapa hari kemudian, hasil menyeluruh dikirim secara daring ke rumah.

Ilay membukanya lebih dulu.

-: ✧ :-

Sore itu, langit sedikit mendung. Di depan garasi, Jeong Taeui jongkok di samping sepeda kecil berwarna merah muda. Tangannya berlumur oli, dan ada peluh mengilap di pelipisnya, ia tampak menikmati pekerjaan itu. Di depannya, Elise—gadis kecil rumah sebelah—berdiri dengan tangan di pinggang, rambut dicepol kembar, mata berbinar.

"Kalau dilepas, kamu harus bisa jaga keseimbangan, ya?" tanya Taeui sambil mengeendurkan  mur di sisi belakang.

"Aku bisa! Aku sudah enam tahun!" Elise menepuk dadanya penuh percaya diri.

Ilay berdiri di ambang pintu belakang, diam. Ia menatap pemandangan itu; Taeui yang jongkok, tangan sibuk, napas tenang. Gerakan-gerakan kecil yang tidak disadari siapa pun—bagaimana Taeui sedikit menahan punggungnya setiap kali membungkuk terlalu lama, bagaimana ia sempat menekan kening sebelum kembali bekerja.

"Kamu butuh istirahat," ucap Ilay akhirnya.

Taeui tidak menoleh. "Aku hanya bantu sedikit. Lagipula ini cuma—"

"Karena kamu hamil."

Kalimat itu meluncur begitu saja, datar dan tak mengandung emosi. Seperti menyampaikan suhu ruangan.

Taeui diam sejenak. Lalu tertawa kecil, masih sibuk dengan mur roda. "Oh? Selamat atas kehamilannya."

Ia kembali meraih kunci inggris.

"Apa? Kak Taeui mau punya bayi?!" Elise menepuk tangan kegirangan.

Taeui mendadak berhenti. Ia mengerjap, kemudian perlahan menoleh ke Ilay.

"Tunggu—apa?"

Ilay hanya menatapnya, tak mengulangi pernyataannya.

"Maksudmu... aku?"

"Siapa lagi?"

Elise langsung melompat-lompat kecil, berseru, "Kak Taeui hamil! Kak Taeui punya bayi!!"

Taeui memejamkan mata, menghela napas panjang, dan mengusap dahinya dengan punggung tangan berminyak. Ia masih jongkok, masih belum sepenuhnya menangkap kenyataan.

"Kamu... Yakin?"

Ilay tidak menjawab. Tapi keheningannya sudah cukup menjelaskan. Mata gelapnya tidak berpaling.

Taeui mendesis pelan. "Tentu saja. Tentu saja aku hamil. Karena kamu... ya, kamu."

Anak kecil di sekitar mereka menyanyi-nyanyi gembira, membuat lingkaran kecil dengan sepedanya. Taeui masih menunduk, kini mencengkeram rambut sendiri.

Ilay akhirnya melangkah mendekat. Ia menyodorkan sehelai kain lap bersih ke Taeui, diam-diam.

Taeui menerimanya, menyeka tangan dengan cepat lalu berkata, "Kamu bisa saja bilang dengan cara yang... lebih manusiawi, tahu."

Ilay menatapnya sejenak, kemudian menjawab tanpa intonasi,

"Aku sudah menyiapkan makan siangmu. Selesaikan dan segera masuk ke dalam."

-: ✧ :-

Meja makan dipenuhi cahaya siang yang tumpah lewat jendela dapur. Piring masih belum sepenuhnya kosong, dan teko teh hangat mengepul di tengah meja, dikelilingi dua cangkir yang mulai mengering uapnya. Aroma roti panggang, sayuran kukus, dan sisa mentega memenuhi udara—tapi tak ada yang bicara.

Taeui mengangkat cangkirnya, memutar sedikit badannya ke arah Ilay yang masih berdiri di depan toaster, menunggu bunyi klik dari pemanggang.

"Aku cuma ingin memastikan," kata Taeui, pelan, seperti mengulang sesuatu yang terlalu besar untuk disimpulkan sekali saja. "Kita... Kamu dan aku... Akan punya anak?"

Ilay tidak menoleh. "Ya."

Taeui mendesah perlahan, lebih seperti berpikir keras daripada berbicara. "Dan itu berarti perubahan hormon. Pemeriksaan rutin. Berat badan naik. Kaki bengkak. Tidur tak nyenyak..."

"Toilet yang lebih sering," tambah Ilay datar. "Mual pagi hari. Dan keinginan makan yang tidak logis. Aku sudah menghubungi dua dokter, satu bidan, dan seorang ahli gizi. Mereka akan datang besok."

Taeui menatap Ilay, satu alisnya terangkat.

"...Kamu sudah memikirkan semua itu?"

Ilay akhirnya menoleh, ekspresinya biasa saja. "Aku sudah memperkirakan ini sejak beberapa hari lalu. Hanya menunggu kapan kamu sadar."

Taeui mengangkat bahu, mendengus ringan. "Tentu saja. Kamu bahkan mengganti karpet sebelum aku sadar kehilangan bir kesayanganku."

Ilay tidak menanggapi. Roti dari toaster keluar dan ia meletakkannya di atas piring, lalu duduk perlahan di kursi di samping Taeui. Ia menuang teh ke dalam cangkirnya sendiri, meskipun ia tidak pernah menyentuh teh kecuali dalam situasi sosial. Tangan Ilay selalu tenang, setiap gerakannya presisi seperti prosedur medis.

Hening kembali mengisi ruang. Taeui memandang ke luar jendela. Lalu tanpa melihat ke arah Ilay, ia bertanya, pelan,

"Ilay."

"Hm."

"Sekarang... Apa?"

Ilay tidak menjawab segera. Ia menyandarkan punggung ke kursi, mengangkat cangkirnya, menatap uap yang naik dari permukaannya. Lama.

"Mari kita lihat... Aku tidak tahu," katanya akhirnya.

Taeui tersenyum miring, mata masih pada jendela. "Sayang sekali. Aku juga."

Sunyi kembali turun. Tapi bukan sunyi yang buruk. Hanya semacam ruang kosong yang belum diisi.

Lalu, tanpa berpaling, Ilay berkata,

"Menarik juga. Tubuhmu... dari sekian banyak respons biologis, kamu menyerap dengan baik"

Taeui menoleh perlahan, memicing.

"Apa maksudmu?"

Ilay menyesap tehnya, lalu meletakkan cangkir kembali ke meja. "Secara observasi. Kamu menyerap milikku dengan sangat efisien. Bahkan lebih baik dari prediksi awalku."

Taeui menutup mata sejenak, menarik napas dalam. "Baj—, kamu tidak bisa bicara seperti itu sambil makan, Ilay."

Ilay mengangkat bahu pelan. "Kamu yang membuka topik tentang hormon dan pembengkakan."

"Aku bicara tentang fakta medis, bukan—"

Ilay memotongnya halus. "Dan aku sedang bicara tentang bagaimana tubuhmu, secara literal, merekam jejakku. Tentu saja karena aku yang melakukannya."

Kata-katanya datar. Tidak ada senyum. Tidak ada nada nakal. Tapi justru karena itu, pipi Taeui mulai memanas.

Ia memalingkan wajah. "Kamu tahu, saat aku bilang 'kita akan belajar bersama', maksudku bukan ini."

Ilay mencondongkan tubuh sedikit, suaranya nyaris berbisik, tak berubah nada.

"Aku sedang belajar. Mengamati responsmu dalam berbagai stimulus. Termasuk saat ini. Jantungmu meningkat. Tanganmu sedikit gemetar di cangkir. Dan kamu belum meminum tehnya sejak aku bicara."

Taeui menatapnya tajam. "Dasar maniak."

Taeui mendengus. Bibirnya bergerak naik sedikit—setengah senyum, setengah kekesalan. Ia menyesap tehnya akhirnya, meski tak lagi terasa hangat.

"Baiklah," katanya pelan. "Kalau kita akan benar-benar menjalani ini... kita mulai dari mana?"

Ilay menatapnya, lalu menjawab,

"Dari mana pun kamu siap."

Taeui mengangguk. "Dan kalau aku tidak pernah siap?"

Ilay mengangkat bahu. "Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku akan tetap ada."

Hening lagi. Tapi sekarang berbeda—lebih padat. Lebih intim. Tidak manis, tidak manja. Tapi mengandung sesuatu yang tetap ada, bahkan saat tidak diucapkan.

Dan untuk pertama kalinya sejak berita itu datang, Taeui tidak merasa sendirian.