Actions

Work Header

Lelaki Manis yang Melamun

Summary:

Sekelebat lamunan erotis si Lelaki Manis yang jatuh hati pada sang Tuan Tampan, tentang sebuah malam selepas hujan.

Notes:

Ditulis serius dengan penuh cinta.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

Mustahil temukan cukup pada dua sosok serakah yang mencuri hening lewat derit ranjang penuh ganggu. Dalam gelapnya malam selepas hujan, tanpa malu terlebih ragu. 

Beralas kapuk yang kian lembap selagi dikurung tirai kelambu tembus pandang, dua raga saling beradu. 

Rintihan berulang tanpa henti yang terdengar dari mulut si Lelaki Manis adalah alunan indah untuk sang Tuan Tampan. 

Rintihan melengking bersahut erangan berat untuk setiap nikmat yang bertumbuk, semakin dalam, kian membesar, saling haus akan puas.

Bibir menggoda yang senantiasa terbuka kini diraup paksa oleh sang Tuan.

Lilitan lidah basah saling beradu, menyatu untuk kesekian kalinya, meredam lenguhan kencang si Lelaki Manis yang hampir hilang sadar saat jiwanya melayang. Dijulurkannya lidah saat benang saliva menggantung begitu cumbuan terlepas, dengan sorot mata layu tersurat nafsu pada sang Tuan.

Sang Tuan Tampan menyeringai.

Tubuh telanjang yang rebah tanpa celah ibarat lembaran kertas polos bagi sang Tuan, mengusiknya untuk segera dibubuhi puisi rindu penuh cinta.

Harum menyeruak begitu dihirupnya tengkuk menengadah pasrah, dihisap kuat sembari digigit kecil hingga terdengar desahan manja. Sungguh, Lelaki Manis yang penuh goda.

Cumbuannya kian turun, bertemu dua tegang yang mencuat. Dikecup singkat satu sisinya penuh damba sebelum bertemu panas yang menghisap, basah penuh liur, diputar dikecap tanpa ampun.

Erangan menggema, melolong panjang. 

Berisik!

Sang Tuan melepasnya. Bertemu sisi lain yang gersang. Dicubit kecil sembari ditarik pelan sebelum dihisap kuat bak menyusu.

Bertebar merah bermandi peluh, degup gemuruh kencang berirama seiring cepatnya kembang kempis dada yang kian membusung penuh pasrah, ingin lebih. Pusat tubuhnya kembali bangun setelah sekian lepas.

Begitupun sang Tuan, yang kerasnya kembali bersarang tegang.

Dimasuki dengan pelan selagi dibuai tenang si Lelaki Manis yang menegang.

Bahagianya membuncah, dicinta penuh sehalus, dan seharusnya oleh sang Tuan Tampan.

Bagaikan ombak di lautan yang tak pernah selesai dan terulang-ulang. Saling memeluk hangat, melebur bersama menyambut puas.

 

Oh, sungguh baiknya sang Tuan yang terus memanja.

Dibelai hangat pusatnya yang kian rekah belum dijamah, untuk kesekian kali.

Rintihan panjang kembali mengalun, seperti menyanyi pada sang Tuan agar selalu seperti ini, sampai nanti.

 

Sampai tak perlu lagi sembunyi.

 

Oh, sungguh manisnya si Lelaki yang selalu memikat.

Ditariknya malu sang Tuan, menyatukan lagi cumbu, melampiaskan rindu meski kerap bertemu.

Dilumat pelan sembari dielus lembut wajah teduh penuh sayang, memperlambat irama yang kian mengentak cepat.

 

Inginnya si Lelaki Manis supaya selesai bersama.

Sang Tuan mengerang dalam, perasaan cinta tumpah ruah dengah gairah. Menekan pada titik yang sama disetiap hentakan kuat menuju batas lepas.

Hingga capai selesai dengan putih menyembur di dalam Lelaki Manis yang menunggu untuk diisi, yang seraya terisak pada putih miliknya yang mengalir tanpa wadah namun leleh pada jemari yang menadah.

Sungguh indahnya dunia bila jatuh pada cinta yang tepat juga berbalas. Pada raga yang saling memeluk dalam panas berselimut nyaman. Pada kening berpeluh yang dibubuhi cium hangat.

Seperti sang Tuan Tampan yang membersamai si Lelaki Manis dengan penuh penghargaan.

 

 

“HAECHAN!”

“Eh?!” Lelaki Manis yang duduk di baris paling belakang itu tersentak. Dikejutkan seruan kawan di sampingnya.

Wajahnya memerah penuh malu saat semua pasang mata menoleh padanya.

Termasuk sang Tuan Tampan di depan sana.

“Maaf, Tuan Mark. Maklum anak muda memang tidak sopan!" ucap seorang warga yang memohon maklum pada sang Tuan, sembari melirik sinis si Lelaki Manis yang menunduk dalam.

Sang Tuan mengangguk sembari tersenyum paham.

Bisik-bisik ramai masih terdengar saat seorang warga berseru untuk melanjutkan pertemuan. 

"Tuan Mark, apa bisa dilanjutkan saja? Jadi kami harus melakukan apa menurut Tuan?”

Mark kembali tersenyum lalu melirik sekilas Haechan yang kini semakin memerah padam dihujani ledekan tak kunjung usai, sebelum melanjutkan.

Sial! Sulitnya jatuh cinta di waktu yang salah.

Pada sang Tuan Tampan yang menawan.

Pada si Lelaki Manis yang bertopang dagu, kembali melamun.

 

 

Notes:

Mendapat inspirasi dari banyak lagu cinta yang aku dengar, yang mungkin kamu juga tahu.

Saat selesai membaca, kuharap kamu menikmatinya selayaknya aku ketika menulisnya.

Series this work belongs to: